Disclaimer: Harry Potter milik J.K. Rowling.

Pairing: Hermione Granger & Marcus Flint.

Rating: T


Tahun ketiga Hermione Granger, tahun keenam Marcus Flint. Aula Besar, Sekolah Sihir Hogwarts.

"Apa tidak berbahaya rencana paten kita ini diketahui Flora Carrow?"

Draco Malfoy, si pirang arogan dari Slytherin mendesis perlahan seraya mengiris tumpukan daging bebek panggang. Pagi itu, Aula Besar masih belum terlalu ramai, hanya disesaki sejumlah siswa bertampang mengantuk. Beberapa pelajar tahun terakhir bahkan menguap lebar, menumpahkan sisa iler mereka di piring sarapan.

"Tenanglah, Draco. Kita butuh bantuan Flora sebab dia tahu di mana Kamar Kebutuhan berada. Tantenya, si jelek pendek Alecto Carrow dulu Prefek Slytherin. Jadi, dia tahu persis di mana serta bagaimana memanfaatkan Ruang Datang dan Pergi," Pansy Parkinson, teman tapi mesra Malfoy menjawab enteng sembari mencaplok sebutir telor ceplok dengan kerakusan tingkat tinggi.

Malfoy tampak tidak puas dengan respon ringan sahabat sejak kecilnya itu. Membersihkan sudut bibir dengan saputangan sutra berbordir, mata kelabu perak Malfoy bergeser ke arah pintu Aula Besar, tepat di saat Flora Carrow menghambur masuk bersama saudari kembarnya, Hestia Carrow.

"Kenapa Flora mau repot-repot membantu kita menghabisi Darah Lumpur Granger? Selama ini dia terkenal pendiam dan tak suka mencampuri urusan orang lain," Malfoy mengernyit heran, merenungkan kembali karakter dingin teman sekelasnya.

"Ya ampun, Draco. Masak kau tak sadar juga sih," Pansy memutar bola mata dengan kecepatan setara baling-baling helikopter. Mencucus sepotong onde-onde kacang hijau, penyihir darah murni berhati busuk itu melanjutkan celotehan.

"Flora mau menolong kita demi Marcus Flint," Pansy mengulaskan seringai menggoda, memamerkan barisan biji kacang hijau yang menempel di gingsul depan.

Mendengar penjelasan Pansy, kebingungan Malfoy bukannya mengendur malah semakin menguat. Kedua alis aristokrat Malfoy berkerut menyatu membentuk satu garis lurus.

"Apa hubungannya Flint dengan hal ini?"

Tersenyum selebar mulut kodok, Pansy menepuk-nepuk bahu Malfoy, bertingkah seakan-akan tengah menenangkan seorang bocah ingusan yang uring-uringan karena tak mengetahui rumus perkalian sederhana.

"Flora menyukai Marcus Flint. Makanya ia bersedia bekerja sama menyingkirkan Granger yang juga menyimpan perasaan serupa pada Kapten Quidditch kita."

Tak mengira mendapat jawaban sekonyol itu, Malfoy nyaris tersedak ceker bebek yang belum tuntas ditelan. Kalang kabut, Pansy melipatgandakan gebrakan tangan, tak sadar kalau gebukan gahar tersebut membuat kepala runcing Malfoy terjerembab mencium bibir meja.

"Astaganaga! Tak kusangka dengan sikap brutal serta wajah sangar, Flint laku juga di kalangan perempuan," Malfoy akhirnya menemukan kembali corong suara usai menenggak habis satu teko jus jeruk segar.

"Bukan hal aneh, Draco. Keluarga Flint turun-temurun berdarah murni. Selain itu, ayah Flint merupakan pemegang saham terbesar di klub Quidditch Puddlemere United. Wajar dong kalau si pangeran Troll itu laku," Pansy mengedipkan sebelah mata genit yang dipulas maskara.

Mengusap-usap jidat ningrat yang barusan terantuk daun meja, Malfoy memusatkan pandangan ke objek gunjingan mereka yang tengah berdiskusi seru dengan Beater Slytherin, Lucian Bole.

"Jika semua lancar, malam ini Granger bakal kena batunya," tekan Pansy lancar, membersihkan remah-remah onde-onde kacang hijau dari rok sekolah. Berdiri seanggun mungkin, Pansy menjulurkan tangan kerempeng yang dihiasi gelang warna metalik, berharap sepenuh hati Malfoy mau menggandengnya hingga ke ujung kelas.

Melengkungkan seruas senyum dingin, Malfoy menyambut uluran tangan Pansy. Bibir angkuh Malfoy bertutur perlahan, membisikkan kepastian kejam di setiap iringan langkah kaki mereka.

"Ya, pastinya. Malam ini Granger bakal dapat balasan mematikan..."


Ruang kelas Ramuan, Sekolah Sihir Hogwarts.

Asap berjelaga dengan bau tujuh rupa membubung dari setiap kuali yang menggelegak, membuat kelas Ramuan seolah-olah dihiasi kabut siluman penghisap jiwa, Dementor. Di kursi tengah, Hermione Granger mengaduk-aduk larutan Penyusut Super dengan konsentrasi tingkat tinggi.

Di sela-sela adukan berlawanan dengan arah jarum jam, tangan Hermione sibuk menepis gumpalan asap ungu yang bergulung-gulung dari meja Ron Weasley. Tepat di sebelah Ron, Harry Potter, penyihir yang terkenal dengan bekas luka berbentuk sambaran kilat terlihat fokus memotong-motong bangkai ulat bulu kering.

"Eh, Hermione," Harry mencolek pelan lengan sahabat baiknya yang masih bergulat mengaduk-aduk kuah ramuan yang bergolak seram.

"Apa, Harry?" Hermione menggumam tak jelas, enggan menolehkan muka dari eliksir kental yang tengah dikocok-kocok kencang. Hidung kecil Hermione yang berbintik-bintik kembang-kempis, keteteran mengendus bau asap gosong dari kuali bolong milik Ron.

"Akhir-akhir ini aku lihat Marcus Flint, si Kapten Quidditch Slytherin sering memperhatikanmu diam-diam."

Kuali Hermione nyaris terlompat dari tungku kompor. Rona merah perlahan merambat dari kedua pipi hingga ke ujung rambut semak yang menggantung sempurna.

"Aku khawatir Flint merencanakan hal buruk," tuduh Harry, menggerus bangkai ulat bulu yang termutilasi dengan kecepatan akurat yang patut dipuji.

"Sejujurnya, aku tak suka dengan intensitas tatapan mesum yang dilayangkan. Sepertinya, binatang buduk gila itu punya maksud tersembunyi padamu."

Memaksakan tawa garing, Hermione membenahi posisi kuali yang sedikit miring. Meski harapan dan optimisme mengepak-ngepak di dada, Hermione berupaya berpikir selogis dan serealistis mungkin.

"Tak mungkin Flint tertarik padaku, Harry. Bisa jadi itu hanya perki..."

Suara sedingin es di Benua Antarktika membuat Hermione membeku dan tak mampu menyelesaikan sanggahan.

"Miss Granger, apakah Ramuan Pengerut milikmu sudah selesai?" Profesor Severus Snape, guru Ramuan merangkap Kepala Asrama Slytherin mendesis sinis. Beberapa murid Slytherin, termasuk Pansy dan Malfoy menyeringai menyebalkan, tak sabar menanti jatuhnya sanksi pemotongan nilai yang segera terjadi.

"Err... tinggal sedikit lagi, Profesor," gagap Hermione malu, mengobok-obok kuah ramuan dengan spatula bergagang dua.

"Kalau begitu, segera pindah ke meja depan. Ramuan buatanmu tak akan pernah selesai jika kau terus-terusan menggelar arisan dengan Potter," Profesor Snape berkata licin, selicin rambut berminyak miliknya yang tak pernah dikeramasi bertahun-tahun. Mata hitam pekat Profesor Snape yang segelap lorong bawah tanah memicing penuh kebencian saat Harry menjulurkan lidah sambil membelalakkan mata dengan sengaja.

Diiringi cemoohan geli punggawa Slytherin, Hermione berjalan pelan, berhati-hati membawa kuali timah hitam yang masih bergolak hangat. Sesampainya di depan, sepasang kaki ceking milik Flora Carrow mendadak melintang, menjegal keseimbangan laju tungkai Hermione.

Tak ayal, kurang dari satu detik, kuali yang dipegang Hermione melorot terguling. Setengah isi Cairan Penyusut tumpah mengguyur Profesor Snape yang saat itu tengah membungkuk di depan ramuan gagal milik Neville Longbottom.

Begitu kuah ramuan membanjiri tubuh berminyak Profesor Snape, lolongan histeris para siswa terlontar susul-menyusul, diselingi sumpah-serapah kasar Profesor Snape yang tubuhnya menyusut sebesar balita. Hermione sendiri berdiri kaku, terbeliak kaget menyaksikan kedigdayaan Ramuan Pengempis yang dimasaknya. Di tengah kelas, Ron dan Harry jatuh terbongkok-bongkok, mati-matian menahan derai tawa.

Untungnya, meski badan menciut, kemampuan otak Profesor Snape tidak mengisut. Dengan sekali lambaian tongkat sihir, guru galak berhidung bengkok itu kembali menjulang angker di hadapan Hermione.

"Detensi, Miss Granger. Usai makan malam hari ini kau harus segera menghadap ke ruanganku," Profesor Snape mengultimatum beringas, memelototi Harry dan Ron yang terpingkal-pingkal kegelian.

"Dan potong lima puluh angka dari Gryffindor," sembur Profesor Snape bengis, beringsut ke meja kerja sembari menyumpah pelan.

Hermione, yang masih belum sadar dari keterkejutan tak menyadari lirikan licik Pansy yang menggenggam memo kecil di telapak tangan.

Isi nota dengan tulisan tangan acak-acakan itu berbunyi 'Ruang Kebutuhan. Lantai Tujuh. Jelang tengah malam. Flora Carrow...'


Ruang Rekreasi Gryffindor, beberapa saat setelah makan malam.

Asrama Gryffindor memang kehilangan lima puluh angka, namun insiden heboh itu tak membuat Hermione menjadi musuh masyarakat. Sejak petang hari, penghuni Gryffindor yang sejak lama membenci kediktatoran Profesor Snape bahkan berlomba-lomba mengucapkan selamat pada Hermione yang dianggap berjasa bak pahlawan negara.

"Bloody Hell. Ini benar-benar kejadian langka. Sayang sekali kau tidak ada di sana untuk memotret Snape mengecil, Colin," ujar Ron girang, mengulum sebatang lolipop Pena Bulu Kucing dengan antusias.

Di samping Ron, tepat di meja kayu pohon ceri yang dipenuhi katapel bersayap dan gramafon besar yang rusak dan berkarat, murid Gryffindor tahun kedua, Colin Creevey terduduk lunglai menyesali ketidakberuntungan yang mengenaskan. Alat fotografi andalan Colin, kamera saku digital yang sudah dimantrai sihir tergantung lemas di pangkuan.

Hermione yang meringkuk di sudut setia menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang pelan menahan kobaran amarah. Di dekat sofa busa yang dipadati tumpukan kamus bahasa kuno dan buku Teori Baru Numerologi, kucing gemuk Hermione, Crookshanks mendengkur senang. Mata kuning jingga Crookshanks yang sebesar dan seterang lampu sorot melotot waspada ke saku jubah Ron, tempat si tikus botak Scabbers bersembunyi.

"Hei, Hermione. Kami benar-benar bangga padamu. Kita memang gemar berseloroh dan sering berbuat kejahilan, tapi hanya Hermione yang berani mengubah Snape menjadi jenglot," Fred Weasley, kakak kembar Ron melingkarkan lengan di pundak Hermione yang bergetar kesal.

"Sudah berapa kali aku bilang, itu tak disengaja," Hermione menggeram sebal, menurunkan tangan Fred yang bertengger di sendi bahu.

"Si brengsek Flora Carrow itu yang menelikung kakiku," lanjut Hermione pedas, menyebut nama gadis pendiam bermata hijau yang duduk di deretan paling depan.

"Sudahlah, Hermione. Yang penting kita bisa melihat Snape cebol. Ya ampun, sama sekali tak ada imut-imutnya. Balita kisut penuh keriput," Ron menguik tak terkendali, melempar bungkus kosong permen kaki ke tempat sampah di pojok ruangan.

Merengut manyun, Hermione berdiri dan melangkah ke luar Ruang Rekreasi. Acuh tak acuh menanggapi tepukan selamat yang mendarat di pundak.

"Mudah-mudahan detensi kali ini tidak terlalu berat dan tak memakan banyak waktu. Asal tahu saja, perkamen tugas sekolah masih banyak dan mulai berkembang biak."

"Salam sayang buat Snape, Hermione. Katakan pada siluman kelelawar tua itu untuk mengganti popok, mandi basah dan keramas sesering mungkin!" George Weasley berteriak nyaring, disambut gemuruh tawa gila-gilaan seluruh penghuni Ruang Rekreasi...


Area Menara Astronomi, Sekolah Sihir Hogwarts, jelang tengah malam.

Melaju terburu-buru menuruni tangga Menara Astronomi, Hermione menyesali harapan detensi ringan yang tak menjadi kenyataan. Profesor Snape yang masih ngambek dan senewen menugaskan dirinya untuk membersihkan pelataran Menara Astronomi dari gundukan Bom Kotoran Binatang yang dijatuhkan hantu iseng, Peeves. Tentu saja detensi ala Muggle. Tanpa bantuan mantra dan jentikan tongkat sihir andalan.

Akhirnya, setelah berjam-jam menyikat dan menggosok memakai tangan, menara peninjau galaksi bintang-bintang itu baru terbebas dari bau tinja hewan dan noda tak sedap menjelang pukul dua belas malam. Kesibukan melayangkan mantra Scourgify untuk melunturkan jejak bau tahi sapi di sela-sela kuku jari membuat Hermione lengah dan tak menyadari bayangan yang muncul di koridor lantai tujuh.

"STUPEFY!"

Hermione terkapar tak berdaya sesaat setelah seleret cahaya merah menghantam tubuh. Bunyi berdebam keras yang bisa membangunkan satu blok perumahan mengiringi kemunculan tiga sosok yang bersembunyi di sudut koridor.

Bergerak secepat maling jemuran, Pansy Parkinson merampas tongkat sihir Hermione. Di seberang Pansy, Draco Malfoy berkomat-kamit di depan dinding berbatu. Penyihir ketiga, Flora Carrow bolak-balik mengawasi sekeliling koridor temaram yang sunyi senyap.

Tak lama kemudian, sebuah pintu besar dan kokoh muncul dari balik dinding. Tanpa banyak kata-kata, Malfoy menendang tubuh lunglai Hermione ke dalam ruangan. Pintu pun tertutup dan menghilang. Hanya menyisakan tiga bayangan kejam yang menari-nari di depan dinding batu...

BERSAMBUNG