A/N: banyak juga yang baca benda ini ya. Kalian semua bejato ternyata #dibalang
Apdet setelah dua bulan dianggurin. Akhirnya dapet libur cukup panjang buat beres-beresin fic MC yang terbengkelalai.
Naik rated jadi M. Dari awal emang harusnya M tapi saya lupa ganti.
.
Don't Like, Don't Read
Warning: cerita didominasi oleh konten Boys Love a.k.a Yaoi, OOC demi keperluan cerita, miss typo, no sensor. Cerita ini lenjeh. Sedikit Crossover dengan fandom mafia homo.
Pairing: AsaKaru, Adult!KaruKaru, NTR AsaAsa, Slight Asa(sr)Iso.
Summary: Jahil itu kadang bikin nelangsa, tapi buat Akabane Karma jahil itu berkahnya luar binasa. AsaKaru. Adult!KaruKaru. Lenjeh. Pedo, Incest dan NTR untuk senang-senang~
.
.
"Ternyata aku pernah punya buku yang begini. Kira-kira kemana aku yang dulu menghilangkannya, ya? Atau, jangan-jangan ini buku yang kujadikan alas ramen?"
Di sudut kamar yang lain, Karma memandangi dirinya—yah, maksudnya memandangi sosok lebih tua tujuh tahun dirinya yang tengah menginspeksi isi kamar seolah bernostalgia.
Karma agak tidak percaya kalau keinginan main-main (tapi dari lubuk hati jahilnya yang terdalam, macam bisa nge-seks sama diri sendiri. Oh, well, dunia ini luas tapi disodok sama diri sendiri kan tidak mungkin pernah terjadi. Mungkin setelah ini Karma akan mencatatnya dalam buku rekor dunia atau autobiografi mengenai rasa-rasa dirape diri sendiri) bisa terkabul dengan cara yang ajaib. Dengan memohon pada bintang jatuh. Siapa sangka bintang jatuh mengabulkan permintaan secepat ini. Tahu begini Karma akan sering-sering minta sama bintang jatuh dibanding sama lipan itu.
Merasa diamati, Karma yang lebih besar menyeringai pada si kecil terus duduk ganteng di atas kasur. "Kenapa 'aku'? Terpana dengan sosok ganteng ini?"
Terus melepas jas luaran dan melonggarkan dasi.
Oh, wow. Kayaknya AC-nya kurang dingin, deh.
Aduh, dia keren amat sih.
Dasar narsis.
"Oh, kurasa 'aku' yang paling tahu soal apa yang kupikirkan bukan? Atau 'aku' yang tua ini sudah tumpul soal sensitivitas sama diri sendiri? Baru bisa berdiri kalau disodok?"
Apa nyambungnya coba?
Kalau orang lain dengar pasti sudah elus dada sendiri. Tapi, tentu saja tidak dengan orang yang jadi lawan bicaranya sekarang. Dia malah tertawa kecil. Merasa lucu dengan cara bicara yang sangat menghina dan mengundang untuk lanjut ke ranjang dan enaena.
Iyalah, orang dirinya sendiri.
"Kau mungkin akan kecewa karena aku sudah lebih terlatih untuk tidak ereksi tiap bokongku diremat. Well, pribadi aku cukup senang untuk membuat lipan busuk itu kesusahan tiap tangannya gatal."
Oh, ternyata dia masih langgeng sama si Gakushuu, ya. Hebat juga tuh lipan. Mahluk paling tabah yang pernah Karma tahu dalam menghadapinya.
"Terlatih, huh? Sehebat apa memang teknikmu sampai sepercaya diri itu?"
Godaan. Undangan. Jelas sekali maksud dari hina yang terlontar pedas.
"Ingin bukti?"
Gigi-gigi putih bersinar dalam gelap dan terbungkam dengan basah.
.
.
Ketika Tiba Saatnya Aku x Aku
(Nikung sama diri sendiri kan bukan NTR ya~ Iyain)
.
Original Story by Rin
Ansatsu Kyoushitsu © Yuusei Matsui
Humor
Rated M
.
.
Trrr... Trrr...
Gakushuu mendecak sensi sama telepon yang gak diangkat-angkat mahluk di seberang sana. Sudah sengaja dia ke toilet karena perasaan gundah gulana menerpa dada yang yakin bahwa pacarnya yang cabe itu lagi ngambek sambil guling-guling di kasur dan menyumpahinya incest homo yang belok sama papah sendiri sampai bikin dia bersin terus seharian, untung Gakushuu terlatih untuk tidak mempermalukan diri dan bersin dengan anggun. Dan tentu saja memikirkannya bikin pening. Maaf saja, Gakushuu masih lebih suka membelai daripada dibelai-belai, walau belaian papah (di kepala, ya. Bukan yang lain) nampak nikmat karena tangan yaoi yang besar, kasar, hangat nan dominan begitu menggoda kalau dipakai untuk ereksi, dia masih lebih suka membelai pantat semok nan kenyal punya yayangnya. Maklum. Kalau sudah cinta mati, bodi kotak-kotak tersuguh pun tak membuatnya berpaling.
Tapi, kan Karma gitu anaknya.
Ngambekan kalo gak diapelin.
Udah kayak cewek PMS aja. Ngapel dari seminggu sekali sampai tiap hari.
Sekalian aja suruh dia pindah rumah, kancrut.
Sampai akhirnya dia curi-curi teleponin si yayang pas acara sakral macam makan berdua sama papah demi kelangsungan bahtera keluarga Asano yang jaya, kaya dan raya plus berbahagia.
"Aduh, angkat dong sayang. Kamu itu ngambek gak usah nyumpahin aku botak, kampret." sungut Gakushuu seolah bertelepati. Kasihan Karma, habis disayang-sayang dikampretin sama pacarnya.
Klik—Gakushuu menghela karena akhirnya si yayang notis dan angkat ponsel. Yang kemudiannya langsung membuat jidat berurat karena suara-suara tak asing masuk telinganya.
/"Hhhh..."/
Suara desahan.
WARNING! WARNING! SIAGA SATU UNTUK DEDIKASI TIKUNGAN TAJAM!
/"Nggh—... Ngapain kamu lipan busuk? Berisik tahu dari tadi bunyi..."/
Gakushuu mangap.
"Hei, kamu mendesah ngapain, hah!? Masturbrasi?" Gakushuu batal tujuan awal untuk meminta maaf atas batalnya kunjungan malam dan menghibur si yayang supaya gak tambah ngambek, tapi semua berubah saat mendengar suara menggoda tapi mengganggu telinganya sekarang.
Suara yang sangat nganu.
Suara yang sering dia dengar saat anuanu sama Karma.
Harusnya coman dia yang bisa bikin Karma keluarin suara kayak gitu. Suara desah nganu yang seksi dan basah dan bikin berdiri berkali-kali.
/"Oh, mastrubasi... Ngggh... Bisa dibilang begitu juga."/
/Heehee.../
Gakushuu bersumpah mendengar suara tawa lain dibalik desahan seksi sang yayang. Apa ini? Apa dia bawa orang lain ke ranjang? Selingkuhan? Teman tapi mesra?
"Karma! Kamu di sana sama siapa?" Gakushuu panik kalau ternyata firasat buruk menjadi nyata. Dia sudah paham dengan konsekuensi punya pacar kayak cabe yang susah dibilangin buat gak tepe-tepe dan berakhir digrepe. Dan Karma adalah cabe zuper yang multitalenta kalau buat gaet om om pedo berbirahi. Walau, dia tahu Karma bukan orang yang senang lompat ranjang sana-sini tetap saja kenyataannya dia cabe.
Pas kejadian kayak gini tetep bikin cekot-cekot makan ati.
/"Hehehe—hanya aku sendiri, kok."/
/"Sayang."/
DEG—sekarang Gakushuu semakin yakin kalau ada dua orang di sana.
Bersamaan dengan suara aww yang menggoda sambungan langsung diputus sepihak dari seberang.
Tuttuttut... —krek—Ponsel tak berdosa retak casingnya. Gakushuu memandang seolah kiamat sudah dekat dan mengaum murka sampai ke ujung restoran kedengaran.
"KARMAAAAAA!"
.
.
Karma dan Karma mengikik melihati ponsel yang mati. Yakin di seberang sana ada jeruk asem lagi menyumpahi namanya yang seksi ini.
"Taruhan dia akan langsung ke sini dan melabrak pintu rumah." Karma besar.
"Tidak. Dia lagi sama papahnya. Dia baru kesini nanti malam atau pagi buta. Pake kunci cadangan dan langsung lompat ke kasur memberikan hukuman." Karma kecil.
"Aku yakin dia akan main dengan borgol kesayangan. Yah, pedulikan itu nanti saja." Ucap Karma besar sambil berbaring di kasur, pasang pose papah dandy sambil menyengir. Sungguh pose laknat yang sengaja digunakan untuk menggoda uke nakal.
"Yah, nanti saja." ada yang bisa dinikmati duluan sebelum hukuman dari si yayang lipan.
Karma kecil melompat ke kasur. Merangkak ke arah tubuh yang lebih besar. Tanpa basa-basi menarik dasi yang masih tergantung di lehernya sampai lepas, mengonggokannya di atas lantai nan dingin.
Tangan kekar mengelus pipi setengah tembam yang memanas. Manik si kecil berjenggit merasakan sensasi dingin di pipi yang terasa asing. Karma kan biasanya disentuh sama si pacar. Jarang-jarang Karma disentuh sama yang lain—meski, bukan yang lain juga sih.
"Berapa usiamu sekarang?" kilat jingga jenaka menyoratkan ketertarikan mendalam untuk mengorek. Yang satunya nyengir jahil, namun bedanya lebih anggun, lebih tenang. Perbedaan usia nampaknya sangat mempengaruhi psikologis sampai kegantengan tampang.
"Coba tebak, hmm, dengan dandanan begini apa aku terlihat seperti mahasiswa?"
Sesap pada bisep kokoh yang menitikkan keringat. "Tidak. Kau bau kopi, parfum mahal, maskulin, dan seksi. Dua puluh lima? Ah, tidak. Kau masih ganteng. Kurang dari itu. Tebakanku dua puluh tiga."
"Tepat yang terakhir. Dan hei, kau pikir aku akan jelek kalau lewat dari dua puluh lima?"
"Tidak, tidak. Aku masih tetap akan ganteng walau tambah umur."
"Hum, tentu saja itu mutlak."
"Bagaimana caramu ke sini?" Karma kecil sudah telungkup di atas tubuh kekar yang siap dijamah. Pasang pose anjing manja. Sebelah tangan sudah usil buka-buka gesper tanpa izin pemiliknya.
"Kau sangat mau tahu?" usap bokong kenyal di balik celana. Remas-remas nikmat sampai yang punya mendesah.
"Tidak, aku akan tetap menganggapnya sebagai permohonan yang terkabul oleh bintang jatuh."
"Kau memohon pada bintang jatuh. Ya, ampun. Romantis sekali diri kecilku."
"So, apa diriku yang sudah tua ini memikirkan hal yang sama denganku?" seringai sambil jilat bibir. Yang dibalas dengan sungging seringai yang begitu serupa.
Hormon sialan. Ditambah keinginan sialan yang bakal terkabul dalam waktu dekat jangan salahkan kedua Karma yang sudah berdiri penuh birahi dan dedikasi menikmati.
"Well, jujur saja. Rasa penasaranku tentang selfcest sex tidak berubah, my little bitch~."
.
.
Masih dunia yang sama tujuh tahun kemudian.
Asano Gakushuu berniat menjedukkan kepala. Tentu bukan kepalanya yang jadi maha karya dari pengetahuan dan kegantengan, lebih-lebih dia ingin mencoba menjedukkan kepala pacarnya yang cabe tapi herannya masih awet sampai sekarang. Ya, masih pacar. Bocah laknat suka pamer paha itu masih saja susah buat dipingit jadi pendamping. Ada saja alasannya buat menunda pernikahan yang sebenarnya gak usah dilaksanakan lagi karena mereka udah lebih sering kawin tiap malam Minggu. Sialnya, alasannya terlalu logis sampai ingin menyumpahi kenapa Karma itu harus pintar.
Yah, kalau gak pintar Gakushuu mana mau pacaran sama dia. Cari pacar harus selevel biar keturunan gak jauh-jauh dari kata ganteng.
Sial. Jadi keingetan dia gagal ngelamar lagi tadi malam. Batin Gakushuu meringis sambil pijit kening.
"Terima kasih sudah datang kemari, Asano Gakushuu-san. Maaf, ketidaksopanan anggotaku."
Ah, ya ngomong-ngomong alasan Gakushuu pingin jedukin kepala cabe tersayangnya itu adalah karena ini, nih. Karena dia buat masalah di kediaman mafia dan dia yang jadi kena imbas digeret masuk markas.
Entah apa yang sudah kepala cabe itu lakukan. Gakushuu harap tidak jauh-jauh dari macam hal-hal gila jahil atau pelecehan atau semacamnya. Serius. sepuluh tahun mengenal otak jahil Akabane Karma membuatnya kebal kalau anak itu lagi bosan dan berakhir tepe-tepe dengan sedikit grepe. Karma yang minta banget digrepe maksudnya.
Iya, tuh anak minta banget dihukum sambil di BDSM sama Gakushuu. Doyan kayaknya.
Gakushuu bertatapan dengan seorang bocah—tunggu, dia boss-nya?—berambut cokelat jigrak yang punya muka unyuk nan shota. Untung Gakushuu doyannya macam cabe kayak Karma. Kalau gak bisa-bisa naksir dia karena keimutan. Gakushuu mendengarkan dia berbicara sampai akhirnya otaknya tak bisa mengambil kesimpulan jelas karena sesuatu yang di luar nalar.
Dan dia coman bisa jawab, "Hah?" sambil mangap.
Shota manis meringis tidak enak.
"Jadi, seperti yang sudah diceritakan—yah, itu memang tidak masuk akal bagi anda tapi ini adalah kenyataan."
"Akabane Karma—uhukkekasihandauhuk—dia masuk ke ruang penelitian kami dan memainkan sampel uji coba di sana."
"—dan terkirim ke masa lalu."
"..."
.
.
.
Tuh, kan.
Susah emang punya pacar cabe yang jahilnya minta dibunuh.
.
.
.
.
.
"Asano-san?"
"Sepertinya dia pingsan boss."
.
.
TBC
.
.
A/N: oh, yeah. masih berlanjut~ entah bakal jadi berapa chapter. Tapi, pasti gak panjang-panjang amat.
Reply for Anonymous Reviewers:
ABC: aduhh... kalo soal bahasa emang saya niat bikin vulgar dari awal saay... maaf tak bisa dipenuhi. Ini sih niatnya coman buat seneng-seneng doang, Kalo jadi MC juga gak bakal panjang kok. Hehehe. Makasih Reviewnyaa...
Kyulennychan: sudah lanjut yaaa, thanks for review~
Misacchin: udaaah! udah lanjuut! Kalo di tengah utan ntar gak cepet ketemu dan gak bisa langsung anuanu dong #eh thanks for review~
Dhiaz Rahmadita: ini fic emang gak jauh dari anuanu. Biarkan pikiranmu liar mengimejii. Udah rated M kok! emang harusnya dari awal rated M sih. Thanks for review~
Thank's a Lot for You
Please, Gimme Review~
Update: 11th December, 2016
