The Written Fate by Jojo
Summary: Sakura si kutu buku hanya ingin ketenangan saat bersama buku-bukunya. Tapi, ketika Sasuke menerobos masuk ke dalam hidupnya mampukah ia menendangnya keluar kalau takdir memang sudah tersurat? AU
Disclaimer: Naruto dan karakter-karakternya milik Masashi Kishimoto. Di fic ini aku nggak lebih dari seorang fangirl yang minjam karakter-karakternya.
Note: kata-kata yang ditulis miring itu suara innernya Sakura dan Sasuke. –Sakura- /Sasuke/
Terima kasih buat yang sudah membaca chapter pertama, terutama yang sudah me-review: karimahbgz, Sslove'yumiki, guest, SRZ, yukarindha yoshikuni, Fiyui-chan, rura seta, Haru-kun Uchiha, Cherry snow, Yuina Noe-chan, Baka Iya SS, Sami Haruchi, Akira ichi, dan Iria-san. *bow*
Terima kasih atas saran serta komentarnya. Aku sangat-sangat senang ada yang baca fic-ku.
Khusus buat pertanyaan-pertanyaan di review:
Baka Iya SS: Sakura itu anak angkat, jadi otomatis mama papa plus mansionnya itu punya Ino. Lebih jelasnya nanti ada di chapter-chapter depan. Iya-san (panggil Iya-san gapapa nih?) hebat sampai nyadar kalo detail soal Ino tahu Sakura jatuh itu memang kelupaan ^^.
Akira Ichi: Nggak. Mereka itu cuma sebatas kenal gara-gara satu kelas tapi nggak benci dan nggak juga dekat.
Hioshi: Yup. Betul banget, Gaara playboy kelas kakap yang sembarang embat asal cewek.
SRZ: Mungkin ada GaaSaku, jadi tolong jangan 'gimana' juga yah sama fic ini. Tapi, aku tetap menjunjung tinggi pair persatuan, pair SasuSaku kok :)
Fiyui-chan: O, ya? Rata-rata Hinata semua yang jadi pengganggu? Hinata ada tapi cuman jadi minor karakter kok. Tenang aja. Orang ke-tiganya bakal muncul di chapter 3 kalau nggak ada perubahan. Bocoran: Sasuke sudah punya pacar.
Cherry snow: Aku newbie tulen ^^
Now enjoy!
Fate 2: Car Accident
Ruang Infirmary Konoha Gakuen, sepulang sekolah, jam 4 sore.
Pria itu tampak lebih tampan jika ia berada dalam keadaan tenang seperti ini. Setiap orang yang melihatnya seperti ini pasti akan berpikir kalau pria itu sedang tidur. Sakura sendiri juga berusaha memasukkan konsep ini dalam pikirannya agar rasa bersalah di hatinya bisa berkurang. Namun, ia tak bisa mengungkiri kebenaran kalau, Uchiha bungsu, supernova sekolah sedang berbaring kaku di atas kasur infirmary sekolah karena dirinya.
Mata emeraldnya masih menatap Sasuke penuh arti. Tanpa sadar jari telunjuk gadis itu mulai menjelajahi lekuk perlekuk wajah Sasuke yang proporsional dan berhenti di sekitar dagu pria itu untuk merasakan tulang rahang tegas miliknya.
Somehow, Sakura merasa damai. Ia menemukan dirinya terhanyut secara ajaib saat memandang wajah pria itu. Seakan gadis itu menemukan serpihan sesuatu yang telah lama hilang dalam dirinya. Yang Sakura sendiri pun tidak begitu mengerti apa.
Seekor nyamuk menghentikan kepakan sayapnya yang tidak terlihat mata dan mendarat di kening Sasuke. Kepala Sakura menunduk mengamati nyamuk itu lama sekali. Sebelum akhirnya menepuk dahi Sasuke dengan bunyi 'PLAAAK' yang nyaring.
Di waktu yang bersamaan, seperti diberi alat pengejut jantung, tubuh Sasuke terguncang dan matanya membuka dengan cepat. Menyebabkan Sakura yang melihatnya jadi shock stadium akut. Saking shock-nya Sakura sampai lupa kalau tangannya masih menempel di dahi Sasuke.
'GRAP' Sasuke mengunci pergelangan tangan Sakura secepat kilat. Lalu, entah bagaimana Sasuke yang masih dalam posisi merebah di kasur, mengangkat tubuh Sakura, dan membantingnya keras di kasur infirmary yang empuk. Merubah posisi mereka. Sakura terbaring dan dia duduk di pinggiran kasur.
"Kyaaah!" Sakura menjerit. Ia ingin segera bangun, tetapi badan Sasuke menghalanginya. Sakura hampir lupa cara bernapas, wajah Sasuke terlalu dekat, tangan Sasuke ia letakkan di kiri-kanan kepala Sakura yang masih terbujur kaku membuat hanya wajah maskulin pria itu yang berada di pandangannya, dan cuma kedua tangan yang meregang itu saja yang dijadikan Sasuke penyangga tubuhnya agar tidak menghimpit tubuh mungil Sakura yang ada di bawahnya sekarang. Lutut Sasuke juga mengambil peran penting agar menjaga tubuh Sasuke tetap seimbang, kini kedua kaki Sakura sudah dijepit oleh kedua lutut Sasuke.
Onyx itu menyala-nyala, ada sedikit kebingungan yang terukir di dalamnya.
"Kenapa aku ada di sini?" tanya pria itu pada Sakura yang sudah hampir mati di bawahnya.
Dengan sangat sulit Sakura menelan ludah. Mencoba membasahi tenggorokannya yang seketika menjadi sangat kering.
"Ceritakan padaku," tukas pria itu. "apa yang terjadi!"
=Jo=
Flashback ON
Semua orang melangkah mundur ketika Uchiha Sasuke melangkah maju. Tanpa sadar membentuk sebuah lingkaran yang berpusat ke Sakura dan Sasuke seperti magnet yang saling tolak menolak dengan kutub yang sama. Sakura masih mematung, matanya tidak berkedip. Ia mencoba menjauhkan wajahnya saat wajah Sasuke mendekat, sangat dekat, hingga Sakura mampu merasakan napasnya yang memburu berhembus di keningnya yang mulus.
Sasuke mengangkat telunjuknya dan menunjuk tepat di depan dahi Sakura. "Kau," katanya. "Minta maaf padaku!". Hidungnya ia angkat tinggi-tinggi untuk menunjukkan kekuasaannya.
'PLAAK' Sakura menampar tangan Sasuke agar menjauh dari wajahnya. Kemudian menaruh kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum sarkastik. "Kalau aku tidak mau bagaimana, rambut pantat ayam?"
Napas semua orang yang di kantin Konoha Gakuen tercekat. Mereka semua memandang Sakura horror dengan tatapan 'Apa yang barusan kau katakan?'. Bahkan Sasuke sendiri tercengang kaget. Baru kali ini ada orang yang berani menentangnya. Bukannya marah atau apa Sasuke justru menyeringai senang.
/Menarik/ pikir Sasuke. Ia mencengkram dagu gadis itu kuat-kuat. Sangat kuat sampai-sampai Sakura mengira kalau rahangnya akan segera retak. "Bagaimana ya? Aku mungkin bisa menyakitimu …" Sasuke mengepalkan tinjunya dan menaruhnya di depan pipi Sakura. "dengan ini."
Sakura menutup rapat-rapat matanya. Menunggu saat kepalan tangan Sasuke bertabrakan dengan tulang pipinya. Namun, ia tidak merasakan apa-apa kecuali hembusan napas Sasuke yang senantiasa meniupi dahinya. Lama-lama cengkraman Sasuke pada dagunya melemah sampai akhirnya terlepas sepenuhnya.
Si pink itu membuka kelopak matanya perlahan-lahan. Sasuke yang tadi berdiri di hadapannya sudah tidak ada lagi. "Kau beruntung, gadis bodoh. Aku tidak suka menyakiti perempuan. Terutama perempuan lemah sepertimu." Suara Sasuke terdengar dari arah belakang Sakura.
Cukup sudah. Sakura sudah di ambang batas. Gadis itu berbalik, menyadari jarak 1 meter di antara mereka, menjulurkan tangannya, dan menjambak rambut raven Sasuke. Karena memang itu saja yang dapat dijangkaunya dari jarak sejauh itu.
Dan Sasuke yang tidak siap dengan sudden attack Sakura kehilangan keseimbangannya kemudian terjatuh. Dengan sadisnya bagian samping kepala pria itu terjeduk keras dengan kaki meja yang berada di sana. Pria itu sempat mengaduh kesakitan sambil memegangi kepalanya sampai akhirnya ia tergeletak tak berdaya di lantai.
Flashback OFF
=Jo=
"Aku pingsan karenamu?" tanya Sasuke dengan raut wajah tak terjabarkan dengan kata-kata. Sakura mengangguk lemah.
Sasuke akhirnya mengangkat badannya, menghentikan 'kurungan'-nya terhadap Sakura.
"Ini gila." Hanya ini yang pemuda itu katakan. Ia merosot turun dari kasur di mana Sakura masih berbaring megap-megap mengambil napas seperti ikan koi yang kehabisan oksigen.
Iris emeraldnya melihat punggung Sasuke yang semakin kecil karena jarak pandangnya juga semakin melebar. Pria itu membanting pintu infirmary dengan keras.
Sakura segera bangun, kakinya mendarat di lantai. Segera ia menyambar kertas-kertas yang Shizune, perawat di sekolah, suruh untuk Sakura berikan kepada Sasuke kalau pria itu sudah siuman.
"Tunggu, Uchiha-san!"
=Jo=
Sekolah itu sudah sangat sepi, tidak ada siapapun, terkecuali dua insan yang sedang berada di lorong sekolah elit itu. Yang satu berada jauh di depan, sedang yang satu lagi berlari-lari mengejar dari belakang.
"Uchiha-san, tunggu!" Gadis berambut pink berteriak.
/Kenapa gadis gila itu mengikutiku?/ batin Sasuke. Meski sadar kalau teman sekelasnya itu sedang susah payah mengejar langkah pria itu, Sasuke tidak mau membuang-buang tenaga untuk berhenti apalagi menoleh.
'GRAP' Sakura berhasil menangkap lengan Sasuke. Mau tidak mau Sasuke terpaksa berhenti melangkah.
'Apa?' Sasuke tidak berbicara langsung pada Sakura, hanya alis matanya saja yang terangkat naik.
"Ini." Sakura menyodorkan lembaran kertas putih ke Sasuke.
'Apa ini?' Lagi-lagi hanya raut wajah Sasuke yang berbicara, kali ini Sasuke mengerutkan dahinya.
"Itu pertanyaan-pertanyaan yang harus kau jawab, Shizune yang memberikannya padaku," jelas Sakura. "Untuk memastikan kalau kepalamu masih baik-baik saja dan kau tidak mengalami benturan yang parah."
'Ini saja?' Begitulah kira-kira hasil scan ekspresi wajah Sasuke di otak Sakura. Sakura tidak sadar kalau ia selalu berhasil membaca pesan wajah Sasuke dengan tepat.
Sakura mengoncang-goncangkan kepalanya ke atas dan ke bawah. "Iya, itu saja."
Si pinky melihat Sasuke memasukkan kertas itu sembarangan ke dalam saku celananya. Pria itu berpaling dan meninggalkan Sakura.
"Eh, tunggu!" sahut Sakura cepat sambil menarik baju Sasuke.
Sasuke memalingkan kepalanya, "Apa?"
Praise the lord! Akhirnya Sasuke angkat suara juga.
"Kita harus membersihkan restroom sekolah."
"Apa?" ulang Sasuke meminta penjelasan dengan kata tanya yang sama lagi.
Sakura mengambil napas, lalu menjawab, "Tsunade menghukum kita berdua, katanya kalau kau dan aku tidak mengerjakannya, nilai kita akan dipotong."
"Dia bisa memotong nilaiku sesukanya. Aku tidak peduli." respon Sasuke masa bodoh.
Sakura menangkap kedua tangan Sasuke, menggenggamnya kuat-kuat. "Aku mohon, aku tidak mau nilaiku sampai terpotong hanya gara-gara ini."
Sasuke sudah punya jawabannya sendiri. Tetapi, kata-kata yang keluar saat ia membuka mulutnya justru kebalikannya.
=Jo=
/Kenapa aku malah menyetujui permintaan gadis ini?/ Sasuke menatap marah ke Sakura yang sibuk mengepel lantai restroom sambil menyenandungkan nada-nada yang sesungguhnya sangat fals.
Sasuke meremas gagang pel tosca yang dipegangnya, kemudian melanjutkan pekerjaannya tadi.
'KRUCUK~' Tiba-tiba perut Sakura berbunyi.
Sasuke menoleh kaget, sebentar saja, lalu menyeringai senang. "Lapar ya, jidat lebar?"
Sakura memegang jidatnya yang memang lebar. Tidak percaya kalau pria itu berani mengatai-ngatai dahi kebanggaanya.
'KRUCUK~' Cacing-cacing di perut Sasuke mulai konser rupanya.
Sakura tertawa geli. Kelihatannya Sasuke juga tidak makan tadi siang. "Kau juga lapar ya, pantat ayam?"
Sore itu mereka memutuskan untuk memesan pizza. Tak lama kemudian pizza pesanan datang. Sasuke menolak ketika Sakura hendak menyuapinya (yang sebenarnya sengaja Sakura lakukan biar Sasuke merasa makin jijik). Nafsu makannya sudah hilang mengingat mereka sedang berada di restroom a.k.a toilet. Ia heran dengan Sakura yang dengan lahap menyantap seluruh pizza itu tanpa merasa jijik sedikit pun walau aroma-aroma mengerikan terus mengoar-ngoar di depan hidungnya. Sakura sibuk menguyah sementara Sasuke sibuk menahan muntahannya yang sudah merambat naik ke tenggorokan sampai tidak mendengar bunyi 'CKLEK~'. Pintu restroom dikunci oleh penjaga sekolah yang jam kerjanya sudah usai. Sama juga dengan pintu-pintu lainnya di sekolah termasuk pintu gerbang megah Konoha Gakuen.
=Jo=
"Terima kasih ya sudah membelikanku pizza." ucap Sakura sambil tersenyum manis, menampakkan mata segarisnya dari balik kacamata bening gadis itu.
Sakura mengucek-ngucek matanya, Sasuke sudah kembali berpaling dan memasang wajah cuek yang paling biasa Sasuke tampilkan. Apakah hanya perasaan Sakura saja? Atau memang betul Uchiha Sasuke baru saja tersenyum padanya?
Tangan Sakura menggerak-gerakkan handle pintu di hadapannya. Tapi kenapa pintu itu tidak terbuka-buka? Jangan-jangan …
Matanya membulat saat memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk di otaknya. Dan yang merajai chart terburuk paling atas adalah … ia terkurung di dalam restroom bersama Uchiha Sasuke!
"Kau kenapa jidat?" tanya Sasuke saat memperhatikan kalau wajah Sakura sudah pucat pasi.
"Pintunya terkunci."
"APA?"
=Jo=
Handphone! Sakura melonjak senang. Sakura mengobrak-abrik isi tas selempangnya dengan ganas. Mengeluarkan handphone warna magenta miliknya, hampir menitikkan air mata bahagia. Barang itu bisa menjadi penyelamat dunia sekarang. Sakura menekan-nekan tombol home berulang-ulang, namun layar handphone-nya masih tetap gelap. Oh, mati sajalah Sakura sekarang! Baterai handphone-nya habis. Sakura mendudukkan dirinya di lantai dengan wajah pupus harapan. Saat melihat Sasuke yang berjalan mondar-mandir di hadapannya Sakura baru ingat.
"Pantat ayam! Handphone-mu!" teriaknya girang.
'JEDEER' Petir menyambar kepala Sakura saat mendengar kalau handphone pria itu ada di tas dan tas itu masih ada di kelas.
Sakura sudah mulai menangis meratapi nasib bermalam di restroom yang dingin ini sampai besok pagi. Apa lagi yang bisa lebih gila daripada ini? Oh ada! Ia harus merelakan tidur bersama Sasuke sepanjang malam!
Sakura melirik Sasuke yang sudah berhenti berjalan bolak-balik dan duduk di sudut ruangan. Waspada kalau Sasuke menunjukkan tanda-tanda ingin berbuat mesum. Sakura tidak tahu betul bagaimana perangai pria itu, ia terlalu sibuk dengan segala buku-bukunya selama di kelas. Ini membuatnya menjadi kurang memperhatikan sekitarnya. Sakura bahkan tidak tahu kalau Uchiha yang satu itu duduk di belakangnya selama ini di kelas. Jadi, siapa tahu kalau pria itu maniak kan? Tidak ada salahnya punya rasa curiga. Lagi pula wajar saja Sakura merasa was-was mengingat kodratnya sebagai seorang perempuan.
Sakura sudah memasang kuda-kuda, Sasuke beringsut mendekatinya.
"Kau kenapa, jidat?" tanya Sasuke heran.
Jarak antara Sasuke dan Sakura sudah tinggal 20cm.
"Kemari." ujar Sasuke dengan nada memerintah.
Melihat Sakura tidak membuat gerakan apa-apa untuk mendekat, Sasuke terpaksa merangkul gadis itu. Bulu kuduk Sakura merinding.
"Itu," Sasuke menunjuk sesuatu. "Kita bisa keluar lewat situ."
Kepala Sakura menoleh ke arah yang ditunjuk Sasuke. Sakura memicingkan matanya, memperbaiki letak posisi kacamatanya yang mulai turun ke ujung hidung mancungnya. Dari bingkai kacamatanya Sakura dapat melihat sebuah ventilasi dengan lebar yang cukup, setidaknya muat kalau dirasuki tubuh seorang manusia yang tidak begitu gemuk. Tapi, ia tidak yakin mereka bisa menjangkau daerah tertutup kaca tembus pandang itu. Sebab tempat itu terletak sangat jauh di atas kepala mereka, Sasuke yang tingginya bukan main saja sudah pasti tidak bisa mencapainya apalagi Sakura si spesies pendek.
"Bagaimana kita bisa menjangkaunya? Itu terlalu tinggi." kata Sakura mengeluarkan uneg-unegnya.
Sasuke menyeringai penuh rahasia, "Aku tahu."
Sasuke merengkuh leher jenjang Sakura yang diselimuti rambut sebahu gadis itu. Menghilangkan jarak antara kepala mereka. Membisikkan idenya di telinga Sakura. Sejenak kemudian menjauhkan kepalanya lagi agar bisa melihat wajah Sakura, melihat ekspresi gadis itu, setuju atau tidak.
Sakura bukannya tidak setuju, ia paham kalau itu adalah satu-satunya jalan untuk keluar. Tapi, ada sesuatu dari rencana Sasuke yang tidak mengena di hatinya. "Aku tidak mau jadi yang di bawah."
Sasuke mengerjap-ngerjapkan matanya. Otaknya yang encer dipenuhi dengan ide. "Begini saja," sarannya. "Kita tentukan siapa yang memanjat dan siapa yang di bawah dengan jan-ken-pon."
Sakura setuju. Jan-ken-pon adalah cara yang tepat dan paling adil, sejauh ini yang bisa diterimanya, meskipun itu adalah cara yang biasa anak-anak kecil pakai.
"Yang menang yang memanjat."
Kedua orang itu mengguncang-guncangkan tangannya. Sakura berteriak, "Jan-ken-pon!"
=Jo=
"Ya begitu." Sasuke memberi intruksi.
Sakura mengikuti segala aba-aba. Menaruh lututnya di permukaan lantai sembari berdecak kesal. Ingin sekali rasanya ia merubah aturan main jan-ken-pon itu. Sakura terus menggerutu, ia tidak bisa mengelak kalau batu kalah dengan kertas. Walau menurutnya hal itu kurang logis sebab batu juga bisa mengoyak-ngoyak kertas. Sakura batu, Sasuke kertas.
Sasuke menaikkan satu kakinya di pundak Sakura. Tak lama kaki yang kedua ikut bertengger di bahu Sakura yang lain.
"Kau baik-baik saja, jidat?"
Sakura sudah terkenal akan tenaganya yang menandingi kuli panggul manapun. Pada festival olah raga sekolah tahun kemaren ia mampu berlari dan mendapat juara pertama sambil menggendong orang terberat di sekolahnya, Chouji. Gadis itu menjawab pertanyaan Sasuke dengan memegangi kedua kaki Sasuke. Sakura tergolong orang yang cukup enak diajak kerja sama. Meski menjadi tempat pijakan sekalipun.
Sasuke menjulurkan tangannya, berusaha menggapai kusen ventilasi itu. Walau sulit Sasuke akhirnya berhasil mengeratkan genggamannya. Dengan berjinjit Sasuke menyamakan ketinggian kepalanya dengan jalan udara itu. Masih ada kaca yang menghalangi antara wajah Sasuke dengan dunia luar restroom.
"Jangan lihat ke atas!" perintah Sasuke pada Sakura.
Sasuke menyikut kaca itu, menyebabkan benda itu pecah berkeping-keping. Ada pecahan-pecahan yang jatuh mendarat di rambut Sakura yang tebal. Pria itu cukup cerdik, ia mencabut-cabuti bongkahan-bongkahan kaca yang masih tersisa di kusen sebisanya. Setelah merasa cukup aman, ia memindahkan pijakannya ke dinding. Tak perlu waktu lama, tubuh Sasuke sepenuhnya sudah berhasil masuk ke dalam celah itu.
Sakura tersenyum puas melihat kaki Sasuke menghilang dari pandangannya. Melakukan pendaratan dengan kepala terlebih dahulu cukup beresiko. Sakura harap Sasuke tidak kenapa-napa.
Gadis itu memiringkan kepalanya. Kenapa Sasuke lama sekali? Pria itu sudah berjanji akan mengeluarkan Sakura dari luar. Tetapi, sampai sekarang tanda-tanda kehadiran pria itu tidak Sakura rasakan.
Sakura mendongak, melihat sehelai daun terbawa masuk bersama udara yang menggulung-gulung dari ventilasi. Gadis itu lalu menoleh ke cermin yang ada di sana. Memperhatikan refleksinya di cermin. Ia terlihat sangat amat bodoh. Butuh waktu 25 menit untuknya menyadari kalau ia sukses ditipu Sasuke. Ia hanya diperalat supaya Sasuke bisa keluar.
"ARRRGHH! Chickenbutt! Aku akan membunuhmu! Lihat saja nanti! Aku benci kau!"
=Jo=
Arloji Sakura terus berdetak. Terdengar sangat keras mengingat kesunyian di sana. Sakura yang duduk memeluk lututnya, mencari kehangatan. Sasuke sialan itu benar-benar tidak kembali. Tak ada lagi yang bisa Sakura lakukan kecuali pasrah. Ventilasi yang terlanjur jebol membuat jalan masuk udara lebih banyak. Memperparah keadaan Sakura yang semakin lama semakin kedinginan. Waktunya ia habiskan untuk menyumpahi Sasuke dengan segala hal yang buruk yang bisa ia ingat.
Semenit kemudian, mendadak telinga Sakura menangkap bunyi kegaduhan di luar, bunyi gemerincing kunci dan sebuah suara yang samar-samar terdengar seperti mengulang-ngulang memanggil namanya. Pintu digedor-gedor dengan kerasnya. "Sakura? Sakura, kau di dalam?"
Bibir Sakura membuka. Sasuke? Dia kembali!
"Pantat ayam?" Sakura berdiri, dengan tidak membuang waktu lagi, dia menghampiri pintu.
Pintu terbuka. Terlihat dua orang pria. Yang pertama adalah Hyuuga Hiashi, penjaga sekolah. Dan yang kedua bukan Sasuke seperti yang Sakura duga, melainkan seorang pria bertato 'Ai'.
"Gaara!" Sakura memekik senang. Ia segera keluar memeluk pria bernama Gaara itu dengan penuh kelegaan.
=Jo=
Flashback ON
Seorang gadis masih bergelayut manja memeluk lengan Gaara. Gaara memain-mainkan rambut ikal gadis itu, sesekali mendekatkannya ke indra penciumnya untuk menghirup keharuman rambutnya.
Handphone Gaara bergetar di saku celananya entah untuk yang keberapa kalinya. Teman kencan Gaara mendekatkan wajah mereka berdua, hendak mencium Gaara. Namun, Gaara melepaskan pelukan gadis itu. Handphonenya sangat mengganggu dari tadi. Ia tidak punya pilihan lain selain mengangkatnya.
"Apa?" tanya Gaara to the point kepada entah siapa yang meneleponnya. Suara di ponselnya tidak terdengar dengan jelas, kalah dominasi oleh lagu-lagu hip-hop yang diputar di diskotik tempat Gaara berada.
"Permisi." pinta Gaara sopan. Ia menerobos gerombolan orang-orang yang menari-nari sepuas hati di tempat itu sampai ia berhasil keluar ke tempat yang agak tenang sedikit.
"Ada apa?"
Tidak terdengar apa-apa. Gaara mengecek layar handphonenya. Masih tersambung. Matanya membelalak kaget mengetahui siapa yang meneleponnya. Ino Yamanaka.
Gaara mengembalikan letak ponselnya ke samping telinga. "Kau di mana, BAKA?"
Refleks Gaara menjauhkan ponselnya, mengurangi resiko tuli karena suara Ino yang luar biasa. Sontak Gaara ingat, ada hal yang harus dilakukannya. Ia mesti menjemput Sakura di sekolah dan ini sudah larut malam.
"BAKA! Kenapa tidak jawab?"
Gaara menghidupkan speaker ponselnya. "Aku sedang di jalan menuju sekolah, Ino."
"BOHONG! Kau pasti sekarang ada di tempat lain, iya kan? Berisik-berisik apa tadi itu?" tuduh Ino.
"Aku tidak bohong. Yang berisik itu tadi hanya musik yang kusetel di mobil."
"Kau gila! Jam berapa aku menyuruhmu menjemput Sakura?" Ino mulai marah. "Jam 4 kan? Ini sudah hampir jam 7! Kenapa kau baru berangkat?"
Gaara meringis. "Ino, kelihatannya jaringannya buruk di sini, aku tidak bisa mendengarmu dengan jelas." dusta pria itu.
"Hey, BAKA, kau kira kau bisa membodohiku? Jangan berani-berani memutuskan teleponnya atau aku akan mem-"
'Piip' Gaara memutuskannya.
=Jo=
"Akhirnya kau datang juga!"
Pria paruh baya bernama Hiashi mengarahkan lampu senternya ke orang di hadapannya yang juga berdiri di dekat gerbang sekolah. Memastikan kalau benar Uchiha Sasuke-lah yang meneleponnya tadi.
Sasuke adalah anak yang cerdas. Begitu keluar dari restroom, laki-laki itu langsung menuju kelas dan mengambil ponselnya. Ia memang tidak punya nomor Hiashi, si penjaga sekolah. Namun, ia punya banyak nomor ponsel orang-orang kepercayaannya. Kemajuan teknologi sangat menolong orang-orang itu untuk menemukan cara mengontak Hyuuga Hiashi yang disebut-sebut Sasuke di teleponnya. Tanpa butuh proses yang memakan waktu sebuah pesan berisi nomor ponsel Hiashi dikirimkan ke Sasuke via pesan teks. Yang memakan waktu lama hanyalah perjalanan Hiashi ke sekolah.
Bersamaan dengan datangnya Hiashi sebuah mobil juga muncul. Seorang pria berambut merah keluar dari dalamnya. Mendatangi Sasuke dan Hiashi. "Apa Sakura masih di dalam?"
Sasuke melirik Gaara, hanya sebentar. Ia tidak punya urusan dengan orang yang diperkirakan kakak kelasnya itu. Makanya, ia mengacuhkan pria itu. Sakura masih terkunci di restroom. Saat ini Sakura lebih penting dari apapun.
"Cepat," kata Sasuke kepada Hiashi. "Temanku masih terkunci di restroom."
Terdengar kecemasan di dalam kata-katanya.
Hiashi segera berjalan menuju restroom. Sasuke mengekor di belakangnya.
Melihat ini, Gaara menahan Sasuke dengan menarik tangan Sasuke.
Pria yang lebih muda mendelik kepada yang lebih tua. Menyentakkan tangannya sehingga pegangan Gaara terlepas.
"Sakura biar aku saja yang urus," ucap Gaara dingin. "Kau sebaiknya pulang," Pandangan Gaara turun ke baju Sasuke yang penuh noda milkshake. "dan cuci baju kotormu itu."
Sasuke hendak memprotes.
"Kalau aku jadi kau, aku akan menurut pada perintah senpai-ku, Kou-hai." Gaara menggunakan nada yang sangat mengintimidasi.
Sasuke tersentak. Indra keenamnya memperingatkan kalau pria yang memang adalah senpai-nya itu berbahaya. Ia memilih mundur, menahan kepalan tangannya yang sangat ingin ia layangkan ke wajah tampan Gaara. Membiarkan pria itu tersenyum penuh kemenangan.
Flashback OFF
=Jo=
"Bagaimana kau bisa menemukanku, Gaara?" tanya Sakura penasaran kepada Gaara yang sibuk menyetir di sampingnya.
"Kau tahu, Sakura? Orang yang saling mencintai seperti kita berdua ini sulit dipisahkan. Kita selalu tahu di mana orang kita sayang berada. Makanya aku bisa menemukanmu dengan mudah, sayang." jawab Gaara sambil mengelus kepala Sakura.
"Apa-apaan kau Gaara, jangan merayuku seperti itu. Kau kan sudah punya pacar." gerutu Sakura.
"Aku tidak perduli dengan mereka, Sakura. Aku akan mencampakkan mereka kalau kau mau jadi pacarku, cantik."
Semburat merah muncul di pipi gadis berambut pink itu. Sakura menangkap tangan Gaara yang sekarang mulai mengacak-ngacak rambut merah mudanya. Sakura sadar kata ganti jamak yang digunakan Gaara. "Mereka? Berapa banyak cewek yang kau pacari, huh?"
"Entah. Aku tidak ingat. Sekitar dua puluh mungkin." jawab Gaara.
Rahang bawah Sakura jatuh membuka. "Bagaimana kau bisa berharap aku bisa jadi pacar seorang buaya darat sepertimu?"
Gaara terkekeh. "Mereka cuma kuanggap sebagai penghilang kepenatanku. Kau berbeda, Sakura. Aku benar-benar menyukaimu."
"O ya, kau belum menjawab dengan serius tentang bagaimana kau bisa menemukanku tadi, Gaara."
Gaara menghela napas. Hening sebentar untuk menyusun kata-kata. "Aku disuruh Ino menjemputmu. Waktu aku sampai di sekolah, pintu sekolah dikunci. Aku tidak langsung pergi, aku menelepon Ino dan dia bilang kau masih belum pulang. Aku kan punya insting yang kuat jadi aku tahu kau masih di dalam. Aku mencari Hyuuga dan akhirnya menemukanmu."
Sakura mengangguk. Dia memang lelah dengan sikap overprotective-nya Ino yang keterlaluan. Namun, terkadang rasa khawatir Ino juga bisa menjadi berkat di saat tertentu, terutama di saat seperti tadi. Sakura sadar ada beberapa hal janggal dalam cerita Gaara. Pertama, Gaara pasti melenceng ke tempat lain sebelum menjemputnya, Sakura dapat mencium bau alkohol dari pria itu dan juga keterlambatan Gaara menjemputnya menjadi salah satu indikasi dugaan yang pertama ini benar. Kedua, darimana laki-laki itu bisa tahu kalau Sakura ada di dalam restroom. Apa hanya karena sebuah kebetulan yang menguntungkan? Sebab, Sakura tidak pernah percaya pada insting, ramalan atau hal-hal yang berkaitan dengan ketidakpastian. Sakura ingin bertanya, namun memutuskan untuk mengurungkannya.
Sakura mengalihkan pembicaraan mereka. "Omong-omong kau ada lihat pantat ay-, maksudku Uchiha-san tadi?"
Gaara terdiam sebentar. Seketika itu air mukanya berubah. "Uchiha, ya." Ia terdiam lagi, seandainya Sakura lebih peka terhadap perubahan wajah Gaara seperti kepekaannya pada raut wajah Sasuke, ia akan tahu kalau Gaara sedang menimbang-nimbang dalam hatinya. "Tidak. Aku sama sekali tidak lihat."
Sakura melamun. Benar saja, Sasuke betul-betul meninggalkannya. Ia tidak marah, awalnya memang marah, tetapi perasaannya kini pada Sasuke lebih condong ke kecewa dibanding marah.
Sakura menatap Gaara penuh rasa syukur. Setidaknya ada dua orang yang dapat ia percaya. Gaara dan Ino.
"Terima kasih." ucap Sakura kepada Gaara dan Tuhan.
"Sama-sama, manis."
=Jo=
Jadwal Sakura hari ini adalah mengerjakan tugas biologinya di perpustakaan sekolah. Hinata, sang petugas perpustakaan juga tidak keberatan menunggu Sakura sampai malam karena ia juga ingin menyelesaikan buku bacaannya. Sehabis Sakura selesai mengerjakan ia langsung pamit kepada Hinata dan berjalan pulang ke rumahnya. Ia sebenarnya sudah diwanti-wanti Ino untuk meneleponnya agar Ino menjemputnya ke sekolah, tetapi Sakura tetap bersikeras berjalan kaki saja. Sakura paling tidak suka merepotkan orang lain.
"TIIIIIIIIIIIIIINNN TIIIIIIIIIIIIIIINNN!"
Sakura melompat kaget saat sebuah mobil melesat dengan kecepatan tinggi dari sebelah kirinya. Ia mengutuk-ngutuk marah ketika melihat tangan seorang anak kecil yang diperkirakannya masih duduk di sekolah menengah mengeluarkan tangannya dan mengacungkan jari tengahnya dari jendela mobil.
Gadis bermata emerald itu menghentak-hentakkan kakinya berulang-ulang karena kesal. Ia mengira ia menginjak gundukan tanah karena merasa kaki sebelahnya lebih tinggi daripada kaki yang satunya. Namun, Sakura baru menyadari apa yang dia injak setelah mendengar geraman yang bersumber dari bawah. Ternyata, ia telah menginjak-injak seekor anjing yang sedang beristirahat di pinggir jalan. Refleks Sakura langsung menjauhkan kakinya dari anjing liar yang masih menggeram-geram galak itu.
Sakura langsung senyam-senyum manis menunjukkan seluruh gigi depannya penuh keramahan pada hewan mamalia itu. Anjing itu juga balas tersenyum, sebenarnya cukup meragukan untuk dideskripsikan tersenyum karena hanya gigi taringya saja yang kelihatan.
"Anjing manis. Aku minta maaf, aku tidak sengaJAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Anjing itu mengejar Sakura yang sudah berlari sekencang-kencangnya. Gadis itu berlari dengan sangat cepat sampai-sampai ia sudah tidak dapat merasakan kakinya lagi.
"KAMI-SAMAAAAAAAAAA, TOLONG AKU!" Teriakan Sakura menggema sampai ke langit kesembilan kali sembilan.
Sakura berlari sambil sesekali menoleh ke belakang dan masih menemukan anjing itu terus mengejarnya. Sakura tidak mau mati konyol di situ karena diserang anjing. Ia mau mati dengan damai yaitu dengan cara meninggal ketika ia tidur. Ia tidak akan rela kalau ia sampai masuk headline news karena meninggal dengan cara yang unik.
Sesuatu yang keras menghujam lututnya. Bukan taring anjing melainkan sebuah mobil. Sakura jatuh terduduk di depan mobil itu bersamaan dengan terdengarnya bunyi kanvas rem yang mencekit.
=Jo=
Sore itu Sasuke dipaksa pacarnya menemaninya di rumah. Gadis pendiam itu memang terkadang bisa sangat merepotkan bagi Sasuke. Tapi mau bagaimana lagi, gadis itu tidak punya siapa-siapa lagi selain Sasuke. Kalau hidup Sasuke saja sudah sangat kesepian, gadis itu lebih kesepian lagi hingga taraf maksimum yang bisa kau bayangkan.
Sasuke menemaninya sampai malam. Bahkan Sasuke sampai terpaksa mengalah dalam permainan catur agar ia diperbolehkan pulang. Akhirnya Sasuke dapat bernapas lega di dalam mobilnya. Ia menginjak pedal gasnya perlahan-lahan sambil fokus memperhatikan jalan.
"TIIIIT TIIIIT" Handphone Sasuke berbunyi, tanda ada pesan masuk.
Sasuke sibuk memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Namun, karena ia masih dalam posisi duduk ia kesulitan mengambil handphonenya apalagi ia harus tetap fokus menyetir. Akan tetapi, pada akhirnya dia mengalihkan pandangannya dan memusatkan perhatiannya ke kantong celananya.
Setelah berhasil mendapatkan handphonenya, ia lalu mengembalikan pandangannya ke jalan. Ia berteriak kaget saat melihat di depannya ada seseorang yang sedang berlari dengan kepala menghadap ke belakang. Ia buru-buru menginjak pedal remnya namun kelihatannya ia sedikit terlambat karena orang itu sudah tergeletak jatuh ke tanah.
Sasuke juga melihat ada seekor anjing liar dari kejauhan yang juga sedang berlari dengan kecepatan konstan. Nampaknya orang yang barusan ditabraknya sedang dikejar oleh anjing itu. Sasuke kemudian meninju bagian tengah setirnya bermaksud membunyikan klakson mobilnya.
Langkah anjing itu langsung terhenti mendengar bunyi yang sangat nyaring tersebut. Hewan itu menganggapnya sebagai tanda bahaya dan berbalik arah kemudian berlari menjauh.
=Jo=
"TIIIIIIIIN"
Bunyi klakson yang nyaring dan panjang mengembalikan kesadaran Sakura dan membuyarkan khayalan Sakura yang sudah berfantasi bahwa wajahnya terpampang di koran-koran dengan nama miss X karena meninggal dengan naas tanpa identitas.
Sakura kemudian mengecek kelengkapan anggota tubuhnya. Semuanya ternyata masih menempel di badannya dan berfungsi dengan baik. Ia pun menoleh ke belakang saat ingat akan anjing yang mengejarnya tadi. Ia tidak dapat melihatnya dengan jelas, sepertinya kacamatanya pecah karena kepalanya sempat terantuk aspal jalan. Sakura sebuta kalong tanpa kacamata. Hidungnya juga mencium bau darah segar yang ternyata berasal dari kepala dan lututnya.
"Kau?"
Gadis berambut pink itu mendengar sebuah suara bariton yang sangat tidak asing.
"Kau kenapa bisa ada di sini, jidat?"
Tunggu, apa sebenarnya Sakura sudah mati? Inikah suara dewa maut itu? Ah, sabar dulu! Jidat, jidat! Sakura memegang-megang jidatnya yang berdarah. Ada dua orang yang suka memanggilnya jidat, Ino dan… Sasuke!
"Pantat ayam?" Sakura hanya dapat mengandalkan indra pendengarnya saja sekarang.
Tidak ada jawaban.
Sakura merasakan tubuhnya terangkat di udara dan merasakan tangan hangat yang sedang menggendongnya. Sakura tahu kalau ia didudukkan ke dalam mobil oleh pria itu. Ia mendengar suara pintu mobil ditutup dan mendengar pintu mobil dari arah yang berlawanan juga ditutup.
"Kau Uchiha kan?" tanya Sakura memastikan sambil meraba-raba wajah orang di sampingnya.
"Iya, iya, aku Sasuke." jawab pria itu agak kesal sambil menepis tangan Sakura yang menarik-narik rambutnya.
Setelah memastikan kalau seat belt Sakura sudah kencang, Sasuke segera tancap gas. Sakura tahu kalau mobil itu sudah mulai jalan karena ia terdorong ke belakang oleh kelembaman tubuhnya.
"Aku tidak mau ke rumah sakit." kata Sakura.
"Lalu kau mau aku mengantarmu kemana?" tanya Sasuke.
"Ke rumahku saja."
Sekitar 35 menit berlalu.
"Hey, pantat ayam."
"Apa jidat?"
"Ambilkan kacamataku yang satunya lagi di tasku ini."
Uchiha bungsu itu menghentikan mobilnya. Ia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama karena hanya ingin mengambil barang.
Akhirnya, ia menemukan dan menyerahkan kotak kacamata itu kepada Sakura.
Sakura dengan susah payah membuka kotak itu dan memakai kacamata cadangannya.
"O, ya, pantat ayam. Rumahku di kediaman Yamanaka, aku tinggal dengan Ino. Kau akan mengantarku ke sana kan?" Sakura memasang kacamatanya. Ia tersedak air liurnya sendiri saat melihat kalau Sasuke telah membawanya sampai ke daerah luar kota. "Pantat ayam … I-ini bukan jalan menuju rumahku …" katanya panik.
"Memang bukan."
Setengah jam kemudian Sakura semakin gelisah ketika mereka memasuki kawasan hutan dengan pohon-pohon yang lebat.
"Kau mau membawaku ke mana, pantat ayam?" tanya Sakura mulai histeris.
Sasuke terus menyetir dalam diam, tidak menjawab sepatah kata pun. Sakura langsung mencari-cari tempat untuk membuka pintu mobil.
'KLEK' Terdengar suara mobil dikunci.
Sakura memalingkan wajahnya, menatap Sasuke horror. "Keluarkan aku dari sini pantat ayam! Aku mau pulang!" teriak Sakura sambil memukul-mukul Sasuke. "Kenapa kau membawaku ke hutan seperti ini?"
Jika saja sinar bulan dapat menembus daun-daun pepohonan yang menghalanginya. Sakura tentu akan bisa melihat kalau Sasuke sedang … menyeringai. Lagi.
=Jo=
Chapter 2 Started: 11/18/2012 Finished: 11/18/2012
Word Count: 4,800
Jojo's Nonsense Chit-Chat Section:
Aku minta maaf karena kurang sesuai dengan sneak peek yang ada di chapter sebelumnya, itu kujadikan chapter 3. Seharusnya chapter dua bisa di-update hari Jum'at kemaren, tapi karena sahabatku bilang kalau perkelahiannya berkesan sangat 'cewek', aku langsung pundung dan merubah 80% bagian ceritanya. Perkelahian tersadisku yang aku ingat cuma waktu aku kelahi sama sahabatku waktu kelas 3 SD (waktu itu belum sahabatan). Itu pun gara-gara masalah enteng. Aku nggak ingat juga awalnya gimana. Dia itu marah sama temenku. Aku nggak tahu apa dia emang sengaja juga, pokoknya dia ngerusak kotak pensil baruku (bener-bener baru beli kemarennya) sampai penyok (mungkin salah target juga sih). Maklum namanya juga anak kecil, masih polos-polosnya, aku langsung marah dan nyakar dia sampai berdarah. Ngeliat dia nangis aku juga ikut nangis. Soalnya aku tahu biasanya yang nggak nangis yang bakal disalahin kalau ada kelahi-kelahi gitu di sekolahku (waktu kecil aku suka merhatiin macam-macam) padahal aku nggak kenapa-napa *kecil-kecil licik banget deh*. Abaikan saja curcol gajeku ini. Akhir kata: Review please? ^^
Tambahan Sneak Peek Next Chapter:
Fate 3: Bizzare Baby (Parents for a Day)
Sasuke terlalu sibuk menyetir. Sampai tidak menyadari kalau ada sebuah tangan kecil yang sedari tadi terus menggapai-gapai rambut pantat ayamnya yang menantang gravitasi.
"Bayi siapa ini?"
-Jojo-san-
