Disclaimer : Harry Potter , Draco Malfoy dan kawan-kawinnya milik Mom Jo. Plot ini milik saya. Tak ada keuntungan yang ingin saya ambil, hanya kepuasan pribadi.
A/N : Di chap ini plotbunny bangeet, minim konflik, tapi di sini akan dijelaskan sedikit demi sedikit apa yang terjadi antara Draco-Harry-Asto XD
HARRY POTTER © JOANNE KATHLEEN ROWLING
FIRDAUS RUNTUH LAGI © SACHIMALFF
.
.
DMHP
.
.
DRACO MALFOY AND HARRY POTTER
.
.
"Karena hari ini, adalah pertunangan antara Miss Greengrass dengan pewaris tunggal keluarga Malfoy," seru Walburga riang sambil bertepuk tangan.
.
.
.
"Nah, mate! Apa kubilang, Draco yang akan di jodohkan! Bloody hell. Aku tak menyang—Harry! Ada apa?"
Harry mengerjap mendengar namanya dipanggil oleh Ron yang entah sejak kapan berada disampingnya. Menoleh kearah kanan, dimana—
Tadinya ada Draco disana.
"Mate?"
"Eh, ya, Ron? Oh—iya. Ha ha. Aku tak menyangka juga," jawab Harry tak meyakinkan. Ron mengernyit heran.
"Kau tak apa, Harry?" tanyanya lagi. Harry mengangguk pelan sembari tersenyum.
Bohong.
Harry bukannya tak apa-apa. Dia malah sangat bingung dengan apa yang terjadi padanya kini. Mendesah, dia lalu menoleh keseluruh ruangan.
Tepat di seberang sana, Draco sedang duduk di samping Asto. Pantas saja, dengusnya. Asto adalah wanita cantik dan berkepribadian baik. Sementara Draco—yah, walau baru mengenalnya beberapa jam yang lalu, entah mengapa, Harry yakin jika Draco lebih baik dari McLaggen. Melihat mereka bersanding seperti itu, membuat perut Harry melilit. 'Mereka memang pasangan yang serasi,' batinnya memuji.
Harry masih bisa mendengar Walburga bercanda akrab dengan Asto dan Draco, sementara ibunya sendiri, Lily, sedang bercengkerama dengan Nicole dan Willy Greengrass, orang tua Asto. Sesekali, Harry masih bisa mendengar ibunya yang sedang memuji tentang betapa cocoknya Draco dan Astoria.
Dan itu membuat perutnya semakin melilit, seperti diperas oleh tangan raksasa yang kasat mata.
"Memperhatikan siapa?" tanya sebuah suara mengagetkan Harry.
Harry mendongak, dan baru menyadari bila dibelakangnya ada Regulus—atau yang kerap Harry panggil dengan nama Regi—, sedang berdiri bersandar pada punggung kursi yang Harry duduki sembari memegang gelas berisi campagne.
"Eh? Tidak!" kilahnya. Regulus tertawa kecil, sembari mendudukkan dirinya tepat di sebelah kanan Harry.
"Ron, kurasa tadi Fred dan George mencarimu. Ada sesuatu yang harus mereka bicarakan tentang—siapa ya? Hermione?" ujar Regulus sambil menyeringai kecil.
Ron, yang mukanya langsung memerah sewarna dengan rambutnya, langsung berlari untuk mencari kakak kembarnya.
"Ada apa?" tanya Regulus lagi.
Kali ini, Harry diam. Dia sudah hapal, tak ada gunanya membohongi Regi. Yah—di samping dia juga tak tahu, sebenarnya, apa yang sedang dia pikirkan.
"Astoria? Atau Draco-nya?"
"Hah?"
Regulus tersenyum penuh makna. "Jadi—yang cewek apa yang cowok, nih?"
"Keduanya. Mereka serasi, ya?"
"Kapan kau mau bertunangan juga?" tanya Regi sambil meminum campagnenya.
Harry meninju lengan Regulus. "Jangan becanda! Pacar saja tak punya!"
"Kan ada Draco..."
Harry mengernyit heran mendengar tanggapan Regi. "Oh ayolah, Regi. Dia kan sudah punya Asto."
"Kau tak ingat pada Draco?" tanya Regulus sambil meletakkan gelasnya di meja kecil di depannya. Harry lagi-lagi mengernyit tajam.
"Apa maksudmu? Tadi Aunt Cissy juga bilang kenapa aku tak ingat pada Draco," tanya Harry.
Regulus mengangkat kedua alisnya. "Tentu saja kau kenal dia. Tapi itu dulu. Sebelum Draco pindah ke Rusia."
"APA?!"
"Yah... begitulah..."
Harry melotot horor. "Bagaimana—maksudku—kenapa... ah—kenapa aku tak tahu hal ini? Kenapa aku tak ingat?"
"Karena..."
"Regulus!"
Regulus dan Harry sontak menoleh ke belakang. Sirius sedang melotot tajam pada Regulus. Matanya berkilat aneh pada adik kandungnya itu. Harry menoleh kearah Regi, kemudian Siri, lalu Regi lagi, berpindah ke Siri.
"Ayolah, Siri! Kau tahu Harry sudah wak—"
"Tidak!"
"Siri!"
"Reg! Kau tahu, kan apa perjanjian kita dulu! Harusnya kau ingat itu! Jangan buat mereka terpuruk lagi!" seru Sirius sembari mendekati Regulus. Harry tetap menatap mereka penuh rasa bingung campur ingin tahu.
Dan bukan Harry saja. Semua yang ada disana menoleh ke arah kedua kakak beradik itu. Walburga mendelik tajam pada kedua anaknya.
"Siapa yang kau maksud dengan 'kita', Siri? Bukankah hanya sepihak? Kukira kau menyayangi anak bap—"
"Kubilang cukup, Regi!" bentak Sirius. Mukanya kini semerah tomat menahan amarah karena perdebatannya dengan adiknya itu.
"Apa yang terjadi disini?!" tegur Orion, melangkah mendekati kedua putranya dengan tergesa-gesa.
"Bukan apa-apa," jawab Regulus singkat, sembari mendelik kearah Sirius. Pun dengan Sirius sendiri. Orion mendesah pasrah, kemudian mengangguk singkat, memilih untuk kembali bergabung dengan Fabian Prewett dan Arthur Weasley disudut ruangan.
Sirius duduk disamping Lily, masih dengan mengamati Harry dan Regi curiga. Harry hanya bisa mendesah pasrah.
"Hanya masalah waktu, Harry. Suatu saat, jika sudah waktunya, aku akan menceritakan padamu. Tenang saja. Kau sudah kuanggap sebagai adikku," ujar Regulus sambil tersenyum pada Harry.
Dan Harry merasa sangat penasaran. Tapi, melihat Sirius di sebelah ibunya yang sedang memandangnya dengan tatapan menyeramkan—apa boleh buat?
.
.
.
.
Pagi itu, Harry kesiangan lagi. Tadi malam dia menginap di rumah Sirius karena terlalu asik bercerita dengan Sirius dan Regulus yang –secara ajaib—sudah menghentikan perang dingin di antara mereka. Yah, meskipun Lily tetap bersikeras bahwa Harry harus pulang. Tapi, setelah mendengar ratapan pilu—dan tatapan bak anak anjing yang terbuang—anaknya, akhirnya mau tak mau dia harus luluh juga.
Berjam-jam Harry habiskan untuk bercerita mengenai kehidupan percintaannya dengan beberapa pacar terdahulunya. Tentang bagaimana berengseknya McLaggen, betapa setianya Cho Chang padanya, betapa memujanya Oliver Wood padanya, atau tentang bagaimana para penguntit di sekolahannya selalu mengirimkan teror sms padanya. Regulus dan Sirius tersenyum jahil mendengar hal itu.
Lalu cerita berpindah pada kenyataan bahwa Sirius telah menjalin kasih bersama dengan sahabatnya semasa SMP, Remus Lupin, yang Harry juga telah mengenalnya lama. Yah, teman Sirius, teman James juga, kan?
Dan Harry baru tahu tadi malam, bahwa sebenarnya, Regulus telah lama mengincar Florean Fortescue, pemilik kedai eskrim langganan mereka bertiga. Sirius mencibir tak suka saat mereka membahas Florean. "Dia terlalu gemuk," ujar Sirius membenarkan ketidaksukaannya.
Dan untung saja, Sirius dan Regulus bersedia mengantarkannya ke sekolah. Jadi, dia tak harus menyetop bis dan terjebak kemacetan.
"Tenang saja, Prongs. Jika ada lelaki setipe dengan McLaggen lagi yang mengganggumu, kupastikan dia takkan muncul di bumi lagi. Selamanya," ancam Sirius. Perkataannya ini membuat Harry dan Regulus tertawa terbahak-bahak.
"Oh, tenanglah, Siri. Kau tak perlu berkata seperti itu. Harry bisa menjaga dirinya sendiri, iya kan?" tukas Regulus yang duduk di jok depan.
Harry mengangguk mantap dari belakang. Sirius mendengus keras-keras melihatnya.
"Nah. Sudah sampai. Hati-hati, Harry. Jangan takut pada gurumu si Snivellus itu. Hadiahi dia bogem jika dia memberikan hukuman padamu," tambah Sirius ketika mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah.
Regulus memutar matanya bosan. "Siri—Snape adalah guru Harry."
"Lalu? Ada yang salah?"
"Ada. Seorang murid tidak boleh bertindak kurang ajar kepada gurunya," jawab Regulus.
"Ada pengecualian untuk Harry, Regi."
"Jangan cekoki Harry dengan tingkah bodohmu, Siri!"
"Reeg! Aku hanya menyarankan padanya jika sa—"
"Stop! Stop!" lerai Harry sambil memijat pelipisnya frustasi. "Siri, Severus baik padaku. Benar apa kata Regi. Aku tak mungkin bertindak seperti itu pada guruku, apalagi Severus. Dia baik, tak seperti dugaanmu."
Sirius mencibir pelan, sementara Regulus menyeringai menang.
"Nah, aku pergi dulu. Terimakasih tumpangannya," kata Harry.
Dan mobil itu melaju kembali ke rumah mereka.
Harry berjalan gontai setelah melirik jam yang dipakai di tangan kirinya, yang masih menunjukkan pukul tujuh lebih dua puluh. Masih banyak waktu, pikirnya santai.
"Hai, Harry," sapa seseorang dari belakang punggung Harry. Menoleh, ke sumber suara, disana sudah ada Astoria.
Harry tersenyum padanya. "Hai, Asto. Tidak bareng Daphne?" tanyanya.
Astoria, yang kini langkahnya sudah sejajar dengan Harry, menggeleng pelan. "Dia bersama kekasihnya. Oh, ya, Harry, aku tak melihatmu keluar tadi ketika kau berangkat sekolah."
"Aha, itu. Aku kemarin menginap di rumah Black."
"Oh..."
Kemudian hening.
Astoria rasa, keheningan ini memang cocok mengisi perjalanan mereka untuk sampai ke kelas masing masing. Harry ke kelas Biologi untuk jam pertamanya, sedangkan Asto ke kelas Kimia. Bukannya apa-apa, tapi—Asto merasa, setiap kali bersanding seperti ini, atau menatap mata lelaki di sampingnya, bahkan pada saat dia harus memulai pembicaraan dengannya, rasanya—
Ada yang aneh. Dan Astoria cukup tahu, bahwa dia merasakan aura berbeda saat bersama seorang Harry Potter.
Berbeda saat dia bersama dengan para lelaki lain teman seangkatan kakaknya. Yah—walaupun Daphne dan dirinya punya selisih umur dua tahun, tapi Asto cukup terkenal di kalangan teman-teman Daphne. Siapa tak kenal Astoria Greengrass, puteri bungsu keluarga Greengrass yang tersohor? Kaya, cantik, modis, pintar, baik. Semua kriteria yang ada didalam dirinya, membuat semua perempuan merasa iri padanya.
Namun Asto cukup sadar diri.
Bahwa seorang Harry Potter tak pernah meliriknya. Tak peduli bahwa Asto adalah wanita tercantik di seluruh penjuru sekolah, bahkan negara ini. Dia cukup paham jika seorang Harry Potter hanya menganggapnya sebagai tetangga dan adik kelas.
Tak pernah lebih dari itu.
Dan membayangkannya, membuat dada Astoria terasa sesak. Sakit.
Bagaimanapun juga, dia mencintai pemuda beriris emerald itu. Ya. Astoria mencintai Harry Potter.
Walau Potter si sempurna tak pernah melihatnya. Walau si Potter bahkan tak pernah menganggapnya. Walau Potter tak pernah memberikan tatapan memujanya pada Asto, seperti yang dilakukan oleh para pemuda lain.
Potter tak pernah menaruh hati padanya. Asto tahu itu.
Namun dia tak mengerti, kenapa selama ini masih bertahan untuk mencintai Harry Potter dalam diam.
"Kelas pertama bersama Severus?" tanya Harry, memecah lamunan Asto tentangnya.
Asto terkesiap, dan ini membuat Harry mengernyit heran. "Melamun?" tanyanya.
"Maaf," ujar Asto lirih.
Harry mendesah lirih di sampingnya. Mereka sudah setengah jalan. Koridor pemisah jalan mereka sudah ada di depan mata.
Mereka berhenti sejenak.
"Lain kali, jangan kebanyakan melamun. Kesambet setan baru tahu rasa," canda Harry sambil nyengir. "Aku ke kelas dulu. Have a nice day!" sambungnya sambil berlari kecil dan melambaikan tangannya kepada Asto.
Dan itu mau tak mau membuat hati Asto menghangat.
'Andai kau mau membuka hatimu untukku, Harry,' ujarnya lirih dalam hatinya.
.
.
.
.
"Ayolah, Dragon. Sekali saja, yaa?" pinta Daphne Greengrass manja sambil menarik-narik lengan Draco di depan kelas Draco.
"Kubilang ti-dak, Daph. And—stop it!" geram Draco marah, mencoba menarik lengannya menjauh dari jangkauan Daphne.
Daphne memasang wajah cemberut. "Baiklah. Mungkin lain kali. Dan kau harus mau ikut denganku ke kedai itu. Oke?"
Draco mendengus sebal, masih menjauhkan lengannya dari Daphne.
"Bye, Draco..."
Draco menatap kepergian Daphne dengan helaan napas lega.
"Kenapa lebih mesra dengan kakak tunanganmu?"
Draco menoleh. Ternyata Harry yang bersuara.
Harry mendekat ke arah si rambut platina, mendekap tangannya di depan dadanya, sambil mengangkat alisnya heran.
"Aku—"
"Kau bohong padaku, eh? Kau bilang kemarin kau belum pernah pacaran," ujar Harry. "Ternyata malah sudah mau di tunangkan. Oh, aku tak menyangkanya."
Draco membelalakkan matanya horor. "Harry... aku... aku tidak, maksudku—Maaf," jawabnya lirih. Dia mentaap Harry intens.
Dan Harry baru sadar akan kalimatnya barusan. Merasa sangat bodoh kenapa bisa-bisanya dia menggumamkan perkataan seperti itu tadi. Merutuki diri sendiri kenapa dia bisa-bisanya berkata seperti itu. Dan—apalagi, tadi? Oh, jangan bilang jika nada yang dia gunakan tadi seperti nada anak perempuan yang sedang cemburu!—rutuknya.
"Ahahaha," Harry tertawa garing. "Tak perlu minta maaf. Kau tidak salah. Lagian, aku juga siapa? Bukan siapa-siapamu, kok. Tak perlu tegang seperti itulah..."
Dan Draco masih menatapnya. Itu membuat Harry kikuk sendiri. Dia menghela napas panjang, kemudian mencoba tersenyum pada Draco. "Selamat atas pertunangannya. Semoga langgeng."
Draco tersentak kaget.
"Aku—"
"Oh, aku masuk kelas dulu, yaa. Ada janji untuk mengerjakan esay bersama Hermione dan Ron."
Lalu melenggang pergi, melewati Draco begitu saja.
Draco merasa dirinya bodoh. Dan dibodohi. Oleh takdir. Oleh ketentuan yang membuat mereka jadi seperti ini.
Draco sungguh menyesali semuanya. Menyesali sebuah takdir yang mengharuskannya memulai hubungan dengan sang pemuda bersurai berantakan dari awal. Dari nol. Dan semua ini gara-gara Draco.
"Oh, akhirnya kau datang juga, Mate! Esay-ku kurang banyak! Apa kau sudah me—Mate, ada apa?" tanya Ron bingung ketika Harry telah mendudukkan pantatnya pada kursi di belakang Ron.
Harry tersentak ketika Ron menjentikkan jemarinya di depan kepala Harry. Harry nyengir tanpa rasa bersalah.
"Kau ini kenapa, sih?" tanya Ron tak sabaran.
"Err—tidak."
"Tidak apanya? Kau melamun begitu. Ada masalah? Apa McLaggen mengganggumu lagi? Apa kau dikuntit lagi?" tanya Ron membelalakkan matanya horor. Harry mendesah hiperbol.
"Hai, Ron, Harry," sapa Hermione yang baru saja datang. Rambut cokelat bergelombangnya tertata rapi kali ini.
"Oh, syukurlah kau sudah datang, Mione. Periksa esay milikku, dong?" pinta Ron, yang dibalas Hermione dengan tatapan mencemooh.
"Oh, ayolah! Kaupun tahu sendiri aku sangat buruk pada pelajaran Biologi!"
Harry tertawa renyah. "Kau buruk di semua bidang, Ronald."
Ron mendengus mendengarnya. Dia tahu, Harry berbeda darinya. Dia pintar. Dalam semua bidang pelajaran. Mungkin setingkat dibawah Hermione yang notabene adalah siswi terpandai di angkatan mereka.
Menyerah, Hermione meneliti esay Ron yang acak-acakan. Harry sesekali tertawa, ketika Hermione memarahi Ron karena begitu banyak coretan yang dia buat, atau karena memang jawaban Ron yang terkesan ngaco.
Bel berbunyi keras ketika Hermione baru memeriksa setengah dari keseluruhan esay milik Ron. Pemuda bersurai merah itu menjambak rambutnya karena frustasi akan hasil esay yang baru sebagian benar.
Lalu Draco Malfoy masuk ke kelas.
Berjalan santai namun terlihat cool. Beberapa anak perempuan masih terkikik ketika Draco melewati mereka. Dan Harry hanya bisa diam.
Diam karena ada sesuatu dalam dirinya yang bergetar aneh ketika melihat si anak baru. Atau ketika mata mereka bertubrukan. Atau ketika mereka berinteraksi.
Dan Draco langsung mendudukkan dirinya di tempatnya; di samping Harry Potter.
Kemudian hening.
Tak ada yang memulai pembicaraan. Harry merasakan perutnya mual dengan keheningan ini. Namun apa daya, berbicara dengan Draco pun, dia serasa lepas kendali. Seperti berbincang dengan kawan lama. Hangat, nyaman—
Mereka mengikuti pelajaran Biologi dengan profesor McGonagall dalam diam. Tanpa saling ada yang repot-repot membuka suara untuk memulai percakapan kecil atau sekadar berdiskusi mengenai materi yang disampaikan.
Sampai bel pulang berdering nyaring pada hari itu.
Sebelum mengambil tas punggungnya dan pulang, Hermione menyempatkan diri bertanya pada Draco.
"Kudengar kemarin adalah acara perkenalan keluargamu dan keluarga tunanganmu. Apa benar?" tanyanya bersemangat.
Harry terkesiap, lalu memandang Hermione yang matanya masih berbinar-binar penuh semangat.
Lalu rasa itu datang lagi. Rasa yang tak ia tahu maksudnya. Rasa yang sungguh aneh itu menyergapnya kembali. Membuat suatu ruang dalam hatinya terketuk dan menggema menyebar keseluruh tubuhnya, membuatnya nyaris tak bisa bergerak.
Lalu dirasanya mata Draco teralih pada Harry.
Harry bisa merasakan tatapannya. Dan ia tak tahu, mengapa Draco harus menatapnya seperti itu. Siapa dia? Siapa Draco? Siapa mereka? Bukan siapa-siapa, jawab hati terdalam Harry. Mereka adalah dua pemuda yang baru saja mengenal. Tentu saja. Dan anehnya—orang tua mereka seakan sudah lama kenal. Lalu keduanya dipertemukan dalam satu sekolahan yang sama. Menjadi siswa yang sama dalam kelas yang sama. Kemudian Severus menyuruh Draco duduk di samping Harry.
Hanya itu. Ya, hanya itu.
Lalu mengapa hatinya merasa hangat, setiap kali Draco bersamanya? Dan lalu—mengapa hatinya merasa tersiksa, setiap kali ada yang mengungkit tentang pertunangan Draco dan Asto?
"Ya," jawab Draco pada akhirnya. "Aku pulang duluan."
Hermione dan Ron menatap Draco bingung saat sang pemuda pirang itu keluar dari kelas mereka.
"Ada apa dengannya?" tanya Ron.
"Tidak tahu," jawab Harry.
Hermione mengernyit heran. "Apa ada masalah antara kalian berdua?"
Harry mendengus mencela. "Tidak. Kami hanya belum saling mengenal."
"Apa?" tanya Ron bingung.
"Err—tidak. Lupakan. Aku pulang dulu, Mione, Ron. Bye."
Dan Hermione hanya mendesah pasrah.
.
.
.
"Apa yang kau bicarakan, bodoh?!" teriak Daphne pada Astoria ketika mereka berjalan pulang ke rumah mereka.
Astoria, sang adik, hanya menghela napas panjang. "Daph, tolonglah. Aku tak bisa—"
Daphne menatap adiknya dengan tatapan tak percaya. "Tidak! Kau tak bisa memutuskan ini semua! Kau harus tetap bertunangan dengan Draco!"
"Tapi, Daph! Aku tak pernah mencintainya!"
"Omong kosong, Asto!"
Astoria menutup matanya, mencoba meredam emosinya. "Aku tak bisa. Aku mencintai orang lain."
Kemarahan Daphne sudah sampai pada taraf akhir. "Siapa? Si Potter tak punya adab itu? Kau gila, Asto! Apa yang kaulihat dari dia, hah?! Dia itu tak ada apa-apanya dibanding Draco! Sadarlah!"
Asto mengernyit tajam pada kakaknya. "Kau bicara seperti itu karena kau tak pernah merasakannya. Yang kau pikirkan hanyalah lelaki tampan yang punya segalanya, bersenang-senang, dan kau bahagia. Tapi tidak untukku, Daph. Aku tidak mencintai Malfoy, begitupula sebaliknya. Aku—menolak dijodohkan."
"Ayah dan Ibu akan menolak permintaan pemutusan perjodohan ini, asal kau tahu saja!"
"Dan aku akan tetap menolaknya, Daph!"
"Kau ini memang anak tak tahu diri, ya! Ayah dan Ibu sudah memilihkan yang terbaik untukmu!"
Asto menghentikan langkahnya, lalu menatap lagi Daphne. "Kau memaksaku bertunangan dengan Malfoy hanya karena hartanya, kan? Kalau begitu ambil saja Malfoy! Katakan pada Ayah dan Ibu kalau kau saja yang bertunangan dengannya! Aku bisa menentukan sendiri kehidupanku!"
Lalu Astoria berjalan meninggalkan kakaknya yang menggeram marah.
.
.
.
.
Harry mendesah bosan ketika menatap beberapa ekor ikan dalam kolam yang saling berkejar-kejaran. Disanalah dia sekarang, di salah satu pojok taman sekolah yang sering dia kunjungi ketika sedang bosan.
Sesekali, dia menilik pada jam tangannya, yang masih saja menunjukkan pukul tiga sore. Ibunya pasti belum pulang dari kantornya, jadi, pasti rumah masih sepi,
Sebenarnya dia memang sudah sering sekali sendirian di rumah. Namun, akhir-akhir ini, dia seperti merasakan apa artinya 'kesepian'. Apalagi—
Kalau sedang sendiri, pastilah pikirannya langsung melayang pada salah seorang pemuda pucat runcing bersurai pirang platina, teman barunya; Draco Malfoy. Dan itu membuatnya lemas seketika.
Putus harapan karena terlampau bosan, dia memutuskan untuk menelepon Sirius.
/"Hallo, Harry? Ada apa?"/ sapa seorang di ujung telepon; Sirius Black.
Harry tersenyum mendengar suara ayah baptisnya itu. "Tidak apa-apa sebenarnya. Kau masih di kantor?"
/"Iya. Memangnya, kau mau mengajakku pergi?"/
Harry mendesah pasrah mendengar jawaban Sirius. Moodnya kembali turun. "Yeah. Begitulah awalnya..."
/"Ah, Harry, aku sangat menyesal kali ini. Tapi—sungguh, kantor sedang tidak bisa memberikanku toleransi. Bagaimana kalau besok siang?"/
Harry mencoba tersenyum kecil, walau dia tahu Sirius tak bisa melihatnya. "Nah, besok siang aku ada praktek Biologi."
/"Haah, susah sekali mencari waktu luang. Bagaimana kalau kau hubungi Regi? Kurasa dia sudah pulang. Dia bilang free selama dua hari ini."/
"Benarkah?" seru Harry riang. "Baiklah kalau begitu. Akan ku hubungi dia."
/"Nah, nah, jangan terlalu akrab dengannya, eh Harry. Itu membuatku cemburu."/ gurau Sirius di ujung telepon yang disahuti Harry dengan tertawa renyah.
"Baiklah, baiklah. Nah, terimakasih, Sirius."
/"Anytime, Prongs!"/ jawab Sirius singkat, kemudian menutup sambungan teleponnya.
Tanpa banyak kata, Harry lalu menghubungi Regulus.
"Halloo, Regi," sapa Harry riang.
/"Ya, Harry? Ada apa?"/
"Sirius bilang kau sedang libur, apa kau tak ada acara, sekarang ini?" tanya Harry penuh harap.
/"Emm—tidak, sepertinya. Ada apa?/
Harry mendesah lega. "Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan? Aku sedang bosan. Kau keberatan?"
/"Tidak, tentu saja tidak. Nah, dimana kau sekarang? Akan langsung ku jemput."/
Senyum Harry mengembang. "Masih di sekolah. Kutunggu. Terimakasih, Regi!"
/"Oke Harry. No problem."/
Harry mematikan sambungan telepon itu, kemudian memasukkan ponselnya kembali ke saku seragam sekolahnya. Harry berjalan pelan ke arah gerbang sekolahan.
Tak lama kemudian, Regulus datang mengendarai mobil pribadinya. Membuka kaca jendela mobil, Regi lalu melambaikan tangannya pada Harry yang telah menunggunya di depan pintu gerbang.
Harry berlari kecil menghampirinya.
"Maaf, Harry. Sudah lama?"
"Baru saja," jawab Harry sembari mendudukkan dirinya di samping kursi kemudi.
"Nah, kemana kita sekarang?" tanya Regulus sambil menjalankan laju mobilnya. Harry nampak berpikir sebentar.
"Bagaimana kalau ke Florean Fortescue?" usul Harry.
Regulus menatap Harry sebentar, sebelum kembali menatap jalanan, kemudian tersenyum lebar. "Kau memang pintar menyogok, Harry Potter."
Dan Harry hanya terkekeh pelan mendengarnya.
Mereka mengendarai mobil milik Regi dengan kecepatan standar, ditemani alunan musik lembut milik Shontelle bertajuk Impossible.
Regulus dan Harry sampai di kedai eskrim tujuan mereka sepuluh menit kemudian. Harry langsung keluar dari mobil, dan berjalan pelan diikuti Regulus yang masih tersenyum penuh arti dibelakangnya.
"Harry!" sapa Florean, pemilik kedai eskrim itu pada Harry dengan senyum manis miliknya. Aksen Prancis-nya masih kentara sekali.
"Halo, Flore. Penuhkah?"
Florean mengangguk kecil. "Ya, untunglah. Tapi, masih ada beberapa meja kosong, Harry. Ah, ternyata kau datang bersama Regulus, eh? Mana Sirius?" tanyanya ketika melihat Regulus datang sambil nyengir tampan.
Harry terkikik pelan melihat ekspresi Regi. "Masih ada di kantor. Oke, meja berapa yang masih kosong, kalau begitu?"
"Nomor tujuh, Harry. Masuklah!"
"Terimakasih, Florean," kali ini, Regi yang menjawab, sambil tersenyum penuh kharisma, yang membuat Florean merona memandangnya.
Harry berjalan sambil menarik tangan Regi yang masih cengar-cengir. Sampai pada meja nomor tujuh, seorang pemuda—diperkirakan dua tahun lebih muda dari Regulus—datang menanyakan pesanan mereka.
"Parfait dengan topping vanilla dan kiwi," jawab Harry.
"Eskrim rasa strawberry saja," jawab Regulus pada pelayan yang entah mengapa, sedari tadi, memandanginya dengan tatapan lapar. Dan itu membuat Regulus mengernyit heran. Sementara Harry menyembunyikan tawanya dengan batuk-batuk
"Akan segera datang, Tuan," jawab si pelayan setelah menulis pesanan mereka berdua, kemudian melenggang pergi setelah memberikan kedipan genit pada Regi yang bergidik ngeri.
"Aha, penggemar baru," canda Harry.
Regi mendengus mencela. "Tak ada yang se-hot Florean, Harry. You know me," jawabnya santai.
Regulus mengamati gerak-gerik Florean dari mejanya, dan itu membuat Harry memutar matanya bosan.
"Stop, Reg. Kau terlihat seperti penguntit," kata Harry. Regulus tertawa dibuatnya.
Beberapa menit kemudian, pesanan Harry dan Regulus datang bersama dengan pelayan tadi. Sang pemuda tersenyum genit pada Regulus, yang hanya dijawab dengan kernyitan tajam.
Harry mendengus. "Setidaknya ucapkan terimakasih dengan cengiran mempesonamu itu, Regi," sindirnya.
"Hah, aku bukan Siri yang suka tebar pesona, you know?" jawab Regulus sambil menyendok eskrimnya.
Harry memandangi parfait miliknya. Pikirannya tiba-tiba saja terjutu pada salah satu orang. Kemudian—
"Reg..."
"Hmm?"
"Bisakah—bisakah kau ceritakan padaku tentang masa laluku dengan Draco?" tanya Harry penuh harap sambil memandang Regi penuh arti.
Regulus menghentikan kegiatan menyendok eskrim miliknya, kemudian menatap Harry.
"Aku—"
"Pliisss..."
Reply for Review :
CCloveRuki : hehe, iya. Ini sudah dilanjut ^^ Tentang masa lalu Harry, akan di jabarkan pada chap-chap selanjutnya. Ditunggu, ya? ^^
Heiwajima Shizaya : Wih, makasih yaa. Aku kasih bocoran dikit nih, sebenarnya... Draco itu... udah lama... suka... sama... Harr... Harry /uhukk/ Ini udah di lanjut yaa ^^
FlawlessHand : Sudah aku update, ini Flaw, hihi^^
Qnantazefanya : Maaf udah buat menunggu ^^ Banyak urusan yang harus saya selesaikan kemaren2 hehe...
Mayasari : Sebenarnya, saya juga berat menjodohkan mereka /plak
