Gadis berambut merah muda itu duduk terdiam di atas sebuah bangku yang terbuat dari batu. Kedua tangannya terkepal dan diletakkannya di atas pahanya. Matanya menatap sendu pada tanah di bawahnya. Namun sang tanah hanya bisa membisu, tidak bisa mengatakan apapun, bahkan walau hanya sepatah dua patah kata, untuk menghiburnya.

Sesaat, ingatan gadis itu pun mengalir ke belakang, ke masa lampau yang jauh namun juga dekat—seolah semua kepingan kenangan itu baru saja terjadi kemarin.

Dilihatnya sosok dirinya yang masih seorang gadis manja mendekap erat seorang pemuda berambut raven, berusaha menghentikan pemuda itu dari niatnya meninggalkan desa. Tapi selanjutnya yang ia ingat hanyalah ucapan terima kasih dari pemuda itu.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Ia sudah hendak menumpahkan air matanya seandainya bayang-bayang seseorang tidak menyeruak masuk ke dalam jangkauan penglihatannya.

Sang gadis mengangkat wajahnya untuk menemui wajah bertopeng milik seorang ANBU yang bekerja langsung di bawah Hokage selaku petinggi di Konohagakure.

"Tsunade-Sama memanggil Anda, Haruno-san."


BACK TO THE BEGINNING

Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing : SasuIno, NaruSaku, and may be some slights or hints

STEP 2. The Eyes of Determination


Malam itu, Ino kembali ke rumah sakit setelah menjelaskan pada ayahnya mengenai perintah yang didapatnya dari Tsunade. Awalnya, Inoichi terlihat ragu-ragu karena, bagaimanapun, Sasuke sempat menjadi sosok pembunuh berdarah dingin yang tidak segan-segan menghabisi siapapun yang menghalangi langkahnya. Namun, begitu Ino menjelaskan kondisi Sasuke, Inoichi tidak bisa lagi melarang putrinya tersebut. Ah, tidak. Meskipun ia sangat ingin melarangnya, apalah dayanya dibandingkan perintah mutlak seorang Hokage?

Sesampainya di rumah sakit, gadis yang mengenakan kaos ungu dengan celana panjang berwarna hitam itu terlebih dahulu mengunjungi beberapa temannya yang masih terbaring lemah—meskipun tidak dalam kondisi parah—hanya sekedar untuk mengucapkan salam dan menyemangati agar mereka dapat segera sembuh.

Begitu menyadari bahwa ia sudah cukup lama membuang waktu, Ino langsung menggerakkan langkahnya ke arah sebuah ruangan yang cukup terpencil, seolah ruangan itu sengaja diisolasi dari ruangan lainnya. Bahkan, di depan ruang itu pun kini terlihat dua ANBU berseragam lengkap—tadi siang, sebelum Sasuke sadar, kedua ANBU tersebut belum ada di situ. Dugaan Ino, bukan hanya di pintu depan yang kini dijaga, di bawah pun pasti diletakkan beberapa ANBU yang sepanjang malam akan mengawasi.

Setelah mendapatkan izin dari dua ANBU yang tengah berjaga, perlahan, Ino pun membuka pintu dan melongokkan kepalanya untuk melihat sosok yang tampak sedang memandang ke arah luar jendela dalam posisi duduk.

"Sasuke-kun…," panggil Ino berhati-hati.

Sosok itu menggerakkan kepalanya.

"Ino?" tanya sosok itu kebingungan awalnya. Tapi selanjutnya, ia memasang wajah datarnya yang cenderung menunjukkan rasa tidak suka. "Mau apa kau?"

Kesinisan yang sudah lama tidak didengar Ino. Aneh. Sekarang ia merasa bahwa sikap sinis Sasuke itu sangat, sangat lucu.

"Oh? Kukira kau sudah dengar dari Tsunade-Sama bahwa aku yang ditugaskan menjadi semacam… katakanlah, terapis-mu!" jawab Ino berhati-hati. Menurut Tsunade, wanita itu belum memberitahukan hasil pemeriksaannya pada Sasuke, tidak walau untuk hal sekecil apapun. Bahkan perihal bahwa pemuda itu mengalami semacam amnesia yang selektif.

Setelah mengangguk pelan dan memantapkan hatinya, Ino pun tersenyum kecil.

Sasuke mendecih pelan sebelum ia membuang muka, kembali memandang ke arah luar jendela meskipun yang bisa dilihatnya hanyalah kelam malam. Ino yang sudah merasa lebih yakin untuk masuk ke dalam ruangan itu, semakin mendekat ke arah Sasuke.

"Kau sudah makan?" tanya Ino sambil mengambil tempat duduk di dekat ranjang Sasuke.

"Hn."

Tidak berubah juga, pikir Ino geli.

"'Hn' itu tidak menjelaskan apa-apa, Sasuke-kun," ujar Ino sambil tertawa kecil.

Sasuke tetap tidak mau repot-repot menjawab. Ino pun menghentikan tawanya dan ikut memandang ke luar jendela, ke arah dimana Sasuke begitu lekat memandang. Suasana gelap malam yang terlihat dari ruangan itu begitu… sepi. Bagaimana tidak, hanya kamar itulah satu-satunya kamar yang menghadap ke arah hutan sementara kamar yang lain lebih banyak menghadap ke arah kota sehingga kala malam tiba pun, pemandangannya akan tetap silau oleh kelap-kelip lampu perumahan.

Yah, inilah pelayanan 'spesial' yang didapat dari seorang pengkhianat desa.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Ino akhirnya. Sasuke masih bungkam. Ino tidak putus harapan. "Apa kau sedang memikirkan keluargamu? Seperti… 'Di mana mereka? Kenapa mereka tidak menjengukku?'"

Sasuke memandang ke arah Ino. Alisnya sudah mengernyit.

"Apa aku terlihat secengeng itu?" tukas Sasuke tajam.

"Oh, semua orang yang sedang sakit akan jadi lebih lemah dari biasanya kok?" jawab Ino sambil mengangkat bahunya sedikit. Senyum ceria terpampang di wajah. "Jadi…?" sambung Ino seolah ingin memberikan kesempatan bagi Sasuke untuk membenarkan tebakannya.

"Aku tidak peduli dengan itu," jawab Sasuke dengan alis yang tajam menukik. "Aku hanya ingin tahu, kapan aku boleh pulang?"

"Pulang? Pulang ke mana?" tanya Ino tanpa maksud membuat lelucon sama sekali.

Ya, pulang ke mana? Sudah tidak ada lagi kediaman Uchiha, tidak ada lagi seorang Uchiha-pun selain dirinya. Ke mana pemuda itu akan pulang?

"Kau… leluconmu tidak lucu tahu? Tentu saja pulang ke rumahku!"

Sekarang giliran Ino-lah yang mengernyitkan alisnya. Kata-kata Tsunade perlahan terngiang di benaknya.

"Tidak perlu terburu-buru karena jika kau salah langkah, reaksi penolakan akan muncul dan bukan tidak mungkin, ia akan semakin menyangkal ingatan tersebut lalu menguburnya semakin dalam."

Bukan terburu-buru, tapi Ino hanya ingin mencoba. Tidak salah kan?

"Sasuke-kun, dengarkan aku," ujar Ino dengan nada yang serius. Perubahan dalam cara bicara Ino mau tidak mau membuat Sasuke memusatkan perhatiannya pada gadis itu. "Keluargamu… sudah tidak ada. Begitu juga dengan Aniki-mu!"

Mata onyx itu langsung terbelalak seketika.

"Kau ingat? Aniki-mu yang melakukan itu semua…."

"Melakukan… apa?" tanya Sasuke dengan wajah yang seolah baru melihat hantu.

Pucat—terkejut.

Ino menelan ludah. Diyakinkannya dirinya. Semua akan baik-baik saja.

"Pembantaian itu," jawab Ino tegas, "pembantaian keluarga Uchiha yang hanya menyisakan dirimu seorang!"

Sasuke geram.

"Tidak lucu!" ujarnya sambil membuang muka, enggan melihat ke arah Ino, enggan melihat aquamarine menyiratkan kilat keseriusan.

"Sasuke, dengarkan aku. Ini memang berat, ta—…."

"DIAM!" seru Sasuke sungguh-sungguh. Onyx-nya kini sudah berubah—dengan tiga elips yang saling berpotongan di tengah seolah membentuk bintang bersegi enam berwarna merah. Ino membatu di tempatnya.

"Sasu—…."

"KUBILANG DIAAAMM!"

BLAAR!

"Kyaaa?"

Api hitam muncul dan langsung membakar lengan bagian kanan bawah Ino, membuat gadis itu terkejut sampai bangkit dari kursinya—menyebabkan kursi malang itu jatuh dan berguling. Bersamaan dengan itu, kedua ANBU yang berada di depan, serta yang ada di bawah—sesuai perkiraan Ino tadi—langsung menerjang masuk dan melihat Ino yang meringis kesakitan tengah berusaha memadam api hitam tersebut.

"Apa yang kau lakukan?" tanya salah seorang ANBU sambil mengacungkan kunai ke leher Sasuke. "Matikan apinya!"

Sementara ANBU yang lain mencoba mematikan api tersebut menggunakan elemen air yang dimilikinya, Sasuke masih juga memaku matanya pada pemandangan tersebut. Ia terlalu terkejut bahkan untuk menyadari bahwa kini sebuah kunai tajam semakin mendekat ke arah kulit lehernya.

"Aku…."

Begitu Sasuke mendapatkan ketenangannya kembali, mata Mangekyou Sharingan-nya pun meredup dan kembali menjadi onyx yang biasa. Saat itulah, api yang tidak mampu dipadamkan oleh ANBU sekalipun lenyap begitu saja, meninggalkan luka bakar yang cukup parah di lengan sang gadis berambut pirang pucat.

Seorang ANBU melirik kesal ke arah Sasuke. Ia sudah hendak melabrak pemuda itu saat suara lemah Ino menghentikannya.

"Maaf, bisa kalian keluar dulu?"

"Tapi Yamanaka-san…."

"Onegai?"

"Dia ini terlalu berbahaya!"

"Ini urusanku!" jawab Ino dengan lebih keras. "Tsunade-Sama sudah menyerahkan urusan ini padaku. Tolong!"

Setelah berpandangan satu sama lain sesaat, keempat ANBU itu pun melangkah keluar dari ruangan Sasuke, kembali ke tempat mereka masing-masing. Ino sendiri masih berdiri diam, tidak beranjak, berusaha menyembuhkan luka bakarnya tersebut dengan Healing Palm, medical jutsu yang dikuasainya.

Sasuke mengamati kerja Ino sesaat. Setelahnya, ia melirik ke arah wajah gadis itu. Ino tampak meringis, tapi tidak mengatakan apa-apa. Saat itulah, Sasuke merasakan ada sesuatu yang aneh. Ada yang berbeda, ada yang salah.

Benarkah gadis di hadapannya ini adalah Ino, Yamanaka Ino?

Seingatnya, bukankah Ino itu adalah gadis fangirl-nya yang sangat bawel dan selalu ribut soal penampilan?

Tapi kenapa sekarang ia tampak berbeda?

Sasuke kembali mengamati Ino yang tengah menggigit bibir bawahnya sementara cahaya berwarna kehijauan terus memancar keluar dari tangan kirinya. Sasuke mengernyitkan alisnya.

Apa...

Apa yang salah?

Apa yang ia lewatkan?

Apa yang terjadi sebenarnya?

Mendadak, pemuda itu kembali teringat akan kata-kata Ino tadi.

"Aniki-mu melakukan pembantaian terhadap keluarga Uchiha."

Kata-kata itu seolah menusuk langsung ke dalam benaknya, menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Sasuke langsung menggeram, kedua tangannya mencengkeram erat rambutnya. Setengah meringkuk, satu-satunya penerus Uchiha itu terlihat begitu kesakitan dengan wajah yang semakin memucat dan keringat dingin yang mulai mengalir. Mulutnya terbuka, berusaha sekuat tenaga menggapai oksigen yang terasa berat melewati rongga hidungnya.

"...pembantaian yang hanya menyisakan dirimu seorang!"

Tidak, itu tidak benar, batin Sasuke.

Tapi, semakin kuat ia menyangkal, semakin kuat rasa nyeri yang dideritanya.

Menyadari keanehan kondisi Sasuke, Ino menghentikan fokusnya pada lengan yang terluka dan langsung mendekat kembali pada Sasuke.

"Sasuke-kun? Sasuke-kun?" panggil Ino panik. Ia mencoba menyentuh Sasuke, tapi pemuda itu menepis tangannya. Setelah itu, yang Ino dapatkan hanyalah pandangan sinis—sinis dan kejam, seolah menyiratkan kebencian yang mendalam. Ino tersentak, ia kembali membeku. Tapi hanya sekejab karena setelahnya onyx itu semakin menutup.

"SASUKE-KUN?"

Indera pendengarannya hanya bisa menangkap samar-samar suara gadis yang terdengar mengkhawatirkannya.

Dan bagi pemuda Uchiha itu, kegelapan kembali menjadi temannya.

o-o-o-o-o

Haruno Sakura terdiam di dalam kamarnya, memandangi fotonya bersama kelompok 7—Tim Kakashi. Foto usang yang menyimpan banyak kenangan bahagia di antara dirinya, Uzumaki Naruto—atau sekarang bisa disebut Namikaze Naruto, Hatake Kakashi, serta… Uchiha Sasuke.

Hari-hari yang begitu damai bagaikan mimpi.

Hari-hari yang… menyenangkan.

Sakura memejamkan matanya dan kemudian menyenderkan kepalanya ke tembok. Sementara itu, pikirannya kembali berkelana ke beberapa saat yang lalu.

~FLASHBACK~

Tok. Tok.

"Masuk." Suara berat sang Godaime Hokage membuat Sakura mendorong pintu ruangan itu dengan berhati-hati.

"Anda memanggil saya, Hokage-Sama?" tanya Sakura.

"Ah, ya, ya! Masuklah, Sakura!" ujar Tsunade—sang Godaime Hokage—sambil melihat kertas-kertas yang tampak seperti hasil pemeriksaan. Sesaat, wanita yang selalu tampak muda itu mengerucutkan bibirnya, membuat Sakura penasaran.

"Ano…," ujar Sakura ragu-ragu.

"Jujur saja, Sakura," ujar Tsunade lagi tanpa menghadap ke arah Sakura, "tindakanmu tadi itu tidak seperti shinobi di bawah asuhanku."

Pundak Sakura menegang. Tapi selanjutnya ia hanya bisa menunduk. "Maafkan saya."

Akhirnya Tsunade-pun melirik ke arah Sakura. Alisnya masih sedikit mengernyit. Tapi selanjutnya, ia hanya bisa menghela napas.

"Sudahlah. Daripada itu, ada hal lain yang lebih penting yang ingin kusampaikan padamu."

"Ya?"

"Aku mau kau mengawasi Naruto sampai bocah itu benar-benar sembuh. Jangan sampai ia melakukan hal-hal yang gegabah!"

Sakura memandang heran pada Tsunade. Tidak biasanya Naruto sampai harus dikhawatirkan sedemikian rupa. Bagaimanapun, biasanya pemilik chakra Kyuubi itu selalu jadi orang pertama yang sembuh setelah mengalami luka macam apapun.

"Naruto?" tanya Sakura seolah ia ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

"Ya, Naruto."

"Apa dia…."

Ucapan Sakura terpotong oleh penjelasan Tsunade.

"Tadi sore aku kembali memeriksa bocah itu," ujar Tsunade sambil meletakkan kertas-kertas yang semula digenggamnya. Kini, tangannya yang bebas digunakannya untuk memijat dahinya. "Tapi belum ada kemajuan yang berarti."

"Eh?"

"Kau juga terkejut kan? Mengingat ia adalah orang yang biasanya selalu sembuh pertama kali."

"Apa Naruto baik-baik saja?" seru Sakura mulai panik, tubuhnya bahkan mulai sedikit condong ke depan, nyaris maju mendekat ke arah meja Tsunade. "Dia… bisa sembuh kan?"

Tsunade mengangkat sebelah tangannya, meminta Sakura agar tenang. Sakura pun terdiam. Tapi ia tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Dan Tsunade bisa melihat hal itu.

"Aku tidak tahu," jawab Tsunade yang langsung membuat Sakura terbelalak. "Bocah itu… baru kali ini aku melihatnya begitu sendu, seolah dia sendiri tidak punya keinginan untuk sembuh."

"Tidak punya… keinginan untuk… sembuh?"

Sekali lagi, Tsunade menghela napas. "Kurasa persoalan Sasuke yang menjadi penyebabnya."

Tsunade kemudian bangkit berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah jendela, memandang ke arah desa yang sudah terlihat jauh lebih hidup setelah perang yang baru saja mereka lalui. "Kurasa bukan hanya kau yang mencemaskan Sasuke. Naruto juga merasakan hal yang sama denganmu. Kau bukan tidak tahu kan, ikatan yang ada di antara mereka…."

Sakura tidak menjawab. Tentu saja ia tahu. Ia yang paling tahu. Ia yang selama ini selalu berada di dekat mereka.

Tsunade melihat gerak-gerik Sakura dari pantulan kaca di depannya sebelum ia menggerakkan kepalanya, kembali menengok ke arah Sakura. "Naruto kehilangan semangatnya untuk sembuh dan itulah yang menghambat pemulihannya."

Sakura masih bungkam.

"Kau tahu, dia sama sekali tidak senang dengan kondisi ini."

"Aku tahu!" jawab Sakura sambil menundukkan kepalanya dan mengeratkan kepalan tangannya. "Aku tahu…."

Setelah itu, Sakura mengangkat kepalanya dan memperlihatkan matanya yang menunjukkan determinasi. Tsunade tampak terbelalak sekilas sebelum akhirnya wanita itu menyunggingkan senyumnya.

"Kalau begitu, kuserahkan Naruto ke dalam pengawasanmu, Sakura."

"Bagaimana dengan Sasuke?"

"Ah, soal itu…," jawab Tsunade sambil merenggangkan tangannya ke depan, "kau tenang saja. Dia pun sudah kuberikan pengawasnya sendiri."

"Jangan bilang…," tebak Sakura dengan mata sedikit terbelalak. Tsunade mengangkat sudut bibirnya sedikit sementara sebelah tangannya mendarat di pinggangnya dengan nyaman.

"Oh? Kira-kira siapa ya?"

Tanpa dijawab, Sakura seolah sudah mendapatkan jawabannya sendiri. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan sebelum ia bersiap untuk pamit dari ruangan Hokage.

"Aku akan menemui Naruto besok," ujarnya pelan. "Permisi, Tsunade-Sama."

"Sakura," panggil Tsunade untuk terakhir kalinya. Sakura yang sudah hendak berbalik, langsung menghentikan langkahnya. "Mungkin kau sudah bisa menduganya…."

Sakura membalikkan badannya ke arah sang Hokage yang ternyata sudah kembali duduk di kursinya dan meletakkan kedua tangannya yang saling bertautan di depan mulutnya.

"Naruto menjadi seperti itu, sebagian juga karena dirimu."

Gadis berambut merah muda itu diam dalam ekspresi yang datar, seolah ucapan Hokage sama sekali tidak membuatnya terkejut.

"Bahkan mungkin, baginya… kesedihanmu jauh membuatnya lebih terpuruk dibandingkan kondisi Sasuke saat ini."

"Itu pun…." Sakura menyunggingkan sebuah senyum kecil. "Saya tahu."

Sakura kemudian berbalik. "Si Bodoh yang selalu mengatakan bahwa ia menyukaiku… bahkan saat aku mengatakan bahwa ada pemuda lain yang kusukai."

"Dan kau…."

"Saya permisi, Tsunade-Sama."

Tanpa berniat mendengarkan kata-kata sang Hokage lebih lanjut, Sakura pun bergerak keluar ruangan. Tidak lagi menengok ke belakang.

~End of Flashback~

Mata emerald itu terbuka dan kemudian melirik ke arah sosok berambut kuning yang tampak cemberut dalam foto di tangannya. Secara tiba-tiba, perasaan gundah yang sebelum ini melandanya lenyap, menguap begitu saja.

Gadis itu pun memandang ke arah langit-langit kamarnya, menarik napas panjang, dan menghembuskannya.

Sebuah senyum kemudian terpampang di wajahnya.

o-o-o-o-o

"APA KATAMU?"

Suara berat sang Hokage langsung menggelegar di saat yang menjelang tengah malam tersebut. Gebrakan di meja bahkan mengiringi suara yang kental dengan muatan emosi tersebut.

Ino, yang mendengar teriakan itu secara langsung, buru-buru mengambil gerakan mundur beberapa langkah. Bibirnya menyeringai membentuk senyum yang diusahakannya agar tampak innocent walaupun cara itu sebenarnya tidak mempan untuk menurunkan amarah wanita berambut pirang panjang diikat dua yang ada di hadapannya. Dan bahkan, bukannya bersimpati, sang Hokage malah mendelik galak ke arahnya.

Namun, mengingat kalau ia tidak bisa berbicara dengan baik apabila emosi masih menguasainya, Tsunade pun mencoba menurunkan amarahnya dengan jalan mengatur napasnya.

"Seingatku," ujar dengan lebih tenang sambil menunjuk pelipisnya sendiri, "aku sudah memperingatkanmu agar kau tidak terburu-buru. Betul begitu, Yamanaka Ino?"

"Aku sama sekali tidak melupakan peringatanmu, Tsunade-Sama," jawab Ino masih sambil menyeringai.

"Lalu kenapa kau langsung mengambil langkah frontal seperti itu?" Tsunade melipat tangannya di depan dada. "Jelaskan!"

"Aku hanya ingin mencoba," jawab Ino tenang, "hanya itu…."

Tsunade menggelengkan kepalanya. "Lalu hasilnya?"

Ino menyeringai lagi, "Tidak sebaik yang kuharapkan." Saat ia mengatakan itu, mata aqumarine-nya tampak kosong. Ingatannya sesaat mengawang ke saat dimana Sasuke pingsan di tempat tidurnya. Tapi, untuk meyakinkan Tsunade bahwa pada dasarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Ino mengedikkan bahu sedikit dan kemudian mengembangkan senyum penuh makna.

"Yah," jawab Tsunade sambil menghela napas panjangpasrah. Wanita itu pun akhirnya menjatuhkan dirinya di kursi dengan emosi yang telah lenyap seutuhnya. Kepalanya menengadah ke atas sementara kedua tangannya bersandar dengan nyaman di atas masing-masing tangan kursi. "Baiklah. Terserah kau saja. Aku sudah menyerahkan tugas ini padamu. Lagipula, pada dasarnya, permasalahan Sasuke adalah mengenai psikis. Secara fisik, tidak ada yang perlu dicemaskan," ujarnya dengan mata yang terpejam.

Ino mengangguk pelan.

"Ada lagi yang ingin kau sampaikan?" tanya Hokage yang kali ini sudah menggerakkan kepalanya untuk memandang Ino. Sesaat, mata kecoklatan wanita tersebut tertuju ke arah tangan kanan sang kunoichi berambut pirang yang dililit perban. Ino yang menyadari arah pandang Godaime Hokage langsung menyentuh tangan kanannya tersebut dengan jari-jari tangan kirinya.

"Ini…."

"Sasuke yang melakukannya?"

Lagi, Ino hanya mengangguk pelan.

Godaime Hokage pun mengernyitkan alisnya yang tipis. Kedua tangan yang saling bertautan diposisikannya di depan bibirnya yang berwarna merah mencolok. Ia kemudian menggerakkan bola matanya, meneliti kunoichi di hadapannya dari atas hingga ke bawah.

"Hokage-Sama?" tanya Ino kebingungan.

"Apa tugas ini terlalu berat untukmu, Ino?"

Mata beriris aquamarine itu terbelalak. Ino sama sekali tidak menyangka kalau pertanyaan itu akan meluncur dari sang Hokage yang semula memaksakan tugas ini padanya. Apa ini artinya ia bisa mundur dari tugas ini?

Sejujurnya, sejak awal Ino memang agak ragu menerima tugas yang satu ini. Bukan ia tidak senang. Tentu saja! Bukankah sejak dulu, inilah yang diinginkannya? Berada lebih dekat dengan 'Sasuke-kun' yang selalu diidolakannya. Akhirnya ia yang ditugaskan untuk berada di dekat Sasuke, bukan Sakura, tapi dirinya. Tapi, ini tidak sama dengan saat Sakura dinyatakan sekelompok dengan Sasuke. Tugasnya di sini adalah menjadi orang yang mengembalikan ingatan Sasuke. Bisakah ia melakukannya?

Walaupun ia selalu ribut perihal Uchiha bungsu yang satu itu, nyatanya, hanya sedikit yang ia ketahui tentang pemuda itu. Sakura-lah yang jauh lebih mengerti tentangnya. Ino sadar dan inilah yang membuatnya ragu menerima tugas ini.

Tapi…

Ino akhirnya menyunggingkan senyum.

"Tidak Hokage-Sama. Aku tidak akan mengecewakanmu," jawab Ino yakin. "Aku akan menyelesaikan misi ini secepatnya."

Tsunade tidak berkata apa-apa lagi saat melihat keyakinan dalam mata Ino. Mata yang sama seperti yang ia lihat di mata Sakura tadi siang.

Mata yang penuh keyakinan.

Ya.

Tidak ada alasan untuk ragu.

Tidak ada alasan untuk mundur.

Ino adalah kunoichi yang juga tidak kalah hebat dari Sakura dan kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Sasuke seperti ini tidak akan datang dua kali baginya.

***つづく***


Chapter 2 of Back to Beginning. Ternyata nggak terlalu lama ya update-nya? XD

Buat yang kemarin udah review, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya : Cendy Hoseki (soal Tsunade yang milih Ino… ya kalau nggak gitu nggak jadi SasuIno dunk? *seenaknya XD anyway, arigatou, silakan chappie 2-nya), vaneela (hahaha. Thanks vaneel-chan, moga-moga nggak mengecewakan deh), NaraUchiha'malfoy (termasuk ASAP nggak neh? :p yeah, mala mini nggak tidur lagi dunk?XD), Uzuchihamel (bener banget! Merepotkan ini! DX anyway, thank you, silakan chappie 2-nya ^w^), nee-chan (yes, I will make you fall into sasuino's temptation (?). Fufufu~ about GaaIno, I will make it someday, Nee-chan. ^^v), Anezaki Shihoudani-Sara (thank you sara-chan. Silakan chappie 2-nya :D), licob green (arigatou~!^^), Yamanaka Chika (lumayan cepet kan? XD), Ann Kei (nah, dia itu selective amnesia, yang dia lupain cuma hal-hal yang dia nggak suka, jadi Kakashi juga masih dia inget :D), Anasasori29 (iya dunk, namanya juga Sasuke, mau amnesia aja pinter dia :p), uchan a.k.a Lilith-sama (hihihi, makasih banyak lho Lilith-Sama buat kesediaannya membaca n fave-nya, ampe diingetin buat update juga ^^v), lavender magic (yosh! Semangat masa muda diterima! Uwoo! Aku membara!), kyu's neli-chan (tunggu saja tanggal mainnya hanya di B2B*pake gaya ngomong ala pembaca acara S**ET XD heeh, kesian kan? Padahal masih muda, dah pikun T^T *PLAK!), Nanairo Zoacha (haha, gakpapa. Udah dibaca aja dah seneng, apa lagi direview, thanks banget dah mau review XD), agusthya (silakan chappie 2-nya), Yuzumi Haruka (yes, Queen, Anda sendiri kapan update? XD)

Buat yang silent reader (kalau ada), buat yang udah nge-fave dan nge-alert juga, terima kasih yang sebesar-besarnya yaaa! *hug you all*

Ohyah, gak lupa, chapter 2 ini saya dedikasiin buat Airi-chan yang lagi ultah hari ini (10 Juli 2011). Happy birthday, Airi-chan! :D

Seperti sebelumnya, saya boleh yang minta pendapat minna-san tentang chapter 2 ini. OOC-kah? Kecepatan-kah? Aneh kah? Apapun, beri tahu pendapat minna-san via review yah? Please, please? *puppy eyes*

I'll be waiting.

Regards,

Sukie 'Suu' Foxie.

~Thanks for reading~