[ BACA A/N DIBAWAH YA (: ]


"Hidupku lebih dari sempurna.

Lebih, sebelum kusadari kesempurnaan itu berbalik menjadi bumerang padaku."

"Ayo, siapa yang mau berpasangan bertiga dengan Oh Sehun?"

Aku mendongak, menatap satu persatu wajah ragu mereka yang perlahan melangkah mundur. Mencoba menjauh dariku yang berdiri dengan pongah sendirian di samping guru olahraga.

"Teman-temanku dahulu selalu bersikap manis, bahkan terlampau baik hingga bersedia tertawa setiap aku membuat mereka sebagai lelucon buruk dan menenangkan dengan nada perhatian nan hangat setiap aku mengamuk dengan tangis pada sesuatu sepele yang tidak sesuai dengan keinginanku—"

"Siapa yang mau?" Guruku mulai terlihat bingung. "Saya akan menambah sepuluh point reward bagi kalian yang mau berbagi pada kawanmu ini, lho!"

Aku merasakan mataku bergulir keatas dengan delikan, meskipun sebenarnya aku tidak ingin menampakkan terang-terangan rasa kesalku. Dan tetap tidak ada yang bersuara.

Tidak ada yang mau menerimaku.

"—sebelum aku menyadari bahwa ketika pada akhirnya kau terjatuh dari puncak kejayaanmu, semua orang disekeliling akan membuangmu dan pergi.

Maka 'lebih dari sempurna' label pada diriku itu berubah menjadi—nyaris sempurna."

"Tidak apa-apa, Sehun-ah." Guru Kim menepuk kepalaku dan mendorongku ke pinggir lapangan setelah membuat anak-anak lain berlari ke tengah—mulai bersiap-siap untuk permainan pasangan, sementara aku masih berdiri sendiri. "Kajja, kau boleh istirahat duluan."

Kupikir bahkan Guru Kim, yang selalu memploklamirkan bahwa aku adalah anak emasnya diberbagai bidang, sama frustasinya denganku.

Jadi aku mulai duduk di pinggir, bersiap-siap menghabiskan waktu satu jam pelajaran olahraga yang tersisa —yang biasanya memang digunakan untuk break— hanya untuk mengamati anak-anak lain yang sedang bersenang-senang.

Orang-orang yang dahulu selalu menyebut diri mereka sebagai teman itu. Yang pada akhirnya berbalik memunggungiku setelah umma berhenti dari pekerjaannya sebagai guru—yang merangkup perisai pelindung pribadiku selama di sekolah.

Aku berdesis, melemparkan sebanyak mungkin tatapanku yang paling menyakitkan pada beberapa dari mereka yang kudapati sedang mencuri-curi lirikan ke arahku, sebelum bermaksud bangkit dan akan kembali ke kelas.

"Kurasa itu adalah kesalahan dari hidup sempurnaku, kesalahan dari segala puji dan sanjungan dari semua orang untukku, yang telah membentukku sebegini egois dan mengerikan disamping kesempurnaan yang kupunya tanpa sedikitpun menyadari resiko dari kelakuan burukku."

Namun pada saat itu muncul kepala bersurai pendek dengan warna madu melompat persis di depan wajahku.

"HAI!"

Aku begitu terkejut hingga jatuh terduduk lagi dan nyaris menendang wajah penuh cengir menyebalkannya.

"Kau dari sekolah SM, ya? Siapa namamu?"

Lapangan raksasa yang sekelilingnya diapit tiga sekolah dasar ini milik semua orang, memang. Selama ini dalam memakai lapangan kami memang selalu berbagi dengan dua sekolah lain, yang artinya lapangan ini dalam satu jam pelajaran dapat diisi tiga sampai enam gerombolan dengan tiga macam warna seragam yang menjadi simbol sekolah masing-masing—merah muda untuk sekolahku, hijau terang untuk sekolah yang berseberangan persis didepan sekolahku dan kuning oranye untuk sekolah yang berada di tengah.

Tapi ini pertama kalinya seseorang dengan seragam berbeda mengusikku di lapangan, terutama dengan tak lazimnya melompat didepan wajah secara tiba-tiba.

Wajah anak ini begitu tanpa terlihat merasa bersalah ketika dia yang memakai seragam olahraga berwarna hijau terang itu mulai berjongkok. Mungkin karena aku tak kunjung menjawab, dia menatap dengan mata bulat penasaran yang mulai menjelajah pada seragam olahraga merah mudaku—yang akhirnya berhenti pada nametag di bahu bagian kiri. "Hmm... Oh Sehun, ya?"

Anak ini menyebalkan karena mengejutkanku dan memasang wajah seperti tidak pernah terjadi apa-apa, jadi aku berjanji dalam hati tidak akan menjawabnya.

"Oh, oh, jangan-jangan kau Oh Sehun yang itu!"

Spontan aku menatapnya. "Yang itu?"

"Yang tampan tinggi pintar—" Anak itu terdiam memberi jeda, tampak malu dengan ucapannya sendiri. "Begitu yang kudengar. Anak Madam Oh yang cantik itu, benar kan?"

Orang-orang selalu mengatakan hal-hal sejenis itu jika berhadapan denganku dan sejujurnya aku sudah terlalu biasa dengan ucapan mereka yang selalu diucapkan dengan nada iri, namun melihat ekspresi serius dan penuh ketertarikan anak perempuan ini saat mengatakannya membuatku tanpa sadar tersipu, melupakan kebencian sesaatku padanya sebelumnya.

"Teman-temanmu sedang bermain, kenapa kau tidak ikutan juga?"

Mendengar itu, sontak aku menyentakkan tangannya yang sedang memegangi ujung lengan seragamku dan dia tampak terkejut sekali. "Mereka bukan teman-temanku!"

"Aku tahu aku hanyalah seorang bocah mengerikan nyaris sempurna dengan ego dan gengsi yang tinggi—yang memang sepatutnya disingkirkan."

"A-ah..."

Kupikir dia akan menjauh dariku setelah teriakanku barusan, namun mata bulatnya masih berbinar-binar menatapku dengan tertarik—aku tidak dapat menolak pemikiran tentang iris berwarna madu yang serasi dengan rambutnya itu begitu cantik.

"Mau main basket denganku, tidak?" Dia melompat-lompat pada posisi berjongkoknya hingga rambut cepak dan anting-anting bintang yang bergantung di telinga kirinya ikut bergoyang-goyang. Aku terganggu. "Tidak mau, ya? Bagaimana kalau beli cemilan sebentar? Lapar kan?"

Aku mengedikkan bahu. Menyebalkan, mengapa dia begitu cerewet? Apakah semua anak perempuan memang seperti ini?

"Kau tidak mau?" Dia mengerutkan kening sebelum sedetik kemudian menepuk keningnya dengan dramatis. "Bodohnya akuuuu, kan belum mengenalkan diri. Maaf! Namaku Xi Luhan!"

Aku mengulas senyum, berusaha tidak tertawa mengejek atas perlakuan sok dramatisnya barusan.

"Aku selalu merasa lebih dari sempurna dengan segala keadaan dan kelebihan yang kumiliki, namun ternyata selama ini aku melupakan hal yang paling penting dalam berkehidupan manusia sosial—

Lingkungan."

Siapa yang tidak tahu dia? Cewek tomboy pemain andalan sepak bola putri dan segala bidang olahraga lainnya dari sekolah umum yang berada tepat di seberang sekolahku itu, suaranya yang bagus dan nilai akademiknya yang diatas rata-rata. Orang-orang bilang penampilannya yang boyish tersebut sungguh tidak mendukung prestasi gemilangnya sebagai anak perempuan, yang mana sekarang aku pikir itu tidak benar.

Seboyish apapun penampilannya, dia tetap saja terlihat manis.

"Aku tahu kau, Luhan-ssi."

Luhan kelihatan gembira, dia mengibas-kibaskan tangannya didepan wajahnya sendiri dengan lucu. "Eiii jangan formal begitu, panggil Luhan saja!"

"Aku terlalu banyak menyombongkan diri hingga lupa bagaimana caranya mensyukuri."

"Kau..." Aku menatapnya bolak-balik dari ujung rambut madunya hingga ujung sepatu kets putih yang dia pakai, berusaha menilai anak perempuan didepanku ini. "Kenapa disini? Tidak ikut teman-temanmu?"

Dia mengangkat bahu dengan acuh, "Aku tidak punya pasangan."

Aku tidak percaya.

Kuedarkan pandangan ke seluruh lapangan, melihat kesudut lain yang penuh dengan anak berseragam sama seperti anak perempuan bersurai pendek di depanku ini dan tanpa sengaja melihat tiga anak perempuan bergandengan tangan diantara anak perempuan lain yang hanya berdua-dua.

Luhan mengikuti arah pandanganku dan seolah tahu pikiranku, dia mengedikkan bahu dengan bibir mengerucut. "Aku bosan, permainannya itu-itu saja sih. Lalu kulihat kau duduk sendirian disini dengan wajah menyeramkan jadi aku kesini, kupikir kau sama bosan denganku dan akan mau diajak main bola." Dia meringis dan aku ikut meringis. Tentunya Xi Luhan ini adalah anak yang diistimewakan gurunya hingga diperbolehkan keluar dari jam pelajaran begitu saja. "Tampangmu tampang pemain basket sih. Tadinya kukira semua anak laki-laki bisa olahraga, ternyata—"

"Aku bisa! Tentu saja aku bisa!" Aku cemberut. Bagaimana bisa dia berbicara, maksudku, mengejek terselubung dengan sesantai itu padaku? "Kau mau apa? Basket? Sepakbola?"

Mata Luhan berbinar-binar. "Serius?"

"Kalau melawan perempuan cerewet seperti ini sih aku tidak mungkin kalah!"

"Cerewet apanya!" Dia cemberut menatapku dan aku masih cemberut atas ejekan dia sebelumnya, namun detik berikutnya dia tertawa. "Kenapa dengan wajahmu? Jelek sekali!" Tangannya terulur dan menarik kedua sudut bibirku keatas. "Nah, kalau begini kan tampannya kelihatan. Hahaha."

"Tapi ternyata, masih ada lanjutan dari kalimat menyakitkan tersebut yang tidak kuketahui—"

Aku tidak tahu mengapa aku ikut tertawa atas kalimatnya yang sebenarnya tidak lucu itu, mungkin karena feromon bahagia yang Luhan tebarkan atau bagaimana. "Ngomong-ngomong, Luhan, untuk kau yang berbaik hati mau menemaniku, terimaka—"

Luhan menyela dengan berdiri tiba-tiba dan menepuk kepalaku. "Untuk apa berterima kasih, Sehun-ah? Kita ini kan teman!" Dia tersenyum, matanya seperti bulan sabit dan berbinar lembut. Dia terlihat cantik sekali dan aku tidak bisa tidak terperangah—terpesona.

Kurasa, itulah pertama kalinya dalam hidupku mengetahui kata teman dapat terdengar begitu tulus.

"—bahwa akan ada yang masih tinggal, akan ada yang masih bersedia berdiri disana untukmu meski kau telah jatuh dengan menyakitkan dan semuanya telah membuangmu,

Dan dialah yang selama ini berdiri diam disampingmu dengan tulus hati diantara jutaan orang dengan perhatian hangat yang palsu."


.

.

Softly Foolishness
byunpies storyline

[Warn; OOC, boyxboy content, crack pair, typo(s)
GENDERSWITCH FOR LUHAN & BAEK]

.

.


[CHAPTER 2]


"Kau tidak perlu melakukan ini terus."

Sehun mengeluh ketika Luhan lagi-lagi menjulurkan tangan untuk merapikan rambutnya yang kembali berantakan karena tersapu angin.

"Kau akan berkenalan dengan teman-teman barumu, Hun, dan penampilan harus yang diutamakan." Luhan tertawa selagi mengatakannya, jarinya menyisiri rambut Sehun dengan wajah senang. Namun angin kembali berhembus dan membuat helai rambut pirang platina milik Sehun yang telah tersusun rapi tersebut kembali berantakan. Keduanya lalu mengerang sebal dalam arti yang berbeda.

"Kupikir laki-laki kalau rambutnya berantakan akan lebih keren." Celetuk Baekhyun, setelah sedari tadi hanya diam menyaksikan lovey dovey kedua temannya tersebut. "Ya, maksudku, aura seksi mereka bakal menguar. Seperti Chanyeolku, misalnya."

Luhan memutar mata. "Pacarku bukan berandal geng yang kekurangan sisir." Tangan gadis itu kembali sibuk merapikan rambut Sehun sementara sang empunya diam-diam memutar mata juga dengan jengah. "Dan berhenti mengatakan embel-embel ku setelah nama Chanyeol, Baek, kau bahkan bukan pemilik sahnya."

Bibir Baekhyun mengerucut. "Aku kan pacarnya—eh—calon."

Kali ini dua orang lain memutar matanya bersamaan.

"Bisakah kau berhenti mengejar laki-laki?" Ini suara ketus Sehun, yang akhirnya terbebas dari tangan gatal Luhan pada rambutnya setelah angin berhenti berhembus kencang-kencang lagi—baiklah, Byun Baekhyun yang tidak bisa tidak terpesona pada lelaki tampan manapun, bahkan anak laki-laki seperti Sehun telah hapal tabiat anak itu juga. "Terlihat murahan, kau tahu."

Luhan menendang kecil betis pacarnya sebagai protes akan tajam dan menyakitkannya kata-kata tersebut, tapi dia tidak mendapat balasan.

"Lalu apakah bila aku diam saja maka Chanyeol akan menjadikanku pacarnya dengan tiba-tiba?" Baekhyun mengibas rambutnya yang digerai dengan mimik lucu. "Oh sayangku, Tuan Melambai yang baru datang dari zaman purbakala, kau tidak tahu di masa kini perempuan agresif-lah yang dicari-cari."

Sehun mendelik mendengar julukan Tuan Melambai yang digelarkan padanya lagi, sementara Luhan sudah melotot tajam sejak telinganya mendengar kata 'sayangku'. "Kalau dia memang suka, Nyonya Genit, dia yang akan mengejarmu."

"NYONYA GENIT?!"

Lalu lemparan sepatu telak mengenai dada Sehun.

"AW!"

"Ya, ya, ya, Byun Baekhyun!" Luhan menjerit, dia memukul-mukul Baekhyun dengan tinjuan manja—yang sebenarnya tidak sakit, tapi akting Luhan seperti dia melakukannya dengan sungguh-sungguh. "Itu namanya percobaan pembunuhan pada pacarku!"

"Dibanding pacar, kau lebih terlihat seperti ummaku." Sehun menyeletuk dan mendapatkan pukulan Luhan —yang kali ini dilakukan dengan sungguh-sungguh— dipunggungnya.

"Yah, sialan, aku ini nunamu." Luhan menuding, "Bicara yang sopan pada nuna!"

"Uuuuu, aku menyesal sekali~ Maafkan aku nunaaaa~"

Sehun mengedip-ngedipkan matanya pada Luhan dengan wajah sok inosen dan Baekhyun memutar mata jengah, "Mengerikan."

Luhan mendelik. "Siapa yang kau bilang mengerikan?"

"Aku tidak bicara padamu, Luhan."

"Kalau begitu aku bicara pada mulutmu. Hei mulut Baekhyun yang berlumur dosa akibat banyak mengumbar gosip, bisa dengar aku tidak?"

Baekhyun merengut, "Yang mendengar itu fungsinya telinga, bukan mulut, bodoh!" Tapi Luhan selalu punya kalimat untuk mengelak dari kata-kata sahabatnya. "Kalau Baekki, sih, telingamu ada dimana-mana kan."

"Ya, apalagi kalau ada gosip panas, seluruh anggota tubuhnya berubah jadi telinga."

Keduanya tergelak puas seperti mereka adalah tokoh antagonisnya sementara Baekhyun sudah memasang ancang-ancang untuk mencekik mereka—

"SEHUUUUUUUUNNNNNN!"

—dan terselamatkan oleh teriakan Zitao.

"Kau darimana saja?" Mengomel, anak dengan lingkaran hitam di matanya itu menarik kerah Sehun dari belakang. "Sekarang kan waktunya kumpul klub!"

Iris si sipit membulat, "Klub apa?" Sementara Baekhyun dan Luhan beringsut mundur dengan wajah shock yang mengisyaratkan: W-O-W, Zitao memutar mata dan imej cerewet-seperti-Baekki pada anak itu yang Sehun dapat kemarin hilang begitu saja.

"Jangan pura-pura bodoh, memangnya klub apalagi yang kau ikuti selain dance?" Dia menarik kerah belakang Sehun lagi. "Ayoooooo, cepat berdiri! Kau tidak mau terlambat di hari pertama kumpul, kan?"

"T-tunggu, aku tidak bilang kalau—"

"SEHUN IKUT!" Baekhyun melompat, tidak dapat mengontrol dirinya lagi dan sekarang dia tengah membelalak mengancam pada Sehun. "Kau HARUS ikut!"

"Eh, eh—" Luhan, yang dia berani bersumpah kalau niat awalnya ingin membela pacarnya, malah mendapat pelototan seram dari Baekhyun juga. "K-kau harus ikut, Hun-ah! Ya, kau harus ikut!"

"Nah, semuanya sudah setuju." Zitao telah berhasil menarik Sehun berdiri dari duduknya dan sekarang tengah menyeretnya pergi. "Jadi ayo kita pergi!"

Baekhyun dan Luhan ikut berdiri, tertawa senang atas ekspresi si Tuan Melambai yang air mukanya panik bukan kepalang.

"Eh, eh tunggu—EEEEEEEHHHH!"


Sehun menghela nafas dengan kesal, diantara puluhan kepala yang tertarik mengikuti klub ini hanya dia yang berdiri sendirian di barisan paling belakang.

Alasannya sepele. Karena semua anak menatapnya penasaran seperti dia adalah bakteri paling langka dan Zitao yang seharusnya membantu justru sedang berdiri di depan dalam deretan yang katanya telah diutus sebagai pengurus klub tari sementara untuk angkatan mereka, bersama Jongin dan Chanyeol dan satu orang bersurai pirang yang Sehun tidak tahu siapa.

Apa mereka sedang berusaha menerapkan F4 versi sekolah ini?

Sehun berpikir dengan muak, klub ini hanya berisikan orang-orang berisik yang tampaknya kebelet populer dan bahkan dipimpin oleh pelagak flower boys dan dia ingin sekali menendang siapapun yang telah menariknya ikut dalam pembukaan klub yang bahkan harus diawali dengan kekacauan ini.

Oh, ya, Zitao.

Dengan sambutan yang kelewat antusias dari Luhan dan Baekhyun.

Walaupun Sehun tidak yakin akan teman barunya yang hiperaktif itu termasuk dalam orang-orang yang dia sumpahi, namun kepala hitam Zitao yang sekarang ada disana diantara jejeran tiga kepala warna-warni lainnya dengan dagu terangkat dan tatapan tajam mengerikan telah menunjukkan semuanya.

"Mengapa tidak dirumah yang dekat saja?"

"Aku harus pulang cepat hari ini!"

"Ya benar! Rumah anak China itu terlalu jauh!"

Berbagai seruan protes terdengar satu persatu sementara Sehun bungkam dengan bete—bahasa gaul dari bad tempered, okay—, tidak ingin ikut berdebat. Toh, cepat atau terlambat pun pada akhirnya tetap pulang ke rumah juga pikirnya.

"Sekolah tidak memberikan waktu untuk kita tetap beraktivitas disekolah saat diluar jam pelajaran! Kalian pikir siapa yang rumahnya dekat dan mau meminjamkan rumahnya untuk anak-anak sebanyak ini?" Si surai pirang yang sedari tadi berbicara seolah-olah dia adalah leader dari semua kekacauan ini membuka mulut lagi. "Rumah Zitao adalah yang paling ideal untuk markas kita, lantai dua rumahnya kosong dan dapat kita gunakan setiap saat."

"Tapi tetap saja kami akan terlambat pulang!"

"Pikirkan yang rumahnya jauh, dong!"

Anak-anak yang lain terus meneriakkan protes seperti perkumpulan awal klub ini adalah sebuah ajang demo, membuat telinga Sehun berdengung tidak karuan. Sempat terpikir olehnya keluar saja dari kebisingan tersebut kemudian melarikan diri, namun dua pasang mata yang memperhatikan di balik punggungnya benar-benar mengunci pergerakannya.

Siapa lagi kalau bukan Luhan dan Baekhyun yang membolos setengah jam dari klub vokal mereka hanya demi mengawasi Sehun agar tidak melarikan diri dari perkumpulan awal klub dance mengerikan ini.

Sehun mendengus. Jika saja Baekhyun tidak sibuk mengompori pacarnya yang sial-mudah-sekali-menuruti-kata-orang itu mungkin dia sekarang sudah di kamarnya yang nyaman dan melakukan hibernasi sampai malam.

Zitao, yang wajahnya sudah terlihat putus asa, beralih pada Jongin dan Chanyeol yang hanya berdiri diam disamping mereka berdua. "Jongin, jadi bagaimana?"

"Aku tidak akan memutuskan."

Jongin melipat tangannya didada dengan angkuh sementara Chanyeol tidak terlihat peduli, terus mengunyah permen karetnya dengan berisik.

Sehun rasanya ingin melempar seluruh pot bunga besar yang dipajang diseluruh koridor sekolah pada wajah-wajah menjijikkan itu.

"Kita tidak punya banyak waktu lagi, Jongin." Si surai pirang menghela nafas, tampaknya lelah sekali dengan kekacauan di hadapannya—Sehun jadi sedikit kasihan. "Chanyeol, kau juga lakukanlah sesuatu."

Yang mengunyah permen karet hanya mengangkat bahu acuh.

"Aku tidak akan memutuskan," Jongin berbicara lagi. "Agar adil, yang akan memutuskan—dia."

Semua kepala menoleh kebelakang dengan serentak, tepat pada satu-satunya orang yang berdiri paling belakang sendiri—membuat Sehun, si pusat perhatian sekarang, yang sedang merutuk akan semua hal hampir melompat terkejut dari kakinya.

"A-apa?"

"Kubilang kau yang akan memutuskan." Sehun terpaku ditempatnya dengan mulut terbuka sementara tatapannya ditantang iris gelap Jongin yang masih menghunus padanya. "Kami menunggu, Sehun-ssi."

"Tunggu dulu. Memutuskan apa?"

Anak-anak mendesah, sebagian lainnya mencibir dan cibiran itu dibalas delikan tajam dari Sehun.

"Kau tidak mendengarkan, eh?"

Bukannya tidak mendengarkan, Tuan Pelagak Flower Boy yang Terhormat, tapi wajah sokmu itu membuatku amnesia dadakan. "Maaf."

Jongin mendesah dengan ekspresi lelah, seolah-olah dia memang paling benar dan Sehun hanya salah satu dari sekiran ribu anak buahnya yang tidak pernah menuruti perintah.

Ow, holyshit.

"Baiklah, kita akan tetap pergi ke rumah Zitao." Ketika semua anak membuka mulut dengan serempak untuk membantah, tatapan menghunus Jongin sedetik lebih cepat dari mereka. "Apa? Mau protes? Silahkan pulang saja, tapi maaf—kalian tidak akan dapat terdaftar di klub ini selamanya."

Seketika semuanya bungkam.

Sehun bingung. Sebenarnya sehebat apa sih klub ini?

"Turuti saja kata Ketua, dia sudah capek." Chanyeol menyeletuk dan Sehun nyaris terkena serangan jantung.

Jongin ketuanya? Jadi dia memang benar-benar akan jadi anak buah si hitam itu?!

Ugh, tahu begini, dia lebih baik dipanggil ke ruang BK saja!

"Ayo mulai jalan bersama-sama sampai stasiun bus." Zitao angkat bicara lagi, kali ini pembawaannya jadi dewasa—apa orang-orang pelagak flower boys memang biasa berubah-ubah sikap, ya? "Kalau bersama-sama tidak akan terasa jauh, kok. Ketua, ayo kau memimpin!"

Yang menyahut si surai pirang, dan dia berjalan paling depan dengan Zitao diikuti anak-anak lainnya, berjalan seperti kereta api yang panjang—Sehun merasakan jantungnya ikut menghela nafas lega juga.

Uh, jadi benar, si surai pirang itu leadernya. Uh, tidak membuat Sehun terkejut juga kok, setidaknya bukan Chanyeol ataupun Jongin yang memegang kendali atas klub ini.

Sehun ikut berjalan, masih paling belakang dan sendirian, tidak memperhatikan sekitarnya lagi sebelum mengingat sesuatu dan dia berbalik untuk melihat keberadaan dua anak perempuan yang memplokamirkan diri mereka sendiri sebagai bodyguard agar dia tidak kabur dari klub itu.

Luhan yang sedang melambaikan tangannya dan suara Baekhyun yang menyoraki Chanyeol untuk menyemangati calon pacarnya itu terdengar heboh, namun Sehun masih tetap dapat mendengar suara Luhan.

"Hati-hati."

Sehun tersenyum.

Luhan terlalu berharga untuknya.

Dia baru saja akan balas melambai, namun kerah seragamnya ditarik sekuat tenaga tanpa aba-aba dari belakang, membuatnya tercekik bukan main dan dia segera saja berbalik dan hampir menendang orang dibelakangnya sebelum suara serak khas Jongin menyapa gendang telinganya.

"Klub ini bukan sarana untukmu cinta-cintaan, Oh Sehun."

Nama lengkap Sehun yang disebutkan terakhir tersamarkan oleh jeritan keras Luhan dari seberang, mengancam dengan disertai segala macam umpatan yang sepertinya sebagai balasan untuk tarikan menyakitkan Jongin pada kerah seragam pacarnya beberapa saat yang lalu sementara Jongin mengacungkan tinju main-mainnya pada gadis tersebut.

Sehun dapat menangkap teriakan Luhan di belakangnya yang kurang lebih seperti—"Jongin hitaaaaamm! Jangan menyakiti pacar tampanku!"

Jongin yang masih mengacungkan tinjunya balas berteriak. "Aku tidak janji!"

"Kau benar-benar minta dihajar!"

Anak dengan marga Kim tersebut tertawa bersamaan dengan tawa Luhan dibelakang Sehun dan diam-diam Sehun merutuki tentang sakit lehernya yang sempat tercekik. Dia baru saja akan berbalik lagi dan bermaksud melemparkan lambaian selamat tinggal lagi pada Luhan yang sebelumnya gagal dia lakukan, sebelum Jongin tanpa aba-aba lagi merangkul lehernya.

"Apakah yang tadi itu benar-benar sakit?" Jongin bertanya, mungkin lebih tepat berbisik ditelinganya, membuat Sehun terpaku ditempat. "Maafkan aku." Bahkan setelah tanpa terduga sebelah tangan Jongin yang merangkulnya itu mengelus lehernya pelan, Sehun masih terpaku hingga sang empunya tangan melepas rangkulannya dan mulai berjalan dengan kedua tangan dimasukkan dalam saku.

Apa-apaan itu?

Apa yang tadi hanya skinship untuk memperlihatkan bukti perjanjian 'jaga-menjaga Sehun' antara Jongin dan Luhan?

Seolah tersadar dengan pemikirannya, Sehun menoleh ke belakang.

Tapi Luhan sudah tidak ada disana.

Bahkan mungkin sejak sebelum Jongin merangkul lehernya tadi.

Lalu skinship yang tadi itu…

Untuk apa?


.

.

To Be Continued

.

.

Hai, lama tidak berjumpa. /dibunuh

Iya, aku tau aku PHP. Bunuh saja aku. Sesuatu terjadi dan seluruh akun socmedku harus dideact dan dihapus, S-E-L-U-R-U-H-N-Y-A.

Bagian tertolol, aku lupa sama sekali kalau akun ffnku menyambung dari twitter, dan ketika aku mencoba membuka kembali—tidak ada yang tersisa.

AKUN TWITTERKU SUDAH KADALUWARSA! AKU TIDAK BISA MEMBUKA AKUNKU! PADAHAL AKU SUKA SEKALI UNAME INI. DAN FF-FF YANG KUBUAT DENGAN SENANG. Huhuhu.

Tapi pada akhirnya akun ffn ini dapat dibuka juga dengan bantuan seseorang hEHEHE—Sankyuuuu atas pinjaman (dan kerelaan) lappie-mu dikotori macam-macam hal yang berbau kekoreaan karenaku /dzig. Aku tahu aku ini jahat, tapi jangan kapok mendownloadkan untukku dan meminjamkan lappie-mu padaku ya :(((—

Aku terguncang, lama sekali sampai aku baru sadar ini sudah nyaris seabad sejak terakhir update. Iya, seabad. Aku tau rasanya menunggu yang tidak pernah kesampaian, itu mengerikan sekali. Tapi aku takut kalau mengaku, tapi rasanya ditekan rasa bersalah itu juga tidak enak.

Jadi aku, pada akhirnya, tetap membuka beberapa akun yang penting—maksudku hanya dua akun yang paling aku butuhkan, hanya fb dan twitter—tapi karena twitter yang kemarin sudah tidak dapat dibuka lagi, aku membuat baru dan dengan tambahan protect. Selain itu seperti ig atau askfm tidak ada yang kugunakan lagi. (Walaupun memang belum aku pakai sama sekali, aku ini paling malas kalau harus dihubungkan dengan macam-macam akun yang tidak berguna untukku.) Bunuh saja aku yang labil ini.

Karena kapok akan banyak sekali kecaman yang aku dapat, walaupun sekarang aku mungkin bakal kembali menulis—tapi aku tidak mau menjanjikan apa-apa lagi. Ya, aku akan berusaha. Tapi sebisaku.

Btw, aku baru jadi anak kelas sepuluh. Ketahuilah bahwa sebenarnya anak sekolah yang masih tinggal dengan orangtua itu lebih sibuk daripada anak kuliahan yang ngekos. Bahkan sejak awal MV Love Me Right keluar, sejak awal Sehun ganti warna rambut jadi hitam, aku sudah tidak tahu lagi bagaimana detil kabar mereka. Kadang-kadang hanya mantengin akun youtube SM dan download MV. Begitu saja. MAMA 2015 juga aku tidak mengikuti. Aku kangen spazzing (hiks)

Tapi tahu tidak, bagaimana mengerikannya tekanan yang didapat dari kelas unggulan itu? Aku senang sekali begitu tahu aku menduduki peringkat pertama dari beratus-ratus orang yang ikut tes masuk sekolah kemarin, tapi ternyata hal itu membuatku dipaksa masuk kelas IPA satu. Padahal passionku sama sekali bukan pada eksak, tes psikologiku kemarin menunjukkan aku cenderung pada musik dan positif IPS sementara aku juga ingin IPS (sebenarnya lebih pada bahasa dan sedihnya—disekolahku tidak ada kelas ini), tapi semua orang mencemooh. Memang sayang dengan peringkat ini, aku bisa langsung IPA satu, tapi aku ingin IPS saja… bagaimana ini?


29.01.2016
byunpies


(P.S. Aku masih memakai marga Xi pada nama Luhan hanya untuk menyeimbangi nama karakter yang lain, karena rasanya aneh kalau namanya hanya Lu Han sementara nama-nama lain punya tiga suku kata—Iya, maksud terselubungnya adalah: aku masih belum bisa move on dari OT12. Maafkan aku.)