Water.

Naruto © Masashi Kishimoto.

This story belongs to JI Niji.

FusionGJ.

Horror.

#Don'tReadSeries

.

.

.

Selamat Membaca

.

.

.

.

Sore ini hujan deras mengguyur ibu kota Jepang. Seorang pemuda dengan tiga garis di masing-masing pipinya itu sedang menggerutu dan mulutnya juga sesekali mengucapkan sumpah serapah untuk hari ini. Hari ini benar-benar hari tersial untuknya.

Hujan dan ia tak membawa payung. Lapar namun dompet tak menampung uang sepeser pun. Pekerjaan bagus dan hari ini ia kehilangannya karena ia dipecat. Ingin pulang, sudah hampir 1 jam menunggu di halte tak kunjung jua ada bus atau kendaraan lain yang melintas. Ugh, rasanya ia ingin berlari ke apartemennya namun sangat disayangkan jarak 2 mil menyiutkan nyalinya.

"Aku membenci hari ini lebih dari apapun."

"Mungkin kau terkena kutukan." Suara khas pemuda memasuki gendang telinga Naruto. Ia melirik pemuda itu sesaat kemudian ia menyilangkan tangan di depan dada.

"Oh. Kau adalah orang terkutuk yang membuatku terjebak dalam situasi ini, Sai."

Pemuda yang dipanggil Sai itu hanya terkekeh menanggapi ucapan Naruto.

"Kau dipecat karena kesalahanmu sendiri, baka." Sai memamerkan senyuman palsu andalannya.

"Ya, ya. Sebaiknya kau jauh-jauh dariku, Sai. Aku takut halte ini akan rubuh karena kehadiranmu."

Sai mendelik lalu ia mengeluarkan sebuah payung berwarna hitam dari tas punggungnya.

"Tanpa kau suruh pun aku akan pergi. Aku pun tak sudi berdiri disini dengan orang bodoh sepertimu. Lebih baik aku pulang, lalu melihat senyum istriku dan memakan makan malam buatannya yang lezat."

"Kau!" Naruto menunjuk wajah Sai yang tersenyum mengejek ke arahnya. Sai memberikan payung hitam itu ke Naruto.

"Tapi aku tak akan tega membiarkan sahabatku berlama-lama di halte menunggu kendaraan yang tak akan datang karena adanya penutupan jalan." Jelasnya yang langsung membuat Naruto menganga. Jadi dia harus pulang naik apa?

"Tapi tenang saja, aku akan mengantarkanmu ke stasiun kereta. Ayo!"

.

.

.

Naruto POV.

Seburuk-buruknya sifat Sai ternyata ia tetaplah salah satu sahabat terbaikku. Aku melambaikan tanganku padanya saat ia memacukan mobilnya dengan kecepatan standar. Di sinilah aku sekarang.

Stasiun Barat Tokyo.

Aku memasuki stasiun dan di dalamnya sudah terlihat sepi. Wajar saja, karena memang cuaca saat ini membuat sebagian besar para manusia berada di dalam rumah. Aku duduk menunggu kereta datang. Hujan tak kunjung reda dan aku mulai kedinginan.

"Kaa-san."

Samar-samar aku mendengar suara anak perempuan yang memanggil ibunya. Mata blue saphire ku mengitari bagian peron di depanku. Aku melihatnya. Seorang gadis berambut hitam panjang yang beberapa helai rambut basahnya menutupi sebagian wajah pucatnya. Oh, yang basah bukan hanya rambutnya tapi seluruh tubuhnya juga. Apa dia kehujanan? Sepertinya iya. Tapi apa dia tidak kedinginan? Apa peduliku. Tapi... sepertinya aku jadi mengingat sesuatu. Ya! Cerita Sai.

Kau tahu, Naruto. Stasiun Barat Tokyo itu memiliki penunggu. Gadis kecil yang basah kuyup karena kehujanan. Ia selalu mengucapkan kata-kata dengan nada lirih. Memanggil-manggil Ibunya dan berharap beliau datang menjemputnya. Namun sayangnya, Ibu gadis itu tak pernah datang untuk membawanya pulang dan akhirnya gadis itu meninggal. Sedihnya lagi, gadis itu sampai sekarang masih gentayangan dan menghantui stasiun itu. Arwahnya penasaran dan ia masih setia menunggu Ibunya. Jadi hati-hati jika kau berjumpa dengan gadis itu.

Apa mungkin gadis di peron itu hantu gentayangan yang dimaksud Sai. Tiba-tiba saja angin berhembus kencang. Aku langsung merinding di tempat. Ini sih namanya hari yang sangat sangat sangat tersial untukku. Aku melirik ke arah peron itu lagi dan gadis itu sudah tidak ada. Argh, ini tidak aman. Siapa tahu saja hantu itu lebih dekat denganku.

Karena keadaan yang sunyi aku jadi bisa mendengar dengan jelas suara kereta yang mendekat. Syukurlah. Aku menunggu dengan gelisah. Mataku tak henti-hentinya mengamati area disekitarku. Berharap hantu gadis itu tidak menggangguku.

Pintu kereta terbuka. Aku memasukinya dengan cepat. Duduk. Lalu kereta melaju kembali. Jelas. Aku melihatnya jelas. Gadis itu menyeringai di balik kaca kereta.

POV END.

.

.

.

Naruto memasuki apartemennya. Mengunci pintu lalu menyalahkan semua lampu dirumahnya. Ia berlari ke dalam rumah dan...

Duagh...

Kepalanya terbentur dengan lantai dan menimbulkan suara gaduh. Naruto jatuh tersungkur saat kakinya tak sengaja menginjak genangan air. Naruto duduk sambil mengusap-usap dahinya yang memar. Otaknya mulai berpikir. Darimana genangan air ini muncul? Setahunya atap apartemen kecilnya itu tidak bocor.

"Kaa-san."

Naruto tercekat. Suara gadis itu ada disini. Terdengar dekat dan nyata. Naruto bangkit lalu kembali melanjutkan acara larinya yang berubah arti menjadi kabur dari hantu. Ia tergopoh-gopoh sambil menahan nyeri di seluruh tubuhnya karena terjatuh tadi. Tinggal menggapai tangga dan sampailah ia ke kamarnya.

Naruto menghentikan langkahnya tepat di bawah tangga. Air mengalir di tangga apartemennya. Naruto menghembuskan napas berat lalu ia mendongak ke atas tangga.

"Kaa-san."

Gadis itu disana. Menatapnya dengan tatapan meminta bantuan. Tolong, siapapun bunuh dia sekarang. Ia tidak ingin mati ketakutan di apartemennya sendiri.

.

.

.

.

.

A/N

Hai! Kami kembali...

Ini Ji Niji ya... Maafkan saya kalo ceritanya ga serem. Saya menulis cerita ini berdasarkan clue yang diberikan Ge untuk saya. Bingung. Karena cluenya 'Water' dan sepertinya ga nyambung ya... tak apalah chp sebelumnya aja melenceng jauh dari clue yang saya berikan, dari 'Distance' malah jadi 'The eye Seekers'

Oh ya, buat yg request... kebetulan memang ada dua ya? Kami butuh kejelasan. Kalian request ff ke siapa? Ji atau Ge?

Review ya?

.

.

.

.

Jadi hati-hati jika kau bertemu gadis itu. Karena ia akan mengikutimu sampai ke rumah...

"Onii-chan! Tolong temani aku sampai Kaa-san tiba!"