Konnichiwa minna-san!

Aku kembali~ *lambai-lambai XD

Gimana yang sudah baca Ch1? Semoga yang ke 2 tidak mengecewakan kalian semua ;_;

oke, cukup basa basinya. ini dia silahkan di baca ^^/


Chapter sebelumnya :

Ino mencoba kabur dari kediaman Hyuuga karena mendengar percakapan anggota klan.

Ino terus berlari yang akhirnya tersesat dan karena lengah, kedua kakinya mengalami cidera. Tak di sangka Neji datang menyelamatkannya dan menggendongnya sampai rumah.

Siapa yang tahu kalau Neji itu begitu perhatian?

Be a Bride

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

This fiction in mine :D

Rate : T

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Warning : Canon, OOC *maybe, Typo, dll

Latar setelah perang ninja dan Hyuuga Neji tidak mati.


Setelah menggelung rambutnya dan memakai yukatanya yang sudah di sediakan, Ino keluar dari kamarnya dan bergegas ke dapur. Kamarnya?! Mungkin maksudnya kamar mereka berdua.

Ino memang satu kamar dengan Neji, tapi mereka pisah futon. Ino sudah mengutarakan pendapatnya tentang masalah ini, dan sang empunya kamar setuju setuju saja, asalkan tidak ada orang yang tau. Kalau tahu bisa dihadiahi ceramah panjang nantinya.

Ah, Ino rasa memang ia tak perlu repot memikirkan sifat Neji yang dingin. Pasti pria itu punya alasan tersendiri kenapa bisa seperti itu. Ino hanya ingin menjadi dirinya sendiri yang ceria dan berpikir positif kedepan.

.

Sambil menyapa beberapa orang yang lewat, Ino tersenyum simpul mengingat kejadian semalam.

Benar apa kata Neji, orang di kediaman Hyuuga khawatir akan dirinya yang hilang dengan tiba-tiba. Dan kepulangannya bersama sang calon suami dengan posisi digendong, mau tak mau membuat tanda tanya di kepala para Hyuuga, dan Neji dengan lihainya berkata bahwa Ino tersesat saat mencari orang dan terkilir saat menggunakan geta, maka dari itu dia menolongnya.

Tapi baru Ino ingin mengucapkan terimakasih, ucapan Neji membuatnya terkejut. Ia meminta Ino untuk segera mengganti pakaiannya, yang menurutnya kurang sopan dengan wajah dingin.

"Huh, baru bersikap baik, kemudian dingin kembali." Batin Ino.

Ino terkikik kecil mengingat kejadian itu. Tak disangka oleh Ino, Neji pandai berkilah juga. Satu rahasia sang Hyuuga sudah diketahuinya.

.

Sesampainya di dapur. Ino melihat beberapa anggota klan yang sedang mempersiapkan makan pagi, termasuk Hinata. Dengan sopan ino mengucapkan salam pagi dan di balas oleh ucapan serupa.

"Hei Hinata-chan. Kau bangun pagi sekali" sapa Ino.

"Ti-tidak ko Ino-chan, aku baru sampai sekitar 10 menit yang lalu. Ino-chan ju-juga bangun pagi rupanya" balas sang heiress.

"Tidak menyangka ya, gadis sepertiku bangun pagi? Ehehe. Aku terbiasa bangun pagi untuk mengurusi bunga-bunga ku sih. Lagipula ini tempat baruku, aku masih belum bisa beradaptasi dengan kamarnya." Jelasnya. Ngomong-nogomong soal kamar Ino teringat Neji.

"Ohiya, sepupumu mana sih? Sejak aku bangun dia sudah tidak ada dikamar." Tanya Ino sambil mengocok beberapa telur, Ino terihat lihai sekali.

"Ne-Neji-nii-san selalu bangun pagi untuk latihan di halaman belakang sebelum pergi."

"Oh, rajin sekali. Pergi? Maksudmu dia seorang pengajar shinobi juga?" Tanya Ino lagi.

"Be-begitulah"

Seketika Ino mendapat pemikiran untuk membuat bekal untuk Neji nanti.

Hitung-hitung balas budi karena menggendongku semalam.

.

.

.

"Ne..Neji-kun, tunggu!" teriak Ino sambil berlari. Neji yang melihatnya hanya menengok meperhatikan sang gadis berambut pirang ini terengah mengejarnya yang sudah berada dipintu gerbang mansion. Dengan pakaian seperti itu, juga geta yang kaku, Ino belum terbiasa bergerak cepat.

"Ini, bawalah! Aku tak melihatmu sarapan tadi, jadi ini bekal untukmu" Ino menyodorkan sebuah kotak yang dibungkus kain.

"Kau tak perlu repot-repot, Yamanaka."

"Aku tahu, ini tidak mewah. Tapi , anggap saja ini tanda terimakasihku atas semalam. Dan satu lagi, panggil aku Ino ya, Neji-kun." Ino menyodorkan paksa bekalnya dan mengucapkan selamat jalan pada Neji disertai senyum indahnya. Sosok Neji pun menghilang dengan cepat seperti angin.

.

"Ne, Hinata. Apa yang akan kau ajarkan lagi padaku?" Tanya Ino.

Jika kalian bertanya dimana, Ino sedang berada di suatu ruangan bersama Hinata. Ino tau, pasti ia akan segera diajari tetek-bengek kesopanan dan hal-hal penting untuk menjadi seorang Hyuuga. Ah, baru sebentar ia berada di kediaman Hyuuga, tapi rasanya menyebalkan sekali.

"Ku-kurasa hari ini cukup, Ino-chan. Lagipula, peraturan terpenting sudah aku jelaskan. Ti-tinggal bagaimana Ino-chan menghadapinya, suka atau tidak" Hinata tersenyum tipis.

"Aku mengerti, tenang saja. hihi" Ino yang sadar akan tingkahnya segera memposisikan dirinya lagi. "Em, maksudku, ya aku mengerti nona." Ucap Ino dengan logat dan tingkah seperti bangsawan yang membuat Hinata geli.

"I-Ino-chan lucu ya." Semburat merah tipis terhias dipipinya.

"Habis, dari tadi tegang terus. Aku ingin kau lebih rileks, Hinata-chan."

"A-apa aku terlihat memaksakan diri?" Tanya Hinata ragu-ragu.

"Tidak ko. Aku hanya ingin berteman lebih dekat denganmu. Aku kan jarang bertemu kamu, Hinata-chan. Tiba-tiba menjadi calon keluarga dan satu rumah begini, aku juga merasa canggung lho." Sifat periang Ino muncul. Hinata pun tersenyum.

"Aku jadi mengerti kenapa tadi pagi Ino-chan jadi perhatian sama Neji-nii-san. orang-orang berpikir kalian terlihat seperti pasangan suami-isteri yang serasi. Hihi"

"A-apa?! Tidak ah. Bukan karena aku memutuskan untuk benar-benar menikah dengannya. Aku kan ngga enak kalau ketus juga pada Neji-kun. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri dan bersikap baik, walau sifatnya yang kadang bikin aku kesal juga." Wajah Ino dibuat cemberut.
"Be-begitu ya. Ohiya, Ino-chan, mau melihat kebun bunga di halaman belakang?" Hinata mengajak Ino yang disambut dengan senyum gembira oleh sang pemilik mata Aquamarine.

.

Sesampainya di halaman belakang, terlihatlah sebuah taman bunga dengan kolam ikan kecil di tengahnya. Walaupun ukurannya tidak terlalu besar, Ino sangat senang dan berharap untuk merawatnya saat itu juga.

"Waah, Hinata-chan, ini bagus sekali. Krisan, tulip, mawar, daisy, aster." Ino berjalan dijalan setapak sambil menunjuk beberapa bunga yang dilihatnya. "Ah, ada lavender dan edelweiss juga."

"Ino-chan senang sekali ya. Maaf kalau koleksinya tidak sebanyak di tokomu." Ino menggeleng.

"Tidak, aku senang ko Hinata-chan. Bolehkah aku merawat bunga-bunga ini?"

"Tentu saja." Ucap Hinata tersenyum.

Seharian itu, Ino dan Hinata duduk di tengah taman dan saling bercerita. Dan diketahuilah kalau Neji suka sekali bermeditasi ditengah taman bunga, karena suasananya yang tenang.

Tidak hanya terdapat taman bunga, dihalaman belakang juga terdapat lapangan yang biasanya digunakan untuk berlatih oleh keluarga Hyuuga dan kebun buah kecil yang ternyata dirawat sendiri oleh Hinata dan adiknya Hanabi.

Ino tidak menyangka, adik Hinata yang tomboy itu, senang merawat kebun. Senyum kecil pun terukir diwajah cantiknya.

Ino juga baru tahu kalau di belakang kediaman Hyuuga langsung menghadap ke gunung Konoha.

Pantas saja, semalam aku sampai nyasar ke gunung. Pikir Ino.

.

Hari beranjak sore, Hinata pamit kepada Ino untuk membantu Ran-baa-san yang membawa sayur-sayuran dari pasar untuk makan malam. Hinata juga memberitahu Ino, biasanya Neji pulang jika hari sudah sore.

Ino mengangguk dan berinisiatif menunggu Neji. Terpikirlah olehnya bekal yang dibuatnya untuk Neji.

Enak tidak ya? Apa dimakan? Bagaimana kalau dibuang?

Merasakan chakra yang familiar membuat Ino melupakan lamunannya. Ah, orang yang di tunggu sudah datang rupanya.

"Neji-kun, okaeri." Sambut Ino dengan senyum terkembang.

"Kau menungguku, Yama—"

"Ino!" Ino menyela. "Sudah kubilang, panggil Ino saja." Ralat Ino dengan wajah cemberut.

"Ck, seperti anak-anak saja." Ujar Neji dingin sambil berjalan.

"Biarin. Ohiya, bagaimana bekal buatanku?."

"Ini. Terimakasih, rasanya enak."

Raut wajah Ino pun kembali ceria. Ino membuka kotak bekalnya dan mendapati potongan labu yang tidak dimakan.

"Kenapa tidak dihabiskan? Ah! jangan-jangan kau tidak suka labu ya?" Tanya Ino. Yang ditanya hanya memalingkan wajahnya..

"Heeh~ sekarang siapa yang seperti anak-anak? Dasar." Didalam hatinya Ino tersenyum, satu rahasia lagi yang ia dapatkan.

.

.

.

Hari demi hari, Ino lewati dengan menyibukan dirinya bersama bunga-bunganya. dan seringkali Ino melihat Neji bermeditasi di dekat kolam di taman bunganya.

Ino biasanya hanya memperhatikannya berlatih dan sesekali membawakannya teh hijau sambil mengajaknya berbicara, walaupun tetap saja Ino yang banyak bicara.

Ino mulai mengerti kenapa Neji menjadi orang yang kaku. Diantara para Bunke, Neji-lah yang paling dipercayai oleh Hiashi-jii-san. Neji sedari kecil dilatih dengan keras untuk menjadi sosok Hyuuga yang kuat.

Meski Neji bersikap dingin dan sangat realistis, tapi semua yang dilakukannya itu semata-mata untuk orang lain, bukan untuk dirinya sendiri.

Hanya dengan memikirkan itu saja membuat pipi Ino memanas. Apa benar ini hanya rasa kagumnya saja?

.

Minggu itu, Ino menikmati siangnya dengan memetik bunga edelweiss untuk dijadikan hiasan di ruang pertemuan souke. Dengan Neji yang sedang bermeditasi di taman bunganya sedari tadi pagi. Ino menggeleng, rasanya orang itu tidak pernah bosan terus-terusan diam dalam posisi yang sama.

"KYAAAA!"

Terdengar jeritan Hanabi yang sedang memanen buah jeruknya. Ino dan Neji segera berlari ke asal suara.

"Hanabi-chan! Kau kenapa?" Tanya Ino khawatir. "Astaga!" teriaknya saat melihat kaki Hanabi yang berdarah dan ada ular disebelahnya.

Neji segera mengambil ular itu dan melemparnya jauh-jauh. Lalu mengendong hanabi ke teras

"Ino-nee-chan, sa-sakit." Rintih Hanabi. Ino dengan cekatan merobek pakaiannya dan mengelap darah yang keluar.

"Sabar ya Hanabi-chan, ini akan terasa lebih baik." Ino tersenyum menenangkan dan segera memulai jutsu pengobatannya dan keluarlah cahaya hijau untuk menyembuhkan luka Hanabi.

Neji yang memperhatikan dari tadi hanya diam melihat tingkah laku Ino.

"Hanabi-sama…" Neji berbisik lirih meski suaranya masih terdengar oleh Ino.

"Neji-kun jangan melihat saja, tolong bawa air hangat dan dua kain kesini."

Neji pun bergegas mengabil air hangat. Dan Ino berusaha menenangkan Hanabi yang masih menangis karena takut.

Sesampainya Neji ditempat, Hanabi sudah tidak ada di teras, dan terlihatlah Ino yang keluar dari bilik.

Seakan tahu isi hati neji, Ino menjelaskan "Jangan khawatir, Hanabi-chan sudah kupindahkan, dia sudah tenang dan sekarang tidur.".

"Ini, yang kau minta." Neji menyodorkan satu baskom dengan air hangat dan kain.

"Terimakasih, Neji-kun. Ini bisa mengurangi bengkaknya." Ino dan Neji masuk ke dalam bilik tempat Hanabi tidur.

Dengan perlahan Ino mengompres bekas lukanya dengan air hangat dan mengelap peluh Hanabi.

"Tak kusangka kau cekatan juga." Neji memulai pembicaraan. Ino menjawab sambil focus pada luka Hanabi.

"Tentu saja, aku kan kunoichi."

"Maaf aku meremehkanmu. Kukira kau hanya wanita yang berisik." Muncul perempatan di kepala Ino.

"Terimakasih pujiannya, tuan sedingin es." Ino menghela nafas. "Kau ini tadi kenapa ularnya dibuang, bisanya cukup kuat meracuni saraf Hanabi-chan. Kalau ularnya ditangkap kan air liurnya bisa dijadikan penawar. Jutsuku saja tidak bisa menyembuhkan secara total." Jelasnya.

"Jadi bagaimana? Apa harus di bawa ke Rumah Sakit Konoha?"

"Tidak perlu, aku pernah diberitahu kalau di gunung konoha ada tanaman untuk menetralisir racun. Aku akan pergi kesana."

"Biar aku saja, cukup beri tahu ciri-ciri tanamannya." Neji segera bangkit.

"Apa sih, kau pikir aku tidak cukup kuat untuk ke gunung? Aku shinobi, ingat? Lagipula, gunung itu ada di belakang mansion ini bukan? Kalau kau takut akan ada penduduk yang melihatku, ku jamin tidak ada, hehe." Ino menjelaskan panjang lebar.

"Aku hanya khawatir padamu, Ino." Pipi Ino memerah. "Kalau begitu aku akan menjaga Hanabi-sama sampai kau datang, hati-hati." Dua kata yang di ucapkan Neji, membuat pipi Ino semakin memerah.

Ino yang takut terlihat seperti itu, segera pergi dari hadapan Neji.

.

Di perjalanan, Ino tersenyum kecil dengan wajah yang memerah. Ino mencari dari satu tempat ke tempat lain. Menggunakan yukata memang sulit untuk bergerak dengan cepat.

Setelah lumayan lama mencari, Ino menemukannya di dekat tebing. Terlihatlah pemandangan desa Konoha dari situ dan membuat Ino takjub.

Indahnya. Aku bahkan tak tahu ada tempat seindah ini.

Setelah memetik tumbuhan penyembuh seperlunya Ino beranjak pergi.

"Tak kusangka, ada orang yang tahu tempat ini juga."

Heh?! Suara siapa itu? Masa ada orang di sini? Jangan-jangan penjahat? Ah, Ino merutuki kebodohannya lagi karena tidak membawa senjata.

Saat Ino menoleh, aquamarinenya melihat sosok pria berambut eboni dengan senyum terukir diwajahnya.

"Sai!" Ino teriak kaget.

"Ah, nona cantik ternyata." Sai tersenyum.

"Kau membuatku kaget saja. Dan jangan menyebutku seperti itu, cukup saat pertama kita berkenalan. Panggil Ino saja." Ino mengelus dadanya. Untung bukan penjahat.

"Kenapa kau bisa disini, Ino-san?"

"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau ada di sini? Aku sih sedang mencari tanaman."

"Aku sedang melukis. Lihat! Pemandangannya indah kan?" Sai tersenyum hambar lagi.

Ah! Ino lupa, dia harus cepat-cepat kembali. Dan—Ah! Ia juga lupa. Tidak boleh ada yang melihatnya kembali ke kediaman Hyuuga. Pasti Neji akan marah kalau tau ia bertemu penduduk, apalagi shinobi.

"I-iya indah sekali. Kalau begitu Sai, aku pulang duluan ya, dah." Ino segera berbalik. Tapi tangannya ditahan oleh Sai.

"bagaimana kalau kita pulang bersama?"

"A-aku bisa pulang sendiri." Ino mulai panik.

"Aku pernah baca di buku. Tidak sopan jika seseorang menolak ajakan baik dari orang lain." Huh, mau tidak mau Ino menuruti kata Sai.

Ino berdoa agar nanti tidak ketahuan oleh Neji, pasalnya dia sudah berjanji pada orang itu.

"Jaa, Sai. Sampai disini saja." Ino tidak mau mengambil resiko untuk diantar sampai mansion Hyuuga. Kalau sampai ketahuan, bisa habis dirinya nanti.

"Kalau begitu sampai jumpa, nona cantik." Sai pergi sambil tersenyum.

"Sudah kubilang panggil Ino!" haish, Sai itu. Ino menggeleng lagi.

.

Dengan mengendap-endap, Ino kembali ke ruangan tempat Hanabi berada. Ino menghela nafas lega, tidak ada yang mengetahui kalau ia keluar mansion.

Dengan senyum kecil Ino mengingat masa lalunya. Sudah lama ia tidak berbuat seperti itu, terakhir ia mengendap-endap karena ingin melihat Sasuke berlatih. Hihi.

Senyumannya pun hilang, setelah melihat raut wajah Neji yang dingin.

"Neji-kun, maaf menunggu lama. Tanaman ini susah ditemukan ternyata." Ino memulai percakapan dengan senormal mungkin.

"Hn, kalau begitu cepat sembuhkan Hanabi-sama." Ucap Neji dingin.

"Apasih, kau dingin sekali, Neji-kun." Ucap Ino sambil menumbuk tanaman obat itu dan mengoleskannya pada kaki Hanabi.

"Kau sudah janji kepadaku untuk tidak bertemu dengan penduduk desa."

"Eh?!" Ino mulai takut. Habislah ia.

"Jangan pura-pura bodoh." GLEK!

"Kau me-melihatku tadi ya? Ma-maafkan aku, aku tak memegang janjiku, Neji-kun. Aku tidak sengaja bertemu dengan Sai saat mengambil tanaman obat ini." Ino menunduk dalam.

"Aku tidak peduli." Neji bangkit dan keluar dari ruangan tersebut.

Ino merasakan hal yang aneh. Bodoh! Kenapa tadi harus bertemu Sai segala! Sudah jelas-jelas Neji marah besar tadi. Tapi Ino kan sudah menjelaskan semuanya dengan jujur. Kenapa orang itu pemarah sekali sih?

Tapi perkataannya yang terakhirlah yang membuatnya merasa sangat sedih. Hatinya terasa ditusuk oleh pisau yang tak terlihat.

Hiks.

Air mata Ino pun menetes.

"Neji-kun bodoh!" Ino pun terisak.

Ah~ takdir memang tidak adil bagi Ino.

TBC


Huwaa~ Bagaimana Chapter ini? Mengecewakan kah? hiks. Gomen minna, daku masih newbie #plakplok

Aaa~ sekarang aja aku ga percaya lagi buat ff multi-chapter. sempet ga percaya diri bikin cerita ini en publish. tapi dari pada mandeg di laptop, aku publish aja walaupun ga ada yg review. eh ternyata ada yg review juga XD

Dari review-an yang aku baca banyak yang bilang bosen sama pair yg itu-itu aja. Tertarik sama pair Neji Ino karena jarang. hmm, aku liat di ffn emang pair Ino neji jarang ;_;)a

Aku juga baca Review yang minta update kilat/cepet. dari situ aku mikir "ayo Cha~banyak yg minta dikelarin!" XD Rasanya penyemangat banget supaya nulis terus. Kayaknya ff yg satu ini bakal aku selesain dalam 3 atau 4 chapter ._.a

terimakasih banyak buat yang udah review, yg login udah aku bales lewat PM (Childishpink, AzuraLunatique, kirei- neko, NarutoisVIP, azurradeva) dan yang ngga login : Namikaze yuli (itu kau kah yuli-san anak kopaja bukan? XD), sunwomen (aku juga suka, tapi asal Ino mah aku suka siapa aja pairnya hehe), pitalica (iya jarang ;_; ), guest (yo ini udah update baca ya), Jingga Dalam Elegi (siip, udah baca ya ).

Doumo arigatoou buat semuanya yang udah baca. Kritik dan saran serta flame saya terima :D

so, Please Review #bungkuk