.
Disclaimer :
Naruto ©Masashi Kishimoto
Sekirei ©Sakuraku Gokurakuin.
.
Author : tidakadanamanya00
.
Rated : M (untuk jaga-jaga)
.
Pair : Naruto x
.
Genre : Family, Friendship, Fantasy, Ecchi, Lemon, Harem.
.
Warning : gak jelas, berantakan, typo dimana-mana, OC, OOC, AU, DLL.
.
Summary : Harapannya sirna, kebahagiaannya sirna, ketika sebuah jutsu yang ia pelajari malah membuatnya terjebak di dunia masa depan. Naruto yang mengetahui bahwa dirinya tak bisa kembali lagi pun telah memutuskan untuk tinggal di dunia barunya dan mencari kebahagiaannya sendiri. Akankah Naruto menemukan kebahagiaan di dunia barunya ?
.
.
.
Chapter 2.
.
.
.
Gemercik air sungai kian terdengar, cahaya matahari yang mulai tenggelam menghasilkan pemandangan sunset yang sangat indah. Hembusan angin sepoi-sepoi membuat rerumputan bergoyang bagaikan ombak di laut, beberapa dedaunan pohon berterbangan terlepas dari tangkai dahannya. Kunang-kunang mulai berdatangan dengan cahaya indahnya, burung-burung kembali terbang ke sarangnya. Sahut-menyahut suara katak semakin marak terdengar, seakan sudah tak sabar untuk menyambut malam tiba. Tak lupa, bintang-bintang juga sudah mulai bermunculan di atas langit.
"Duduklah Uzume, kita nikmati dulu suasana seperti ini, untuk sebentar saja" suara Naruto memecah keheningan, matanya masih menatap cahaya sunset yang kian lama kian menghilang diantara gedung-gedung tinggi.
Uzume masih tetap berdiri dengan tangan kiri yang masih menggenggam tangan kanan Naruto. 'Benar kata Naruto-kun, lebih baik aku menikmati dulu suasana indah ini. Jarang-jarang kan suasana indah ini terjadi, apalagi aku cuma berduaan dengan Naruto-kun disini' pikiran Uzume sudah melayang ke dunianya sendiri, tak lupa dengan rona merah yang menghiasinya.
Suasana menjadi hening, cuma terdengar suara-suara gemercik air saat ini. Naruto yang merasa tak mendapat jawaban dari lawan bicaranya, merasa tak enak "Kenapa kau bengong Uzume ? Apa kau keberatan ? Jika iya, baiklah… ayo kita pulang" sebuah kata-kata terlontar dari mulut Naruto yang langsung membuyarkan lamunan dari Uzume, terbukti dengan tingkahnya yang langsung gelagapan.
"Enghh… ti-tidak kok Naruto-kun, a-aku juga ingin menikmati suasana seperti ini, apalagi hanya berdua saja denganmu" Uzume yang masih kaget langsung menjawab pertanyaan dari Naruto dan juga suara yang di buat kecil saat mengucapkan kata di bagian akhir. Dan jangan lupa dengan rona merah yang masih setia menghiasi wajah cantiknya.
Walaupun dengan suara pelan di bagian akhir, Naruto sempat mendengar apa yang di ucapkan oleh Uzume. Perlahan dia menyunggingkan senyum indahnya kearah Uzume. Perlahan tangannya dilepaskan dari genggaman tangan Uzume. Kemudian ia menepuk-nepuk kembali rumput di sampingnya, mengisyaratkan Uzume untuk duduk di tempat itu. Uzume yang mengerti apa maksud Naruto, kembali duduk di tempat itu.
Entah mengapa Naruto langsung merasa sangat dekat dengan Uzume walaupun baru bertemu beberapa jam saja. Emang sih Naruto bisa dekat dengan siapa saja walaupun baru bertemu beberapa jam, namun selama hidupnya kedekatan itu di mulai pertengkaran terlebih dahulu. Beda untuk kedekatannya dengan Uzume, bukan karena pertengkaran terlebih dahulu, tapi sepertinya dia benar-benar dekat dengannya. Tak ada yang bisa menjelaskan sacara pasti kenapa bisa begitu, bahkan untuk otak cerdasnya sekalipun.
Angin kembali berhembus membuat udara di sekitar semakin dingin, perlahan tangan Uzume mulai kembali menggenggam tangan Naruto. Rasa dingin dari angin itu seakan tak mempan untuk mendinginkan kedua tubuh dari Naruto dan Uzume. Kehangatan akan kedekatan mereka seakan telah mengalahkan rasa dingin ini, detak jantung mereka berpacu dengan cepat seperti genderang mau perang, dan darah yang mengalir lebih cepat dari ujung kaki sampai ujung kepala. Perlahan tangan Uzume melepaskan diri dari genggaman tangan Naruto, kemudian berpindah melingkar di pinggang Naruto. Dan kepalanya mulai di sandarkan di pundak Naruto. Naruto hanya tersenyum saja melihat sikap manja Uzume, atau istri barunya. Sebenarnya ia juga tak mau menganggap Uzume sebagai istri, namun apa mau di kata, ia sudah terlanjur terjerat dalam project sekirei dan hal-hal semacamnya. Lagian menurut Naruto, Uzume adalah orang yang baik dan cantik. Sangat munafik bukan, jika ia menolak gadis cantik nan baik untuk menjadi istrinya, Jadi tak ada salahnya kalau ia juga menginginkan istri seperti dia.
Hari semakin menjadi gelap, kunang-kunang kian banyak berdatangan, suara katak juga semakin marak terdengar. Naruto merebahkan dirinya diatas rerumputan yang kemudian di ikuti Uzume, Naruto menaruh kedua telapak tangannya kebelakang kepala, dan membuat bantal dengan kedua tangannya itu. Sedangkan Uzume, ia masih memeluk Naruto dengan tangan kanannya dan dengan kepala yang ia rebahkan di dada bidang Naruto.
Naruto mencoba menutup matanya sejenak, merasakan semilir angin yang sedari tadi membelai wajahnya, dan mendengarakan suara-suara merdu para binatang yang ada di situ.
. .
. .
. .
. .
. .
. .
.15 menit kemudian.
Naruto terbangun dari alam mimpinya, melihat area sekitarnya dengan pandangan yang masih belum jelas. Naruto mulai mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menetralisir pandangan matanya yang buram dan untuk memberi jeda waktu otaknya untuk kembali bekerja. Setelah pandangan matanya kembali seperti semula dan otaknya sudah kembali bisa mencerna apa yang dilihat matanya, ia pun segera sadar bahwa hari sudah semakin malam. Naruto mendengar suara dengkuran halus dari arah dadanya, ia menoleh kebawah dan melihat sosok wanita cantik yang sedang tertidur di dadanya.
Naruto mencoba mengangkat kepala Uzume, kemudian dirinya duduk dan kembali merebahkan kepala Uzume di kedua pahanya.
…Kriukkk…
Sebuah suara yang terdengar dari perut Naruto, itulah sebabnya Naruto membuka matanya untuk bangun. Dari tadi pagi perutnya masih kosong, tak ada satu makanan yang masuk ke perutnya itu kecuali orange jus yang dibelikan Uzume tadi. Perut Naruto memang benar-benar sudah tak bisa diajak kompromi lagi, dari tadi terus memberontak dan demo besar-besaran di dalam, menyuruh tuannya untuk segera memberikan makan. Naruto hanya bisa mengelus perutnya setiap kali perutnya itu berbunyi, ia tak tega membangunkan Uzume yang tidur begitu lelap untuk diajak makan. Lagian ia juga tak punya uang untuk mengajak makan Uzume di kedai atau restoran.
Naruto mencoba menutup matanya kembali, membiarkan perutnya yang terus berdemo, dan menahan rasa sakit yang masih menjalar diperutnya. Hingga tiba-tiba ia membuka matanya kembali, sepertinya ia teringat akan sesuatu. Tangannya langsung merapal segel, dan ketika tangannya sudah selesai merapal segel, tangannya langsung di hentakan ke tanah. Kepulan asap membumbung, dan setelang asap menghilang akhirnya muncullah sebuah gulungan di tanah.
Terlihat Uzume mulai membukakan matanya, dia terbangun setelah merasakan guncangan-guncangan di tubuh Naruto. Matanya menatap wajah Naruto yang sedang membuka sebuah gulungan, dan kemudian ia tersenyum manis yang tidak diketahui Naruto. Uzume mulai bangkit dari tidurnya dan langsung duduk di samping Naruto.
"U-Uzume, kamu sudah bangun ?" Naruto terkejut ketika seseorang yang tadi sedang tidur di pangkuannya sudah berada di sampingnya. Mungkin ia terlalu sibuk membuka gulungan itu sampai ia tak menyadarinya.
"Sudah Naruto-kun" sebuah jawaban simple yang keluar dari mulut Uzume, senyuman manis juga tak lupa untuk menghiasi wajahnya cantiknya.
"Apa tidurmu nyeyak Uzume ? Maaf gara-gara aku kamu jadi terbangun"
Terlihat Uzume menggembungkan pipinya, bibirnya di kerucutkan kedepan, pertanda ia tak setuju dengan pendapat Naruto.
"Tidurku sangat-sangat nyenyak Naruto-kun, dan juga jangan kamu menyalahkan dirimu sendiri gara-gara hal sepele begini" ucap Uzume yang masih dengan pipi menggembung dan bibi mengerucut kedepan. Sedangkan Naruto, sepertinya dia tersentak dengan jawaban Uzume.
Naruto mengangkat tangan kanannya keatas dan menaruhnya di puncak kepala Uzume, kemudian tangan itu mulai bergerak mengacak-ngacak rambut Uzume. "Hahaha… kau sungguh lucu Uzume, padahal kan aku cuma bertanya kenapa kamu jadi ngambek gitu"
"Heyh… aku tak ngambek tau" Uzume protes dengan pendapat Naruto yang menurutnya dia sedang ngambek.
"Benarkah itu Uzume-chan ?" Naruto tersenyum, ia sedang mencoba mengoda Uzume dengan penekanan kata di bagian akhir. Sedangkan Uzume…? Ya jangan di tanya lagi, saat ini mukanya sudah merona hebat dengan godaan Naruto, apalagi Naruto juga memberikan embel-embel -chan dibelakang namanya.
'-chan, apa aku tak salah dengar ? oh Naruto-kun, kamu benar-benar membuat jantungku ini menjadi tak karuan. Dari tadi kita bertemu, kamu baru kali ini memanggilku dengan embel-embel -chan.' Batin Uzume. Dan pikiran Uzume saat ini sudah pergi ke dunianya sendiri.
"Me, Uzume ?" Tangan Naruto lambai-lambai di depan wajah cantik gadis berambut coklat itu. Namanya juga terus di panggil oleh Naruto, untuk menyadarkan ia dari dunianya sendiri.
"Ah i-iya Naruto-kun a-ada apa ?" Uzume tersadar, matanya melihat Naruto sedang melambai-lambaikan tangannya di depan wajahnya.
"Hah…? Kamu yang ada apa, tiba-tiba melamun. Apa sih yang kamu lamunin ?"
"T-tidak ada N-Naruto-kun" Uzume gelagapan saat sebuah pertanyaan membuat dirinya langsung terkejut, dalam hatinya ia tak mungkin mengatakan kepada Naruto, bahwa dirinya sedang berkhayal tentang dirinya dan Naruto.
"Benarkah itu ? kamu buat aku khawatir saja" Tangan Naruto terangkat, tangannya yang putih itu kembali bergerak lincah untuk mengacak-ngacak rambut Uzume.
Dengan gerakan yang cepat, Uzume segera memalingkan wajahnya kearah lain dan dengan pipi yang mulai merona. Namun sekali lagi gadis cantik itu hanya bisa tersenyum mendapati sensasi yang sangat menyenangkan saat tangan Naruto kembali mengacak-ngacak rambutnya.
Naruto menyudahi ngacak-mengacak rambut Uzume, ia kembali mengambil gulangan yang tadi ia keluarkan dan kemudian membukanya kembali.
"Apa itu Naruto-kun" Uzume sedikit bingung dengan apa yang dari tadi dibawa Naruto, rasa penasarannya yang terus muncul membuatnya memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Naruto.
"Oh ini adalah benda yang akan mencukupi kebutuhan kita. Tapi aku belum tau ini ternilai tidak disini, jika tidak, berarti tidak bisa untuk mencukupi kebutuhan kita"
Dahi Uzume mengernyit, kepala dimiringkan. Ia bingung, ia tak tahu apa yang dimaksud oleh Naruto. "Apa maksudmu Naruto-kun ?"
Naruto tak menjawab pertanyaan Uzume, sepintas ia melihat wajah Uzume, Naruto tersenyum simpul, ia mengerti dengan raut wajah Uzume. Itu semua menunjukan wajah kebingungan. Naruto mengigit ibu jarinya hingga mengeluarkan darah segar, setelah itu ia membuka gulangan tadi dan menempelkan darah segarnya di tulisan kanji gulungan itu. Naruto segera membuat sebuah segel tangan dengan cepat, tangannya di hentakan di gulungan yang bertuliskan kanji dengan sedikit darah segarnya itu."Fuinjutsu : Sutoreji"
…Poof…
Kepulan asap membumbung mengitari sebuah barang yang muncul dari gulangan tersebut. Sebuah batu yang berkilau indah, kira-kira besarnya sama seperti rasengan Naruto. "Apa ini bernilai disini Uzume ?" Tanya Naruto dengan membawa batu itu di tangannya.
"B-ber-berlian ? d-dari mana k-kamu dapatkan ini Naruto-kun ? ini bukan hanya bernilai, tapi kita bisa langsung kaya dengan ini. Apalagi ini berlian biruyang per 10gram nya dinilai 3 tryliun."
Naruto hanya tersenyum saja melihat keterkejutan Uzume, ia masih ingat saat dimana ia mendapat berlian itu di dalam goa hutan kematian. Ia saat itu berpikir bahwa benda ini sangat berharga, jadi ia menyimpannya untuk seseorang yang berharga untuknya. Ia tak menyangka bahwa benda ini akan menyelamatkan hidupnya untuk saat ini dan seterusnya. Ia kembali tersenyum saat melihat Uzume memegang-megang berlian itu dengan pandangan yang berbinar-binar. Ia benar-benar senang melihat Uzume begitu bahagia, ia tak mau melihat senyum yang begitu indah itu hilang dari wajah Uzume. 'Aku janji akan terus berusaha untuk membuatmu bahagia Uzume-chan, agar senyummu itu tak pernah hilang dari wajahmu'
"Nee Naruto-kun, ayo kita pulang" Naruto tersadar ketika Uzume mengajaknya pulang, dan tangan Uzume yang sudah menggandeng tangannya.
"A-ayo, tapi aku simpan dulu ini ya" Naruto mengambil berlian dari tangan Uzume, dan memasukannya kedalam gulungan dengan jutsunya tadi. Setelah selesai menyimpan semuanya, mereka berdua kemudian pergi berjalan beriringan melewati jalanan kota.
. .
. .
. .
. .
. .
. .
"Nee Naruto-kun, inilah Villa Izumo yang aku bilang tadi. Ayo masuk" Uzume menarik tangan Naruto, mengajak masuk kedalam Villa Izumo.
"Tadaima"
"Okaeri" seorang keluar dari suatu ruangan dan menjawab salam Uzume dan Naruto. Seorang wanita cantik dengan kulit putih dan mata coklat-coklat keunguan, dia memiliki rambut panjang sepinggang dengan warna ungu, memakai pakaian tradisional dari miko yang terdiri dari sebuah hakama ungu dan haori putih dengan sabuk-sabuk hitam yang mengikatnya.
…Deg… jantung miya serasa berdetak dengan sangat cepat, ketika matanya melihat sosok pemuda di samping Uzume. Perasaan serasa hangat, ketika melihat senyum ramah pemuda tersebut. 'A-apa a-aku bereaksi dengannya'
"Miya, perkenalkan dia adalah Naruto, dan dia adalah suamiku" ucap Uzume dengan nada cerianya, dan lontaran kata itu sukses membuat Miya membuyarkan lamunan Miya. 'Jadi dia sekirei Uzume'
"Hajimemashite watashi wa Uzumaki Naruto desu, douzo yoroshiku" ucap Naruto, kemudian membungkuk 90 derajat kearah Miya.
"Kochirakoso douzo yoroshiku, Aku Miya pemilik penginapan ini"
"Salam kenal" ucap Naruto sambil tersenyum ramah kearah Miya yang membuat pipi Miya mengeluarkan rona merah.
'Sepertinya Miya bereaksi dengan Naruto-kun hihihi'
.
#Skip_Time.
.
"Itadakimasu" ucap seluruh orang di dalam ruang makan. Ya… saat ini mereka sedang makan bersama, mulai dari Miya, Uzume, Naruto dan Homura, kecuali Matsu yang makan sendiri di kamar rahasianya. Mereka berempat makan seperti biasa, kecuali untuk Naruto yang makan dengan lahapnya. Naruto yang sedari pagi belum makan akhirnya bisa mengisi perutnya juga. Suara-suara demo perut Naruto yang sedari tadi terus berbunyi , akhirnya sekarang sudah berhenti berbunyi, mereka mulai melakukan tugasnya untuk mencerna makanan yang sudah masuk.
Sesekali Miya mencuri-curi pandang kearah Naruto, dan saat pandangannya sudah menemukan yang ia cari. Sontak pipi mulus Miya langsung mengeluarkan semburat merah meski samar-samar. Uzume hanya tersenyum saja saat melihat Miya, orang yang sudah dianggap kakaknya itu juga bereaksi kepada suaminya, ia juga tak menyangka saat melihat monster dari utara itu mengeluarkan rona merah yang menghiasi wajah cantiknya itu. Semua tingkah laku Miya sungguh membuat Uzume ingin tertawa terbahak-bahak hingga puas, namun semua itu masih bisa ia tahan dengan baik.
"Nee Naruto-kun bisakah aku duduk di tempatmu ?" Naruto menoleh kearah Uzume, alisnya terangkat sebelah. Ia bingung dengan Uzume yang tiba-tiba ingin pindah tempat.
"Ada apa denganmu Uzume ?" Naruto bertanya ke Uzume tentang perihal aneh yang tiba-tiba minta pindah itu.
"Tak ada Naruto-kun, aku hanya ingin mencoba duduk ditempatmu saja, bolehkan ?" Dengan sebuah senyum manisnya ia mencoba membujuk Naruto, sebenarnya ia ingin Naruto duduk di sebelah Miya dan melihat reaksi Miya. Ia sebenarnya juga tak keberatan jika Miya harus menjadi sekirei Naruto, bukannya ia mau di duakan, ia juga tak mau cinta dan kasih sayang Naruto yang seharusnya hanya untuknya saja tapi harus dibagi dengan yang lainnya. Tetapi ia tak mau egois, jika ada sekirei yang bereaksi kepada Naruto, kenapa tidak. Tapi semua itu tergantung dengan Naruto saja sih.
"Kamu ada-ada saja, baiklah Uzume" jawab Naruto. Mereka berdua kemudian bertukar posisi dan akhirnya Naruto harus berada di tengah-tengah Miya dan Uzume. Diam-diam Miya melirik kearah Uzume dan memberikan dathglarenya yang seakan-akan memberikan makna 'apa yang kau lakukan Uzume ? Awas saja kau nanti'. Sedangkan Uzume, dia hanya bisa memberikan senyum termanisnya saja kepada Miya.
"Wow… kenyangnya, ngomong-ngomong siapa yang memasak makanan ini ?" Naruto berkomentar tentang makanan yang telah dimakannya, sungguh baru kali ini ia memakan makanan yang sangat enak ini, apalagi dia tak makan sendirian. Sungguh suasana seperti inilah yang dia inginkan, suasana berkumpul seperti keluarga, merasakan kehangatan yang belum pernah ia dapatkan.
"Itu Miya yang memasak Naruto-kun" Uzume menjawab pertanyaan yang terlontar dari Naruto.
"Apa benar ini masakan anda Miya-san" Miya mengangguk kecil saja atas pertanyaan Naruto, matanya tak sanggup untuk menatap mata shapire milik Naruto. Bukannya sombong sehingga ia tak mau menatap Naruto, tetapi ia tak sanggup dengan detak jantungnya. Setiap kali Miya menatap Naruto, detak jantungnya serasa berdetak berpuluh-puluh lipat dari sebelumnya. Mata shapire Naruto sungguh menghipnotis Miya, mata Naruto yang biru itu sungguh memberikan ketenangan jiwa bagi Miya.
"Wow… anda benar-benar pandai memasak Miya-san, suami anda nanti pasti akan sangat beruntung jika memiliki istri seperti anda"
…deg…
Miya sungguh terkejut, pikirannya langsung tak bisa berpikir dengan semestinya, sebuah untaian kata-kata yang keluar dari mulut Naruto itu sungguh langsung menembus ke jantungnya yang langsung membuat jantung itu berdetak dengan tidak semestinya. Wajahnya langsung memerah hingga menyaingi kepiting rebus masakannya sendiri, seluruh badannya serasa membeku seperti tak bisa digerakan dengan normal.
"Buahahahahahaha" suara tawa yang sangat keras terus menggema kesemua penjuru Villa, suara tawa yang keluar dari mulut Uzume. Uzume yang sedari tadi menahan tawanya akhirnya menumpah ruahkan seluruh hasrat tawanya itu, ia sungguh sangat puas saat melihat monster dari utara itu merona hebat hingga menyaingi kepiting rebus di depannya. Sedangkan Homura juga begitu, ia terkikik saja saat melihat wajah Miya. Matsu yang tak ada di ruang makan pun juga tak ingin ketinggalan dengan apa yang sudah terjadi, ia ikut terkikik saat melihat aktivitas di ruang makan dari kamera pengintainya. Miya hanya mendengus kesal saat semua orang disana sedang menertawakannya minus Naruto yang memang tak tau apa-apa.
"Kenapa kamu tertawa Uzume, apa ada yang salah ? Memang benar kan masakan Miya-san sangat enak" ucap Naruto dengan raut wajahnya yang sedang bingung.
"T-tidak, Naruto-kun. Tidak ada apa-apa kok. Masakan Miya memang enak" jawab Uzume masih dengan menahan tawanya.
"Seharusnya kamu belajar memasak dari Miya-san, masa kamu tidak ingin sesekali memasakan masakan untuk suamimu ini"
Uzume terkejut, dirinya saat ini hanya mendengus kesal saja dengan pernyataan Naruto. Pipinya digembungkan dan bibirnya mengerucut kedepan menandakan bahwa saat ini ia sedang merajuk kepada Naruto. "Kamu tak lucu Naruto-kun"
"Hehehe, aku becanda Uzume-chan. Masa segitu saja sudah ngambek. Aku tak mungkin meminta permintaan keseseorang tanpa ia sendiri yang mau" ucap Naruto seraya mengacak-ngacak kembali rambut coklat Uzume.
Uzume kembali merasa kehangatan merasuki tubuhnya disaat Naruto mengacak-ngacak rambutnya. Ia sungguh saat senang disaat Naruto mulai mengacak-ngacak rambutnya itu, entah apa yang membuatnya suka dengan perlakuan Naruto yang ini.
. .
. .
. .
. .
. .
. .
Setelah insiden kecil itu, akhirnya mereka semua melanjutkan makannya kecuali Naruto yang sudah selesai duluan. Acara makan yang diselingi canda dan tawa dari semua orang, yang bisa membuat orang lain iri saja saat melihatnya. Dengan Naruto, ia merasa sangat senang dengan apa yang terjadi saat ini, ia merasakan kehangatan sebuah keluarga yang pernah ia rasakan sebebelumnya. Kehangatan keluarga yang bahkan tidak ia temukan di Konoha.
.
.
.
.
.
TBC.
.
.
.
.
.
Yo ane kembali lagi nih.
Entah mengapa ide terus mengalir ketika saya mencoba membuat Chapter 2 ini.
Untuk cinta pandangan pertama, menurut saya wajar-wajar saja jika untuk fandom sekirei, soalnya biasanya saat sekirei merasakan reaksi dengan ashikabinya, maka ia akan langsung membuat kontraknya. Jadi maaf jika ada yang tidak suka dengan cinta pandangan pertama di fanfic ini.
Untuk berlian, apa saya berlebihan dengan semua itu. Menurut saya sih juga tidak, karena keberuntungan bisa menimpa siapa saja dan kapan saja.
Dan satu lagi, untuk yang nungguin Naruto : The New Legend. Mungkin besok akan saya publish. Entah mengapa saat membuat lanjutannya, saya seperti kehabisan ide.
Mohon untuk Riviewnya senpai-senpai.
...
...
...
...
VVVV
VVV
V
RIVIEW.
