"Akan ada masalah baru…" Kushina berbicara dengan kalimat menggantung. Bulir keringat mengalir di paras cantiknya.
"Masalah apa, kaa-san?" Giliran Sasuke bertanya.
"Kami sebenarnya sepakat tidak memberitahukannya apa-apa soal rencana pernikahan kalian, juga soal hubungan kalian padanya." Masih saja terasa keraguan bercampur nada cemas dari kata-kata yang diucapkan Kushina. "Bisa jadi masalah besar kalau ia sampai tahu."
"Memang ada apa dengan Nenek Chiyo?" Naruto mau tak mau merasa penasaran juga kenapa ibunya bisa sampai panik seperti tadi.
Dengan dahi masih berkerut, Kushina menatap anak sulungnya itu. "Mungkin kau belum tahu, tapi Bibi Chiyo itu paling anti dan keras terhadap hubungan sesama jenis… Ia pasti akan melakukan sesuatu terhadap rencana pernikahan kalian."
All Grown Up
Disclaimer : Character ©Masashi Kishimoto, plot ©chiimao13
Pairing : SasuNaru, GaaMenma, ItaKyuu, slight of some other pairings, dll
Rating : T-M (no lemon)
Genre : Romance, Drama, Family, maybe Hurt/Comfort
Warning : YAOI! OOC, TYPO, AU, RANDOMNESS, GENDERBENDER
Sequel dari Menma is Plotting!
DON'T LIKE DON'T READ. Mari ciptakan fandom yang damai dimana fans saling menghargai pairing lain yang merupakan OTP dari fans lainnya dengan tidak melakukan bashing maupun flame dengan niatan buruk. Cerita dibuat dengan imajinasi liar author untuk pemenuhan hasrat terpendam, bukan untuk kepentingan komersil.
Oh ya, mau berbagi cerita tentang kejadian SNS di rumah saya nih ntar di bawah xP
Part 2
Kediaman Namikaze bukanlah kediaman yang berisi orang-orang yang pendiam. Lihat saja kedua bocah Namikaze, Naruto dan Menma. Sang kakak sudah terkenal akan pembawaannya yang bagaikan mentari yang membawa kecerahan dimanapun ia berada. Simpel jahatnya, riang dan berisik. Menma pun walau sewaktu kecil ia terlihat akan tumbuh berbeda sifat dengan Naruto, nyatanya ia hampir sama dengan sang kakak. Hanya saja, entah kenapa ia malah terlihat lebih bisa bersikap dewasa ketimbang si pirang itu. Jangan lupakan kedua orang yang berjasa mengantar mereka lahir, Minato dan Kushina. Minato memang tidak seberisik putera tertuanya. Tapi justru ialah yang paling bisa bersikap heboh di rumah karena sikap protektif terhadap anaknya yang terkadang bisa muncul. Tanyalah tetangga sekitar apa pernah mendadak ada jeritan pria dewasa dari arah rumah Namikaze. Jawabannya akan 'sudah biasa'. Kushina? Satu-satunya wanita yang bisa dengan sekaligus menundukkan ketiga lelaki Namikaze. Dalam kondisi normal, rumah akan sering penuh dengan teriakannya yang mengingatkan Naruto untuk ini dan itu, serta meneriaki Minato karena lalai dalam menaruh barang. Putra bungsunya sering selamat dari amukannya karena Menma memang sudah mengantisipasi agar tidak membuat ibunya itu menerbangkan peralatan masak kemana-mana.
Jangan lupakan kalau kini di kediaman mereka juga ada Sasuke dan Kyuubi. Sasuke sih, masih bisa bersikap tenang. Tapi Kyuubi? Dalam kondisi biasa, tidak akan ada jam tanpa tawa arogannya. Namun kali ini, sudah sehari berlalu sejak kepulangan Kyuubi, tapi rumah Namikaze masih saja dihiasi keheningan.
Bahkan Naruto pun berbicara pada Sasuke dengan berbisik, walau di sekitarnya sedang tidak ada orang lain.
"Aku sudah agak tidak tahan, teme…" Naruto berucap pelan agar hanya Sasuke yang bisa mendengarnya.
"Hooo…." Sasuke mengangguk-anggukkan kepala sambil melirik ke bagian bawah tubuh Naruto. Sadar akan apa yang ada di pikiran kekasihnya itu, Naruto mencubit paha Sasuke dengan keras. Sasuke tidak menjerit, hanya meringis lalu menatap Naruto tajam.
"Dasar ayam mesum! Kenapa bisa-bisanya kau sempat berpikir kotor di saat seperti ini?" cicit Naruto, masih dengan suara pelan. "Apa kau tidak ingat ini menyangkut kakakmu sendiri?" Naruto dengan ekspresi khawatir melirik ke arah dua wanita yang sedang berada di dapur itu. Satu adalah Kushina, yang satunya lagi adalah wanita yang kemarin dibawa Kyuubi pulang. Dari tadi Haku membantu Kushina memasak, walau dengan bahasa tubuh Kushina menyarankannya untuk istirahat saja karena ia sedang hamil. Namun dengan keukeuhnya Haku tetap menyediakan diri di dapur untuk membantu Kushina memasak.
Sasuke sendiri bukannya tidak peduli pada situasi yang ada. Lebih tepatnya, ia tidak punya hak untuk terlibat lebih jauh dalam masalah ini. Seperti yang kemarin terlihat, Kyuubi menolak lamaran Itachi dan alasannya adalah seorang wanita hamil yang memperkenalkan dirinya sebagai istri Kyuubi. Tidak ada penjelasan lanjut dari wanita itu, karena tampaknya wanita itu baru bisa mengenalkan dirinya seperti itu. Bahasa yang digunakannya sangat berbeda dengan bahasa sehari-hari Naruto dkk, sehingga yang bisa berkata-kata dengannya hanyalah Kyuubi saja.
Tentu saja Itachi dengan sikapnya yang berusaha untuk tidak emosi, bertanya pada Kyuubi mengenai hal ini.
Flashback
"Siapa dia?" Nada menuntut keluar dari mulut Itachi, tanda ia tidak menerima lelucon apapun sebagai jawaban. Tapi yang ditanya pun mengeluarkan nada serius dalam menjawab.
"Seperti yang telah dia katakan tadi. Istriku."
"Bagaimana ia bisa menjadi istrimu?" tanya Itachi, masih berusaha untuk tenang. Giginya yang sudah bergemeratakan ia tahan agar tenang kembali.
"Kami menikah sesuai hukum adat desanya dan seperti yang terlihat, sekarang ia hamil."
Jawaban itu diberikan Kyuubi tanpa ia melepaskan pandangan sedetikpun dari mata onyx yang masih menatap tajam ke arahnya itu.
"Bagaimana bisa kau mengkhianatiku?"
Ketegangan semakin tercipta dikala kedua pihak yang paling terkait dalam masalah ini bertanya jawab tanpa ada rasa keraguan sedikitpun dalam melontarkan kata-kata. Itachi tidaklah ingin bersikap mellow dengan cara berteriak mendadak maupun menangis. Ia hanya ingin pertanyaannya dijawab dengan jujur oleh orang yang selama ini ia anggap sebagai pemilik hatinya itu.
Tak seperti tadi, kali ini Kyuubi terdiam sejenak sebelum melontarkan jawabannya.
"Aku tidak mengkhianatimu, chi. Dari awal pun kita tidaklah mempunyai status yang lebih dari teman."
Dengan jawaban Kyuubi ini, maka mantaplah keputusan Itachi untuk melangkahkan kaki dari rumah tersebut. Dengan kenang-kenangan satu tamparan keras di pipi Kyuubi sebelumnya.
"Aku pergi."
Sulung Uchiha tersebut tidak mengeluarkan sebutir air mata pun. Setelah tangannya mendarat di pipi Kyuubi, ia melangkah melewati Kyuubi dan wanita yang dibawanya itu tanpa mengucapkan kata-kata lain, maupun pamit kepada penonton yang sedari tadi masih terkejut atas apa yang terjadi hari ini.
"Aku akan menyusulnya." Sasuke sudah dengan kalut melangkahkan kaki untuk mengekor Itachi, sebelum ditarik oleh kekasihnya sendiri.
Naruto menggelengkan kepala sewaktu Sasuke memberikan tatapan heran padanya. "Bukankah kau sendiri tahu Ita-nii paling tidak suka diikuti sewaktu ia sedang emosi?" Ia tahu akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan kalau Sasuke mengikuti kakaknya itu.
"Tapi ia akan menyetir mobil! Bagaimana kalau ia terbawa emosi dan…"
"Tenang." Naruto berkata dengan serius. Kekasihnya itu memang diam-diam sangat menyayangi kakaknya, makanya Naruto paham kenapa ia terlihat sangat khawatir. "Apa kau pernah melihat Ita-nii kehilangan akal sehatnya dan membahayakan nyawanya sewaktu sedang emosi?"
Tidak. Sepengetahuan Sasuke, setelah ayahnya, Itachi adalah orang paling bisa mengontrol emosi dan menempatkan diri dalam situasi apapun. Maka dari itu, ia menuruti saran dari Naruto…
…yang ternyata memang menjadi tebakan yang benar. Itachi tidaklah akan membahayakan nyawanya sendiri.
Malamnya Sasuke mendapat telepon dari sebuah kantor polisi, memintanya untuk datang ke kantor yang jaraknya sekitar 20 kilo dari kediaman Namikaze. Tidak, Itachi tidak ditangkap polisi, maupun tidak mengalami kecelakaan. Itachi tidak membahayakan nyawanya sendiri. Tapi ia membahayakan nyawa orang yang tidak bersangkutan dengan masalah Kyuubi. Ketika hendak menuju ke mobilnya lagi setelah seharian berada di sebuah kafe untuk melegakan pikiran dengan minum kopi sebanyak-banyaknya, Itachi memergoki dua orang sedang berusaha mencongkel mobilnya. Bahkan, mereka berhasil dan lalu sempat membawa kabur mobil itu…. sebelum dihadang Itachi dengan ekstrimnya. Dengan nekatnya, ia berlari dan naik ke atas mobil lewat bagian belakangnya. Setelah itu, ia merembet ke bagian depan dan dengan cepatnya menendang kaca depan mobil sampai hancur. Seperti yang dapat diduga, mobil akhirnya tidak bisa dikendalikan dan menabrak tepi jalan karena si pembobol terlalu kaget dengan apa yang sedang terjadi. Beruntung mobil tidak berjalan dengan cepat karena sebelum menabrak, rem sempat diinjak walau sedikit terlambat. Itachi sudah melompat ke samping karena sadar mobilnya akan menabrak tepi jalan, walau tetap saja ia terluka karena terguling di aspal. Kedua pembobol itu pun selamat, namun tidak sempat kabur lagi karena sudah dihadang Itachi yang emosinya sedang tinggi.
Itachi masih bisa mengontrol agar dirinya sendiri tidak membahayakan nyawanya. Namun siapa juga yang tahu kalau akan ada kejadian seperti ini?
Dan apakah itu bisa benar-benar disebut dengan 'tidak membahayakan nyawanya sendiri?'
Flashback end
"Kurasa kita tidak perlu mencemaskan aniki sekarang, dobe," ucap Sasuke. "Ingat, aniki sedang ada di pengawasan otou-san secara langsung. Jadi dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang nekat seperti kemarin."
Naruto menggeleng pelan. "Yang kucemaskan bukan itu, Sasuke." Helaan napas yang berat dikeluarkan Naruto sebelum ia kemudian berbicara lagi. "Mentalnya lebih perlu diawasi. Setabah-tabahnya Ita-nii, kupikir dia harusnya tidak bisa setenang itu menghadapi masalah seperti ini. Bayangkan saja teme, hubungan mereka terjalin lebih lama dari hubungan kita, dan tiba-tiba Ita-nii harus menerima kenyataan seperti itu."
Berpikir tentang apa yang telah dilakukan Kyuubi sungguh membuat Naruto ingin menangis menggantikan Itachi yang sampai saat ini tidak mengeluarkan setitik pun air mata untuk menangisi nasibnya. Ia tidak bisa membayangkan jika Sasuke pergi darinya dan mendadak pulang dengan membawa istri sekaligus anaknya. Naruto bisa langsung bunuh diri di depan Sasuke dan bersumpah menghantuinya seumur hidup.
"Lalu kenapa kalian masih menerima Kyuubi dan istrinya itu di rumah?" Terdengar nada sengak terselip dalam kalimat Sasuke. Wajar saja, sebagai seorang adik ia tidak terima jika kakak yang sangat ia sayangi itu dikhianati dan ditelantarkan. Tapi memangnya ia bisa apa?
"Wanita itu tidak bersalah, teme," jawab Naruto. "Haku-san pasti tidaklah tahu kalau Kyuu-nii sudah punya seseorang yang menunggunya disini. Maka dari itu wajar saja kalau ia tetap menerima Kyuu-nii sebagai suaminya." Jawaban yang masuk akal. "Lagipula, dia wanita hamil. Apa kau tega menyuruhnya pulang saja? Lagipula Kyuu-nii juga ingin dia ada disini sampai melahirkan…"
Benar juga… Kalau dipikir-pikir, walau terkesan jahat, tapi kenyataannya memang Kyuubi-lah yang menyebabkan ini semua. Meskipun ia memang tidak pernah mengakui Itachi sebagai kekasihnya, hubungan mereka sangatlah lebih dari sekedar teman biasa. Sudah jadi rahasia umum juga bahwa walau tidak ada hubungan yang sah, tapi cinta sudah terajut di antara kedua lelaki tersebut. Tapi untuk membawa wanita lain masuk dalam hubungan tanpa status mereka, itu sudah Naruto anggap keterlaluan. Bagaimanapun juga, Itachi sudah menganggap hubungan tanpa komitmen mereka tidak akan terputuskan, dan bisa dibawa ke jenjang berikutnya. Tapi dengan seenaknya saja Kyuubi menikahi, bahkan menghamili wanita lain.
Sasuke sudah tidak tahu harus berkomentar apa lagi. Jujur, ia sangat jengkel melihat wajah Kyuubi sekarang. Walaupun tetap pergi ke kediaman Namikaze, namun sejak kemarin belum sepatah kata pun Sasuke ucapkan ke sepupu Naruto tersebut. Beruntunglah Sasuke, emosinya tidak harus terkuras lagi karena dari pagi Kyuubi sudah pergi entah kemana dan menitipkan Haku pada Kushina.
"Lagipula…" Naruto membuka suara lagi. "Kau lupa ada masalah lain, Sasuke?" Naruto melirik cemas tunangannya itu. "Lebih baik kau siap-siap saja agar tidak…"
"Ehem!"
Suara deheman yang berarti badai bagi Sasuke dan Naruto mendadak sudah terdengar saja. Baik Sasuke dan Naruto sudah tidak berani bergerak dulu lagi, menanti kelanjutan apa yang akan muncul dari deheman tersebut. Namun yang muncul bukanlah kalimat, tapi berupa tarikan di tangan Naruto yang memaksanya untuk pindah ke sofa lainnya. Naruto mau tidak mau mengikuti keinginan orang yang menarik tangannya itu.
"Hohohoho, sini Naru-chan duduk sama nenek saja." Kekehan muncul dari bibir seorang wanita yang kelihatan sudah berusia uzur tapi tetap terlihat sangat sehat, yang sekarang mendudukkan diri di samping Naruto. Naruto hanya meneguk ludah dengan lambat. "Tidak baik kalau dua lelaki duduk terlalu dekat. Nanti bisa dikira yang tidak-tidak." Kalimat yang diucapkan santai itu bertolak belakang dengan aura yang dikeluarkan nenek tersebut.
"Tapi, nek Chiyo, Sasuke kan…" Naruto langsung membantah karena kurang merasa terima hubungannya dengan Sasuke dianggap tidak ada. Namun dengan cepat orang yang dipanggil nek Chiyo itu memotong ucapannya.
"Teman baikmu? Lelaki memang biasa punya TEMAN BAIK yang sering main ke rumah. Hohohohoho." Penekanan pada kata teman baik sangatlah terasa di telinga Naruto dan Sasuke. "Tapi tetap saja teman baik tidak boleh duduk terlalu berdekatan kalau sesama jenis."
Dua pemuda ini sudah tidak tahu harus berbuat apa ketika mendadak saja pagi tadi orang yang kemarin sempat membuat panik Minato dan Kushina sudah muncul di depan pintu kediaman Namikaze dengan membawa hanya tas tangan. Koper-kopernya ternyata dikirim karena sangat repot kalau harus membawanya sendiri. Barusan dia pergi ke kantor pos terdekat bersama Minato untuk mengambilnya karena memang barang yang besar harus diambil sendiri.
Kembali lagi pada kejadian tadi pagi, tentu saja pandangan menyelidik Chiyo langsung mengarah pada Sasuke yang memang menginap disana. Saat semua orang yang menerima kedatangan Chiyo itu merasa gugup dengan apa yang akan dilakukan nenek itu begitu berhadapan dengan Sasuke, Chiyo menghiraukannya dan benar-benar menyelidiki Sasuke.
"Kau pasti…" ucap Chiyo, membuat Kushina, Minato, Naruto, dan Sasuke meneguk ludah. "… teman baik Naru-chan. Dan kalau dilihat lagi, kau pasti tipe yang populer di antara para wanita, ya? Hohohohoho."
Tentu saja semua langsung menghela napas lega. Itu tandanya Chiyo belum tahu ada apa di antara Naruto dan Sasuke yang sebenarnya. Sasuke mau tidak mau memperkenalkan diri sebagai teman akrab Naruto yang sedang menginap disana karena menyambut kedatangan Kyuubi kemarin. Chiyo sendiri menyambut perkenalan Sasuke dengan biasa. Namun setelah itu, ia terus tidak memperbiarkan Sasuke dan Naruto ada terlalu dekat satu sama lain. Sasuke dan Naruto pun akhirnya harus bersandiwara dan menyembunyikan status mereka. Parahnya, Chiyo ternyata berencana tinggal disana untuk sementara dengan alih sudah lama tidak melihat cucu-cucu kesayangannya.
"Oh ya, aku sudah kesini karena mendengar Naru-chan akan menikah. Jadi mana tunanganmu itu?" Chiyo bertanya sambil membuka cokelat yang ada di tangannya dan memakannya. Sementara itu, Minato sedang mengangkutkan koper-kopernya menuju ke kamar tamu lainnya di lantai bawah, sebelum akhirnya pamit untuk kembali ke tempat kerjanya.
Dia ada kurang dari 5 meter jauhnya darimu, nek! Batin Naruto nelangsa. Sasuke sendiri akhirnya pura-pura membaca koran. Ia tidak boleh bersikap macam-macam dan membuat nenek itu semakin menjauhkannya dari tunangannya tersayang.
"Nenek mungkin salah dengar?" Naruto hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Siapa sangka begitu mendengar berita bahwa Naruto akan menikah, si nenek ini langsung menelepon Minato dan memesan tiket pesawat menuju ke tempat Naruto tinggal?
"Aku yakin aku tidak salah dengar." Chiyo menelan cokelat yang sudah ia kunyah. "Beberapa hari lalu waktu sedang berlibur, aku tak sengaja bertemu dengan wanita yang sangat ramah. Katanya ia berasal dari kota ini, jadi aku langsung teringat pada kalian. Malamnya, aku bertemu dengan suaminya juga. Setelah bercakap-cakap, akhirnya aku tahu dia rekan kerja Minato. Begitu kutanyakan kabar Minato padanya setelah kubilang aku adalah bibi dari istrinya, ia berkata kalau ayahmu itu sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan karena semua harus selesai tepat waktu agar ia bisa ikut mempersiapkan pernikahan putra sulungnya." Selesai menjelaskan, Chiyo menggigit kembali cokelatnya. Kelihatannya ia tidak peduli dengan gigi palsunya yang pastinya sudah tidak karuan terkena cokelat. "Tapi ia terlihat seperti keceplosan. Dan ketika aku bertanya kelanjutannya, ia sudah tidak berkomentar lagi. Aneh juga, selama ini kalau aku menelepon Kushina atau Minato, mereka tidak pernah bercerita kalau kau sudah punya pasangan."
Naruto sekilas melirik Sasuke, dan ternyata Sasuke sedang melakukan hal yang sama.
"Memang siapa rekan kerja ayah itu, nek?" Naruto bertanya dengan hati-hati, mencoba untuk tahu siapa penyebab dari terciptanya sandiwara ini.
"Hmm… Kalau tidak salah ingat, namanya Asuma. Dia lelaki yang gagah, mirip suamiku dulu waktu masih hidup. Hohohoho."
Seketika mata Naruto menyipit malas. Tentu ia kenal dengan Asuma, rekan kerja ayahnya yang memang terlihat gagah, namun sebenarnya sangat ceroboh dan seenaknya. Ia pernah hampir saja menjodohkan putrinya dengan Naruto yang waktu itu berumur 20 tahun. Beruntunglah istrinya, Kurenai, merupakan pawang pribadinya. Kurenai segera mengingatkan kalau putri mereka baru berusia 5 tahun, yang lalu hanya dibalas dengan tawa kikuk Asuma. Kali ini walaupun sudah diperingatkan agar tidak menyebarluaskan rencana pernikahan Sasuke dan Naruto, ia malah kelepasan ke orang yang paling Kushina dan Minato tidak inginkan untuk mengetahuinya.
"Tapi yang jelas, aku ingin lihat pasanganmu." Chiyo mempertegas lagi keinginannya. "Harus kunilai lebih dahulu sebelum kalian melanjutkan hubungan ke jenjang lebih serius."
Naruto sudah tidak bisa menyahut lagi. Bagaimanapun ia meyakinkan bahwa Chiyo hanya salah dengar, ia pasti tidak akan terima alasannya.
Mendadak saja, ada sebuah tangan terulur, dan tiga cangkir teh terhidang di meja yang ada di depan mereka. Begitu Naruto melihat tangan siapakah itu, Haku tersenyum dengan lembut padanya sebelum kemudian berbalik ke arah dapur. Ternyata Haku-lah yang menyajikan teh, mungkin melihat bahwa Chiyo pun baru kembali.
"Kalau seperti dia, aku tidak keberatan." Chiyo terkekeh, membuat Naruto dan Sasuke meliriknya. Tadi setelah Chiyo datang, Haku memang diperkenalkan padanya sebagai istri Kyuubi. Kyuubi sendiri tidak sempat bertemu dengannya karena sudah pergi lebih dulu. "Walaupun bahasanya tidak kumengerti, tapi dia menantu idaman," tambah Chiyo.
Lagi-lagi hanya lirikan yang bisa diberikan Sasuke dan Naruto kepada satu sama lain.
"Lihat saja, dia ramah dan sopan pada orang tua…"
Sasuke juga, kok! Batin Naruto, membandingkan ucapan Chiyo dengan apa yang dimiliki tunangannya.
"Tanpa harus banyak kata-kata pun, dia cepat mengerti situasi…"
Sasuke juga..
"Dari aura dan penampilannya, aku bisa tahu kalau dia termasuk cerdas…"
Sasuke sudah tidak bisa dibilang cerdas lagi. Dia jenius, kan?
"Pastinya suka menolong dan peduli pada orang lain. Cantik pula."
Sasuke pun juga! Lihat saja berapa banyak yang ingin Sasuke jadi menantunya? Kalau Sasuke sih, super tampan. Lihat saja para wanita berjejer hanya untuknya…
"Dan yang pasti, dia wanita…"
Batin Naruto mendadak bisu. Kalau yang ini karena memang sudah dari sananya, ia tidak bisa membandingkan kriteria yang disebutkan Chiyo dengan Sasuke lagi.
"Kyuubi sangat pintar memilih pasangan! Hohohohohoho." Chiyo terkekeh, lalu meneguk teh yang disiapkan Haku tadi. "Kuharap pasanganmu seperti itu, Naru-chan. Dan bagimu juga, anak muda." Chiyo mendadak beralih ke Sasuke. "Pastinya semua lelaki ingin mendapatkan wanita dengan kriteria seperti itu, bukan?"
Sasuke berusaha bersikap biasa. Ingat, di mata Chiyo saat ini, ia adalah teman baik Naruto. "I-iya." Sasuke tidak menjawabnya dengan 'hn' andalannya, karena ia tahu pastinya Chiyo tidak akan menyukai jawaban yang terdengar kurang sopan seperti itu.
"Hohohohoho. Kuharap kau pun segera menemukan jodohmu, anak muda. Dan kau, Naru-chan, kuharap kau bisa membawa pasanganmu itu segera ke hadapanku. Hohohohoho."
Kekehan Chiyo diiringi oleh tatapan kikuk Naruto dan Sasuke.
Jodoh/pasanganku sudah ada di hadapanmu, nek! Batin mereka nelangsa.
~akaakaaka~
Sudah sejak tadi pagi Menma tidak seceria biasanya. Saking kelihatannya, bahkan bukan hanya Gaara saja yang sadar, tapi guru-guru pun juga merasa aneh karena tidak mendengar suara khas yang biasanya paling keras saat sapaan awal pelajaran itu. Bukannya Gaara tidak tahu apa yang terjadi. Jam istirahat tadi, ia sudah berhasil membuat Menma bercerita tentang apa yang membuatnya merasa resah. Gaara pun tidak bisa tidak merasa simpati kepada Itachi. Memang, ia tidak secara dekat mengenal Itachi. Namun ia respek kepada dokter muda tersebut. Ia saja yang tidak dekat dengan Itachi merasa didatangi perasaan yang berat ketika mendengar apa yang terjadi pada Itachi kemarin. Apalagi Menma. Anak itu sungguh dekat dengan Itachi. Gaara tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Menma ketika ia pulang dan mendapati rumahnya sedang dalam keadaan suram. Ditambah, bukannya berita gembira yang ia dapat, tapi malah cerita tentang penolakan lamaran Itachi dengan cara yang sangat sadis.
Gaara tahu benar seberapa besar Menma menyayangi Kyuubi. Dengan adanya berita ini, pasti Menma akan merasa syok. Kelihatannya lebih baik Gaara membawa Menma pergi untuk berjalan-jalan menenangkan pikiran.
"Bagaimana kalau setelah ini kita pergi berkeliling toko game? Kudengar baru-baru ini beberapa game RPG baru rilis hampir bersamaan." Dengan lembut Gaara mengusap kepala Menma yang masih terduduk sambil memasukkan buku-bukunya.
Menma melirik ke arah pemuda berambut merah itu sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. "Maaf, aku sedang tidak mood untuk main game."
"Kalau begitu, ayo cari tempat lain yang membuatmu nyaman." Gaara menawarkan. Ia tidak tega melihat muka Menma lama-lama menjadi tambah kuyu.
Seulas senyum yang dipaksakan diberikan Menma. "Terima kasih, tapi aku sedang tidak bisa. Aku ada janji lain."
Dengan alasan itulah akhirnya Gaara menghentikan niatnya mengajak Menma jalan-jalan untuk refreshing. Namun ketika mendengar siapa yang punya janji dengan Menma, niatnya beralih, ingin mengajak Menma cepat-cepat pulang saja.
"Yahiko-senpai tadi meninggalkan pesan di laci meja. Ia mencariku sewaktu istirahat tapi tidak ketemu. Ia ingin bertemu denganku sepulang sekolah." Menma menjelaskan dengan jujur. Buat apa ditutup-tutupi?
"Aku ikut." Dengan cepat Gaara langsung menyahut. Ia tidak ingin membiarkan Menma masuk sendirian ke kandang singa, menurutnya.
Namun Menma menggeleng lagi. "Nggak bisa. Aku harus menemuinya sendiri," ucap Menma. "Aku yang dipanggil, jadi tidak ada alasan buatku mengajak orang lain ke tempat ketemuan, kecuali memang sudah jadi kesepakatan bersama."
Tegas dan langsung ke sasaran. Buat yang tidak terbiasa menghadapi Menma, mungkin akan sedikit terkejut dengan sikapnya ini. Melihat wajah imut Menma, siapa yang sangka kalau ia tegas seperti itu?
"Lagipula, kau pasti tahu kan, kenapa senpai memanggilku?" Mata Menma melirik Gaara dengan diiringi senyuman tipis dari bibirnya, membuat hati Gaara berdesir.
Menma memang sekilas mirip dengan Naruto. Sifatnya pun tak jauh beda dengan Naruto. Yang membedakan mereka berdua adalah kecepatan mereka dalam menyadari hal penting. Dibandingkan Menma, Naruto jauh lebih jujur. Kepolosannya murni karena kejujurannya.
Sedangkan Menma? Bukankah dia juga polos, mengingat bagaimana ia tidak sadar maksud Yahiko sewaktu meminta tolong pada Menma kemarin?
Salah. Menma jauh lebih peka daripada yang diduga orang-orang. Bagaimana ia tidak tahu Yahiko memendam rasa suka padanya ketika semua sikap Yahiko menampakkan bahwa si empunya mengharap perhatian lebih dari Menma dan berusaha menarik hati Menma? Namun seperti biasa, Menma lebih suka mengamati situasi. Sampai pada tingkat dimana Yahiko akhirnya mencium Menma, Menma akhirnya sadar ia sudah tak bisa berpura-pura buta soal perasaan Yahiko.
Banyak hal di sekelilingnya yang akan terkuak lebih dalam jika ia menutup rapat-rapat kenyataan yang ada dan memasang topeng. Namun tentu saja tidak banyak orang yang mengetahui hal ini dan mengira bahwa Menma benar-benar anak yang lugu.
Termasuk Gaara. Dengan berbekal kekhawatirannya atas keluguan Menma itu, ia akhirnya memutuskan mengamati Menma dari jarak yang aman, namun tetap bisa mendengar percakapan temannya itu dan Yahiko di dekat tangga menuju ke atap.
"Kupikir walau aku sudah melakukan tindakan yang sepantasnya hanya kulakukan kalau kita punya hubungan lebih, kau masih belum paham betul tentang perasaanku."
Dan Yahiko juga termasuk.
"Karena itu kurasa aku harus bilang dengan jelas padamu." Menma bisa melihat semburat merah menghiasi wajah kakak kelas yang selama ini terlihat selalu percaya diri itu. "Aku suka padamu, Menma. Bukan sebagai seorang senpai ke kouhainya, tapi sebagai sesama yang sederajat. Singkatnya, aku gay, dan aku jatuh cinta padamu."
Sikap wajar yang ditunjukkan Menma membuat Yahiko merasa kalau Menma masih belum paham akan omongannya. Kalau memang Menma sudah paham, harusnya ia paling tidak menampakkan ekspresi terkejut, bukan?
"Kau… paham kan maksudku?" Yahiko memastikan. Pemuda berambut hitam di hadapannya ini hanya mengangguk pelan.
"Aku paham semuanya, senpai." Akhirnya Menma bersuara, membuat Yahiko menarik napas lega karena tidak harus menjelaskan panjang lebar lagi, tapi juga menelan ludah gugup karena akan mendengar jawaban dari Menma. "Bisa disukai oleh senpai benar-benar membuatku terhormat. Bayangkan saja bakal ada berapa gadis yang akan dendam padaku karena pengakuan senpai ini?" Ia sedikit terkekeh. Namun kekehan renyah Menma tidak mengurangi ritme debaran pada hati Yahiko.
"Jadi apa kau mau jadi kekasihku?" Yahiko tidak ingin berlama-lama memendam rasa penasarannya.
Menma akhirnya kembali tersenyum setelah menghentikan kekehannya. "Maaf, senpai. Aku tidak bisa."
Kejutan rasa sakit melanda hati Yahiko, sebelum akhirnya memperlambat ritme detak jantungnya yang tadi tidak karuan. "Kau tidak menyukaiku?" Yahiko agak memastikan.
"Aku menyukai senpai." Menma langsung menjawab. "Tapi bukan rasa suka seperti yang senpai rasakan padaku. Kau sudah kuanggap sebagai Naru di sekolah."
Yahiko tahu benar siapa Naru yang dimaksud. Menma sudah beberapa kali menceritakan kakak kandungnya yang ia panggil 'Naru' dari kecil itu.
"Apa benar tidak bisa?" Yahiko masih belum ingin menyerah. "Kau bisa mencobanya dulu denganku, siapa tahu kau bisa menyukaiku seperti aku menyukaimu."
Gelengan langsung dengan cepat diberikan Menma sebagai jawaban ke Yahiko. Tidak ada hal baik dari yang namanya coba-coba berpacaran. Sebut saja Sasuke yang dulu mencoba berpacaran dengan Ino hanya karena ingin lari dari perasaannya ke Naruto. Apa yang dihasilkan? Ada tiga pihak yang terluka. Hubungan seperti itu bukan sesuatu yang pantas dijalani hanya berdasar coba-coba.
"Tidak bisa, senpai. Aku tidak ingin coba-coba kalau memang aku tidak punya perasaan yang sama denganmu."
Yahiko memandang Menma dengan tatapan menyelidik. "Kalau begitu, apa kau punya perasaan khusus terhadap seseorang? Atau malah kau sudah berpacaran dengan orang itu?"
Menma tersenyum kecut. Memang senpainya ini tidak ingin menyerah begitu saja tanpa alasan yang jelas. Namun Menma tidak keberatan. Lebih baik diselidiki seperti ini daripada diselidiki diam-diam.
"Ada," jawab Menma, membuat hati Yahiko kecut seketika. "Namun sekarang, bagaimanapun sukanya aku pada orang itu, aku tidak bisa berpacaran dengannya."
Ucapan yang disertai senyuman itu membuat Yahiko sedikit terkejut. Mau tidak mau, rasa penasaran yang baru telah tumbuh di pikirannya. "Siapa orang itu? Kenapa kau tidak bisa berpacaran dengannya?"
Menma terkekeh pelan lagi, di mata Yahiko hanya berupa kekehan untuk menutupi hatinya yang mungkin pahit. Ia sedikit merasa bersalah sudah menyuruh Menma untuk mengatakan alasan yang mungkin bisa membuatnya sedih itu. "Tidak bisa kukatakan, senpai," jawabnya. "Hal ini biarlah aku yang tahu."
Rasa bersalahnya membuat Yahiko tidak ingin mendesak Menma lebih jauh lagi. "Tak apa. Aku akan menunggu sampai kau punya perasaan lebih padaku," ucapnya, berusaha dikatakan dengan penuh kepercayaan diri.
Bibir dengan senyum yang tidak pudar itu membuka lagi. "Lebih perhatianlah pada dirimu, senpai. Lebih baik kau tidak menungguku seperti itu. Waktumu akan habis sementara pasanganmu yang sesungguhnya mungkin sudah menunggumu."
Yahiko akhirnya terkekeh juga. Ini yang dia suka dari adik kelasnya itu. "Biar saja aku menunggu, siapa tahu pasangan yang sesungguhnya itu memang kau?" sahutnya, membuat Menma mau tidak mau terkekeh juga.
"Haha benar juga. Bisa jadi, senpai." Menma menjawabnya dengan tertawa kecil.
"Tapi maaf saja, aku tidak menyesal sudah pernah menciummu." Ia melirik Menma dengan menyeringai.
"Menyesal pun ciuman itu nggak akan bisa dikembalikan kan, senpai?" balas Menma, membuat mereka akhirnya sama-sama tertawa.
Walaupun tidak diterima, namun Yahiko sungguh lega ia bisa menyatakan perasaan ke Menma dan ditolak dengan alasan yang jelas juga. Namun ia tidak bisa menyangkal kalau sebenarnya ia masih penasaran dengan seseorang yang telah mengambil hati adik kelas kesayangannya itu.
Beda hal dengan seseorang yang dari tadi telah mendengar percakapan keduanya. Pemuda berambut merah itu memang sedikit terkejut dengan pernyataan jujur Menma kalau ia menyukai seseorang. Tapi sudah dapat ia analisis siapa orang yang dimaksud, dan alasan kenapa Menma tidak bisa berpacaran dengannya. Apalagi alasannya kalau bukan karena orang itu telah dimiliki oleh kakak kandungnya sendiri?
~akaakaakaaka~
Menma merasa bingung ketika memasuki rumahnya. Kenapa begitu ia melangkahkan kaki memasuki ruang keluarganya, telah ada keramaian yang tidak ia sangka?
Seorang nenek sedang duduk di sebelah wanita yang kemarin dibawa Kyuubi pulang, terkekeh-kekeh sendiri sementara Haku memasang senyumnya namun ekspresinya menunjukkan bahwa ia tidak paham apa-apa. Di sofa lain, Sasuke duduk bersama dengan seorang lelaki berkulit pucat yang ia kenali sebagai teman kakaknya dulu yang bernama Sai, yang menggendong seorang bayi sambil menyusuinya menggunakan botol susu. Si pemuda pucat terus tersenyum misterius, sementara Sasuke memasang ekspresi bosannya. Naruto malah tidak terlihat sama sekali.
"Ara, ara… Kau pasti Menma-chan, kan?" Di antara sekian orang disana, malah si nenek yang ia tidak kenali itu yang pertama kali menyapa kedatangannya. "Kesini, kesini! Aku ingin melihat wajahmu dengan lebih jelas!"
Menma dengan ragu melirik ke arah orang-orang yang kini menyadari kedatangannya itu. Sedikit sinyal yang diberikan Sasuke membuat Menma mau tidak mau berjalan mendekat ke arah Chiyo. Mana ibunya? Saat begini harusnya ibunya yang mengambil alih situasi dengan paling tidak memperkenalkannya pada nenek itu, atau sebaliknya.
Kaki Menma telah berhenti di sebelah Chiyo yang sedang duduk. Chiyo menarik tangan Menma, membuatnya merunduk, lalu mengacak-acak rambutnya. "Terakhir kali aku melihatmu, kau masih bayi yang digendong Kushina kemana-kemana. Siapa sangka kau sudah jadi besar begini. Mirip dengan Naru-chan ketika ia masih remaja." Kekehan keluar lagi dari mulut wanita itu.
"Menma mungkin masih bingung karena baru pertama kalinya ia melihatmu setelah ia besar, bibi."
Telat, batin Menma saat melihat ibunya datang dengan membawa kentang goreng dan menaruhnya ke meja di hadapan mereka.
"Benarkah?" Chiyo terlihat agak terkejut. Ia kemudian mengerutkan dahi dan berpikir sejenak.
"Iya, bi." Kushina meyakinkannya. Ia lalu berpaling untuk menatap Menma. "Dia bibi Chiyo, adik dari ibu kaa-chan. Kau bisa memanggilnya nenek Chiyo."
Menma hanya manggut-manggut karena memang ia tidak terlalu mengerti dengan situasi yang ada. Salahkan saja orang-orang rumah yang lupa menjelaskan ke Menma kalau Chiyo akan segera datang ke kediaman Namikaze, walau mereka tidak ada yang menyangka kalau kedatangannya akan secepat ini.
"Maaf nek Chiyo. Senang bertemu dengan nenek." Dengan cepat Menma mengambil alih situasi, membuat agar dirinya sendiri dapat kesan yang bagus dari Chiyo.
"Kau anak yang sopan. Aku suka anak sepertimu. Hohohohoho." Chiyo kembali dengan kekehannya, sementara tangannya sibuk mengacak rambut Menma lagi.
"Nek, bagaimana kalau aku ganti dulu? Aku baru saja pulang sekolah dan bajuku masih penuh keringat. Nanti nenek kebauan." Mulut manis Menma beraksi. Sejujurnya, ia tidak terlalu suka mendapat banyak sentuhan dari orang yang tidak familiar baginya, walau ia termasuk famili sekalipun.
Ucapan manis Menma berhasil. Dengan segera Chiyo melepaskan tangannya dari Menma. "Hohohoho benar juga. Tidak baik terus-terusan mengenakan seragam sekolah. Kau memang anak pintar."
Menma hanya tersenyum setengah hati sambil undur diri dari hadapan Chiyo. Ia memang benar-benar ingin mengganti seragamnya dengan baju rumah saja. Tapi omong-omong, mana Naruto?
"Kaa-chan, mana Naru?" tanyanya pelan pada Kushina waktu melewatinya.
"Sedang diburu deadline," jawab Kushina jujur. Jawaban itu sudah cukup membuat Menma paham bagaimana situasi yang sedang dialami oleh kakaknya tersebut. Pekerjaan Naruto sebagai penulis membuatnya sering mendadak harus bekerja mati-matian. Sebenarnya bukan salah dari pihak penerbit, tapi memang Naruto sangat rewel dengan moodnya yang gampang berubah. Waktu tidak mood, biasanya ia menolak untuk menyentuh kerjaannya sama sekali. Tapi sekali ia berada dalam mood yang bagus untuk bekerja, kerjaannya akan rapi, cepat selesai, dan sangat menarik.
Sebelum pergi ke kamarnya, Menma akhirnya menyempatkan diri untuk pergi ke ruang disamping ruang kerja sang ayah, yang biasa dipakai untuk menaruh buku. Naruto biasanya bekerja disana. Sedikit melongokkan kepala di pintu yang memang sengaja dibuka, Menma bisa melihat bagaimana situasi yang dialami kakaknya. Kepala pirang itu sedang duduk di depan sebuah meja dengan laptop di atasnya, sementara seorang wanita berkacak pinggang dengan berdiri di sebelahnya.
"Aku tidak peduli dengan moodmu!"
"Ta-tapi, Ino-sama…" Suffix ini digunakannya ketika sedang berusaha membujuk orang.
"Kau tidak membayangkan bagaimana mood keseharianku hah? Sudah kurang tidur, harus mengurusmu yang suka menunda-nunda kerjaan pula! Sudah begitu, aku yang akan kena damprat atasan kalau kau tidak segera mengumpulkan karyamu!"
Desahan keluar dari mulut Menma. Mungkin ia tidak ingin jadi penulis setelah ini. Oh, tapi mungkin bisa saja ia mengalami nasib jauh lebih baik dari nasib kakaknya ini kalau ia jadi penulis. Ia kan orang yang berbeda dengan kakaknya! Ia patuh terhadap aturan dan deadline jika sedang mengerjakan sesuatu.
Merasa familiar dengan nama Ino?
Mantan kekasih Sasuke yang dulu sempat dipacari Sasuke sebelum akhirnya Sasuke sadar kalau ia menyukai Naruto itu telah menjelma menjadi seorang wanita cantik dan anggun. Namun sifat ganasnya akan keluar sewaktu ia menjalankan pekerjaannya sebagai seorang editor. Apalagi secara kebetulan, Naruto adalah penulis yang menjadi tanggung jawabnya. Tentu saja ia bisa berubah menjadi sangat menyeramkan kalau Naruto sedang dalam mood untuk menunda kerjaan.
Apa mereka terlihat canggung? Secara, Naruto yang merupakan penyebab Sasuke seenaknya memacari lalu memutuskannya itu sekarang malah jadi tanggung jawabnya, mana statusnya adalah tunangan Sasuke pula! Namun itu tidak berarti apa-apa bagi Ino sekarang. Lihat saja ke ruang tengah, disana ada sang suami yang menunggui Ino. Ya, Ino telah menikah dengan Sai, teman Sasuke dan Naruto itu, bahkan sudah mempunyai seorang bayi. Hari ini, kelihatannya Sai dan si bayi kembali mengantar Ino bekerja. Mana mungkin Sai membiarkan Ino menyetir sendirian ketika ia sendiri sedang lelah-lelahnya karena kurang tidur?
"Ta… tapi sekarang benar-benar bukan saatnya mengerjakan kerjaan ini…" Rengekan Naruto membuat konsentrasi Menma kembali berpusat pada kakaknya itu. "Ada hal penting yang harus kuurus…"
"Maksudmu masalah rumah seperti yang kau katakan itu kah?" tanya Ino. "Maaf saja, aku yakin kau juga takkan bisa mengurus apa-apa. Lihat saja apa yang sedang terjadi di ruang keluarga. Apakah kau rasa ada yang perlu diurus disana sekarang? Dengan semua orang sedang santai berbicara dan minum maupun makan snack? Atau kau ingin memulai pembicaraan serius dengan mereka, dan lalu merusak situasi tenang yang sudah ada?"
Menma meneguk ludah mendengar semua kalimat tajam yang meluncur dari bibir Ino. Wanita ini telah tubuh menjadi wanita yang peka terhadap situasi dan bisa berpikir dengan kritis. Mana apa yang diucapkannya frontal pula! Namun semua itu sungguh benar dan logis.
"Jangan mendatangkan badai dengan paksa saat situasi sedang tenang. Lebih baik kau cepat mengerjakan pekerjaanmu, deadline tergenapi, aku bisa menyerahkannya pada pihak penerbit sesuai jadwal, dan semua selesai dengan bahagia," tambahnya dengan tegas.
Sepertinya Naruto sudah tidak bisa berkutik lagi. Sasuke pun sudah sering memarahinya karena menunda-nunda pekerjaan. Mungkin dengan Sasuke, ia masih bisa berkelit. Namun dengan editornya satu ini, ia tidak bisa. Tahu sendiri kan, wanita terkadang lebih menakutkan daripada lelaki?
Menma sudah lega. Biarlah kakaknya itu diberi sedikit tekanan agar pekerjaannya pun bisa cepat selesai.
Begitu Menma sampai di ruang keluarga kembali, Haku langsung berpindah ke kursi kayu yang ada di dekat sana agar Menma bisa duduk di sebelah Chiyo. Sebenarnya Menma ingin menolak dan mengatakan ia saja yang duduk di kursi kayu itu, namun karena memang keterbatasan bahasa, Menma jadi bingung untuk mengutarakannya. Haku sendiri hanya tersenyum sambil mempersilahkan Menma untuk duduk. Menolak? Mungkin malah Chiyo yang sakit hati, merasa Menma tidak ingin menjejerinya. Sai sendiri diperbolehkan duduk di samping Sasuke karena Chiyo menganggap istrinya sebagai bukti bahwa Sai adalah pure straight person.
"Sini, Menma-chan," panggil Chiyo, membuat Menma mau tidak mau duduk juga. Menoleh ke samping, ternyata bayi dalam gendongan Sai sudah berpindah ke tangan Sasuke. "Tadi Shimura-kun bilang kalau istrinya itu mantan kekasih Uchiha-kun. Sungguh menarik bukan?" Chiyo tertawa sambil menepuk paha Menma yang telah duduk.
"Kisah masa lalu, Chiyo-san." Sasuke menanggapi dengan santai. Tangannya menimang-nimang si bayi yang kelihatannya sudah selesai minum susu.
"Lalu kenapa kalian putus?" Chiyo mendadak saja memutuskan untuk menyelidik kisah cinta Sasuke, membuat Sasuke merasa sedikit tidak nyaman.
"Mungkin karena memang tidak jodoh? Lihat saja, Ino sekarang sudah mendapat pria yang lebih baik seperti Sai ini." Sasuke sedikit melirik pria pucat di sampingnya itu. Siapa yang sangka Ino akan menjadi istri dari pria yang dulu sempat ia kira pacar Naruto itu?
"Sasuke hanya merendah." Sai, masih dengan senyum penuh misterinya, menyahut. "Jelas-jelas Sasuke ini bintang sekolah. Lihat saja para gadis di sekolah dulu sampai berebut hanya untuk memasukkan coklat ke lokernya saat Valentine."
Hanya dengusan yang keluar dari hidung Sasuke yang sekarang sibuk menepuk punggung si bayi dengan lembut. Si bayi yang sudah kenyang harusnya sebentar lagi mengeluarkan muntahan tanda kenyangnya.
"Tapi itu memang hanya setahun sih…" lanjut Sai, entah kenapa banyak bicara hari ini. "Ingat, di tahun kedua, sudah ada Naruto di sampingmu."
Tepukan Sasuke ke bayi itu mendadak berhenti, sementara Chiyo langsung mengerutkan kening.
"Maksudmu?" Chiyo bertanya dengan agak bingung dan waspada, mencium adanya bau yang tidak ia sukai. Matanya melirik penuh selidik ke arah Sasuke. Kushina yang barusan kembali dari dapur pun jadi tegang seketika. Ia luput menjelaskannya diam-diam ke tamunya itu, serta ke anak bungsunya.
"Maksudnya, Naruto menjadi teman dekatku dan ia juga populer, bahkan menyaingiku sampai-sampai semua pemberi cokelat Valentine di tahun pertama berpindah semua ke Naruto." Sasuke menjelaskan segera. Sungguh lancar walau hatinya merasa panik.
Seketika Menma merasakan ada yang tidak beres dengan situasi ini. Kenapa Sasuke yang harusnya membanggakan hubungannya dengan Naruto malah terkesan berusaha menutupinya? Tampaknya Sai pun mulai bisa membaca situasi dan memilih untuk tidak menyela Sasuke.
"Oooh, maksudnya dengan di sampingmu, adalah menjadi teman dekatmu?" Chiyo terkekeh kecil. "Kukira ada sesuatu yang macam-macam di antaramu dan Naruto."
"Hahaha." Sasuke tertawa agak miris. "Kami kan teman dekat biasa…"
"Bayinya tumpah!" seru Menma menyela ucapan Sasuke, membuat semua perhatian teralih ke bayi dalam gendongan Sasuke. Ternyata bayi itu memang mengeluarkan muntahan putih tanda kenyangnya.
Dengan sigap, Sai langsung mengambil beberapa helai tisu dan mengelap muntahan yang telah sedikit mengenai baju Sasuke itu. "Maaf," ujarnya sambil mengelap mulut bayinya.
"Bukan masalah. Lagipula bukan muntah sungguhan," sahut Sasuke sambil menepuk-nepuk punggung bayi itu lagi dengan pelan, siapa tahu masih ada muntahan yang belum keluar. Selain itu ia bersyukur bahwa dengan ini, topik pembicaraan pun bisa tergantikan. Good job, bayi!
"Hohohoho sebentar lagi salah satu cucuku juga akan mempunyai anak." Chiyo mengalihkan pandangan ke Haku yang tersenyum geli melihat ekspresi bayi yang barusan muntah itu. "Kau juga sudah tidak sabar menunggu keponakanmu lahir, kan?" tanyanya lagi pada Menma.
Meski sedikit bingung, Menma akhirnya paham maksud Chiyo. Pastilah Kyuubi yang sedang dimaksud nenek itu. "I-iya."
Rasa senang karena akan ada anggota keluarga yang baru di keluarga besarnya tertutup oleh kekecewaannya kepada Kyuubi. Namun bagaimanapun, ia tidak bisa melimpahkan rasa kecewa itu ke bayi yang mungkin 2-3 bulan lagi akan lahir itu. Ditanya begini membuatnya merasa serba salah saja.
"Kuharap Naruto juga akan cepat menikah dan mempunyai bayi yang lucu. Hohohohoho."
Omongan itu menusuk hati beberapa pihak yang ada di tempat itu, serta membuat teka-teki di kepala Menma bertambah. Apa nenek Chiyo memang belum tahu hubungan antara Naruto dan Sasuke sehingga mengharapkan seorang bayi dari Naruto? Ekor matanya menangkap pergerakan Sasuke yang tiba-tiba berhenti sebentar, sebelum kemudian melanjutkannya lagi seolah tak terjadi apa-apa. Jika dilihat lagi dari ekspresinya, Sasuke seperti menampakkan wajah yang bukan wajahnya saja. Sai pun tidak lagi berkomentar seperti tadi, maupun menceritakan sesuatu yang bisa menambah parah keadaan.
"Aku pulang!"
Suara dari pintu depan ini membuat ekspresi Haku seketika berubah lebih cerah lagi, namun membuat Menma tambah merasa canggung saja. Rasa canggung itu bertambah seiring dengan kemunculan surai oranye kemerahan yang memasuki ruang keluarga itu.
Kyuubi datang dengan ekspresi datarnya. Matanya menatap lurus ke arah Haku yang dengan senyum tulus menunggu kehadirannya di tempat itu.
"Ohohohoho ternyata cucuku sudah sebesar i…"
Ucapan Chiyo terpotong ketika Kyuubi ternyata melewatinya dan yang lain tanpa memberi salam maupun semacamnya, dan langsung berjalan ke arah Haku yang mengatakan sesuatu untuk menyambutnya.
Dalam beberapa saat, ruangan itu hening, dipenuhi oleh dua suara yang berkata-kata dalam bahasa yang tidak orang lain disana mengerti. Sejenak kemudian, Kyuubi berjongkok di sisi Haku dan menempelkan kepalanya ke perut yang sudah lumayan besar itu. Senyum merayap muncul di wajahnya, sementara bibirnya melantunkan beberapa kalimat dalam bahasa daerah Haku.
Mungkin akan menjadi suatu potret yang romantis dan sangat berkesan apabila mereka berdua saja yang ada di ruangan itu. Satu adegan yang menyentuh hati tiap orang yang melihatnya. Tapi bukan suasana itu yang dirasakan beberapa orang penyandang marga Namikaze dan Uchiha di ruangan itu.
Kekecewaan kembali merayap di hati Menma, disertai rasa pedih. Memang bukan ialah yang merasakan semua kepahitan itu, namun Menma tidak sanggup merasakan apa yang harus dirasakan oleh Itachi jika ia melihat adegan ini. Jangankan Itachi, hatinya pun terasa dicabik-cabik. Sepupu kesayangan yang sedari kecil amat diandalkannya itu sekarang hanya punya seorang saja di hati dan pikirannya, dan itu bukanlah orang yang Menma pikir dan harap akan mendampingi Kyuubi sampai masa tuanya kelak. Pengorbanan Itachi, masa-masa penantian itu telah berakhir dengan kejam. Lihat, bahkan keberadaan keluarganya sendiri di ruangan itu tidaklah diperhatikan Kyuubi. Yang ada hanyalah Haku, Haku, dan Haku.
Merasa jengah, akhirnya Menma bangkit berdiri. "Aku ke kamar dulu, mengerjakan tugas," pamitnya sambil bergegas meninggalkan ruangan dengan adegan yang tidak ia harapkan itu. Di perjalanannya pun ia masih dapat mendengar, Sasuke pun akhirnya memilih untuk meninggalkan ruangan itu dengan alasan mau menemani Naruto bekerja.
Kyuubi telah menyebabkan situasi serba salah di kediaman Namikaze.
~akaakaakaaka~
Isi dari cangkir keramik putih itu telah tersapu habis, diteguk oleh sang pembeli. Sementara itu, cangkir lain yang terisi penuh oleh kopi sudah menunggu untuk dikonsumsi. Sudah cangkir ke tiga yang ia minu, dan penat Itachi masih saja belum bisa hilang. Bahkan ia telah menakuti sang pelayan kafe dengan memesan empat cangkir kopi, dan tiga di antaranya telah dihabiskan bersih olehnya.
Kepala Itachi masih saja terasa pusing. Bukan pusing seperti barusaja terhantam sesuatu, namun cenderung pusing yang disebabkan oleh banyaknya pikiran yang lalu lalang di dalam otaknya. Meskipun begitu, dengan nekat ia tetap meminta jatah kerjanya seperti biasa, bahkan meminta waktu istirahatnya dihilangkan. Mempunyai waktu istirahat membuatnya berhenti melakukan aktivitas, yang berarti akan ia isi dengan lamunan.
Lamunan tentang seorang lelaki yang telah mematahkan hatinya begitu saja.
Tapi staf-staf rumah sakit dan Fugaku selaku pimpinan tidaklah peka terhadap keinginan Itachi. Mereka lebih peka terhadap kondisi tubuh Itachi yang akan gampang sakit jika ia bekerja berlebihan. Dan walaupun yang ia hadapi adalah pasien anak-anak, tidak menutup kemungkinan ia akan terserang penyakit mereka jika ia sendiri tidak peduli terhadap tubuhnya.
Dan sekarang inilah dia, diharuskan beristirahat oleh Fugaku, dan akhirnya memilih keluar dari rumah sakit untuk sekedar minum kopi di kafe terdekat. Suasana kafe itu lumayan menyenangkan untuk Itachi. Paling tidak, ia bisa berusaha mengalihkan perhatiannya ke arah barista yang meracik kopi-kopi pesanan para pelanggannya daripada hanya terdiam menonton televisi dengan acara drama yang tidak bermutu itu.
"Maaf, tapi lebih baik Anda tidak memesan kopi lagi, pak. Jumlah yang Anda minum sudah terlalu banyak dan tidak baik bagi tubuh."
Sebuah suara dari samping kiri Itachi membuat Itachi menengok karena merasa dirinya-lah yang sedang diajak berbincang.
"Empat gelas sudah terlalu banyak." Pemuda yang tadi bersuara itu tersenyum canggung, mungkin akhirnya merasa ia tidak punya hak mengatur-atur orang yang tidak ia kenal. "Ah, maaf kalau aku lancang."
Itachi menghembuskan nafas beratnya. "Tak apa. Lagipula tidak baik bagi seorang dokter untuk menunjukkan pola hidup tidak sehat di depan umum." Ia menyahut sambil menyesap kopi dari cangkir keempatnya.
Nampaknya keterkejutan dirasakan pemuda tadi. "Anda seorang dokter?"
Itachi melirik ke arah tubuhnya sendiri, dan kemudian melihat bagian dadanya tempat name tag biasa diletakkan. Bagaimana ia bisa lupa ia telah mencopot propertinya itu? "Yah, begitulah." Ia mengedikkan bahu. "Dan terima kasih atas saranmu."
"Hahaha. Aku juga sering minum kalau sedang punya beban berat." Pemuda tersebut menimpali dengan tawa renyah. Itachi sedikit berjengit saat mendengar pemuda itu bisa menebak ia sedang mempunyai pikiran yang berat. "Ah, bukan alkohol. Belum cukup umur." Ia menambahkan.
Itachi melirik ke arah cangkir yang ada di hadapan pemuda tadi. Teh. Dari baunya, itu teh earl grey.
"Alkohol tidak disarankan, nak." Itachi memberi saran. "Sake dan bir memang menyenangkan. Tapi akan dapat lebih berbahaya dari kopi jika kau sudah ketagihan."
Pemuda itu tertawa lagi. "Aku akan mengingat saran darimu, dokter."
Seruan dari televisi mengalihkan perhatian mereka berdua. Drama yang sedang diputar di televisi menampakkan tokoh utamanya yang sedang naik kereta, dan tokoh yang kelihatannya kekasih tokoh utama sedang berlari mengiringi jalannya kereta dengan menyerukan bahwa ia akan menunggu sampai si tokoh utama pulang. Sungguh klise. Tapi dapat menusuk hati dua orang yang mendengarnya di tempat itu.
"Aku tidak menyangka akan dapat mengatakan hal yang sangat dramatis seperti itu." Si pemuda tiba-tiba berucap, membuat Itachi sedikit mengerutkan kening.
"Hn?"
"Tadi aku menyatakan perasaan ke orang yang kusukai, dan aku ditolak. Walau begitu, aku sudah berkata akan menunggunya sampai hatinya bisa beralih kepadaku." Mendadak aura di sekeliling pemuda itu terasa berat. "Walau butuh perjuangan dan penantian, mungkin saja ia akan berpaling padaku," lanjutnya. "Ah, maaf kalau aku mendadak bercerita begini." Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, canggung.
Itachi menyesap kopinya lagi sebelum menaruh cangkir itu di atas meja. "Jangan banyak berharap dengan menunggu, nak."
Pemuda itu menoleh ke Itachi.
"Menunggu adalah sesuatu yang sia-sia. Saat penantianmu berakhir dan kau mendapatkannya, kau akan mendapat suatu kebahagiaan yang standar, kebahagiaan yang telah kau duga seperti apa bentuknya sebelumnya. Tapi ketika ia datang padamu dengan membawa kabar yang buruk, masa penantianmu akan jadi sia-sia dan perasaanmu akan dikoyak begitu saja." Itachi menerawang dengan pandangan yang kosong. "Apalagi kalau kau sudah tahu bahwa dari awal ia tidak melihat ke arahmu. Hal itu sudah cukup untukmu sebagai alasan untuk mencari cinta yang lain. Jangan habiskan masa mudamu hanya dengan menunggu saja mumpung kau masih muda." Ekspresi datarnya bertolak belakang dengan rasa sakit yang muncul tiap kalimat-kalimat tadi terucap dari bibirnya.
Pemuda itu terdiam sejenak. Tentu saja lelaki di depannya ini telah lebih banyak menyesap manis pahitnya hidup, sedangkan ia hanyalah bocah SMA yang bahkan belum mengenal dunia yang lebih luas lagi. Tetapi…
"Tidak apa." Pemuda itu menyahut. "Aku akan bertaruh pada kemungkinan kecil mencapai kebahagiaan standar itu, dan sementara itu aku akan mencoba bertumbuh dewasa menjadi seseorang dengan pikiran terbuka. Hingga akhirnya, saat ia benar-benar telah memantapkan pilihannya dan pilihannya tersebut bukanlah aku, aku akan bisa menerimanya dengan lapang dada."
Sedikit respon yang diberikan Itachi. Hanya lirikan dan desahan napas.
"Dulu aku juga berpikir tentang hal yang sama denganmu, dimana semuanya akan berakhir indah tanpa akan ada yang terpuruk," sahut Itachi pelan. "Tapi ingat nak, kenyataan selamanya tidaklah seindah imajinasi seperti tadi. Tumbuh dewasa bukanlah hal yang menyenangkan seperti itu."
Itachi menghabiskan kopinya, lalu mengemasi barangnya sementara pemuda tadi tertegun. Barulah setelah Itachi berdiri, ia bersuara lagi.
"Anda mau kemana?" tanyanya.
"Bekerja lagi," jawab Itachi singkat sambil melangkahkan kakinya menuju ke bagian kasir.
"Kuharap kita bisa berbincang lagi ke depannya." Pemuda itu menunjukkan senyum tulusnya, hanya dibalas oleh senyuman tipis Itachi.
Di depan kasir, Itachi meletakkan sejumlah uang yang melebihi tagihannya sendiri. "Bayarkan untuk bagian bocah itu juga," bisiknya agar tidak sampai terdengar oleh si pemuda, membuat kasir tersebut segera mengangguk paham.
Hari yang melelahkan bagi beberapa dokter yang tidak mendapatkan shift malam itu akhirnya berakhir juga. Bekerja dengan waktu istirahat yang sebentar sungguh melelahkan fisik, namun dapat menyenangkan jiwa. Apa yang bisa kau rasakan dari kegembiraan dan kepuasan sewaktu pasien yang check up berkata bahwa mereka merasa lebih baik setelah mengunjungimu? Harusnya hal itu dapat menjadi pemacu semangat bagi para dokter dan membuat hari mereka lebih menyenangkan. Apalagi kalau ternyata para dokter lelaki lajang berkesempatan bertemu dengan pasien yang datang beserta wanita yang cantik.
"Kau sungguh beruntung, Uchiha. Sungguh beruntung." Salah seorang dokter yang jadwal prakteknya berakhir pada jam yang sama dengan Itachi langsung gembar-gembor sewaktu pasien terakhir Itachi telah keluar dari ruang periksa.
Itachi meletakkan stetoskopnya di tempat penyimpanannya, diiringi helaan napas. "Beruntung?"
Sang dokter muda yang baru masuk ke ruangannya itu melirik sekilas ke arah pintu. "Hei, kau tidak sadar pasienmu itu seorang model terkenal?"
Sang pemuda raven hanya mengerutkan dahinya heran. Seingatnya, pasien terakhirnya itu masih bocah berumur 5 tahun. Apa rekan kerjanya itu tidak salah melihat orang?
Melihat kerutan di kening Itachi, sang dokter muda menepuk keningnya seakan baru teringat sesuatu. Ya, ia baru ingat kalau Itachi itu dokter anak. "Maksudku, ibunya model terkenal! Pasienmu yang barusan itu! Yang ibunya berambut pirang. Aku melihatnya tadi keluar dari ruanganmu."
Itachi masih saja mengerutkan kening. Apa salah kalau ia tidak tahu siapa saja model terkenal di negaranya? Toh yang ia fokuskan sedari tadi hanyalah kesehatan dan kondisi tubuh si anak.
"Ibunya itu model bernama Shion. Nama panggungnya sebagai model." Dokter itu hanya menggeleng-gelengkan kepala, akhirnya paham kalau Itachi masih tidak paham apa yang terjadi. "Tahun kemarin ia menduduki peringkat pertama di voting masyarakat tentang wanita tercantik di negri ini. Kau sungguh beruntung bisa berbicara dengannya!"
Itachi hanya memutar bola matanya. Peduli apa dia pada hasil voting seperti itu? Ia bukannya tidak menonton televisi dan semacamnya. Ia hanya tidak terlalu tertarik dengan dunia entertainment seperti itu. "Lalu kau ingin berbicara dengannya juga dan berkencan dengannya?" Itachi mendengus. "Hei, ingatlah, dia sudah punya anak." Benar sekali, sama seperti dirinya, rekannya itu pun tidak akan memiliki kesempatan mendapatkan orang yang sudah mempunyai anak. Bagi Itachi yang menyukai anak-anak sehingga memutuskan menjadi dokter anak, anak-anak adalah keberadaan yang sangat penting. Adanya keberadaan anak membuat hubungan dua orang yang menjadi orang tuanya menjadi tak terbantahkan, tak dapat terpisahkan walau akhirnya mereka berpisah secara hukum. Apa yang telah dihasilkan tidak akan dapat dikembalikan lagi. Benang penghubung tak terlihat telah menghubungkan dua insan tersebut, memunculkannya dalam bentuk seorang anak.
"Ckckckck." Dokter itu menggoyang-goyangkan jarinya di depan Itachi. "Kau juga tidak tahu kalau dia single parent? Sang ayah dari bocah itu tidak pernah diperkenalkan pada publik, dan Shion sendiri mengaku kalau ia tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya."
"Lalu?"
"Kalau ia datang lagi, perkenalkanlah padaku."
Maaf saja, Itachi itu dokter anak, bukan biro jodoh. Lagipula mana bisa ia mencampurkan urusan pekerjaan dengan urusan semacam ini? Ia saja hari ini sudah berusaha mati-matian menahan agar perasaan pribadinya tidak terluapkan di tempat kerja. Bisa-bisa pasiennya yang terkena imbasnya. Mana bisa ia malah jadi cupid bagi temannya tersebut? Lagipula, mana mungkin ia akan bertemu dengan si model itu dalam waktu dekat ini? Toh ia tidak kenal secara formal dengannya.
Kalaupun ia bertemu si model dan bisa berkenalan dengan benar dalam waktu dekat ini, berarti rekannya itu menaruh doa terlalu banyak dengan hati yang polos.
"Selamat malam, sensei."
Itachi hanya bisa terpaku sewaktu wanita berambut pirang itu menyapanya dalam situasi tidak terduga. Malam ini ia tidak ingin cepat-cepat pulang, jadi ia menyanggupi tawaran temannya untuk ikut dalam kencan gandanya. Tapi siapa sangka si model yang tadi dibicarakan temannya itu malah ikut dalam kencan ganda tersebut?
"Selamat malam, nyonya." Itachi dengan sopan membalas sapaan Shion.
Tawa ringan terdengar dari bibir Shion. "Panggil saja Shion. Aku masih terlalu muda untuk sensei panggil 'nyonya'."
Nyatanya, Shion kelihatannya malah lebih muda dari Itachi. Namun karena ia sudah mempunyai anak, Itachi merasa berkewajiban memanggilnya dengan sebutan sopan. "Kalau begitu, karena ini diluar kerja, jangan panggil aku dengan sebutan 'sensei'," balas Itachi.
Shion tersenyum. "Baiklah, Uchiha-san." Shion tahu nama Itachi dari nama yang tertera di ruang kerjanya tadi.
"Dimana Shiho-chan?"
Shiho adalah anak perempuan Shion yang tadi periksa ke tempat Itachi karena tadi sempat terjatuh di suatu tempat dan menimbulkan luka di lutut. Shion memeriksakannya karena takut luka itu akan menyebabkan infeksi.
"Ia sekarang sedang berada di rumah bersama dengan sepupu dan bibinya. Tadi setelah periksa, aku langsung mengantarnya pulang karena sudah keburu ada janji dengan temanku untuk ikut menemaninya disini." Shion menjelaskan dengan jujur.
"Kudengar kau adalah seorang model. Apa tidak apa-apa berada di tempat umum seperti ini, Shion-san?" tanya Itachi lagi.
"Suatu kehormatan kau tahu tentang hal itu, Uchiha-san." Shion terkikik. Itachi hanya tersenyum kecil mengingat ia tahu hal itu dari rekannya tadi. "Tidak apa, toh ini bukanlah hal yang dianggap tabu oleh agensiku. Lagipula, beberapa model juga sering pergi ke tempat ini. Kurasa keamanannya cukup terjaga."
Baru Itachi akan menyahut lagi, temannya telah memanggilnya untuk segera duduk. Tadi ia berpapasan dengan Shion sewaktu ia baru keluar dari kamar mandi, sementara Shion sedang memasuki kafe.
"Ayo kita kesana." Shion mengajak Itachi memenuhi panggilan temannya tadi.
Sebelum beranjak, Itachi menyempatkan diri melihat ekspresi beberapa rekannya yang kelihatan senang setelah beberapa hari bekerja sampai kelelahan. Seorang di antaranya malah berturut-turut mengoperasi pasien, membuatnya terlihat capek tadi di tempat kerja. Dirinya pun sebenarnya membutuhkan pengalih perhatian yang ampuh, karena jika sedang tidak melakukan apa-apa, kejadian saat Kyuubi pulang akan selalu terbayang dalam pikirannya, menghantuinya dan membuat dunia Itachi diruntuhkan sekali lagi.
Hanya kedewasaan dalam berpikir dan kepedulian terhadap sekitarlah yang mampu membuat Itachi tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa hari ini. bayangkan saja jika ia terpuruk, berapa banyak pasien yang menunggunya, berapa banyak kerjaan yang akan ia berikan ke sesama rekannya di rumah sakit jika ia tidak berangkat. Jangan lupakan juga keluarga yang selalu mendukungnya itu. Hari ini Fugaku sampai berulang kali menjenguk Itachi di ruangannya, memastikan bahwa ia baik-baik saja disana. Tidak ia lupakan juga ekspresi cemas Sasuke saat kemarin adiknya itu menjemputnya setelah mengalami kecelakaan kecil. Mikoto? Ibunya itu malah jadi orang yang menamparnya sewaktu melihat luka yang ia dapat setelah kecelakaan kecil tersebut. Bukan air mata yang ditumpahkannya, namun nasehat dan perkataan tegas bahwa ia tidak boleh terlarut dalam kekecewaannya itu sampai-sampai membahayakan nyawa sendiri dan orang lain seperti itu. Hidupnya masih terus berjalan dan banyak orang yang membutuhkan keberadaannya.
Ibu yang menakjubkan.
Dan lebih baik rekan-rekannya tidak mengetahui apa-apa soal Itachi dan Kyuubi. Biarlah mereka yang membuat Itachi melupakan masalah yang baru saja dihadapinya itu, membuat Itachi serasa tinggal di dunia tanpa masalah tersebut. Kalau rekan-rekannya itu mengetahui masalah Itachi, tidak mungkin mereka akan tertawa lepas seperti ini di hadapan Itachi. Lebih baik dikelilingi oleh orang-orang yang penuh dengan tawa seperti ini bukan?
Shion sendiri sudah ikut tertawa bersama teman-temannya, membuat beberapa rekan Itachi yang tadi sempat kaget kalau Shion ikut, menjadi terpesona.
"Uchiha-san, tidak apa-apa?"
Itachi langsung menatap Shion begitu ditanya demikian. Memang, sedari tadi ia hanya menikmati obrolan teman-teman dan rekan-rekannya itu dan hanya sedikit sekali berkata-kata.
"Tidak apa-apa," jawab Itachi singkat. "Aku lebih senang mendengar kalian mengobrol."
"Itu membuat Uchiha-san terlihat tambah terkesan cool," sahut Anko, teman Shion. Pertanyaan Shion tadi rupanya telah memancing perhatian dari orang di meja itu. "Aku heran kenapa Uchiha-san masih saja mengikuti kencan seperti ini, padahal pasti banyak wanita yang mengejar perhatian Uchiha-san. apa Uchiha-san terlalu terlarut dalam profesinya?" tambahnya, membuat beberapa wanita lain mengangguk-angguk paham.
"Ah, aku kemari karena diajak olehnya," jawab Itachi sambil menunjuk Yamato, rekan yang mengajaknya tadi. Yang ditunjuk hanya tersenyum kikuk.
"Apa berarti Uchiha-san terpaksa datang ke sini karena sebenarnya sudah punya orang yang spesial?" Matsuri, seorang teman Shion yang lain, menimpali.
Pertanyaan ini agak dihindari oleh Itachi sebenarnya, karena sama saja Kyuubi-lah yang terlintas dalam pikirannya.
"Tidak seperti itu. Aku juga butuh bersenang-senang saja," jawabnya jujur.
"Orang ini…" Mendadak Yamato berbicara. "…sangat jarang bisa diajak ke acara seperti ini. Biasanya jika sudah tidak ada shift di rumah sakit, ia akan langsung pulang." Ia menjelaskan sambil melirik Itachi dengan tatapan datar. "Bisa membuatnya masuk ke sini dan bergabung saja sudah hal yang langka."
Para wanita terkekeh, dan rekan-rekan Itachi yang lain hanya mengiyakan. Sudah beberapa kali Itachi diajak kencan ganda seperti itu, tapi ia selalu menolak. Ia hanya mau menghadiri pesta biasa maupun acara makan-makan yang tidak melibatkan kencan seperti ini.
Dulu, Itachi mendedikasikan dirinya pada Kyuubi. Ia tidak suka sedikitpun pengkhianatan maupun perselingkuhan, makanya ia selalu menolak acara-acara kencan yang ditawarkan teman-teman yang mengiranya masih benar-benar lajang. Tapi alasan yang sebenarnya adalah karena ia sangat sayang kepada si rubahnya itu.
Bahkan kalau boleh jujur, setelah dikhianati seperti itupun, masih ada rasa sayang besar yang kini ia pendam kepada si rubah. Saking besarnya keberadaan Kyuubi dalam hatinya, bahkan orang-orang yang ada pun kini terasa seperti Kyuubi.
Lihat saja orang yang barusan datang dan berdiri antri di depan counter pemesanan kafe itu.
Rambut merahnya sangat mirip dengan milik Kyuubi.
Postur tubuhnya pun mirip. Bahkan caranya berdiri.
Ah, Itachi tampaknya sudah gila oleh Kyuubi. Tapi lihat, gerakan-gerakan kecil yang dilakukannya pun mengingatkan Itachi pada Kyuubi.
Oh, sekarang ia menoleh ke samping, dan wajah dari sampingnya pun mirip sekali dengan Kyuubi.
Itachi memicingkan matanya, mengamati orang tersebut. Dan barulah ia sadar, kalau sosok yang dilihatnya itu memang tidak lain adalah Kyuubi Senju yang kemarin telah mematahkan hatinya.
Seketika tubuhnya menegang, sementara perasaannya menjadi campur aduk tidak karuan. Kenapa di saat ia ingin memisahkan hatinya dari si rubah itu, dia malah muncul begitu saja?
"Hei, chi, bagaimana denganmu?"
Sebuah tepukan menyadarkannya seketika. Di sebelahnya, Yamato memandangnya dengan tatapan heran.
"Ah maaf. Apa?" Itachi langsung mencoba bersikap datar seperti biasanya.
"Kau aneh. Tidak mendengarkanku ya?" Yamato menggeleng-gelengkan kepalanya. "Anko ingin mendengar apakah kita ada pengalaman panik menghadapi pasien saat sedang bertugas."
Ah iya, sekarang ia memang harus mencoba fokus ke kencan gandanya dan bukan menatapi sosok lelaki di ujung sana itu. Mana bisa ia melupakan sosoknya kalau matanya masih terus mengamati sosok tersebut? Lagipula apa yang bisa ia dapat dengan menatapinya? Bahkan mungkin Kyuubi sekarang sudah tidak menempatkannya di hatinya sama sekali. Biarlah, Itachi akan mencoba bersikap dewasa dengan melangkah maju dan menambah frekuensi bicaranya disini. Siapa tahu ada orang yang akan membuatnya berpaling?
Dengan tekad itu, Itachi lalu berusaha bersikap santai dan menanggapi obrolan-obrolan para anggota kencan ganda tersebut. Sedikit banyak, ia pun mencoba ikut terkekeh maupun tertawa kecil agar yang lain bisa percaya jika ia benar-benar menikmati kencan tersebut dan tidak ada yang curiga dengan apa yang tadi ia lihat maupun pikirkan.
Tapi tubuhnya tidak bisa berbohong lebih lama lagi. Walaupun akan membawa kenangan menyakitkan, ia ingin menatap sosok Kyuubi lebih lama lagi.
Namun ternyata sosok itu sudah menghilang dari depan meja counter. Bahkan ketika teman-temannya mengobrol bebas dan membuatnya dapat mengambil kesempatan untuk pura-pura meregangkan otot leher dengan menengok-nengok, ia tidak juga melihat sosok lelaki itu.
"Uchiha-san," panggil Shion yang duduk di hadapannya itu dengan suara pelan. Itachi hanya mengangkat alisnya. "Apa kau sedang mencari sosok seorang lelaki yang berambut merah panjang?" tanyanya langsung, membuat Itachi terkejut. Tapi wajahnya langsung berubah datar lagi begitu mengingat ia tidak boleh membawa-bawa Kyuubi ke dalam percakapannya disini.
"Tidak. Aku hanya mengira ada kenalanku disini," ucapnya bohong. Namun Shion hanya tersenyum.
"Kau tahu, insting wanita sangatlah tajam. Aku sempat memperhatikan tadi ekspresimu berubah ketika menangkap sosoknya ada di counter, lalu mengamatinya untuk beberapa saat."
Mendengar penuturan Shion yang dikatakannya dengan penuh percaya diri, Itachi hanya mendesah lelah. Insting seorang wanita memang tajam, dan sudah ada bukti nyata dari satu-satunya wanita di kediamannya.
"Kenapa kau bisa langsung mengatakan bahwa yang kulihat tadi adalah lelaki berambut merah panjang? Bukankah banyak orang di depan counter?" tanya Itachi penasaran.
Tidak disangkanya jawaban Shion ini akan membawa efek besar pada dirinya.
"Karena dialah yang tadi seperti mengindahkan keberadaan kita di sini. Tadi sebelum lelaki itu keluar dari sini, ia memandangi meja kita dengan ekspresi yang susah dideskripsikan. Hmm, kalau menurut insting dan penglihatanku, mungkin marah bercampur pedih? Ia terlihat sedang menahan diri untuk tidak terlalu banyak berekspresi." Posisi duduk Shion memang menghadap pintu keluar, jadi memungkinkan untuknya untuk melihat lalu lalang orang disana.
Detik itu juga Itachi lagi-lagi terpana. Benarkah Kyuubi tadi berbuat demikian sebelum keluar, karena sadar bahwa Itachi juga ada di tempat itu?
tbc
Kali ini mau bahas balasan buat review yang ga login sama cerita tentang sasunarusasu yang terjadi di rumah saya xD
Makasih banyak sudah review, fave, follow sequel ini. Banyak yang protes juga kenapa jadi pada bermasalah gini. Tapi nggak apalah, kali-kali bikin pairing yang banyak masalahnya :P
Maaf banget, buat yang sudah baek hati pada review di chap kemaren, maupun buat yang review di chap ini, nanti akan dibalas lewat PM masing-masing kayak di fic dulu2. Bakal telat, jadi mau minta maaf. T_T
naru-chibi
:( :( :( begitu deh, emang itachinya dibikin tersia-sia disini nih..
makasih uda baca n review ya! ^^
SNlop
gehehehe bikin horor yah? xD genre hurt ato angst emang lebih horor dari yang horor sendiri sih wkwkwk
waaa tergantung, kalo saya mendadak jadi sadis, bakal dibuat pisah #dor
;w; makasih banyak ya Lop ucapannya...
makasih juga uda baca n review! ^^
hyoutaka narasu
nah itu, disini mau nyiksa itachinya dulu deh. kesian dulu uda naru yang kesiksa-siksa #dibejek
menma sama gaara juga ngga maju2 tu :/
ntar-ntarnya bakal dibahas kok soal kenapa kyuubi bisa sama haku :) ohoho
makasih banyak uda baca n review ya! ^^
Guest
ehehehe ni uda dilanjut walo ngga 'soon' xD
makasi uda baca n review ya ^^
onyx sky
wehehe makasih uda suka!
makasi uda baca n review juga ya! ^^
Guest twin-chan
iya ntuh, mendadak aja pulang bawa istri dan calon bayi :/ nah itu dia, dengan ada masalah gini, sasunaru bakal kehambat tu nikahnya. kesempatan buat ngerayu salah satunya kalo mau #dor
ini uda lanjut xD
makasih uda baca n review ya! ^^
Nah, mau cerita dikit kejadian malem ini. Saya kan ada adek sepupu saya, cowo, umur 4 tahun, sebut saja 'klepon'. Dan tadi adek kandung saya lagi ngepinjem action figure saya buat dipoto. Kan saya ada chibikyun nya sasuke sama naruto tuh ya.. Nahhh si klepon ini kan karena saya, dedek saya, sama papanya sendiri suka naruto, dia jadi uda apal tuh sama si naruto. Dia ambil deh figure narutonya. Abis itu, dia liat figure sasukenya. Dan ada 2 kejadian bikin saya takjub.
Pertama, mendadak dia jejerin tu naruto sama sasuke. Dia ngeyel, walo ada beberapa figure dari fandom laen, pokoknya sasuke harus sama naruto. GIMANA OTAK FUJO SAYA NGGA KUMAT? Dan abis itu, tanpa saya kasih tahu apa2, mendadak dia bilang 'NARUTO HARUS JEJER SASUKE SOALNYA KAN NARUTO SUKANYA SAMA SASUKE!'. Seketika saya DEG! dan cuman bisa mendelik sambil jejeritan dalem hati karena di situ keluarga lagi pada kumpul (daripada ketauan keluarga trus leptop, hape, sama koleksi BL saya digeledah?). Saya cuman bisa ketawa canggung nervous. Ini belum apa-apa dibanding yang kedua.
Kedua, saya nyopot kepalanya si naruto di depan si klepon. Dia ambil tuh kepala naruto, trus dia pegang figure sasuke pake tangan yang laen. abis itu... DIA BILANG 'MUAAAAHH!' SAMBIL NYIUM-NYIUMIN BIBIR SASUKE SAMA NARUTO ACTION FIGURE SAYAAAAAA! ADUH DEDEK KLEPON APA AURA FUJO SAYA KEGEDEAN DAN MEMBUATMU TRANSFORMASI JADI FUDAN?
ASTAGA ATAUKAH SASUNARUSASU YANG NGGA PUAS SAMA ENDING DARI MK MENDADAK MENGHANTUI BOCAH2 KECIL BIAR YANG KETANEM DI KEPALA MEREKA ITU CUMAN SASUKE BUAT NARUTO ATO NARUTO BUAT SASUKE?! #mulaigila
Yah, saya pokoknya pengen sharing aja soalnya ngga tahu mau share kemana lagi jeritan hati ini. xDDDDD
Mind to RnR?
chiimao13
