Warn: OOC, Typo, no EYD, dan kekurangan lainnya.
Kurobas belongs to Tadatoshi Fujimaki Sensei
SPOILED by Zokashime
Chap 2 : Panas
.
.
.
Dia melebarkan kedua kaki, merentangkan kedua tangan. Hingga mengenai seseorang yang sedang tertidur di sampingnya. Gelisah, keringat di dahi sudah membasahi poninya. Udara di dalam baju menguap membuat lengket.
Musim panas di kota Tokyo, udaranya benar-benar luar biasa.
"Akashi, tidurlah," tutur Mayuzumi. Menyingkirkan kaki Akashi dari atas perut, juga tangan dari wajahnya.
"Panas, Chihiro. Kamarmu panas sekali," protes Akashi. Mengelap keringat yang ada di dahinya, menyibakkan poni ke belakang.
"AC-nya tak mau hidup sejak tadi siang, mungkin rusak. Aku belum sempat memeriksa dan memperbaikinya. Jadi terima saja."
Akashi memiringkan badan dan menghadap Mayuzumi. Melipat kedua tangannya di dada. Memandangi wajah datar kekasihnya dari samping. Ia bisa melihat jelas walau dalam suasana remang-remang karena memakai lampu tidur.
Seraya siap untuk mengoceh, dia menautkan kedua alisnya, "Apa saja yang kau lakukan tadi siang sampai tak punya waktu untuk memeriksa pendingin, hh?"
"Sibuk," jawab sang abu sekenanya.
"Sibuk apa? Memandangi gadis-gadis imut di dalam buku?" lontar Akashi sarkas.
Mayuzumi memiringkan tubuhnya juga, mereka berhadapan. Sama-sama melipat kedua tangan di dada. Dan saling menatap satu sama lain. "Apa?" Tanya Mayuzumi.
"Kau yang apa?" balas mahluk merah.
"Apa yang membuatmu selalu berpikiran negative tentangku, hh?"
"Aku tidak berpikirin negative. Aku mengenalmu lebih dari siapa pun, jadi aku tahu mana ucapanmu yang benar dan yang tidak," jelas Akashi.
"Begitu." Respon Mayuzumi tidak kurang tidak lebih. Tangan yang panjang menarik pinggang Akashi sampai menabrak tubuhnya. Mengunci setan kecilnya erat-erat supaya tak bisa memberontak sedikit pun. "Sini kujelaskan," bisik Mayuzumi sembari menjilat daun telinga Akashi.
"Tsk, Chihiro, lepaskan! Panas."
"Aku tadi siang kuliah," katanya memulai.
"Terserah! Lepaskan, panassss!"
"Sebenarnya jam kuliahku sampai pukul tujuh malam, lho–"
"Aku tidak ingin tahu!"
" –Tiba-tiba pukul enam sore seorang tuan muda menelponku tak henti-henti meminta dijemput di bandara. Mengancamku ini itu, sampai membuatku sangat takut," lanjutnya, mengecupi leher Akashi yang penuh dengan keringat.
"Chihiro, hentikan! Kau sangat tidak sopan. Jangan sampai membuatku murka!"
"Karena terdengar suara anak kecil yang sudah ingin menangis, bagaimana aku tega. Aku rela mengorbankan jam kuliahku untuk menjemput dia yang sangat berharga," ucapnya. Mengambil sedikit kulit leher Akashi dengan gigi, kemudian ia tancapkan taringnya di sana.
"Akh! Chihiro sialan!" teriak Akashi. Mencakar perut Mayuzumi sebisanya. "Aku beri tahu, aku bukan anak kecil, aku sudah kelas dua SMA!" tak mau kalah ia pun mengigit leher Mayuzumi.
"Akh! Memang kau sudah kelas dua SMA, tapi di hadapanku kau selalu memperlihatkan sisi anak-anakmu," jawabnya. "Dan karena mengurusi tuan muda, mana bisa aku memeriksa dan memperbaiki AC. Jangankan untuk melakukan itu, mengingatnya saja lupa."
"Ingatanmu, kan, memang pendek."
Mayuzumi tak menanggapi atau pun membalas ejekan iblisnya. Dia mengeratkan pelukan terhadap Akashi dan lebih mengunci erat. Biarkan saja, kalau mahluk yang suka melunjak itu kehabisan napas.
"CHIHIRO PANASSS! LEPASKAN!"
Mayuzumi mengganti posisi, sekarang dia di atas dan menindih Akashi yang telentang meminta di bebaskan. "Panas, ya?" tanyanya.
Akashi menaikkan alisnya. Tentu sajalah, memang begitu keadaannya. Chihiro memang bodoh. "Tak usah bertanya, minggirlah!"
Mayuzumi tak akan menuruti perintah mahluk yang sedang di bawahnya saat ini. Satu tangannya mencengkram kedua tangan Akashi di atas kepala. Satu tangan lagi menggerayang ke bawah dan melepaskan kancing celana bahan yang dikenakan Akashi.
Manusia bermanik senada buah delima menggeliat, saat tangan dingin abu-abu tak sengaja menyentuh rajanya. "Chihiro, aku tak mau melakukannya di saat panas seperti ini!" protesnya.
Chihironya hanya membisu, focus pada pekerjaan yang sedang ia lakukan. Mulai menurunkan celana Akashi. Dan tak butuh waktu lama untuk dia, melepaskan celana itu dari tubuh sang pemilik. Kemudian membuangnya sembarang arah.
"Chihiro, kuhitung sampai tiga, kalau kau tak menyingkir dariku jangan harap kau masih punya nyawa."
"Berisik sekali kau ini," jawab datar Mayuzumi. Dan dia sudah melucuti tiga kancing kemeja putih Akashi, tinggal tiga kancing lagi untuk melihat tubuh putih Akashi seluruhnya.
"Oke, satu!"
Tidak mengindahkan hitungan Akashi, ia masih melanjutkan apa yang menjadi hobinya. Kancingnya sudah terlepas lima, tinggal satu lagi.
"Dua!"
Dan selesai. Tubuh bagian depan Akashi terekpose sempurna. Mulai dari tengkuk, dua benjolan merah yang mengeras, perut, kemudian pusar, semuanya indah. Meski kurang pencahayaan, tapi itu membuat Mayuzumi resah.
"Tig –khh"
Mayuzumi tak membiarkan mulut itu mengucapkan tiga, ia membungkamnya dengan bibir, menciuminya sesaat, menghisap dan menggigit. Setelahnya ia menggulingkan tubuh ke tempat semula.
"Ah! Chihiro!" Akashi menatapnya tidak terima.
"Apa? Aku, kan, sudah menyingkir sebelum kau bilang tiga," katanya. "Lagipula, pantas saja panas. Kau tidur menggunakan kemeja dan celana bahan, memangnya mau melamar kerja," jelasnya sarkas.
Akashi diam, karena yang dibicarakan kekasih menyebalkannya itu tak sepenuhnya salah.
"Harusnya kau berterima kasih. Aku sudah membantumu melepaskan pakaian," seringainya menatap Akashi. "Siapa juga yang akan melakukan hal semacam itu di suasana panas begini."
"Tsk!" Akashi menjatuhkan dirinya lagi ke bantal. Membenarkan boksernya yang tersisa. Melirik, setan abunya sudah memejamkan mata lagi. Ia menguap lebar. Melihat jam dinding sudah pukul setengah satu dini hari.
Guling-guling tak bisa diam. Lima belas menit ia hanya melakukan itu, panasnya tak hilang walau sudah membuka baju. Meskipun ngantuk tetapi ia tak bisa tidur.
Mendekati Mayuzumi. Bosan, ia memainkan alis kekasihnya, kemudian pindah ke bulu mata. Ia main-mainkan sampai tercabut satu. "Woa, kecabut," serunya gembira.
Tak lama, ia membuka-tutup kelopak mata sang abu. Tertawa-tawa karena menurutnya itu lucu. Sampai beberapa detik kemudian tangannya dicengkram oleh tangan lain. Akashi kaget.
"Akashi, tidurlah," seru Mayuzumi dengan mata yang masih terpejam.
"Kau belum tidur?"
"Mana bisa tidur mataku kau main-mainkan, hh."
Akashi menjatuhkan kepalanya di dada Mayuzumi. "Chihiro, panas," ucapnya manja. "Aku tidak bisa tidur."
Mayuzumi menghirup napas ringan, kemudian bangun dari tidurnya. Meninggalkan Akashi, dan menuju lemari.
"Pakai ini," katanya setelah kembali. Menyodorkan sebuah kaus ke hadapan Akashi.
Akashi tak protes, ia menuruti Chihiro-nya dan segera memakai kaus itu, walau alhasil kebesaran.
Mayuzumi mengambil novelnya dan menarik Akashi turun dari ranjang. Membawa keluar dan berhenti di balkon. Ia duduk di lantai berselonjor dan menyandarkan tubuhnya ke dinding daripada duduk di kursi yang telah tersedia.
"Sini," kata Mayuzumi. "Sedang apa kau berdiri di sana." Menatap Akashi yang rautnya penuh dengan tanda Tanya.
"Kenapa kita di sini?" akhirnya, kalimat yang sudah ia pendam terucap juga.
"Kau bilang panas dan tidak bisa tidur."
Akashi mengedutkan alis, tapi tetap berjalan mendekat. Mayuzumi menarik dan medudukkan manusia berkepala merah itu dipangkuan dan menghadapnya. Kemudian menyandarkan kepala Akashi di dada. "Di sini dingin, kan. Kau tidurlah, aku mau membaca novel sebentar."
"Hm." Akashi memeluk Chihiro-nya dan memejamkan mata.
.
.
.
Anita957: Hehe terima kasih.
Anna-tachi Team: Ahay yang manis.
Anna A: Memang mereka sungguh manis-asem. Terima kasih. Oke, semoga nggak OOC, dan mereka selalu imut.
Anna D: Dedek Sei habis mamam air hujan.
Anna K: Hum, Arigatou gozaimasu. Hoho kurang lama, ya.
Thanks, Anna-tachi Team.
Marry Sykess: Bisa juga sih, biar anget. Tak selalu untuk batuk, kan. Memang kadang abang Sei suka kulang ajar gitu. Yang chap ini ada humornya nggak? Hahah
Akaverd20: Heem, pas lagi kissu abang Mayu dibersinin.
….
Nantikan drable selanjutnya. Wossshhhhhh!
