.
.
.
Tidak untuk yang pertama kalinya Kim Taehyung harus berlari secepat kilat dari kamarnya setelah alunan suara Jimin terdengar di ponselnya. Menyambar mantel musim dingin dan kunci mobilnya yang tergelatak sembarangan di atas sofa apartemen mewahnya. Menaiki lift dengan perasaan yang tidak tenang. Ia bukan mencemaskan Jimin, tapi seseorang yang membutuhkannya.
Ia mengendari 'Coco' sebuah sebutan untuk Lycan Hypersport merahnya, ah bukankah terlalu berlebihan jika seorang dokter memakai supercar?, tapi tidak bagi Taehyung, ia sangat menyukai pemberian orang tuanya itu tepatnya di ulang tahunnya yang ke 20, hingga ia memberikannya sebuah nama, 'namja ini benar-benar lucu bukan?'. Satu hal lagi, kenapa harus memakai Coco, kau hanya butuh kecepatan 40-60 kilometer/jam di jalanan kota Seoul.
Taehyung berlari secepat yang ia bisa di lorong sepi dan dingin itu. Ia memperlambat langkahnya ketika melihat Jimin di depan sebuah ruangan dengan pintu tertutup rapat, terdapat sebuah tulisan disana 'Operating Room'. Jangan lupakan seseorang yang ada disana, berpakaian rapi layaknya seorang manajer berdiri di lorong tersebut dengan wajah tanpa 'ekspresi?'. Jimin melambaikan tangannya menandakan ia harus segera masuk ke dalam ruangan. Taehyung segera mengenakan pakaian khususnya yang terlihat sama dengan beberapa orang didalam ruangan dengan suhu rendah itu dan melakukan beberapa prosedur sterilisasi sebelum bersiap menggoreskan pisau di kulit dada namja dihadapannya itu.
"luka tembaknya di dada sebelah kiri, dokter Kim"
"tidak mngenai jantung, menyerempet paru-paru dan menembus perut"
Taehyung tampak fokus dengan tubuh terbaring di hadapannya setelah seorang dokter melakukan anestesi sebagai langkah awal.
"dokter Kim, . . .terjadi pendarahan lambung"
Taehyung mengerti dengan semua kalimat yang berdengung di ruang operasi itu, ia mengangguk dan memulai pembedahan.
.
.
Taehyung meneguk habis kopinya yang 30 menit lalu ia ambil di mesin minuman, berharap rasa lelah dan kantuknya berkurang. Ia memandang Jimin yang juga melakukan hal yang sama dengannya, yang tengah duduk di sampingnya di rooftop tempat favorit mereka.
"empat jam menegangkan sudah berlalu dokter Kim, pulanglah garis hitam dimatamu semakin jelas"
"menegangkan. . . rasanya aku ingin pergi kencan agar lebih rileks" Taehyung terkekeh dengan kalimatnya sendiri
"sudah larut, pulang dan istirahat Tae-ya"
Jimin selalu mengerti kata 'kencan' yang keluar dari bibir Taehyung, ia selalu mengerti semua tentang Taehyung, mengerti akan apa yang sedang di pikirkan dokter tampan ini, mengerti setiap tindakannya yang terkadang tak masuk akal, konyol dan aneh tapi mengandung sesuatu yang implisit. Mengundang orang untuk berpikir kalau ia memang memiliki maksud seperti itu atau terkadang sebenarnya tidak. Terkadang sahabatnya ini lebih terlihat seperti karakter Sherlock Holmes dari pada seorang dokter.
"Jimin-ah, aku tidak melihat keluarganya"
"pasien itu?"
Taehyung memberi anggukan.
"aku tadi melihat seseorang yang sedang menunggunya, dia yang mengurus semua berkasnya, tapi setelah itu dia menghilang begitu saja" Jimin meneguk kembali kopinya yang ternyata hanya menyisakan gelas kosong
"sayang sekali jika wajah seperti malaikat itu tak punya keluarga"
"kenapa? Kau ingin memungut namja tampan itu?" Jimin terkekeh mengetahui sepertinya sahabatnya ini sedikit tertarik dengan pasien yang baru saja ditanganinya
Taehyung hanya menimpali dengan senyuman ketika ia tau Jimin sedang menggodanya.
"tapi, kenapa bisa bersarang peluru di dadanya?"
"entahlah" Jimin melirik Romain Jerome di tangannya
"ya! Pulang Tae, besok pagi kau harus kembali"
Taehyung menimpalinya dengan senyuman sebagai jawaban. Ia berdiri dan menepuk pundak sahabatnya itu sebagai tanda salam perpisahan sebelum kembali lagi ke bangunan serba putih tempat ia bekerja sekarang.
.
.
Namja itu masih sibuk membolak balik kertas file yang ada di hadapannya. Pekerjaannya yang menumpuk membuatnya harus terjaga hingga tengah malam. Bekerja sebagai salah satu agen NIS (National Intelligence Service) tidaklah mudah. Bahkan saat matahari mulai menenggelamkan sinarnya ia tak beranjak dari meja kerjanya itu. Ia terlalu sibuk beberapa hari ini, bukan. . . ia memang selalu sibuk, bahkan namja ini juga melupakan jadwalnya untuk hanya sekedar mengisi perut.
Salah satu rekan kerjanya sengaja menghampirinya dengan membawa dua gelas kopi, lalu meletakkannya di atas meja di samping papan nama yang terbuat dari kaca yang bertuliskan 'Kim Namjoon'. Menghela napas panjang sebagai tanda 'hei ada seseorang didepanmu, kau tak menyadarinya?', dan namja itu hanya melirik rekannya selama dua detik, mengambil segela kopi panas dihadapannya menyerupnya dan beralih lagi pada kertas file.
"Namjoon-ah, kau masih membacanya?" wajah bosan si pemilik suara masih menghiasi
Namjoon tak mengalihkan pandangannya dari kertas dengan sederet huruf hangul memusingkan itu "ne, lagipula kita harus selesaikan tugas ini sesegera mungkin"
"istirahatlah sebentar dan makan, kau dari tadi sore sama sekali belum makan"
"Jung Hoseok . . .berhentilah menjadi cerewet seperti Taehyung"
Namjoon namja yang di beri predikat 'Mr. Perfect' ini selalu tidak suka jika di tengah kesibukannya mengerjakan sesuatu diganggu, hal itu dapat membuat membuyarkan konsentrasinya, itu katanya.
"siapa yang cerewet?"
Seseorang yang sekarang tengah berdiri di ambang pintu ruangan Namjoon memberikan senyuman menusuk, menandakan bahwa si pemilik suara tak suka dengan kalimat yang baru saja di ucapkan Namjoon.
Kedua namja itu pun mengalihkan pandangannya pada sumber suara yang sepertinya sudah cukup lama berdiri disana hanya untuk mendengar obrolan mereka.
"Tae-ya, kau sudah selesai kerja?" kali ini Namjoon mengalihkan pembicaraan
"halo dokter Kim Taehyung, sepertinya anda butuh kursi untuk berdebat" namja bernama Jung Hoseok yang berstatus rekan kerja Namjoon di NIS segera berdiri, menyodorkan kursinya dan berjalan meninggalkan ruangan, ia hanya tak mau terlibat dengan peperangan antara dua namja ini.
Tapi Hoseok berhenti sebelum mencapai ambang pintu.
"bagaimana kabar Jimin, Tae-ya?"
Taehyung tersenyum mendengar kalimat Hoseok "ya~ , Hoseok hyung kau merindukannya?"
"bukan, apa salah aku menanyakan kabarnya, beberapa kali aku sempat melihatnya makan 1 cup ramen dengan terburu-buru"
"kau menguntitnya?" lagi, Taehyung tersenyum, ia selalu suka menggoda orang-orang yang dekat dengannya
"aigo, kau mencurigaiku? Aku waktu itu hanya tak sengaja lewat minimarket dekat rumah sakit"
"ya~, ada urusan apa hyung melewati jalan itu" Taehyung memain-mainkan alisnya
Hoseok tak habis pikir ia selalu kalah jika berdebat dengan dokter tampan dihadapannya ini, dan ia selalu berakhir dengan melarikan diri.
"Tae-ya"
"ne?"
"bukankah kau tadi akan ada debat dengan Namjoon" Hoseok segera berlari dari ruangan Namjoon
Taehyung tersenyum melihat Hoseok yang salah tingkah, tapi benar yang dikatakan Hoseok, dan ia ingat akan sesuatu.
Taehyung yang di balut mantel coklat itu menghampiri meja kerja Namjoon, memandang miris pada tumpukan kertas file, dan beralih menatap Namjoon "sampai kapan kau berkencan dengan kertas-kertas ini, eoh?" telapak tangannya yang terlihat indah itu merebut kertas file di tangan Namjoon dan menumpuknya di atas tumpukan kertas file lainnya. Sebuah paper bag dengan logo brand terkenal disodorkan padanya, dan dengan senyuman misterius yang membuat Namjoon mengantisipasinya. Jemari Namjoon terulur untuk mengambilnya dan ia cukup penasaran dengan hadiah kecil itu, melihat isi di dalamnya, sebuah mantel tebal berwarna biru tua dan t-shirt abu-abu menampilkan karakter Disney ' Mickey Mouse'.
"ya! Tae, kenapa membelikan t-shirt Mickey eoh?" Namja itu melirik gambar 'kekanak' yang terpampang besar di bagian depan t-shirt itu
"Ini tidak cocok sekali denganku" ucap Namjoon protes
"kencan" Taehyung memberikan senyuman terbaiknya sambil membuka mantelnya memperlihatkan t-shirt yang sama dengan yang ada di tangan Namjoon
"aigo, kenapa lagi-lagi kau . . . seperti couple saja"
"kenapa? Kau tak suka?" kali ini Taehyung merasa sedikit kesal
"bukan begitu, . . ."
"ganti kemeja dan jasmu dengan itu hyung, aku tunggu di mobil" Taehyung segera berlalu tak membiarkan Namjoon untuk protes sedikitpun
.
Namjoon keluar dari ruang kerjanya setelah mengenakan t-shirt 'kekanakan' pemberian Taehyung dengan celana dasar sebagai bawahannya, well. . . bukannya ia tak punya celana jeans atau apalah, Namjoon yang cukup tau cara berpenampilan ini hanya sedang menjalankan tugas di kantor dan file yang bertumpuk itu masih menunggunya ia butuh celana yang membuatnya tetap nyaman ketika harus bekerja dengan kertas-kertas yang membuatnya pusing. Sedikit ragu untuk mengenakannya bahkan ia sempat berpikir akan menggantinya lagi dengan kemejanya tadi, tapi Taehyung tak bisa dibantah sama sekali. Ia berjalan melewati beberapa rekan kerjanya, beberapa rekan kerjanya berusaha menahan tawanya ketika melihat penampilan Namjoon dengan t-shirt 'Mickey' nya itu, sedangkan Hoseok menghampirinya tanpa ragu dengan suara tawa yang menggema di ruangan itu.
"kau memang tipe namja ideal"
"sudahlah, aku akan pergi sebentar"
Namjoon teringat sesuatu sebelum benar-benar meninggalkan Hoseok yang dari tadi terlihat sangat santai olehnya "besok pagi aku harap kau telah mendalami kasus yang kita tangani" Namjoon segera berlalu, ia terlalu jengah dengan pandangan orang-orang yang sedang menahan tawanya
"tentu saja, bersenang-senanglah Namjoon-ah" Hoseok sengaja melambai-lambaikan tangannya
Dengan perasan yang sedikit kesal Namjoon menaiki mobil yang dikemudikan oleh Taehyung. Taehyung tersenyum dan melirik namja yang duduk di jok sampingnya. Tampak sekali wajahnya tak terlihat senang karena lagi-lagi ia harus pergi dengan pakaian couple yang menurutnya seperti anak kembar saja, Namjoon merasa 'tak pantas?' karena menurutnya bukankah mereka sudah cukup tua untuk memakai baju kembar, atau couple, atau apalah itu namanya.
"biar aku yang membawa mobil" ucap Namjoon
"tidak usah, kau tidur saja sejenak hyung hingga kita sampai tujuan" Taehyung segera menyalakan mesin mobilnya takut Namjoon berubah pikiran akibat t-shirt 'Mickey' pemberiannya yang tampak lucu jika dikenakan Namjoon.
Namjoon mengikuti perintah Taehyung, walaupun biasanya ia menolak untuk disetir, tapi karena tubuhnya yang kelelahan ia pun tak protes untuk kali ini, ingat! Untuk kali ini.
.
.
Taehyung memarkir Coco di depan sebuah restoran favoritnya, membangunkan Namjoon yang ternyata benar-benar tertidur, merasa sedikit kasihan tapi ia tau Namjoon saat ini butuh mengisi perutnya "hyung bangun kita sudah sampai" Taehyung menguncang pelan lengan Namjoon
"hyung. . ."
"aigo, untung saja aku yang membawa mobil kalau tidak sekarang aku sudah di rumah sakit bukan sebagai dokter tapi pasien" Taehyung bergumam ketika Namjoon masih saja berkutat dengan alam mimpinya
"hyung, ayo bangun" Taehyung berusaha mengguncang lengan Namjoon lebih keras
Namjoon berusaha membuka matanya yang terasa berat dan tersenyum pada Taehyung, ia meregangkan ototnya agar tubuhnya kembali segar. Tapi Taehyung harus menarik lengannya untuk mengajaknya turun dari mobil, kalau tidak begitu ia yakin ia akan masuk ke dalam restoran tanpa Namjoon yang lebih memilih melanjutkan tidurnya. Lihatlah sekarang, apa yang dipikirkan Namjoon benar-benar terjadi, pandangan beberapa pengunjung restoran beralih pada mereka yang mengenakan t-shirt yang sama 'Mickey'. Terdengar gumaman lucu yang membuat Namjoon sadar dan segera menutupi bagian depan t-shirt kekanakkannya.
Sudut restoran jadi pilihan Taehyung untuk menikmati acara 'kencannya', bukan karena alasan khusus memilih tempat tersebut tapi karena di tengah malam begini restoran favoritnya masih saja ramai pengunjung. Taehyung memanggil seorang pelayan lalu memesan beberapa makanan untuknya dan Namjoon. Ia juga memesan teh hangat dan ia meminta pada pelayan agar mengantar teh hangat tersebut terlebih dahulu. Taehyung cukup tau kalau meminum teh dapat membuat rileks tubuh setelah bekerja berat.
"kali ini kau menangani kasus apa hyung? tampaknya berat sekali"
Seorang pelayan datang dan menghampiri meja mereka, meletakkan secangkir teh hangat. Taehyung menyodorkan teh itu pada Namjoon.
Namjoon menyerup tehnya "bisakah kau bertanya yang lain?"
"woww, sepertinya cukup berat sampai kau tak mau membahas pekerjaanmu itu" Taehyung mengangguk-angguk tanda mengerti
"aku hanya ingin menikmati kencanku" kali ini Namjoon mengedipkan sebelah matanya
"aigo, sejak kapan kau jadi genit hyung?"
"kapan menikah hyung?" Taehyung tersenyum dibalik pertanyaannya itu
"pertanyaan macam apa itu?" Namjoon sedikit meninggikan nada suaranya
"ya! Memangnya kenapa eoh?"
"lebih baik kau bertanya tentang kasusku kali ini"
"bukankah bicara tentang pernikahan salah satu cara menikmati 'kencan'?" Taehyung terkekeh
"dan kau! kapan kau berhenti mengajak hyungmu pergi kencan dengan baju couple, carilah kekasih"
"ya! Hyung kenapa sekarang kau malah menyuruhku mencari kekasih, kau tak mau berkencan denganku lagi?" ucap Taehyung dengan wajah kesal yang dibuat-buat
Namjoon tertawa melihat tingkah Taehyung " kau itu sudah dewasa Taehyung, sampai kapan kau mengajak hyungmu sendiri untuk kencan?"
"sampai aku mendapatkan kekasih" ucap Taehyung , kali ini ia benar-benar merasa kesal
"dan carilah kekasih yang mau mengenakan baju couple denganmu" Namjoon tertawa keras
"memangnya ada yang salah dengan baju couple?"
Taehyung tiba-tiba menunjuk seseorang yang tak jauh dari mejanya "lihat! mereka sangat romantiskan?"
Namjoon mengedarkan pandangannya ke salah satu meja yang ditunjuk Taehyung, sepasang kekasih yang sedang berfoto dengan memakai baju couple, bukan. . . lebih tepatnya berfoto sambil memamerkan baju couple. Tapi kali ini pandangan Namjoon tak sengaja menangkap sosok namja di samping sepasang kekasih tersebut dengan sweater pink nya yang tengah tersenyum tipis padanya, manis pikir Namjoon, tapi . . .hey namja itu tersenyum karena t-shirt itu, t-shirt yang dikenakan Namjoon. Namjoon tersenyum kaku dan cepat mengalihkan pandangannya 't-shirt ini memalukan, Taehyung sialan' Namjoon mengerang dalam benaknya. Kali ini Namjoon kembali mengalihkan pandangan pada namja yang memakai sweater pink itu, tapi namja itu sudah tak terlihat di mejanya lagi.
"hyung kalau aku mendapatkan kekasih, aku pastikan akan berfoto dengan baju couple dan aku akan memamerkannya padamu" Taehyung mengeluarkan kalimat tersebut dengan percaya diri walaupun ia tidak tau kapan akan mendapatkan kekasih, ia saja hampir setiap hari berkutat dengan pasien, bagaimana bisa ia berkencan dan memakai baju couple jika memiliki kekasih
"baiklah aku akan menunggunya"
Obrolan mereka berhenti ketika pesanan yang mereka pesan sudah datang dan terhidang di atas meja. Taehyung tersenyum melihat Namjoon mulai menyantap hidangan di depannya, terlihat lahap seperti manusia kelaparan, tapi ia memang sedang kelaparan.
.
.
Taehyung kembali mengantar Namjoon ke kantornya selesai acara kencan mereka, bukan. . . makan malam mereka, bukan. . . ini sudah jam 1 pagi bukan makan malam lagi namanya, Taehyung akan menyebutnya sebagai 'late dinner'. Taehyung ingat pagi-pagi Namjoon harus rapat dengan yang lainnya mengenai kasus yang mereka sedang selidiki. Taehyung sengaja memberhentikan mobilnya di depan sebuah minimarket untuk membeli sesuatu di tengah perjalanan menuju kantor Namjoon. Sebagai dokter, bukan lebih tepatnya sebagai dongsaeng atau seorang paling mengerti dan mengenal Namjoon ia cukup tau bagaimana menghadapi hyungnya ini, bagaimana menjaganya dan bagaimana memperlakukannya, Mr. Perfect yang tak pernah memikirkan dirinya sendiri. Taehyung tersenyum menyusuri setiap rak makanan dan minuman, mengambil beberapa roti, susu dan jus kemasan.
"kenapa membeli banyak makanan?"
"untukmu dan temanmu hyung, kau itu butuh banyak energi"
Taehyung kembali melanjutkan perjalanannya menuju kantor Namjoon.
"hyung apa kasusmu benar-benar berat kali ini?"
"kenapa, kau khawatir?" Namjoon tersenyum
Bayangan saat ia menangani pasien di rumah sakit membuat Taehyung bergidik ngeri, apalagi ia sudah beberapa kali menangani operasi pengangkatan peluru dari tubuh pasien, dan Taehyung selalu tau meja operasi adalah tempat mengerikan bagi pasien, karena nyawa mereka di tentukan di sana "ya siapa yang tak akan khawatir kalau kau bekerja terkadang juga harus . . ." Taehyung tak ingin melanjutkan perkataannya, suatu hal yang sangat ia takutkan dan ia tak mau hal itu keluar dari mulutnya,
"harus. . .mempertaruhkan nyawaku?" ucap Namjoon menebak
Taehyung tidak menimpali tebakan yang Namjoon katakan, tebakan yang jawabannya adalah benar, tebakan yang selalu membuatnya takut. Namjoon cukup mengerti arti diamnya Taehyung, ia pun tersenyum dan mencoba membuat Taehyung mengalihkan pemikiran tentang hal itu.
"operasi bedah dan peluru, lagi?" Namjoon selalu mengerti Taehyung, ia akan segera menemui Namjoon jika ia baru saja menangani atau terlibat dalam operasi yang berhubungan dengan luka tembakan, ia selalu tau Taehyung yang tak pernah mengatakan apapun berusaha tenang tapi sebenarnya sangat khawatir.
"kau tenang saja, aku akan selalu hati-hati" Namjoon meyakinkan
Taehyung tak menimpali dan fokus pada jalanan yang ada didepannya. Kali ini pun Namjoon membiarkan dongsaengnya ini tak berkata apapun hingga Taehyung tepat memarkir mobilnya di parkiran kantor Namjoon. Namjoon masih duduk diam di samping Taehyung meliriknya sedikit lebih lama, menunggu Taehyung mengucapkan sesuatu. Tapi Taehyung sama sekali tak terlihat akan menggerakkan bibirnya, ia tetap memandang lurus pada dinding bangunan yang ada didepannya, Namjoon pun memutuskan keluar dari mobil milik Taehyung sebelum sebuah suara menghentikannya.
"hyung" Taehyung berbalik ke arah kursi belakangnya mengambil makanan yang ia beli di minimarket tadi.
"sebelum rapat kau harus makan dulu, ingat itu"
"ne, dokter Tae"
"bagaimana kau bisa bekerja dengan baik jika kau kelaparan di tengah-tengah pekerjaanmu atau membuat suara gaduh karena perutmu itu di tengah rapat yang serius"
"ne, dongsaengku yang manis" Namjoon mengambil sekantong plastik makanan yang diserahkan Taehyung
"hyung. . ." Taehyung menatap Namjoon dengan tatapan khawatir
" janji padaku kau akan . . ." Taehyung menghela napasnya panjang
"janji padaku kau akan berhati-hati"
Namjoon tersenyum mendengar penuturan Taehyung yang selalu saja mencemaskannya.
"ne, aku janji" ucapnya sambil mengelus puncak kepala Taehyung
"baiklah, kau sampai apartement harus langsung tidur, jangan sampai kau memberi obat yang salah pada pasienmu besok pagi"kekeh Namjoon
Taehyung mengangguk.
.
.
Menjadi dokter tidaklah mudah dan semenyenangkan yang orang bayangkan, terkadang mereka juga harus siap siaga 24 jam ketika dokter lain tak mampu menangani pasien yang harus mereka tangani, atau terkadang rumah sakit tak mempunyai dokter yang memadai. Tapi Taehyung menyukai profesinya, membantu orang-orang bukankah sangat menyenangkan?.
Oh, ayolah, pekerjaan itu tidak selalu tentang 'uang'.
Tetapi tentang menjalani kehidupan dengan caramu.
Menaklukkan rintangannya dengan usahamu.
Menikmati setiap perjalannya.
Mencintai pekerjaanmu, sama saja seperti kau menikmati hidupmu.
Dan pada akhirnya kau akan mencapai tujuan dengan rasa puas dan bangga.
.
Taehyung melesat ditengah jalanan Seoul yang sepi ditemani udara dingin yang menusuk tulang. Rasa kantuk yang ia tepis berkali-kali sejak bersama Namjoon kembali menerpanya. Ia berusaha tetap fokus, ia hanya ingin berada di apartemennya secepat mungkin, merebahkan tubuh lelahnya di kasur empuknya dan bergelung di bawah selimut tebalnya, ahh kenapa bayangan itu selalu datang ketika ia masih di pertengahan jalan menuju apartement. Taehyung terus mempercepat laju mobilnya dan menghidupkan musik yang ada di mobilnya, musik Hip Hop kesukannya berharap dapat meredakan rasa kantuknya. Tapi hal itu tak cukup berhasil ketika tiba-tiba pandangan di depan matanya mulai meredup, matanya terasa begitu berat, dan hampir jatuh ke dalam mimpinya ketika tiba-tiba ia tersadar dan suara dentuman keras mengenai mobilnya, ia dengan sigap menginjak pedal rem mobilnya. Ia melebarkan matanya kembali, menatap jalanan dihadapannya, napasnya terengah, sepi, tak ada apapun yang menyentuh mobilnya, tapi dentuman keras itu membuatnya harus beranjak dari dalam mobil. Sesosok namja tengah mengaduh kesakitan memegangi kakinya.
"maaf, saya. . ."
Belum sempat Taehyung menanyakan apakah dia baik-baik saja, namja itu sudah melarikan diri dari hadapannya. 'Aneh' pikir Taehyung, kenapa malah melarikan diri, bukankah jika terjadi hal seperti ini orang akan menuntutnya habis-habisan walaupun lecet yang di timbulkan tak seberapa. Taehyung terus menatap namja itu menjauh dari mobilnya ke sisi gelap sebuah jalan kecil perumahan. Tapi sesuatu mengingatkannya, benar. . .wajah namja itu, wajahnya sekilas mengingatkan Taehyung.
"ya! kembali~!"
.
.
.
