Not Just Babysitter
Chapter 2
Main Casts : Oh Sehun, Xi Luhan (GS), Oh Haowen (OC)
Support Casts : Find it by yourself
Genre : AU, Family, Romance
Length : Multichapter
2016©Summerlight92
Aroma masakan yang menguar dari dapur membuat Sehun terbangun dari tidurnya. Ia lantas bangkit dari ranjang, namun sedikit tertahan saat menyadari lengan kirinya tengah dijadikan bantal oleh Haowen. Dengan hati-hati dan bermaksud tidak membangunkan jagoannya itu, Sehun menarik tangan kirinya yang terasa kebas. Sesaat ia meringis ketika tangannya beralih mengusap bagian wajahnya yang terluka dan masih menyisakan rasa sakit, meski sudah diobati.
Sehun sedikit memicing pada celah pintu yang sedikit terbuka. Pantas saja ia bisa mencium aroma masakan yang menggunggah selera itu. Ia pun melangkah keluar dari kamar, lalu pergi ke dapur tempat aroma itu berasal.
"Oh, kau sudah bangun?"
Suara lembut itu mengalihkan perhatian Sehun—tepatnya pada sosok wanita yang sedang berkutat dengan masakannya di dapur. Sebenarnya bukan kegiatan wanita itu yang dilihat Sehun. Atensinya lebih mengarah pada penampilan Luhan.
Gaun santai selutut yang dibalut apron, lalu rambut yang sengaja dicepol hingga menyisakan beberapa helai di tengkuknya. Belum lagi wajah cantiknya dengan mata rusa yang ia miliki dan bibir cherry yang menggoda.
"Sehun?"
Mata Sehun berkedip-kedip, disusul dehaman pelan yang keluar darinya. Ada sedikit rasa malu yang menyergapnya karena sempat terbuai dengan aksi 'mari memandangi Luhan yang sedang memasak'.
"Kau membuat apa?" tanya pria itu.
"Sup ayam ginseng," Luhan menjawab sambil tetap fokus dengan kegiatan memasaknya. "Ini bagus untuk mengembalikan energimu. Kau pasti kelelahan setelah kejadian tadi."
Sehun hanya mengangguk-angguk, kemudian duduk di salah satu kursi yang terdapat pada mini bar. Ia meraih gelas kosong lalu mengisinya dengan air putih yang sudah tersedia. Dalam sekejap Sehun langsung menegak habis air putih itu.
"Kau tinggal sendirian?"
Luhan mengangguk. Wanita itu masih fokus pada kegiatannya. Tidak menoleh sedikit pun ke arah Sehun.
"Di mana orang tuamu?"
"Mereka tinggal di Incheon."
"Kau punya saudara?"
"Ada. Kakak laki-laki."
"Namamu bukan nama orang Korea. Apa kau orang China? Tapi kenapa kau fasih berbicara dalam bahasa Korea?" tanpa bisa dikontrol Sehun menghujani berbagai pertanyaan untuk Luhan.
Mata Luhan mengerjap polos. Rasanya ia seperti sedang melakukan interview saat melamar pekerjaan.
Sehun yang melihat keterkejutan di wajah Luhan mulai menyadari kesalahannya. "Ma-maaf, aku terlalu banyak bertanya," katanya sedikit menyesal.
"Tidak apa-apa," Luhan tertawa geli. "Namaku memang bukan nama orang Korea. Kalau kau bertanya apakah aku orang China, aku akan menjawab jika aku ini berdarah campuran China dan Korea. Ayahku keturunan China sedangkan ibuku keturunan Korea. Aku lahir di China, tapi dibesarkan di Korea. Itulah sebabnya aku fasih berbicara dalam bahasa Korea, sekaligus bahasa Mandarin."
"Ah, begitu rupanya," tanpa sadar Sehun tersenyum mendengar penjelasan Luhan. "Lalu, di mana kakakmu? Apa dia tinggal bersama orang tuamu?"
Luhan menggeleng, "Tidak, dia sekarang berada di China. Mengambil alih perusahaan milik ayahku."
Sebenarnya Sehun ingin bertanya lebih banyak, tapi ia sadar itu bukan haknya. Lagi pula, ia juga tidak ingin membuat Luhan merasa terganggu atas semua pertanyaan yang terlontar dari bibirnya. Ingat, mereka baru mengenal selama beberapa jam.
"Ngomong-ngomong, apa pekerjaanmu?" tanya Sehun lagi. Untuk yang satu ini ia sangat penasaran.
"Aku mengajar les privat, khususnya untuk mata pelajaran Matematika."
"Jadi kau seorang guru?"
"Bisa dibilang begitu," Luhan tertawa lagi. "Tapi aku bekerja di salah satu lembaga bimbingan belajar, bukan di sekolah."
Pria itu tersenyum puas. Sudah cukup bagi Sehun untuk mengetahui sedikit latar belakang Luhan.
"Apa kau ingin mandi?"
Sehun terdiam sejenak, lalu memeriksa penampilannya. Ia tersenyum masam begitu menyadari tubuhnya terasa lengket dan sedikit bau. Ya, dia memang harus mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tapi bagaimana dengan baju gantinya?
Seolah bisa menebak apa yang ada dalam kepala Sehun, Luhan mengulum senyum. "Jangan khawatir. Kau bisa memakai kaos dan celana milik kakakku. Kurasa ukurannya tidak jauh beda denganmu, tapi mungkin sedikit lebih besar," katanya menanggapi keraguan di wajah Sehun.
Sehun terkekeh pelan. Ia tidak sadar jika tingkahnya barusan membuat Luhan kesulitan mengontrol detak jantungnya yang sangat cepat.
"Haowen masih tidur?" tanya Luhan mencari bahan obrolan lain.
Sehun mengangguk pelan lalu kembali tersenyum, "Tadi dia bercerita jika hari ini kau mengajaknya jalan-jalan. Benarkah?"
"Ah, soal itu," Luhan sedikit tersipu. "Aku memang mengajaknya jalan-jalan. Tapi hanya mengunjungi COEX Aquarium, karena semalam dia bercerita ingin melihat ikan."
"Meskipun hanya satu tempat, tapi Haowen terlihat senang. Ia bersemangat sekali saat menceritakannya padaku," Sehun menundukkan kepalanya. Ada perasaan bersalah yang menyusup dalam hatinya. "Terima kasih. Hari ini kau sudah menggantikanku menemani Haowen jalan-jalan."
Luhan tertegun melihat wajah bersalah Sehun.
"Aku memang ayah yang buruk. Selalu saja mengingkari janjiku pada Haowen," lanjut Sehun. "Karena pekerjaanku, kadang aku sampai lupa kapan terakhir kali kami pergi jalan-jalan bersama."
Luhan menggigit bibir bawahnya, sejenak merasa ragu apakah ia harus mengutarakan pendapatnya atau tidak. Tapi mengingat bagaimana Haowen yang menangis semalam karena sedih atas kesibukan ayahnya, Luhan merasa perlu memberi nasehat pada Sehun.
"Ngg ... menurutku kau tidaklah seburuk itu, Sehun."
Sehun mendongak dan menatap Luhan dengan kebingungan.
"Aku memang tidak tahu apa pekerjaanmu, tapi mendengar cerita Haowen, aku langsung tahu jika kau orang yang sangat sibuk," Luhan menatap Sehun dengan wajah seriusnya. "Aku hanya berpesan, setidaknya luangkan waktumu untuk Haowen walau hanya satu kali dalam seminggu. Menurutku itu sudah lebih dari cukup, daripada kau sama sekali tidak melakukannya."
Sehun terdiam, masih mencoba mencerna setiap pesan yang disampaikan Luhan.
"Kau juga harus ingat, Haowen hanya dibesarkan olehmu setelah ibunya meninggal. Mungkin masih ada kakek dan nenek, atau saudaramu yang lain yang menemani Haowen. Tapi, bagi Haowen akan jauh lebih berkesan jika dia bisa pergi bersama ayahnya."
"Dari mana kau tahu ibu Haowen sudah meninggal?"
Luhan kesulitan meneguk ludahnya, sedikit menyesal karena sudah lancang mengucapkan kata-kata barusan pada Sehun. "Semalam Haowen yang menceritakannya padaku," cicitnya sedikit takut. "Ma-maafkan aku, Sehun. Aku sudah bersikap lancang padamu, tidak seharusnya—"
"Tidak apa-apa, yang kau katakan memang benar," Sehun tersenyum dengan penuh kehangatan. Ada gurat kelegaan yang terpancar di wajahnya. "Terima kasih atas nasehatmu, Lu."
DEG!
Luhan benar-benar merutuki kinerja jantungnya yang tidak normal seperti biasanya.
"Tidak masalah. Aku hanya tidak tega melihat Haowen menangis seperti semalam," Luhan mengatakannya dengan cepat tanpa jeda, "Kupikir tidak ada salahnya kau meluangkan waktu untuk—akh!"
Pekikan Luhan yang kesakitan itu membuat Sehun membeliak. Dengan cepat ia menghampiri Luhan, dan setelahnya bola mata Sehun membulat sempurna kala melihat cairan warna merah keluar dari ujung jarinya.
"Kau terluka?"
Tak ada jawaban dari Luhan, hanya terdengar desisan seperti ular. Wanita itu merutuk atas kecerobohannya yang tidak berhati-hati saat memotong daun bawang, hingga jarinya terluka karena terkena pisau. "Ish, aku kurang berhati-hati," katanya tetap memaksa untuk tersenyum, namun kentara sekali jika ia merasa kesakitan.
"Biar kuobati."
"Tidak apa-apa. Aku bisa—" kalimat Luhan terhenti ketika Sehun tiba-tiba menarik jari tangannya, lalu dalam hitungan detik menghisap darah yang keluar itu.
Wajah Luhan sontak memerah. Ada sensasi menggelenyar saat Sehun melakukan pertolongan pertama padanya. Buru-buru ia menarik tangannya dari Sehun, sebelum lepas kendali atas apa yang baru saja dilakukan pria itu.
"A-aku akan mengobatinya sendiri," Luhan menunduk, tidak berani memperlihatkan wajahnya yang menyerupai kepiting rebus.
Sehun sendiri juga menyadari apa yang baru saja ia lakukan telah menciptakan suasana canggung di antara mereka. Terlebih saat Luhan dengan segera mematikan kompor, lalu berlari meninggalkan dapur, dan masuk ke kamarnya.
Mata Sehun berkedip-kedip. Seperti orang bodoh, ia hanya berdiri mematung di dapur dengan pandangan mata tertuju pada arah yang baru saja dilalui Luhan. Dan setelah hampir 1 menit terdiam, ada lengkungan senyum yang sempurna terlukis di bibirnya.
..
..
..
"Appa ..."
Sehun baru selesai mandi ketika Haowen memanggilnya. Ia mendapati Haowen sudah terbangun dan sedang duduk di tepi ranjang—lengkap dengan penampilan khas orang bangun tidur.
"Haowen mau mandi?"
Anak itu mengangguk, mengucek matanya sebentar lalu mengamati penampilan Sehun. "Itu punya siapa, Appa?" tanyanya sambil menunjuk pada kaos dan celana yang melekat di tubuh sang ayah.
"Ini punya kakaknya Luhan-ahjumma," jawab Sehun disertai senyuman lebar. "Ayo, Haowen. Appa siapkan air mandi untukmu."
Haowen beranjak dari ranjang lalu berjalan gontai menghampiri Sehun. Pria itu terkekeh melihat mata anaknya masih setengah terpejam.
TOK! TOK!
Sehun melihat kepala Luhan menyembul di balik pintu kamar.
"Makan malam sudah siap," kata Luhan lalu melirik ke arah ranjang. "Mana Haowen?"
"Dia baru mau mandi."
Luhan mengangguk-angguk, lalu matanya menangkap penampilan Sehun yang mengenakan baju ganti milik kakaknya. Sangat cocok dan pas di tubuhnya. Tapi lebih dari itu, rambutnya yang setengah basah dan wajahnya yang tampak segar jauh terlihat menarik di mata Luhan.
"A-aku akan menunggu di ruang makan," ucap Luhan terburu-buru menutup pintu.
BLAM!
Sehun hanya terbengong melihat gelagat Luhan, namun kemudian tertawa geli. Dan tawanya itu sempat terdengar oleh Luhan yang masih berdiri di depan pintu kamar. Wanita itu menangkup wajahnya yang memerah, sebelum akhirnya berlari ke ruang makan.
20 menit berlalu setelah Luhan memberitahu Sehun jika makan malam sudah siap. Sekarang ketiganya sudah berada di ruang makan.
Luhan dan Haowen duduk berhadapan, sementara Sehun duduk di antara mereka. Kalau dilihat baik-baik, mereka seperti keluarga kecil dengan Sehun yang menempati posisi kepala keluarga dalam ruang makan itu. Luhan sendiri seperti istri dan ibu ketika mengambilkan makanan untuk Sehun dan Haowen.
"Selamat makaaan ..."
Luhan tertawa lagi melihat Haowen menangkupkan kedua tangan lalu membungkuk sopan. "Kau mengajarinya dengan baik," katanya pada Sehun.
Pria itu tertawa. "Aku hanya meneruskan apa yang diajarkan ibunya. Haowen memang sudah diajari adat makan, bahkan sejak usianya masih 1 tahun."
Luhan hanya meresponnya dengan tersenyum.
"Ahjumma, ini enak sekaliii ..."
Pujian yang dilontarkan Haowen membuat Luhan senang.
"Benarkah?"
"Eum," Haowen melirik ayahnya, bermaksud meminta pendapat. "Appa, Luhan-ahjumma memang pandai memasak, ya?"
"Ne," Sehun sependapat. Ia sendiri terlihat lahap menyantap hidangan makan malam buatan Luhan. "Masakanmu enak, Lu."
Wajah Luhan merona mendengar Sehun memuji masakannya. Tapi yang membuat jantungnya kembali berdetak secara abnormal ketika pria itu memanggilnya 'Lu'.
"Appa, besok Haowen ingin pergi ke kebun binatang."
Seketika suasana di ruang makan berubah hening. Sehun dan Luhan saling memandang, sementara Haowen tengah menatap ayahnya dengan sorot mata memohon.
"Besok Haowen 'kan harus pergi ke sekolah. Lagi pula, appa juga harus pergi bekerja, Sayang," kata Sehun.
Sadar akan nada penolakan yang tersirat dalam ucapan ayahnya, wajah Haowen berubah cemberut.
"Tidak. Pokoknya besok Haowen ingin pergi ke kebun binatang," tegas Haowen keras kepala. "Haowen tidak mau pergi ke sekolah. Appa juga tidak boleh pergi bekerja."
"OH HAOWEN!"
Luhan melonjak kaget mendengar suara keras Sehun. Ia bahkan nyaris tersedak makanan yang belum sepenuhnya tertelan. Luhan bisa memaklumi reaksi Sehun, sebab ucapan Haowen tadi memang terkesan kurang sopan. Tidak ingin sekolah, bahkan melarang ayahnya untuk pergi bekerja. Bukankah itu sikap yang tidak baik?
Meski begitu, Luhan juga memahami sikap Haowen. Anak ini ingin sekali menghabiskan waktunya bersama sang ayah. Dan jika mengingat pengakuan Haowen semalam, Luhan menyayangkan sikap Sehun yang kerap membatalkan janjinya dengan anak itu.
"Hiks ..." isakan kecil itu lolos dari bibir Haowen, membuat Sehun mendesah panjang.
"Haowen ..."
"Hiks ... Appa ..." Haowen makin terisak, "... hiks ... Haowen ingin pergi ke kebun binatang bersama Appa."
Sehun memijat pelipisnya. Sifat manja Haowen yang satu ini memang menurun dari ibunya, sedangkan sifat keras kepalanya berasal dari Sehun.
Manja dan keras kepala. Sungguh kombinasi yang bagus.
Tubuh Luhan bergerak sendiri. Ia berjalan mendekati Haowen, lalu merangkul bahu anak itu dan memberinya usapan lembut.
"Haowen," suara Luhan terdengar seperti nyanyian merdu, "besok 'kan Haowen harus pergi ke sekolah, dan appa juga harus pergi bekerja. Kenapa Haowen ingin pergi ke kebun binatang, hm?"
Bukannya menjawab, Haowen malah membenamkan wajahnya ke pelukan Luhan.
"Kalau Haowen membolos sekolah, nanti Haowen dimarahi sama guru. Haowen mau jadi anak nakal?"
Mendadak tangisan Haowen terhenti. Anak itu mendongak dengan wajah polosnya. "Tidak, Ahjumma. Haowen tidak mau jadi anak nakal. Haowen anak yang rajin."
Luhan tersenyum geli melihatnya. "Kalau begitu, pergi ke kebun binatangnya akhir pekan saja, ya?"
Tak ada jawaban dari Haowen. Anak itu melirik sekilas pada ayahnya dengan keraguan.
"Kalau di akhir pekan appa tidak bekerja. Appa pasti bisa menemani Haowen," lanjut Luhan. Setelahnya ia meringis lebar ke arah Sehun yang diketahuinya sedikit melotot.
"Benarkah?" binar mata Haowen terlihat terang. "Appa janji akan menemani Haowen ke kebun binatang di akhir pekan?"
Ini dia yang membuat Sehun selalu gagal mengendalikan diri. Jurus aegyo Haowen yang mematikan. Luhan berusaha keras menahan tawanya melihat ekspresi wajah Sehun yang tampak kusut.
"Baiklah, appa akan menemani Haowen ke kebun binatang hari Sabtu besok, tapi," Sehun mengeluarkan seringaiannya yang membuat Luhan memandang waspada. "Luhan-ahjumma juga harus ikut. Bagaimana?"
"Eh?!"
Kali ini Luhan yang mendapat serangan aegyo dari Haowen. Ugh, wajah Haowen benar-benar menggemaskan dan pertahanan diri yang sempat dibangun itu hilang dalam sekejap mata. Luhan tidak bisa menolak. Rasanya ia tidak tega menghancurkan keinginan Haowen untuk pergi jalan-jalan bersama ayahnya. Hanya saja ada satu hal yang mengusik pikiran Luhan.
Kenapa dia juga harus ikut dalam acara duo ayah dan anak itu?
"Baiklah, ahjumma akan ikut ke kebun binatang," jawab Luhan tak punya pilihan lain.
"YEAY!" Haowen melompat dari kursi lalu berlari-lari kecil mengitari meja makan. Reaksinya yang kelewat gembira itu membuat Luhan tertawa. Namun kemudian ia tersentak kaget saat merasakan benda kenyal menyentuh pipi kanannya.
Haowen terkikik melihat ekspresi Luhan setelah ia mengecup pipi wanita itu. "Terima kasih, Ahjumma."
Tawa Sehun berderai. Terlebih saat ia juga mendapat kecupan lembut dari Haowen, sama persis seperti yang anaknya lakukan pada Luhan.
"Jadi ..." Luhan sedikit memicing ke arah Sehun. "... kenapa aku juga harus ikut dalam acara kalian, hm?"
"Kau yang sudah menjanjikan pada Haowen kalau aku bisa menemaninya ke kebun binatang pada akhir pekan ini. Padahal aku belum memeriksa jadwalku," Sehun melipat kedua tangannya lalu tersenyum puas. "Kau harus bertanggung jawab. Lagi pula, Haowen sepertinya akan lebih senang kalau kau juga ikut bersama kami."
"Ck, aku 'kan hanya membantu mewujudkan keinginan Haowen," bibir Luhan melengkung ke bawah dan pipinya menggembung lucu. Sehun yang sedang meminum hampir saja menyemburkan air yang belum sepenuhnya tertelan.
"Berapa usiamu?"
Luhan mengernyit, "27 tahun, wae?"
"Tidak, hanya saja ..." Sehun berdeham pelan. "... wajahmu barusan justru membuatmu terlihat seperti bocah umur 5 tahun."
"HEI!"
Tawa Sehun meledak. Sedangkan Luhan masih bertahan dengan wajah cemberutnya. Dan reaksinya itu membuat Sehun semakin ingin menggoda Luhan, dalam artian membuat Luhan benar-benar terlihat persis seperti bocah umur 5 tahun yang sedang merajuk.
Dari sini, Luhan menyadari kalau Sehun mempunyai sisi jahil. Entah mengapa, Luhan tidak marah, melainkan menyukai setiap kata-kata jahil yang terlontar dari bibir tipis pria itu.
Dua orang dewasa itu tak menyadari Haowen yang sedari tadi memandangi keduanya. Mata Haowen mengerjap lucu, dan perlahan sebuah lengkungan sempurna muncul di bibirnya.
..
..
..
Sambil menikmati angin semilir di balkon apartemen Luhan, Sehun menyudahi kegiatannya menelepon Jongdae. Ia memberitahu pria itu untuk menjemput mereka—Sehun dan Haowen—besok pagi. Ia sengaja meminjam ponsel Luhan, karena ponselnya—selain dompet—juga berhasil dirampas oleh ketiga preman tadi.
Menyadari sudah waktunya jam tidur, Sehun kembali ke kamar yang ia tempati bersama Haowen. Suara yang terdengar dari dalam membuatnya urung masuk. Pemandangan yang tertangkap oleh matanya membuat Sehun terpaku.
Di sana—tepatnya di atas ranjang, Luhan dan Haowen sama-sama duduk berselonjor. Jika Luhan bersandar pada headboards ranjang, lain dengan Haowen yang berada dalam pelukan wanita itu. Fokus keduanya tertuju pada sebuah buku yang dipegang Luhan.
"Apa yang terjadi dengan rusa kecil itu, Ahjumma? Apakah dia berhasil keluar dari hutan terlarang itu?"
Luhan terkekeh, "Dengarkan sampai selesai dulu, Haowen."
Anak itu tersenyum geli, lalu mengangguk dan memberi isyarat pada Luhan untuk melanjutkan ceritanya. Wajah Haowen selanjutnya terlihat antusias. Kemampuan Luhan dalam membacakan cerita benar-benar mengagumkan. Sangat menghayati setiap peran yang ada dalam cerita.
Decak kagum terus keluar dari Haowen. Sesekali ia bertepuk tangan pada Luhan ketika berhasil membawakan karakter setiap peran dalam cerita.
Dan reaksi serupa juga terlihat dari Sehun. Pria itu masih berdiri di ambang pintu, namun kali ini matanya berbinar terang. Tiba-tiba saja sekelebat bayangan masa lalu muncul di depan mata Sehun. Ia seolah melihat sosok mendiang istrinya yang tengah membacakan cerita pada si kecil Haowen yang baru genap berusia 1 tahun.
Ada perasaan sesak dalam dadanya yang memaksa untuk keluar. Diiringi dengan debaran jantung yang kian tak terkendali. Sehun tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya, namun ia memilih segera pergi meninggalkan kamar itu.
Selang 30 menit setelah kepergian Sehun, Luhan keluar dari kamar. Ia berhenti sejenak di dekat pintu, mengamati Haowen yang kini sudah terlelap dalam balutan selimut di atas ranjang.
"Ponselku?" Luhan tersadar akan benda penting miliknya yang masih dipinjam Sehun. Dengan langkah terburu-buru, ia pergi mencari Sehun. Sayangnya Luhan tak menemukan pria itu di balkon. Ia pun berpindah ke ruangan lain, hingga akhirnya menemukan Sehun di mini bar dekat dapur. Lengkap dengan tatapan sayunya.
"Sehun?"
Luhan yakin ia sempat melihat keterkejutan di wajah Sehun ketika pria itu menoleh ke arahnya.
"Haowen sudah tidur?"
Luhan mengangguk, "Ingin kubuatkan sesuatu? Wajahmu terlihat lelah."
"Susu cokelat panas, kalau tidak merepotkan."
"Sama sekali tidak," Luhan tersenyum hangat, "Bukankah aku yang menawarimu?"
Sehun terkekeh, kemudian terdiam menyelami sosok Luhan yang kini tengah membuatkan susu cokelat panas untuknya.
"Silakan."
Lamunan Sehun buyar saat aroma harum dari cokelat panas menguar dan merasuki indra penciumannya. "Terima kasih," ujarnya, lalu melirik pada Luhan yang duduk di sebelahnya. Sehun baru sadar jika Luhan membuat dua cangkir cokelat panas. Sehun tak segera menikmati cokelat panas miliknya. Ia malah memandangi Luhan yang kini mulai menyesap minuman hangat tersebut.
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
Sehun memiringkan kepalanya, "Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Luhan hanya tersenyum ramah, "Tadi aku sempat melihat wajahmu sedikit murung. Kupikir kau sedang membutuhkan teman untuk berbagi cerita."
Belum ada 24 jam mengenal Luhan, Sehun bisa menilai jika wanita ini memang sosok yang baik hati dan penuh perhatian. Mudah saja untuk mengetahuinya. Dilihat dari bagaimana Luhan memperlakukan Sehun dan Haowen yang jelas-jelas hanya orang asing yang sedang ditimpa kemalangan. Bukan hanya mengobati luka yang mereka alami, Luhan memperlakukan mereka layaknya tamu, dengan membuatkan makanan, bahkan mengizinkan mereka menginap di apartemennya. Dan nilai tambahan dari kebaikan Luhan saat wanita ini mengajak Haowen jalan-jalan, di mana itu seharusnya dilakukan Sehun sebagai ayahnya
"Memang ada sesuatu yang mengganggu pikiranku, tapi," Sehun menggantungkan kalimatnya sejenak, "mungkin lain waktu saja aku bercerita padamu."
Ada sebersit rasa kecewa dalam benak Luhan. Kalau boleh jujur, ia ingin sekali mengorek informasi tentang Sehun, dan salah satunya masa lalu pria ini dengan mendiang istrinya. Tapi Luhan sadar, dia bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang penolong bagi pasangan ayah dan anak itu.
"Tidak masalah," kata Luhan. "Kapanpun kau siap dan membutuhkan teman untuk berbagi cerita, kau bisa menemuiku."
Melihat ketulusan dari sorot mata Luhan, mau tak mau Sehun tersenyum senang. Tanpa sadar tangannya bergerak mengusap pucuk kepala wanita itu dengan lembut, "Terima kasih, Lu," ujarnya.
Seketika wajah Luhan memerah. Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya dengan pandangan yang bergulir ke bawah. Sedangkan Sehun, ia sendiri juga menyadari sikapnya sedikit lancang dengan mengusap pucuk kepala Luhan. Dehaman pelan keluar darinya, bersamaan dengan suara berderit dari kursi yang ia duduki.
"Malam sudah larut. Sebaiknya kau segera pergi tidur," Sehun meletakkan cangkirnya di atas meja. "Oh iya, terima kasih sudah meminjamkan ponselmu."
Luhan menerima benda berbentuk persegi panjang di tangannya.
"Aku sudah menghubungi salah satu bawahanku untuk menjemput kami di sini," lanjut Sehun. "Mungkin, kami akan pulang pagi-pagi sekali. Supaya Haowen tidak terlambat pergi ke sekolah, begitu pun aku yang harus pergi bekerja."
"Aku mengerti," Luhan tersenyum tipis. Mendengar rencana kepulangan Sehun dan Haowen, entah mengapa ia merasa sedih. Dua malam ini apartemennya terasa ramai berkat Haowen.
Luhan pasti akan merindukan Haowen, merindukan suara tawa ceria maupun tangisannya yang terkadang menggemaskan.
Dan sepertinya ia juga akan merindukan sosok Sehun. Eh?
"Sekali lagi terima kasih, Lu. Termasuk untuk cokelat panasnya," Sehun terkekeh begitu pun Luhan.
"Selamat malam."
Luhan tersenyum, "Selamat malam, Sehun."
..
..
..
Not Just Babysitter
..
..
..
Baekhyun memandangi Luhan dengan keheranan.
Ini bukan pertama kalinya ia mendapati wajah Luhan tampak begitu murung seperti sekarang. Kalau dipikir-pikir lagi, kondisi Luhan yang seperti ini sudah berlangsung sejak hari Senin kemarin.
"Sudah 4 hari, Lu ..."
Luhan tidak merespon. Tatapannya tampak kosong. Lagi-lagi wanita itu kembali larut dalam pikirannya sendiri.
Baekhyun mendesah pelan. Ia bingung sekaligus penasaran dengan kondisi sahabatnya ini. Luhan yang biasanya mendatangi tempat kerja mereka jelang jam makan siang—itu pun hanya untuk sekedar mengecek jadwalnya saja, sekarang jadi lebih sering datang di pagi hari. Dan waktu yang ia habiskan di sana hanya untuk membaca novel kesukaannya, bukan memeriksa beberapa pekerjaan anak didiknya atau menyiapkan bahan ajar.
Ibaratnya, Luhan kehilangan fokusnya dalam bekerja selama 4 hari belakangan ini.
Dan Baekhyun yakin penyebabnya adalah kepulangan Haowen bersama ayahnya dari apartemen Luhan pada hari Senin kemarin.
Baekhyun masih ingat, bagaimana Luhan bercerita kalau ia merasa sedih karena suasana apartemennya kembali sepi. Tidak ada lagi tawa canda maupun tangisan Haowen. Tetapi jika dipahami secara baik-baik, Baekhyun tidak yakin kalau Luhan merasa sedih hanya karena itu. Sepertinya ada alasan lain yang lebih kuat. Alasan yang membuat seorang Xi Luhan untuk pertama kalinya kehilangan semangat dalam bekerja.
Baekhyun kembali mengamati kondisi Luhan. Rasanya ia tahu apa yang terjadi dengan sahabatnya ini.
"Oh Sehun?"
Saat nama itu lolos dari bibir Baekhyun, mata Luhan terlihat berbinar. Namun wanita ini masih bergeming, enggan merespon ucapannya.
Baekhyun tertawa puas dalam hatinya. Ah, rupanya sahabatku ini sedang jatuh cinta.
"Baekkie ..."
Di sela kegiatannya mengamati Luhan, Chanyeol datang menghampiri Baekhyun. Pandangan pria dengan tinggi badan di atas rata-rata itu beralih pada Luhan.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Luhan?" tanya Chanyeol penasaran. Ia mengambil posisi duduk di sebelah Baekhyun, lalu memesan makanan dan minuman pada salah satu pelayan yang mendatanginya.
Sekedar informasi, saat ini ketiganya sedang menikmati makan siang di salah satu kafe yang lokasinya berada tepat di sebelah tempat kerja mereka. Baekhyun dan Luhan memang sudah mendatangi kafe itu lebih dulu, baru disusul Chanyeol yang datang tepat pada jam makan siang.
"Kau mengetahui sesuatu?"
Baekhyun mengedikkan bahu, "Aku tidak terlalu yakin, tapi sepertinya aku tahu satu hal."
"Apa? Katakan padaku, Baek! Aku penasaran," desak Chanyeol tak sabar.
Baekhyun tertawa geli, "Kurasa sahabat kita ini sedang jatuh cinta."
"Jatuh cinta?"
Baekhyun mengangguk, "Dan kau akan kaget jika mengetahui pria seperti apa yang sudah membuat Luhan seperti ini?"
"Memang dia pria seperti apa?" tanya Chanyeol dengan kerutan di dahi.
"Dia seorang duda beranak satu."
"APA?!" Chanyeol melotot tak percaya. "Lu, kau jatuh cinta dengan duda beranak satu? Yang benar saja? Memangnya tidak ada pria lain? Tidak, kau tidak boleh jatuh cinta dengan tua bang—aaww!"
"DIAM!" Baekhyun menarik tangannya yang baru saja mencubit gemas pinggang Chanyeol. Kekasihnya ini memang super cerewet jika sudah menyangkut masalah percintaan Luhan. Kebiasaan yang tidak bisa diubah memang, apalagi kebiasaan ini sudah berlangsung sejak mereka duduk di bangku kuliah.
"Dia tidak seperti yang kau pikirkan, Sayang," Baekhyun tersenyum genit. "Wajahnya tampan, kulitnya putih, dan tubuhnya tinggi seperti model. Dan sepertinya usia pria itu tidak jauh berbeda dengan kita."
"Kau sudah bertemu dengan pria itu?" tanya Chanyeol.
"Tidak. Luhan yang menceritakannya padaku."
"Kapan aku pernah bercerita padamu?"
Baekhyun dan Chanyeol terkejut mendengar suara Luhan.
"Oh, kau masih bisa berbicara? Kupikir kau sudah berubah menjadi patung, Lu," sindir Baekhyun disambut tawa Chanyeol.
Luhan memutar bola matanya malas. Sejak tadi ia sudah mendengarkan pembicaraan yang dilakukan pasangan kekasih itu. Awalnya Luhan masih bisa menahan untuk tidak menanggapi. Tapi setelah Baekhyun membahas bagaimana perawakan Sehun—dan Luhan sendiri malu karena pernah menceritakannya—ia tidak bisa lagi untuk bersikap cuek.
"Jadi, kau tidak ingat pernah menceritakan soal Sehun padaku?" Baekhyun menyeringai jahil. "Waktu itu kau bilang begini, 'Sekarang aku tahu dari mana wajah tampan Haowen. Ayahnya sangat tampan, kulitnya putih dan tubuhnya tinggi seperti model. Haowen benar-benar terlihat seperti jiplakan Sehun, Baek.' Begitu katamu."
Mata Chanyeol mengerjap lucu, sedangkan Luhan sudah menutupi wajahnya yang merah padam.
"Woah, jadi pria yang sedang kita bicarakan ayahnya Haowen?" Chanyeol sendiri sudah tahu soal Haowen dan ayahnya dari Luhan. Tapi ia tidak tahu seperti apa sosok ayah Haowen, mengingat Luhan hanya bercerita hal itu pada Baekhyun.
Baekhyun mengangguk semangat, "Iya, namanya Oh Sehun."
"Hentikan!"
"Wae?" Baekhyun menoleh dengan wajah polosnya. "Aku benar 'kan? Kau sedang jatuh cinta padanya?"
"Tidak! Aku tidak jatuh cinta padanya!"
"Ayolah, Lu. Tidak usah mengelak lagi. Semua sudah tertulis jelas di wajahmu," Baekhyun dan Chanyeol terkikik bersama. Kapan lagi mereka mempunyai kesempatan untuk menggoda Luhan seperti sekarang. Sahabatnya itu terlalu lama berstatus single. Padahal jika dilihat dari usia mereka, sudah waktunya bagi Luhan untuk mencari pendamping. Seperti Chanyeol dan Baekhyun yang tak lama lagi akan segera meresmikan hubungan mereka dalam ikatan pernikahan.
"Jadi, kapan kau akan mengenalkannya pada kami?"
Luhan menatap geram pada duo sahabatnya yang super usil dan jahil. Tidak tahan lagi dengan godaan Chanyeol dan Baekhyun, Luhan buru-buru bangkit dari kursinya. "Kalian menyebalkan!" pekiknya seperti bocah berumur 5 tahun yang sedang merajuk. Lalu berlari keluar meninggalkan kafe—meninggalkan pasangan idiot yang kini tengah tertawa terpingkal-pingkal di tempat mereka.
..
..
..
Aku jatuh cinta pada Sehun?
"Yang benar saja?" Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya. Kalimat Baekhyun tadi siang benar-benar seperti mantra sihir, susah untuk dihilangkan. Terus saja memenuhi kepala Luhan dan mempengaruhi konsentrasinya selama mengajar les privat salah satu muridnya.
Beruntung hari ini jadwalnya tidak terlalu padat. Maka selesai mengajar, Luhan memutuskan pergi ke rumah orang tuanya yang berada di Incheon.
Selama perjalanan ke sana, Luhan kembali mengingat bagaimana perpisahannya dengan Sehun dan Haowen hari Senin kemarin.
Flashback
Haowen masih tertidur dalam gendongan Sehun. Luhan membantu membawakan tas anak itu dan mengantar mereka sampai ke basement. Di sana, Luhan melihat ada seorang pria berwajah kotak sudah berdiri di dekat sebuah mobil BMW seri 7 berwarna hitam. Sehun lantas membaringkan Haowen di kursi belakang.
"Kami pamit. Terima kasih untuk semuanya," ucap Sehun.
Luhan hanya mengangguk kecil, lalu melirik ke arah Haowen yang tertidur pulas di kursi belakang. Entah mengapa ada rasa tidak rela untuk berpisah dengan anak itu. Luhan menyayangi Haowen, meski mereka baru saling mengenal selama 2 hari.
GREP!
Luhan terkesiap ketika merasakan kehangatan menjalar di sekujur tubuhnya. Dan tak ada yang lebih mengejutkan bagi Luhan setelah ia tahu bahwa Sehun kini sedang memeluknya.
"Aku sangat senang bisa bertemu denganmu, Lu. Terima kasih."
Perlahan pelukan dari Sehun melonggar. Luhan tidak mengatakan apapun, bahkan sampai pria itu masuk ke dalam mobil.
Dan sisanya Luhan hanya berdiri mematung ketika mobil itu mulai melaju meninggalkan basement apartemennya.
Saat ia kembali ke apartemennya yang berada di lantai 7, kesedihan tercetak jelas di wajahnya. Apartemennya kembali sepi, dan tidak ada lagi tawa canda maupun tangisan dari Haowen. Belum ada 1 menit, Luhan sudah merindukan Haowen.
Dan konyolnya, bayang-bayang wajah Sehun kembali melintas dalam kepalanya. Memunculkan rasa rindu untuk pria beranak satu itu.
Flashback off
"Konyol ..." gumamnya frustasi dan memilih fokus kembali pada jalanan yang ia lalui. Perlahan mobil yang dikemudikannya mulai memasuki kawasan perumahan elit, hingga berhenti di salah satu rumah dengan halaman depan yang cukup luas.
Garasi rumah orang tuanya berada di luar, tepat di sebelah gerbang utama. Setelah memarkirkan mobilnya, Luhan bergegas masuk ke dalam rumah. Ia berpapasan dengan Seo Kangjoon, pria yang bekerja sebagai asisten pribadi ayahnya sejak Luhan dan Yifan masih kecil. Bersama istri dan putrinya yang kini berusia 23 tahun, mereka ikut tinggal di rumah keluarga Xi. Itu semua atas permintaan Yifan dan Luhan agar menemani orang tuanya, selagi Yifan berada di China dan Luhan yang memilih tinggal mandiri di Seoul.
"Oh, Nona Luhan?" Kangjoon membungkuk sopan pada Luhan.
"Bagaimana kabarmu, Ahjussi?"
"Saya baik," Kangjoon tersenyum senang. "Bagaimana kabar Nona?"
"Aku baik, tapi belakangan tidurku terganggu," Luhan sedikit berbohong. "Sepertinya aku merindukan appa dan eomma. Itu sebabnya aku datang ke sini."
"Tuan dan Nyonya pasti senang dengan kepulangan Nona," kata Kangjoon.
Luhan ikut tersenyum, lalu melangkah masuk ke dalam rumah dengan ditemani Kangjoon. Karena sudah tidak sabar, Luhan sedikit berlari agar segera bertemu orang tuanya.
"Appa! Eomma!" teriaknya sambil sibuk mengganti sepatu high heels-nya dengan sandal rumah. Kontan saja teriakannya yang keras itu membuat dua orang paruh baya yang sedang asyik menonton TV di ruang tengah menoleh kompak. Keduanya sontak tersenyum lebar melihat putri bungsu mereka pulang.
"Lulu!"
"Aish, Eomma selalu saja memanggilku, Lulu. Aku 'kan bukan anak kecil lagi," gerutu Luhan di sela menyambut pelukan ibunya—Kim Haneul.
"Sampai kapanpun kau tetap bayi besar kami, Lu," kali ini sang ayah—Xi Shuhuan—yang menimpali.
"Lihat, bahkan kebiasaanmu yang satu ini tidak pernah berubah," Tn. Shuhuan mencubit gemas pipi Luhan ketika sang putri mengerucutkan bibirnya imut.
"Appa!"
Tawa Tn. Shuhuan berderai, diikuti Ny. Haneul yang kini berdiri di sebelahnya.
"Kenapa tidak memberitahu kami jika kau akan datang ke sini?" tanya Ny. Haneul.
"Aku ingin memberi kejutan," jawab Luhan dengan senyum lebarnya.
"Tapi kami sama sekali tidak terkejut. Terakhir kau ke sini 'kan 1 minggu yang lalu," kata Ny. Haneul polos.
Tn. Shuhuan mengangguk setuju, "Benar. Jika Yifan yang tiba-tiba muncul di depan kami, baru namanya kejutan."
Seketika wajah Luhan cemberut. "Appa dan Eomma menyebalkan!"
"Bercanda, Lu," balas orang tuanya kompak. Mereka memang senang menggoda putri bungsunya ini.
"Mau membantu eomma menyiapkan makan malam?"
"Hyejin-ahjumma sedang tidak di rumah?" tanya Luhan pada Kangjoon.
"Hyejin dan Yoojung sedang di Busan, Lu. Mengunjungi kerabat mereka di sana," itu jawaban dari Tn. Shuhuan.
"Kenapa Ahjussi tidak ikut?"
Kangjoon tersenyum, "Bagaimanapun saya sudah berjanji akan menemani Tuan dan Nyonya di sini."
"Dia keras kepala, Lu," bisik Tn. Shuhuan. "Sudah kusuruh ikut istri dan anaknya tetap saja menolak."
Luhan tertawa, sedangkan Kangjoon hanya tertunduk malu. Setelah obrolan singkat itu, Luhan bergegas ke dapur membantu ibunya menyiapkan makan malam. Tampaknya suasana hati wanita itu kembali membaik setelah bertemu orang tuanya dan Kangjoon. Semoga saja.
..
..
..
Suasana di rumah keluarga Xi terasa ramai berkat kedatangan Luhan. Wanita ini tak henti-hentinya melempar lelucon pada orang tuanya, bahkan pada Kangjoon yang ikut makan malam bersama mereka. Sudah menjadi rahasia umum, jika si bungsu dari 2 bersaudara ini selalu menjadi moodmaker di tengah keluarga mereka.
"Lu?"
"Ne, Eomma?"
"Kapan kau mengenalkan calon suamimu pada kami?"
"Uhuk!"
Kangjoon buru-buru menyodorkan air minum untuk Luhan, "Nona tidak apa-apa?"
Luhan segera menenggak habis minuman yang diberikan Kangjoon, lalu sedikit melotot ke arah ibunya yang kini meringis lebar.
"Apa tidak ada pertanyaan lain, Eomma? Tiap kali ke sini, Eomma selalu menanyakan itu," kesal Luhan.
"Sayangnya tidak ada," Ny. Haneul mengedikkan bahunya cuek. "Ayolah, Lu. Berapa usiamu sekarang? Sudah waktunya kau menikah dan memberikan kami cucu."
"Oppa juga belum menikah," seperti biasa, Luhan menggunakan Yifan sebagai alasan menghindari desakan orang tuanya untuk segera melepas masa lajang.
"Yifan seorang pria. Tidak masalah jika nantinya mendapat wanita yang usianya lebih muda darinya. Beda denganmu. Kau itu seorang wanita dan usiamu sudah 27 tahun," Ny. Haneul menggelengkan kepalanya. "Mau sampai kapan kau menunda untuk menikah, hm? Appa dan eomma sudah tua, ingin segera menimang cucu."
"Aku belum menemukan pria yang cocok," jawab Luhan seadanya.
"Haruskah kami menjodohkanmu dengan pria pilihan kami?" Tn. Shuhuan ikut menyumbang pendapat. Tapi sepertinya ia salah bicara.
"Tidak! Aku tidak mau!" Luhan langsung menolak keras usulan ayahnya. "Sudah kubilang aku akan mencarinya sendiri. Aku tidak mau dijodohkan dengan siapapun."
Tn. Shuhuan dan Ny. Haneul hanya saling memandang pasrah. Menyerah menghadapi sikap keras kepala putri mereka yang selalu menolak usulan perjodohan.
Gara-gara topik pembicaraan itu, entah mengapa bayangan Sehun melintas dalam kepala Luhan. Wanita itu terdiam cukup lama, sampai tak menyadari ketiga orang lainnya sedang menatap ke arahnya.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Lu?"
"Eh?" Luhan terkesiap mendengar suara lembut ibunya. "Bukan apa-apa, Eomma."
Sayangnya Ny. Haneul termasuk orang yang pandai menangkap situasi. Ia yakin tadi sempat melihat rona merah di wajah putrinya. "Jangan berbohong pada, eomma. Tadi wajahmu memerah, Lu."
"Ti-tidak. Eomma pasti salah lihat," elak Luhan, tapi antara perkataan dan kondisi wajahnya tidak sama. Yang ada wajah Luhan sekarang semakin memerah.
Ny. Haneul tersenyum menyeringai pada suaminya yang belum menangkap situasi. Berbeda dengan Kangjoon yang ikut tersenyum melihat wajah Luhan.
"Hmmm ... sepertinya tidak lama lagi putri kita akan menikah, Yeobo ..." ujar Ny. Haneul pada sang suami. Namun sepertinya kinerja Tn. Shuhuan sedang lambat. Pria paruh baya itu masih mengerutkan dahinya, belum mengerti maksud ucapan sang istri.
"Luhan sedang jatuh cinta," lanjut Ny. Haneul.
"APA?!"
"Tidak, Appa. Eomma asal bicara," Luhan bersi keras mengelak ucapan Ny. Haneul.
"Kau tidak mau mengaku? Tidak masalah," Ny. Haneul mengeluarkan ponselnya. "Eomma bisa menghubungi Baekhyun atau Chanyeol. Mereka pasti tahu, siapa pria yang sedang dekat dengan putri eomma ini."
"JANGAN!"
Ny. Haneul terkikik puas. Gelagat Luhan jelas memperlihatkan ada sesuatu yang sedang disembunyikan wanita ini.
"Eomma," Luhan menarik napas panjang, "aku sedang tidak dekat atau jatuh cinta dengan siapapun. Oke?"
Ny. Haneul menggeleng, "Eomma tidak percaya. Apa yang terlihat di wajahmu sangat kontras dengan ucapanmu."
"Eomma ..." Luhan melirik pada Tn. Shuhuan yang sedang tersenyum geli. "Appa, bantu aku meyakinkan eomma."
"Appa tidak bisa, Lu. Kau tahu sendiri sifat eomma-mu," kata Tn. Shuhuan. "Sudahlah, mengaku saja jika kau memang sedang jatuh cinta."
Wajah Luhan semakin kusut. Ia pun beralih pada Kangjoon yang sedari tadi hanya memandangi ketiganya dengan wajah geli.
"Ahjussi ..." entah pilihan Luhan benar atau tidak untuk meminta bantuan pria paruh baya itu.
Kangjoon berdeham pelan, "Maafkan saya, Nona. Saya sependapat dengan Nyonya Haneul. Tadi wajah Anda memerah dan binar mata Anda sangat terang, seperti seseorang yang sedang jatuh cinta."
"Ahjussiiiii ..."
Lengkap sudah penderitaan Luhan selama makan malam itu. Menjadi bulan-bulanan ketiga orang paruh baya dalam topik pembicaraan yang berkaitan dengan pernikahan. Niat awal mengunjungi orang tuanya supaya suasana hati menjadi lebih baik, ternyata malah sebaliknya.
Dan lagi-lagi penyebabnya adalah Sehun. Pria yang selama 4 hari belakangan ini sudah mengacaukan pikiran Luhan.
..
..
..
Selesai mengunjungi rumah orang tuanya di Incheon, Luhan memutuskan pulang ke apartemennya. Semula Ny. Haneul memaksa Luhan untuk menginap di rumah, mengingat jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tapi rasanya sia-sia, karena pada akhirnya Luhan menolak dan bersi keras untuk tetap pulang ke apartemennya.
Entah apa yang ada dalam pikiran Luhan—sepertinya melamun lagi—ia kembali menghentikan mobilnya di depan supermarket langganannya. Setiap kali datang ke sana, Luhan kembali pada memori itu. Saat di mana ia menolong Haowen dan Sehun.
"Hhhh ... sebenarnya apa yang terjadi padaku?" Luhan memilih turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam supermarket. Ia putuskan untuk membeli beberapa minuman ringan—yang pasti bukan soda—dan beberapa camilan.
"Ah, Anda datang lagi Nona."
Luhan hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan petugas kasir. Wajar saja, selama 4 hari belakangan ini, Luhan selalu mendatangi supermarket itu tiap malam. Tidak peduli selepas pulang mengajar atau sengaja datang dari apartemennya.
Kadang Luhan merasa seperti orang bodah. Jika mengingat rencana Haowen yang akan pergi jalan-jalan bersama Sehun, bukankah nantinya mereka akan bertemu lagi? Sebab Sehun berjanji akan mengajak anaknya jalan-jalan asalkan Luhan juga ikut bersama mereka.
Hanya saja, Luhan merasa ragu. Ia tidak mempunyai nomor ponsel Sehun. Ia tidak sempat memintanya atau sebaliknya. Begitu pun saat Sehun meminjam ponselnya kemarin, Luhan sama sekali tidak menemukan nomor yang tertera dalam panggilan keluar waktu itu. Sepertinya sudah dihapus oleh Sehun.
Jika sudah begini, apakah Sehun nanti benar-benar akan mengajak Haowen ke kebun binatang di akhir pekan? Mengingat bagaimana Sehun—menurut Haowen—sering ingkar janji. Dan lagi, apa Luhan nanti benar-benar jadi diajak oleh mereka? Bagaimana mereka menghubungi Luhan? Apa nanti akan langsung mendatangi apartemennya?
"Ya ampun Xi Luhan, apa yang sedang kau pikirkan?" Luhan meremas rambutnya dan menggumam frustasi. Wanita itu buru-buru kembali ke mobilnya. Ingin secepatnya kembali ke apartemen dan membuang semua pikiran konyolnya itu.
Baru saja Luhan membuka pintu mobilnya, ia mendengar suara langkah kaki dari belakang.
"Lihat, siapa ini?"
DEG!
Luhan mengenali suara itu. Ia memberanikan diri untuk berbalik, dan seketika matanya membulat sempurna.
Dewi fortuna tampaknya sedang tidak berpihak pada Luhan. Ia bertemu lagi dengan ketiga preman yang sebelumnya menyasar Haowen dan Sehun sebagai korban mereka. Dalam hati Luhan mendengus kesal. Padahal 3 hari kemarin, sama sekali tidak terlihat tanda-tanda keberadaan ketiga preman itu. Kenapa sekarang mereka mendadak muncul lagi?
"Mau apa kalian?" tanya Luhan dengan suara sedikit bergetar. Situasi sekarang jelas berbeda dari sebelumnya. Jika kemarin Luhan datang sebagai penolong, tampaknya untuk malam ini ia ia menjadi sasaran mereka.
"Kami belum mendapatkan apapun hari ini. Dan beruntung kami bertemu lagi denganmu," ucap pria yang memiliki bekas luka di pipinya.
"Jangan kau kira kami takut denganmu sewaktu kau mengganggu aksi kami sebelumnya," pria yang mengenakan jaket kulit berwarna hitam semakin mendekati Luhan. Posisi Luhan benar-benar terpojok. Punggungnya sudah menyentuh pintu mobil.
"Kami menunggu waktu yang tepat untuk mengincarmu. Akhirnya malam ini kesempatan itu datang juga ..."
Luhan meneguk ludahnya dengan kasar. Bisa ia rasakan tubuhnya gemetar hebat mendengar ucapan ketiga preman sialan itu.
"Kalian ingin ponsel dan uangku?" Luhan buru-buru mengambil ponsel dan semua lembaran uang tunai dalam dompetnya. "Ambil saja! Dan sekarang biarkan aku pergi!"
"Tidak semudah itu, Sayang ..."
Bulu kuduk Luhan serasa berdiri saat tangan pria berjaket kulit itu mengelus pipi kirinya.
"Bukan itu yang kami inginkan, tapi ..." pria itu mendekatkan bibirnya di telinga Luhan, "... tubuhmu."
Luhan membeliak. Kalau masalah harta benda, Luhan masih bisa melawan. Tapi kalau sudah berhubungan dengan 'itu', ia benar-benar ketakutan. Takut kalau tidak bisa melawan dan berakhir tragis di tangan mereka.
DUAGH!
"ARGH!"
Dengan gerakan cepat, Luhan menghantamkan lututnya pada perut pria yang membisikinya tadi. Spontan saja rintihan sakit pria itu membuat kedua rekannya kaget. Mengetahui ada celah, Luhan langsung kabur meninggalkan lokasi. Ia berlari menuju supermarket, bermaksud meminta pertolongan karyawan di tempat itu.
Sayangnya, salah seorang dari mereka bergerak lebih cepat. Ia mencekal tangan Luhan lalu membekap mulut wanita itu dengan saputangan yang sudah diberi cairan khusus. Dalam hitungan detik, mata Luhan terpejam. Ia tak sadarkan diri.
..
..
..
Di sebuah ruang kerja yang mewah, tampak seorang pria sedang berkutat dengan setumpuk pekerjaan. Wajahnya terlihat lelah, dengan mata mulai terkantuk-kantuk. Memaksa ingin terpejam agar ia segera pergi ke alam mimpi.
DRRT! DRRT!
Fokus pria itu teralih sejenak pada panggilan masuk di ponselnya. Menyadari siapa yang menelepon, mata pria itu langsung terbuka lebar.
"Halo?"
"..."
"Kalian sudah berhasil?"
"..."
"Kerja bagus. Segera bawa dia ke tempatku."
PIP!
Kabar yang baru saja diterima pria itu mampu mengubah mood-nya. Tak ada lagi wajah lelah pada pria itu. Kini yang terlihat hanya wajah senang disertai seringaian khas miliknya.
TO BE CONTINUED
05 Februari 2016
A/N : Halo, akhirnya bisa juga nulis kelanjutan FF ini. Terima kasih atas respon positif dari kalian untuk chapter 1 kemarin *bow*. Kalau ada yang nanya ini nanti konfliknya gimana, saya sendiri belum tahu *gubrak*. Yang jelas nikmati aja #nyengir di pojokan#
Special Thanks to :
Miku Onekawa, Selenia Oh, psw7, Baekkiechuu, laabaikands, Angel Deer, KMHHS, deerhanhuniie, Guest, hnana, kenlee1412, bshdn, Juna Oh, Annishi692, Seravin509, fairylatte, Arifahohse, wildan . sky . 45, Hyomilulu, Ale Genoveva, gaemgyu96, Guest, misslah, yousee, nisarama, NoonaLu, Husnul28, RealCY, sehundick, niasw3ty, Kim YeHyun, caca, Skymoebius, lulu-shi, Light-B, rosa . lia931, HUNHANyue, Nurul999, Annisawinds, Loveshunluhanforever, DinkyAA, ramyoon, BiEl025
Terima kasih banyak ya (^_^)
