Summary: Hinata terjebak antara penyelamatan klan, atau mempertahankan kekuatammya sendiri. Mana yang akan dipilihnya? Apabila melenyapkan kekuatannya bisa menyelamatkan Hyuga, maka…
Naruto By Masashi Kishimoto
I'm weak, I'm strong By Popow-Kipow
Warning: typo, semi-cannon, EYD, kalimat berbelit-belit, beda jauh dengan cerita asli, dll. Don't like don't read
Genre: Hurt/comfort & friendship
Rated: T
Chapter sebelumnya: "Lantas, urat byakugan milik siapa yang akan diambil?"
"Itu akan segera aku pertimbangkan dengan tetua yang lain, sebelum itu apakah Uchiha-san bersedia menerima pertukaran ini?"
"Akan aku terima bila Hyuga yang bersangkutan memberikannya tanpa paksaan dari siapa pun."
Chapter 2: What?
Pertemuan yang dimulai sejak siang hari itu berakhir saat senja mulai datang, sebagian besar Hyuga dari souke maupun bunke mulai berhamburan keluar ruang pertemuan, menyisakan para tetua termasuk Hiashi, ada juga Hinata dan Hanabi ditambah lagi dengan satu-satunya Uchiha di ruangan itu, Sasuke. Mereka duduk merapat ke arah Hiashi. Ia tahu hal ini bukan hal yang mudah diputuskan, bahkan lelaki paruh baya itu pun sudah mengerahkan seluruh fikirannya untuk kali ini, bahkan dari siang ke sore pun rasanya tidak cukup untuk membahas masalah ini dengan seluruh Hyuga, sehingga ia memohon penambahan waktu hari ini.
"Maaf karena aku membuat kalian tertahan di sini lebih lama, namun sebenarnya sejak tadi malam aku dan para tetua telah membahas masalah inidan memperoleh putusan pertama…" Ucapannya menggantung, sedikit ia melirik kearah tetua bermata putih total. Pria tua itu mengangguk meyakinkan Hiashi untuk segera melanjutkan kata-katanya.
"Urat siapa yang akan diambil? Hinata…" Perempuan yang namanya disebut itu seketika mendongak kearahnya, mungkinkah ia yang akan dikorbankan? Mungkin saja, tapi bagai mana? Ia adalah shinobi Hyuga, tapi tanpa byakugan masihkah dia bisa menjadi seorang shinobi? Apa benar para tetua belum percaya akan kekuatannya? Selemah itukah dia dimata para tetua?
"Aku akan memberikan urat byakuganku, dan kau yang menjadi pemimpin Hyuga…" untuk yang kesekian kalinya, kata-kata itu digantung, membuat penasaran Hanabi, Hinata dan Sasuke yang notabene belum mengetahui keputusan sebenarnya dari tetua Hyuga.
"Itu jika kau bisa mengalahkan aku dalam duel." Lanjut Hiashi, matanya terpejam meresapi perkataannya sendiri, ini bukan untuk membuktikan Hinata lemah, ia menyadari Hinata kini adalah shinobi yang hebat. Bahkan sang putri mampu menjadi lebih kuat tanpa pelatihan khusus darinya dan Hyuga, padahal umumnya Hyuga yang kuat adalah Hyuga yang sudah menguasai seluruh jurus yang diajarkan oleh tetua. Hal ini ditujukan untuk melihat apa Hinata masih berperasaan terlalu lembut? Jika dia bisa mengalahkan ayahnya dalam duel, maka itu artinya Hinata sudah mengatasi kelemah lembutannya. Tapi jika tidak, untuk apa mempertahannkannya sebagai calon ketua yang tidak tegaan, apa jika ada yang merengek meminta kehancuran Hyuga maka ia akan melaksanakannya karena tidak tega?
Hinata merasa seperti kembali ke masa lalu, saat ia harus berduel dengan hanabi yang berusia 5 tahun lebih muda darinya, untuk membuktikan siapakah yang kelak pantas menjadi ketua Hyuga. Bedanya sekarang ia harus berduel melawan Ayahnya sendiri. Ia memikirkan akan kembali kalah dalam duel, jujur saja ia tidak pernah menang saat bertarung dengan sesama Hyuga, seperti saat dengan Hanabi, atau dengan Neji saat ujian chunin pertamanya. Bukan takut kalah, Hinata tak ingin melukai sang ayah, bagaimana pun selama ini Hiashi merendahkannya, tetaplah Hyuga Hiashi seorang ayah yang begitu disayanginya.`Otou-sama belum percaya kah?`
"Hinata, sanggupkah kau melakukan itu? Kau boleh tidak memberikan urat itu, tapi kami tidak akan pernah memposisikanmu sebagai mana kami memposisikan Hanabi, kau tidak akan mendapat latihan Hyuga selamanya, tidak menjadi pemimpin dalam pasukan dan tidak bisa menjadi calon pemimpin Hyuga." Pertanyaan dengan nada sinis itu terlontar dari tetua yang notabene merupakan Ojii-sama nya. Hinata sudah merasakan apa yang dikatakan oleh sang kakek, Hinata bukan ingin mendapat kedudukan yang tinggi dalam Hyuga, ia hanya ingin sang ayah mengakuinya. Tapi bukan dengan cara kasar seperti pertarungan.
Hanabi menoleh pada orang yang bisa dipanggilnya Onee-sama, kakak yang sejak kecil ia anggap kuat dan baik. Benar kuat, namun terlalu baik untuk ukuran shinobi. Hanabi takut sang kakak akan menerima duel itu, bagai mana kalau dia kalah? Percuma saja latihannya selama ini, tanpa byakugan jurus-jurusnya jadi tidak berfungsi optimal.`Onee-sama, aku selalu percaya padamu. Putuskanlah yang terbaik!` Hanabi hanya bisa berseru dalam hati melihat Hinata memejamkan matanya rapat-rapat untuk berfikir.
"Tak perlu memutuskannya sekarang, kau bisa mengatakannya besok dalm pertemuan ke2." Kakek Hinata memandang bosan kearah Hanabi yang berekspresi cemas dan Hinata yang bimbang. Sasuke berfikir suasana Uchiha di masa lalu lebih baik dari pada di klan Hyuga. Kakeknya selalu bersikap hangat walau sejak dahulu Uchiha dikenal dingin, ayahnya juga selalu memperhatikan latihannya.
"Baiklah, pertemuan kali ini sampai di sini saja, besok akan dilanjutkan pada pukul 1 siang seperti tadi. Terimakasih, Uchiha-san berkenan hadir. Dan semua tolong rahasiakan bahasan ini!" Hiashi mengakhiri rapat itu, pria paruh baya itu pergi menghiraukan sang putri sulung yang menatapnya dengan tatapan sendu.
Ruang pertemuan kini telah dikosongkan, tak disangka kini matahari sudah benar-benar tak menampakan dirinya lagi, sudah pukul 7 malam. Artinya Sasuke akan terlambat ke penyambutan kepulangannya di rumah Uchiha, tuan rumah yang terlambat?
"Sasuke-san, bukankah acaramu seharusnya sudah dimulai?" Hinata yang sedang memasang sandal bertalinya melirik sekilas Sasuke yang tengah mengenakan sepatu shinobi disampingnya. Sasuke membelakkan matanya, apa teman-temannya sudah menunggu di rumah tanpa pengawasannya? Jangan sampai, mereka akan menghancurkan halaman rumah dalam sekejap.
"Sepertinya mereka sudah menunggu."
"Ah, begitu? Aku ikut." Hinata dan sasuke melangkah bersama menuju kediaman Sasuke, Hinata berjalan di depan Sasuke, membukakan gerbang kediaman Hyuga, begitu pula seterusnya Hinata tetap berjalan di depan laki-laki bermata hitam itu. Mereka tidak terlalu akrab, jadi selama di perjalanan tak ada satu pun percakapan yang hadir di antara mereka.
Sampai di depan gerbang rumah Sasuke yang terbuka, Hinta berhenti seketika, maksudnya ia akan membiarkan Sasuke berjalan di depannya. Sasuke mendorong pelan kedua bahu Hinata dari belakang, seolah berkata `tak perlu sungkan masuk saja!` Mereka tak menyadari 10 pasang mata manusia ditambah sepasang mata anjing yang menatap tak percaya sejak kemunculan dua orang berambut biru itu di dekat gerbang. Ditambah dengan Sasuke yang memegang bahu Hinata seperti itu. Apa yang terjadi antara Hinata dan Sasuke? Bagai mana bisa mereka muncul bersamaan? Apa sasuke baru saja pergi berdua dengan Hinata? Apa yang membuat mereka terlambat? Guk? Pertanyaan tak terlontar semacam itulah yang hinggap di kepala mereka. Hinata hanya menunduk dan Sasuke hanya bertampang tanpa dosa.
"A-ano…gomenasai kami terlambat." Tubuh Hinata membungkuk nyaris 90o, membuat tatapan tanpa berkedip tadi dialihkan oleh masing-masing pemilik mata.
"Cih, sudah aku duga kalian akan menghancurkan sesuatu bahkan sebelum masuk ke rumah." Sasuke menggerutu, sesekali menatap cup lampu tamannya yang terbuat dari pahatan batu, kini menjadi terbagi menjadi pecahan tak berguna.
"Huaaa, itu aku tidak sengaja…lagi pula aku menyenggolnya karena Akamaru rerus mengendus kepala baruku" Si rambut pirang tiba-tiba histeris, rupanya ia baru saja memangkas pendek rambutnya, membuat anjing bertubuh besar itu penasaran dibuanya.
"Hei, jangan salahkan Akamaru, kau saja baka dan ceroboh." Kiba tak terima sahabatnya disalahkan oleh orang yang disebutnya baka. Pertengkaran akan terus berlanjut hingga nanti, namun pertanyaan-pertanyaan yang tadi tak sepenuhnya hilang dari otak mereka.
Rumah bergaya tradisional itu terlihat ramai bahkan dari luar halaman, rumah yang biasanya sepi bak tak berpenghuni itu kini diriuhkan oleh beberapa orang yang nampaknya sebaya. Terlihat Naruto yang tengah berguling-guling di lantai kayu kediaman Uchiha Sasuke, itu akibat ulah Kiba yang memasukan sekor kumbang gatal milik teman satu timnya ke dalam baju laki-laki pirang itu. Keributan bertambah akibat Shino yang menuntut serangganya harus kembali dalam keadaan hidup, tapi melihat bagaimana Naruto berguling-guling, maka kemungkinan besar kumbang naas itu sudah tak berbentuk lagi. Chouji berusaha menjadi penengah antar Kiba yang mengeluarkan air mata karena tertawa dengan Shino yang hampir mencekik sahabatnya dengan sekumpulan serangga hitam. Kaki Naruto tak sengaja menendang wajah Shikamaru yang awalnya tertidur lelap, pemuda jenius itu mengangkat kaki Naruto setinggi tubuhnya hingga membuat naruto berteriak menahan gatal akibat tidak bisa lagi melampiaskannya dengan cara berguling. Akamaru yang ternyata sedang flu mengendus tita hitam milik Sai sehingga ia bersin dan menumpahkan tinta itu ke sekujur bulu putihnya. Sai berusaha meminta ganti rugi pada Kiba yang hampir mati karena tertawa.
Para gadis juga sudah sibuk bergosip ria dengan suara yang melengking menusuk gendang telinga, juga berkelahi kecil meributkan hal yang hanya sekedar perkataan. Seperti candaan pedas dari gadis Yamanaka yang mampu memanaskan Sakura, candaan pedas berbalas ejekan menyakitkan, sehingga membuat Tenten geram dan segera membekap bibir kedua gadis cantik itu. Memang jika mereka sedah berkumpul, maka adalah keributan yang tercipta, namun itu juga merupakan hal yang mereka rindukan selama ini.
Lalu bagai mana dengan Hinata dan Sasuke yang sejak tadi tidak terlibat dalam keanarkisan itu? Sasuke hanya memasang wajah datarnya seperti biasa, dia pusing melihat keadaan rumahnya. Hinata, yang ternyata tak memperhatikan apa yang terjadi dalam acara ini hanya diam merenungkan apa yang dibahas dalam pertemuan klannya tadi siang, ini bukan masalah kecil, ini dilema yang terasa berat baginya. Sasuke yang melihat Hinata termenung sendiri merasa perlu menyadarkan Hinata, ini juga ada hubungannya dengan dirinya.
"Sudahlah Hinata, yang tadi tidak usah terlalu difikirkan." Kericuhan lenyap seketika, semakin penasaran apa yang terjadi antara mereka?
TBC
Hai…#cengangas-sengenges, Popou udah edit chapter 1 dan publish chapter 2, arigatou udah dibaca fictnya. Oh ya, untuk judul `what?` karena di chapter ini banyak kalimat tannya nya (reader-san: masa? Popow:#jangan-jangan reader-san:Bodo! Popow:Tuh kan…). Jangan kapok mampir lagi baca kelanjutan I'm weak, I'm strong. Arigatou.
Kalau ada flame dan kawan-kawannya bakal Popow terima sepenuh hati sebagai pembangun semangat, mohon bimbingannya juga dari senpai yang kebetulan tersesat di fict ini, jadi silahkan tuangkan semua di review. #cengangas-cengenges lagi.
Cahya Uchiha: Terimakasih sudah baca dan koreksi I'm weak, I'm strong, gomen untuk penulisan Uchiha yang salah, Popow pusing terlalu banyak H di mana-mana. Uchiha, Hyuga, Hinata, Hiashi, sharinggan, Konoha…tapi udah Popow edit. Sasuke bukan antagonis di sini.
