LadyRuru : Terima kasih ya atas review dan sarannya. Memang sih author juga merasa agak aneh dengan intro cerita di chapter 1. Tapi mau bagaimana lagi, author bingung mau memulai cerita dengan cara bagaimana. Ini udah lanjut.
pindangvip : Ini udah update kok.
Fantasi Liar : Maaf ya, sepertinya keinginan kamu tentang KakaTsuna gak bisa diwujudkan. Tsunade disini tidak akan author jadikan sebagai pasangan Kakashi. Tentang Orochimaru atau bukan, saksikan aja kelanjutan fic ini.
.
.
.
DISCLAIMER : Masashi Kishimoto
RATE : M (Blood and Gore)
WARNING : AU, Multichapter
Siang yang terik di desa Otogakure. Tak hanya cuaca saja yang panas, tapi suasana di desa ikut-ikutan memanas akibat penemuan mayat seorang pria setengah baya yang tewas dalam keadaan mengenaskan. Setelah mengetahui mayat itu, aku bergegas menghubungi kantor kepolisian Konoha. Dan aku bersyukur karena dengan sinyal yang sedikit, hampir tak ditemukan gangguan yang berarti saat aku menelpon mereka.
"Ini pasti karena ulahnya! Aku berani menjamin itu. Dewa Tengu telah mengutuknya, mengutuk Jiraiya hingga tewas mengenaskan!".
Tak henti-hentinya kakek tua bernama Danzou itu berteriak-teriak tidak jelas mengenai kutukan. Untung saja beberapa orang kepolisian bergegas untuk membawanya keluar dari kuil ini. Aku kini masih berada di dalam kuil Nobunaga, bersama sekawanan petugas kepolisian dari Konoha. Kurang lebih dua jam setelah aku menghubungi kantor pusat, beberapa unit mobil sedan bertuliskan 'KONOHA POLICE DEPARTEMENT (KPD langsung datang kesini dan membuat semua warga panik dan geger karenanya.
"Tolong dirapikan lagi pemasangan garis polisinya. Dan jangan sampai ada penduduk yang tidak berkepentingan memasuki areal kuil ini" Seorang pria muda berambut terkuncir mirip nanas sedang sibuk mengatur para polisi yang bertugas.
Dia bernama Nara Shikamaru. Seorang inspektur muda yang amat jenius dan luar biasa teliti. Tapi sayang, sifat malasnya membuat banyak orang tak segan-segan untuk mengkritiknya. Dia adalah temanku, dan sekaligus partner kerjaku.
"Hoahmmm...Hoi Kakashi-san, apa kau sudah menemukan sesuatu lagi?" Shikamaru berjalan mendekatiku.
Aku menggeleng pelan sembari tetap fokus mengamati korban yang kondisinya tak bisa dikatakan utuh lagi. Tubuh korban terbelah menjadi tiga. Antara kaki dengan badan atas terpisah sedikit, akan tetapi kepala korban tergeletak cukup jauh dari tubuhnya. Jaraknya berkisar dua meteran.
"Nama korban adalah Jiraiya. Umurnya 38 tahun. Dia adalah seorang pengangguran yang tinggal di desa ini. Dia tinggal di sebuah kontrakan kecil di desa ini. Itu saja informasi yang kuketahui dari Gai, temanku".
Shikamaru terus mengamati tubuh korban dengan seksama. Tiba-tiba saja pandangannya terhenyak seperti habis menemukan sesuatu.
"Kakashi-san, lihat ini" Ia menunjuk ke arah wajah korban. Aku berusaha memperhatikan dengan jeli wajah korban yang wujudnya sudah amat kotor dan tidak karuan lagi.
"Lihatlah di tiap pipinya, maupun di dahinya. Seperti terdapat bekas memar yang lumayan parah. Terutama di pipi kanannya ini" Sang inspektur muda itu menempelkan telunjuknya di bagian-bagian yang ia sebut barusan.
"Benar juga katamu. Ini bisa dijadikan sebuah bukti awal untuk mengungkap misteri pembunuhan ini. Jadi, kita dapat mengambilan sedikit kesimpulan awal bahwa sebelum korban dibunuh, ia sempat dipukul ataupun berkelahi dengan seseorang" Jelasku panjang lebar.
"Tepat sekali Kakashi-san".
Tiba-tiba dari arah belakang, munculah seseorang yang berseragam kepolisian "Lapor inspektur, kami berhasil menemukan benda atau alat yang diperkirakan digunakan oleh pelaku untuk memenggal tubuh korban".
Shikamaru tersenyum "Bagus Izumo. Tunjukan padaku benda yang kau maksud".
Kami berdua segera berjalan mengikuti polisi yang bernama Izumo itu.
"Ini dia benda itu. Sebuah tongkat besi golok besar yang berada di samping patung dewa. Tepatnya golok yang berada di sebelah kanan".
Betul juga. Mengapa sedari tadi aku tidak menyadari akan hal ini. Ternyata pelaku kemungkinan besar tidak membawa senjata dari rumah. Ini memunculkan dugaan sementara bahwa pembunuhan ini kemungkinan besar bukanlah pembunuhan yang amat terencana. Melainkan pembunuhan yang terjadi secara spontan. Tapi itu barulah perkiraan.
Aku memegang golok yang memiliki panjang sekitar 70 centimeter itu. Setelah kuperhatikan, memang di ujungnya terdapat bekas noda darah yang sudah cukup mengering.
"Bagus Izumo. Segera koordinasikan dengan yang lain untuk mengamankan tongkat golok ini secepatnya. Dan kuharap jangan sampai ada sidik jari yang menempel di benda ini, karena itu pasti akan merepotkan kita" Perintah Shikamaru tegas. Izumo segera menunduk patuh dan beranjak untuk mengamankan benda itu bersama dengan yang lain.
"Kakashi-san, bagaimana menurutmu tentang waktu kematian korban?".
Aku menghela napas sejenak sebelum kembali berbicara "Ketika aku menemukan korban tadi pagi sekitar pukul 10.45, kondisinya sudah sedemikan rupa. Aku berkesimpulan bahwa waktu kematian korban berkisar antara kemarin persis atau dua hari yang lalu. Itu dikarenakan darah korban yang belum terlalu mengering dan menghitam. Jika sudah lebih dari seminggu, maka kemungkinan besar ceceran darah korban sudah benar-benar kering sepenuhnya dan sudah berwarna kehitam-hitaman".
Shikamaru menganggukan kepala pelan pertanda setuju. Tapi tiba-tiba tatapannnya berubah menjadi penasaran kembali.
"Lalu yang terpenting, tentang perkiraan para calon tersangka?".
Aku menunduk sembari menggeleng "Aku belum punya gambaran tentang itu Shika. Mengingat pembunuhan ini pastinya tidak dilengkapi oleh seorang saksi mata pada saat kejadian, dan aku pun belum tahu benar tentang asal-usul korban".
"Hehehe, untuk itulah gunanya kita. Mari kita cari dan ungkit sejelas-jelasnya tentang identitas dan segala hal yang berkaitan dengan korban" Shikamaru menepuk pundakku pelan.
Aku tersenyum simpul "Hn, tumben kau semangat Shika".
-XXXXX-
Setelah Shikamaru menyelesaikan segala instruksi kepada bawahannya, kami berdua pun segera meninggalkan TKP untuk melaksanakan tujuan selanjutnya. Menyelidiki identitas dan asal-usul korban.
Mengingat lokasi pembunuhan yang amat terpencil, kami semua para petugas kepolisian mau tidak mau harus berjalan kaki untuk menuju kemari. Mobil ataupun sepeda motor dipastikan tidak akan muat jika dipaksa kesini.
"Hoahmmm, ckckckck. Aku benar-benar merasa ngantuk" Shikamaru terus-terusan menguap lebar selepas kami keluar dari kuil itu. Laki-laki yang satu ini memang benar-benar membuatku terheran-heran. Dengan sifatnya yang pemalas bin ngantukan itu, bisa-bisanya dia yang tadinya adik angkatanku ketika di universitas, sanggup lulus lebih cepat setahun dariku.
"Apa tidak sebaiknya kau beristirahat dulu sebelum memulai penyelidikan? Tidurlah dulu di penginapanku jika kau mau" Saranku.
"Yaaa baiklah. Aku akan tidur barang satu atau dua jam dulu di kamarmu. O ya, ngomong-ngomong penginapanmu jauh dari sini Kakashi-san?".
"Tidak terlalu. Kita tinggal hanya mengikuti jalan setapak ini dan setelah sampai di pemukiman warga, lalu belok kiri dan sampai. Ya kira-kira memakan waktu 15 menit lah".
Setelah aku menyelesaikan ucapanku, tiba-tiba aku melihat ada tiga orang (satu perempuan dan dua laki-laki) yang sedang berjalan terburu-buru ke arah kami berdua. Jika kuperhatikan sih, sepertinya mereka bertiga berasal dari stasiun televisi yang ada di Konoha. Si perempuan membawa microphone, dan laki-laki yang satunya memanggul sebuah kamera besar.
"Permisi tuan-tuan sekalian, numpang tanya. Apakah tuan-tuan tahu dimana lokasi pembunuhan yang terjadi di desa ini? Kalau tidak salah letak persisnya di kuil Nobu..Nobu...".
Aku langsung menyela "Nobunaga maksudmu?".
Sang reporter langsung tertawa ringan "Iya iya, itu maksud saya. Apakah anda tahu?".
"Maaf sekali ya nona..." Shikamaru mengambil alih pembicaraan. "Anda bertiga pasti orang-orang suruhan dari pihak Konoha TV kan?".
Pria yang memanggul kamera mengangguk pelan.
"Jika anda ingin meliput berita, saya mohon jangan sekarang. Karena korban dan juga segala barang bukti belum sepenuhnya dievakuasi. Jika anda sekalian ingin meliput di TKP, saya sarankan anda datang kemari besok siang" Jelas Shikamaru.
Pria yang satunya lagi membantah "Lho, apa hak anda tuan? Memangnya anda seorang po...".
Shikamaru segera menunjukan kartu tanda pengenalnya. "Iya, saya polisi dari KPD. Dan kebetulan sayalah inspektur yang memimpin proses evakuasi. Jika anda bertiga tetap ngotot, bersiap-siaplah untuk ditahan dengan alasan menghalang-halangi pihak kepolisian".
Aku tersenyum simpul melihat aksi rekanku itu.
Dan tanpa aba-aba, ketiga orang yang dihadapan kami bergegas pergi berbalik arah disertai sedikit umpatan yang samar-samar terdengar cukup jelas dari telingaku.
-XXXXX-
"Hoahmm, akhirnya saat tidur siang datang juga".
Shikamaru langsung dengan cekatan merebahkan tubuhnya di ranjang kamarku begitu kita sampai. Dasar orang aneh. Hanya untuk urusan tidur, dia baru bisa bertindak cekatan.
Aku menengok ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 15.15. Benar-benar melelahkan tadi itu. Kududukan pantatku di sofa kamar sembari menatap ke arah langit-langit.
tik..tok..tik..tok..tik..tok
grokk..zzz..grokkk...zzz
Suara detik jarum jam yang berkombinasi dengan suara dengkuran inspektur berambut nanas mengisi keheningan di ruangan ini. Benar-benar desa yang sepi nan hening. Jika di kota Konoha, jangan harap kau bisa merasakan kenyamanan seperti ini. Di malam yang larut pun, kau tetap disuguhi suara kendaraan yang menderu-deru.
Di samping keheningan yang memabukan ini, terbesit pikiran untuk merumuskan siapa-siapa saja yang nantinya akan dijadikan para calon tersangka dalam kasus ini. Ku ambil notes yang tersimpan di dalam ranselku dan tak lupa kuambil bolpoin. Aku akan menulis rumusan singkat para calon tersangka.
Cih, tapi sial! Aku lupa, aku belum menyelidiki tentang identitas dan asal-usul korban. Mana mungkin aku bisa mengetahui para calon tersangka, sedangkan orang-orang yang berkaitan dengan korban saja aku tak tahu sama sekali. Bodohnya aku.
Kulirik ke arah Shikamaru. Sepertinya manusia yang sedang tergeletak pulas dihadapanku ini tak mau, atau bahkan malah tak bisa dibangunkan. Jalan satu-satunya, aku harus bergerak sendiri sore ini. Lebih cepat lebih baik.
Tanpa membawa alat apapun, aku beranjak pergi dari kamarku menuju tempat satu-satunya yang menurutku pantas dijadikan obyek penyidikan pertama kali. Rumah kontrakan korban.
Setelah sampai di jalanan desa, aku merasa bingung. Di desa Otogakure ini, hanya Gai seorang yang aku kenal dengan pasti. Kakek kepala desa pun belum bisa disebut kenal, mengingat aku baru pertama kali bertemu. Dan sayangnya, Gai sedang diinterogasi oleh pihak kepolisian sebagai seorang saksi mata penemuan mayat pria bernama Jiraiya itu. Dan karena itu, aku belum bisa menemuinya sekarang juga.
"Permisi tuan".
Suara dari arah belakangku barusan membuatku terlepas dari dunia pikiranku.
"Maaf, maaf pak. Silahkan lewat" Aku tersenyum kecut sembari menggaruk rambutku yang tidak gatal. Ternyata posisiku berdiri tadi menghalang-halangi seorang petani tua yang akan lewat.
Tapi tunggu dulu, tak ada salahnya bertanya kepada petani itu. Mungkin dia tahu dimana lokasi kontrakan Jiraiya.
"Pak, permisi sebentar".
Petani tua itu menoleh ke arahku "Iya, ada apa ya tuan?".
"Begini pak. Bapak mengenal orang yang bernama Jiraiya tidak?".
Tiba-tiba saja wajah petani itu berubah menjadi sedikit geram setelah mendengar nama Jiraiya yang barusan kusebut "Iya, saya tahu. Tapi saya tidak terlalu mengenalnya tuan".
"Ano, bapak tahu tidak dimana lokasi rumah kontrakan pria bernama Jiraiya itu?".
"Iya, saya tahu. Dari sini lurus terus ke ketika kau menemui perempatan, belok kiri. Lurus, dan rumah kontrakannya ada di bagian paling ujung".
Aku mengangguk sembari tersenyum "Terima kasih banyak pak".
Sebelum aku beranjak pergi, petani tua itu menepuk pundak kananku "Tuan, memangnya ada perlu apa tuan mau ke rumahnya? Bukannya dia sudah tewas hari ini. Memangnya tuan tidak tahu beritanya ya?".
"Saya tahu pak. Sebetulnya saya menuju kesana karena ada kepentingan penyelidikan".
Alis petani itu bertaut "Penyelidikan? Tu..tuan ini seorang polisi?".
Aku kembali mengangguk "Iyaa, seperti itulah".
"Tuan, jujur saja ya. Sebenarnya saya merasa senang si Jiraiya itu tewas mengenaskan".
Aku sedikit terhenyak mendengar penuturan petani tua itu barusan "Hn? Memangnya kenapa pak?".
Raut wajah petani itu berubah menjadi sinis "Yahh, bukan hanya saya sih yang senang. Hampir kebanyakan penduduk di desa ini malah".
Aku semakin serius mendengarkan penuturannya.
"Kau tahu tuan, dia adalah seorang preman di desa ini. Dia sering memalaki penduduk desa, untuk kepentingan mabuk-mabukan. Saya pernah sekali dipalak olehnya".
"Maaf, bukannya dia adalah seorang pengangguran pak?" Tanyaku dengan ekspresi penasaran.
"Memang dia adalah seorang pengangguran. Tapi untuk mencukupi kebutuhannya, dia lebih memilih menjadi preman tukang palak ketimbang bekerja secara halal".
Kami berdua terdiam sejenak. Aku mendapat sedikit pencerahan untuk kasus ini. Jika memang Jiraiya adalah seorang tukang palak, dan banyak warga yang membencinya. Itu berarti banyak orang yang bisa dijadikan tersangka. Dan itu akan semakin membuat kami pihak kepolisian merasa kesulitan dalam menemukan pelaku sebenarnya.
"Tuan, saya permisi dulu" Petani tua itu pamit kepadaku, dan beranjak pergi dari hadapanku.
"I..iya pak. Terima kasih banyak atas informasinya".
Tak perlu memikirkan hal-hal yang tidak penting. Saatnya menuju rumah kontrakan korban.
-XXXXX-
Aku telah sampai di depan rumah kontrakan korban. Sesuai yang diberitahukan oleh petani itu, sepertinya memang benar ini rumahnya. Di teras rumahnya tergeletak beberapa botol minuman keras. Karena Jiraiya gemar mabuk-mabukan, kurasa memang benar ini rumahnya.
TOK TOK TOK TOK
"Permisi!"
TOK TOK TOK TOK
Aku mendengar ada suara langkah kaki yang mendekat ke arah pintu.
CEKLEK
"Ada apa ya?" Seorang lelaki tua berusia kurang lebih 50 tahun kini berdiri dihadapanku.
"Permisi, apakah benar ini rumah Jiraiya?" Tanyaku dengan nada sopan.
Pria tua itu mengangguk pelan "Benar. Tapi maaf ya tuan. Jika anda berniat mencari Jiraiya, sebaiknya anda urungkan niat anda. Karena..karena..".
"Saya sudah tahu kok pak. Saya kemari bukan bertujuan untuk mencari Jiraiyanya. Tapi saya kemari karena saya ingin melakukan penyelidikan tentang identitas dan asal-usul korban".
Pria tua itu memasang wajah heran.
Aku langsung membuka dompetku dan menunjukan identitasku "Perkenalkan. Nama saya Hatake Kakashi, dan saya adalah seorang detektif".
Pria tua itu langsung mundur sambil ketakutan "Anda..anda akan menahan saya?".
Aku terkekeh lirih "Tidak pak. Saya hanya akan berbincang-bincang sedikit dengan anda. Boleh saya masuk?".
Wajah pria tua itu langsung melega "Oh begitu. O ya, silahkan-silahkan".
Aku kemudian langsung dipersilahkan duduk olehnya. Setelah duduk, pria tua itu langsung memperkenalkan diri.
"Nama saya Teuchi, Kakashi-san" Ucapnya ramah.
"O ya, mau minum apa? Kopi? Teh? Atau air putih?".
"Teh saja Teuchi-san".
Pak Teuchi segera mengangguk dan berjalan menuju kebelakang untuk menyiapkan teh yang aku pesan barusan. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk mengobservasi ruangan demi ruangan yang ada di dalam rumah kontrakan yang tak bisa dibilang besar ini. Setiap benda atau pajangan aku amati baik-baik. Tak lupa juga aku teliti lantai, langit-langit, maupun deretan kursi. Tapi sayang, sepertinya usahaku sia-sia. Pembunuhan itu sepertinya hanya berkutat di areal kuil saja. Tak ada barang bukti di tempat lain, termasuk rumah sang korban.
"Ini Kakashi-san tehnya" Pak Teuchi dengan perlahan menuangkan teh yang ada di dalam teko ke cangkirku.
"Silahkan diminum".
"Iya. Terimakasih banyak".
Setelah aku menyeruput sedikit tehku, aku segera memulai penyelidikan.
"Teuchi-san, ngomong-ngomong anda siapanya Jiraiya?".
Pak Teuchi segera menghentikan kegiatan minum tehnya begitu aku bertanya "Saya? Saya adalah pemilik kontrakan ini. Dan Jiraiya telah mengontrak di kontrakan ini selama kurang lebih dua tahun lamanya".
"Oh, jadi anda pemilik kontrakan ini?".
Pak Teuchi mengangguk pelan pertanda mengiyakan pertanyaanku.
"Sejauh mana anda mengenal Jiraiya, Teuchi-san?".
"Saya mulai mengenalnya sejak dua tahun yang lalu. Sebenarnya Jiraiya bukanlah penduduk asli sini. Dia orang pindahan dari desa Amegakure. Sebenarnya ketika pertama kali pindah kesini, Jiraiya sempat bekerja di pabrik tahu selama dua bulan. Tapi katanya tidak betah, dan malah memilih menjadi pengangguran dan menjadi berandalan".
Aku menopang daguku sembari tetap konsentrasi memperhatikan cerita dari Pak Teuchi "Lanjutkan Teuchi-san".
"Sifatnya benar-benar memuakkan. Dia sering memalaki penduduk desa ini. Dia juga sering terlambat membayar kontrakan, dan bahkan terkadang dalam beberapa bulan dia sama sekali tidak membayar".
Pak Teuchi-san menghela napas sebelum melanjutkan ceritanya "Dia terkadang juga makan di kedai ramenku dan tidak membayar. Mungkin gara-gara postur tubuhnya yang tinggi-besar-berotot itulah, penduduk jarang yang berani melawannya".
Aku kembali meminum tehku hingga isi cangkirku habis "Lalu, apalagi yang anda tahu Teuchi-san?".
"Tentang asal-usulnya saya jujur tidak terlalu tahu banyak, Kakashi-san. Tapi tentang segala kelakuan bejatnya, saya cukup tahu banyak" Lanjut Pak Teuchi.
Aku memicingkan mataku "Tolong, jelaskan apa saja yang anda tahu Teuchi-san".
"Setahu saya, dia sering mabuk-mabukan dengan beberapa teman-temannya. Dan dalam beberapa bulan terakhir ini, terdengar kabar bahwa Danzou-sama cukup sering bersitegang dengan Jiraiya. Karena Jiraiya terkadang melanggar aturan di kuil".
Aku menyilangkan kedua tanganku sembari bersandar ke tepi kursi "Aturan kuil?".
"Iya benar. Jiraiya telah mencemari kesucian kuil Nobunaga dengan perilaku bejatnya. Dia kepergok sedang mabuk di depan patung sang dewa".
Aku menghela napas "Ckckck, benar-benar berani atau malah bodoh".
Aku kembali menuangkan teh ke dalam cangkirku sedikit. Setelah cangkirku terisi cukup, aku segera meminumnya untuk merilekskan pikiranku. Ada poin penting lagi yang kudapat dari pembicaraan ini. Si Bhiksu galak itu ternyata punya hubungan yang buruk dengan korban. Kini, Danzou telah menjadi calon tersangka pertama atas kasus pembunuhan ini. Shikamaru pasti akan senang mendengar kabar ini.
Aku berdiri dan berniat untuk berpamitan pulang.
"Baiklah Teuchi-san, saya rasa pembicaraan kali ini sudah sampai disini saja. Terima kasih banyak atas kerjasamanya" Aku menjabat tangannya dan dia pun membalas uluran tanganku.
"Sama-sama tuan detektif. Maaf kalo informasi yang saya jelaskan hanya sesingkat itu".
Aku tersenyum sopan ke arahnya, sebelum akhirnya melenggang pergi dari teras rumah kontrakan itu.
Di perjalanan, perutku terasa lapar. Well, karena saking asyiknya menjalankan tugas, aku sampai-sampai lupa makan siang. Kulirik jam tanganku, ternyata waktu sudah menunjukan pukul 16.50. Ini sih makan sore namanya, bukan makan siang lagi.
Sambil berjalan ke arah penginapan, aku terus memperhatikan sisi kiri dan kanan jalan. Berharap menemukan kedai makanan yang kelihatan lezat dan nyaman. Sampai akhirnya di ujung pertigaan aku melihat ada kedai ramen yang dipenuhi oleh pembeli. Aku berani jamin, rasa dari masakan yang dijual kedai itu pastilah enak.
"Ichiraku Ramen? Tidak buruk kurasa" Gumamku.
Setelah masuk, aku segera memesan ramen special yang mempunyai nominal harga paling besar dibanding menu yang lain. Tak lupa aku mencari tempat duduk dan meja yang kosong.
Sambil menunggu, aku terus memperhatikan suasana di sekitarku. Banyak juga pasangan muda-mudi yang makan disini. Melihat hal itu, aku merasa sedikit aneh kepada diriku sendiri. Di usia kepala tiga, boro-boro pacaran. Dekat dengan perempuan pun aku tak pernah.
Ku perhatikan pula perempuan berambut cokelat panjang yang sedari tadi mondar-mandir di bagian kasir. Mungkin, dia adalah pemilik kedai ini. Ketika aku terus memperhatikan perempuan itu, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang bertanya kepadanya.
"Ayame, Teuchi-san ada?".
"Anda mencari ayahku? Dia sedang tidak ada. Mungkin dia akan datang nanti malam".
Tunggu dulu. Apa aku tak salah dengar? Teuchi-san? Jangan-jangan, kedai ramen ini adalah miliknya. Benar juga, dia tadi juga berkata tentang Jiraiya yang sering tak memnbayar saat makan di kedai ramennya.
"Permisi tuan, ini ramen special anda".
Suara lembut perempuan berambut cokelat itu sukses mengagetkanku dari lamunanku.
"Eh, i..iya. Terima kasih".
Sebelum perempuan itu pergi, aku segera memanggilnya "Nona, apa benar kedai ini milik Teuchi-san?".
"Eh? Bagaimana anda tahu tuan? Benar, kedai ini milik ayahku" Sahutnya ramah.
'Berarti perempuan ini adalah anaknya Teuchi-san' Batinku.
"Nona, bolehkah aku bertanya sesuatu?".
Perempuan itu menoleh ke arah kanan dan kiri dengan wajah sedikit gugup. Sepertinya dia sedang bingung bagaimana akan menjawab. Mengingat kedai ramen ini sepertinya selalu ramai oleh pembeli.
"Silahkan. Tapi jangan lama-lama ya tuan. Soalnya saya sedang sibuk melayani pembeli".
"Hanya sebentar kok" Kataku berusaha meyakinkannya.
Inilah saatnya untuk memastikan kebenaran dari perkataan Teuchi-san tentang Kelakuan Jiraiya.
"Nona, apakah anda kenal dengan pria bernama Jiraiya?".
Wajahnya berubah menjadi sedikit sendu dalam sekejap "Iya, saya kenal".
"Apakah dia sering berbuat ulah di kedai ini nona?" Tanyaku lagi.
Perempuan itu menghela napas dalam-dalam "Bukan sering lagi tuan. Hampir setiap saat dia kemari".
"Maksudmu?".
"Pria brengsek bernama Jiraiya itu hampir selalu tak pernah membayar ketika selesai makan disini. Dan yang paling membuatku sedih adalah...ayahku hampir pernah mau dibunuh olehnya" Nada bicaranya berubah menjadi lirih di akhir kalimat. Dan itu tandanya, perkataannya sepertinya tidak dibuat-buat. Dia benar-benar merasa miris.
'Jika saja aku kesini jauh hari sebelumnya, aku ingin mengetahui sebrengsek apa kelakuan Jiraiya itu' Kataku dalam hati.
Tanpa kusuruh, perempuan itu tiba-tiba tetap melanjutkan penuturannya "Dan karena ulahnya yang amat keterlaluan itu, ayahku sering menyumpahinya agar dia tewas akibat dikutuk oleh dewa Tengu pelindung desa. Dan sepertinya, Tengu-sama mendengar doa ayahku".
Aku amat terkejut dengan kalimat terakhir yang baru saja keluar dari putri Teuchi-san ini. Ternyata bukan hanya Bhiksu itu yang memendam kebencian yang dalam kepada korban. Teuchi-san pun ternyata memiliki kebencian yang mendalam kepada Jiraiya. Dan ini artinya...
Ada dua nama yang bisa kujadikan calon tersangka untuk sementara waktu.
-TSUZUKU-
Petunjuk demi petunjuk belum author munculkan di chapter 2 ini. Mungkin author akan munculkan di chapter berikutnya atau berikutnya lagi.
Terima kasih telah mau menyempatkan waktunya untuk membaca cerita ini. Silahkan bagi yang ingin REVIEW ataupun FLAME sekalipun.
