"Hei, kau yakin ini akan berhasil?"
Uzumaki Naruto melirik wanita berambut pirang panjang yang bersembunyi di belakangnya itu lalu tersenyum dengan penuh rasa percaya diri.
"Tentu saja pasti berhasil!" iris biru langit pria itu kembali melihat ke arah yang sedari tadi mereka berdua perhatikan, "Tapi, pasti akan lebih berhasil jika kita langsung mengurung keduanya di kamar hotel—"
BHUG
"Kau gila!? Aku tidak mau sahabat baikku hamil sebelum nikah, bodoh!" teriak Yamanaka Ino kesal setelah memukul kepala pria berambut pirang yang sedari tadi berbicara. Mengabaikan keluhan sakit yang diutarakan Naruto, Ino kembali mengawasi dua anak manusia yang sengaja dipertemukan tanpa sepengetahuan mereka. Kedua matanya yang beriris aquamarine itu terlihat sangat serius dan penuh konsentrasi.
Naruto mencibir pelan, "Kalau benar begitu sih bagus, 'kan? Jadinya mereka harus menikah mau tak ma—AW AW AW! JANGAN MENARIK TELINGAKU! SAKIT! INO!"
"SSSTTTT!" Ino melepaskan tangannya dari telinga Naruto dengan jengkel. Kini benar-benar mengabaikan protes Naruto, Ino melihat kedua manusia yang kini sudah saling berbicara dengan satu sama lain. Hal ini membuat senyum perlahan tapi pasti muncul di wajah Ino, "Lihat Naruto, sepertinya berjalan lancar!" ujarnya semangat.
Mendengar ini, Naruto menghentikan rintihannya lalu kembali mengintip dari balik tembok seperti yang dilakukan Ino sekarang. Senyuman lima jari miliknya juga langsung memenuhi wajahnya, "Hahaha! Apa kubilang!? Percaya saja pada bosmu ini, Ino!" balas Naruto sembari mengepalkan sebelah tangannya.
Ino hanya memutar kedua bola matanya bosan lalu kembali melanjutkan misi pengintaian mereka. Di kejauhan, gadis beriris hijau emerald dengan rambut pendek soft pink sedang tertawa kecil sementara pria di sampingnya yang beriris onyx dengan rambut raven-nya—masih berjarak satu kursi di antara mereka—tetap berwajah datar dengan sesekali senyum tipis yang terukir di wajahnya. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi yang jelas sepertinya pemandangan ini bisa jadi pertanda yang baik. Ino tersenyum semakin lebar.
"Ayo kita pergi, Naruto!" ucap Ino sembari menarik kemeja yang dikenakan pemiliki perusahaan Uzumaki tersebut. Naruto terlihat akan protes lagi sampai Ino melanjutkan, "Lama-lama memperhatikan mereka pun percuma. Ini baru hari pertama, jangan terburu-buru. Yang penting kita sudah memastikan setidaknya ada komunikasi di antara mereka."
"Tapi... bagaimana dengan rencana memasukkan mereka ke dalam satu kamar—"
"Bodoh! Itu terlalu cepat! Ayo!"
"Fine, fine! Lepaskan aku, Ino! Hei! Aku ini bosmu—ADUH!"
#
"...Hm?"
Belum sampai ujung gelas berisi red wine itu menyentuh bibirnya, pria bernama Uchiha Sasuke itu menghentikan laju gelasnya lalu bertanya, "Ada apa?"
Haruno Sakura mengerjapkan kedua matanya. Dia melihat ke arah tembok yang cukup jauh dari posisi mereka sekarang lalu ke arah Sasuke, "Oh tidak... sekilas tadi aku seperti melihat temanku—" seakan teringat dengan sesuatu, kedua bola mata Sakura membulat, "AH! Bagaimana bisa aku lupa? Aku harus menghubungi Ino! Si bodoh itu, kenapa dia belum datang juga!?" teriak Sakura dengan panik sembari mencari-cari hp di dalam tasnya.
Memperhatikan Sakura yang panik sendiri, membuat Sasuke pun teringat dengan tujuan awalnya datang ke kafe Uzumaki ini. Wajah pemilik kafe ini yang sedang nyengir lebar terbayang di kepalanya. Sasuke merogoh hp di dalam sakunya lalu menyalakannya. Hampir saja dia menekan tulisan call pada nama 'Uzumaki Naruto' di layar sentuhnya jika dia tidak teringat akan sesuatu.
"Kau... err..." Sasuke tersadar satu poin yang paling penting di antara dirinya dan perempuan asing di sampingnya ini. Tapi, poin itu bisa dikesampingkan dulu sekarang ketika sang perempuan menatapnya dengan pandangan bertanya, "...apa temanmu itu bekerja di Uzumaki Seluler?" tanyanya.
Sakura memiringkan kepalanya, "Ya, benar."
Jawaban Sakura membuat Sasuke menghela napas panjang lalu memijat pelipisnya sendiri, "Sudah kuduga. Dasar Dobe." Desisnya pelan.
"Hah? Kenapa?"
Sasuke terdiam sesaat sebelum akhirnya menghela napas lalu menjawab, "Kita dijebak di sini."
Ekspresi bingung di wajah Sakura masih belum menghilang. Setidaknya untuk beberapa detik hingga Sakura memukul dahinya sendiri dan kembali melempar hpnya ke dalam tas dengan kasar, "Good job, Pig." Gerutunya sebelum meminum air putih di gelasnya sampai habis.
Sasuke tidak berkomentar banyak. Dia hanya melirik gadis itu dari ujung matanya lalu ikut minum dari gelas yang dipegangnya. Keadaan di antara mereka menjadi hening kembali seperti di awal mereka duduk bersama. Seakan mereka sedang tenggelam di dalam pikiran mereka masing-masing, hanya suara detik jam yang berbicara. Keheningan itu pecah begitu Sakura menghela napas panjang dan merapikan tas-tas yang dibawanya.
"Maaf, ada yang harus kukerjakan. Aku pulang dulu ya," ucap Sakura dengan senyum lelah yang tercetak jelas di wajahnya. Sasuke masih diam lalu memejamkan kedua matanya. Semua tas telah rapi, Sakura turun dari kursinya lalu mencoba tersenyum seramah mungkin, "terima kasih. Senang berbicara denganmu...—"
Eh.
Tunggu.
Namanya siapa ya?
Wajah Sakura mulai memucat. Kedua matanya mengerjap menyadari kebodohannya. Pikirannya mulai bimbang antara ingin bertanya nama laki-laki itu atau tidak setelah pembicaraan mereka yang cukup panjang tadi. Apakah masih sopan jika baru bertanya sekarang?
Tapi... laki-laki itu juga tidak menanyakan namanya sih. Jadi, setidaknya mereka impas. Sakura menggelengkan kepalanya cepat dan akan kembali berbicara seandainya Sasuke tidak turun dari kursi lalu membalikkan tubuhnya hingga mereka berdiri berhadapan.
"Anu—"
"Dari proyek yang sedang kau kerjakan tadi, aku tertarik bekerja sama denganmu—jika kau masih mau menerima proyek lain."
Rasanya kata 'proyek' atau 'kerja' menjadi tombol pemicu yang membuat kedua mata Sakura berbinar kembali. Seperti anak kecil—begitu pikir Sasuke. Tapi, dia sendiri tidak jauh lebih baik. Ekspresi Sakura sudah sangat menunjukkan dia tertarik, Sasuke tak perlu bertanya. Laki-laki itu menyunggingkan senyum tipis lalu menjulurkan tangannya.
"Uchiha Sasuke."
Mungkin ini yang pertama... tapi juga yang terakhir.
"Haruno Sakura."
Kedua workaholic itu bertemu dengan orang lain yang serupa di kehidupan mereka.
.
.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Kira Desuke
Warnings : semi-OOC, AU, heavy and explicit language
Genres : Romance/Angst/Hurt/Comfort
Main Pair : SasuSaku
Rate : M
.
.
.
WORKAHOLIC
.
Chapter 2
.
.
"Sasori, bisa tolong bawa gambar presentasinya ke sini?"
"Ya ya, tunggu sebentar."
Kesibukan di awal hari membuat kantor kecil di pinggir jalan kota Tokyo tersebut lebih tenang dari biasanya. Hanya suara-suara langkah kaki yang bergerak dari satu meja ke meja lain dan detik jam yang mengisi keheningan tersebut. Atau juga suara beberapa dari mereka yang melakukan diskusi menyangkut pekerjaan mereka sekarang.
Di tengah ruangan, terdapat meja bulat yang biasanya ditempati oleh kelima anak manusia di sana saat akan mendiskusikan proyek yang mereka jalani. Lalu di sekeliling ruangan, meja-meja berbentuk persegi panjang menempel pada tembok. Beberapa dari meja persegi panjang tersebut adalah meja desain yang alasnya bisa diangkat untuk memudahkan desainer untuk menggambar senyaman mereka. Lalu beberapa yang lain adalah meja komputer tempat mereka mengerjakan bagian-bagian yang perlu disusun secara digital.
Pada dasarnya, kelima manusia di dalam satu kelompok itu bergantian mengerjakan tugas mereka. Tapi pada jadwal hari ini, Yakushi Kabuto dan Sai bertugas membuat digital 3D model*sebagai gambaran dasar yang kemudian akan di-render*dan dibuat gambar tekniknya*. Deidara bertugas menyusun sketsa-sketsa alternatif yang digambar secara manual hingga digital, umumnya berjumlah sepuluh sampai lima puluh gambar yang sudah harus diberi warna. Semuanya akan disimpan sebagai portofolio mereka, tapi untuk itu harus dirapikan terlebih dahulu.
Deidara juga yang merapikan image board, mind map,hingga mood board sebelum semuanya nanti dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam satu portofolio yang akan disusun bersama setelah semua pekerjaan utama selesai.
Sampai di Haruno Sakura dan Akasuna no Sasori yang mendapat jadwal bersama mengerjakan tiga prototype satu banding satu* yang telah di-acc* oleh klien mereka. Proyek kali ini adalah sepeda motor dengan model terbaru untuk salah satu perusahaan transportasi yang telah menyewa mereka. Untuk sampai ke tahap ini tentu tidak mudah, selain mereka membutuhkan waktu untuk mengamati dan mengumpulkan survey pada calon konsumen mereka, menemukan masalah lalu mencari solusinya, hingga akhirnya mereka masuk ke tahap pembuatan sketsa dan seterusnya.
Dua bulan sudah mereka lalui dan tiga hari lagi adalah pertemuan mereka kembali dengan perusahaan transportasi tersebut untuk acc yang terakhir kalinya sebelum mereka bertemu dengan ahli teknik otomotif dan bekerja sama membuat sepeda motor sebenarnya yang siap diperkenalkan pada masyarakat.
Di tengah-tengah kesibukan, Sasori yang masih memiliki waktu senggang setelah menyelesaikan salah satu prototype mereka itu menghela napas lelah. Memang dia bisa bernapas lega sejenak sebelum mulai mengerjakan prototype motor sekali lagi—satunya masih dikerjakan Sakura yang masih konsentrasi mengukur panjang dan lebar velg motor agar benar-benar presisi*—tapi tetap saja dia harus berlari ke sana kemari untuk membawakan barang-barang yang dibutuhkan rekan-rekannya. Sebenarnya tak masalah dan Sasori mengerti, toh saat ini para rekannya sedang tidak bisa dibuat menjauh dari pekerjaan mereka meski hanya sedetik untuk sekedar mengambil barang yang tertinggal. Konsentrasi mereka bisa pecah lalu semuanya buyar.
Sasori menatap prototype motornya sekali lagi, memastikan benar-benar tidak ada yang kurang dari model motor yang dibuat menggunakan campuran triplek dan kayu di beberapa bagian lalu duplek untuk bagian-bagian yang ringan seperti spion, velg, besi penahan, dan lain sebagainya. Laki-laki berambut merah itu menatap kedua tangannya yang telah menggunakan palu, gergaji, dan sejenisnya sejak pagi tadi. Meskipun dia menggunakan sarung tangan, tetap saja tekanannya saat memalu atau memotong kayu-kayu itu pasti terasa.
"Senpai," panggilan dari suara yang sangat dikenalnya membuat lamunan Sasori terbuyarkan dan pria itu segera menoleh. Sakura tidak melihat ke arahnya, melainkan masih menahan berdiri prototype motor yang dibuatnya, "bisa tolong bantu menahannya? Aku perlu memasang standar di sini," ucapnya.
Sasori tidak perlu menjawab secara lisan. Dia hanya memegang prototype motor yang terbuat dari bahan-bahan seperti prototype yang dibuat olehnya, hanya saja ditambah beberapa kawat sebagai penyambung bagian-bagian rumit seperti mesin-mesin di bawah kerangka motor dan menyambungkan spion. Sakura langsung berjongkok begitu Sasori datang, memasang model standar satu dan dua dengan telaten. Dari posisi ini, Sasori bisa melihat kepala gadis bermahkota soft pink tersebut.
Sepertinya Sasori kembali melamun saat Sakura di detik selanjutnya menengadahkan kepalanya sehingga iris hijau emerald dan coklat hazelnut itu bertemu, "Sudah selesai, senpai. Terima kasih."
"Oh? Ah, iya," Sasori mundur sehingga Sakura yang telah berdiri itu memegang handle motornya. Sebagai prototype, tentu saja motor itu belum bisa dijalankan, baik dari mesin hingga rodanya saja. Sehingga Sakura harus mengangkat prototype tersebut untuk memindahkannya di samping prototype Sasori yang sudah selesai lebih dulu.
Model motor itu sebenarnya cukup ringan untuk dibawa Sakura sebagai perempuan bertubuh proporsional itu sendiri. Sasori tidak menawarkan bantuan, dia tahu di bidang pekerjaannya ini para perempuan cenderung mandiri dari sejak dia kuliah dan sampai sekarang pun tak berubah. Toh, kalaupun mereka benar-benar membutuhkan bantuan, mereka pasti meminta. Setidaknya para laki-laki di bidang desain produk ini sudah paham betapa independennya para perempuan di jurusan mereka—yang memberi kecenderungan mereka menganggap perempuan di jurusan ini jadi (terlalu) setara dengan kaum Adam.
Lagipula sebagian besar para perempuan di desain produk—tak terkecuali Sakura—menolak bantuan yang ditawarkan para laki-laki. Kecuali jika benar-benar dibutuhkan seperti menggunakan alat berat di bengkel. Tenaga wanita tidak sebesar tenaga pria. Itu sudah menjadi hukum alam paling dasar yang tak terbantahkan.
Lalu, kelalaian pasti ada. Di setiap jenis pekerjaan tanpa terkecuali.
"Wa—" Sakura mengerjapkan kedua matanya ketika kakinya tak sengaja tersandung ujung lantai yang tidak rata sehingga tubuhnya oleng ke depan. Dua tangannya secara reflek melepas prototype miliknya agar tetap berdiri sementara dia merelakan dirinya untuk jatuh dengan wajah yang lebih dulu bertemu lantai keramik bertekstur.
Pasti sakit—
—harusnya.
"Bodoh!"
BRUK!
Antara empuk dan tidak, wajah Sakura pada akhirnya tidak jadi bertemu dengan lantai di bawahnya. Permukaan halus, menandakan yang diciumnya sekarang adalah bahan semacam kain, namun karena cukup keras, pasti ada sesuatu di balik kain tersebut. Melihatnya tepat saat kedua matanya terbuka saja sudah cukup membuat Sakura sadar dimana dia mendarat.
Tangan kanan Sakura menyentuh lengan yang cukup kekar sementara tangan kirinya berada tepat di samping kepalanya yang masih berposisi mencium dada bidang Sasori yang justru mengaduh pelan. Pemuda berambut merah itu secara reflek memegang belakang kepala Sakura sehingga gadis tersebut tidak bisa langsung mengangkat kepalanya untuk menjauh sementara dia sendiri mengusap pinggang hingga pantatnya yang cukup mendarat keras dengan tangannya yang lain.
"Sakit sekali... sial," keluh Sasori pelan sembari tetap mengusap pinggangnya. Sepertinya tubuhnya bergerak sendiri tanpa berpikir terlebih dahulu, "oh ya, kau tidak apa-a—"
"...Sesak... senpai..."
Bisikan Sakura di atas dada bidangnya membuat Sasori tersadar dan segera melepaskan tangannya, "Maaf, maaf! Kau tidak apa-apa?" tanya Sasori panik. Dia memperhatikan Sakura yang menarik napas lalu mengeluarkannya perlahan setelah bebas dari tekanan tangan mantan senior-nya tersebut. Sakura menengadahkan kepalanya dan tersenyum.
"Aku baik-baik saja. Harusnya aku yang minta maaf, terima kasih senpai," jawab Sakura kemudian tersenyum semakin lebar. Sasori menelan ludahnya dan langsung melihat ke arah lain ketika wajahnya kembali memerah lagi.
Laki-laki itu menggaruk belakang kepalanya, "Tidak masalah, lain kali lebih berhati-hati saja," jeda sejenak, Sasori menghela napas, "kau tidak akan mau sampai prototype itu rusak dan membuatnya lagi dari awal, 'kan?"
"Tentu saja tidak!" jawab Sakura cepat. Dia menggembungkan sebelah pipinya kesal dan mulai mundur untuk duduk di atas lantai, "Jangan sampai memikirkannya! Kemungkinan itu sangat mengerikan!" sahut gadis itu.
Wajah Sasori berubah jengkel, "Kalau begitu, perhatikan langkahmu,"—PTAK!—suara jari menyentil dahi lebar di depannya itu terdengar begitu keras. Tapi sepertinya memang begitu karena kepala Sakura langsung terhentak ke belakang dan dia merintih pelan. Sasori menggerutu pelan, "Tinggal satu prototype lagi. Ayo selesaikan se—"
"Err, bagaimana kalau kau istirahat dulu, senpai? Aku akan mengerjakan sebagiannya lebih dulu dan kau bisa menyelesaikannya belakangan," Sakura menggaruk pipinya dengan ujung jari telunjuknya, "aku sudah memperhatikanmu sejak tadi. Sepertinya kau lembur semalam karena menyusun portofolio produk kemarin, 'kan? Makanya kau kelihatan lelah sekali sekarang, belum lagi sedari tadi kau berlari membawakan barang." Perempuan dengan dua iris hijau emerald itu menyipitkan kedua matanya dan tersenyum polos.
Uh.
Akasuna no Sasori sangat lemah dengan senyuman itu.
"Tenang saja, serahkan padaku, senpai! Anggap saja ini sebagai permintaan maaf!"
Akhirnya tenggelam di kebimbangan, Sasori menggigit bibir bawahnya. Hanya saja tak lama kemudian Sasori menggeleng cepat, "Tidak. Mana bisa begitu. Kau saja yang istirahat kalau mau."
Sakura mengernyitkan kedua alisnya, "Hei, aku sudah menawarkannya lebih dulu. Aku menawarkan istirahat spesial untuk senpai-ku tersayang. Kenapa tidak terima saja?" tanya Sakura dengan nada jahil yang selalu dipakainya saat dibutuhkan.
Entah kenapa mendengar ini justru membuat Sasori kesal, "Aku masih bisa melanjutkan pekerjaanku, tidak seperti orang lemah yang sudah terjatuh setelah menyelesaikan tugas pertamanya."
"Kau menyindirku?"
"Kelihatannya?"
"Aaaargh, kau benar-benar menyebalkan, senpai!"
"Jangan sebut senpai-mu menyebalkan jika kau tidak ingin mendapatkan hukuman terbarumu, Haruno!"
"Kenapa tidak sekali saja dengarkan permohonan kouhai-mu!?"
"Kau tidak memohon! Dan justru karena aku senpai-mu makanya dengarkan aku!"
Di sini... kesabaran keduanya mulai habis hingga empat sudut siku-siku muncul di dahi mereka masing-masing.
"SASORI BODOH! AKU TAK HABIS PIKIR KENAPA KAU BISA JADI SENIOR-KU!"
"JANGAN BERTERIAK DI DEPANKU, DAHI LEBAR! PAKAI OTAKMU, JANGAN DAHIMU!"
"ENAK SAJA! POKOKNYA SENPAI ISTIRAHAT SAJA DULU! AKU YANG KERJA!"
"AKU BILANG—"
"BYE, SENPAI!"
Melihat Sakura yang telah siap berdiri dari posisinya, membuat Sasori reflek menarik lengan Sakura dan memaksanya duduk kembali di antara dua kakinya. Sasori mencengkeram erat dua lengan Sakura agar tetap diam di tempat, "Aaargh, kau ini—" Sasori tak sempat melanjutkan ketika Sakura kembali berkata.
"Senpai—"
Tapi, Sasori lebih dulu memotong dengan ekspresi marah yang tercetak jelas di wajahnya, "Jika kau tidak akan diam juga, aku benar-benar akan mencium bibirmu."
...Apa?
Kedua bola mata Sakura membulat kaget dan tanpa bisa berkata apa-apa, sudut bibirnya berkedut pelan, "Eh?" bisiknya pelan. Ekspresi Sasori masih belum berubah, kedua mata coklat hazelnut miliknya menusuk tajam iris hijau emerald di hadapannya. Kedua tangannya masih memegang erat bahu-bahu Sakura dan posisi gadis itu masih duduk di antara dua kaki pria berambut merah tersebut.
Perlahan tapi pasti rasa takut menggelitik Sakura melihat tatapan serius yang masih lama dipertahankan Sasori. Dia hampir tak pernah melihat Sasori seperti ini sebelumnya. Ya, memang benar Akasuna no Sasori adalah pria yang cenderung pemarah dan tidak sabaran tapi Sakura selalu bisa kabur dari situasi terburuk lalu entah bagaimana Sasori akan melupakan segala kesalahannya kemudian. Begitu pula perilaku Sasori pada ketiga rekannya yang lain.
Dan sekarang... bagaimana caranya kabur dari situasi ini?
Yang saat ini membuat Sakura harus menelan ludahnya ketika Sasori mulai maju dan mendekatkan wajahnya padanya. kedua tangan Sakura yang sempat diam akhirnya mulai menahan dada bidang Sasori lagi, "Se-Senpai, tunggu—" napasnya seperti tertahan begitu saja. Rasa panik hampir menjalar di sekujur tubuhnya.
Baiklah.
Kumpulkan tenagamu, Sakura! Kumpulkan—
"Sasori, standar motornya ada yang perlu—" entah penyelamat atau bukan, Deidara datang sembari menggaruk sisi kepalanya. Kedua matanya tertuju pada kertas gambar A3 di tanganya sampai dia melihat ke arah Sasori dan Sakura yang sudah saling menjauhkan wajah mereka dengan cepat. Menaikkan sebelah alisnya, Deidara bertanya, "—apa aku datang di saat yang tidak tepat, un?"
Sakura ingin berteriak, "OH, KAU DATANG DI SAAT YANG SANGAT TEPAT, SENPAI! AKU MENCINTAIMU!" tapi akhirnya dia tahan dan berkata dengan kikuk, "Ti-Tidak, senpai! Ada apa?"
Deidara mendengus, "Ini, Kabuto memintaku menyampaikannya pada kalian. Terutama kau, Sasori. Ini model yang kau kerjakan. Maaf harus ada revisi lagi tadi," Sasori masih belum mengangkat kepalanya. Hal yang membuat Deidara bingung dan memiringkan kepalanya sebelum berjongkok di samping Sasori, "hoi, kau masih hidup, 'kan? Sa-so-ri!" panggilnya. Kali ini memegang bahu pria berambut merah tersebut hingga tubuhnya berjengit kaget.
Tidak ada yang aneh sampai Deidara berkata ketika Sasori telah mengangkat kepalanya perlahan, "Ng? Wajahmu merah. Kau sakit, un?" mendengar ini, Sakura yang penasaran pun ikut memiringkan kepalanya dan ikut melihat wajah salah satu rekan kerjanya tersebut.
Oh, Sasori tak pernah sangat ingin menggali lubang yang sangat dalam sebelum ini.
Ketika wajah baby face pria itu dipadukan dengan warna merah melintang dari ujung telinga kanan hingga ujung telinga kiri, rasanya terlihat manis dan menggemaskan—dalam berbagai arti. Sakura sendiri wajahnya juga memerah, tapi entah kenapa tidak semerah dan sepanas Sasori. Pria itu berulang kali berbisik, "Apa-yang-kulakukan?" dengan sangat pelan tapi masih dapat terdengar oleh Deidara dan Sakura yang kini bertatapan.
"Memangnya apa yang dia lakukan, un?"
Sakura menunduk pelan, "Err—"
PLAAK!
Kini gantian Deidara dan Sakura yang tersentak kaget ketika Sasori menampar dirinya sendiri dengan kedua tangannya di setiap pipinya. Sangat keras hingga suaranya bergema di sekitar mereka, bekas tangan Sasori di kedua pipinya pun dapat membuktikan itu. Sasori menarik napas panjang lalu mengeluarkannya. Ekspresinya kini kembali seperti Sasori yang biasanya. Dia menoleh menatap Deidara yang horror melihatnya.
"Jadi? Ada apa, Dei?" suara Sasori terdengar biasa hingga rasanya tidak ada apapun yang terjadi sebelumnya. Wajah Deidara terlihat ingin bertanya tapi tak lama kemudian pria berambut pirang panjang itu memilih mengabaikannya dan mulai menjelaskan tujuannya datang kemari.
Melihat ini, Sakura diam-diam tersenyum lega. Memperhatikan Sasori dan Deidara yang sedang berdiskusi sembari menunjuk gambar yang tertera di kertas A3 yang Deidara bawa. Diskusi ini tak lama, hanya berlangsung selama lima menit kurang lebih sebelum Deidara kembali berdiri dan menyemangati mereka untuk melanjutkan pekerjaan kembali.
Tapi, setelah Deidara menghilang, Sakura mendadak kembali merasa awkward. Ini hal yang wajar pastinya, terlebih hanya ada mereka berdua di luar, yang lain berada di dalam ruangan. Sakura tidak tahu bagaimana harus mencairkan es yang rasanya tumbuh begitu saja di sekeliling mereka. Sakura memperhatikan punggung Sasori saat mereka berdua telah berdiri. Gadis itu mencengkeram erat lengan kanannya sendiri. Perbuatan Sasori tadi... membuat Sakura mereka ulang seluruh kejadian yang pernah dialaminya oleh Sasori. Sejak mereka masih kuliah hingga sekarang menjadi rekan kerja.
Adakah... yang dia lewatkan?
"...Maaf soal tadi."
Tersentak dari lamunannya, Sakura kembali menatap punggung Sasori di depannya. Laki-laki berambut merah itu sedikit memutar tubuhnya namun tidak menghadap Sakura sepenuhnya. Dia mengusap leher belakangnya tanpa mau menatap Sakura yang berdiri tak jauh darinya, Sasori melanjutkan, "Aku tidak berpikir jernih dan... dan ini sangat kekanakan." Mendecak kesal, Sasori terus bergerak di tempatnya—tak bisa tenang.
Sakura memilih diam dan membiarkan Sasori terus berbicara, "Sebenarnya... aku ingin membicarakan ini di situasi yang lebih baik dan di saat aku lebih siap." Sasori menarik napas lagi dan mengeluarkannya. Mencoba tersenyum menatap Sakura meski senyum itu rusak.
"Sampai saat itu tiba... bisakah... kita melupakan kejadian ini?"
Pertanyaan Sasori menggantung di udara. Sakura masih berdiri tenang di posisinya, kedua tangannya mengepal erat di samping-samping tubuhnya sebelum berpindah ke belakang, "Baik. Aku akan melakukannya jika senpai yang minta," ucapnya dengan senyum penuh arti di wajah cantiknya.
Melihat ini, tubuh Sasori yang sedari tadi menegang akhirnya perlahan tapi pasti mulai rileks. Kedua alisnya tertarik membentuk ekspresi lega yang terpeta jelas di wajahnya, "Terima kasih." Jeda sejenak, Sasori melihat Sakura yang tidak terlihat menunjukkan ekspresi apapun selain senyum yang biasa dia gunakan untuk menghibur orang lain. Mencoba memulai sesuatu, Sasori kembali berbicara, "Tapi... jika kau siap. Apa kau mau menjawab—"
"Senpai, kita tidak bisa terus berbicara seperti ini." Sakura melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, "Prototype-mu masih ada yang perlu diubah dan ada satu lagi prototype yang belum dikerjakan sama sekali. Kau selalu bilang, jangan membuang-buang waktu, 'kan?" tanya Sakura di akhir penjelasannya.
Tersadar, Sasori tersenyum kikuk, "Benar juga," pria itu berdehem pelan sebelum berjalan cepat meninggalkan Sakura dan menuju model-model motornya, "kalau begitu kita kerjakan sekatang. Istirahat akan kita ambil setelah menyelesaikan semua prototype ini. Aku tidak akan menerima protesmu lagi, Sakura." Ucapnya sambil terus berjalan.
Sementara Sasori terus menjauh itu, di balik wajah tenang Sakura, gadis itu kembali mereka ulang setiap detil kejadian di kepalanya. Kecurigaan yang semakin hari semakin tumbuh—meski dia berusaha mengabaikannya berkali-kali—itu membuatnya lelah. Sakura menggigit bibir bawahnya keras sebelum menggeleng cepat dan ikut berjalan mengikuti senior-nya saat kuliah hingga sekarang tersebut.
Dipikir berulang kalipun percuma. Haruno Sakura bukan tipe perempuan yang suka menebak apa yang dipikirkan atau dirasakan orang lain terutama laki-laki. Jika dia sudah lebih dulu menuduh Sasori tanpa bukti yang pasti, maka hubungan mereka yang sudah terjalin erat sejak kuliah itu bisa jadi merenggang. Tapi, bagaimana jika tebakannya benar?
...Sakura akan berharap di persoalan ini... tebakannya salah.
Karena dengan begitu, tidak ada yang tersakiti. Dan siapa yang akan sakit, itu pasti bukan Sakura.
Hati perempuan itu sudah terlanjur mati.
Tersenyum sedih mengamati punggung pria yang telah kembali sibuk di pekerjaannya itu, Sakura akhirnya membalikkan tubuhnya. Meninggalkan segala kemungkinan, yang dia lihat hanyalah kepastian. Merancang berbagai kata di kepalanya untuk dia gunakan kelak saat waktunya datang.
"Maafkan aku juga... Sasori."
#
.
.
.
#
Suara getar telepon yang entah sudah ke berapa kalinya itu benar-benar menipiskan batas kesabaran Uchiha Sasuke.
Dengan geram, akhirnya pria berambut raven tersebut mengangkat hpnya, "Apa, Dobe?" kekehan Uzumaki Naruto di seberang sana membuat Sasuke nyaris meremukkan hp di genggamannya, "Aku benar-benar akan memblokir nomormu untuk yang kelima kalinya jika kau tidak bisa berhenti meneleponku untuk hal yang tidak penting."
"Tunggu, tunggu! Jangan, Teme! Kau pikir tidak capek apa mengganti nomor baru berkali-kali? Gara-gara kau begini makanya aku jadi harus punya tiga hp dual-sim tahu!" gerutu Naruto di seberang telepon. Sasuke hanya memutar kedua bola matanya, "Oke, langsung ke topik. Kau ada di gedung kantor traktor, 'kan?" tanyanya.
Sasuke mengernyitkan kedua alisnya. Tangan kanannya masih belum berhenti menanda tangani dokumen di bawahnya, "Hn. Sebentar lagi aku akan ke kantor Uchi-Tech*."
Entah bagaimana Naruto mengartikan 'Hn' Sasuke sebagai 'Iya'. Naruto menyeringai lebar lalu mulai berjalan, "Bagus! Aku sudah berada di pintu masuk, jangan pergi dulu ya. Lima menit lagi aku sampai di ruanganmu. See you~"—PIP. Lalu sambungan diputus begitu saja. Sasuke melihat layar hpnya lalu menggelengkan kepalanya sebelum menaruh hpnya itu dan kembali fokus.
Tepat seperti yang dikatakan Naruto, pria Uzumaki itu datang lima menit kemudian dengan senyum cerahnya yang hanya dibalas Sasuke dengan aura gelap menguar di sekelilingnya. Mengabaikan itu, Naruto langsung menarik kursi dan duduk di seberang meja Sasuke, "Jadi jadi?"
Sasuke mengernyitkan kedua alisnya, "Apa?"
"Sa-ku-ra-chan."
Uchiha bungsu itu semakin bingung dan ekspresinya tidak berubah sedikitpun. Naruto akhirnya kehilangan senyumannya dan mulai berkata, "Sakura-chan! Gadis yang kau temui di kafe kemarin malam!" ucapnya gemas.
Paling tidak... Naruto berharap Sasuke akan langsung ingat. Tapi... ternyata butuh waktu setidaknya lima menit untuk Sasuke menarik kedua alisnya dan bergumam pelan, "...Oh."
"Oh? Cuma itu?" Naruto menatap Sasuke tak percaya dan tak habis pikir. Kecewa, pria berambut pirang spike itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di belakangnya, "Jangan bilang padaku kau hampir lupa. Gadis manis seperti Sakura-chan itu sangat susah dilupakan begitu saja kecuali jika orientasi seksualmu tidak normal." Sindir Naruto, mencoba sarkastik.
Sasuke tidak peduli dan kembali menulis pada kertas di bawahnya, "Aku normal dan kenyataannya aku memang lupa," Naruto mendesah lelah dan menengadahkan kepalanya, melihat langit-langit ruangan Sasuke, "yang lebih menyebalkan adalah kau terang-terangan mengakui telah menjebakku bertemu dengan orang asing dan kau tidak merasa bersalah sama sekali." Ketus Sasuke.
Naruto menggerutu, "Yah, baiklah aku mengaku salah." Menghela napas, Naruto melanjutkan, "Tapi sejujurnya, aku benar-benar yakin Sakura-chan adalah pilihan yang tepat untukmu jadi aku merasa tidak perlu khawatir," anak tunggal Uzumaki itu menopang dagunya di atas meja, "kalian memiliki kesamaan dan timbal balik yang pas terhadap satu sama lain. Karena itu, kupikir hubungan kalian pasti berjalan lancar. Dan jika beruntung, dialah calon istrimu, Sasuke..." jelasnya.
Mendengar ini, Sasuke menghela napas lelah dan berhenti menulis sejenak, "Naruto. Kuakui kau teman yang paling lama bertahan di dekatku. Tapi, itu bukan berarti kau bisa mendikte kehidupanku. Aku bukan anakmu." Kembali menulis, Sasuke melanjutkan dengan bertanya—sekedar basa-basi, "Lagipula memang kesamaan apa yang membuatmu yakin dia berbeda dari perempuan lainnya?"
Pertanyaan ini membuat Naruto tersenyum lebar, "Satu hal yang paling penting! Dia adalah maniak kerja sepertimu!"
Kata-kata ini membuat Sasuke berhenti menulis sesaat. Kedua matanya masih melihat kertas di bawahnya namun pikirannya melayang ke pembicaraan singkat di antaranya dan gadis bermahkota soft pink tersebut. Tak lama kemudian, Sasuke menulis lagi dan bergumam, "Hn. Aku bisa melihatnya."
"Iya, 'kan? Kalau laki-laki yang mencintai pekerjaannya seperti kau sih aku sudah sering lihat, tapi kalau perempuan baru kali ini!" Naruto mengangkat jempolnya, "Lalu nilai tambahannya, aku tak menyangka perempuan penggila kerja pertama yang kulihat ternyata secantik itu. Men, jika aku belum bertunangan mungkin aku yang akan mengejarnya, Teme!" ujar Naruto semangat.
Sasuke mendengus, "Kalau begitu, aku akan berharap ada Hinata di sini dan dia langsung meminta pertunangan kalian dibatalkan. Senang?" Naruto segera memohon dengan panik agar hal itu tak terjadi. Sasuke menyunggingkan senyum tipis.
"Lagipula kenapa kau berniat memasangkan aku yang workaholic ini dengan perempuan yang workaholic pula? Tanpa perlu menikah pun, jika aku dan dia tinggal di satu apartemen yang sama, tidak akan terjadi apapun karena kami terlalu sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing. Apa yang kau harapkan?" tanya Sasuke. Tak habis pikir dengan sistem kerja otak sahabat yang diakuinya itu.
Pria dengan iris biru langit tersebut mendadak menyeringai, "Ya, kebanyakan orang pasti akan berpikir seperti itu. Tapi, bagaimana jika begini..." Naruto mengangkat kedua tangannya dan masing-masing terkepal.
"Katakanlah orang yang workaholic itu adalah batu yang tak memiliki perasaan."
Dua tangan Naruto yang membentuk batu itu perlahan tapi pasti mendekat. Naruto menyeringai melihat Sasuke menaikkan sebelah alisnya.
"Orang jenius sepertimu pasti tahu apa yang akan terjadi pada dua batu yang bertemu, 'kan?"
Ekspresi Sasuke sedikit berubah.
"Terlebih jika mereka saling berkomunikasi seperti batu yang terus bergesekan pada satu sama lain. Terus dan terus sampai—BUM!" pria Uzumaki itu membuka kedua tangannya yang terkepal dan tertawa, "Muncul percikan api yang dapat membakar apapun di sekitar mereka. Yap, aku membicarakan cinta di sini!" Lanjut Naruto dengan semangat.
Penjelasan ini membuat Sasuke akhirnya tertawa pelan setelah dari tadi hanya diam mendengarkan. Namun, Naruto tahu tawa itu hanyalah sekedar tawa mengejek. Sasuke menatap Naruto sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di belakangnya, "Lucu, Naruto. Jika kau sudah selesai dengan stand up comedy milikmu, aku sarankan kau pergi karena aku perlu menyelesaikan pekerjaanku di sini."
Bukan Naruto jika menyerah begitu saja, dia melipat kedua tangannya di depan dada, "Oh ayolah Sasuke, kenapa tidak mencoba dulu?"
"Jika Sakura memang sama sepertiku. Maka aku yakin sekarang juga pasti dia sudah melupakanku, seperti aku tadi seandainya kau tidak mengingatkanku tentangnya," Sasuke merapikan kertas-kertas yang telah ditulisinya lalu mengambil map yang tak jauh dari posisinya berada, "satu argumen lagi, pasangan yang ideal adalah yang saling melengkapi kekurangan satu sama lain dengan sifat yang bertolak belakang lalu—"
"Salah! Kau dan Sakura MEMANG memiliki sifat yang bertolak belakang, karena itu aku percaya kalian adalah pasangan yang ideal." Naruto menyeringai melihat wajah kesal Sasuke yang ucapannya dipotong olehnya, "Aku membicarakan permasalahan utama di sini. Satu masalah yang berpotensi besar akan mengganggu rumah tangga kalian. Mengesampingkan itu, kalian sudah sangat cocok. Aku yakin tidak hanya aku yang akan berpikir seperti itu."
Uchiha bungsu itu akhirnya mulai gerah. Ini hal yang paling sensitif untuknya, tapi Naruto—mengatasnamakan dirinya sebagai sahabat terbaik Uchiha Sasuke—terus mengabaikan itu dan enggan berhenti. Sasuke membanting map berisi kertas-kertas tebalnya di atas meja, "Cukup Naruto. Pergi sekarang sebelum aku memanggil satpam dan mengusirmu dari sini."
"Kau tidak tahan karena aku selalu mengatakan hal yang tepat sasaran ya, hm?" cukup skak mat. Sasuke benar-benar habis kesabaran dan berdiri dari kursinya. Berjalan menuju lemari terdekat untuk menaruh sebagian dokumennya. Mencoba menganggap Naruto tidak ada di ruangannya, "Well, kau tahu. Dari segi logis, aku khawatir jika kau bersama perempuan selain Sakura-chan. Kemungkinannya besar mereka akan meminta cerai darimu sebulan setelah pernikahan kalian atau kurang."
"Karena itulah salah satu alasan aku tidak mau menikah."
Memperhatikan Sasuke yang sibuk memilah dokumen-dokumennya di depan lemari itu masih menjawabnya membuat Naruto tersenyum lagi, "Ya, aku nyaris setuju dengan keinginanmu sampai aku bertemu Sakura-chan. Sedikit banyak, aku berterima kasih juga dengan Ino," Sasuke telah membelakangi lemarinya ketika Naruto melanjutkan, "tidakkah kau penasaran? Jika ada perempuan yang sangat membuatku penasaran, aku pasti akan bergerak cepat sebelum dia direbut oleh lelaki lain lho." Ucap Naruto dengan nada yang dibuat-buat.
Ekspresi Sasuke masih belum berubah, "Itu bukan urusanku. Kami baru bertemu sekali dan tidak ada yang membuat kami tertarik selain kesempatan untuk bekerja sama dengan proyek yang lebih besar dan menguntungkan kedua belah pihak." Sasuke berjalan hingga dia berhenti tepat di depan Naruto yang masih duduk nyaman di kursinya.
Uchiha bungsu itu mendengus sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, "Bahkan jika aku mau berkata jahat, satu-satunya alasanku masih memikirkan kemungkinan menikah adalah untuk melepaskan hasratku sebagai pria biasa." Melihat wajah Naruto mengernyit jijik padanya membuat Sasuke menyeringai tipis, "Aku hanya tidak ingin munafik. Tapi sayangnya, aku tidak bisa sejahat itu. Lagipula prosedurnya terlalu merepotkan. Jika sudah seperti ini, lepaskan hasrat sesaatmu pada para pelacur di luar sana maka semuanya beres."
Naruto tertawa sembari menggelengkan kepalanya, "Kau brengsek, Sasuke. Jangan sok dingin dan teruslah berkata terang-terangan seperti itu, tanpa perlu mengumumkan kau tidak mau menikah pun, aku yakin tidak akan ada yang mau menikahimu," ucap Naruto. Nada kesal tersembunyi di kata-kata itu.
"Oh, kenapa? Apa aku mengatakan hal yang terlalu tepat sasaran?" tanya Sasuke balik. Kali ini gantian Naruto yang memutar kedua bola matanya. Mendengus menahan tawa, Sasuke kembali berbalik dan mengangkat tangannya, "Keluarlah Naruto, aku benar-benar sedang tidak ingin membahas ini." Ucap Sasuke sambil menggapai gagang telepon di mejanya. Tanda jika Naruto tidak keluar sekarang, Sasuke akan menelepon satpam dan mengakhiri semua ini.
Baiklah, atmosfernya pun sudah memaksa Naruto untuk segera angkat kaki dari ruangan ini. Pria Uzumaki itu berdiri dari kursinya dan menatap Sasuke sekilas dengan kesal sebelum berbalik dan berjalan menuju pintu. Melihat ini, Sasuke menarik tangannya dari gagang telepon dan berniat duduk kembali di kursinya ketika Naruto tiba-tiba berkata.
"Sebagai sahabatmu, seharusnya aku tidak mengatakan ini tapi—"
Seringaian Uzumaki Naruto membuat Sasuke mengernyitkan kedua alisnya tak suka.
"—aku benar-benar menantikan hari dimana kau akan menjilat semua ludahmu sampai tak bersisa dan karma menampar wajah tampanmu itu sekuat-kuatnya."
Lalu, pintu yang bertuliskan 'Direktur Uchiha Sasuke' itu tertutup dengan suara keras.
#
.
.
.
.
.
#
Pada dasarnya, seorang Uchiha terutama pria bergolongan darah AB, memiliki sifat terburuk dengan kemampuan mengabaikan apapun yang tidak memberinya keuntungan. Logika di atas emosi sepenuhnya. Sarkastik, realistis, teoritis, pasif, namun ambisius. Memanfaatkan atau dimanfaatkan adalah motto hidup mereka.
Seperti Uchiha Sasuke.
Tapi, itu terbatas hanya pada keadaan dimana laki-laki itu belum menemukan sesuatu yang bisa meluluhkan es di dalam hatinya.
Di umurnya yang cukup rawan bagi orang-orang sekitarnya, Sasuke harus siap menjawab pertanyaan yang kurang lebih sama dari segala jenis orang yang bertanya padanya. Jawabannya akan selalu sama, tapi intonasinya berbeda—tergantung dengan siapa dia berbicara. Hanya saja, dari semua orang itu... yang paling tidak bisa dia hindari adalah kedua orang tua yang telah merawatnya sedari kecil.
Menatap dinding bagasi di depannya setelah memasukkan mobil ke dalam garasi membuat Sasuke menarik napas lalu menghelanya perlahan. Dia mengetukkan jarinya beberapa kali di atas setir sebelum menggenggamnya erat lalu melepaskan genggamannya dan membuka pintu mobil. Sasuke turun sembari membawa tas laptop lalu menutup pintunya. Kemudian dia menguncinya dengan memencet tombol pada remote yang tersambung dengan kunci. Dia berjalan masuk ke rumah besarnya melalui pintu belakang yang tersambung dengan garasi penyimpanan mobil.
Meski terlihat tenang dan datar seperti biasanya, mungkin kata-kata Uzumaki Naruto di kantornya hari ini cukup mengganggunya. Tapi, Sasuke bukanlah tipe orang yang akan menunjukkan itu dengan mudah. Dan lagi, ini bukan yang pertama kalinya. Uchiha bungsu itu cukup percaya diri tak akan butuh waktu lama sampai sahabat baiknya itu kembali datang mengunjunginya dengan senyum bodoh di wajahnya dan melupakan segalanya. Sekarang... adalah waktunya istirahat sebentar lalu me-review pekerjaannya hari ini sekali lagi sebelum ti—
"Tenang saja, Sasuke belum menjalani hubungan dengan siapapun. Aku yakin dia akan setuju dengan pertunangan ini."
Sasuke yang tadinya berniat langsung menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar pribadinya itu berhenti seketika. Kedua alisnya mengernyit dalam sebelum melihat ke arah ruang tamu yang tertutupi pintu kaca dari sudut pandangnya sekarang.
"Ahaha, bukan begitu. Sasuke adalah anak yang baik dan pengertian, dia hanya sedikit kaku dalam mengekspresikan diri. Tapi, jika terus begini, dia akan terlarut dalam pekerjaannya dan tidak menemui kebahagiaan memiliki keluarganya sendiri. Kami tidak mau itu sampai terjadi."
Kali ini suara ibunya yang membuat Sasuke membuka mulutnya. Sasuke meletakkan tas laptopnya di tangga lalu berjalan cepat ke arah ruang tamu. Langkah Sasuke cukup keras terdengar, tapi tidak menghentikan tawa-tawa yang bergema di ruang tamu tersebut.
TEP
Begitu Sasuke berdiri di dekat batas antara ruang tamu dan keluarga sehingga semua orang bisa melihatnya, barulah suara tawa mereka terhenti. Sasuke menatap kedua orang tuanya yang kaget melihatnya kemudian perhatiannya teralih pada keluarga lain di depan mereka. Terdiri dari seorang bapak dan ibu lalu ada satu perempuan yang tidak pernah Sasuke temui sebelumnya. Gadis berambut pirang itu melihat Sasuke dan seketika wajahnya memerah—reaksi umum rata-rata kaum Hawa yang baru melihat langsung seorang Uchiha Sasuke.
Tapi, Sasuke tidak mempedulikan hal itu dan langsung menatap kembali kedua orang tuanya, "Ada apa ini?"
"Sasuke? Oh, k-kau pulang cepat, nak," ucap Uchiha Mikoto yang langsung berdiri dan menghampiri anak bungsunya tersebut. Memegang lengannya dan mengelusnya pelan, "kami sedang membicarakan hal yang berhubungan denganmu, kebetulan sekali! Bagaimana kalau kau juga ikut duduk dengan kami?" tanya ibunya dengan lembut.
Sasuke menatap Mikoto sebelum menarik tangannya dari ibunya tersebut, "Aku dengar tentang pertunangan tadi. Apa maksudnya? Aku tidak pernah mendengar soal ini, apalagi menyetujuinya," tanyanya langsung, enggan berbasa-basi.
Mendengar ini, Uchiha Fugaku selaku kepala keluarga Uchiha langsung berdiri dan menatapnya dengan tatapan tajam, "Aku sudah muak mendengar lelucon bodohmu. Selama kau masih belum memiliki keluargamu sendiri, aku masih kepala keluarga Uchiha yang perintahnya harus kau turuti." Fugaku melewati istrinya lalu berdiri tepat di depan Sasuke, "Demi nama baik Uchiha, kuperintahkan kau untuk menikah dan memiliki keturunan. Suka atau tidak."
Sasuke menggertakkan giginya dan mengernyitkan kedua alisnya lebih dalam, "Aku sudah bilang aku tidak mau menikah. Dan itu bukan lelucon!" teriak Sasuke pada akhirnya. Rahang Fugaku mengeras, namun dia belum mengatakan apapun, "Lagipula kenapa hanya aku? Bagaimana dengan kak Itachi? Bukankah dia sudah bersama Izumi? Dia juga bisa memberikan keturunan yang kau dambakan itu!" bentaknya.
"Detik saat Itachi memilih untuk tidak melanjutkan Uchiha Corporation itulah detik dimana dia telah menentukan pula bahwa Uchiha Itachi sudah melepaskan kesempatannya untuk melanjutkan perjuanganku!" Fugaku melipat kedua tangannya di depan dada, "Kau bersedia melanjutkan perusahaanku meskipun kau sudah memiliki usahamu sendiri dan aku sangat menghargai itu. Tapi, lalu apa? Setelah kau kembali ke tanah, tidak akan ada yang melanjutkan perusahaanku dan kemudian semuanya ikut kembali ke tanah bersamamu? Kau pikir aku akan membiarkan itu!?"
"Karena memang semuanya akan kembali ke tanah, ayah!" balas Sasuke cepat. Mikoto semakin panik berada di antara kedua ayah dan anak yang telah saling berperang dengan tatapan mereka, "Percuma kita membahas ini. Pada akhirnya kita tidak akan tahu apa tujuan kita hidup selain untuk sekedar menikmatinya lalu membuang semuanya begitu saja ketika kau dipanggil kembali oleh yang Maha Kuasa."
Ibu keluarga Uchiha itu bergidik mendengar penuturan anaknya, "Tunggu, Sasuke! Kau keter—"
"Tapi, bukan berarti aku akan membiarkannya selesai semudah itu—UHUK!" suara batuk yang keras membuat semua orang yang ada di sana tersentak kaget, tak terkecuali Sasuke. Fugaku terbatuk berkali-kali dengan suara keras hingga dia perlahan tapi pasti membungkuk lalu jatuh di atas kedua lututnya. Mikoto berteriak dan langsung ikut membungkuk untuk menenangkan suaminya. Begitu pula tamu-tamu mereka yang langsung mengelilingi tubuh Fugaku yang terus bergetar mengeluarkan sesuatu yang menahan tenggorokannya.
Hanya Sasuke yang masih terpaku di tempatnya.
Uchiha bungsu itu menatap sang ayah yang masih membungkuk dan terbatuk menghadap tanah. Bagaikan kata-katanya tentang manusia kembali ke tanah hampir saja terjadi kepada sang ayah. Perasaan takut dan syok menyelimuti hatinya, namun justru karena itu Sasuke tak bisa bergerak.
Perlahan tapi pasti suara batuk Fugaku mulai melemah, tapi begitu pula napasnya. Suara salah satu dari tamu mereka yang mengatakan bahwa Uchiha Fugaku harus istirahat dulu mulai menggema di kepala Sasuke. Seorang bapak tua—yang mungkin bapak dari anak calon pasangan tunangan Sasuke—itu mulai menarik tangan Fugaku agar menyandar pada dirinya kemudian mereka pergi ke kamarnya. Sang anak perempuan dan ibunya pun mengikuti. Mikoto hampir mengikuti mereka, tapi melihat anak bungsunya masih terguncang di tempat membuat dia berhenti.
"Sasuke, maafkan kami jika kami terlalu sepihak memutuskan hal ini padamu." Mendengar suara sang ibu membuat Sasuke tersentak dan mengangkat kepalanya. Menatap Mikoto yang berusaha menatapnya balik dengan tegar. Tatapan seorang wanita yang berusaha menutupi rasa sakit di hatinya. Mungkin satu-satunya wanita di dunia ini yang disayangi seorang Uchiha Sasuke sekarang.
Oh.
Apa yang dia lakukan?
Mikoto menggigit bibir bawahnya, "Tapi... kau lihat sendiri kesehatan ayahmu semakin memburuk dan saat kau terlihat membuktikan kata-katamu untuk tidak mau berkeluarga, Fugaku jadi terburu-buru dan... beginilah," mencoba tertawa meski pahit, Mikoto memberi jeda, "lalu emm... maafkan atas keegoisan kami tapi... kami benar-benar ingin kau segera menikah dan berkeluarga, Sasuke. Bagi Fugaku, dia ingin tenang melihat masih ada yang melanjutkan perusahaannya setelah dirimu. Tapi bagiku, aku semata-mata hanya ingin melihat kebahagiaanmu... lebih dari sekedar memiliki karir."
Mikoto mengatupkan kedua tangannya.
"Ini benar-benar permintaan dari keegoisan kami yang terakhir... setelah ini, seperti kata Fugaku, kau bebas. Kau telah memiliki keluarga sendiri, kau telah memiliki pekerjaan, semua kau yang atur sendiri. Karena itu... kami mohon—ibu memohon sekali padamu."
Tanpa bisa ditahan, air mata jatuh dari kedua iris onyx yang indah itu.
"Tolong kabulkan permintaan ayahmu sekali lagi..."
Kata-kata Mikoto yang memohon adalah kelemahan terbesar Uchiha Sasuke. Baik Fugaku hingga Itachi tahu tentang hal ini. Sasuke mengernyitkan kedua alisnya semakin dalam. Kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya. Menahan diri untuk tidak membentak wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.
"Jika aku menikah, aku harus bertanggung jawab atas kehidupan orang lain yang akan menjadi istriku. Sejujurnya, aku masih jauh dari kata siap untuk itu. Ibu yang paling tahu selama ini aku hanya memikirkan diriku sendiri," jawaban Sasuke membuat kedua bola mata Mikoto membulat lalu Sasuke semakin mendalamkan nada suaranya, "kalau aku menikah sesuai permintaan ayah dan ibu tapi kemudian aku menelantarkan istriku. Apakah yang bersalah hanya aku seorang?"
"Sasuke—jangan... jangan berpikir seperti itu!" Mikoto langsung memegang kedua bahu anaknya dan salah satu tangannya naik untuk mengelus pipi Sasuke, "Memang membutuhkan waktu, tapi ibu yakin cinta pasti datang saat kau sudah berkeluarga. Perlahan tapi pasti kau akan mulai mencintai istrimu lalu anakmu—"
"Itu tidak akan terjadi."
Sasuke menggeleng lalu memegang tangan ibunya di pipinya.
"Aku tidak akan mencintainya."
Kedua mata Mikoto kembali berlinang, "Sasuke..." mengepal tangannya yang berada di tangan sang anak, Mikoto menundukkan kepalanya, "...lalu, apa maumu?"
Sebenarnya tanpa ditanya pun, Mikoto tahu apa keinginan terdalam anak bungsunya tersebut. Tapi, setidaknya dia masih ingin berharap. Meski wajah Sasuke notabene masih lebih mirip dengan Mikoto, tapi sifat keras kepala dan egoisnya dia dapatkan persis dengan takar yang sama dari Fugaku. Seandainya saja ada Itachi di sini, Itachi pasti bisa lebih baik menjelaskan semua situasinya pada sang adik.
Hanya saja, kali ini dengan pikiran logikanya pun, Sasuke tak dapat menolak keinginan orang tuanya untuk yang ke sekian kalinya. Otak Sasuke terus berputar, mencari celah demi celah untuk bisa mengeluarkannya dari situasi ini tapi masih dapat mengabulkan keinginan orang tua yang telah merawatnya sedari kecil hingga menjadi dirinya yang sekarang. Sebrengsek apapun Sasuke, dia tak akan lupa membalas budi orang-orang yang telah membantunya... terutama orang tua yang akan memberi segala jenis kasih sayang tanpa pamrih. Meskipun perdebatan tetap saja tak bisa terelakkan dalam prosesnya itu.
Tapi, tak ada satupun cara terbaik yang bisa digunakannya. Apakah di sinilah batasnya?
"Baiklah, aku akan menikah," Sasuke menarik napasnya, "tapi, aku masih membutuhkan waktu. Biarkan aku yang memilih sendiri calon istriku. Tolong katakan itu pada ayah."
Mikoto langsung tersenyum bahagia dan memeluk anak bungsunya tersebut. Kepalanya menyandar di bawah kepala Sasuke yang ikut membalas pelukan sang ibu. Ekspresinya tak menentu, sangat kontras sekali dengan ekspresi senang Mikoto. Setelah cukup lama berpelukan, Mikoto melepaskan pelukan mereka dan memegang pipi Sasuke sekali lagi.
"Terima kasih... Sasuke," Mikoto berjinjit untuk mencium pipi Sasuke lalu tersenyum lagi. Uchiha bungsu itu hanya membalas dengan senyum kaku, "aku pasti akan memberi tahu ayahmu kabar baik ini. Tapi, ibu juga harus menyiapkan kata-kata untuk menjelaskan pada tamu-tamu kita," ucap Mikoto dengan senyum lembutnya dan tertawa kecil di akhirnya.
Sasuke hanya mengangguk, "Kalau begitu, aku ke kamar sekarang. Sampaikan juga pada ayah, aku minta maaf." Tanpa menunggu balasan, Sasuke langsung berbalik dan berjalan ke arah tangga. Meninggalkan sang ibu yang hanya menatapnya sedih dari kejauhan.
Rasanya semua amarah yang ingin meledak keluar tertahan lalu menyebar ke sekujur tubuh Uchiha Sasuke. Langkahnya cepat dan keras, rahang bawahnya mengeras, kedua tangannya mengepal selama berjalan, dan tatapannya tajam seakan siap membunuh siapa saja di depannya. Saat ini dia bukanlah seorang Sasuke yang akan menyembunyikan emosinya apapun yang terjadi, dia bahkan tak peduli jika sang ibu melihat betapa kecewanya anak bungsu mereka sekarang.
Sesampainya di depan kamar pun, Sasuke langsung masuk lalu membanting pintu kamarnya. Dia melepaskan jas kerjanya dan melemparnya ke lantai dengan kasar. Sasuke memukul dinding di sampingnya sebelum mendinginkan lagi kepalanya dengan cepat. Duduk di tepi kasurnya, Sasuke menutup wajah tampannya dengan kedua tangannya.
"Seharusnya dari dulu aku keluar dari rumah seperti kak Itachi..." gumam Sasuke pada dirinya sendiri. Mengingat masa lalu ketika dia mencoba keluar dari rumah besar Uchiha dan ingin tinggal di rumah atau apartemennya sendiri, tapi sang ibu terus menahannya. Sasuke menghela napas panjang lalu menjatuhkan tubuhnya ke belakang dimana kasur empuk menyambutnya, "...sekarang... bagaimana?" bisiknya lagi.
Mulai memutar memorinya, Sasuke berusaha mengingat perempuan-perempuan yang pernah ditemuinya. Tapi, tak satupun menempel atau pas dengan kriterianya. Atau juga... memang sejak awal Sasuke tidak memiliki kriteria karena tak pernah memperhatikan mereka.
Jadi, mulai dari menyusun kriteria dulu?
...Merepotkan sekali.
Sasuke berguling ke samping dan membuka kedua matanya. Memperhatikan seisi kamar yang ditempatinya dari sejak SMA hingga sekarang. Tak ada yang berubah. Sasuke menutup kedua matanya lagi.
Begini terus percuma, hanya akan membuang waktu. Sasuke kembali berposisi duduk lalu mengusap rambut raven miliknya. Baiklah, jika sudah pusing begini dan tidak ada titik temu, hanya ada satu kegiatan yang bisa mengalihkan Sasuke dari semua ini.
Kerja.
Menarik napas lalu mengeluarkannya perlahan, Sasuke berdiri dan berniat membuka tas laptop yang sudah dia letakkan di atas meja. Namun kakinya tak sengaja menendang ujung meja sampai terhentak. Hentakan itu membuat meja tergeser dan mengenai gantungan baju di sampingnya. Untung saja yang jatuh hanya satu stel kemeja putih dan jas hitam yang Sasuke sempat pakai sebelumnya.
Seakan ingin mengutuk hari ini, Sasuke menggerutu pelan sebelum membungkuk untuk mengambil pakaiannya tersebut. Menepuknya untuk merapikannya dari debu lantai sampai tiba-tiba Sasuke merasakan sesuatu ketika menepuk bagian saku jasnya.
"...Apa ini?" pertanyaan Sasuke menggantung di udara. Dia meletakkan satu stel pakaian tersebut di atas meja lalu memasukkan tangannya ke dalam saku. Benar saja, memang ada suatu benda di sana. Sasuke menariknya keluar dan dari bahannya, pria dengan tubuh atletis itu langsung tahu bahwa yang dipegangnya adalah secarik kertas yang sudah sangat kusut.
Tapi, tulisan yang menggunakan bulpen merah di secarik kertas itu masih terbaca... dengan sangat jelas.
'Haruno Sakura – 08xxxxxxxxxx'
.
.
.
.
.
If you want to call me a fool or a moron,
Then just say all you want
.
Because I don't care one bit about other's sense of value
- Hatsune Miku (Eh? Aa, sou)
.
.
.
To be Continued
.
.
.
Special thanks for :
Uchiha Nozomi, Dewazz, Younghee Lee, mimicucu, embun adja1, Laifa, yorui, echaNM, Guest, Yulia230, Nurulita as Lita-san, ayuniejung, Miinami, Niayuki, Uchiha Nazura, respitasari, , kura cakun, Dora suka nonton Naruto, Dolphin1099, Aikaa-chan, glowree, suket alang alang, 5a5u5aku5ara, uyaayu, kei, bid, sarahachi, alif yusanto, rheywhite93, LVenge, ztanpopo, rasya ce, just-icia23, kuuderegirl3, zhaErza, rimbursa, kurochinon, Wind, rismi grounded (2x), uchihayandee, uchiken ryu, polar13, usagi, DeidaraTamvanJualPetasan, sqchn, rinayuuki06, green melon, Vann Cafl, Yashi UchiHatake, donat bunder, D cherry, Novimell, yumimichi, ratubintang595, z, Wu Lei II, guest21
Dan untuk yang sudah baca, fave, dan alert juga terima kasih :) Ditunggu reviewnya~
Penjelasan istilah :
Digital 3D model : Sesuai namanya, membuat 3D model secara digital dengan aplikasi tertentu. Siap-siap pegel mata, pantat, dan jari-jari kalau udah ngerjain ini.
Render : Bahasa gampangnya sih 'mewarnai' tapi lebih detail lalu ditambah efek bayangan dan juga cahaya.
Gambar Teknik : Sesuai namanya juga, gambar teknik ini gambar yang memiliki ukuran dan posisinya harus detail. Salah di sini bisa merambat ke prototype, jadi jangan diremehkan.
Prototype 1:1 : Membuat model dengan ukuran yang sesuai aslinya secara manual dan nyata. Jadi misal membuat motor, sebelum membuat aslinya yang memiliki mesin dan segala macam, tetap harus dilihat dulu modelnya kayak baju-baju di toko yang dipake dulu sama patung untuk bayangan saat menggunakannya. Sampai tahap ini, desainer cenderung mengerjakan sendiri. Tapi begitu prototype 1:1 telah diacc, pembuatan produk asli akan diserahkan pada yang lebih ahli.
Acc : Yang udah kuliah pasti udah gak asing lagi sama kata-kata ini wkwkwk. Istilah untuk konfirmasi bahwa hasil karya atau tugas kita telah diterima oleh klien (dalam kasus mahasiswa, si klien itu adalah dosen) dan disepakati bersama. Jadi, kalau sudah diacc, produk asli akan dibuat berdasarkan model tersebut.
Presisi : Biasanya kalau mengukur sesuatu, manusia cenderung beda-beda hasil pengukurannya. Misal mengukur sisir sepanjang 10 cm, ada yang mendapat hasil 10.1 cm lalu ada juga yang mendapat hasil 9.8 cm. Di presisi tidak bisa seperti itu. Jika yang diminta ukurannya 10 cm berarti wajib 10 cm. Tidak bisa kurang maupun lebih, jadi jangan sampai tidak teliti. Di dunia desain produk, hal ini tidak boleh sampai luput, salah-salah bisa terjadi hal fatal saat menggunakan produk tersebut.
Uchi-Tech : Singkatan dari Uchiha Technology Company. Nyontek nama Google Technology Company x"D Nama perusahaan Sasuke yang membuat program-program dan website yang telah dijelaskan di chapter sebelumnya atau mungkin akan dijelaskan lagi di chapter-chapter mendatang.
Itu saja. Kalau istilah lain harusnya bisa dicari sendiri di mbah gugel ;9 Tapi kalau ada yang masih kurang mengerti meski sudah mencari di mbah gugel, silahkan bertanya.
Yak, di chapter ini sudah jelas harusnya mana pekerjaan yang sangat berhubungan denganku di dunia nyata wkwkwk. Maaf updatenya telat, ada beberapa hal yang perlu diselesaikan :""
Lalu untuk readers yang belum tahu, aku memang meng-update cerita cukup lama. Karena banyak yang kukerjakan selain sekedar menulis fic untuk kesenangan semata. Kalau lagi beruntung, aku bisa update cepet kurang lebih sebulan. Kalau lagi harus sabar, jarak update dari satu fic ke fic berikutnya kurang lebih tiga bulan. Kalau lagi sial, silahkan menunggu update setahun kemudian wwwww— #heh Untuk yang mau melihat fic apa yang sedang kukerjakan silahkan lihat fanpage FB Kira Desuke, di note yang berjudul List Fanfic Coming Soon.
Oh iya, sedikit bocoran dan peringatan... alur fic ini mungkin cukup cepat untuk sebagian besar orang. Konflik utama di fic WORKAHOLIC ini ada di saat... tet tot, maaf gak bisa spoiler x"DD #dor Yang jelas chapter depan kayaknya bakal full interaksi SasuSaku. Peringatan lagi, romance bukan yang utama di sini dan aku seperti biasa lebih suka fokus ke konflik batin mereka mwahahahaa #digulingin tapi kayaknya sih mendekati chapter-chapter terakhir baru main romance-nya.
Sip, terima kasih sudah membaca. Semoga kerasa feels-nya dan maaf jika ada yang kurang, ngeceknya gak full tadi haha. Mind to review, please? :D
