Paranormal expedition.

Summary: Naruto dan teman-temannya menguak misteri aneh yang ada di sekolah mereka.

Rate: M for horror and thrilling content.

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto-san. This fic is purely mine.

Warning: ABSOLUTELY OOC. Typo(s), abal, alay, gaje, horror dan humor gagal, tidak memenuhi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Don't like, please click back.


"Maafkan kenakalan Naruto ya, Iruka-sensei. Ayo minta maaf, bodoh!"

"I..iya-iya! Aku minta maaf, Iruka-sensei."

"Cukup, Uzumaki-san. Kurasa ini bisa kuanggap selesai."

Iruka-sensei mengantar Uzumaki Kushina keluar dari kantornya. Dan kini giliran Chouji yang masuk ke dalam bersama ayahnya. Shikamaru menunjukkan raut muka super depresi yang menunjukkan ia bakal bunuh diri dalam waktu dekat. Kiba sudah diomeli ibunya habis-habisan, sementara ayah Neji hanya menyerahkan segalanya kepada Iruka-sensei. Hari ini padahal hari sabtu, tetapi mereka tidak diperkenankan pulang ke rumah selama 2 pekan berturut-turut karena kejadian semalam.

"Kau ini. Jangan bikin malu ibumu dengan kelakuan bodoh begitu dong." omel Kushina. "Karena kau nggak jadi pulang, terpaksa Ibu harus membatalkan kunjungan ayahmu."

"Ayah mau ke rumah? " Naruto terperangah.

"Iya." Kushina mendesah lelah. Ia mengusap rambut pirang putranya penuh sayang. "Maafkan ibu, ya?"

Naruto memiliki masalah yang agak kompleks di dalam keluarganya. Meskipun pria tampan bernama Namikaze Minato adalah ayah kandungnya, nyatanya kedua orangtua Naruto belum menikah. Ada masalah rumit yang menyebabkan pernikahan mereka batal, dan Naruto dibesarkan atas nama marga ibunya. Meskipun Minato adalah laki-laki yang sibuk, setiap sabtu dan minggu ia akan meluangkan waktunya seharian penuh bersama putra pertamanya itu. Ayahnya juga tetap memberikan dukungan finansial kepadanya dan ibunya.

Ibu..." Naruto mengusap kedua pipi ibunya. "Kapan ayah dan ibu menikah? Maksudku...menikah lagi?"

Kushina tersenyum simpul. "Saat masalah yang mengganjal diantara keluarga ibu dan ayahmu selesai."

"Ti...tidak harus menikah juga tidak apa." tambah Naruto. "Ya...yang penting kita bisa hidup sebagai satu keluarga. Di luar negeri juga begitu, kan?"

Kushina hanya bisa memeluk Naruto. Ia mengecup singkat pipi putranya lalu berpamitan pergi. Naruto tersenyum dan melambaikan tangan melepas kepergian ibunya. Tadi pagi ambulans sekolah membawa Gaara ke rumah sakit. Hasil rontgen cedera kakinya cukup mengerikan. Ada dua robekan besar di ligamen kakinya dan harus di operasi. Ayahnya membuat janji dengan dokter bedah rumah sakit itu pada selasa pekan depan, mengingat pembengkakan pada area cedera baru sembuh setelah 3 hari. Naruto mendapat kabar itu dari Gaara melalui BBM. Sekarang teman sekamarnya itu tengah mendekam di kamar, sekarat karena kebosanan dengan sebelah kaki di gips.

Naruto turun ke lantai 1 untuk membeli cemilan di dorm store. Ada mesin-mesin yang masing-masing berisi minuman dingin dan minuman panas. Berbagai macam makanan ringan (permen, biskuit, keripik, wafer dan coklat) juga tersedia secara lengkap. Sementara makanan berat (sandwich, pasta, onigiri dan lain-lain) akan dihangatkan si penjaga kasir setelah memesan. Serunya, dorm store buka 24 jam penuh sehingga anak-anak asrama tidak akan kesulitan jika kelaparan di tengah malam.

"Irrashaimasse..." ucap seorang pelayan ketika melihat Naruto memasuki toko.

"Aku mau paket miso ramen." ujar Naruto.

"Topping tambahannya, kak?"

"Telur rebus saja. Ah, aku juga mau baso udangnya."

"Paket miso ramen plus telur rebus dan bakso udang. Sudah sepaket dengan ocha dingin, ya."

Setelah membayar, Naruto mencari-cari tempat dimana enaknya menikmati ramen favoritnya ini. Di ujung toko ia melihat seorang cowok berambut hitam yang duduk sendirian, makan onigiri dengan begitu nikmat. Naruto tanpa permisi duduk di bangku sebelahnya.

"Hai, Sasuke." sapanya. Lalu Naruto mulai makan dengan semangat.

Uchiha Sasuke adalah teman satu kelas Rock Lee, Yamanaka Ino—cewek yang ditaksir Kiba, dan Gaara di 10-2. Sementara Naruto, Shikamaru, Kiba dan Chouji ada di kelas 10-3. Shino dan Neji berada di kelas 10-4. Berbeda dengan anak-anak lain, Sasuke selalu bersikap soliter, terlihat seperti punya teman sekelebat-sekelebat, namun tidak ada yang benar-benar mengenalnya dengan baik. Merupakan salah satu pemain terbaik klub basket Shadow Leaf High School. Sikapnya yang arogan dan stoic membuatnya mendapat banyak hinaan dari anak-anak cowok sekaligus membuatnya mendapat banyak penggemar cewek.

"Aku melihatmu masuk kantornya Iruka." kata Sasuke. "Kenapa?"

"Aku dianggap melakukan kegiatan berbahaya." ungkap Naruto.

"Kau membuat api unggun di kamar?"

"Tidak. Aku melakukan uji nyali bersama teman-temanku di gedung sekolah."

SREK!

Naruto melihat secara kasat mata bahwa cengkraman Sasuke pada bungkus onigirinya menguat.

"Kau kenapa, Sasuke?" tanya Naruto. "Sakit perut?"

"Ah?" Sasuke menggeleng dan menghabiskan onigiri di tangannya. "Kau ada rencana melakukannya lagi, tidak?"

"Heh?" Naruto meletakkan sumpitnya. Ia berusaha membuka ocha dingin botolan miliknya namun gagal. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya begitu?"

Sasuke mengambil botol ocha Naruto dan membukakan tutupnya. "Nggak apa-apa. Ajak aku kalau kau mau uji nyali lagi."

"Hueee?! Kau mau ikut?"

Sasuke mengangguk pelan.

"Yosh! Aku bakal mengajakmu lagi kalau mau pergi. Berapa nomor kamarmu?"

"414."

Naruto terdiam sejenak. Lantai 4 dihuni anak-anak kelas 10, dan ia biasanya menghafal semua anak penghuni lantai 4. Namun sejurus kemudian ia menggeleng pasrah. Ia tidak bisa mengingat siapa teman sekamar Sasuke.

"Kau sekamar dengan siapa?" tanya Naruto apa adanya.

"Jugo." jawabnya. "Dia anak kelas 12."

"Kenapa bisa sekamar denganmu? Bukankah kita akan sekamar dengan teman seangkatan?"

"Alasannya bukan urusanmu." ketus Sasuke.

Ia menaruh botol minuman Naruto di meja dan pergi begitu saja. Sementara pihak yang ditinggalkan kelihatan kesal dan menyeruput udonnya dengan penuh amarah.

"Apaan sih sikapnya itu? Bikin aku sebal saja. Huh."

Seusai makan, Naruto berjalan kembali ke kamarnya, menghabiskan ocha dingin itu sepanjang perjalanan menuju kamarnya. Dari depan pintu, ia bisa mendengar ada suara gaduh dari dalam kamarnya. Takut terjadi sesuatu pada Gaara, Naruto merangsek masuk dan menemukan empat orang yang semalam mengadakan uji nyali bersamanya kini ada di kamarnya. Kiba, Shikamaru dan Chouji menjajah kasur Naruto. Sementara Neji duduk di kursi belajar Gaara dan membaca salah satu koleksi novel milik Gaara. Sementara Gaara masih duduk di kasurnya dengan kaki di gips, asyik membaca novel di pangkuannya. Ia membaca salah satu sekuel Ingo karya Helen Dunmore sambol memakan hamlidah sapi kalengan kesukannya.

"How's your foot, dude?" sapa Naruto.

"Good." jawab Gaara dengan aksen british.

Menyadari bahwa Gaara switch accent tanpa sengaja lagi, Naruto tertawa kecil. Gaara menepuk kasurnya, mengizinkan Naruto duduk di wilayahnya. Cowok berambut pirang itu mengangguk dan duduk berselonjor di kasur Gaara. Lalu cowok berambut auburnitu merebahkan kepalanya di perut Naruto tanpa canggung.

"Wah wah, Gaara bisa semanja itu sama Naruto?" Kiba tertawa mengejek. "Kalian punya affair, ya?"

"Enak aja!" Sembur Naruto kesal.

"Perut Naruto empuk, nggak kalah sama bantal." Gaara memberikan penuturan dengan wajah dan intonasi datar.

PLAK!

Naruto dengan kesal menampar jidat Gaara. Cowok itu meringis kesakitan dan berguling pelan menjauhi Naruto.

"Apa kata ibu kalian soal semalam?" tanya Naruto.

"Nih!" Kiba menunjukkan benjol bertumpuk di kepalanya. "Pelajaran biar aku tidak bertindak bodoh katanya."

Naruto meringis melihatnya. "Kau, Shikamaru?"

"Potong uang jajan." jawab Shikamaru ketus. "Puas?"

Nyaris semua orang yang tidak membaca buku menertawakan Shikamaru. Dan karena tidak biasanya geng ceria ini menyambangi kamarnya, Naruto akhirnya membuka pertanyaan baru.

"Kalian semua ngapain disini? Tumben."

"Ada kabar gembira." ujar Chouji.

"Kiba ditolak Ino?" tebak Naruto.

"Jahat sekali kau ini! Jangan mendoakan yang nggak-nggak, dong!" hardik Kiba kasar.

"Tadi kami main truth or dare karena bosan." terang Chouji. "Neji selalu hoki dan aku selalu memilih truth. Shikamaru..."

"...dia pilih dare dan akhirnya kusuruh dia mengajak Temari ke prom. Tebak apa jawabannya." sela Kiba.

"Nggak kan, pasti?" jawab Naruto asal.

Kiba menyeringai lebar. "Hell yeah! She said yes, motherfucker!"

Naruto butuh sepuluh detik untuk mencerna ucapan Kiba. Ia menampar-nampar mukanya dan memastikan bahwa ini bukan mimpi atau ilusi. Cowok secuek dan sepemalas Shikamaru yang hampir di cap homo oleh mereka berempat karena nggak pernah tertarik mengejar cewek itu, di setujui sebagai pasangan prom cewek sejutek Temari?!

"YANG BENER?!" seru Naruto. "Gaara, ini yang kita bicarakan Temari kakakmu, kan?"

"Hmm." gumam Gaara.

"Yang pirang, kuncir empat dan super galak itu, kan?!"

"Hmm."

"Yang...yang—umph!"

Gaara menyumpalkan seiris ham lidah sapi ke dalam mulut Naruto dengan wajah geram.

"Yes, dick! That's my f..king sister. Stop stating something obvious, stupido!" omelnya dengan bahasa Inggris berlogat hispanik.

Kiba dan Chouji terkikik geli melihat Naruto diomeli Gaara seperti itu. Neji akhirnya mengambil andil dengan menepuk-nepuk pundak Gaara.

"Tenanglah, Gaara-kun. Naruto hanya tidak percaya dengan apa yang dia dengar." katanya bijak.

"Hiyaah..." Naruto mengunyah ham lidah sapi di mulutnya, lalu menelannya. "Hal seperti itu kan nearly impossible."

"Jadi kabar baiknya, kita bisa cari jas bareng. Cukup cerdas kan, Gaara?" tanya Kiba dengan intonasi bangga. "Kakakmu suka cowok kayak gimana? Biar kami rombak dia."

"Suka yang apa adanya dan nggak banyak basa-basi." jawab Gaara datar.

Senyuman Kiba memudar. "Nggak ada perubahan, dong?!"

"Shikamaru lebih baik seperti itu. Karena mau dibuat seganteng apapun pasti nggak cocok." tambah Chouji santai.

"Untuk yang itu aku setuju." tukas Shikamaru. "Tapi kita bisa tetap cari jas bareng, kok."

"Yes!" Kiba menyeru bangga.

"Cari jas yang bikin Kiba kelihatan ganteng pasti susah." keluh Shikamaru. "Bakat gantengnya aja minus."

Kiba menerjang Shikamaru dan memiting kepalanya kesal. Shikamaru terlihat tak berdaya, sementara Naruto dan Chouji mulai mengompori keadaan. Neji yang tidak terlibat, hanya menutup novel yang tadi dibacanya dan duduk di kasur Gaara, tepat di sebelahnya.

"Ada apa?" tanya Gaara.

"Kau sering siaran malam kan, Gaara-kun?" tanyanya.

Gaara mengangguk.

"Apa...sosok Dullahan yang kau tulis berasal dari seorang wanita di ruang musik?"

Kedua mata jade Gaara yang miskin ekspresi membelalak. Ia mengisyaratkan Neji untuk lebih dekat dan membiarkan empat cowok bodoh yang lain itu saling bergumul-gumul.

"Kau melihatnya?"

Neji mengangguk. "Duduk diatas piano yang sering dimainkan Sasori-sensei. Deskripsinya persis seperti yang pernah dituturkan dalam audio drama Sleepy Hollow-mu. Hanya saja kepalanya tidak putus."

Gaara membetulkan posisi duduknya. "Dia mengatakan sesuatu?"

"Aku hanya melihatnya." kata Neji.

"Kau punya bakat 'melihat'." Gaara bergumam. "Keturunan?"

Neji mengangguk. "Aku juga bisa melihat, bahwa kau adalah seorang indigo, Gaara-kun."

Gaara tertawa hambar. Ia melempar kaleng ham lidah sapi yang sudah kosong ke tempat sampah. Neji kelihatan sedang mengamati sesuatu dan Gaara menoleh, lebih tepatnya mendongak ke atas.

"Hentikan itu. Dia tidak suka." katanya.

"Maaf." Neji menunduk malu. "Kau sudah lama menyadarinya?"

"Sejak aku SD, mungkin." Gaara menggedikkan bahunya.

Gaara menatap Naruto dan tiga temannya dengan pandangan menyelidik. Neji ikut melihat pula ke arahnya namun tidak ada hal-hal yang janggal dari mereka.

"Kalau dia mau melakukan uji nyali lagi, kuharap kau ikut." kata Gaara. "Aku berharap kau bisa menjaganya. Dan teman-temannya."

"Kau sayang sekali dengan Naruto, ya?" gumam Neji.

"Salah satu teman terbaikku." Gaara tertawa pelan. "Dia sudah memperlakukanku dengan baik."

"Baiklah." Neji mengangguk. "Tetapi kalau keadaan tidak dapat kukendalikan, apakah aku bisa menghubungimu?"

Gaara mengangguk.


Look at this stuff
Isn't it neat?
Would you think my collections complete?
Would you think I'm the girl, girl who has everything?

Naruto mendengus, muak mendengarkan suara mezzo sopran Sasori-sensei yang terdengar seperti bocah perempuan berusia 10 tahun. Akasuna Sasori berusia sekitar 35 tahun. Perawakannya kecil, dengan kontur wajah yang membuatnya terlihat seperti bocah 15 tahun. Lulusan sekolah musik ternama di Hungaria dan sempat mengisi beberapa konser di Denmark. Seorang jenius musik, selain kehandalannya bernyanyi dengan berbagai jenis suara (alto, tenor, bass dan mezzo sopran), ia bisa memainkan berbagai jenis alat musik. Dengan wajah tampan yang terkesan kenes dan kejeniusannya, ia terlihat sempurna.

Ketidaksempurnaan seorang Sasori-sensei hanya kelainan genetik yang membuat fisiknya terlihat seperti bocah, dan sikapnya yang seperti anak autis. Ia akan memulai kelas dengan bernyanyi sambil bermain alat musik, lagunya selalu lagu-lagu soundtrack serial Disney era jaman dulu seperti When You Wish Upon A Star, Part of Your World dan Once Upon A December. Lalu kemudian ia akan mengajari teknik bernyanyi dan bermain alat musik, lalu menyuruh siswa-siswinya bernyanyi sesuka mereka. Atau kadang berkaraoke saja menggunakan speaker dan lirik dari projector. Bahkan ia sering membubarkan kelas karena dirinya sendiri terlambat, atau ada siswa yang terlambat, atau ia sedang tidak ingin bernyanyi.

Di Shadow Leaf High School, kelas seni menjadi kelas yang istimewa. Untuk kelas 10, jadwalnya adalah hari senin. Mereka memasuki kelas seni berdasarkan peminatan dalam pendaftaran. Gaara mengambil kelas menggambar yang diajarkan Sai-sensei. Rock Lee, Sasuke dan Neji mengambil kelas contemporer dance Hip Hop-nya Killer Bee sensei. Sementara Naruto, Kiba dan Shikamaru mengambil kelas musik. Kelas ini peminatnya paling banyak. Selain metode belajarnya menyenangkan, Sasori-sensei adalah guru yang hebat. Ia bahkan bisa membuat Naruto dan Shikamaru bisa bermain gitar dengan percaya diri dan membuat anak-anak yang nafasnya saja fals seperti Shikamaru bisa bernyanyi dengan bagus.

"Selamat pagi, bocah-bocah." sapa Sasori-sensei setelah menyelesaikan lagu part of your world. "Hari ini jadwal kita adalah...apa, ya?"

Sasori-sensei membalik-balik jurnalnya. "Ulangan."

Semua murid terdiam.

"Aku bisa saja memberikan ujian tulis. Aku punya music sheet. Kubagikan pada kalian benda itu dengan lirik bohemian rhapsody. Kuputar lagu itu sampai kalian mau mati mendengarnya, lalu kalian harus menggambar notasi baloknya."

Terdengar keluhan dan protes dari seluruh kelas.

"Oh, diamlah kalian, para demonstran!" Sasori-sensei menggeram. "Lagipula, aku tidak punya soal seperti itu. Aku cuma bercanda." katanya lagi. "Cari teman, maksimal tujuh, sendiri juga boleh, bawakan aku satu lagu dan aku akan menilai kalian."

Sasori-sensei lalu duduk diatas meja kerjanya dan memperhatikan kemajuan latihan anak-anaknya. Beberapa siswi berbaris di hadapan Sasori-sensei, memintanya mengiringi mereka dengan piano saat penampilan mereka. Kiba terlihat begitu serakah karena menarik dua orang beatboxer, yaitu Shino dan Chouji, seorang cewek yaitu Hinata serta seorang gitaris yaitu Shikamaru. Setelah sekitar 30 menit berlalu, Naruto memutuskan membawakan lagu Coldplay yang berjudul Yellow, sementara kelompoknya Kiba dan Shikamaru melapor akan membawakan lagu Animals dari Maroon 5.

Tiba saatnya penilaian. Beberapa siswi diberikan nilai nol karena membuat Sasori-sensei kehilangan kesabarannya yang memang (luar biasa) terbatas. Ia tidak suka membuat orang menunggu, apalagi menunggu seseorang. Hal itu yang membuat Naruto cepat-cepat berdiri dan mengajukan diri untuk membawakan lagu setelah kelompoknya Kiba (yang diberi nilai 90+ oleh Sasori-sensei). Semuanya berjalan dengan mulus, meskipun Naruto sempat miss di beberapa kunci dan teknik vokalnya masih pitchy dimana-mana. Namun Sasori-sensei cuma memberikan ekspresi menguap bosan.

"Parah. Biasa aja." keluhnya. "Uzumaki...Naaa...ruto. Tidak bagus. 80 saja."

Naruto menahan geram dan mengucapkan terima kasih kepada Sasori-sensei. Kemudian ia bergabung dengan Kiba, Chouji dan Shikamaru yang tengah bersiap-siap meninggalkan kelas, karena Sasori-sensei mengusir semua anak yang telah selesai mengambil nilai.

"Hey, aku boleh tidak menghajar Sasori dengan gitar?" keluhnya. "Ucapannya menyakitkan sekali."

"Kau tidak bisa berharap banyak pada pria-tua-kerdil-sinting itu." balas Shikamaru. "Tapi dia memang guru yang baik, sih."

"Huh. Untung saat kita naik kelas, kita bisa memilih kelas seni yang lain. Kalau tidak, kubunuh saja dia." omel Naruto.

"Hey, Kiba!" seru Shikamaru sambil menunjuk.

Disana ada Yamanaka Ino yang baru saja keluar dari toilet putri. Ia berjalan ke arah loker dan membuka lokernya, mengambil beberapa lembar tisu dan sebuah hand sanitizer.

"Bagaimana? Sudah oke, belum?" Kiba merapikan rambutnya dan mencium bau mulutnya sendiri.

"Sip!" Naruto mengacungkan ibu jarinya.

"Nah, dengar ya. Jangan terlihat sok ganteng di depan Ino. Ingatlah, cowok ganteng biasanya berkata jujur apa adanya dengan wajah tenang." Shikamaru menepuk bahu Kiba. "Sekarang tarik nafas. Lalu..."

"Inooooo~" Chouji berlari ke arah Ino dan melakukan tos khas Ino (tos dengan telapak tangan, lalu menjentikkan jari). Ino melihat sekilas keadaan Chouji dan mulai mengomel tentang apa-apa saja yang dimakan Chouji.

Shikamaru hanya bisa face palm karena rencananya mendadak berantakan.

"Fuuuh. Aku siap." kata Kiba mantap.

"Oke. Smack her down, man!" Shikamaru mendorongnya ke arah Ino dan memberikan support.

Kiba berjalan dengan begitu kikuk mendekati Ino. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kemudian membenamkan kedua tinjunya ke saku jaketnya dalam-dalam.

"Umm...hai.." sapanya canggung.

"Dan jangan makan keripik ken...hai," Ino menatap Kiba dengan polos. "Apa aku mengenalmu?"

"Um, tidak. Maksudku—ya, kau harusnya kenal aku. Aku pemain football. Quarterback." Kiba memamerkan punggung jaketnya. "Lihat. Aku sering melihatmu menjadi kapten pemandu sorak."

"Lalu?"

Kiba mengusap hidungnya yang tidak gatal. Ia terlihat agak salah tingkah. "Kalau tidak keberatan, maukah kau jadi pasangan promku, Ino?"

Ino langsung bersidekap, menatap Kiba dengan sebelah alis terangkat. "Kenapa aku harus mau pergi ke prom dengan seorang atlet baseball..."

"Football." ralat Kiba.

"...ya, yang kumuh dan urakan sepertimu?"

Kiba mengerenyit. Ia terlihat terpojokkan oleh perkataan Ino.

"Karena...karena menurutku kau cantik. Dan kau manis. Aku yakin saat prom nanti kau akan pakai gaun yang bagus. Aku akan sangat bangga menjadi pasangan prom-mu, karena...karena rasanya seperti mendampingi seorang ratu. Merupakan suatu kehormatan bagiku."

Ino menatap Kiba sebentar, lalu menggedikkan bahunya. "Oke."

"Apa?" Kiba terlihat sangat tercengang.

"Kau dengar aku." balas Ino ketus. "Potong rambutmu, dan cuci muka. Dandan yang keren dan jangan lupa harus wangi yang soft dan maskulin. Kalau tidak sanggup, lupakan saja. Aku bisa cari cowok lain."

"Ba...baik. Terima kasih, Ino." tutur Kiba sepenuh hati.


"Neji, kau mau kemanaaa?"

Naruto berseru panik ketika melihat Neji membawa task backpack besar dan mengenakkan jeans, kaus putih lengan panjang dan hoodie hitam. Ia dijemput ayahnya, dan kelihatan mau pergi dalam waktu yang agak lama. Kiba, Shikamaru dan Chouji masih menikmati makan sore mereka di kantin, dan Naruto memutuskan untuk kembali ke asrama selepas jam sekolah dan bertemu Neji yang kini kelihatan agak buru-buru.

"Oh, Naruto." Neji tersenyum. "Aku ada acara keluarga ke luar kota. Pulangnya mungkin hari kamis."

"Yaaah. Aku bakal sangat merindukanmuuuu." ucap Naruto murung.

"Kan ada Gaara-kun."

"Gaara malam ini juga akan pergi. Besok dia dioperasi."

"Berarti Sleepy Hollow hari ini tidak on air, ya?" Neji merenung. "Kau bisa menginap di kamarku bersama Lee kalau kau mau."

"Boleh?!" pekik Naruto.

Neji mengangguk. "Bawa bantal sendiri. Aku tidak tidur dengan bantal."

"Neji, kita harus pergi." tegur ayahnya.

"Maaf, Naruto. Aku pergi dulu. Akan kubawakan oleh-oleh nanti."

Maka Neji pun pergi bersama ayahnya. Naruto hanya bisa mendesah kecewa. Ia kembali ke kamarnya dan melihat Gaara tidak melakukan persiapan untuk pergi sama sekali. Ia kali ini berkutat dengan kotak pasir yang canggih dan sepertinya tengah merancang alur cerita sebuah dongeng. Gaara pernah bercerita katanya dia dan Kankuro kadang pergi ke panti asuhan untuk mendongeng. Kankuro dengan boneka tali yang jadi keahliannya, sementara Gaara dengan lukisan pasirnya.

"Kau tampak tidak tegang. Padahal mau di operasi." ujar Naruto.

"Bakalan di bius lokal, kok." balas Gaara santai.

"Bukannya di bius total lebih aman, ya? Kau tidak akan merasakan sakit."

Gaara menggeleng. "Kalau di bius total, nyawamu hanya sejengkal dari kepala. Justru kemungkinanmu mati lebih besar. Keracunan obat bius karena reaksi alergi saat bius total sangat fatal."

"Oh, oke." kata Naruto. "Aku mau ke kamarnya Lee. Nanti kalau kau pergi, jangan dikunci, ya?"

"Hmm."

Naruto meninggalkan kamarnya dan berjalan menyusuri koridor. Ia menyambangi kamar Shikamaru, dan tampaknya mereka belum pulang. Naruto kemudian melangkah lebih jauh dan sampai di kamar yang belum pernah dikunjunginya.

414.

Kamarnya Sasuke.

TOK TOK!

Hening.

"Sasuke?" panggil Naruto.

"Masuk!" teriaknya dari dalam kamar.

Naruto membuka pintu dan melihat Sasuke yang bertelanjang dada, hanya mengenakkan celana pipe jeans dan tengah mengeringkan rambut hitamnya dengan sehelai handuk.

"Ada apa, Naruto?" tanyanya dingin.

"Aku mau membahas acara uji nyali yang kita bicarakan." ucap Naruto. "Kau mau ikut, kan?"

Sasuke mengangguk. "Kau mau tahu hal lain yang lebih seru?"

"Apa? Apa?"

Sasuke menyeringai. "Kita panggil hantunya."

Naruto tercenung. "Bu...bukankah itu berbahaya?" tanyanya.

"Tidak jika kau tahu bagaimana menangani makhluk-makhluk itu." kata Sasuke tenang.

"Selama ada kau, jadi semuanya bisa aman? Dan lebih seru?"

Sasuke menghempaskan tubuhnya ke kursi. Handuknya melorot menuruni pundaknya yang telanjang. "Lagipula, bukankah bodoh kalau kita mencari-cari hantu yang tidak kelihatan? Bagaimana kalau kita panggil saja mereka?"

"La...lalu?"

"Kita bisa pakai ini." Sasuke menunjukkan kepada Naruto sebuah papan scrabble. "Seperti main Ouija. Ini bisa kita pakai sebagai mediumnya."

"Tapi...bagaimana kalau mereka setelah itu tidak mau pergi?"

Sasuke tertawa sinis. Ia mengusap daerah sekitar matanya. "Tenang ini bisa melihat mereka. Dan mengendalikan mereka."

"Jadi kapan akan kita lakukan?" tanya Naruto antusias.

"Batas asrama jam 10 malam." tambah Naruto. "Kalau siang hari tidak bisa, ya?"

"Hasilnya tidak maksimal. Kemungkinan besar hantunya tidak akan datang."

"Huuum..." Naruto mengusap-usap dagunya. "Kalau prom mungkin bisa, sih?"

Alis Sasuke terangkat sebelah. "Kapan itu?"

"Sekitar 2 bulan lagi." Naruto menghitung dengan jemarinya. "Kita masih bisa keluar asrama sampai acara selesai, kan? Sekitar jam 12 mungkin baru bubar."

"Sehari sebelumnya juga banyak anak-anak yang menghabiskan malam di sekolah untuk menyiapkan prom, kan? Boleh juga." Sasuke mengangguk-angguk. "Siapa lagi yang kau ajak?"

"Eh? Aku, kau, Shikamaru, Chouji, Kiba dan Neji."

"Kurangi atau ajak seorang lagi." bantah Sasuke.

"Kenapa?"

"Dalam ritual pemanggilan hantu, jumlah pelakunya tidak boleh genap. Harus ganjil."

"Kau ini tahu sekali. Dasar pawang hantu." Naruto mengangguk-angguk. "Baiklah. Aku akan berusaha mengajak seorang lagi."

"Hn." Gumam Sasuke. "Kalau gagal, kita bisa pakai cara lain."

"Cara lain?"

Sasuke mengangguk. "Ada banyak cara. Seperti Bloody Mary, Hitori Kakurenbo dan lain-lain."

"Kau keren, Sasuke!" Seru Naruto. "Baiklah, aku akan ajak yang lainnya, apakah mereka setuju atau tidak. Aku pergi dulu!"

Naruto kemudian berlari meninggalkan kamar Sasuke. Sementara si pemilik kamar hanya menatap tamu barunya yang pergi, kemudian kembali melanjutkan proses pengeringan rambutnya.


"Perhatikan nomor atomnya baik-baik. Golongan juga penting, karena beberapa golongan unsur, ada pengecualian dalam penulisan konfigurasi elektronnya. Seperti pada golongan transisi, yaitu golongan B. Kita ambil contoh...Nikel. Ni." Genma-sensei menulis 'Ni' dan angka 28 sebagai lambang unsur nikel dengan spidol biru, lalu menulis konfigurasi atomnya dengan spidol hitam.

"1s2, 2s2, 2p6, 3s2, 3p6, 3d8, 4s2." Gumamnya sambil menulis bilangan konfigurasi. "Karena disini ada sub kulit "d" yang dapat menampung 5 pasang elektron, dapat juga ditulis 1s2, 2s2, 2p6, 3s2, 3p6, 3d9, 4s1. Sampai sini ada pertanyaan?"

Naruto menggeleng tidak mengerti. Kiba sudah ada di alam mimpi. Shikamaru sibuk menggambar-gambar kotak-kotak sebagai ilustrasi konfigurasi elektron di bukunya dan Chouji yang duduk di sebelahnya diam-diam ngemil keripik kentang yang ditaruh di bawah lacinya. Shiranui Genma-sensei adalah guru kimia terbaik yang dinobatkan berdasarkan angket penilaian siswa pada semester lalu, wali kelasnya 10-2. Orangnya santai dan tidak pernah marah, namun cara mengajarnya sedikit keras.

"Nah, coba kita buat konfigurasi elektron dari unsur transisi lain. Bagaimana kalau kau coba, Inuzuka Kiba-san?" Genma-sensei dengan tanpa dosa menimpuk spidolnya hingga membentur kepala Kiba.

"Navy 2, Navy 2, hut hut!" seru Kiba sambil berdiri secara refleks, lalu memasang kuda-kudanya sebagai quarterback. Seluruh kelas tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah aneh Kiba.

"Kepalamu masih ada di lapangan football, ya?" ledek Genma-sensei.

"Ah? Ung...maafkan aku, Genma-sensei." Kiba tertunduk malu dengan wajah merah padam.

"Kau ini, dasar pemalas. Cepat cuci mukamu dan..."

TOK TOK!

Genma-sensei mendecak kesal karena ucapannya terpotong. Hatake Kakashi-sensei, wali kelas 10-3 yang merupakan guru matematika kelas 12 (yang hanya mengajar kelas 10-3 karena kelas itu adalah kelas binaannya), masuk dengan santai dan melirik ke segala arah. Wajahnya yang tertutup masker membuat semua orang tidak pernah tahu ekspresi apa yang ditampakkannya.

"Maaf, Genma. Aku mencari Naruto." Katanya santai.

"Kenapa lagi anak ini?" tanya Genma-sensei. "Dia harus banyak belajar dikelasku, Kakashi. Kau tahu seberapa parah nilainya."

"Aku tahu. Tapi..." Kakashi-sensei mendekat dan berbisik di telinga Genma-sensei. Ia menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. Perbuatan yang tidak begitu berguna karena tidak seorang pun yang dapat melihat mulutnya di balik masker itu.

"...hhm...hmm..." Genma-sensei mengangguk. "Baiklah. Naruto, keluarlah bersama Kakashi-sensei."

"Baik!" ucap Naruto bersemangat.

Naruto mengikuti Kakashi-sensei, berjalan melintasi ruang guru dan sang wali kelas membawanya menuju ruang kepala sekolah. Sebulir keringat dingin mengalir menuruni dahi Naruto. Ia mulai memikirkan kesalahan apa yang membawanya menuju ruangan paling horror di muka bumi ini. Ia hanya menatap Kakashi-sensei. Laki-laki berambut kelabu itu membukakan pintu ruangan kepala sekolah dan membiarkan Naruto masuk duluan.

"Yah, aku minta maaf. Hanya saja aku benar-benar kangen sama anakku, Hiruzen-san."

Naruto menganga. Ia melihat kepala sekolah Shadow Leaf High School, Sarutobi Hiruzen tengah mengobrol dengan ayahnya, Namikaze Minato sambil minum kopi seakan-akan mereka adalah teman akrab. Ia hampir menangis, senang sekali bisa berjumpa ayahnya karena hukuman 2 pekan tidak diperbolehkan pulang ke rumah dari Iruka-sensei.

"Ayaaaah." Seru Naruto bahagia.

"Hai, nak." Minato tersenyum. Ia memberikan isyarat agar Naruto duduk di sofa di sebelahnya. "Kabarmu baik? Makanmu normal?"

Naruto hanya bisa nyengir tanpa dosa.

"Anda tidak diperkenankan membawanya pulang kerumah, Minato-san. Dia sedang dihukum." Jelas kepala sekolah.

"Baiklah. Sekarang aku pinjam dia dulu, ya?" Minato menepuk kepala Naruto dengan lembut. "Ayo, pamit dulu sama guru-gurumu."

Setelah berpamitan singkat dengan Kakashi-sensei dan kepala sekolah, Minato dan Naruto meninggalkan ruang kepala sekolah dan menuju lapangan parkir. Laki-laki pirang berusia awal 40-an itu membawa putra semata wayangnya ke sebuah pusat perbelanjaan untuk jalan-jalan. Selama perjalanan, Minato berulang kali melakukan kontak fisik dengan Naruto seperti mengusap rambut dan wajahnya, mencubit pipinya lembut dan sebagainya.

"Ayah sedang senggang. Pekerjaan di kantor sedang tidak begitu banyak. Jadi ayah mengajakmu jalan-jalan. Jangan bilang ibu, ya!"

"Jangan bilang ibu kalau ayah mengajakku bolos sekolah?"

Minato meringis. Ketika mereka tiba di tujuan, Minato dan Naruto memutuskan untuk bermain sebentar di arena ice skating, lalu lanjut ke lantai atas untuk main bowling. Setelah puas bermain, Minato mengajak Naruto ke sebuah gadget shop.

"Kau mau apa? Laptop?" tanyanya lembut.

"Sudah dibelikan ibu." Jawab Naruto.

"Ponsel baru? Yang lebih canggih?"

Naruto menggeleng. "Aku belum bosan dengan smartphone lamaku."

"Itu kan edisi lama."

"Kalau ayah mengerti cara menggunakan Android, smartphone ayah akan menjadi super serbaguna sampai rasanya tidak tergantikan."

"Betul tidak mau ganti?"

Naruto menatap ayahnya. "Kenapa ayah begitu memaksaku ganti ponsel?"

"Ayah hanya mau membelikanmu hadiah. Meskipun kau belum berulang tahun."

"Kenapa?"

Minato terdiam sejenak. "Ayah ingin saja."

Naruto merenung. Ayahnya memang sangat memanjakan dirinya. Naruto diizinkan membeli apapun yang dia inginkan selama bersama ayahnya. Namun didikan ibunya membuat Naruto menahan diri dan belajar untuk lebih menghargai uang serta bersyukur atas barang-barang yang dimilikinya. Naruto mungkin akan minta jas baru untuk prom dari ayahnya. Saat mereka berjalan melihat-lihat, mata biru Naruto terpaku pada sebuah camera recorder alias handycam terbaru yang sedang diskon.

"Kau mau?" tanya Minato ketika mengikuti lirikan mata ayahnya.

"Boleh?"

"Tentu saja."

Minato memanggil seorang shopkeeper dan bertanya fitur yang ada di dalam handycam tersebut. Setelah lama berbincang dengan si shopkeeper dan putranya, akhirnya Minato mengeluarkan credit card miliknya dan membelikan Naruto handycam tersebut. Naruto tersenyum lebar dan memeluk lengan ayahnya sebagai ucapan terima kasih.

"Habis ini mau kemana?" tanya Minato lagi.

"Pulang saja." Balas Naruto singkat.

"Makan dulu." Bantah Minato. "Ayah lapar, nih."

"Oke, oke."

Naruto menolak semua tawaran ayahnya untuk makan steak atau sushi atau bahkan fine dining masakan Italia. Pilihannya selalu jatuh pada kedai ramen yang antriannya lumayan ramai. Mereka harus berbaris di bagian waiting list selama setengah jam dan baru kemudian mendapatkan tempat duduk. Sambil makan, Naruto menceritakan apa-apa saja yang ia lakukan di sekolah dan asrama.

"Terus ternyata Ino menerima ajakan Kiba." Oceh Naruto. "Keren, ya?"

"Hmm." Minato menyeruput mi ramennya dengan nikmat. "Nanti ayah carikan setelan jas yang bagus buatmu. Ukuran kita berdua sama, kan?"

"Iya."

"Kau sendiri sudah dapat pasangan prom, belum?"

Naruto menyeringai. "Belum kepikiran."

Minato tertawa kecil. "Carilah. Jangan bikin ayah kecewa karena kau tidak laku diantara para gadis, Naruto."


"Sasuke!"

DOK DOK DOK DOK!

Sasuke membukakan pintu kamarnya dengan wajah kesal. Rambutnya mencuat kemana-mana. Naruto kelihatan sedikit tidak enak hati.

"Mau apa kau?" hardiknya.

"Aku punya rencana oke." Gumamnya. "Soal uji nyali itu."

Sasuke membukakan pintunya lebih lebar dan mempersilakan Naruto masuk. Di dalam kamar itu ada seorang lagi laki-laki besar dengan rambut oranye gelap, yang Naruto pernah lihat bermain bersama Kiba di klub football. Mungkin cowok itu yang bernama Jugo.

"Apa rencanamu?" ucap Sasuke tanpa basa basi.

Naruto memamerkan handycam barunya dan tersenyum lebar.

"Film independen. Dokumenter tentang uji nyali dan petualangan ghaib kita. Gimana?" tanya Naruto antusias. "Kau bisa jadi penulis naskahnya. Aku akan jadi kameramen."

"Boleh juga." Sasuke mengembangkan senyuman miring. "Ngomong-ngomong soal film, aku punya ide bagus untuk judulnya."

"Apa? Apa? Kau semangat sekali, Sasuke." Balas Naruto.

"Judulnya..."

Sasuke terdiam sebentar.

"Paranormal Expedition."


Hai. Bertemu saya kembali di chapter dua.

Demi apapun ini chapter meuni panjang pisan =w=)" jadi nggak enak sama readers takut bosen bacanya dan bertanya-tanya 'wadefak ini dimana horrornya?!' Oh, aku me-mention beberapa guru-guru yang bakal mengisi 'horror scene' di chap-chap berikutnya. Setelah kubaca lagi aku mulai berfikir 'apa ini bakalan sukses, ya?' tapi yasudahlah. Chapter ini sudah di post :v

Untuk chapter selanjutnya, akan ada beberapa ritual pemanggilan hantu dan adegan horror-thrilling super mencekam. Dan alasan kenapa di chapter ini panjang, disini saya akan memberikan beberapa spoiler penting. Disimak baik-baik, ya!

Diantara anak-anak peserta paranormal expedition, akan ada yang tidak terkena gangguan hantunya.

Sekolah mereka punya sejarah mistis.

Salah satu guru mereka adalah satanis (pemuja setan), exorcist (pengusir setan) dan hantu beneran.

Sekian bacotan saya di chapter dua. Jangan lupa review, ya!

Thanks for reading :3

Fajrikyoya.