Terima kasih yang sudah mereview cerita saya yang (menurut saya) aneh ini~ Ini balasannya~ Hohoho~ ^.^

ichazzzz:

hehehe… makasih ^^

ini ada selang waktu sekitar 2 hari… saya mesti cari refrensi buat misinya… ==' 2 hari kelamaan ga?

d3rin:

misinya… silahkan baca sendiri saya… *dilempar sandal*

ini udah saya cepetin updatenya ^^

ss holic:

ahahaha… semoga kenyataan ya ^^

Kinouye-chan:

Makasih ^^

Rancu? Apa itu? O.o

u-usulan yang bagus sekali… saya tak sempat mikir tentang judul… =='

deachii:

hoe? Memanggiku Yama-chan? O/O bo-boleh aja sih…

ga apa-apa kok ^^ saya agak lupa tentang pelajaran SD… jadinya begitu.. =='

ini saya udah usahakan sekilat-kilatnya ^^

doita~ review lagi ya~ ^^

4ntk4-ch4n:

Hehe… ini sudah di update ^^

.

Terima kasih telah menreview~ Tolong review lagi ya~ ^^

.

.

.

"Kan kau belum menikah, Teme."kata Naruto dengan wajah polosnya.

"A-ah, sudahlah, Naruto! Kau ini memanggil kami untuk misi atau ingin meledek kami?"

"Dua-duanya, Sakura-chan!". Dan ucapan Naruto sukses membuatnya mendapat deathglare dari Sasuke dan Sakura.

"Ba-baiklah, baiklah, akan kuberi tahu misi kalian. Kalian hanya kusuruh untuk..."

.

.

.

Me is There for You

By: Sekar Yamada

My Second Fic.

This Story is Real From Me. Sorry If My Story is Same with Someone FanFiction Author.

.

.

.

"Untuk apa Naruto?" ujar Sakura yang sepertinya mulai kesal karena Naruto sengaja menghentikan kalimatnya.

Tok, tok, tok-

"Masuk!"

"Permisi… Eh? Ada Sakura-chan dan Sasuke-kun?" ujarnya yang diketahui istri sang Hokage, Hinata.

"Ah, iya Hinata. Kami berdua akan menjalankan misi." Ucap Sakura menjelaskan pada istri sang Hokage itu.

"Ada apa, Hinata-chan?"

"Ah, tidak kok… Kalian lanjutkan saja pembicaraan ini. Aku akan mengatakan urusanku pada Naruto-kun setelah misi kalian diucapkan oleh Naruto-kun." Ucap Hinata yang berjalan ke samping Naruto.

"Oh begitu. Baiklah, misi kalian…"

"Hn?"

"… mengawal acara penobatan raja di sebuah desa yang diadakan 2 hari lagi." Ucap Naruto sambil meletakkan peta desa itu ke atas mejanya.

"Baiklah. Ayo pergi, Sakura."

"Iya, Sasuke-kun. Jaa Naruto, Hinata!"

"Jaga baik-baik 'calon' istrimu itu, Teme! Hahaha!"

Ucapan Naruto yang tanpa dosa itu sukses mendapatkan deathglare dari Sasuke dan sukses membuat Sakura merona.

"Awas saja nanti kalau aku pulang, Naruto-baka!"

Blam-

Pintu Hokage sudah ditutup.

"Hahaha! Ah ya, ada apa, Hinata-chan?"

"Memperingatkan Naruto-kun."

"E-eh? Memangnya aku salah apa?" tanya Naruto dengan wajah polosnya.

"Memangnya tidak apa-apa menggoda mereka seperti itu?"

Narutopun beranjak berdiri dari 'singgahsana' nya itu.

"A-anu, Naruto-kun… Tidak apa-apa kalau Naruto-kun tidak menjawab pertanyaanku barusan…" ujar Hinata yang mulai takut dengan perlakuan Naruto.

Gyut-

"Kau takut kalau aku melakukan sesuatu padamu, ya? Aku kan hanya ingin memeluk istriku ini…"

"E-eh?" ucap Hinata yang kaget melihat tidakan suaminya itu.

"Kenapa kamu bertanya tentang hal itu lagi? Kan tadi pagi sudah kujawab pertanyaanmu itu…"

"I-iya sih… Tetapi kupikir Naruto-kun tidak akan meledek mereka lagi…"

"Baiklah, aku menurut pada Hinata-hime… Lalu, apa maksud yang sebenanya kamu masuk kesini?"

"Aku hanya ingin bertanya, apakah pekerjaan Naruto-kun sudah selesai? Kan sekarang sudah sore…"

"Yaaah sedikit lagi selesai, Hinata-hime." ucap Naruto melepaskan pelukannya.

"Baiklah, aku akan menunggu dirumah saja ya, Naruto-kun. Sekalian aku akan menyiapkan makan malam." Kata Hinata dengan tersenyum menuju pintu keluar kantor Hokage.

"Yang banyak dan enak ya, Hinata-hime!"

"Tentu saja, Naruto-kun…"

Blam-

Istri Hokage itu sudah keluar dari ruangan sang Hokage.

"Baiklah, aku akan segera menyelesaikan ini dan pulang!" ujar Naruto semangat.

.

.

.

Sedangkan itu, Sasuke dan Sakura yang sedang ditengah perjalanan…

'Aah, aku tidak tau tujuanku sekarang. Dari tadi Sasuke-kun tidak memperlihatkan peta itu.'

Kak, kak, kak-

"Eh, sudah matahari tenggelam?" ujar Sakura yang kaget mendengar nyanyian *?* para burung gagak.

"Kita istirahat saja dulu." Kata Sasuke menghentikan langkahnya.

"E-eh? Tidak apa-apa, Sasuke-kun?" Tanya Sakura yang juga ikut menghentikan langkahnya.

"Desa itu sebenarnya tidak jauh dari Konoha. Jadi kira-kira kita sudah hampir setengah jalan menuju desa itu."

"Baiklah, Sasuke-kun." Ucap Sakura yang mengikuti ucapan pacarnya itu. Lalu ia duduk dibawah pohon.

"Kau sudah lelah?"

"Hanya sedikit." Kata Sakura tersenyum, berusaha tidak membuat sang pacar khawatir.

"Benarkah?"

"Iya, Sasuke-kun~" kata Sakura yang mengeluarkan suara manjanya.

"Kau tidur saja."

"E-eh? Sasuke-kun tidak tidur?"

"Aku akan menjagamu. Kau tidur saja."

'Aku akan menjagamu'. Kata-kata itu telah menghantui *?* pikiran Sakura sekarang.

"Sakura?"

"E-eh? Sebaiknya Sasuke-kun juga tidur. Mungkin saja akan banyak musuh besok."

"Baiklah, aku akan tidur sebentar setelah kau tidur."

"Karena sekarang baru saja malam, aku akan mencari makan malam dahulu ya, Sasuke-kun."

"Tidak. Aku yang akan mencari makan malamnya. Kau membuat api saja."

"Hah… Baiklah, baiklah, aku akan menunggu disini." Ucap Sakura yang menuruti –lagi- ucapan sang pacar dengan tersenyum.

"Aku cari dulu." Kata Sasuke yang berjalan menjauhi Sakura.

'Naaah Sakura, sekarang tugasmu membuat api.'

.

.

.

"… kura. Sakura."

"E-eh? Aku tertidur?"

"Sepertinya begitu. Aku sudah menemukan ikan dan sedang membakarnya. Mungkin sebentar lagi akan matang. Sehabis makan kau tidur saja."

"E-eh? Tetapi cepat sekali aku tidur, Sasuke-kun."

"Aku tak peduli, yang penting sehabis makan kau tidur saja."

"Baiklah. Umm…"

"Ada apa?"

"Itu ikannya sudah matang, kan?" kata Sakura yang melirik kearah api yang dibuatnya.

"Hn."

"Aku ambil, ya." Kata Sakura yang berjalan ke api yang dibuatnya.

'Panas…'

"Nah, ambil ini, Sasuke-kun." Kata Sakura yang memberi satu ekor ikan yang sudah matang kepada Sasuke. Sasuke hanya diam lalu mengambilnya dari tangan Sakura.

"Aww, panas…" ucap Sakura yang ingin memakan ikan bagiannya.

Sasuke tersenyum tipis dan berkata, "Hati-hati saja, Sakura-chan.".

"Iya, Sasuke-kun." Kata Sakura tersenyum manis kearah pacarnya itu.

Sasuke yang melihat senyum manis Sakura itu hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang –diperkirakan Sasuke- sudah memerah.

"Enak…" ucap Sakura puas dengan rasa ikannya itu.

"Begitukah, Sakura-chan?" kata Sasuke –sedikit- menyeringai kearah Sakura.

"I-iya enak, Sasuke-kun. Kamu kan belum memakannya." Ucap Sakura gugup.

"Suapi aku lagi, Sakura-chan.". Well, ucapan Sasuke sukses membuat Sakura terkena blushing akut lagi hari ini. Keinginan Sasuke Uchiha memang –terkadang- tak bisa diketahui oleh Sakura.

"E-eh, menyuapimu lagi, Sasuke-kun? Kan tadi pagi sudah." Ucap Sakura agar ia tidak menyuapi Sasuke.

"Aku tau itu dan aku ingin kau menyuapiku lagi."

"Ta-tak ada sumpit, Sasuke-kun…"

"Pakai tangan, Sakura-chan."

"A-apa kamu yakin, Sasuke-kun? "

"Aku yakin, Sakura-chan."

"Bu-buka mulutmu."

"Baiklah."

1, 2, 3…

.

CUP

.

Ciuman lembut sukses mendarat dibibir kecil Sakura.

"Sa-Sasuke-kun?" ucap Sakura yang tidak percaya yang dilakukan Sasuke barusan.

"Kau bilang 'buka mulutmu'."

"Ta-tapi kan aku berkata begitu karena kamu minta disuapi, Sasuke-kun."

"Bukankah kau juga ingin dicium olehku, Sakura-chan?"

Blush-

Ucapan Sasuke –yang tanpa dosa- itu sukses membuat Sakura blushing akut lagi.

"E-eh?"

"Betulkan begitu, Sakura-hime?" ucap Sasuke dengan sedikit menyeringai kearah Sakura.

"A-ah Sasuke-kun, kamu ini jadi mau kusuapi atau tidak?"

"Hn. Aaa-" kata Sasuke membuka mulutnya.

"Ahahaha… Kamu seperti balita lagi, Sasuke-kun!" kata Sakura tertawa kecil.

Dan seperti inilah 'acara' makan malam Sasuke dan Sakura yang dihiasi oleh kejahilan Sasuke.

"Kamu nanti tidur juga kan, Sasuke-kun?"

"Hn."

"Kalau kamu bohong?"

"Kamu boleh menciumku hingga puas."

Blush-

Ucapan Sasuke sukses membuat Sakura blushing lagi sesuai kesukaan Sasuke –tomat.

"Be-berhentilah bercanda, Sasuke-kun."

"Aku hanya mengatakan yang ingin dikatakan oleh otakku."

"Ta-tapi kamu nanti harus tidur, Sasuke-kun."

"Hn."

"A-awas saja kalau sampai kamu bohong, Sasuke-kun."

"Tidak akan lagi untuk Sakura-hime."

"Baguslah…"

.

.

.

"Hey, hey, ayo kita jalani tugas ketua sekarang."

"Sepertinya lebih baik bila wanita itu sudah tertidur."

"Memangnya mengapa tidak sekarang saja?"

"Aku merasakan cakra yang besar dari mereka berdua. Dan aku merasakan cakra yang sama dengan Tsunade-san dari wanita itu."

"E-eh? Tsunade-san?"

"Ya begitulah. Ayo kita tunggu saja wanita itu tidur."

"Baiklah. Aku kan masih sayang nyawaku."

"Tapi…"

"Tapi?"

"Mereka berdua itu benar utusan Konoha yang katanya akan mengawal acara pengobatan adik ketua, kan?"

"Dari ciri-ciri yang disebutkan ketua, memang benar mereka berdua yang mengawal acara adik ketua."

"Baguslah. Berarti memang kita hanya perlu menunggu wanita itu tidur. Hn…"

"Ada apa?"

"Ah tidak, lupakan saja."

.

.

.

"Oyasumi, Sasuke-kun." Kata Sakura tersenyum manis –lagi-.

"Hn."

'Kau itu sepertinya memang cocok untuk menjadi nyonya Uchiha, Sakura.'

Srak, srak, srak-

"Siapa disana?"

"Dugaanku benar, kau adalah Sasuke Uchiha, sang anggota Uchiha yang terakhir." Anggap saja namanya adalah A.

"Kenapa kau tidak bilang tadi?" ucap si B kaget.

"Toh kau juga sudah melihatnya sekarang."

"Mau apa kalian?" kata Sasuke yang sudah mengeluarkan pedangnya dari sarungnya.

"Tidak spesial. Hanya akan melenyapkanmu."

"Kalau kalian tau aku adalah anggota Uchiha yang terakhir, seharusnya kalian berfikir sampai dua kali."

"Alasanku hanya ingin tau dimana kemampuanku saja."

"Kami berdua punya pasukan yang tinggal menunggu aba-aba dari kami. Bagaimana, Sasuke Uchiha?"

"Aku tak peduli."

.

.

.

"Ck, sial!"

"Boleh juga kalian." Kata Sasuke mengelap keringatnya yang ada dipipinya itu.

"Kalau begini caranya, akan kuubah strategiku."

"E-eh? Ada apa ini?" kata Sakura yang kaget karena saat ia bangun tiba-tiba melihat Sasuke bertarung dengan si A dan si B.

"Sakura!" ujar Sasuke –sedikit- panik karena keberadaannya bukan didepan Sakura lagi.

"Fufufu… Sepertinya aku punya rencana yang menarik…" kata si A dengan senyum iblis.

"Aku mengerti rencanamu."

Srak-

"Sasuke Uchiha, kini pacarmu ini berada ditangan kami."

"Sa-Sasuke-kun!"

"Diam kau!" ucap si B yang segera memasangkan sejenis bom tidur ketubuh Sakura.

"Sasu…ke-"

"SAKURA!"

"Hey, bawa dia kemarkas."

"Baiklah."

Plum-

Sekarang si B meninggalkan Sasuke dan si A berdua dengan jurus menghilang.

"Kalian…"

"Aku juga akan menyusulnya. Sampai jumpa lagi, Sasuke Uchiha."

Plum-

Dan sekarang si A juga menyusul si B yang author harap si A dan si B saja pergi kealam baka dan meninggalkan Sakura ditengah jalan.

"Sial! Aku harus kemana?"

'Sakura, tunggulah aku!'

.

.

.

"Engh-"

"Kau sudah bangun, nona Sakura Haruno?"

"Eh? Dari mana kau tau namaku?"

"Aku mendapatkannya dari informasi dari yang kudapat."

Lalu Sakura melihat kearah sekitarnya. 'Sekarang sudah hampir pagi, ya.'. Dan Sakura mengingat sesuatu. 'Oh iya, dimana Sasuke-kun?'

"Hey, dimana Sasuke-kun?"

"Oh si Uchiha itu? Entahlah."

'Aku harus keluar dari sini!'

.

.

.

Sementara itu Sasuke…

'Sial, sekarang sudah hampir pagi. Dimana markas mereka?'

Tak lama kemudian Sasuke melihat sebuah rumah yang lumayan besar.

'Mungkin ini adalah markas mereka!'

Sasuke pun melajukan langkahnya, dan saat ia hampir sampai rumah itu…

"Wah, Uchiha benar-benar menyusul teman kami sampai kemarkas kami, ya? Atau saking cintanya dengan wanita yang kami sergap itu?"

"Bukan urusan kalian! Serahkan Sakura padaku!"

"Bagaimana kalau bermain-main dengan kami dulu, Uchiha?"

"Ck." Dan Sasuke mengaktifkan sharingan nya.

.

.

.

"Apa? Kalian sedang bertarung dengan Sasuke Uchiha didepan gerbang?"

'E-eh? Sasuke-kun sudah sampai disini?'

"Ya begitulah. Sepertinya dia menginginkan wanita yang kita sergap itu."

"Apa dia mengamuk?"

"Sedikit karena ia mengatifkan sharingan nya."

"Lalu, apa kalian kekurangan jumlah?"

"Entahlah. Sampai saat ini kami masih setengah aman dan kuharap tidak akan kekurangan."

"Baguslah. Hubungi aku lagi bila terjadi sesuatu."

"Ya."

'Aku harus bisa memotong tali yang mengikat tanganku ini!'

"Kau kenapa, nona?"

Sruk-

'Berhasiiil!'

"Hey!"

"Aku akan memberimu sedikit pelajaran."

"E-eh? Kenapa talinya bisa lepas?"

"Tanya saja pada dirimu sendiri. Shannaro!"

Lelaki yang menjaganya itu pingsan. Tapi, apa pedulinya Sakura kepadanya?

'Chakra Sasuke-kun terasa dari arah sini!'

Sakura yang sudah merasakan chakra Sasuke terpaksa menghentikan langkahnya ketika ia bertemu dengan teman-teman yang menjaganya tadi.

"Wah, wah, nona, kau berhasil kabur ya?"

"Sepertinya begitu." Kata Sakura tersenyum –licik-.

"Tak apa-apa kan, bila bermain sedikit besama kami?"

"Tak apa-apa. Tapi, karena aku sedang ada urusan, aku akan menyelesaikannya sekali saja."

"Menyelesaikannya dalam sekali pukul saja? Kau bercanda, nona?"

Tanpa komando, Sakura langsung melancarkan andalannya, "SHANNARO!"

Dan yah, mereka seketika pingsan.

"Aaa-"

"Apa ini yang disebut bercanda?"

Sakura melanjutkan niatnya –bertemu Sasuke- dan meninggalkan 'korban shannaro' nya begitu saja.

"Hey, Sakura."

"E-eh? Sasuke-kun?"

Tak, tak, tak-

"Hah, hah, Sakura! Dia tipuan!"

"E-eh? Jadi ada dua Sasuke-kun?"

"Hn?"

"Kau!"

'Bagaimana ini? Kenapa jadi ada dua Sasuke-kun?'

.

.

.

To be continue…

.

.

.

Bwahahaha~ Chapter ke-2 selesai~! (author gila)

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih yang telah membaca dan mereview! ^^

Chapter 3, I'm coming~!