HUMANVAMPIRE'S LOVE
Pasti banyak yang berpikir kalau FF ini ceritanya sama kayak twilight. Hemm aku sebagai author kurang setuju sih karena detail dari alurnya berbeda walaupun intinya sama yaitu vampir dan manusia saling jatuh cinta hehehe. Banyak kok cerita dengan tokoh vampir seperti Blade, vampir diary, underwold dll. Si Author tidak begitu hafal dengan JURUS-JURUS setiap tokoh jadi maklum ya kalau ada yang salah. Semoga kalian suka yaa dan jangan lupa kritik dan sarannya.
Naruto tak tahu harus bagaimana menangani gadis ini. Dia benar-benar tak tahu apa yang sudah diperbuatnya sehingga membuat gadis ini pingsan sampai-sampai hidungnya berdarah. Naruto melihat sekelilingnya, dia ingin meyakinkan dirinya sendiri kalau disekitarnya tak ada orang lain. Tak ada ide sama sekali kemana dia harus membawa gadis ini. Dengan terpaksa Naruto membopong gadis itu dan berjalan menuju kursi panjang yang terdapat dipinggiran jalan dengan penerangan lampu yang remang-remang diatasnya. Naruto menghela nafas panjang, dia melihat wajah polos seorang gadis yang terbaring diatas pahanya. Mata Naruto sekang tertuju pada sebercak darah segar dibawah hidung gadis itu. Tangan kirinya perlahan mengusap darah yang berwarna merah kehitaman. Aneh, ini sungguh aneh. Naluri vampirnya tak lagi tergerak dan bernafsu walaupun darah segar ada dihadapannya. Naruto mendekatkan jari jemarinya diindra penciuman yang ia miliki untuk meyakinkan diri sendiri atas keganjilan yang mendera dirinya. Bau anyir darah tercium jelas oleh indra penciumannya. Benar, tak ada lagi rasa ingin meminum darah manusia ataupun daging mereka untuk santapan makan malam. Naruto sangat gembira dengan perubahan signifikan yang telah terjadi dalam hidupnya. Senyum kebahagiaan terukir jelas dibibirnya, akhirnya dia menang melewati semua tantangan yang ia ajukan pada dirinya sendiri. Tatapannya kini beralih kesetiap jengkal ukiran Tuhan yang ada diwajah gadis yang menurutnya polos. Setelah diperhatikan secara seksama gadis ini tampak cantik, manis serta menarik dimatanya.
Kegelapan dimata Hinata lama-kelamaan memudar. Matanya perlahan terbuka lebar, setengah sadar dia melihat sosok pria berambut kuning mengkilat dihadapannya. Wajah itu tampak bersinar terang dibawah cahaya lampu. Pria tampan itu tersenyum ramah. Hinata masih berfikir kenapa wajah pria itu begitu dekat dan tepat berada diatasnya lalu kenapa dia merasakan sesuatu yang empuk namun sangat dingin ditengkuk kepalanya. Kesadaran Hinata datang sepenuhnya, sesuatu yang empuk namun dingin itu adalah paha pria berambut kuning ini yang dijadikan bantal untuk menopang kepalanya. Mata mereka beradu sepersekian detik, saat itu juga mereka merasakan sesuatu yang hangat memenuhi seluruh isi kepalanya. Kehangatan yang Naruto dan Hinata rasakan membuat semburat merah namun samar di kedua pipi mereka. Hinata segera bangkit dan duduk sedikit menjauh dari Naruto.
"Ma..maafkan aku….!" ucap Hinata malu-malu. Suaranya yang halus dan lirih menambah kesan imut didalam diri Hinata. Semakin lama wajahnya semakin memerah.
"Kau tidak perlu meminta maaf, aku hanya menolongmu. Sebenarnya aku bingung harus membawamu kemana, jadi aku memutuskan untuk menunggumu sampai siuman" Naruto mengatakan itu semua dengan senyuman tapi Hinata hanya terdiam terpaku melihat senyum Naruto dengan wajah yang terus memerah penuh dengan perasaan kagum. "Hajimemasite, Watashi wa Naruto desu! Yoroshiku Onigai Shimasu"
Naruto mengulurkan tangannya dengn senng hati, namun Hinata hanya memandang telapak tangan itu bingung. Dia tak harus membalas atau diam saja karena dia terlalu gugup melakukan itu semua. Naruto heran melihat tingkah gadis ini.
"Apa kau tak mau berteman denganku?" tanya Naruto pada Hinata dengan suara lesu.
"Bu..bukan begitu Naruto-kun. Watashi wa Hinata desu! Yoroshiku Onigai Shimasu " ucap Hinata gugup.
"Kalau begitu ayo kita berteman hehehe" Naruto mengenggam tangan kanan Hinata dan memaksa Hinata untuk membalas jabatan tangannya sebagai tanda pertemanan. Dingin, itu yang Hinata rasakan dari setiap pori-pori kulit Naruto.
Kepala Hinata semakin panas dan seakan mau meledak. Baru pertama kali ini dia merasakan hal aneh saat berjabat tangan dengan seorng pria. Dadanya bergemuruh, detak jantungnya tak lagi berirama secara normal. Hinata tak tahu perasaan aneh macam apa ini. Hinata tak menyadari kalau cairan merah kehitaman keluar lagi dari hidungnya. Kejadian ini akan terus terulang ketika dia bertemu dengan pria yang Hinata anggap sangat tampan serta menarik dimatanya. Terakhir kali dia mengalami kejadian sekitar sepuluh lima tahun yang lalu, ketika dia jatuh cinta kepada kakak kelasnya. Apa benar dia jatuh cinta lagi?.
"Ehm..Hinata, hidungmu berdarah lagi. Apa kau sakit?" ucap Naruto sambil menunjuk ke hidung Hinata.
"Ti..Tidak, aku memang sering seperti ini" jawab Hinata gelagapan.
Hinata melepaskan genggaman tangannya dari genggaman tangan Naruto. Dia kemudian menunduk karena malu, Hinata tak bisa kalau harus melihat wajah Naruto terlalu lama. Uluran tangan seseorang dengan sebuah saputangan bermotif katak berwarna hijau membuat dirinya tersentak. Lagi-lagi Naruto tersenyum manis kepada Hinata untuk kesekian kalinya. Senyum macam apa itu? batin Hinata.
"Pakailah saputanganku untuk membersihkan darahmu".
"ArigatouNaruto-kun" Hinata mengambil saputangan Naruto sedikit ragu.
"Baiklah, aku akan pergi untuk makan ramen. Apa kau ikut?" ajak Naruto. Hinata meggelengkan kepalanya tanpa ragu. "Tentu saja kau tidak segampang itu menerima ajakan pria asing sepertiku. Sayonara Hinata-chan".
"Kapan aku bisa bertemu denganmu lagi?".
"Mungkin setiap hari, karena aku suka berkeliling Konoha dimalam hari hehe".
Bayangan Naruto dimata Hinata semakin lama semakin memudar didalam kegelapan. Hinata begitu bahagia kala berjumpa dengan sosok pria tampan yang bernama Naruto. Dia baru pertama kali bertemu dengan Naruto, Hinata yakin dia bukan penduduk Konoha. Hinata melihat saputangan pria itu dan berpikir sejenak.
"Dia sangat tampan".
Disebuah malam yang sunyi dan jauh dari keramaian Konoha, ada beberapa kelompok orang sedang berkumpul dan membahas sesuatu yang serius. Mereka terlihat seperti sebuah organisasi kecil. Rumah tua dengan dinding bercat putih yang sudah terkelupas dan berlumut, Pintu kayu yang tua, sehingga membuat suara decitan setiap kali orang menarik ataupun mendorongnya. Disetiap dinding rumah kecil ini, terdapat ornamen-ornamen aneh yang berhubungan dengan vampir. Sepuluh anak muda sedang berkumpul dan nampak serius, mereka bernama Neji, Lee, Ino, Tenten, Karin, Itachi, Deidara, Sasori, Shino dan Kakashi. "Fea" adalah nama dari organisasi ini. Arti dari kata Fea adalah semangat atau Spirit. Organisasi Kecil yang bertugas untuk memusnahkan Vampir dan melindungi kota dari kelompok vampir. Fea didirikan oleh seorang pemuda berbakat dan sangat kuat yang bernama Uchiha itachi.
Organisasi Fea berkumpul untukmerencanakan patroli disekitar Hutan yang mengelilingi kota. Hampir setiap hari selalu ada satu warga yang menjadi korban vampir-vampir kelaparan. Tapi malam ini mereka berharap tak ada lagi yang menjadi korban. Organisasi ini sangat tertutup dan tak ada seorangpun yang tahu kecuali diri mereka sendiri. Selain tertutup organisasi ini hanya beranggotakan orang-orang yang memiliki kekuatan khusus. Itachi terlihat membentangkan sebuah peta Kota Konoha, dia mulai memberi arahan kepada anak buahnya.
"Baik, malam ini kita akan melakukan patroli. Aku dengar, kemarin salah satu warga ditemukan ditewas di batas barat kota dan dua hari yang lalu korban lain ditemukan dibagian timur kota. Jadi, aku akan membagi kelompok kita menjadi dua tim. Neji, Lee, Tenten, Shino, Kakashi kalian adalah Tim Barat. Sedangkan sisanya adalah Tim Timur. Apa kalian mengerti?" Ucap Itachi penuh ketegasan.
"Baik kami mengerti!"
"Itachi-san, kenapa kau memisahkanku dengan Neji?" protes Karin atas keputusan Itachi. Karin adalah perempuan yang begitu mencintai Neji namun Neji tak begitu menghiraukan perasaan Karin.
"Jika satu tim dengan Neji, kau hanya akan menyusahkannya saja. Lagipula Karin, setiap Tim harus ada sseorang yang memiliki kekuatan pelacak" jawab Itachi penuh kesabaran.
"Tapi di Tim Barat sudah ada Shino!" sanggah Karin semakin berapi-api.
"Karin, ikutilah apa yang disarankan Itachi, kau adalah seorang pemilik kekuatan pelacak yang hebat jadi hanya dengan kekuatanmu saja, kau sudah menjangkau wilayah pelacakan cukup jauh. Sedangkan aku masih butuh Shino!" Neji mencoba memberi pengertian kepada Karin. Karin terdiam den menuruti semua perkataan Neji.
"Wakatta" ucap Karin dengan perasaan enggan.
"Sekarang, ayo kita bergerak!" perintah Kakashi.
Tim Neji sudah memasuki kawasan hutan sebelah Barat. Suasana begitu gelap, dingin dan sedikit mencekam. Tak ada satu pendudukpun yang berani berkeliaran disini, kecuali hanya mereka yang memiliki kekuatan khusus. Neji bersama yang lainnye berudaha fokus dan konsentrasi untuk mencari musuh.
"BYKUGAN!" ucap Neji penuh penekanan. Byakugan adalah kekuatan matan Neji memiliki radius penglihatan sejauh delapan ratus meter. Byakugan bisa mendeteksi dan melihat apapun dalam jangkauan penglihatan.
"Mushi bushin No jutsu!" gumam Shino, tak lama ratusan bahkan ribuan serangga keluar dari tubuh Shino dan meniru persis fisik Shino. Shino membagi beberapa serangga untuk menjadi bayangannya dan menyebar diseluruh wilayah Hutan bagian barat.
Neji terus berkonsentrasi mencari musuh yang ada disekitarnya. Beberapa detik kemudian dia merasakan ada seorang dengan chakra berbeda. Chakra yang dihafalnya yaitu chakra seorang vampir. Neji sedikit heran, karena chakra ini terasa hangat tidak dingin seperti chakra vampir lainnya.
"Aku menemukannya, vampir itu ada diarah jam dua" Ujar Neji.
"Yosh, aku sudah tidak sabar untuk menghajarnya!" ucap Rock Lee penuh semangat.
Neji dan kawan-kawan merubah arah dan mengejar kemana vampir itu pergi. Mereka terus mempercepat pengejaran namun sepertinya, vampir itu bisa merasakan kehadiran mereka walaupun dalam radius lima ratus meter.
"Sia! Sepertinya dia sudah merasakan kehadiran kita!" gerutu Neji penuh amarah.
"Jangan khawatir Neji, serangga bayangku sudah mendekatinya!. Kita pasti bisa menghabisinya". Ucap shino layaknya semangat api yang membara.
TO BE CONTINUE
