Disclaimer : I do not own Naruto and all the characters. They're Masashi Kishimoto's.

Pairing : ShikaIno

Genre : Tragedy/Crime

Warning : Rate T Semi M for the conflicts (or should i change it to M? Please tell me, minna o.0a). No Lemon, of course. A bit confusing (?)

Yay! Birthday fic for Shika (22 September) dan bakal berlanjut jadi birthday fic buat Ino (23 September). Happy birthday Ino! ^^

Dan buat semua penggemar ShikaIno, Happy ShikaIno Fan Days! *tebar bunga*

Okay then, please enjoy the story.


SCARLET MEMORIES

.

.

.

Shikamaru tengah berdiri di depan sebuah cermin panjang utuh yang memantulkan tubuhnya, utuh dari kepala hingga kaki. Rambutnya sudah terikat rapi sebagaimana biasanya. Tangannya bergerak di dekat lehernya, memasang sebuah pita berbentuk kupu-kupu. Tubuhnya terbalut pakaian serba putih—tuxedo yang masih sempat dibawa Ino ke rumah mereka di hari sial itu, entah bagaimana caranya, sadar atau tidak. Beribu sayang, tuxedo itu bahkan tidak akan sempat menjalankan tugasnya secara benar—di altar pelaminan yang sesungguhnya.

Meskipun demikian, sesaat ujung-ujung bibir Shikamaru melengkung, membentuk seringai kecil.

Puas.

Sungguh, tidak ada kepuasan yang melebihi yang ia rasakan saat ini.

Merasa bahwa penampilannya sudah tidak bermasalah, pemuda itu langsung berlalu. Menuju ke ruang tamu, ke sanalah kakinya membawa. Diabaikannya sosok tidak bernyawa yang terbaring hanya dalam kaos singlet dan celana pendek. Dengan santai, pemuda itu menjatuhkan dirinya di atas sofa yang menyimpan banyak kenangan.

Dijulurkan tangannya ke atas sandaran sofa dan diarahkan kepalanya ke atas. Matanya terpejam bersamaan dengan kembali terbentuknya sebuah seringai.

Perasaan puas itu kembali mendera dadanya. Membuatnya sesak oleh suatu kebahagiaan yang semu.

Bagaikan proyektor, otaknya menampilkan kembali gambaran medan neraka artifisial. Tembok yang putih itu kini bercatkan darah. Lantai berubah sedemikian licin—penuh genangan berbau anyir.

Satu, dua, tiga….

Tiga orang yang semula terlihat bagaikan orang tidak sadar, mabuk—mata yang tampak tidak fokus, pembicaraan yang tidak terarah, tidak jelas, bahkan terdengar bagaikan gumaman dan racauan—kini benar-benar tidak akan pernah sadarkan diri lagi untuk selamanya. Entah siapa di antara mereka yang melakukannya, Shikamaru tidak ambil peduli. Meskipun demikian, dari keterangan sekilas berupa racauan lirih yang sempat didengungkan Ino di hari-hari sebelumnya, Shikamaru merasa sangat yakin bahwa ketiganya memang pantas menerima hal yang baru saja diperbuatnya—ketiganyalah pelaku yang telah membuat kekasihnya meregang nyawa. Dan ia tidak merasa cemas bahwa ia telah menghabisi orang yang salah.

Sebuah tawa meluncur begitu saja dari mulutnya. Mata kecokelatan yang telah terbuka itu kini memandang ke dua buah tangannya. Tangan yang telah berlumur noda tidak terlihat—tidak bisa terhapuskan.

Bagaimana tangan itu telah menggerakkan benda tajam yang mengantarkan kekasihnya ke gerbang neraka untuk menggorok leher salah satu dari mereka yang membukakan pintu tanpa rasa curiga. Siapa yang mengira bahwa seorang pengantar kue—dengan seragam yang jelas—akan melakukan pembunuhan? Apalagi yang berada dalam ruangan itu hanyalah sekumpulan pemuda pemabuk—pengguna obat haram. Kecurigaan dan kewaspadaan sama sekali tidak ada dalam diri mereka.

Cih!

Shikamaru merasa bahwa apa yang ia lakukan masih terlalu lembut. Seharusnya ia mengiris-ngiris benda yang telah merenggut kesucian gadisnya dan langsung mengumpankannya pada anjing. Tapi tidak, ia sudah cukup puas bahwa ia telah berhasil membalaskan dendam kekasihnya tanpa intervensi dari para polisi bodoh yang bahkan tidak bisa langsung bertindak itu.

Entah apa yang ditunggu para pilihan yang katanya adalah aparat penegak kebenaran itu. Apa karena hari sudah terlalu larut sampai mereka memutuskan untuk menangkap para jahanam itu keesokan harinya? Ah! Masa bodoh! Shikamaru tidak mau tahu apa yang membuat para aparat itu lama bergerak. Yang jelas, justru itu memberikan keuntungan baginya.

Tangannya bergerak merambat ke saku celana putih yang dikenakannya. Ditariknya keluar secarik kertas berwarna merah muda dengan tulisan yang sangat dikenalnya. Tulisan yang dibuat entah kapan—jauh hari pastinya—dalam nada riang, tanpa ada setitik pun kecurigaan bahwa kebahagiaan itu akan terenggut begitu saja. Shikamaru bahkan seolah bisa membayangkan bahwa gadisnya menulis itu sambil cekikikan, berharap bahwa rangkaian huruf tersebut akan menjadi suatu kejutan di hari ulang tahunnya.

Tapi… siapa yang mengira bahwa rencana kejutan yang terkesan menyenangkan itu akan berbalik menjadi suatu kejutan yang mengenaskan?

Shikamaru menghela napas—panjang dan berat sebelum ia mengangkat tubuhnya untuk berdiri. Dikembalikannya surat kecil berisi pesan singkat itu ke dalam saku celananya. Matanya kemudian bergerak pada jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kirinya.

Pemuda itu beranjak untuk melakukan satu pekerjaan terakhirnya. Dilipatnya sedikit bagian ujung baju panjangnya sebelum ia mengambil sebuah jeriken dan dengan cekatan memenuhi ruang apartemen tempatnya tinggal dengan genangan air berbau. Satu tidak cukup dan ia beralih pada jeriken kedua. Bukan hanya dapur dan ruang tamu, kamarnya pun tidak luput.

Saat ia melakukan pekerjaannya tersebut, sempat ia terhenti dan memandangi sosok tak berdosa yang menjadi korban kekejamannya demi menyempurnakan rencananya. Sosok yang datang di saat tidak tepat, sosok yang membuatnya terpikirkan ide gila. Precipitating—pemicu.

Penyesalan itu sejenak mendekam dalam benak Shikamaru. Melibatkan orang yang seharusnya tidak terlibat—rasa bersalah itu menyeruak sesaat. Tapi tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Semua telah terjadi.

"Gomen," bisik Shikamaru perlahan sebelum ia kembali melanjutkan pekerjaannya.

Terakhir… ruangan tempat dimana pengantinnya berbaring.

Destinasi terakhirnya.

Dibuangnya jeriken yang sudah selesai fungsinya itu ke sembarang arah. Setelah itu, ia pun bergerak ke kasur tempat sang pengantin wanita menunggu.

Sebuah senyum menghias wajahnya saat ia menatap sosok wanita yang tampak tertidur dengan tenang. Perlahan, ia mengangkat gadisnya dalam suatu dekapan sebelum ia sendiri menaiki kasur. Dipeluknya gadis yang tidak memberikan respons apa pun itu erat-erat. Dikecupnya pipi dan bibir gadis itu dengan lembut. Dibelainya rambut pirang itu dengan penuh rasa sayang.

Shikamaru tidak akan melepaskannya—keduanya tidak akan berpisah.

Dengan itu, Shikamaru merogoh kembali saku celananya yang lain. Tiga buah benda sekaligus langsung bertengger di telapak tangannya. Sebuah benda berkilat, sebuah pematik, dan sebuah kotak rokok.

Shikamaru tersenyum sekilas. Hah… entah sudah berapa kali ia tersenyum hari itu.

Shikamaru meletakkan pemantik dan kotak rokok itu di sebelah kanan tempatnya terduduk. Ia kemudian memusatkan perhatiannya pada benda berkilat yang dihiasi oleh darah kering berwarna kecokelatan. Benda berkilat itu—cutter kecil dengan gagang berwarna keunguan yang telah merenggut banyak nyawa mulai dari kekasihnya hingga para bajingan itu—kini akan melakukan satu tugas terakhirnya.

Masih dalam posisi memeluk Ino—sang kekasih yang akan segera disusulnya—Shikamaru pun langsung menorehkan bagian tajam itu di pergelangan tangan kirinya tanpa ragu-ragu. Menembus hingga nadi itu terputus.

Segera saja darah segar membuncah, semakin mewarnai gaun putih Ino, serta tuxedo putih Shikamaru dengan darahnya—darah sang pendosa. Konyol memang. Tapi sejak Ino memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, dalam kepala Shikamaru, tidak ada lagi bayangan tentang kehidupan selanjutnya. Tidak ada lagi kebahagiaan yang bisa dilihatnya. Klise baginya memikirkan hidup di dunia tanpa Ino. Lelucon baginya bahwa ia bisa melupakan Ino dan menemukan wanita lain dalam hidupnya.

Ia sudah mati bersamaan dengan saat Ino mengembuskan napas terakhirnya.

Tetes demi tetes darah sudah merayap keluar dari tubuhnya. Pening mulai dirasakannya. Napasnya mulai memburu dan wajahnya pun memucat. Tapi tidak, Shikamaru seolah tidak merasakan sakit sama sekali.

Dia hanya memeluk erat pengantinnya, bagaikan berpose untuk sebuah foto pra-wedding.

Sama. Kehangatan yang terpancar dari keduanya seolah tidak berubah. Rasa sayang itu masih begitu kuat menyala, seolah apa pun yang terjadi, tidak akan memengaruhi perasaan keduanya sama sekali. Walaupun di dunia yang kini telah berbeda, tidak ada yang tidak percaya kalau perasaan keduanya adalah nyata.

Mungkin mereka yang tidak tahu hanya akan menganggap kematian Ino sebagai suatu candaan belaka. Meskipun parasnya pucat, tapi ketenangan yang terpancar di wajah itu seolah membuatnya bagaikan putri tidur yang akan terbangun kapan saja setelah menerima kecupan sang pangeran.

Nyatanya, itu hanya cerita dalam dongeng.

Shikamaru paham. Dan menurutnya, bagi mereka untuk bisa bertemu kembali hanya ada satu cara yang paling masuk akal—menyusul Ino. Itu pun masih dengan probabilitas yang tidak mencapai seratus persen. Baiklah, siapa yang bisa memastikan kalau keduanya benar-benar bisa bertemu kembali di akhirat? Di neraka pun belum tentu keduanya dapat bertemu. Bagaikan impian dengan kemungkinan kecil dan samar untuk diwujudkan. Tapi Shikamaru tidak tahu cara lain yang bisa membawanya bertemu kembali dengan belahan jiwanya.

Helaan napas itu kembali meluncur dari mulut Shikamaru. Ia sudah semakin harus berjuang untuk mempertahankan kesadarannya. Dengan tangan kanannya yang tidak terluka, ia pun meraba-raba bagian kanannya—tempat ia meletakkan rokok dan pematiknya sekaligus.

Susah payah, rokok itu pun berhasil menyala. Dihisapnya rokok itu dan diembuskannya. Beberapa kali, terus seperti itu. Tidak ada hal lain yang dilakukan Shikamaru. Hanya benaknya saja yang berputar cepat, membuat kilas balik yang memaksanya menitikkan air mata.

Hari-hari yang ia lalui bersama Ino.

Suka duka yang sudah dilewatinya bersama gadis yang merepotkan itu.

Bagaimana Ino selalu mengisi hatinya sejak kecil, bagaimana ia sempat patah hati karena mengira Ino lebih menaruh hati pada salah satu putra Uchiha, bagaimana ia berjuang begitu keras untuk merebut kembali perhatian gadis itu, dan yang terakhir… bagaimana ia merasakan suatu kesenangan saat ia mengetahui bahwa segala tindakan Ino tidak lebih adalah suatu upaya untuk membuatnya maju terlebih dahulu.

Setelah segala hal yang dilaluinya selama ini, kebahagiaan itu pun hancur dalam satu hari. Satu hari paling naas. Hari yang membuat dunianya berputar kembali seratus delapan puluh derajat—mengubahnya menjadi kekelaman tanpa akhir, keruntuhan yang menyebabkannya tenggelam ke jurang keputusasaan tanpa dasar.

Asap membuat pandangan Shikamaru semakin kabur. Dengan segala kesadaran yang terkumpul, ia kembali melirik arlojinya. Hari telah berganti. Dua puluh dua mengubah satuannya. Dua puluh tiga.

Dan ia tahu… ini sudah saatnya.

Didekatkannya kepalanya pada telinga Ino. Ia tahu gadis itu tidak akan bisa mendengarnya tapi bisikan itu tetap mengudara tanpa terhalang.

"Tanjoubi omedetou, ne, mendokuse no onna…."

Sebuah senyum terbentuk di wajahnya yang semakin pucat karena darah secara konstan telah meninggalkan tubuhnya.

"Marry me, Ino…." Shikamaru mendesah. Tanpa menunggu jawaban yang memang tidak mungkin akan datang, Shikamaru langsung mengecup bibir dingin gadis dalam pelukannya. Ciuman beraroma asap rokok yang sudah pasti dibenci Ino jika ia bisa membuka mata dan menyemburkan amarahnya seperti biasa. "Pernikahan di neraka… kheh! Bagaimana menurutmu?"

Perlahan, mata cokelat itu kehilangan dayanya untuk mempertahankan kesadaran. Semakin berat, kelopak itu pun mulai menutup.

Dengan sisa tenaga, Shikamaru melemparkan puntung rokok yang belum habis dihisapnya itu ke sembarang arah—ke lantai yang sudah digenangi bensin. Sekejap, api menyala tanpa ampun, merambat dan melahap benda-benda yang berada di kamar itu.

"Pemandangan seperti ini yang mungkin akan kita temui di pernikahan kita nanti. Tanpa penonton… ah! Tapi mungkin para bajingan yang telah menodaimu itu bisa menjadi saksi…."

Shikamaru terkikik pelan—entah apa yang dianggapnya lucu. Ia sendiri bahkan tidak tahu alasan mengapa ia tertawa. Menertawakan kebodohannya yang telah menjadi seorang pembalas dendam? Tidak, dia sama sekali tidak merasa menyesal telah melakukannya.

Entahlah. Ia sudah tidak dapat berpikir.

Walaupun hanya beberapa hari yang telah berlalu semenjak Ino mengalami tragedi itu, bagi Shikamaru, semua seolah sudah terjadi bertahun-tahun lamanya. Hiperbolis. Tapi itulah yang ia rasakan. Lelah secara fisik maupun mental. Tidak dapat disangkal.

Suara sirine samar-samar merasuk ke dalam telinganya. Diikuti gedoran pintu yang brutal tidak lama kemudian.

Sudah sangat terlambat bukan?

Semua polisi itu bodoh! gerutu batin Shikamaru di sela-sela kesadarannya yang semakin menipis. Tapi tenang Ino, mereka sekalipun tidak akan bisa memisahkan kita… sekarang.

Api merambat dengan cepat. Menyajikan pemandangan bak neraka. Panas dan menyengat.

Tapi dua orang itu—dua orang yang saling menyayangi itu—tidak akan bisa merasakannya. Mereka sudah larut dalam mimpi tanpa akhir, dimana hanya ada keduanya.

Dan sekalipun keduanya kini berada di neraka akibat segala darah yang telah mereka teteskan, sungguh, mungkin penyesalan itu tidak akan mereka rasakan.

Dendam itu berwarna merah darah. Neraka itu berwarna merah menyala. Ulang tahun mereka adalah kereta menuju alam sana.

Berbahagia atau tidak, tidak akan ada seorang pun yang tahu.

Namun, jika ada seseorang yang bisa mengabadikan saat-saat terakhir mereka sebelum api melelehkan wujud padat mereka, akankah suatu konklusi terbentuk?

Putri tidur dan pangeran akan tertidur selamanya.

Nuansa kehangatan dari perasaan keduanya tetap terpancar.

Meskipun semua akhir terbentuk dari sebuah kenangan berdarah.

**FIN***


Oke! This is it! Akhir dari birthday fic buat ShikaIno. Parah juga, ya? Bikin fic yang dark di hari ulang tahun yag harusnya adalah hari berbahagia? Tapi gimana juga, di balik sisi menyenangkan ulang tahun, dimana orang bertambah umur, di sisi lain, ulang tahun juga mengurangi umur seseorang, kan? :p

Dan soal ide 'pemerkosaan', ini gara-gara saya lagi sering denger cerita banyaknya kasus pemerkosaan yang terjadi. Buat temen-temen sekalian (terutama yang cewek), sebaiknya jangan pulang malam dan naik kendaraan umum sendirian, ya? Ngeri soalnya. Yah, walaupun kejadian kayak gitu bisa terjadi ama siapa aja walaupun udah diantisipasi, nggak ada salahnya lebih waspada, kan? Really, I feel so, so sad, when I read a lot of news about this matter. Miris rasanya.

Dan please, jangan pernah ada yang niru tindakan ShikaIno dalam fic ini, ya? Really, don't try this at home! Sangat, sangat tidak sekali!

Next, saya mau ucapin thanks sebesar-besarnya buat minna-san yang udah mereview di chapter sebelumnya : DeathAuthor (thank you! Silakan next chapternya :D), YamanakaemO (bukan, Shika, sayang… ada orang lain yang melakukannya dan si pengantar kue itu emang gak dikasih tau kok orangnya, siapa aja boleh deh :P), thi3x gak log in (hahaha… mungkin emang ceritanya yang agak membingungkan, ya? Gomen ne DX), Masahiro 'Night' Seiran (puas yah, ngakaknya? XD btw, thanks buat masukannya honey :* dan soal yang dimana udah ane jelasin, ya? :P), Rere Aozora (thanks banget, dear buat koreksinya. Ahey! Dan yap… kasus pemerkosaan ini tuh kayaknya lagi marak, jadi sekalian kampanye biar hati-hati di jalan, terutama buat yang cewek DX), the3pleA (hahaha, kok bisa kepikiran gitu yak, beksonnya? XD), Oneechan (kurang berasa feel-nya yah, nee? Apalagi yang chapter ini kaenya, dikerjain hanya dalam waktu beberapa jam, kagak pake koreksi T^T), Saqee-chan (ehehe, untuk saat ini iya, dibikin yang angst n chara death, nanti yang semi-humor (?) menyusul, yak?), Agusthya (membingungkan, ya? Gomen ne? DX), Lhyn hatake (eaaah! Lhyn-chan pinter deh! Seratus buat Lhyn-chan! :D), reader (silakan, next chapternya :D), Ellechi (Oh, bukan, bukan. Kue ultah Shika kan udah dipesen dari lama dan suratnya itu juga udah ditulis sebelum kasus itu terjadi. Maaf kalau penjelasannya kurang, ya? DX Dan soal serumah, mereka saya plot tinggal satu apartemen, tapi beda kamar :D), vaneela (dark, yah? Walaupun menurut saya masih kurang dark sih. Maklum, pemula dalam hal ini. Ahey! Anyway, thanks buat fave-nya *hug Vanee-chan*), Hiiragi Yuki (Ahey! Shika's revenge is here. Tapi nggak dijelasin detail sih cara dia bales dendam, maklum, rate-nya T, saya usahain sehalus mungkin jadinya. Maaf kalau kurang memuaskan, ya? DX)

Buat semua silent reader (kalau ada) dan yang udah ngefave fic ini, saya juga ucapkan thanks sebesar-besarnya.

Jujur, untuk chapter ini saya sendiri merasa kurang puas. Udah dikerjakan buru-buru, mungkin feel-nya nggak nyampe dan penulisannya jadi aneh. Sumpah, tugas yang banyak bikin saya kurang waktu (dan saya menyesal menunda-nunda bikin fic-nya T^T). Akibatnya, perasaan tertekan deadline bikin saya mungkin kurang maksimal dalam menyelesaikan fic ini #curcol. Hontou ni, gomenasai!

Yah, walaupun demikian, saya masih menanti pendapat minna-san soal fic yang satu ini. Kritik yang membangun serta saran-saran akan sangat membantu untuk perbaikan saya selanjutnya. So… review, please?

I'll be waiting.

Regards,

Sukie 'Suu' Foxie

~Thanks for reading~