HELL-o My?
Chapter 2
-
Sudah tiga kali tapi panggilan telpon ku masih saja tak di angkat. Hanya ada suara wanita dengan kata-kata yg sama "Nomor yg anda tuju tidak menjawab" Rasanya ingin sekali aku membuang ponsel ini ke tong sampah.
Panggilan ke-4 dan seseorang menyahut,
"Hallo hyung…."
"Tak bisakah kau lebih cepat menjawab panggilanku?"
Jawabku ketus, karna memang mood ku sedikit hancur.
"… maaf hyung, kau tau aku harus latihan—"
"Sudahlah, terserah saja"
Dengan cepat aku mengakhiri panggilan itu dan mematikan ponselku.
Entah sudah berapa lama aku berdiri disini, menunggu kelas bubar dan segera masuk kesana menghampiri seseorang yg sedari tadi menjadi objek ku. Dia sedang berlatih tapi seperti nya tidak berkonsentrasi dg baik karna yg ku lihat dia beberapa kali tersandung dan menabrak teman- teman nya.
Terlihat sang guru menginterupsi dan mengistirahatkan semua muridnya lalu mulai memarahi salah satu dari mereka karna telah membuat kacau.
Setelah mendapat tanda dari sang guru yg kebetulan adalah jung hoseok, aku segera mendorong pintu kaca itu dan masuk ke dalam. Sebuah ruang latihan menari milik jung hoseok, cukup menarik dan mewah.
Semua mata beralih padaku, menatap heran lebih tepatnya. Tiba-tiba aku merasa seperti terintimidasi oleh tatapan para bocah SMA ini. Aku mendecih kesal, dan segera memukul epala hoseok.
"Katakan pda murid-murid mu ini, kalau aku bukan untuk menjadi bagian dari mereka…"
celosku sinis. Semua orang hanya ber-oh ria di susul suara tawa hoseok.
"oh hosikie-ku … haruskah aku memukul atau memotong kepala mu di depan semua murid mu ini?
Aku menatap sinis pada jung hoseok yg sedang tertawa terpingkal dg memegangi perutnya. Dia berhenti tertawa dan mulai berakting lucu dan benar-benar membuatku muak.
"baik lah semua…"
Hoseok kembali menarik atensi semua murid nya, lalu merangkulkan tangan nya di bahuku.
"… seperti yg sudah dia katakana tadi, dia bukan mau menjadi bagian dari kalian melainkan dia adalah teman ku dan datang kesini untuk menjemput seseorang lalu memaksaku untuk mengizinkannya…"
Nada bicara hoseok benar-benar membuat ku ingin menghancurkan kepala nya saat ini juga, dengan menekankan kata 'seseorang' dia menyikut perut ku.
"Jimin, kau boleh pulang…"
hoseok beralih menatap seseorang yg berdiri membatu di sampingku. Dengan ekspresi kaget yg sangat lucu dia meraih tas dan sweater nya, sedikit gugup.
"Tap kenapa?"
salah seorang murid hoseok bertanya dengan tatapan protes di ikuti tatapan teman-temannya yg lain.
"Karna seseorang memaksaku…"
hoseok melirik ku yg hanya ku balas dengan decihan kesal.
Aku meraih tas jimin dan menarik tangan nya,
"Bersenang-senanglah kawan!"
teriak hoseok tepat di kupingku. Sesaat aku hanya terdiam karna kuping ku berdengung.
menarik dg cepat pintu kaca itu dan melangkah keluar dari studio. Sebelum aku membanti pintu terdengar suara pelan hoseok,
"jangan lupa pengaman, karna dia masih SMA…"
"Shit!" umpatku lalu membanting pintu kaca tersebut.
.
.
.
Saat ini aku dan jimin sedang berada di sebuah taman di pinggir sungai. Kami berpelukan satu sama lain, jimin tak mau melepas pelukan nya padaku meskipun banyak orang berlalu-lalang.
Tangan ku terangkat untuyk mengusap saying surai hitam nya yg halus, memberikan kecupan lembut pada puncak kepala nya.
Ada dua cangkir kopi yg terletak di bangku taman tak tersentuh sama sekali sejak aku dan jimin memilih duduk di sini.
Tak terasa matahari pun sudah mulai menyembunyikan diri. Cahaya orange bercampur merah muda mulai berganti menjadi langit malam.
Yg aku lakukan dengan jimin sedari tadi hanyalah melepas rindu, mengagumi perubahan satu sama lain, bercerita ini itu, berkeliling taman dengan sepeda yg kami sewa, berlarian, menuruti kemauan jiminy g ingin melepas merpati atau menerbangkan balon, membeli beberapa pernak-pernik seperti bandana kelinci yg sekarang terpasang di rambut ku dan jimin yg lebih memilih bandana kucing.
Kami benar-benar menikmati pemandangan sunset, berjalan menyusuri taman sambil bergandengan tangan, memakan habis 1 cone eskrim vanilla kesukaan jimin.
lampu-lampu taman mulai di nyalakan satu persatu, mengganti suasan hijau menjadi kemerlap warna-warni. Ada beberapa orang yg mulai menaiki kapal kecil. Aku segera menarik tangan jimin dan berjalan menuju loket pembelian tiket.
Jimin tak henti-henti nya melontarkan kata-kata kagum pada property kapal tersebut. Sebuah kapal kecil yg di dalamnya dii desain seperti sebuah kapal persiar mewah ala eropa. Dengan dua kamar, satu bar dan satu ruang makan.
kapal pun mulai bergerak. Aku dan jimin masih asik menyusuri setiap ruangan yg ada. Jimin pun menghampiri sebuah pintu dg ornament emas, menarik dan membuka pintu lalu berjalan masuk. Aku mengikuti nya dari belakang. Sebuah ruangan dengan satu ranjang big size, satu sofa, dan beberapa interior mewah lain nya.
Posisi kamar ini tepat di sisi kapal yg langsung berhadapan pada pemandangan malam taman dan sungai. Jimin berdiri dipagar pembatas, melihat sekeliling. Aku menglangkah mendekati jimin.
Tangan ku menelusup di sela pinggul nya, memeluk pelan perut jimin dan menuntunnya untuk bersandar di dadaku.
Perlahan aku mendaratkan sebuah kecupan lembut di perpotongan lehernya. Menghirup aroma blueberry pada tubuh nya yg sedari tadi memabukkan ku. Kecupan demi kecupan ku berikan pada leher dan bahu indah nya, aku mulai menggigit pelan bagian leher dan bahu nya, mengulum lembut meninggalakan sebuah tanda merah keunguan di sana. Menandakan dia adalah milikku, memberitahu kan pada dunia kalau Min Yoongi telah kembali pada park jimin.
Jimin mengeram pelan saat aku memainkan lidah ku di rongga mulutnya. Menarik, mengecap, menghisap dan mengulum lidah serta bibir plum nya dengan irama yg mulai menuntut. Tak ada perlawanan, jimin turut memainkan lidah nya, memejamkan mata dan menekan tengkuk ku untuk semakin memperdalam ciuman ku pada nya. Beberapa kali jimin menggigit bibir ku karna kehabisan oksigen.
Aku berjalan menuntun nya menuju ranjang, menghempas pelan tubuhnya dan mulai kembali menjilat pipi hingga selangka nya. Jimin terus melenguh pelan, tangan ku mulai bermain di area dada nya, mengusap dan mencubit tonjolan kecil yg mulai menegang itu.
Tanganku kini berada di perut atletis nya, walaupun dia adalah bottom tapi dia tidak pernah melewatkan waktu untuk membentuk otot-otot pada tubuhnya.
Tubuh jimin mengejang saat aku mengulum tonjolan kecil di dadanya. Tangan jimin terjulur meraih rambutku, meremas kuat lalu menekannya, menyalurkan semua rangsangan yg aku lakukan pada nya.
Aku masih asik menyusu pada nya. Membelai dan memilin nipple kirinya. Kini tangan ku mulai bergerak menuju pinggul jimin, mengusap nya dengan seduktif. Beberapa erangan kecil lolos dari bibir tanpa dosa nya.
Tangan ku meraih gespernya dan menurunkan resleting jeans jimin, dengan sengaja ku gesekkan tangan ku di bagian privat nya yg mulai mengembung.
Tiba-tiba jimin memengang tanganku lalu duduk dan menggeser tubuhnya ke sisi ranjang.
Aku menatapnya heran menunggu penjelasan.
Jimin hanya menunduk dan mengguma pelan,
"ma..maaf hyung…" lalu kembali membenarkan baju nya yg tersingkap dan mengancingkan kembali celananya. Berdiri dan melangkah keluar kamar meninggalkan aku sendirian.
Aku dan jimin sudah kembali berada di taman, menyebrang sungai dengan perasaan canggung dan diam. Tak ada obrolan sedikitpun setelah kejadian di kamar tadi. Jimin terus menunduk, melihat ponsel, atau apapun yg membuatnya tak menatapku.
Aku hanya mengikuti jimin, berjalan di belakang nya beberapa langkah. Memikirkan apa yg salah dan mencari keputusan apakah aku harus meminta maaf atau besok saja. Sampai akhirnya lamunanku buyar saat jimin melambaikan tangan mencoba menyeto taxi.
"Aku akan mengantar mu pulang…"
uacapku meyentuh tangan nya dan aku segera berlari menuju parkiran. Mengumpati kebodohan ku yg tak sadar saat jimin melangkah keluar taman.
jimin meraih helm yg aku sodorkan, memakai nya lalu duduk di bangku belakang. Tangan nya terulur untuk meremas ujung jaketku, bukan lagi memeluk pinggangku seperti tadi saat kami menuju taman ini.
.
.
Aku menghentikan laju motorku di depan sebuah rumah berlantai 2 berwarna coklat muda. Seperti kata jimin tadi, rumah nya sedang di renovasi jadi terpaksa dia menginap di rumah Taehyung, teman sekelasnya.
"jim, maaf soal tadi. Aku hanya—"
"ini helm nya…"
jimin menyela kata-kataku lalu menyerahkan helm yg tadi ia kenakan.
Tangan ku terulur untuk mengusap rambutnya, menyusuri pipi dan dagu nya. Menarik pelan, mencoba mengikis jarak. Wajahku mencondong mendekati wajahnya.
Tiba-tiba jimin melangkah mundur saat aku akan mendaratkan sebuah kecupan di bibirnya. Lagi-lagi aku harus menelan kekecewaan, di tambah muncul nya sosok taehyung dari balik pintu gerbang.
"jimin kau sudah pulang?"
suara bass nya memecahkan keheningan, lalu dia membungkuk ke arahku. "ah halo hyung.."
Aku membalasnya dg senyuman, melirik jimin yg berringsut ke sampiing taehyung.
"jimin sering bercerita tentang mu hyung, mau mampir untuk minum tek?"
sambut taehyung yg melirik aku dan jiminy g terlihat canggung.
"…."
"tak usah tae, suga hyung harus segera pulang…"
entah untuk yg keberapa kalinya jimin memotong kata-kataku.
"ah begitu, saying sekali haha. Kalau begitu lain kali kau harus mentraktirku hyung.."
ucap taehyung yg menampilkan cengiran kotak nya.
Setelah berpaitan pada jimin dan taehyung aku segera melajukan motorku ke jalanan malam kota dg kecepatan 180/km.
Mood ku hacur berantakan,. Di tambah pikiranku yg mencoba menemukan apa yg salah sehingga aku harus ,mendapat aksi diam dari jimin. Berpuluh-puluh kemungkinan memenuhi rongga kepalaku.
"kenapa?"
Atau ,
"apa?"
To be continued-
Note:
Halo! Anak baru balik bawa chap 3, maaf telat :"V aku ga ngerti yg baca ada berapa/?
But thanks yg udah baca. Thanks banget buat kamu yg komen kemaren :* thanks buat yg follow dan fav .. unch saranghae .g
Komentar, masukan dan saran sangat di butuh kan saying ku … salam kenal yaaa 3
