DISCLAIMER: I DO NOT OWN PERCY JACKSON CHARACTERS


Aku benar tentang satu hal hari ini. Bukan berarti aku menyukai fakta itu, tapi setidaknya aku sudah mempersiapkan diri. Maksudnya, hukuman ini tidak terlalu mengejutkanku tapi tetap saja menyakitkan. Bu Dodds benar-benar berhasil menyiksaku lahir dan batin.

Omong-omong, hukumanku adalah dijemur ditengah lapangan upacara dengan satu kaki diangkat sambil mengenakan kalung yang menyatakan kebersalahanku karena terlambat. Percaya atau nggak, Bu Dodds hanya mengizinkanku berdiri dengan dua kaki selama semenit dalam setiap 15 menit. Bu Dodds juga sudah meminta Pak Argus—satpam sekolah kami—untuk mengawasiku selama masa hukumanku supaya aku tidak melanggar peraturan yang telah Ia buat—untuk menghukumku. Mau tidak mau aku harus menurut, aku terpaksa harus berdiri dengan satu kaki ditemani sinar matahari yang super terik selama satu setengah jam pelajaran. Aku serius, matahari mungkin sudah bersekongkol dengan Bu Dodds untuk menjadikan pagi ini pagi terpanas sepanjang ? Bayangkan terlindas traktor di atas aspal yang belum kering, kurang lebih sih begitu. Bahkan setelah hukumanku berakhir, sendi-sendi kakiku masih terasa seperti terbakar.

"Dan kau masih hidup," Ujar sahabatku—Grover—sambil menyodorkan minum. "Aku bahkan nggak berani membayangkan"

Aku mengambil botol minum yang disodorkan Grover lalu meneguk minumannya dengan satu tarikan napas. Bukan salahku, aku benar-benar haus. Ini seperti aku baru pulang menjelajah gurun sahara selama bertahun-tahun atau apa. "Nggak usah dibayangkan deh, bukan sesuatu yang bagus."

"Bu Dodds memang sadis, dan kau berani sekali menantangnya."

"Aku sudah bilang, kan? Ini kecelakaan—"

"Ya, semua tentang jam waker dan guru piket. Mungkin hari ini kau memang sedang sial, bung"

Grover menepuk pundakku lalu guru sejarah kami—Bu Ninski—masuk ke dalam kelas. Beberapa murid langsung menghentikan candaannya dan berlari kecil kearah meja mereka masing-masing, begitu pula aku. Di sebelah kursiku Rachel sedang menggambar sesuatu, tapi saat dia menyadari keberadaanku dia langsung menutup buku sketsanya. Aku mengangkat alis. Memang bukan hal aneh bagiku, Rachel tidak pernah mengizinkan seorang pun melihat hasil karyanya yang belum jadi. Tapi memangnya kenapa? Kalau pun kami melihatnya gambar yang dia buat tidak lantas jadi hancur, kan?

"Hei," Ujarnya lalu menyelipkan rambut keriting kemerahannya ke belakang telinga. "Masih setengah matang"

"Kenapa sih memangnya?"

Rachel memutar bola matanya "Berantakan banget! Aku nggak mau dikira menggambar benang layangan kusut"

"Atau permen kapas?"

"Ha-ha" Balasnya "Omong-omong gimana hukumannya? Kakimu nggak patah, kan?"

"Hampir" ujarku sementara Rachel hanya tertawa geli.

Setidaknya pelajaran sejarah berakhir seperti biasa. Bu Ninski memarahiku dan Rachel karena mengobrol saat dia menjelaskan tentang siapa yang melantik Gajah Mada sebagai mahapatih. Dimarahi Bu Ninski bukan hal baru untukku jadi aku sih biasa saja, tapi aku benar-benar berharap bel istirahat berdering lebih cepat. Pelajaran sejarah dengan Bu Ninski itu lebih ampuh untuk membuat orang tertidur dibandingkan obat bius. Selain itu perutku sudah meronta-ronta minta diisi. Di sisi lain, saat pelajaran sejarah 1 menit tidak lagi 60 detik tapi 7396 juta tahun. Saat bel berdering, seisi kelas sudah tampak seperti zombi—akibat kantuk dan lapar yang melanda. Aku dan Grover langsung terkacir-kacir menuju kantin bersama ratusan siswa lainnya.

Ralat perkataanku tentang dilindas traktor di atas aspal yang belum kering. Hukuman dari Bu Dodds jauh lebih mengerikan dan menyakitkan daripada itu. Jadi, saat aku memasuki kantin semua orang menatapku dengan 1001 tatapan—ada yang menatapku iba, geli, dan kedua-duanya sekaligus. Rasanya seperti berjalan diatas catwalk dengan jutaan mata yang memandang, bedanya mereka tidak mengagumi kecantikanmu tapi kesialanmu. Aku berusaha untuk biasa saja tapi rasanya susah merasa biasa saat kau tiba-tiba menjadi pusat perhatian sekolah karena dihukum oleh guru yang terkenal menyebalkan.

"Ternyata benar apa yang dibilang orang-orang" Ujar Grover tiba-tiba saat kami sedang menunggu pesanan mie ayam kami. Aku mengerutkan alisku tidak mengerti. Grover mengalihkan pandangannya ke sepenjuru kantin lalu memajukan kepalanya "Sekali kau bermasalah dengan Bu Dodds, dia bakal menjadikanmu bintang sekolah" bisiknya sambil membuat tanda petik di udara saat mengucap 'bintang sekolah'

Aku menelan ludah. Memang, aku pernah mendengar yang seperti itu saat pertama kali diajar oleh Bu Dodds. Seorang seniorku yang pernah bermasalah dengan Bu Dodds karena ketahuan mencontek juga 'berhasil' menjadi bintang sekolah setelah disuruh lari keliling lapangan dengan bertelanjang kaki dan menggunakan kalung 'hai, aku mencontek saat ulangan loh!'. Membayangkannya saja sudah membuatku mual. Bulu kudukku berdiri saat aku sadar, akulah bintang sekolah itu sekarang. "Oh, tamat sudah."

"Ini nggak akan jadi lebih buruk lagi kok," Ujarnya saat pesanan mie aya kami datang. Pada awalnya, perkataan Grover membuatku sedikit lebih tenang. Maksudku, memangnya masalah sepelik ini bisa menjadi lebih buruk lagi? Dan jawabannya: iya. Ekspresi Grover berubah 360 saat dia tengah mengunyah mie ayamnya. "Oh, man"

Aku mengikuti arah pandang Grover dan rasanya aku ingin mengubur diriku hidup-hidup. Begini, dua meja dari sini aku bisa melihat cewek dengan rambut hitam panjang—yang hari ini—terurai sampai ke punggung, matanya tajam melihat ke arahku selama sedetik lalu kembali memandangi teman-temannya yang sedang asyik berbincang dan tertawa tentang sesuatu. Hal buruknya: 'sesuatu' yang sedang mereka bicarakan itu pasti aku—mengingat sekarang aku sedang jadi 'bintang sekolah' dan salah satu temannya juga terus menunjuk-nunjuk ke arahku. Masalah lain: cewek dengan rambut hitam panjang ini adalah Reyna. Cewek yang aku taksir sejak orientasi dulu sampai sekarang. Ya, sampai sekarang. Bahkan setelah aku menjadi 'bintang sekolah' yang sukses membuatku terlihat makin payah.

"Ku sarankan kau pergi ke Korea Selatan" Ujar Grover disela lamunanku yang mengerikan "Coba operasi plastik atau semacamnya, oh, jangan lupa ganti namamu jadi Persuanto atau apa kek"

"Makasih, membantu banget."

Grover Cuma mengangkat bahunya. Entahlah, aku tidak menangkap ekspresi prihatin dari wajahnya, dia justru tampak menahan tawa. Aku bisa saja melemparkan mie ayamku ke mukanya tapi aku tidak mau menyianyiakan Rp 6.000 yang aku belanjakan. Tetap saja, aku tidak yakin akan menghabiskan makananku. Biasanya, makanan bisa mengembalikan moodku, tapi tidak kali ini. Sementara Grover memakan mie ayamnya seperti sudah berpuasa bermilenium-milenium, aku Cuma mengaduk-aduk makananku sambil merenungi nasib sialku. Percaya deh, aku sudah terbiasa dengan nasib jelek dan perasaan menjadi seorang pecundang, tapi kali ini nasibku super jelek dan aku adalah pecundang kelas kakap. Harga diriku sudah dijadikan bubur dan menjadi menu spesial persembahan Bu Dodds untuk sekolah ini.

Bahkan sampai bel pulang berbering, moodku tidak berubah. Aku bahkan tidak ingat sepatah kata yang diucapkan Pak Nunley—Guru Kimiaku. Semua berlalu begitu saja seperti credit yang ada diakhir sebuah film, penting tapi siapa yang peduli?

"Perseus! Mau sampai kapan kamu kayak gitu?"

Aku menoleh, dan disitulah Rachel berdiri sambil berkacak pinggang dengan tas ransel hijaunya yang sudah luntur dan bertorehkan tumpahan cat di hampir setiap permukaannya.

"Kayak gitu gimana?" Balasku sekenanya sambil memasukan semua barangku ke dalam tas. Rachel memutar bola matanya, jawaban pertanyaanku tentu sudah jelas. Tapi aku tidak terlalu ambil pusing dengan reaksinya, aku memang menyebalkan dan dia harusnya tahu itu.

Saat aku mulai berdiri dan berjalan melalui Rachel, dia langsung berlali kecil dan dalam sekejap sudah berada di depanku. "Kau nggak boleh pulang dengan mood kayak gitu. Aku punya sesuatu yang mungkin bisa membantumu."

Aku mengangkat satu alisku skeptis tidak terlalu percaya dengan apa yang dia bicarakan. Tapi Rachel langsung menarik lenganku untuk mengikutinya. Dan benar saja, dia malah membawaku ke rumah makan cepat saji di dekat sekolah. Wow, sangat membantu. Tapi sayangnya, bahkan cheese burger yang dia traktir tidak mengubah apapun.

"Menurutmu cheese burger bisa membantu?" tanyaku, tapi aku tidak menolak untuk memakannya. Aku lapar.

"Bukannya biasanya begitu?" Dia mulai tertawa tapi aku tidak menanggapinya. Setengah bingung, setengah kesal. Mungkin Rachel Cuma mengolok-olokku.

Rachel berhenti tertawa—sepertinya sadar bahwa aku sedang tidak ingin bercanda. "Maaf deh, habis kau kelihatan menyeramkan banget tadi. Dan, hm, sebenarnya aku mau kasih ini."

Rachel memungut tanganku dan memberiku sebuah kalung manik-manik beraneka warna. Lagi, aku menaikan sebelah alisku, kali ini karena bingung. Buat apa Rachel memberiku kalung manik-manik? Aku kan laki-laki dan di sekolahku laki-laki dilarang menggunakan aksesoris dalam bentuk apapun kecuali jam tangan. "Jadi? Masih bercanda?"

"Nggak kok"

"Menurutmu kalau aku pakai kalung ini aku bisa jadi super keren dan semua orang akan melupakan insidenku dengan Bu Dodds?"

"Ok, ini memang nggak bisa membantumu," Bentaknya pasrah. Alisnya berkerut dan ada setitik rasa terluka dimukanya—entahlah—mungkin aku terlalu kasar? Mungkin dia Cuma mau membantu, tapi, ya ampun kalung manik-manik pasti sangat membantu. "Kau sudah terlihat seperti zombie yang siap memakan semua orang tadi, Percy."

"Mungkin maksudmu zombie yang harga dirinya sudah dicabik-cabik" Koreksiku, dia hanya mendengus.

"Ini dari nenekku. Dia memang sedikit nyentrik tapi dia baik banget," dia berhenti sejenak untuk melihat reaksiku, tapi aku diam saja karena masih bingung. Kenapa dia memberikanku kalung pemberian neneknya yang nyentrik? "Dulu, aku sempat merasa menjadi orang tersial sepanjang sejarah. Kau tahu? Jatuh dari sepeda seminggu sekali, nilai-nilaiku yang terus merah, dan klimaksnya, perceraian orang tuaku. Aku memilih untuk tinggal bersama nenekku di desa dibandingkan dengan tinggal bersama salah satu orang pikir, tempat baru akan menjauhkan kesialanku. Tapi ternyata tidak."

Aku mengerutkan alis. Tidak tahu kemana arah pembicaraan ini berlanjut. "Lalu?"

Rachel menghela napas "Lalu nenekku memberikan kalung ini untukku. Mungkin terdengar kekanak-kanakan, tapi dia bilang kalung ini bisa menghilangkan kesialanku. Aku percaya, dan aku rasa semuanya benar-benar menjadi lebih baik."

"Kau benar-benar percaya hal-hal semacam itu?" Tanyaku tak percaya. Aku selalu berpikir Rachel satu langkah lebih dewasa dibanding aku. Siapa yang tahu dia percaya pada benda takhayul pemberian neneknya.

"Bukan itu masalahnya Percy! Intinya, percayalah padaku. Aku percaya dan ini berhasil. Mungkin, kalung ini bisa membantumu seperti kalung ini membantuku?"

"Ya, tentu kau percaya. Berapa umurmu waktu itu? 7? 5?"

"Percy…" Rachel meremas tanganku. "Aku benar-benar ingin membantu, kau tahu? Tapi untuk saat ini mungkin aku Cuma bisa membantu dengan ini. "

"Uh-huh, yeah" aku buru-buru menarik tanganku kembali. Rachel adalah satu-satunya sahabat perempuanku—walau kadang aku lupa kalau dia perempuan—tapi tetap saja rasanya aneh kalau dia tiba-tiba menggenggam tanganku. "Makasih"

Wow, aku tidak percaya aku benar-benar menerima kalung nyentrik itu Cuma karena Rachel memaksaku dengan wajah memelas. Sekarang apa? Aku tidak akan bisa memakainya ke sekolah—itu melanggar peraturan—dan tebak apa yang akan dilakukan Bu Dodds padaku apabila aku melanggar satu peraturan lagi. Menyuruhku menari samba sambil telanjang? Bukan tidak mungkin. Jadi, aku taruh kalung itu diatas meja belajarku dan bersiap mandi sambil berlatih mengucapkan alas an-alasan yang akan aku katakan pada Rachel untuk mengembalikan kalungnya.

Hai Rachel, aku tahu maksudmu baik tapi kita tidak boleh menggunakan aksesoris apapun ke sekolah jadi…

Hai Rachel, kalung tidak akan menyelesaikan masalah

Hai Rachel aku tidak suka kalung ini, kau bawa pulang saja ya..

Hai Rachel, ya ampun aku tidak sengaja menghilangkan kalungmu.

Oh, lupakan saja. Aku Cuma harus mengatakan yang sesungguhnya. Tidak seburuk itu kan? Besok, pagi-pagi sekali, akan aku kembalikan kalungnya, yang harus aku lakukan sekarang hanya memastikan agar aku membawa kalung itu besok, dan semua akan berjalan sesuai rencana. Tapi dalam kasusku, kapan rencana berjalan sebagaimana mestinya?

Saat aku hampir mencapai pintu kamarku, keadaan di sekitarku menjadi aneh. Udara seakan menipis dan aku kesulitan bernafas—secara harfiah—aku bertanya-tanya apa aku terkena asma, tapi sepertinya tidak. Langkahku memberat dan semakin berat ketika pada akhirnya aku mencapai pegangan pintu dan membukanya. Saat pintu terbuka, asap berhamburan kemana-mana. Apa terjadi kebakaran? Aku meraba-raba kedepan mencari sesuatu untuk dijadikan pegangan. Selang beberapa detik, ruangan masih gelap karena asap, tapi kemudian asap menipis dan aku mendapati diriku masih berdiri di depan pintu.

Disana, beberapa meter dariku, aku bisa melihat sosok seseorang yang tengah membaca sesuatu dibelakang meja belajarku. Aku maju satu langkah untuk mencari tahu siapa dia, tapi dia menyadari keberadaanku dan menoleh. Mata abu-abunya yang tajam menatapku dari atas sampai bawah—seperti sedang menilaiku. Aku tertegun. Siapa dia? Pencuri? Tapi bagaimana dia sampai kesini? Ini kan lantai 2 tanpa balkon atau pohon untuk dipanjat! Hantu? Tapi dia tidak tembus pandang, kakinya menapak ke lantai, dan dia tidak menyeramkan. Sekali lagi, dia tidak menyeramkan bahkan terlihat menarik dengan rambut pirangnya yang ikal dan tubuh atletisnya. Bukan tipikal perempuan yang aku bayangkan bakal ada di kamarku. Sungguh.

Gadis itu mendekat dan kembali membuka bukunya dan mengecek sesuatu disana. Aku bisa membaca judulnya sekarang, yang justru membuatku semakin frustasi. Judulnya Perseus Jackson. Astaga, aku tidak ingat pernah menulis biografi atau mengijinkan seseorang untuk menuliskan autobiografi tentangku, tapi buku itu benar-benar berjudul Perseus Jackson dengan cover buku berisi potret wajahku. Benar-benar potret wajahku, seperti baru saja diambil 2 jam yang lalu.

"Perseus Jackson, atau Percy? 15 tahun. Pecundang kelas kakap. Kesialan stadium akut." Ujar gadis itu memecahkan keheningan. Wah, aku suka bagian pecundang kelas kakap. "Memerlukan penanganan khusus dari agen A..."

"Woah," Balasku sebelum dia melanjutkan kalimatnya. "Santai, Non. Siapa kau? Dan wah, aku bahkan tidak tahu siapa kau dan kau tahu kalau aku adalah seorang pecundang. Apa itu yang tertulis disana?"

"Ya, dan tentu saja. Disini juga tertulis kalau kau belum pernah dapat nilai lebih dari C- jadi anggap saja aku memaklumi ketidaksopananmu karena memotong kata-kataku." Ujar gadis itu sambil menutup buku autobiografiku dengan keras "Aku tidak bisa menyalahkanmu kalau IQ-mu tidak bisa memilah mana yang seharusnya kau lakukan dan yang seharusnya tidak kau lakukan"

"Wah, makasih. Tapi kau juga belum menjawab pertanyaanku." Balasku "Siapa kau dan apa yang kau lakukan disini?"

Secara tidak terduga dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya, seperti lencana yang digunakan polisi tapi disana tertulis HEAD—kepala, kau pasti bercanda?

"Agen A dari Happy Ever After Department. Tengah dalam tugas untuk membantu pecundang kelas S"