Disclamer : Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

The Pieces of Miracle Kiseki no Sutori

Warning : OC, OOC, Typo, Newbie Author


Chapter 2 : 'Atarashii Hikari'

.

.

.

Here we go!

.

...

Berjalan, melangkahkan tungkai pendekku keluar kelas seperti biasa saat tanda pengingat–pelajaran–usai berbunyi. Aku baru saja melewatkan masa-masa membosankan di dalam kelas, masa-masa yang membuatku terus menerus menguap tanpa rasa kantuk untuk sekedar membuat diriku melakukan sesuatu selain mengembang kempiskan dadaku tanda aku bernafas. Dengan mendekap beberapa buku di kedua tanganku, membawa diriku sendiri menjauh melewati lorong-lorong sekolah Kaijo menuju lokerku. Aku tak sedang bersama siapapun, ya, aku seorang diri. Aku Kanazawa Ameko, siswi Kaijo yang tak pernah terlihat bersama siapapun, "Kanazawa–san, boleh kupinjam catatan matematika–mu?" kecuali bersama mereka yang membutuhkan sesuatu dari diriku.

Aku menghentikan langkahku, menoleh guna melihat siapa yang sedang mengajak diriku bicara. "Oh, Hai' chotto!" mengambil sebuah buku catatan yang diminta dari dalam tasku, "Kore!" Dan segera menyerahkannya kepada seorang gadis yang menjadi teman sekelasku.

"Sankyuu, akan ku kembalikan besok. Ja na."

Aku menyunggingkan senyum ramah untuk beberapa saat dan kembali memasang wajah tak senangku ketika sosok Si–Peminjam–Buku sudah tak menampakan dirinya di hadapanku. Aku tak sedang beracting! Aku juga tidak sedang menjauhkan diriku dari kehidupan orang-orang di sekitarku! Bukan pula sedang membuat diriku sendiri ditakuti oleh siapa saja yang melekatkan pandangannya pada sosokku saat ini. Aku hanya sedang menjadi diriku sendiri, diriku yang memang tak mengenal siapapun—mungkin aku tidak benar-benar tak mengenal siapapun, hanya saja sangat sedikit orang yang mau ku ingat dan paling tidak kuakui keberadaannya.

Membuka pintu lokerku dan meletakkan semua barang yang dirasa menyusahkanku ke dalam loker—beberapa buku pelajaran yang tebalnya bisa untuk membuat siapa saja terlihat tinggi dengan berada di atasnya dan beberapa perlengkapan sekolahku yang lain, aku hanya menyisakan sebuah buku berukuran sedang—dengan gambar seekor kuda berwarna putih melekat menjadikan dirinya cover model—di dalam tas sekolahku. Aku memang tak pernah membawa pulang alat sekolahku, terkecuali jika aku benar-benar membutuhkannya. Entahlah, aku merasa hal itu hanya membuang-buang waktu—dan tenaga, tentu saja.

"Mendokusai! Seharusnya orang-orang tua di dalam ruang guru itu membuat loker-loker ini sedikit lebih besar." Ucapku lirih setelah susah payah meletakkan buku-buku tebal ini masuk ke dalam loker yang—sedikit—tidak luas. Kaa–chan selalu mengajariku untuk berkata sopan dan tak sembarang menggerutu, jadi mengeluhlah hanya saat dibutuhkan. Tsk

Mematut diriku di depan cermin yang menempel kuat di dalam lokerku beberapa saat, merapikan jaket yang melekat pada tubuhku dan setelah selesai dengan urusan melepaskan setiap atribut yang kukenakan di dalam sekolah, aku kembali menyeret tungkai kecilku keluar. Meninggalkan gedung sekolah dan menuju restoran cepat saji yang akhir-akhir ini menjadi tempat singgahku—Maji Burger. Memesan segelas besar banana ice cream dan sebuah burger berukuran kecil. Jangan salahkan bila aku terlihat begitu bodoh dengan pesanan yang kupesan! Aku hanya ingin menghabiskan berember-ember banana ice cream dan tak peduli dengan komponen lain yang di butuhkan tubuhku. Dan peduli setanlah pula dengan nama restoran cepat saji yang terkesan sangat memprioritaskan burger sebagai makanan utama mereka. Menurutku, segelas besar banana ice cream lebih kubutuhkan dari pada segigit burger yang diagung-agungkan itu.

Iris kembar Amber–ku menyapu setiap ruang yang dapat dijangkaunya dengan sebuah nampan berisikan pesanan yang baru saja kupesan bertumpu dikedua tangan kecilku, mencari meja yang akan menjadi tempatku menghabiskan menit demi menit waktuku di tempat ini. Aku tak dapat menemukan tempat kosong untuk dijadikan tumpuan bagi tubuhku karena ramainya tempat ini, namun sekon setelahnya, "Yatta!" aku sudah melangkahkan tungkai pendekku menuju sebuah meja yang berada dekat dengan jendela restoran. Menghembuskan nafasku dengan kasar sebelum aku meletakkan nampan yang sedari tadi kubawa dan mulai menjatuhkan tubuhku pada bangku yang tersedia. Entah mengapa aku merasa sangat lelah.

"Itadakimasu!" Aku memasukkan suapan besar banana ice cream ke dalam mulut dan mulai megeluarkan sebuah—satu-satunya—buku yang ada di dalam tasku. Buku tentang bagaimana memperlakukan seekor kuda dengan baik. Aku mencintai apapun tentang kuda, maka dari itu, aku memutuskan untuk menjadi anggota club berkuda di sekolahku—kaijo.

"Kuroko, kali ini kau tak bisa memper–" Seorang laki-laki tiba-tiba saja meletakkan sebuah nampan berisi segunung burger di hadapanku. Saipa dia? Tidak sopan, "–mainkanku lagi."

"Dare?" Ucapku dengan sikapku yang biasa—dengan wajah tak senangku melekat, menjadikannya topeng cantik untuk diriku sendiri—seraya menurunkan buku yang sebelumnya membuat wajahku tenggelam oleh rentetan huruf yang tersusun menjadi sebuah kalimat.

"Anou.. ku pikir kau–" Laki-laki itu hanya merespon dengan wajah bodohnya seraya iris kembar miliknya menari-nari ke setiap sudut seperti mencari sesuatu entah apa, mungkin Ia sedang mencari tempat untuknya pindah dan menenggelamkan dirinya karena malu yang di rasanya. Bodoh! Dapat yang kau cari, Bung? Aku tertawa geli dalam hatiku namun tetap tak merubah mimik wajahku—tetap menyebalkan.

"Kekasihmu?" Mungkin saja, 'kan?

"Tentu saja bukan! ku pikir kau–" Ia masih terlihat gugup, "–sudahlah, lagi pula kau sedang sendiri, 'kan?" Ucapnya yang sepertinya sudah bisa menguasai dirinya sendiri dan mulai membuka salah satu burger berukuran besar dari segunung burger yang ada di nampannya.

Aku tak bergeming dan kembali menenggelamkan wajahku pada lembar demi lembar buku yang sedari tadi berada digenggamanku dengan sesekali menyuap sendok demi sendok banana ice creamku ke dalam mulut yang secara otomatis membuat lelaki bersurai merah dengan iris mata senada di hadapanku ini merasa sedikit jengkel oleh tingkah lakuku yang luar biasa acuh. Ingin mencoba merayuku? Coba saja sampai kau lelah! Lagi pula aku tak peduli dengan alasan bodohnya.

"Hoy! Jangan membuatku tampak bodoh! Ore wa Kagami Taiga desu." Ucap laki-laki itu memecahkan tembok keheningan yang kubangun kokoh.

"Yoroushiku." Ucapku sekenanya setelah aku selesai berkutat pada buku–ku dan berniat untuk mulai memakan satu-satunya burger—ukuran kecil—yang kupesan tadi sebelum aku terkejut dengan bayangan yang menyentuh retina mataku.

"Kau benar-benar makan sebanyak itu?"

"Hmm.. ada yang salah?" Ucapnya enteng seraya membuka sebuah burger lagi—yang entah sudah yang keberapa—dan mulai mengigitnya.

"I-iiye." Jelas saja sangat salah bodoh! Batinku seolah tak ingin menyetujui apa yang bibirku ucapkan. Apa yang sedang dipikirkannya? Mencoba menjadi monster dan menghancurkan toko? Aku memang tak mengenalnya, namun Ia mungkin lebih sering ke tempat ini bila dibandingkan denganku, terlihat dari banyaknya makanan yang Ia pesan yang mungkin sudah direncanakan apa yang akan pesan sebelum Ia sampai di tempat ini. Atau mungkin dia memang benar-benar monster.

Melirik sekilas ke arah jam tangan kecil berwarna cokelat muda yang melingkar di pergelangan tangan kiriku—pukul 5 sore. Masih terlalu sore untuk awan mengubah konstras langit menjadi lebih gelap. Ini bukan saatnya untuk hujan turun sepanjang bulan, namun bukan pula saatnya tanah mengering dalam waktu lama. Aku tak menyukai hujan, dan juga tidak menyukai panas, aneh? Terserah apa yang akan kalian katakan tentang diriku. Hembusan angin menerbangkan surai kuning kecokelatanku, membuatnya mendarat tepat pada wajahku seperti mengisyaratkanku untuk segera pulang, berteduh dari hujan dan berlindung dari suara-suara yang akan membuatku takut.

Memasukkan gigitan terakhir burger ukuran kecilku ke dalam mulut, merapikan semua barang-barangku yang berserakan di atas meja—sebenarnya hanya sebuah buku dan ponselku, mengencangkan jaket yang kukenakan dan berniat untuk segera kembali ke rumahku yang nyaman. Aku mulai bangkit dari dudukku.

"Ja, selamat menikmati makanmu."

"Kau belum memberi tahu siapa namamu." Ucapnya santai seraya menggigit burgernya dengan ukuran yang besar. Memangnya itu berpegaruh banyak untukmu?

"Kanazawa Ame—" Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku suara ponsel–ku berdering, menunjukkan seseorang sedang mencoba menghubungiku. Kurogoh ponselku dari dalam tas dan kulihat layarnya, membaca nama yang tertera di sana—Kaa–chan. Aku menekan tombol terima dan tak lagi memperdulikan keberadaan Kagami-kun yang masih melekatkan iris merahnya ke arahku.

"Moshi-moshi Kaa-chan." Peduli setanlah dengan perkataan yang belum selesai terucap itu.

.

.

Akhir pekan yang berlangsung sangat sederhana seperti hari-hari sebelumnya. Menghabiskan berember-ember banana ice cream, bersantai-santai lalu setelahnya melangkahkan kaki menuju Istal kuda yang tak jauh dari gedung sekolahku. Mengisi waktu dengan menunggangi kuda sepanjang hari jauh lebih baik dari pada harus membusuk di rumah dengan ditambah lagi harus mendengar racauan Kenzou-nii yang tak ada hentinya. Kanazawa Kenzou adalah satu-satunya saudara yang ku miliki, Siswa SMA Yosen yang hanya pulang ke rumah setiap akhir pekan dan tak pernah libur untuk membuatku kesal. Ia pecinta basket, namun tak pernah mau mengikuti club basket yang ada di sekolah yang selama ini Ia masuki. Semacam orang bodoh yang berambisi tanpa wadah.

Matahari belum berada di puncak kejayaannya, Ia masih membuat sinar hangatnya berjalan menuju ketingkat kehangatan yang lebih tinggi. Hembusan angin pun ikut bertiup, seolah membantu pergerakan cahaya matahari mencapai tahtanya. Aku mengikat surai kuning kecokelatan milikku menjadikannya bersatu padu pada sebuah pita berwarna hitam. Mengenakan dress hijau bertumpuk tanpa lengan dan boots hitam sedang melangkahkan tungkainya menjauh dari rumahku menuju Istal kuda dengan tanganku penuh segelas besar banana ice cream yang tak akan pernah ku tinggalkan.

"Kau masih lemah Kuroko!" Samar-samar aku mendengar suara satu—atau mungkin lebih banyak orang berbicara dan suara decitan sepatu akibat pergesekan yang keras dengan apapun yang menjadi tumpuannya. Untuk sampai ke Istal Kuda yang akan aku tuju memang melewati beberapa lapangan basket, lapangan yang biasa di gunakan oleh para berandal-berandal—atau mungkin mereka anak baik-baik, siapa peduli—bermain basket, membuang waktunya dengan mengeluarkan banyak peluh seperti yang orang-orang itu lakukan.

"Sumimasen,"

"Omong-omong dimana kekasihmu yang super cerewet itu?" Ucap seseorang bersamaan dengan suara pantulan bola. Aku mengenal suara itu, suara berat yang ku dengar beberapa hari yang lalu di Restoran cepat saji—Maji Burger. Tanpa sadar aku membawa langkahku lebih cepat mendekat menuju lapangan dan menghentikan langkahku disudutnya, layaknya pikiranku sudah memberikan aba-aba untuk aku berhenti melangkah.

Deg—

Itu memang dia, Kagami Taiga, pemuda yang menggangu acara santai-santaiku beberapa hari yang lalu adalah seorang pemain basket. Mengapa aku harus hidup di sekitar orang-orang yang berkutit dengan bola berwarna orange seumur hidupnya? Dan mengapa pula aku harus menganggap bahwa aku dekat dengannya? Ameko Baka! Aku tak mengenalnya, seperti halnya ia tak mengenalku.

"Ia sedang berlatih untuk pementasan club paduan suaranya. Dan Funato-san belum menjadi kekasihku Kagami-kun." Ucap seorang laki-laki dengan surai biru muda dan postur yang berkali-kali lipat menyusut bila dibandingkan dengan postur tinggi besar Kagami–kun. Mungkin laki-laki itu bernama Kuroko seperti nama yang Kagami–kun sebut.

"Syukurlah tak ada yang akan membuat telinga ku sakit hari ini." Ucap Kagami–kun enteng seraya meletakkan tubuhnya pada lantai lapangan dengan peluh terlihat menetes dari pori-pori kulitnya tanpa memperdulikan kalimat terkahir dari lawan bicaranya. Sedangkan sang lawan bicara hanya diam seraya men–drible Benda—Bola—Orange itu dengan santai tanpa berusaha untuk memasukkannya ke dalam ring seperti layaknya pemain basket lainnya. Aku masih membatu di sudut luar lapangan, tak melakukan apapun selain mengembang-kempiskan dadaku. Entah apa yang membuatku melakukannya, mematikan seluruh perintah otakku untuk pergi meninggalkan peristiwa ini seperti aku meninggalkan peristiwa tidak penting yang sering terjadi di sekitarku—terkecuali jika aku merasa tertarik dengannya.

"Yosh! Kuroko! Lempar bolanya!" Ucap kagami-kun bangkit dari duduknya dengan semangat yang sepertinya mulai kembali berapi-api.

"Anou, Sumimmasen, sepertinya Ia sedang ingin bicara denganmu." Ucap lelaki bersurai biru muda itu dari tempatnya berdiri tanpa sedikitpun mengindahkan apapun yang diucapkan Kagami–kun. Lelaki dengan sikap dan tutur kata yang jauh debih sopan dibangdingkan Kagami–kun. Aku heran, mengapa mereka bisa terlihat begitu dekat sedangkan sifat dan segalanya tentang mereka jauh berbeda, kecuali kecintaannya pada Benda—Bola—Orange. Aku tak tahu, dan tak mau tahu—setidaknya untuk saat ini.

Mendengar hal itu, sontak membuat Kagami–kun menolehkan pandangannya ke arahku, membuat iris merahnya bertemu dengan iris kuning milikku. Aku tak mungkin mempermalukan diriku sendiri dengan berlari pontang-panting seperti gadis tak tahu malu untuk menghindarinya, untuk menutupi rona merah yang pasti sedang menjalar melalui syaraf-syarafku dan berkumpul pada sisi wajahku. Perlahan-lahan aku melangkahkan tungkaiku, memuatnya memutar arah dan menghilang dengan cepat menggunakan cara yang terlihat cukup berkelas dari pada harus lari pontang-panting. Namun sepertinya keberuntungan sedang tidak berpihak kepadaku. Saat aku mencoba melangkahkan tungkai kecilku, mencoba untuk melenyapkan diriku dari jangkauan pandang Kagami–kun dan Kuroko–kun, seseorang menabrakku dengan keras, membuatku terpental beberapa sentimeter ke tanah dan banana ice cream yang sedang ku pegang tak bisa lagi terselamatkan, "Itai." Aku mengaduh.

Aku mengalami posisi yang mungkin membuat prosentase kesialanku bertambah—dengan siku kiriku menyentuh lebih dulu alas yang terbentang luas di bawah kakiku. Membuatnya ikut terseret dan mengeluarkan darah, tak lupa pula rasa ngilu yang di timbulkan.

"Kau punya mata 'kan?" Aku menuntut kecerobohan seseorang yang memuatku kacau seperti ini.

"Eeeh? Kau tak apa, 'kan? Biar kubantu kau berdiri." Lelaki itu menyunggingkan senyumnya seraya mengulurkan tangannya, mungkin maksudnya adalah mencoba bersikap ramah di atas kesalahannya. Namun alih-alih merasa terselamatkan aku merasa ingin memukul wajah tak berdosanya itu. Bisa-bisanya Ia mengatakan aku tak apa. Apa matanya hanya sebuah tempelan stiker? Atau permen-permen menjijikan yang biasa di makan para gadis? Atau aku lebih mencurigai itu adalah batu kuning luar angkasa yang biasa digunakan sebagai alas tidur para alien.

"Tidak perlu! Aku bisa sendiri!" Aku sama sekali tak mengindahkan perlakuan baiknya padaku. Bersamaan dengan itu Kagami-kun dan Kuroko-kun mepercepat langkahnya menuju ke arah ku—sebenarnya ke arah aku dan pemuda tak tahu diri ini karna keberadaan kami yang memang sedang dalam jarak yang berdekatan—terutama Kagami-kun yang terlihat lebih dulu dari Kuroko-kun.

"Kau tak apa? Err.. Ame?" Tanya Kagami-kun serius seraya memeriksa siku kiriku yang benar-benar menunjukkan bahwa aku sedang tidak kenapa-kenapa.

"Eh, Kagamicchi, kau mengenal Kanazawacchi?" Ucap lelaki ini. Ya pertanyaan bagus! Kau masih mengingat namaku Kagami, eh? Dan apa? Ame? tsk! Aku baru ingat kalau aku meninggalkannya dengan ucapan yang masih berlum selesai. Dan bagaimana pula lelaki tak tahu diri ini mengenal namaku?

"Dan kau bagaimana bisa mengetahui namaku?" tudingku kepada pelaku penganiayaan cepat-cepat sebelum Kagami–kun membuka mulutnya untuk menjawab.

"Kagami-kun, Kanazawa-san mengeluarkan darah." Ucap Kuroko-kun yang akhirnya bergabung bersama kami.

"Aku tahu, Teme!" Kagami–kun memegang lenganku guna melihat lebih jelas seberapa parahnya dampak yang di timbulkan dari sentuhan tubuh lekaki itu pada tubuhku. "Pakai matamu lain kali Kise-Teme!"

Deg—

Apa maksudnya? Membelaku? Mencoba mengambil hatiku? Coba saja sampai kau—

berbuatlah semaumu.

"Kurokocchi!" lekaki itu melangkahkan kakinya menuju Kuroko-kun seperti seorang anak kecil yang meminta perlindungan pada Ibunya karna merasa terpojokkan. Jadi namanya Kise! Akan kuingat baik-baik!

"Kau belum menjawab pertanyaanku, bagaimana kau bisa mengetahui namaku?" Ucapku benar-benar ingin tahu, "Dan Kagami-kun, mungkin luka ini akan sembuh sebentar lagi." Aku menarik lengan kiriku, mencoba membebaskannya dari genggaman Kagami-kun meski aku tak ingin—Oh Tuhan! Kembalikan diriku sepecatnya!

"Kau teman satu sekolahku, dan terima kasih untuk catatan matematika–nya, omong-omong."

"Kau? Satu sekolah denganku? Catatan Metematika?" Mungkinkah telingaku juga luka?

"Ya, Ingat Katanacchi yang meminjam buku catatanmu beberapa hari yang lalu? Sebenarnya itu untukku, karna aku sedang malas mencatat." Ucap Kise-kun seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sekarang aku ingat! Buku catatan matematika yang beberapa hari dipinjam oleh teman sekelasku kembali dalam keadaan sebuah tanda tangan yang entah milik siapa tercoret di belakang lembar bukuku.

"Oh! Jadi kau yang mencoret-coret bukuku? Tidak sopan."

"Itu tanda tanganku. Kau pasti senang kan?"

"Aku lebih senang bila kau tak meninggalkan tanda apapun pada catatanku." Aku menggembungkan pipiku akibat geram berlama-lama menghadapi dirinya.

"Kanazawacchi hidoi!" Pekiknya. Apa si yang dipikirkannya saat menambahkan kata itu dalam panggilan namaku?

Cchi? Taigacchi, sepertinya bagus untuk membuatnya malu. Oh! Sepertinya aku ingin muntah. Ameko! Ameko! Ameko! Hazukashii!

"Hahaha.. Sudah bodoh! Ayo ikut aku! Bersihkan dulu lukamu sebelum menjadi tambah parah." Kagami-kun membawaku menuju sebuah bangku berbahan batu yang menjadi alas untuk tas perlengkapan mereka. Aku menumpukan tubuhku pada bangku itu sementara kagami membasuh luka ku dengan air. "Itai!"

"Tahan sedikit bodoh!"

"Jangan menyebutku bodoh!"

"Kau memang bodoh!"

"Apaan-apaan mereka! Mengapa Kagamicchi peduli dengan Kanazawacchi? Hey! Kurokocchi?" Samar-samar aku mendengar Suara cempreng Kise-kun yang sepertinya tak mendapat respon berarti dari lawa bicaranya.

"Wakarimasen. Sudahlah Kise–kun, jangan ganggu mereka." Kuroko–kun merapikan barang-barang miliknya yang berserakan, memasukkannya ke dalam tas miliknya dan berpamitan dengan Kagami dan Aku untuk segera pergi entah kemana. Begitu pula dengan Kise–kun yang mengekor di belakang Kuroko–kun dan meninggalkan kami di sisi lapangan dengan siluet legam tergambar di dekatnya.

Melirik sekilas ke arah jam tangan kecil cokelat muda yang selalu melingkar di pergelangan tanganku—pukul 14.00. Masih ada beberapa waktu sampai matahari menenggelamkan dirinya di ufuk barat untukku menuju istal dan berlatih beberapa putaran. Namun dengan keadaan seperti ini rasanya tidak akan bisa menikmatinya. Angin masih mencoba menjamah tubuh kecilku seraya menerbangkan surai kuning kecokelatan ikalku ke arah yang senada dengan hembusan angin. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir kami. Hening. Hening beberapa saat sampai salah satu dari kami memecahkan keheningan itu.

"Jadi kau bersekolah di Kaijo?"

"Un, Kau?"

"Sma Seirin."

"…" Hanya sebatas itu dan kemudian hening kembali menyerang kami.

Kagami–kun mengambil sapu tangan miliknya dari dalam tas dan mulai membalut siku kiriku dengannya dalam diam. Detik demi detik berlalu sementara kami tetap bergelut dalam kesunyian. Hanya suara gesekan dedaunan yang di timbulkan dari hembusan angin dan samar-samar suara kicauan burung terdengar sesekali. Hening, untuk beberapa saat kami memenjarakan suara kami, menahanya untuk keluar. Duduk di sebuah lapangan basket bersama seorang pemuda asing berada di sisiku dengan gerakan anaconda di perutku dan kupu-kupu yang mengamcam kebebesan dari dalam dadaku. Entah apa yang terjadi pada diriku, mungkin aku harus istirahat dalam waktu yang sangat lama sampai pikiranku tercuci bersih.

"Lukamu tak bisa di biarkan begitu saja, aku tak membawa apapun yang bisa di gunakan untuk membuatnya lebih baik selain sapu tangan itu," Ucap Kagami-kun lirih, merusaha memecahkan keheningan dan sia-sia. "Un." Aku mengangguk lemah. "Arigatou." Seraya memegang balutat kain yang berada di siku kiriku.

"Err.. Ayo ikut aku, maksudku ikut aku mengobati lukamu, tidak di rumahku, maksudku di apotik dekat sini, maksudku, Akh! Sudah ayo ikut saja!" Kagami–kun menarik lenganku untuk mengikuti langkahnya, sementara aku masih membungkam suaraku dan membesarkan pupil mataku, terkejut dengan perlakuannya.

Kagami–kun melepas genggaman tangan besarnya pada lengan kananku setelah memastikan bahwa aku mengikuti langkahnya. Seperti ada yang hilang, entah apa.

"Terimakasih atas bantuannya." Kagami mebungkukkan tubuhnya sedikit kepada seseorang yang menangani siku kiriku.

"Shitsureishimasu." Timpalku lirih seraya berlalu bersamanya di balik pintu apotik.

"Arigatou," Ucapku lirih, "–telah menolongku lagi" Kepada kagami–kun.

"…"

Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, aku tahu, memang tak ada yang harus ia ucapkan lagi. Seperti yang kukatakan sebelumnya, ia tak mengenalku dan begitu pula dengan—

—ku

Kami masih melangkahkan tungkai kami mengarah ke sudut jalan dan berhenti tepat di ujung zebra cross. Berniat mengakhiri semuanya. Kembali kekehidupan masing-masing yang tak saling mengenal. Atau mungkin itu hanya argument egoisku saja.

"Lain kali hati-hatilah dengannya. Ia selalu saja membuat repot."

"Eh? Siapa?"

"Kise! Siapa lagi? Kau teman sekolahnya, kan?"

"Aku baru mengenalnya."

"Tapi kau satu sekolah dengannya."

"Bukan berarti aku temannya, kan?"

"Ya, kau benar. Aku lapar."

"Lalu?"

Kagami mendengus sebelum ia melanjutkan perkataannya. "Jangan harap aku akan mengajakmu."

Aku menyeringai, dia bodoh! Benar-benar bodoh. "Aku juga tidak mau!" Ucapku seraya menjulurkan lidah ke arahnya.

"SMA Kaijo belok kiri dan beberapa meter dari sini ada post polisi. Takut-takut kalau kepalamu ikut terbentur dan lupa dimana kau tinggal." Ucapnya Acuh dan segera melangkahkan kakinya melewati zebra cross setelah lampu jalan berbuah menjadi hijau untuk pejalan kaki. Aku menahan tawa geli memperhatikan tingkah lakunya. Bodoh yang memang benar-benar bodoh.

"Hahaha.. Aku berubah pikiran." Aku berlari kecil, mencoba menyimbangkan posisi tubuhku tepat kembali ke sebelahnya.

"Aku tahu!" Ucapnya dengan senyum lebar menggantung di wajahnya dan menyembunyikan tangannya di dalam saku celananya.

"Jangan tersenyum seperti itu."

"Memang kau mau apa?" Ucap Kagami-kun seraya mengacak-acak rambutku.

"Ne!"

Setelahnya hembusan angin menghapus setiap jejak yang kami buat sampai kami memberhentikan tubuh kami di depan meja kasir Restoran Cepat Saji—Maji Burger.

.

.

Sudah tak ada lagi kata tak saling kenal antara aku dan Kagami Taiga. Sudah lewat berhari-hari pula kejadian canggung di ujung jalan itu. Membuat hubungan kami menjadi lebih baik, tak ada lagi sifat acuh yang aku tunjukkan atau rasa tidak mengindahkan keberadaannya. Kali ini, aku sudah menganggap Kagami Taiga adalah seseorang yang ku kenal, hanya sebatas kenal—Oh tidak! Hubunganku dengannya sudah melampaui batas yang kuperkirakan. Kami sudah saling bertukar e-mail, bertukar kisah, berbagi makanan, atau bahkan saling memanggil nama depan—meski ia yang memulai karna insiden belum selesai bicara itu. Meski kami tak satu sekolah dan perbedaan jarak yang cukup lelah kalau hanya di tempuh dengan berjalan kaki, namun—seakan tak memperdulikannya, aku dan dia menjadi semakin dekat.

Maji Burger. Mungkin tempat itulah yang berjasa dalam hal ini. Restoran Cepat saji yang memiliki banana ice cream tidak istimewa namun memiliki sifat magis yang kuat. Entahlah. Aku menganggap semua ini keajaiban. Dan keajaiban selalu malas untuk datang dua kali, desho?

Dan seperti biasa, sehabis aku menghabiskan waktu soreku di istal dan ia menghabiskan waktu sorenya di Gym, Aku dan Taiga-kun—Oh tidak! Taiggacchi menyempatkan beberapa waktu untuk bertemu di salah satu meja di Magi burger. Jangan tanyakan mengapa sekarang aku memanggil namanya dengan sebutan kacau seperti itu. Oh Aku serius! Aku benar-benar malu membahas ini.

Mematut diriku beberapa saat di depan cermin yang ada di dinding-dinding kayu istal kuda tempat aku berlatih, membenarkan posisi pita rambutku dan mulai melangkahkan kakiku menuju Magi burger. Birunya langit sudah mulai memudar saat aku menampakkan diriku keluar istal. Hembusan angin juga sudah menyambutku dengan caranya yang tidak biasa, ada sedikit rasa yang tidak enak merasuki hatiku. Rasa gelisah yang dicampur dengan rasa tidak sabar. Bukan karna aku tidak sabar bertemu dengan Taigacchi—itu hanya beberapa persen, percayalah. Namun seperti rasa takut akan sesuatu yang buruk terjadi. Sudahlah, sepertinya aku harus membuang pikiran buruk itu jauh-jauh dan memikirkan hal lain.

Satu langkah.

Dua langkah.

Aku mulai membawa diriku menjauhi istal. Ini bukan kali pertamanya aku berjalan menuju rumah atau ke manapun seorang diri. Aku sudah melakukan ini beratus-ratus kali dalam hidupku dan aku masih tetap selamat. Percayalah pada dirimu sendiri Ameko! Batinku meneriakkan kata-kata itu berulang kali.

Daijoubu date!

Hanya suara hembusan angin.

Semuanya akan baik-baik saja.

Berulang kali aku meyakinkan diriku sendiri untuk tetap tenang dan menganggap semuanya normal-normal saja. Ku lirikan sedikit iris Amberku ke arah benda tabung berdetak pada pergelangan tangan kiriku—pukul 18.00. Baru beberapa menit yang lalu matahari berpamitan meninggalkan langit Jepang dan menuju dunia baru yang membutuhkan jasanya, sama halnya dengan baru beberapa menit yang lalu birunya langit berubah menjadikannya hitam legam.

Aku sedikit mempercepat langkahku, membuatnya menjadi lebih panjang—meski aku tahu ini tak akan membuatku sampai lebih cepat menuju Magi burger. Tak ada yang bisa di harapkan dari langkah seorang gadis bertubuh 169 sentimeter, bukan?

Dua puluh lima langkah.

Tiga puluh dua langkah.

Sampai aku lelah menghitung langkahku. Perasaan ini tetap tak hilang. Aku takut.

Dengan gerakan hati-hati aku merogoh tas kecilku, mencari sesuatu yang mungkin bisa lebih nemenangkanku—mengambil ponsel dan mencoba menguhubungi seseorang. Paling tidak berbicara dengan seseorang membuatku sedikit lebih tenang.

"Moshi-moshi Taigacchi."

"Ng.. Nande?" Suara berat Taigacchi mulai terdengar dari balik ponsel yang kutempelkan ditelingaku.

"IIye. Aku mengganggumu?" Aku berusaha keras untuk tidak mengeluarkan suara bergetar dalam ucapanku.

"Tidak. Hanya sedang berlatih, hahaha. Kau sudah selesai dengan urusan bersama kuda-kudamu?"

"Un. Aku sedang menuju Magi. Kau datang, kan?"

"Tentu. Aku akan disana sebelum kau menyadarinya. Hahaha." Taigacchi masih berbicara normal. Masih tetap bisa membuatku sedikit lebih terjaga—hanya sedikit.

"Ja, sampai bertemu." Ucap Taigacchi pada akhirnya. Aku tahu ia sedang berlatih dan tak mungkin terus menerus berbicara denganku di telpon seperti ini. Namun—

"Ne! ne! bisakah kau tak menutup telponnya? Aku.. aku..aku.." Aku tak tahu apa yang harus aku katakan padanya. "–aku ingin mendengar kaliar berlatih." Berbohong. Semoga saja ia mempercayaiku.

"Ada apa? Ada yang mengganggumu?" Suara Taigacchi sudah mulai berubah menjadi sedikit lebih keras.

"Tidak! Tidak! Aku tak apa." Ku harap aku benar.

"Baka yaro!" Dan sialnya dia tak bisa dibohongi.

"Aku hanya—"

"Ame! Jangan bersikap bodoh!" Ucapnya yang benar-benar sudah tak sabar dengan ucapanku.

"Aku takut." Ucapku pada akhirnya.

"Ada apa?! Kau dimana?!" Sudah dipastikan bahwa sekarang suaranya sudah benar-benar besar. Membuatku sedikit menjauhkan ponsel yang kupegang dari sisi telingaku.

"Aku tak tahu. Aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi padaku. Maafkan aku, tapi aku merasa ada seseorang mengikutiku." Ucapku gugup. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi padaku. Tapi—

"Katakan kau dimana?!" Suara Taigacchi benar-benar sudah memekikkan telingaku.

"Beberapa langkah dari istal, tak jauh dari lapangan basket pertama. Aku tak apa, kau hanya perlu menghidupkan ponselnya dan aku mendengar kalian berlatih. Ayolah, aku bukan anak kecil yang suka mengadu." Oh Tuhan! Seharusnya bukan ini yang aku katakan. Seharusnya aku bilang saja kalau aku memang sedang ketakukan. Oh Taigacchi! Taigacchi kau dimana? Tolong jemput aku, aku takut. Yeah, mungkin aku harus mengatakan itu jika aku ingin membuat Taigacchi ilfeel. Percaya deh, mungkin sekarang, di dalam pikiran Taigacchi, ia sedang merutuk namaku karna sudah mengganggunya berlatih basket. Siapa saja tahu bahwa dia cinta sekali dengan olahraga itu.

"Oh. Baiklah, jika terjadi sesuatu matikan telponnya dan telpon lagi agar ponsel–ku berdering dan aku bisa mengetahuinya." Ucap Taigacchi dengan kesan sangat enggan untuk mempercayai perkataanku dan meninggalkanku sendiri dengan telpon yang masih tersambung. Aku tahu Ia khawatir—sebenarnya ini hanya asumsi besar rasa dari diriku, tapi siapa peduli?

"Un,"

Sekarang sudah tak terdengar lagi suaranya dari balik telpon, yang ada hanya suara decitan sepatu, pantulan bola dan teriakan-teriakan banyak orang yang terus berseru menyuarakan semangat dan cacian karna melakukan suatu kesalahan. Namun alih-alih mereka membalasnya dengan kesal, suara tawalah yang mereka keluarkan. Kupikir kehidupan sekolahnya benar-benar sempurna. Tak sepertiku, berkuda hanya dengan beberapa orang yang bahkan tak saling bersapa jika tak benar-benar perlu. Yeah, bisa dikatakan hanya pada Taigacchi aku mengeluarkan semua kata-kata tidak berarti dari bibirku. Sesekali Taigacchi membawa satu atau dua orang temannya ikut bergabung bersama kami, dan itu sudah membuatku lebih dari cukup merasa bahagia. Miris—

Aku masih melangkahkan tungkaiku menjauh istal. Angin juga masih menemaniku, membelai setiap inchi kulitku dan menerbangkan setiap helai rambut yang dimiliki tubuhku, mencoba memulai interaksi dengan mereka. Rasa gelisah ini masih terus berada di sisiku, berada dekat denganku seakan aku teman paling setianya dan tak ingin meninggalkanku meski Ia dalam keadan seburuk apapun. Aku tak lagi menghitung langkahku seperti sebelumnya, aku bahkan melewatkan setiap bagian yang dapat membuatku merasa sendiri—kesunyian. Suara-suara seruan dibalik telpon masih menjadi penjagaku. Mereka—suara decitan dan sorakan-sorakan itu masih mencoba berperang melawan rasa gelisahku, namun sepertinya tak lagi ada harapan untuk mencapai kemenangan. Haruskah aku benar-benar berteriak bahwa aku sangat takut pada kesunyian ini? Haruskah aku mengatakan bahwa rasa takut ini sudah mulai membuat detak jantungku seperti tak kuat lagi untuk memompa? Dan HARUSKAH AKU MEMUTUSKAN TELPONNYA DAN MULAI MENGHUBUNGINYA LAGI? Membuat telponnya berdering agar ia tahu aku tidak sedang baik-baik saja seperti yang Ia katakan?

Aku bahkan tak mengerti mengapa aku menghubunginya. Aku tak pernah berharap bahwa ia akan begitu saja mengabulkan permintaan konyolku ini. Apa ia tertarik padaku? Apa ia benar-benar menyukaiku? Aku bukan ahli meramal dan bukan pula orang peka yang tahu semuanya—atau bisa dibilang mereka hanya tahu dan tak tahu bagaimana mereka mengetahuinya. Aku tidak tahu dan aku tidak peduli dengan apa yang Ia rasakan terhadapku. Aku bahkan tak menyukainya, siapa gadis yang akan menyukai seorang pria dengan tubuh lebih besar darimu dan selalu terlihat menyeramkan seperti dia? Kurasa tak satupun gadis di sekolahnya yang bisa sedekat aku dengannya, bahkan pelatihnya sekalipun. Oh, bicara apa kau Ameko! Sepertinya rasa gelisah ini mulai membuat diriku sendiri tak terkendali.

"Kau tak harus menakuti sesuatu yang bahkan tak menampakkan wujudnya di depan matamu Ame, kau bukan gadis cengeng yang akan nangis begitu saja karna merasa seseorang menguntitmu. Atau–" Aku menoleh, memberanikan diri melihat keadaan di belakang tubuhku. "–atau kau bukan seorang gadis kecil yang akan menggantungkan nasipnya pada seorang pemain basket dibalik telpon yang bahkan tak sedang mendengarmu saat ini." Aku berbicara seolah-olah mereka menyemangatiku, mereka menjagaku meski sebenarnya aku yakin tak ada satu pasang telingapun yang sedang mendengar ocehan-ocehanku saat ini. Tapi siapa peduli? Aku hanya ingin menenangkan diriku.

"Taigacchi pasti menganggapku gila bila tahu aku terus-terusan berbicara seorang diri seperti ini. Aku tahu pasti reaksi bodohnya akan menyebalkan. Tapi pasti akan jauh lebih tenang bila ia menemaniku setidaknya sampai aku melihat jalan ramai dan mengusir rasa takut ini. Hahaha.." Berulang kali aku menoleh dan tetap tak menemukan sesuatu yang terlihat tak sesuai, tapi rasa takut yang teramat takut itu masih menemaniku—bahkan memelukku erat. "Tapi mana mungkin si bodoh itu mau meninggalkan latihannya yang berharga itu." Ucapanku melemah, seakan menyadari kebenaran yang tak sengaja tersirat dari kata-kataku sendiri.

"Hei Taigacchi! Berhentilah bermain dan jemput aku! Aku benar-benar takut!" Ucapku lirih seraya menghembuskan nafas yang sedari tadi tertahan akibat rasa takut ini. Sedetik kemudian— "Tak perlu takut dengan kami Kanazawa Ojousama." Suara laki-laki mengintrupsi langkahku. Dan sedetik kemuadian aku seperti mendengar seseorang menggeser telpon genggam Taigacchi dengan kasar, atau lebih tepatnya merampas dengan kasar—kalian pasti mengerti bagaimana suara yang kumaksud. Namun aku tak yakin dengan apa yang kudengar, lagi pula tak perlu khawatirkan apa yang sedang terjadi dengan telpon genggam merah Taigacchi. Pikirkanlah nasipmu sendiri Ameko!

Aku mematung ditempatku, benar-benar berdiri dengan kokoh seperti layaknya salah satu anggota pasukan pengibar bendera. Ketakutanku akhirnya berujung, memunculkan setiap pertanyaan yang mengganggu pikiranku. Aku belum berbalik, aku bahkan masih meletakkan telpon genggamku pada telinga kiriku, telpon yang masih tersambung kini sudah ikut diam. Hening. Benar-benar tak ada lagi suara-suara decitan, pantulan dan sorakan itu. Hanya suara angin, hanya angin.

"Halo manis." Seseorang menyentuh bagian bawah daguku. Sontak memuatku tersadar dari lamunanku dan membawaku ke dunia nyata. Aku tersentak.

"Jangan sentuh aku." Ucapku—mencoba—tegas.

Ada empat orang—semuanya laki-laki—sedang berdiri di depanku. Badan mereka besar—tak ada yang mengalahkan Taigacchi, namun jika berhadapan denganku tetap saja mereka jauh lebih besar. Aku tak mengenal mereka, bahkan aku tak pernah melihat wajah mereka sebelumnya. Siapa mereka? Dari mana mereka tahu nama keluargaku? Dan—ah.. Kenzou! Aku tahu ini pasti ulahnya. Aku tahu pasti Ia membuat masalah lagi dan kali ini dengan mereka. Lalu apa hubungannya denganku? Apa maunya dan apa mau mereka?

Aku melangkahkan kakiku mundur beberapa langkah ke belakang. Mencoba membuat jarak sejauh mungkin dari mereka. Dan sekon berikutnya, kedua Kristal kuningku melihat sesuatu yang menjawab semuanya. Benda—Bola—Orange, salah satu dari mereka membawanya, meletakkannya pada tangan kanannya dan di dekapkan ke tubuhnya. Aku menyeringai.

"Mendapatkan ide menarik manis?" Seseorang dari mereka melangkahkan satu langkah mendekat ke arahku. Dan aku melangkahkan kakiku mundur lebih banyak langkah ke belakang. "Jangan mendekat! Apa mau kalian?" Ucapku keras seraya terus melangkahkan kakiku mundur beberapa langkah.

"Bermain-main. Kami ingin bersenang-senang denganmu." Ucap seorang laki-laki itu dengan ikut menyeringai. "Hiroki! Lempar bolanya!" seorang laki-laki yang sedari tadi memegang bola basket itu dengan kedua tangannya, melemparkannya ke arah laki-laki yang sedang berdiri di dekatku. Dan dia kembali menyeringai. Apa maksudnya? Mengajakku bermain bola basket? Tuhan! Apa yang harus aku lakukan? Aku tak berkata-kata, lagi pula tak ada yang harus aku katakan. Atau mungkin, aku harus mengatakan mereka gila—termasuk Kenzou! Ingatkan aku untuk melempari kepalanya dengan kaleng makanan setelah aku bertemu dengannya.

Untuk beberapa saat kegelisahanku menghilang, menghilang tanpa bekas setelah aku mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, namun hal itu tak berlangsung lama. Beberapa sekon setelahnya, kegelisahan itu perlahan-lahan mulai menghampiriku lagi. Mungkin memang benar, bahwa kegelisahan ini sudah mengganggapku sebagai teman setianya. Entahlah, untuk saat ini aku benar-benar butuh seseorang disampingku—mungkin akan lebih baik jika aku mengatakannya dengan, aku butuh Taigacchi disampingku. Setidaknya, jika dia bersamaku, aku bisa merasa lebih terjaga. Ameko buka matamu! Sudah jelaskan Taigacchi tak akan peduli denganku. Aku mendesah.

"Aku lelah! Tinggalkan aku!" Ucapku mencoba untuk tak peduli dengan orang-orang ini. Aku memutar tubuhku dan berniat untuk melangkahkan tungkaiku meninggalkan mereka. Meninggalkan kesunyian yang ada di tempat ini dan melangkah ke tempat yang lebih ramai. Namun hal itu tak akan menjadi sederhana bila salah satu dari mereka meghalangi jalanku. Salah satu dari mereka mengitrupsi langkahkku, berdiri tepat di depanku sementara yang lain melangkahkan tungkainya untuk membuat diriku menjadi titik pusat bagi lingkaran mereka. Aku tak tahu maksud mereka. Tapi aku tahu sebentar lagi aku musnah.

Aku mematung. Membekukan pergerakkanku sendiri. Pupil mataku membesar, detak jantungku pun tak lagi berdetak normal dengan tangan masih mencengkram ponsel yang masih tersambung dengan Taigacchi. Tersambung? Ya Tuhan! Aku hampir lupa dengan ponselku! Dengan gerakan yang sangat minim, aku meraba-raba keyboard dan memutuskan hubungan telpon kami. Aku menuruti perintahnya. Memutus hubungan telpon kami dan mulai menghubunginnya lagi. Membuat ponselnya berdering dan Ia datang untuk menolongku. Oh! Ameko! Kau tak akan musnah malam ini—setidaknya saat ini aku mengharapkan kepedulian Taigacchi, kumohon, khawatirlah padaku untuk beberapa saat. Kumohon.

"Selesaikan, lalu kau boleh pergi." Ucap salah satu dari mereka. Pemuda bersurai hitam dengan kaca mata melekat pada wajahnya. Aku tak mengenalnya—oh! Sudah kukatakan aku tak mengenal satu pun dari mereka. "Kau tak boleh bersikap kasar pada gadisku, Masada." Ucap si pemimpin—atau lebih tepatnya si penjilat unggul.

Aku masih mematung, namun kali ini tidak hanya mematung yang kulakukan. Aku mematung sambil hatiku terus berharap Taigacchi mendengar ponselnya berdering dan melesat ke tempat ini secepatnya. Kumohon Taigacchi! Kumohon tolong aku kali ini saja. Harapku tak henti-hentinya dalam hati. Ini memalukan untuk kuceritakan, namun aku benar-benar berharap besar kepadanya. Aku ingin ia datang menolongku, aku ingin ia membenarkan suara hatiku yang terus menjerit Taigacchi peduli padaku! Taigacchi peduli padaku! Oke! Aku akan menarik kata-kataku! Aku akan menarik kata-kataku yang mengatakan aku tak menyukainya! Oh Tuhan! Aku sangat menyukainya! Aku suka pada apapun yang melekat di tubuhnya! Suara besar itu! telapak tangan lebarnya! Rambutnya yang merah! Bola matanya yang selalu memancarkan kenyamanan! Oh! Atashi, Kagami Taiga ga suki datta! Tottemo Daisuki!

Mereka semakin mendekatiku, melangkahkan tungkai-tungkai panjang mereka mendekat ke arah tubuh kecilku yang tak sebanding dengan mereka. Aku takut! Tuhan! Aku takut.

"Taigacchi." Ucapku lirih seraya meremas dengan keras ponsel yang masih berada di tanganku. Entah mengapa aku menyebut namanya, aku tak tahu. Aku hanya ingin menyebutnya.

Sekon berikutnya, aku mendengar langkah kaki lain. Langkah kaki yang aku rasa mengarah kepadaku. Aku tak melihat—lebih tepatnya aku tak berani untuk memutar tubuhku. Aku tak berani melihat siapa lagi yang akan membuatku hancur. Namun tubuhku tersentak dengan tangan besar yang tiba-tiba melingkar di tubuhku, mendekapku dalam hening, membawa rasa nyaman yang sesaat datang menghampiriku—namun hanya beberapa saat.

"Apa mau kalian?" Suara seseorang yang mendekapku.

"Apa urusanmu?"

"Melawanmu dalam basket? Cepat lakukan satu lawan empat, dan kalian pergi." Ucapnya lagi yang bahkan tak mengindahkan pertanyaan dari pemimpin pasukan penyerang ini.

"Mau menjadi pahlawan?" Laki-laki brengsek itu bertepuk, lalu kemudian di ikuti yang lainnya.

"Teme! Lakukan secepatnya! Atau kau takut melawanku?" Dia melepas dekapannya pada tubuh kecilku. Melangkahkan tungkainya berdiri di sebelahku, membuatnya terlihat oleh mata kuning menyalaku. Tubuh besar itu, ramut merah kehitaman yang tertiup angin, bola mata sedana menatap tajam bak mata elang yang mengintai mangsanya. Aku mengenal sosoknya, aku sangat mengenalnya. "Taigacchi." Ucapku lirih—lagi. Ya, dia Kagami Taiga. Terkejut? Aku juga.

"Mana mungkin! Tantanganmu kami terima! Apa yang akan kami dapat jika kami menang?"

"Kalian tak akan menang!" Ucap Taigacchi acuh seraya memegang tanganku, mengisyaratkanku untuk mengikutinya—menuju lapangan.

"Tunggu dulu! Tentukan apa yang kami dapat terlebih dahulu." Seseorang dari mereka menghalangi jalan kami. Seperti meminta Taigacchi menyerahkan sebagian hartanya kepadanya.

"Mendokusai! Jika kalian menang! Aku akan menuruti apa yang kalian mau! Dan jika aku yang menang kalian harus pergi sejauh mungkin dan tak akan datang lagi! Cepat lakukan!" Ucap Taigacchi sekenanya. Aku tahu dia sinting. Tapi bisakah dia menghilangkan sifat sintingnya sebentar saja? Baka Taigacchi!

"Kami terima!"

Dan mereka mulai melangkahkan tungkai-tungkai mereka menuju lapangan yang tak jauh dari tempat mereka menyerangku. Sebelum mereka menghentikan langkah mereka—

"Hoy! Kagami, Aku tak peduli dengan masalahmu. Tapi aku akan menjadi tim–mu. Dua lawan empat." Ucap seorang anak laki-laki yang segera menempatkan dirinya di sebelah Taigacchi—dengan senyum lebar di wajahnya. Aku tak mengenalnya, tapi aku mempunyai firasat bahwa dia sama sintingnya dengan Taigacchi. Taigacchi melepas genggaman tangannya pada lenganku, namun cepat-cepat aku mencengkram lengannya tanpa permisi. Seakan meminta Taigacchi untuk tak pergi jauh dariku.

Hening.

"Kalian tuli? Cepat lakukan!" Ucap laki-laki se–sinting Taigacchi yang entah siapa.

"Aomine!" Taigacchi mencoba melepas cengkraman tanganku pada lengannya dengan sangat lembut. Namun aku menatapnya seakan mengatakan jangan tinggalkan aku.

"Ame, percaya padaku." Ucapnya lirih, tetap mencoba melepas cengkraman tanganku. Dan aku melepasnya dengan berat pada akhirnya.

Mereka kembali melangkahkan tungkai mereka ditambah dengan seorang laki-laki lain yang ikut melangkahkan tungkainya menuju lapangan basket. Memulai permainan yang berjalan dengan sangat membosankan untukku. Jelas saja membosankan, aku sama sekali tak menyukai apapun tentang permainan ini. Ditambah mereka bermain hanya dengan di sinari oleh cahaya yang minim, aku tak tahu bagaimana mereka menikmati permainan ini. Ingin rasanya aku berlari ke rumahku dan meninggalkan mereka semua. Namun aku tak bisa. Aku tak bisa meninggalkan Taigacchi begitu saja setelah ia menolongku.

Aku meletakkan bokongku pada salah satu bangku batu di tepi lapangan. Iris mataku menatap dua entitas yang sedang mencoba menyelamatkan hidupku—walaupun bola mataku tetap tertuju lebih banyak pada Taigacchi. Aku mengkhawatirkan mereka—walaupun aku tetap lebih banyak mengkhawatirkan Taigacchi. Oh Tuhan! Aku tak bisa melawan diriku sendiri untuk tidak mengatakan betapa dirinya membuat diriku tertarik begitu jauh. Saat ini ketakutan yang sedari tadi melandaku sudah benar-benar sirna, sudah tak ada lagi ketakutan akan diriku yang sebentar lagi hancur, sudah tak ada lagi kegelisahan akan sesuatu yang buruk menimpaku.

Yang ada hanyalah ketakutan dan kegelisahan yang begitu besar akan keselamatannya. Keselamatan Kagami Taiga.

"Tsumaranai! Kagami! Lawan apa yang kau bawa? Ini sama sekali bukan lawan yang pantas untukku." Suara seseorang membuatku kembali ke dunia nyata. "48-6. Dalam waktu hanya sepuluh menit. Yang benar saja."

Pupilku melebar, menatap setiap entitas yang ada di tengah-tengah lapangan itu. Keempat berandal yang sebelumnya tersenyum dengan sangat bahagia kini tengah berusaha menggapai-gapai udara, mereka terlihat begitu lelah dan peluh membasahi pakaian mereka. Sementara Taigacchi dan si–pembantu –misterius mengalami keadaan yang bertolak belakang dengan mereka—kecuali peluh yang sama-sama mengalir dari pori-pori kulit mereka. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Aku menghampiri mereka, menghampiri Taigacchi untuk melihat dengan mataku sendiri bahwa tak ada yang buruk terjadi.

"Kau tak apa?"

"Tentu!" Taigacchi tersenyum dengan senyumnya yang menyebalkan. Membuatku sedikit kesal namun lega karna aku tahu ia tak apa.

"Woo.. Kekasihmu? Aku tak tahu bahwa Kagami Si–Cahaya–Seirin memiliki kekasih." Ucap seseorang yang berada dekat dengan Taigacchi namun sedikit kulupakan akan keberadaannya.

"Bukan urusanmu! Ayo!" Taigacchi mencengkram lenganku, memintaku untuk mengikutinya. Entah kemana, tapi yang pasti menjauh dari tempat ini.

"Tsumaranai! Kagami! Ayo main lagi! Kau dan aku, kita bermain one on one!"

"Aku tak mau!"

"Kau takut?" Laki-laki itu menyeringai, mencoba membuat Taigacchi terpancing akan ajakannya.

"Berharaplah dan siapkan kekalahanmu di Winter Cup!" Ucap Taigacchi acuh yang bahkan tak mengindahkan lagi apa yang terjadi dibelakangnya, sementara aku memutar tubuhku dan Taigacchi tetap menarik lenganku untuk mengikuti langkahnya.

"Ho! Urusee!" Ucapnya dan segera berjalan menjauh dari para berandal yang masih terengah-engah.

...

Langit yang gelap semakin menggelap dengan sesekali hawa dingin membelai leher jenjangku, menerbangkan setiap helai rambut kuning kecokelatanku, membuatnya menari-nari bak ballerina yang sedang meliuk-liukan tubuhnya. Aku dan Taigacchi berjalan dalam keheningan, ini bukan hal biasa aku melakukan sesuatu dalam keheningan bersamanya. Namun ada yang berbeda dari keheningan kali ini. Berbeda akibat rasa yang ditimbulkan dari sisa-sisa rasa takut yang sebelumnya menyelimuti hatiku. Aku semakin mempererat dekapan tangan kecilku pada salah satu lengannya. Membuat diriku sendiri terlihat seperti siswi Sekolah Dasar yang meminta perlindungan dari ayahku sendiri. Kejadian tadi masih membayang-bayangiku, masih menghantuiku seperti memancingku untuk mengeluarkan setetes air bening dari pelupuk mataku.

"Sebaiknya aku antar kau pulang, sepertinya hujan akan turun."

Aku tak menjawab. Aku menutup mulutku rapat-rapat dan Taigacchi mengartikannya sebagai persetujuan karena ia sudah membawaku ke jalan arah rumahku. Aku tak peduli, kemana pun asal tak di tempat itu. Dalam kesunyian kami melangkah, sampai akhirnya kami tiba tepat pada pekarangan rumahku. Taigacchi melepas tanganku, mengisyaratkanku untuk segera masuk ke dalam rumah. Tapi aku tak melepas tangannya—lebih tepatnya aku tak ingin melepasnya.

"Jangan pergi." Ucapku lirih pada akhirnya. Taigacchi! Sebenarnya aku ingin kau mendengar ini sejak tadi.

"Masuklah. Aku akan datang besok." Ucap Taigacchi dengan lembut seraya mengelus pelupuk kepalaku.

"Tinggallah beberapa saat. Setidaknya kau boleh pergi setelah aku tidur." Aku tahu aku berlebihan, tapi aku sudah tak peduli dengan rasa risih yang pasti dialami Taigacchi. Aku tak peduli dengan kutukan-kutukan yang menyerangku dari dalam hati Taigacchi. Aku hanya ingin ia tinggal lebih lama.

"Baiklah."

"Tadaima."

"Ojama shimasu."

Aku meletakkan tas kecilku di sembarang tempat lalu menjatuhkan tubuh di atas sofa sementara Taiagacchi mulai bertingkah seperti orang linglung saat melihat barang-barang Kenzou–nii yang semuanya berhubungan dengan basket. Ah! Kenzou! Ingatkan aku untuk mengutuknya menjadi kodok jika ia datang!

"Ada apa denganmu?"

"Semua ini milikmu?"

"Bukan! Kenzou–nii no. Apa kau lapar?" Aku bangkit menuju lemari pendingin yang penuh dengan bahan-bahan makanan yang baru kubeli kemarin. Aku tak bisa memasak, dan mengapa banyak bahan makanan di dalam sini, Itu karena aku ingin mencoba belajar memasak yang walaupun aku tahu hasilnya akan hancur berantakan—tapi sepertinya niat itu sudah hilang.

"Kau mau memasak untukku?"

"Tidak! Baka! Aku tidak bisa memasak."

"lalu? Apa yang akan kau berikan padaku?"

"Udon instan. Ya, aku hanya bisa memasak udon instan."

"Sebenarnya kau hanya perlu memasak air untuk itu." Ucap Taigacchi yang menghancurkan suasana. "Sudah sini aku yang memasak." Taigacchi melangkahkan kakinya menuju lemari pendingin yang tentu saja dengan menyiratkan kata-kata mengusir untukku.

"Memang kau bisa memasak?"

"Sudah, kau duduk dan lihat saja." Aku menggembungkan pipiku dan menuruti apa yang dikatakannya. Seulas senyum perlahan-lahan terbit dari bibir tipisku. "Sankyuu Taigacchi." Ucapku tanpa suara. Setelah beberapa lama, Taigacchi menyediakan dua piring nasi kare di meja makan. Aku tak tahu ia begitu mahir dalam hal memasak. Kupikir hanya marah-marah dan main basket saja yang ia bisa.

Kali ini kami tidak makan dalam diam. Begitu banyak kata yang terbuang dari mulut kami. Entah sudah berapa bait huruf-huruf yang di perlukan untuk menafsirkan kata-kata kami. Kagami banyak bercerita inio dan itu, sepertinya ia tahu bagaimana cara membuatku nyaman.

"Lalu, bagaimana kau tahu aku.. err.. tidak aman?"

"Kau mengatakannya." Ucap Taigacchi seraya menyuap sendok demi sendok kare ke dalam mulutnya.

"Aku?"

"Ya, kau!"

"Aku tak mengatakannya padamu." Ada yang salah di sini.

"Saat kau bicara seorang diri seperti orang sinting."

"Bagaimana bisa kau mendengarnnya. Bodoh! Aku tidak sinting! Itu namanya ketakutan!" Suaraku sudah mulai membesar tanda aku sudah mulai terpancing.

"Kau pikir aku bodoh akan meninggalkanmu begitu saja?" Seketika suasana berubah menjadi serius. Taigacchi menghentikan kegiatan menyuap–nya dan mulai menatapku dengan tatapan lembut.

"Maksudmu?"

"Aku berada di sampingmu. Tidak! Aku tetap di Gym, tetapi aku tetap disampingmu. Tidak! Maksudku tidak benar-benar disampingmu. Arg! Sudahlah!" Taigacchi memalingkan wajahnya. Entah apa maksudnya, tapi aku yakin ia sedang menghindari matanya untuk melihatku. Aku tersenyum simpul.

"Jadi kau tetap mendengarkanku bicara? Duduk tepat di sebelah ponsel dan bertingkah seolah-olah kau tidak mendengarku?" Taigacchi terdiam. Tak mengeluarkan kata-katanya lagi, dan ada semua merah di pipinya.

"Taigacchi! Bicaralah!" Aku memindahkan posisi dudukku. Berada tepat di sebelahnya sementara sebelumnya aku duduk di hadapannya. Tidak! Mungkin lebih tepatnya aku masih tetap di dahapannya, karena aku duduk di hadapan palingan wajahnya. Membuatku bisa lebih jelas menatap wajahnya yang sudah bersemu merah. Perlu kalian tahu, sangat sulit untuk membuat diriku sendiri tidak tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkahnya.

"Arigatou ne." Ucapku seraya memiringkan kepalaku ke sebelah kiri. Dan cepat-cepat ia memalingkan wajahnya ke sisi yang lainnya.

Hening.

Tetap Hening.

"Sudah terlalu malam, mungkin sebaiknya kau tidur." Ucapnya pada akhirnya. Aku melirik pergelangan kiriku. Sebuah jam kecil melilit disana. Pukul 21.30. Ya, sudah sangat malam untuknya berada di rumahku. Aku memang tinggal seorang diri, tapi paling tidak aku tidak hidup di hutan yang tak memiliki tetangga.

"Un. Sebaiknya kau juga pulang. Sudah hampir larut."

"Tapi kau tak apa?"

"Daijoubu."

"Baiklah." Taigacchi mulai bangkit dan melangkahkan tungkainya menuju pintu keluar sementara aku mengekor dibelakangnya.

Ia memakai sepatunya dan aku bersandar pada tembok dibelakangnya.

"Yosh! Oyasumi." Taigacchi membuka pintu dan mulai melangkah sebelum ia berbalik dan menatapku dengan lemut.

"Eh? Nani?"

"Nandemonai. Ngg.. Ame." Ia mulai gugup.

"Ehhh?"

"Daisuki." Ucapnya lirih dan berniat untuk berlalu di balik pintu sebelum aku mendekap erat punggung besarnya.

"Daisuki ne."

Taigacchi berballik dan membalas dekapanku. Dan setelahnya Ia menyuruhku untuk segera pergi tidur dan Ia berjanji untuk menjemputku besok pagi.

Nee! Kami–sama, Kore wa yume deshitaka?

.

.

.

To Be Continue

.

.


Yatta! akhirnya Posted! Dou kana? D: Gomen ne minna! aku tau ini lama bangeeeeet! gomen! gomen! hontou ni hontou ni hontou ni hontou ni gomen nasai! Ada beberapa kendala kesehatan saat pembuatan ini. D: gomen ne!

Nee! Nee! gimna? revieww!

maaf ya minna, kebetulan pula, aku masih pemula, jadi maaf kalau ceritanya gak sebagus yang kalian harapkan D:

Next Chap; Kise Ryouta X OC \(^o^)/ *mari bersorak untuk si pirang! (?)*

Oya, HONTOU NI ARIGATOU BUAT KALIAN YANG UDAH MAU BERBAIK HATI ME-REVIEW DI CHAP PERTAMA ^^

Author A :)

Youroshiku.

R

E

V

I

E

W

?

?

!