Terima kasih atas review di chapter sebelumnya :
Oh. ILoveCupcakes—Jujur, maunya buat canon lg Kak, karna entah kenapa feel HitsuRuki lebih dapet di canon (bilang aja lu terobsesi HR canon). Tp takut pembaca pd bosan, buat AU deh#nyengir Moga UN bener2 gak susah, Kak. Makasih masih nyempetin review ya Kak Cupcakes.
UniquePurple—Tampang Ikkaku emang kayak Yakuza. Liat aja tampangnya kayak preman#digiles Heran jg kenapa tampang kayak gitu jd dokter. Gak ngeyakinin#luygbuatdiakayakgitukali Makasih udah nyempetin review ya, Purple.
Terima kasih pula ma yg udah login (sudah sy balas di PM-nya masing-masing): Akari Hikari | Reiji Mitsurugi | ichirukilover30 | Shin Key Can | KeyKeiko | Kujo Kasuza Phantomhive
.
.
.
Bleach © Tite Kubo
.
Genre:
Hurt/Comfort; Friendship
Romance (tenang, ada kok. Pair-nya kan HitsuRuki. Tapi mungkin di awal2 masih belum keliatan, hehehe)
Warning:
OOC (stadium akhir); AU (tidak ada yg namanya Shinigami2an atau Hollow apalagi espada); siapkan obat sakit kepala sebelum dibaca; istilah medis yg seenaknya dipake author yg jelas2 tidak tahu apa pun ttg dunia medis
.
Terinspirasi dari:
Grey's Anatomy © Touchstone Television
Surgeon Bong Dal Hee © SBS TV
Team Medical Dragon © TV Asahi Entertainment
.
.
.
.
.
Berlengkapkan kuas dan cat air, pelukis memberi sapuan warna-warni pada lembaran kanvas. Berlengkapkan alat pahat dan palu kayu, pemahat berjibaku tak kenal lelah pada sepotong balok. Berlengkapkan pisau bedah, dokter memulai invasi fokus penuh pada organ tubuh manusia.
Satu kesalahan, nyawa melayang.
Didampingi kru bedah, Yoruichi Shihouin berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan perempuan muda yang terbujur kaku di meja operasi. Bermodal keahlian bedah yang tak main-main, wanita berkulit eksotis itu tidak kenal kata mundur meski terjadi penurunan kondisi tiap sepuluh menit.
"Perempuan itu tidak bisa selamat," spekulasi negatif Ggio dari balik maskernya.
Renji punya pendapat serupa, "Ini operasi yang sulit. Bagi Shihouin-sensei, sekalipun. Dia begitu kewalahan."
Datang dengan diagnosis kegagalan jantung akut jelas bukan kondisi yang membuat siapa pun berharap lebih bahwa pasien itu bisa selamat. Bahkan di tangan dokter kelas wahid, asa itu masih sulit terwujud.
Akan tetapi untuk Toushiro—"Dia harus selamat. Harus." Tidak peduli. Se-kritis apa pun kondisinya, Shihouin-sensei wajib membuat pasien itu hidup.
Mendengarnya, dua kepala langsung menoleh dan beradu pandang heran.
Ketiganya cuma jadi penonton di pinggir kamar operasi dengan berlengkapkan masker dan penutup kepala. Tanpa jubah operasi. Belum saatnya bagi mereka untuk turun langsung. Mengambil pelajaran praktek yang terhidang di depan mata adalah satu-satunya yang bisa dilakukan.
Termasuk saat-saat genting detik ini—saat angka di layar monitor berkurang cepat, yang artinya detak jantung pasien menurun drastis.
Hanya Toushiro sendiri yang tahu bahwa wajah di balik masker telah memucat tiada tara.
Tolong hiduplah, Rukia Kuchiki.
.
.
.
LIFE: Wish and Hope
.
# 2 #
Rukia Kuchiki
.
.
.
"Kau tidak pulang?"
Toushiro menengadah dari bangku yang diapit dua lemari, mendapati Renji yang masuk ke kamar loker dan langsung membuka loker miliknya.
"Aku pulang ... nanti," jawabnya, sekenanya. Berpaling pada Renji, ia bertanya dengan suara berat penuh harap, "Bagaimana keadaan ... perempuan itu?"
"Pasien bunuh diri itu?" tanya Renji, retoris di balik pintu loker. Ia sedang berganti pakaian untuk segera pulang. Malam memang sudah sangat larut. "Sekarang sedang di ICU dan diawasi intensif oleh Shihouin-sensei."
Toushiro mengangguk dalam.
Kondisi kritis yang membuat jantung si pasien sempat berhenti ketika itu, memaksa Yoruichi menghela segala cara yang ia tahu untuk menolongnya. Pengalaman belasan tahun memang tidak sia-sia, karena setelahnya irama jantung perempuan itu kembali normal, membuat seisi kamar operasi berdecak senang. Lain hal untuk Toushiro yang justru angkat kaki dari sana. Mengurung diri di kamar loker, melepaskan sesak yang nyaris membuatnya tak bernapas. Juga untuk menyembunyikan setetes air mata haru nan syukur di wajahnya.
Menutup pintu loker, Renji membawa mata sipitnya pada Toushiro yang merunduk. Tentu ia tidak luput dari tindakan ganjil Toushiro di OR1) tadi siang. Maka, ia mengira, "Kau mengenalnya?"
Spontan saja, Toushiro mengangkat wajah. "A-apa?" Ia gagap. "Tidak." Ia kelabakan bukan main. Lalu berdiri canggung, melangkah kagok ke loker yang berseberangan dengan milik Renji, dan pura-pura mempersiapkan barang. Punggungnya serasa terbakar oleh tatapan si pria Abarai yang menunggu jawaban lebih dari itu.
Namun akhirnya, Renji bilang kalau ia akan pulang lebih dulu karena takut keenam adiknya cemas jika kelewat malam. Toushiro menimpali dengan gumaman seadanya. Baru setelah yakin sobatnya jauh, ia melepaskan napas bebas. Sebelum disusul bunyi jam digital, mengingatkan untuk juga segera pulang. Ia bisa ketinggalan bus.
Hanya saja sebelum itu, ia ingin ke ICU.
.
.
.
.
.
Berani bertaruh, tidak ada tempat lain yang paling dihapal para dokter, terutama dokter magang, selain rumah sakit. Bahkan, untuk rumah sendiri. Betapa tidak? Delapan belas jam sehari mereka habiskan di hospital berkutat dengan puluhan pasien yang tidak lebih dari kerumunan semut yang hilir mudik tanpa henti. Satu pasien kelar, satu pasien lainnya muncul. Begitu seterusnya.
Jangan heran jika sebulan bergerak sedemikian cepat bagi mereka. Sampai Renji mengibaratkannya dengan laju kereta shinkansen. Wuuuuush! Tanpa sadar, tiga puluh hari telah lewat.
Namun bagi Toushiro, hari-hari di bulan ini berjalan begitu lambat, mirip sepeda motor Renji yang geraknya menandingi keong.
Ia menunggu dengan hati penuh waswas, gelisah, dan risau. Campur-aduk jadi satu, dan siap meledak kapan saja. Keresahan itu makin menjadi kala berdiri di balik jendela, menatap perempuan muda dengan kondisi yang berjalan di tempat. Tidak ada tanda-tanda membaik sebulan ini.
Ia menarik napas berat, dan membuangnya cepat. Lalu berbalik dan menjumpai Ggio memandangnya dari sela kegiatan menulis laporan di chart. Toushiro berubah kaku dan menegang mirip perampok yang dipergoki. Kemudian memutuskan beranjak serta merta dari sana sebelum ditanya macam-macam.
Melewati Ggio tanpa bilang apa-apa.
.
.
.
.
.
"Rukia Kuchiki, 23 tahun ..."
Senna mempresentasikan kondisi pasien berkamar 1420 secara detail di depan tiga temannya dan sang residen, Ikkaku Madarame. Pasien itu baru dipindahkan dari ICU ke kamar normal kemarin sore setelah dokter spesialis, Yoruichi Shihouin, melihat tanda-tanda signifikan dari lima hari yang lalu. Hari demi hari yang makin membaik pun membuatnya menempati kamar rawat tanpa perlu dilengkapi perangkat medis rumit layaknya ICU.
Berlengkapkan selang napas di hidung dan infus di pergelangan, perempuan muda itu terlentang lemah. Sepasang bola mata ungunya memerhatikan, namun tanpa binar kehidupan di sana. Benaknya terbang tak tentu arah setelah terbangun dan mendapati diri masih bernapas di dunia busuk ini. Tangan yang terkulai di kedua sisinya, mencengkeram kencang seprai putih sampai mengkerut.
Ia selamat.
Lagi?
Sial.
Giginya bergemeletuk geram di balik bibir pucat dan kering yang merapat.
Tanpa ia sadar bahwa dokter bernama Toushiro Hitsugaya memandangnya tanpa jeda sejak langkah pertama memasuki kamar.
"Apa prosedur yang cocok untuknya?" tanya Ikkaku pada setiap magang ketika Senna usai memaparkan.
"CT—" Ggio dan Toushiro menjawab bersamaan seolah sedang berlomba. Tatapan mereka beradu tajam karenanya.
"Vega-sensei?" Ikkaku memilih Ggio.
Dengan cengiran senang, pemuda berkepang itu menjelaskan serinci-rincinya. Dan andai Ikkaku tidak bilang Stop!, mungkin rincian dalam buku setebal seribu halaman akan ia sebutkan tanpa cela. Tidak memberi kesempatan pada Toushiro yang tampak begitu tertarik menangani pasien ini, Ikkaku mengerahkan mereka keluar dari sana. Lalu menyerahkan chart2) Rukia Kuchiki pada Ggio.
"Kasus ini milikmu."
Ggio lekas berdecak gembira. Tidak ada yang paling menyenangkan ketika selangkah di depan Toushiro.
Tapi, Hitsugaya tidak terima begitu saja. "Biarkan pasien itu jadi milikku." Menghadang Ikkaku ketika bersiap beranjak ke kamar berikutnya.
"Apa?" suara Ikkaku menukik tajam.
"Pasien itu ... biar aku yang menanganinya." Toushiro jelas tahu apa akibat permintaan semena-menanya ini. Hanya saja, ia tidak punya pilihan lain.
Bertegak pinggang, Ikkaku mencondongkan wajah pada intern-nya itu. "Kau tahu apa tugas residen, Hitsugaya-sensei? Menentukan tugas untuk kalian sesuka hati, bukan melayani permintaan kalian yang sesuka hati."
Toushiro sudah tidak bisa mundur lagi. Sejenak memandang Ggio, ia berkata, "Aku bisa menangani kasus ini lebih baik."
Jelas, Ggio tersinggung. Berani-beraninya teman universitasnya itu meremehkannya. "Kau pikir aku tidak bisa menanganinya jauh lebih baik?"
Ikkaku berpaling padanya. Pun Ggio bungkam seketika saat mau menambahkan.
"Jika kalian ingin beradu mulut, jangan di tempat aku bekerja, di luar saja. Kecuali, kalian berdua ingin di-DO3)," katanya, menoleh pada mereka bergantian. "Dan, Hitsugaya-sensei, lain kali jika meminta sesuatu jangan lupa dengan kata 'Tolong'."
TITIK
Ikkaku lalu melangkah menjauh dari sana, memberikan tugas berikutnya pada magang yang tersisa. Renji dan Senna mengikuti dengan diam, kecuali ingin ikut diberi ceramah ala Yakuza yang bisa bikin telinga panas.
"Kau pikir, kau yang terhebat, Hitsugaya?"
Pernyataan Toushiro tadi bak menabuh genderang perang. Ggio tidak terima. Oke. Ia akan meladeni Tuan Sok Pintar ini.
Pergi dari sana dengan tatapan sinis, Ggio meninggalkan Toushiro yang diliputi rasa bersalah. Lelaki bermata hijau itu menghela napas sebelum berpaling pada perempuan di kamar 1420 yang terlentang tak berdaya. Ia pun memutuskan menyusul Ikkaku sebelum kena damprat lain hari ini.
.
.
.
.
.
Setelah hari itu, Ggio tidak pernah lupa melempar tatapan benci nan menantang pada Toushiro bila kebetulan bertemu. Si pemuda Hitsugaya sendiri ingin meminta maaf, tidak bermaksud. Namun, Ggio sudah kadung jengkel. Mau bagaimana lagi.
Biarpun begitu, Toushiro tidak jera ikut campur dengan pasien sobatnya. Hari ini hari keberuntungan ketika Ggio atau Madarame-sensei tidak terlihat di mana pun. Tidak ingin kehilangan kans, ia melangkah masuk ke kamar 1420, menjumpai Rukia Kuchiki yang memandang tanpa jemu ke jendela kaca yang berembun.
Mendengar suara langkah, Rukia berpaling ke samping. Toushiro menghampiri sambil tersenyum—bukan senyum belagak ramah dari dokter ke pasien, tapi senyum dalam, sedikit kikuk, dan penuh ketulusan. Namun bagi Rukia, itu hanya senyum sopan-santun. Tidak lebih.
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya sang dokter, membolak-balik chart di meja ujung ranjang. "Apa ada bagian tubuhmu yang sakit?"
"Tidak," jawab Rukia, pendek. Tenggorokan yang kering agak perih saat bersuara. "Hanya rasa lelah."
"Lelah. Kenapa?" Baru saja ia mau mengeluarkan stetoskop kala jawaban Rukia langsung membuatnya urung.
"Karena aku sudah berulang kali melakukannya, tapi tidak pernah berhasil. Jadi, sedikit lelah."
Toushiro berhenti, rautnya berkerut tidak nyaman. "Apa maksudmu?" tanyanya, kendati sedikit banyak ia bisa menebak balasannya.
"Kenapa kalian menyelamatkanku?" Bukannya menjawab, Rukia mengubah haluan topik.
Hitsugaya merespons apa adanya selaku dokter, "Karena kau harus hidup." Jujur, ia benci lanjutan topik ini.
"Kalian bodoh atau apa. Aku pasien bunuh diri. Itu berarti aku tidak butuh hidup."
Raut yang semula tegang berubah mengeras. "Kau—"
"Bisa berhenti mengganggu pasien orang lain?" potong Ggio, berjalan masuk. Suaranya tajam, setajam tatapannya.
"Aku ... hanya mengeceknya," kilah Toushiro setelah berangsur kalem. "Itu saja."
"Kau tidak perlu mengeceknya," balas Ggio, ketus. Ia bisa pastikan tidak akan ada lagi obrolan akrab seperti biasanya. "Dia bukan pasienmu."
Beep! Beep! Beep!
Dan panggilan pager4), membuat Toushiro tidak punya alasan lagi untuk tetap di sana. Ia angkat kaki setelah memandang Rukia sejenak.
"Kau mengenalnya?" tanya Ggio setelah rekannya melenggang pergi. Ia memerhatikan layar monitor.
"Siapa?"
"Hitsugaya-sensei. Toushiro Hitsugaya. Dokter barusan."
"Tidak."
Kening Ggio berkerut, heran. "Kau yakin? Karena dia seperti mengenalmu."
"Sama sekali. Aku tidak pernah bertemu dengannya."
Manggut-manggut mengerti, Ggio menuliskan kondisi pasien pada lembaran chart di meja.
"Sensei," Rukia memanggil; Ggio cuma menggumam di sela-sela kegiatannya, "jika aku mencabut infus di pergelangan tanganku, apa aku akan mati?"
Baru saat itu, Ggio mengangkat kepala. Rautnya menegang tidak percaya.
"Kau benar-benar ingin mati?"
Dan Ggio tidak perlu jawaban dari pertanyaan itu ketika Rukia menatapnya sungguh-sungguh.
.
.
.
.
.
Renji mengakui dengan berani kalau julukan "Yakuza" untuk Ikkaku asli darinya. Tapi, bukan berarti ia membenci pria itu walau sesekali kesal padanya. Ia tetap hormat pada sang mentor, dan kian hormat setelah diberi kesempatan melakukan bedah pertamanya dalam kasus appendiksitis5). Yah, meskipun itu kasus kecil bagi dokter senior, tapi untuk magang tahun pertama mirip mendulang emas setelah menggali puluhan tahun lamanya. Perasaan memegang pisau bedah sambil membuka perut pasien sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Memesona! Mengagumkan! Menggairahkan!
Tuh, bisa.
Membuka pintu kamar jaga, ia perlu beristirahat sebentar setelah seharian membantu-bantu di ER6) sebagai balasan terima kasih. Lantas ia mendapati Toushiro yang sedang berselancar di dunia internet di salah satu komputer butut di kamar tersebut.
Penasaran, Renji menghampiri dan meletakkan satu telapak tangan di meja. Kerutan tampak di dahinya ketika membaca tulisan di kotak pencari. "Kau mencari tahu tentang Kuchiki?"
"Aa," jawab Toushiro, tidak berpaling.
"Untuk apa?"
"Ingin tahu saja."
Ingin sekali Renji bertanya tentang kelakuan aneh Toushiro semenjak kedatangan pasien bunuh diri, Rukia Kuchiki. Tapi karena tahu betul sobatnya ini bukan tipe terbuka, ia diam saja. Apalagi ia punya cara sendiri untuk menguak misteri apa yang dipendam Toushiro. Orang, mereka sudah saling kenal selama sepuluh tahun.
Menghempaskan bokong di kursi satunya, Renji mengekori jejak Toushiro. Ikut-ikutan searching di internet.
Toushiro menoleh. "Kau sedang apa?"
"Mencari tahu tentang Kuchiki," jawab Renji, tidak berpaling.
"Untuk apa?"
"Untuk mencari tahu kenapa kau begitu tertarik dengan Kuchiki."
Cengar-cengir, Toushiro kembali berhadapan dengan layar komputer.
Belasan menit berlalu, pencarian mereka masih nirhasil. Keluarga bermarga Kuchiki memang lumayan banyak. Dengan jari yang menari di keyboard, Renji menyinggung kalau Ggio paling benci dengan orang yang ikut campur dengan pasiennya. Toushiro berkata bahwa ia ingin meminta maaf soal kemarin. Tapi, Renji yakin kalau pemuda berdarah Cina itu tidak akan mendengarkan.
Lalu mendadak saja jari Renji berhenti ketika mata sipitnya mendapati yang dicari. "Aku dapat!"
Perburuan tentang Rukia Kuchiki dimenangkan olehnya. Baru membaca beberapa baris, Toushiro meminta untuk segera dicetak dan langsung membawa lembaran itu pergi setelahnya.
Renji membuang napas, dan lanjut membaca berita yang dimuat lima tahun lalu itu.
Dan seketika, ia tertegun.
.
.
.
.
.
INUZURI, INPOS. com—Jalan tol KM 10 kembali memakan korban. Kini sebuah mobil ber-merk Enerspeed bernomor polisi H 1201 TRK dan sebuah truk telah jadi sasaran selanjutnya. Menurut kesaksian penumpang truk, truk yang dikemudi oleh temannya menabrak pagar pemisah jalan hingga merangsek masuk ke jalur yang berlawanan dan menghantam tanpa ampun mobil bermetalik biru tua yang datang dari arah berbeda. Alhasil mobil tersebut terdorong hingga menabrak pagar pembatas dan jatuh ke jurang dengan kedalaman ratusan meter.
Dari polisi yang menangani kasus ini didapati keterangan tentang pengemudi truk yang mabuk parah ketika kejadian itu berlangsung.
Akibat insiden tersebut, empat orang meninggal dunia. Seluruhnya adalah penumpang mobil Enerspeed, yakni Byakuya Kuchiki (43), Hisana Kuchiki (40), saudara kembar, yaitu Ayame Kuchiki (12) dan Tsubame Kuchiki (12). Sementara empat orang pengemudi truk hanya mengalami luka-luka dan sedang ditangani di rumah sakit.
Menyandarkan punggung pada meja administrasi, Toushiro sudah lebih dari sekali menghela napas seusai membaca lembaran berita yang ia cetak. Kata Senna, yang sedang berdiri di sampingnya sambil ikut membaca, kecelakaan tersebut terjadi ketika Rukia Kuchiki berumur 18 tahun.
Semenjak musibah itu, perempuan yang periang mendadak jadi pemuram. Waktu silih berganti dan tampak tidak ada perubahan. Sampai puncaknya sewaktu ia didapati bergelimang darah di kamar mandi. Sebelah pisau di tangan satu dan kucuran darah tanpa henti di tangan lainnya. Seakan malaikat kematian belum mau membawanya pergi, ia selamat meski kehilangan berliter-liter darah. Hingga berbuntut pada kondisi jiwa yang mulai tidak stabil, membuatnya berakhir di mental hospital yang bertempat di Inuzuri.
Tapi, insiden memotong nadi cuma menjadi awal kisah bunuh diri berikutnya sampai angkanya mencapai lima kali. Kelakuan yang kian menggila dari bulan ke bulan, membuatnya dirujuk ke mental hospital lebih besar, Seireitei, untuk ditangani lebih baik. Berada di lokasi yang baru dan lebih nyaman, perempuan itu cukup terkendali. Sampai sebulan lalu sewaktu luput dari pengawasan, ia terjun dari lantai empat rumah sakit.
"Kalau dihitung, sudah tujuh kali dia melakukan percobaan bunuh diri dalam lima tahun terakhir," kata Senna seraya meneguk kopi di mug.
Diam. Toushiro tidak berkomentar. Sepasang mata hijaunya memandang kosong jendela kaca kamar seorang pasien.
"Tidak ada siapa pun yang menyalahkannya bila kehilangan seluruh keluarga hanya dalam satu malam," kata Senna, lagi. Ia bukan tipe orang yang suka menghakimi atau menyudutkan orang begitu saja. Ia selalu mencoba untuk mengerti dengan berupaya mengandaikan diri di posisi si perempuan Kuchiki. Empatinya memang yang paling tinggi di antara empat orang magang. "Kalau aku ditimpa musibah seperti itu mungkin.…"
Kata-kata terakhir Senna, membuat lamunan Toushiro buyar. Ia berpaling padanya. Bermaksud menimpali, tapi urung ketika pengeras suara meneriakkan—
"Code Blue7)! Code Blue!"
Panggilan darurat menggema di penjuru lorong rumah sakit.
"Code Blue! Lantai tiga, kamar 1420!"
Sekujur sendi tubuh Hitsugaya spontan menegang.
"Kamar itu, kan—"
Namun Toushiro sudah angkat kaki, menyusuri koridor sambil menabrak tiga-empat perawat yang berteriak marah.
"Sial!" umpatnya.
.
.
.
.
.
"Kata Vega-sensei, Anda yang menyelamatkanku." Sambil tidak melepas stetoskop yang menyusup ke balik seragam pasien, Yoruichi mengangkat wajah. Rukia tersenyum. Shihouin jadi ragu kalau gadis ini punya masalah mental. Ia tampak seperti orang normal pada umumnya. "Terima kasih."
Yoruichi ikut tersenyum. "Tidak masalah. Aku hanya menjalankan tugasku sebagai dokter."
Rukia tersenyum lagi—senyum yang jauh lebih damai. Tahu gadis itu mengatupkan mata dan menduga butuh istirahat, Yoruichi melepas stetoskop dan mengalungkan di leher. Dirinya beranjak dari sana hingga suara monitor menghentikan kaki yang baru berjarak sebanyak tiga langkah.
Kepala berambut ekor kuda itu menoleh ke belakang secepat kilat.
Angka di layar menurun drastis.
"Sial!" Menanggalkan jas putihnya sembarangan, Yoruichi menekan tombol biru di samping pintu sambil berteriak, "Code Blue!"
Lalu menurunkan ranjang setengah duduk jadi lurus sempurna. Menekan dada berkali-kali sebagai tindakan terbaik yang ia ambil sebelum tim darurat datang. Mencetuskan nama Rukia seraya tanpa jeda memerhatikan layar monitor. Gelombang jantung masih belum sempurna.
Sampai akhirnya tim code blue yang ditunggu merangsek masuk. Atas instruksi Yoruichi, seorang perawat menginjeksikan cairan atropine dan epinephrine pada selang infus setelah perawat lainnya memasang ambu pernapasan. Detak jantung yang masih tetap sama mendorong Yoruichi menggunakan defibrilator.
Tapi, sebelum itu—
"Shihouin-sensei, dia DNR8)," Ggio muncul dan memberitahunya. Gerak Yoruichi yang awalnya aktif, berangsur pelan dan berhenti total. Juga untuk tim darurat yang mau tak mau lepas tangan dan tak melakukan apa pun, selain melepas alat bantu pernapasan. Tidak ada lagi tindakan penyelamatan.
Menghela napas kasar, Yoruichi berkacak pinggang sambil menghentak kaki kesal. Ia paling benci jika harus dihadapkan dengan keadaan begini. Sekarang yang perlu diperbuat (bagi dirinya yang seorang dokter) cuma bergeming. Menunggu sampai gelombang di monitor berubah jadi garis lurus, dan selamat tinggal.
"Apa yang kalian lakukan?"
Toushiro serta merta masuk, menerobos tak sopan, dan tanpa pikir panjang mengambil alih tugas memompa jantung. Ia sudah pernah bilang, kan, bahwa perempuan ini wajib selamat?
"Kenapa diam saja? Lakukan defibrilasi!" Teriakan Toushiro menggema di sekujur kamar.
Tapi sayang, tidak ada siapa pun yang bergerak.
"Dia DNR," Yoruichi berkata, lambat-lambat. Gerak Toushiro berubah pelan, hingga sepersekian detik berikutnya kembali memompa seolah tidak mendengar apa pun.
"Hitsugaya-sensei, dia DNR," Yourichi mengulang; intonasinya menekan dan tegas.
Lagi-lagi, Toushiro tak acuh. Tak peduli. Mengabaikan.
"Apa kau tidak mendengar?—"
Sore menjemput kala itu. Toushiro pulang, membuka pintu. Bolanya menggelinding hingga ke ruang tengah. Ia mematung, mendapatinya bergelantung di langit-langit.
Ketika itu, Toushiro belajar tentang arti kehilangan dan mempertahankan di saat yang sama. Apa pun itu.
"—Dia DNR! Do Not Resuscitate! Tidak minta untuk disadarkan!"
Mempertahankan. Apa pun itu.
.
.
.
.
.
To be Continued
.
.
.
.
.
1)OR : operating room atau kamar operasi
2) Chart : grafik keadaan pasien
3) DO : drop-out, dikeluarkan, didiskualifikasi, karena para dokter magang itu masih dalam tahap belajar
4) Pager : alat panggil
5) Appendiksitis : usus buntu. Biasanya dimanfaatkan para dokter magang untuk membedah pertama kali, karena tugasnya hanya mengiris kulit.
6) ER : emergency room atau UGD. Sy lebih nyaman gunakan kata ER.
7) Code Blue : peringatan adanya pasien darurat
8) DNR : prosedur untuk tidak diselamatkan.
Ada yg ingin tanyain? Mumpung kotak review di bawah sana gak prgi ke mana2#emangnyamaupergikemana
Ray Kousen7
24 Oktober 2013
A/N apaan tuh di atas?
