Disclaimer © Masashi Kishimoto
Story © Punya Kika
Pair © Uchiha Sasuke, Hyuuga Hinata
Rated © T
WARNING © OOC akut, typo, alur cepat dan teman-temannya.
Summary © Sebuah cerita tentang adek kelas.
Don't Like Don't Read
.
.
.
-Adiks-
"Stupid Things"
.
.
.
Sebagai seorang pelajar di sekolah menengah, bangun pagi dan bersiap ke sekolah merupakan rutinitas yang harus dilaksanakan, terlepas dari rasa ikhlas atau tidak dalam melakukannya.
Hal yang beda harus dirasakan oleh Gaara pagi. Sudah 10 menit laki-laki bertato norak itu duduk manyun di ruang tamu keluarga Hyuuga.
"Aduh, maaf ya Gaara. Hinata membuat menunggu" kata seorang wanita paruh baya sambil meletakkan segelas susu stroberi dan sepiring potongan besar strawberry cake.
"Gak masalah, Tante" kata Gaara langsung membasuh tenggorokannya dengan susu stroberi hangat buatan ibu Hinata.
"Tidak biasanya ia lama begini" sambung Hotaru –ibu Hinata- sambil memandang ke lantai dua, tempat kamar Hinata berada.
"I'm so soorryyyy, bebyyyyy..." Hinata berlari menuruni tangga sambil berusaha memasang ransel putihnya.
Keluarga Hinata sudah terbiasa dengan teman-teman Hinata, termasuk Gaara. Awalnya, Ibu Hinata memanggil Gaara dengan panggilan beby, istri Hyuuga Hiashi itu sempat mengira nama asli Gaara adalah beby karena seluruh teman-teman perempuan Hinata juga memanggil Gaara dengan panggilan beby tapi kebiasaan Hotaru yang satu itu tak berlangsung lama. Guess what? Nggak ada hal lucu yang berlangsung lama selama Hyuuga Neji masih hidup bahagia di dunia ini.
"Hinata, lain kali jangan membuat Gaara menunggu"
"Hinata telat bangun, Ma. Ayok Beib.." Hinata mengajak Gaara untuk segera meninggalkan ruang tamu dan bergegas menuju ke sekolah.
"Tapi..." Gaara tampak tak rela meninggalkan ruang tamu tempatnya menunggu. Mulutnya masih penuh dengan strawberry cake dan di tangannya masih ada setengah gelas susu stroberi.
"Ayo, nanti kita terlambat" Hinata menarik lengan Gaara.
"Tapi susunya, kuenya..." Gaara memohon belas kasih Hinata.
"Tinggalkan saja" Hinata tetap berusaha menyeret Gaara.
"Tanteeee..." kali ini Gaara memohon pengertian Hotaru.
"Hinata. Biarkan Gaara menghabiskan susunya dulu" Hinata melepaskan tangannya dari lengan Hinata. Sementara itu, Gaara segera meneguk habis segelas susu stroberi yang ada di hadapannya.
"Kuenya.." Gaara kembali memandang kue stroberi yang masih belum habis setengah.
"Nanti aja. Simpan di kulkas, sepulang sekolah kamu bisa makan ke sini lagi" Hinata kembali menyeret Gaara.
"Sebentar ya, Gaara. Tante ambilkan kotak bento dulu"
Gaara keluar dari kediaman Hyuuga dengan senyum yang tak bisa ia sembunyikan, ia tidak begitu memperdulikan kotak bento warna pink motif Hello Kitty yang bersemayam diantara buku-buku di dalam tasnya.
"Mobil kamu mana, beby?" tanya Hinata shock tak mendapati mobil merah yang biasa Gaara gunakan.
"Ini kan cuma ke sekolah, makanya aku pake-"
"Motor vespa penghuni museum ini lagi?" tanya Hinata sedikit menaikkan nada suaranya.
"Kamu kan tahu, aku gak pake mobil kalau ke sekolah" jawab Gaara santai menaiki motor jadulnya yang lebih menyerupai mesin fogging saat mesinnya dinyalakan.
"Tunggu bentar. Aku ke dalam ngambil kunci mobilnya Papa. Masa-"
"Sekolah itu bukan mall. Pake motor limited kayak gini juga bisa sampe ke sekolah. Ayo naik!" perintah Gaara menyalakan mesin motor antiknya.
"Ah, dasar temen nggak pengertian. Aku bela-belain bangun pagi untuk nyatok rambut biar lebih rapi tauk" Hinata manyun menaiki jok belakang motor vespa Gaara.
Kendaraan yang seharusnya diistirahatkan untuk menikmati masa tua itu kini membelah lalu lintas kota Konoha yang padat. Belum lagi kecepatannya sangat memprihatikan, Hinata terkadang meminta Gaara untuk lebih cepat lagi saat beberapa pengendara sepeda melewati mereka sambil memberikan tatapan 'mending kalian jalan kaki aja deh'. Bukan hanya itu, helm yang digunakan Gaara pun tak kalah menarik perhatian, helm berwarna coklat yang persis dengan helm Pororo.
'Untung aja lo cakep, nyet!' batin Hinata tak ingin membuang waktunya mengomeli Gaara agak tidak menggunakan helm anehnya itu.
"Bebyyy, masa kita kalah sama yang naik sepeda sih. Cepetan dikit dong, ntar telat nih" kata Hinata gelisah sambil memukul punggung Gaara sekeras mungkin.
"Kamu kan tahu aku gak bisa kenceng-kenceng kalo bawa motor, apalagi boncengin cewek" Gaara memiringkan wajahnya ke samping untuk berbicara dengan Hinata yang duduk di belakangnya.
"Aku nggak minta kamu bawa motornya kenceng, seenggaknya bikin aku ngerasa kita lagi nggak di odong-odong gini"
"Jangan salahin aku dan motor soulmate ini dong. Kamunya sih, siap-siapnya lama bener" Gaara sedikit tidak terima saat Hinata mulai mencoreng harga diri motornya.
"Kamu pikir pake eyeliner itu gampang? Gerak dikit bisa rumit. Belum lagi mascara, salah teknis dikit bisa bikin kayak kunti. Apalagi pake lip tint, duh susah banget tauk. Mana pake BB cream ternyata nggak segampang keliatannya, kalo kebanyakan bisa bikin kayak pake topeng, aku kan mau ke sekolah bukannya mau ikut festival make up ala Geisha. Terus nih ya, kamu tahu rasanya pake blush on? Kamu harus sesuain warna blush on-nya sama warna kulit, beda bentuk wajah beda juga cara pengaplikasiannya. Tadi pagi juga lama sih, soalnya bingung milih colonge, mau pake aroma stroberi takutnya kamu ngiler pengen makan aku, mau pake yang jeruk takutnya dikira sabun cuci motor, makanya aku pilih pake wangi lavender, meski Sakura bilangnya mirip bau-bau obat nyamuk bakar. Bukan hanya itu-"
"Hinata..." panggil Gaara pelan.
"Aku belum selesai,bebyyyy..." Hinata masih berniat melanjutkan tutorial make up-nya.
"Ngapain gitu kamu jelasin hal-hal yang nggak bakalan aku ngerti dan nggak bakalan pernah aku pake?" Gaara menyadarkan Hinata yang terkadang berbicara dengan metode 'rem blong' alias nggak bisa berenti.
"Umm, itu-"
"Dari pada ngomongin make up yang entah sejak kapan kamu pake sampe lebay gitu. Mending kamu turun deh" Gaara memerintahkan Hinata turun dari motornya dengan gerakan matanya.
"Turun?" Hinata memandang sekeliling, terlalu asyik membicarakan aktifitasnya pagi tadi membuatnya lupa kalau motor Gaara sudah berhenti beberapa menit yang lalu. Berhenti di depan gerbang sekolah dan di tahan oleh penjaga gerbang sekolah, Kotetsu dan Izumo.
"Kita telat ya?" tanya Hinata agak kehilangan kecerdasan.
.
.
.
Entah ada apa dengan hari ini. Ada begitu banyak siswa yang harus menghabiskan waktu mereka berdiri di tengah lapangan melaksanakan upacara mereka sendiri. Yap, hukuman bagi para pelanggar aturan KHS, termasuk Hinata dan Gaara yang berdiri paling depan.
Hinata hanya diam saat sedari tadi Gaara tak henti-hentinya menghujamkan bacotan pada telinganya. Untuk beberapa alasan, 90% penyebab keterlambatan mereka adalah Hinata, sisanya disebabkan oleh soulmate-nya Gaara, si motor. Namun, terkadang hidup harus adil dalam beberapa hal, contoh nyatanya adalah Gaara. Dia juga harus memaksa bibir kyut-nya diam saat Hinata mengancam akan meminta strawberry cake-nya dikembalikan.
Perhatian mereka sedikit teralihkan saat beberapa siswa berlari kecil memasuki lapangan menggunakan seragam olahraga. Sebagai seorang Kakaks di Konoha High School, Gaara dan Hinta serta beberapa kakaks lainnya seharusnya malu dihukum karena keterlambatan seperti ini.
"Oh my God..!" Hinata menggigit bibir bawahnya saat menyadari bahwa kelas yang akan berolahraga di lapangan adalah-
"Iihhh, kelasnya adiks Sasukkkeee..." terdengar bisik-bisik kegirangan dari belakang barisan Hinata.
"Apa?" ketus Gaara saat Hinata bergeser ke belakangnya. Lebih tepatnya, bersembunyi di belakang Gaara.
"Hehe, di depan panas" kata Hinata sambil menarik kedua ujung lengan kemeja Gaara, seolah merapikannya dari belakang.
"Panas dari mana, sinar matahari datang dari belakang kita" lanjut Gaara heran.
"Ishh, aku malu" kata Hinata menunduk agar ia tak terlihat oleh adiks Sasuke.
"Malu kenapa?" tanya Gaara semakin tidak mengerti.
"Malu dilihat para adiks. Percuma aku udah dandan sampe lebay kayak yang kamu bilang kalau ujung-ujungnya di cap 'jelek' karena terlambat" Hinata menjelaskan maksudnya sambil menendang kaki Gaara. Percayalah, saat kita mulai menyukai seseorang dan melakukan kesalahan, rasa malu yang kita rasakan bisa bertambah ratusan lapis. Itulah yang sedang Hinata rasakan saat ini.
Meskipun niatnya bersembunyi tapi Hinata tak bisa menahan dirinya untuk mengintip ke bagian tepi lapangan untuk melihat seorang adiks yang tengah melakukan peregangan. Celana training warna hitam dan kaos olahraga KHS warna putih yang sedikit longgar di tubuhnya membuat adiks Sasuke tampak-
'Ihh, keren banget sihhhhh...' batin Hinata sambil menutup mulutnya.
"Eh, eh, ini kelas yang lagi olahraga kelas berapa ya?" tanya Hinata pada seorang siswi di sampingnya dengan nada suara bisik-bisik.
"Ini kelasnya adiks Sasuke, kalau tidak salah kelas X.1"
Pelajaran olahraga kelas X.1, kelasnya adiks Sasuke, berlangsung penuh dengan semangat masa muda. Guru olahraga KHS, Guy-sensei, memang terkenal bersemangat sekaligus rada anarkis saat sedang mengajar pelajaran olahraga. Tidak hanya menyemangati siswa kelas X.1 yang sedang berlari keliling lapangan, Guy-sensei juga sekali-kali menyemangati siswa KHS yang sedang berjemur.
30 menit telah berlalu, Hinata tak merasakan lelah atau pun panas. Selama mata ungunya menangkap pemandangan ganteng yang berlari kesana-kesini, yang ia rasakan hanya hembusan angin sepoi-sepoi yang berhembus di sore hari. Yah, meskipun saat ini waktu masih pukul 9 pagi. Mulai panassshhh bebyyy.
Ppprrrriiiiittttttt...
Suara peluit memekakkan telinga milik Guy-sensei mulai terdengar. Siswa kelas X.1 menghentikan aktifitas lari mereka dan segera membubarkan diri menuju tepi lapangan tempat Guy-sensei menunggu.
"PEREMPUAN MENGAMBIL BOLA VOLI, LAKI-LAKI MENGAMBIL BOLA BASKET!" Guy-sensei tetap saja boros suara seolah berbicara dengan seseorang di seberang sungai, padahal sudah jelas siswanya berdiri tak jauh darinya.
Hinata memperbaiki tatanan rambutnya, memperbaiki letak dasinya dan merapikan seragamnya saat ia melihat sosok ganteng itu berjalan ke arahnya.
'Aduh, dia sadar aku disini? Apa akan mengajak kenalan secepat ini? Duhhhh, gimana nih...!"
Sosok ganteng itu semakin mendekat, tatapannya tajam, rambutnya sedikit basah oleh keringat, baju bagian punggungnya juga mulai basah.
"Ihhh, ihhh.. adiks Sasuke kesiniii..."
"Yampuunnn, cakep banget. Sumvaahhh..!"
"Oeehh.." Sasuke mengulurkan tangannya.
"Apaan..." dibalas oleh Gaara. Mereka berdua kemudian berjabat tangan ala laki-laki.
"Ngapain?" tanya Sasuke menepuk pelan bahu Gaara.
'Akuuu...? Aku sedang menunggu curahan cintamuuuhhh~' batin seorang gadis di belakang sana.
'Akuuu... aku sedang memandang wajah calon Ayah dari anak-anakku kelak' batin gadis dari bagian barisan garda samping.
Dan beberapa kata-kata batin lainnya yang intinya baper karena pertanyaan Sasuke pada Gaara.
"Biasalah, nasib orang ganteng biasanya rada-rada sial gitu deh" jawab Gaara sok cool seolah lupa bahwa dirinya pecinta makanan yang unyu-unyu. Susu stroberi dan strawberry cake makanan unyu, kan?
"Ngomong terlambat aja susah amat. Sendiri?" tanya Sasuke mengedarkan pandangannya.
"Nggak. Ini sama-"
"Apa? ihh, Kakashi-sensei emang gitu, udah ngajarnya nggak jelas suka telat lagi" kata Hinata berbicara dengan siswa yang Gaara yakin Hinata nggak kenal sama siswa tersebut. Sementara itu, siswa yang jadi objek 'sok kenal'nya Hinata hanya kebingungan dan mengeluarkan hehe.
Niatnya, Gaara ingin menunjuk Hinata sebagai teman sekelasnya yang juga terlambat tapi apa daya, Hinata terlalu lincah untuk menyadari apa yang akan Gaara lakukan. Makanya, Hinata langsung membelakangi Gaara untuk menghindari pandangan Sasuke, tak lupa juga Hinata mengeluarkan jurus sokab-nya. Malu kali ah, bikin first impression jelek di depan adiks.
"Cuma nggak mau keliatan sebagai siswa yang suka telat di hadapan adiks-adiks kitakok" jawab Hinata saat Gaara menanyainya tentang tingkah anehnya tadi.
.
.
.
Hinata dan Gaara sampai di kelas dan duduk di bangku mereka dengan selamat setelah mendapat tugas tambahan dari Anko-sensei, guru yang digadang-gadang sebagai pemeran serial killer di permainan werewolf.
"Tumben telat, gak diantar sama Kakaks Neji?" tanya Tenten yang langsung melancarkan aksi 'modus kalem'nya.
"Bareng beby Gaara, males banget dianterin Kaks Neji. Dia kan orangnya kaku, mirip banget sama kanebo kering" ujar Hinata kesal mengingat sosok sepupu laki-lakinya yang sumpah demi kulit manggis ajaib, ngezelin banget.
"Hin, Hin...kamu kok keliatan ada yang beda sih?" tanya Ino mengomentari teman sebangkunya.
"Ah, masa sih" sambung Hinata yang meminta untuk di bahas.
"Pake eyeliner, ya?" tebak Ino tepat sasaran.
"Yuhhuuu..."
"Pake mascara juga kan?"
"Thats right, beibiihhhh..."
"Pake lip tint juga kan? Ihh, dasar kecentilan, huuwww..." kata Ino sambil menyenggol Hinata.
"Siapa yang ngajarin?" Matsuri yang duduk di bangku sebelah Ino pun nyeletuk.
"Asal kalian tahu ya, di dunia ini selain ada Beby Gaara, ada beby Utube juga sis" jawab Hinata sambil mengibaskan rambutnya.
"Lagi naksir orang yaa..." tanya Sakura sambil menodongkan jari telunjuknya pada Hinata.
"Ihh, apaan sih. Emangnya salah ya dandan kalo ke sekolah" Hinata membela diri.
"Jangan-jangan kamu lagi naksir..." Shion pun ikut menodongkan pulpennya pada Hinata.
"ADIKS SASUKE, KAANNN?"
"Kalian yang di belakang. Sekarang waktunya pelajaran Fisika, waktunya menghitung jumlah putaran. Bukan waktunya untuk menghitung jumlah gebetan yang tak kunjung peka" tegur Anko-sensei sedikit baper.
"Santai aja, cyynn. Wajar kok kalau kamu suka sama adiks cakep kita yang satu itu. Pesonanya terlalu kuat untuk ditolak oleh kita-kita yang lemah terhadap kegantengan" sahut Sakura meyakinkan Hinata bahwa ia masih normal dan baik-baik saja kalau ia menyukai adiks Sasuke.
.
.
.
Hinata dan Gaara berjalan menuju ke ruang guru untuk mengantarkan buku tugas kelas mereka.
Kalimat diatas adalah kalimat yang masih menyandang 'seharusnya'. Buktinya, saat ini hanya Hinata yang membawa setumpuk buku di hadapannya.
"Aku ada rapat organisasi, tolong ya" begitu kata Gaara saat meletakkan setumpuk buku diatas tumpukan buku yang dibawa oleh Hinata.
"Hmmm...naa naaa...naa..naaa...tralaa..laaa..laaaa" Hinata berusaha menghibur dirinya sendiri dengan melantunkan sebuah lagu yang terdengar tidak jelas tapi dalam hati Hinata, lirik lagu tersebut sangat jelas. Apa lagi kalau bukan-
'Gaara sialan... Gaara sialan... Gaara sialaannn...uuwwwwwyyeaahhhhh!'
"Ojamashimasuuu..." kata Hinata mendorong pintu ruang guru, ia kemudian berjalan melewati beberapa meja guru untuk mencari meja seorang guru bernama Anko.
Awalnya, Hinata berencana langsung meninggalkan ruangan yang penuh dengan monster itu tapi niatnya langsung sirna berubah menjadi asap yang kemudian menghilang tertiup angin saat ia mendengar percakapan sederhana yang kurang lebih seperti di bawah ini:
"Pak Izumo, tolong antarkan surat ini ke ruang Kepala Sekolah, ya.." ucap seorang guru Sejarah dengan style mengajar yang membosankan, Iruka-sensei.
"Sebentar ya, Pak. Saya antarkan kopi ini ke Bu Kurenai dulu" jawab si Izumo.
"Memangnya Bu Kurenai ada kelas ya?" tanya Iruka-sensei pada Izumo.
"Iya, Pak. Di kelas X.1. permisi.."
Seketika, sebuah antena dan satelit langsung muncul di sisi kepala Hinata.
"Pak Izumo.." sapa Hinata memasang tampang 'prihatin'.
"Ada apa, Hyuuga-san?" tanya Izumo dengan kopi di nampan yang sedang dibawanya.
"Kalau tidak salah dengar, tadi Iruka-sensei meminta Bapak untuk mengantarkan surat ke ruangnya Tsunade-sensei, ya? Sepertinya itu surat penting, Pak. Kalau terlambat bisa-bisa Tsunade-sensei mengamuk dan menyebabkan gempa lokal, Pak" wah, sungguh siswa yang berhati mulia.
"Tapi Bu Kurenai juga nggak kalah sangar kalau lagi marah" kata Izumo memandang kopi pesanan Kurenai-sensei.
"Biar Hinata bantu, Pak. Kopinya biar Hinata aja yang antar ke ruang kelas X.1" kata Hinata meraih nampan di tangan pak Izumo.
"Wah, Hyuuga-san tau aja kalo kopinya mau di bawa ke kelas X.1"
"HEHE..!"
Hinata berjalan pelan menuju kelas X.1, tempat Kurenai-sensei mengajar sekaligus tempat belajarnya sosok ganteng yang telah membuat kuota internet Neji habis dalam semalam karena kelamaan mengakses utube untuk tutorial make up.
"Eh, eh... Chouji..." panggil Hinata pada temannya yang paling subur.
"Ada apa, Hinata" kata Chouji menanggapi panggilan Hinata.
"Temeni ke kelas X.1 dulu dong, aku disuruh nganterin kopi nih" kata Hinata jelas-jelas berbohong.
"Tapi Asuma-sensei sudah ada di kelas, aku keluar kelas karena izin ke toilet"
"Ah, Asuma-sensei gak bakalan ngajar kalau belum menghabiskan satu batang rokok. Temenin yah.." pinta Hinata pada Chouji.
"Tapi..."
"Atau kamu mau aku aduin sama beby Gaara? kamu tahu kan, aku ini beby-nya Gaara. Kalau Gaara tahu kamu nggak mau temenin aku pasti kamu bakalan di-"
"Kelas X.1 lewat sini, Hinata" kata Chouji langsung lincah memimpin jalan.
Setelah melalui beberapa kelas dan menaiki beberapa anak tangga, akhirnya Hinata dan Chouji sampai pada kelas dengan tulisan X.1 di bagian atas pintunya.
"Chouji, kamu tunggu disini" kata Hinata menggeser tubuh Chouji agar berada di bagian depan pintu yang tak terlihat oleh Kurenai-sensei.
"Aku akan masuk bawa kopi ini, kamu perhatiin siswa yang namanya Sasuke ya, dia lihatin aku atau nggak. Gampang kan?" Hinata melanjutkan instruksinya.
"Oh, gampang, gampang" kata Chouji menampilkan jempol tangannya.
Sebelum memasuki kelas, Hinata menyempatkan diri untuk menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. Berharap rasa gugup yang tiba-tiba menghampirinya sedikit reda. Tak lupa ia juga merapikan rambut, kemeja bahkan kaos kakinya.
"Ojamashimasuu..." kata Hinata memberi salam saat memasuki kelas X.1, Hinata tak berani berbalik ke bagian jejeran bangku kelas. Takut modus kalemnya ketahuan.
"Oh, Hinata yang bawa. Arigatou" Kurenai-sensei menerima kopinya sambil tersenyum ramah.
Hinata membungkuk kemudian bergegas meninggalkan kelas.
"Bagaimana?" tanya Hinata pada Chouji.
"Bagaimana apanya?" Chouji bertanya balik.
"Sasuke melihatku, tidak?" tanya Hinata bersemangat.
"Umm, itu-"
"Ah, dasar Chouji. Geser gih" Hinata menggeser Chouji untuk mengintip di bagian sisi kanan pintu. Untuk setidaknya mengetahui posisi bangku Sasuke.
Hinata begitu intens memperhatikan seisi kelas untuk mencari penampakan sosok ganteng yang tadi pagi sedang berlari keringetan.
"Hinata-" panggil Chouji dengan nada suara berbisik.
"Apa?" tanya Hinata tak mengalihkan pandangannya.
"Itu, yang namanya Sasuke, apa dia tinggi? Putih?" tanya Chouji menarik ujung lengan kemeja Hinata.
"Iya, kenapa?" tanya Hinata masih sibuk mencari posisi agar ia bisa melihat seisi kelas tanpa ketahuan oleh Kurenai-sensei.
"Apa mata berwarna hitam dan bentuk rambutnya sedikit aneh?"
"Iya, itu yang namanya Sasuke. Dia duduk di bangku bagian mana, Chouji?" tanya Hinata merasa iri dengan Chouji yang menemukan tempat duduk adiks Sasuke.
"Dia tidak duduk di kelas Hinata,"
"Ha? Maksudnya?"
"Dia berdiri di depanmu"
Hinata berkedip dua kali sebelum ia menyadari bahwa ada Sasuke yang berdiri di hadapannya sambil membawa patung torso. Hinata yang tadinya sedikit membungkuk untuk mengintip kini memperbaiki caranya berdiri.
'Tersenyum? Melambaikan tangan? Say hello? Atau?'
Terlambat.
Sasuke sudah memasuki kelas.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Yap. Segini dulu, gengs.
RnR yaaa~
