Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Family, Friendship, Romance

Rated : M

Summary : Pemandangan yang tersodor di hadapannya ini begitu menggodanya sebagai seorang homoseksual –bahkan Sasuke yakin seorang laki-laki normal juga akan tergoda melihat tubuh bak malaikat milik pemuda asing di hadapannya.

.

.

CHAPTER 2

.

.

-Sasuke POV-

Konoha Gakuen.

Bagi beberapa orang, bersekolah di Konoha Gakuen adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Bagaimana tidak, Konoha Gakuen itu adalah SMA terbaik di kota Konoha. Sekolah ini menggunakan sistem asrama yang terpisah dari gedung belajar. Dan setiap akhir pekan, para siswa boleh kembali ke rumahnya. Selain SMA terbaik, Konoha Gakuen juga mengantongi predikat sebagai sekolah termewah di Jepang. Bangunannya terlihat begitu megah dan kokoh, selain itu, fasilitas pendukung pembelajaran juga sangat lengkap. Sedangkan asramanya sendiri juga mewah dengan sistem satu kamar dua orang.

Tapi bagiku, bersekolah di sini tak ubahnya seperti bersekolah di Nereka. Setiap pagi aku harus menghindar dari kejaran siswi-siswi sinting yang terus saja mengejarku. Dan bukan hanya itu, aku juga harus menahan emosiku ketika tak sedikit dari pada guru wanita menggodaku secara tidak langsung dengan menunjukan keindahan tubuhnya di hadapanku.

Sayangnya aku tak 'kan pernah tertarik dengan hal itu. Walaupun para gadis seksi menari erotis di hadapanku selama tiga hari tanpa berhenti, aku tak akan terpengaruh sedikit-piun. Sudah sejak lama perasaan suka-ku terhadap wanita lenyap. Ya, aku gay. Dan ada masalah dengan hal itu?

Aku harap tidak.

Lagipula, sudah menjadi rahasia umun jika banyak siswa gay di Konoha Gakuen. Dan tak sedikit dari mereka yang sering bermesraan di asrama tanpa sembunyi-sembunyi. Bahkan ada dari mereka yang secara terang-terangan mendeklarasikan bahwa dirinya gay. Tapi sekolah tak pernah mempermasalahkan hal itu. Selama mereka tak berbuat onar atau melakukan sesuatu yang melanggar tata tertib, perbuatan mereka diizinkan. Dan lagi, homoseksual bukan menjadi hal tabu sekarang. Bahkan pernikannya sudah dilegalkan beberapa tahun yang lalu.

"SASUKE-KUN!"

Teriakan itu. Aku membencinya.

"SASUKE-KUNNNNNN!"

Aku segera mengambil langkah seribu ketika merasakan jika para gadis-gadis sinting itu mulai mendekat. Sebenarnya, lari dari para gadis itu bukanlah sesuatu yang elit –bagiku. Tapi aku tak punya pilihan lain. Mereka terlalu banyak, fanatik, dan errr–menakutkan.

"Kemari!"

Aku segera menurut ketika seorang gadis berambut pirang panjang menarik tanganku dan memasukanku ke dalam kelas. Setelah berhasil memasukanku dia menutup pintu kelas dengan cepat.

"EHEM!" dari celah pintu yang sedikit terbuka aku mengintip apa yang tengah terjadi. Seorang anak perempuan berambut pink tengah mengusir para fans-ku dengan aura kelam yang keluar dari tubuhnya dan teriakan serta hancurnya beberapa barang. Dia adalah Haruno Sakura. Ketua siswi perempuan di asrama. Dan jangan tertipu dengan penampilannya yang terkadang centil, karena dia itu adalah ketua klub karate wanita yang ada di sekolah ini. Jika kemarahannya sudah memuncak, ia tak ubahnya seperti monster yang kau bangunkan.

Sementara itu, gadis berambut pirang pucat yang tengah ikut mengintip bersamaku adalah Yamanaka Ino. Dia adalah ketua kelas di kelasku dan Sakura. Dia adalah ketua klub dance dan salah satu pengurus klub karate. Walaupun penampilannya feminim, ia tak kalah menyeramkan dengan Sakura –atau mungkin lebih seram. Entahlah.

Berangkat. Dikejar-kejar siswi. Diselamatkan Sakura dan Ino. Itu adalah sebuah rutinitasku setiap pagi. Menyebalkan memang, tapi mau bagaimana lagi?

Dan… -oh ya, mereka menyelamatkanku juga bukan tanpa maksud. Mereka berdua adalah Fujoshi. Dan Sakura itu kelua klub Fujoshi sedangkan Ino adalah wakilnya. Lalu, kalian bisa tebak sendiri bukan, apa maksud mereka menyelamatkanku?

Tepat!

Mereka menginginkanku untuk menjadi objek mereka dengan kata lain menjadikanku gay. Oh, andaikan mereka tahu jika aku ini juga seorang gay. Tapi rasanya tak mungkin. Aku selalu menutupinya dengan sangat rapat di depan mereka –bahkan dari seluruh Fujoshi dan Fudanshi di sekolah. Aku punya beberapa alasan untuk hal ini.

belum punya kekasih. Oke, sekarang bayangkan jika ternyata para siswa gay mengetahui aku seorang homoseks? Pasti mereka akan melakukan hal yang sama seperti wanita-wanita gila itu. Bukannya aku terlalu pede atau apa, tapi coba lihat saja –sekarang banyak sekali mata yang menatapku secara sembunyi-sembunyi. Dan kalian tahu? Aku tak mau menambah daftar fans-ku!

. Sungguh, aku tak bisa membayangkan bagaimana rekasinya begitu mengetahui aku adalah seorang gay. Pasti dia akan mentertawakanku habis-habisan. Oh, membayangkannya saja sudah membuat perutku melilit. Memang, aku tahu sebenarnya dia juga gay, sayangnya dulu aku selalu menghinanya. Jadi, jika dia tahu kenyataan tentangku sekarang, aku jamin dia akan melakukan pembalasan.

"Carilah seorang pemuda manis untuk dijadikan pacar dan mereka tak akan mengganggumu lagi, Sasuke," aku hanya bisa menghela nafas untuk menanggapi usulannya itu. Entah sudah berapa kali Ino mengusulkan hal itu. Aku tak pernah menggubrisnya.

Memangnya kalian pikir cari pacar itu hal yang mudah?

"Carikan aku malaikat bermata langit dan aku akan segera memacarinya," ujarku asal kemudian berjalan ke tempat dudukku. Dan menghela nafas ketika sadar jika Shikamaru melemparkan pandangan malas-nya padaku.

.

.

Aku membencinya. Sangat.

Aku juga membenci rambut kuning dan mata biru yang ia wariskan padaku. Benci. Aku tak ingin disamakan dengannya.

Aku berbeda dengannya. Aku normal –bukan homoseksual menjijikan seperti dia.

Aku benci dengan penampilan asliku.

Aku ingin warna rambutku merah seperti Kaasan dan mata coklat seperti Baasan.

Hingga tak ada lagi yang menyamakanku dengannya.

.

.

Naruto membasuh wajahnya dengan air dingin yang mengalir dari kran. Setelah itu ia memandang bayangan dirinya dalam cermin. Rambutnya yang basah terlihat acak-acakan. Wajahnya terlihat sendu dan matanya terlihat begitu keruh. Ia mendesah kemudian membasuh kembali wajahnya dan memandang kembali ke arah cermin, tak ada yang berubah. Ia menghela nafas kemudian mengelap wajahnya dengan handuk kecil dan segera keluar.

"Hei Dei, apa ada titipan untukku hari ini?" tanya Naruto sembari berjalan ke arah Deidara yang tengah menikmati sarapannya di sofa.

"Ya, dan sudah aku letakan di kamarmu." Jawabnya singkat.

Naruto mengangguk kecil kemudian berjalan ke arah kamar Deidara. Dia tersenyum begitu melihat bungkusan putih yang tergeletak begitu saja di kasur. Dengan cepat ia membuka bungkusannya dan memakai semua benda yang ada di dalamnya dengan cekatan. Ia juga mengenakan baju seragam sekolah barunya yang sudah disiapkan oleh Deidara. Kemeja putih berlengan pendek. Celana hitam. Dan sweater hitam tanpa lengan.

Beberapa menit kemudian, Deidara membuka kenop pintu dan masuk ke dalam kamarnya.

"Naruto kalau kau sudah siap ayo bera–" Deidara tak melanjutkan perkataanya begitu melihat penampilan Naruto yang baru. Ia melebarkan matanya dan mulutnya terbuka lebar, "Kami-sama, sebenarnya apa yang terjadi padamu Naruto?" jeritnya ketika melihat sosok Naruto yang tengah tersenyum di hadapannya.

Naruto menyeringai kecil sembari memasang jam tangannya, "bagaimana, bagus bukan?" ujarnya meminta pendapat pada sepupunya sembari tersenyum dan melirik ke arah jarum jam tangannya, "ayo berangkat Dei," ujarnya sembari mendekat ke arah Deidara dan menepuk pundaknya.

Dahi Deidara berkedut, "apa kau yakin akan ke asrama dengan penampilan seperti ini?" Naruto mengangguk mantap. "Oh tuhan, Minato pasti akan kena serangan jantung jika melihat penampilanmu ini!" guman Deidara pelan. Dia membayangkan bagaimana raut wajah Minato ketika melihat penampilan anaknya ini. Oh Kami-sama, apa yang sebenarnya terjadi?

"Setidaknya kalau penampilanku seperti ini tak ada yang mengenaliku sebagai Namikaze,"

Deidara menggelengkan kepalanya. Sebenarnya apa yang diinginkan anak ini dengan penampilan aneh seperti itu? Apa alasannya?

"Ayo cepat Teroris!" teriak Naruto ketika menyadari jika Deidara masih berdiri di tempatnya.

Sebenarnya penampilan Naruto sekarang tak begitu mencolok. Pakaian seragamnya rapi. Tak dikeluarkan seperti biasanya. Namun, mata birunya kini tertutup oleh kontak lens berwarna hitam, selain itu kini di wajahnya bertengger sebuah kacamata perak. Lalu, yang membuat Deidara tak habis pikir, rambut jabrik kuning Naruto kini ditutupi sebuah rambut palsu hitam sebahu yang diikat sembarang oleh Naruto. Percayalah, jika menemui Naruto di jalan pasti dia tak akan mengenalinya. Penampinannya sekarang sungguh kontras dengan penampilannya dulu.

Deidara jadi berpikir, jika Naruto yang dulu sudah benar-benar mati. Tanpa bekas.

"Sebenarnya apa alasanmu berpenampilan aneh seperti ini?" tanya Deidara ketika mereka dalam perjalanan menuju Konoha Gakuen.

"Tidak ada, hanya ingin mengubah penampilan saja." Jawab Naruto enteng sembari meneguk minuman kalengnya.

"Tapi menurutku kau terlihat aneh sekali Naruto," ujarnya sembari melirik ke arah Naruto. Penampilannya sekarang memang sangat aneh –bagi Deidara. Selain itu penampilan Naruto saat ini mengingatkannya pada pemuda… pemuda…. –Hei! Kenapa dia jadi memikirkan Itachi?

"ARRGGHHH!"

"Hei hei hei jangan ugal-ugalan seperti itu, Terorissss!" pekik Naruto kencang sembari menatap Deidara kesal ketika sepupunya itu menambah gas dan bergerak zig-zag di jalan yang ramai –bahkan melewati dua buah bis dengan kecepatan penuh. "PELANKAN MOBILMU! AKU BELUM MAU MATI SEKARANG BRENGSEK!"

.

.

Setelah menempuh perjalanan satu jam yang cukup menegangkan –bagi Naruto- akhirnya mereka berdua sampai di depan gerbang Konoha Gakuen. Dan tak mau membuang waktu banyak, akhirnya Deidara dan Naruto keluar dari mobil lalu segera berjalan menuju asrama. Sementara itu, mobil Deidara diparkirkan di halaman parkir sekolah.

"Aku menyesal berangkat berdua denganmu, kau sangat ugal-ugalan di jalan. Mengerikan." komentar Naruto sembari memandang tajam ke arah Deidara yang tampak tenang-tenang saja. Padahal jantungnya hampir copot tadi. Selain itu, kakinya juga masih sedikit bergetar.

"Sudahlah, ayo jalan, kau lelet sekali," Sunggut Deidara.

Naruto mendengus kemudian mengikuti langkah Deidara dari belakang. Rasanya risih juga ketika menyadari hampir seluruh mata yang ada di halaman depan memandangnya dengan tatapan aneh. Sama seperti pandangan yang ia terima ketika ia pindah sekolah dulu. Namun, di sini ada yang sedikit berbeda, karena Naruto menyadari ada beberapa tatapan para gadis yang tak terdefinisikan. Tapi Naruto berusaha untuk tidak peduli dan mencoba bersikap cool walau perasaannya ingin sekali menghajar satu-satu wajah pria yang menatapnya dengan tatapan mesum.

"Wah, itu Deidara senpai-kan?"

"Dengan siapa ya?"

"Yang berambut hitam itu manis juga ya,"

"Wah yang rambut hitam itu tipe Uke!"

"Tidak, dia lebih cocok jadi Seme!"

"Jangan-jangan dia itu Seme-nya Dei-chan,"

Dahi Naruto berkedut begitu mendengar beberapa perkataan itu.

"Uke, Seme, apa maksudnya?" gumannya pelan. Ia sama sekali tak mengerti dengan hal-hal yang mereka bicarakan.

"Hoi Naruto, cepat!" teriak Deidara begitu menyadari Naruto yang tertinggal beberapa meter di belakangnya.

.

.

Kelas XI-2 adalah kelas yang Naruto tempati. Setelah bertemu dengan kepala sekolah, Naruto segera diantar oleh Deidara ke kelasnya. Dan sekarang di sinilah Naruto berada. Di depan kelas untuk memperkenalkan diri dan berusaha untuk tidak mempedulikan tatapan-tatapan aneh yang terus saja dilayangkan oleh penghuni kelas. Untungnya wali kelas ini –Umino Iruka- segera menyuruh Naruto duduk di sebuah bangku kosong di ujung dekat jendela, jika tidak, bisa dipastikan ia akan mati bosan di depan kelas.

"Terima kasih sensei," ucapnya pelan. Iruka mengangguk pelan sementara itu Naruto berjalan ke arah bangku yang ditunjuk Iruka tadi.

"Hei, perkenalkan, namaku Haruno Sakura," Naruto segera menoleh ke arah samping begitu seseorang mengajaknya berkenalan.

"Naruto," ujarnya sembari memandang gadis bernama Sakura yang tengah tersenyum manis ke arahnya.

"Saat pulang nanti, aku ajak kau berkeliling ya," Naruto mengangguk pelan. Dia melirik ke arah jam tangannya. Berharap detik berjalan lebih cepat dibanding biasanya.

Dan setelah melewati tiga jam pelajaran yang cukup membosankan, akhirnya bel pulang berbunyi nyaring. Anak-anak yang tadi berwajah masam segera berubah menjadi senang ketika bel berbunyi. Dan tak usah menunggu sampai dipersilahkan Iruka untuk keluar, semua anak sudah berebut keluar. Saling dorong dan tarik. Sepertinya, pelajaran Sosiologi yang diampu Iruka cukup membosankan hingga siswa didiknya tak betah berada di ruangan.

Namun, saat semua anak bergegas keluar, Sakura justru masih dengan santai memasukan peralatannya. Mau tak mau Naruto yang juga ingin keluar kelas mengurungkan niatnya. Ia harus menunggu Sakura karena tadi gadis ini sudah mengajaknya berkeliling. 'Jika keluar sekarang, sudah bisa dipastikan banyak tangan jahil yang akan menyentuh-nyentuh Uke manis ini,' batin Sakura sembari melirik sekilas ke arah Naruto kemudian menyeringai tipis.

"Maaf ya Naruto, kau jadi menunggu lama," dia segera berdiri dan tersenyum ke arah Naruto yang balas tersenyum kecil ke arah Sakura. "Kalau begitu ayo, akan kutunjukan beberapa tempat menarik padamu." Ujarnya sembari memandang penuh arti ke arah Naruto.

"Ini adalah ruang kesehatan, sebelahnya itu ruang kesenian," jelas Sakura sembari sesekali melirik penuh arti ke arah Naruto yang tengah mendengarkan penjelasannya dengan saksama. "Oh ya, bagaimana kalau kita ke ruang karate, kebetulan sekarang sedang ada ekstra karate," jelas Sakura bersemangat sembari berjalan mendahului Naruto.

Sementara itu Naruto hanya menggelengkan kepalanya sembari mengikuti langkah Sakura yang bersemangat itu.

'Gadis ini cantik juga.'

"Oh ya Naruto, apa kau sudah punya pacar?"

Naruto melebarkan matanya. Pertanyaan macam itu?

"Uh belum, bahkan aku tak pernah pacaran sebelumnya,"

Sebuah seringaian tergambar di wajah Sakura, "syukurlah," ujar Sakura lirih. "Hei bagaimana jika besok sore –jam empat, kita bertemu lagi di ruang karate, kau bisa?" tanya Sakura penuh harap. Sebuah rencana manis telah tersusun di dalam otaknya.

"Memangnya ada apa?"

"Aku akan mengenalkanmu pada ketua klub karate pria, mungkin saja kau mau bergabung," Sakura melirik ke belakang sejenak dan kembali menyunggingkan senyum. Dan entah kenapa melihat senyum Sakura, bulu roma Naruto langsung berdiri.

Gadis aneh. Menyeramkan.

Dan ternyata ruangan karate tak begitu jauh dari ruangan kesehatan, hanya memakan perjalanan selama tiga menit. Dan begitu Sakura dan Naruto memasuki ruangan karate, Naruto hanya menaikan sebelah alisnya. Ruangan itu kosong. Padahal tadi Sakura bilang jika ada kegiatan ekstra. "Sakura, bukannya tadi kau bilang ada kegiatan ekstra di sini?" tanya Naruto bingung sembari memandang Sakura. "Kenapa justru kosong?" tanyanya lagi sembari menunjuk ruang karate yang kosong.

Sakura melirik ke arah jam tangannya dan menepuk dahinya, "Astaga aku lupa, kegiatannya dimulai satu jam lagi," ujarnya sembari menoleh ke arah Naruto kemudian tersenyum kecil. Sementara itu, Naruto hanya menghela nafas panjang. "Oh ya bagaimana kalau aku antar ke kamarmu saja?"

Naruto menaikan sebelah alisnya. "Memangnya siswi perempuan boleh ke asrama laki-laki?"

Sakura kembali menepuk dahinya. "Astaga, kenapa aku jadi pikun seperti ini?"

.

.

Naruto menghela nafas panjang ketika berjalan di koridor asramanya. Lagi-lagi seperti ini. Sepertinya ia tidak akan pernah lepas dari pandangan orang-orang . "Menyebalkan," gumannya sembari terus berjalan. Lalu saat ia sampai di depan pintu kamar yang bertuliskan angka 77, ia tersenyum. "Akhirnya sampai juga," ia merogoh kantung celananya untuk mengambil sebuah kunci. Dan begitu mendapatkannya, ia segera membuka kamar dan menutupnya kembali.

Sebuah ruangan lebar, dengan dua buah tempat tidur, lemari, meja belajar, ac, dan sebuah kamar mandi. Namun yang menjadi perhatian Naruto adalah sebuah piano yang ada di sudut ruangan. Ia sedikit heran kenapa ada sebuah piano di dalam kamar asramanya. Namun apa pedulinya?

"Lebih baik kau bereskan barangmu," Naruto menoleh dan menatap seorang pemuda berambut hitam dengan model yang cukup aneh keluar dari kamar mandi. Kemeja lengan pendeknya terlihat berantakan dengan dua kancing teratas yang tak dikancing.

"Aku tahu," ujar Naruto kemudian berjalan ke arah koper yang ada di samping sebuah tempat tidur berseprei biru dongker, setelah itu mulai membuka kopernya dan memasukan barang-barangnya ke dalam lemari. "Hei, bukannya kau sekelas denganku ya?" tanya Naruto saat ia sudah selesai memasukan semua barangnya ke dalam lemari.

"Ya," jawab pemuda itu singkat kemudian duduk di tempat tidurnya sendiri dan memandang ke luar jendela yang terbuka lebar.

Naruto mengangguk mengerti, setelah itu ia berjalan mendekati Sasuke kemudian mengulurkan tangannya, "kalau begitu, perkenalkan, aku Naruto,"

Pemuda itu memandang Naruto sejenak sebelum menerima uluran tangan Naruto. "Sasuke. Uchiha Sasuke,"

.

.

Bagi Naruto, hari ini berjalan lebih lambat dibanding biasanya –dan sangat membosankan. Sejak siang hingga sore ia terus berada di kamarnya, sementara itu Sasuke telah pergi entah kemana tanpa memberitahu atau mengajaknya. Ia jadi merasa sangat sial mendapat teman sekamar yang dingin seperti itu.

Sebenarnya, Naruto ingin sekali keluar, sekedar mencari angin segar. Namun, setelah mengingat tatapan mesum yang diperolehnya tadi, ia segera mengurungkan niatnya itu. Ia merasa risih ditatap mesum seperti itu. Baginya, lebih baik mendapat tatapan menantang dibanding tatapan mesum. Terkadang, ia juga bingung kenapa ia mendapatkan tatapan seperti itu. Apa penampilannya aneh –atau mengundang? Tapi rasanya penampilan barunya ini biasa-biasa saja.

Dan setelah lama bergelut dengan pikirannya sendiri, akhirnya Naruto ingat jika ada sesuatu yang menarik di dalam kamarnya. Piano. Dan dengan cepat ia bangkit dari tempatnya berbaring kemudian berjalan ke arah piano lalu duduk di hadapan piano berwarna hitam kelam tersebut. Ia menghela nafas panjang. Sudah lama ia tak menyentuh piano. Padahal dulu ia sangat rajin berlatih piano.

"Sudah lama sekali," Naruto menyentuh tuts piano dengan jarinya. Sembari mengingat masa kecilnya dulu. Saat ia memainkan piano dan kedua orang tuanya mendengarkan permainan pianonya. Kemudian menepuk kepalanya dan mengatakan jika permainannya sangat bagus. Sudah lama sekali. Dan sekarang ia tak pernah mendengarkan pendapat orang mengenai permainan pianonya. Mau bagaimana lagi? Sudah beberapa tahun ia tak menyentuh atau memainkan piano. Ia terlalu sibuk untuk balapan liar atau berkelahi.

"Apa aku masih bisa memainkannya ya?" Naruto tersenyum tipis. Perlahan ia pejamkan matanya kemudian menekan tuts-tuts piano sesuai dengan apa yang pernah ia pelajari dulu. Walau sudah lama, ingatannya tentang notasi beberapa lagu masih cukup tajam. Akhirnya ia memainkannya. Membuat sebuah alunan yang sangat indah.

Fur Elise.

Tanpa disadarinya, banyak siswa yang berkumpul di depan pintu kamarnya untuk mendengarkan permainan pianonya. Mereka sangat takjub mendengarkannya. Suara piano yang dimainkan memang sangat indah, membuat hati tenang dan menjadi semangat.

Sementara itu, Naruto terus memainkannya. Dan saat matanya terbuka, sebuah memori kembali terlintas dalam pikirannya.

"Kakashi, aku mencintaimu,"

"Ughh, Minto-san"

"Kau sangat menggoda Kakashi,"

Naruto menekan beberapa tuts dengan telapak tangannya. Membuat nada yang sangat kacau dan membuat beberapa telinga sakit. Namun ia tak mempedulikan semua itu.

Ia membencinya.

Pria itu menghancurkan kehidupannya.

"Brengsek!" umpatnya sembari mengacak rambut palsunya hingga terlepas. Setelah itu ia segera bergegas menuju kamar mandi. Sekarang ia butuh sesuatu untuk mendinginkan kepalanya yang serasa meledak.

.

.

Sasuke menaikan sedikit alisnya begitu mendapati kamarnya ramai dikerumuni beberapa siswa. Tak biasanya.

"Permisi, apa yang sedang terjadi?" tanya Sasuke yang langsung membuat semua mata yang tadi mengerumuni kamar Sasuke menoleh dan memandang Sasuke dengan tatapan percaya.

"Jadi bukan kau yang memainkan piano itu Uchiha-san?" tanya salah seorang siswa.

Sasuke menaikan sebelah alisnya, "Piano? Dari tadi aku tak ada di kamar,"

Mereka semua mengangguk kemudian memberi jalan pada Sasuke ketika pemuda itu hendak masuk ke dalam kamarnya sendiri. Dan ia sedikit bingung ketika mendapati kamarnya kosong. Namun setelah mendengar suara shower, Sasuke jadi mendengus. Ia yakin jika Naruto ada di dalam dan yang memainkan piano tadi adalah pemuda itu. Tapi Sasuke juga sedikit penasaran tentang permainan piano Naruto hingga membuat beberapa anak berkumpul di depan kamarnya. Sebenarnya sebagus apa? Apa dia lebih mahir dibandingkan dengannya?

Lalu, saat ia duduk di jendela besar yang ada di kamar asramanya dan memandang sekeliling, ia sedikit heran ketika melihat sebuah rambut palsu yang ada di dekat piano. Hitam.

Kreek.

Sasuke segera mengalihkan pandangannya pada pintu kamar mandi yang terbuka. Dan begitu ia melihat siapa yang keluar dari sana, tubuhnya serasa membeku.

Kini, dalam iris matanya yang hitam, ia melihat seorang pemuda tan yang hanya memakai handuk kecil untuk menutupi pinggang ke bawah. Dan sebuah handuk lagi yang bergelantung di lehernya. Tubuhnya masih sedikit basah mengkilat karena pantulan matahari sore. Lalu, rambutnya yang basah dan berantakan terlihat unik dengan warna kuning menyala. Mata pemuda itu yang biru terlihat sangat indah. Dan jangan lupakan tiga goresan di pipinya yang membuatnya tampak manis.

Sasuke menelan ludanya paksa ketika merasakan detak jantungnya yang tiba-tiba saja berpacu cepat. Pemandangan yang tersodor di hadapannya ini begitu menggodanya sebagai seorang homoseksual –bahkan Sasuke yakin seorang laki-laki normal juga akan tergoda melihat tubuh bak malaikat milik pemuda asing di hadapannya.

Libidonya naik begitu saja.

"Angel," ujar Sasuke tanpa sadar.

"HAH?"

Sasuke sadar begitu sebuah pekikan dari pemuda di hadapannya. Ia segera menggelengkan kepalanya dan mencoba bersikap cool walau jantungnya masih saja berdetak kencang. Perlahan ia bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan mendekati pemuda kuning itu lalu berhenti beberapa meter di hadapannya. "Siapa kau?" tanya Sasuke sedatar yang ia bisa.

Pemuda berambut kuning itu hanya menghela nafas kecil. "Naruto," ujarnya pelan. Dia tak peduli dengan penampilannya yang sudah terbongkar di hadapan Sasuke. Toh hanya satu orang. Lagipula dia bisa menghajar Sasuke kapanpun ia mau jika si Uchiha yang satu ini berniat untuk mengancamnya dengan berkata akan membocorkan penampilannya. "Aku. Naruto."

Dan memang benar dia adalah Naruto. Inilah penampilan sebenarnya Naruto. Namun Sasuke tak percaya begitu saja. Jadi, ketika Naruto hendak pergi dari hadapannya, ia segera berniat menarik tangan Naruto untuk meminta penjelasannya. Sayangnya yang Sasuke tarik bukanlah tangan Naruto, melainkan handuk kecil yang melilit tubuh Naruto –dan itu tak sengaja. Percayalah.

Alhasil handuk itu lepas. Dan tubuh Naruto kini telanjang total.

Wajah kedua pemuda itu memerah.

Sasuke memerah karena malu.

Sedangkan Naruto memerah menahan amarah karena Sasuke terus memandang setiap inci tubuhnya tanpa berkedip.

"TEME BRENGSEKKKK!" teriaknya kencang.

Dan beberapa menit kemudian terdengar suara barang-barang terlempar yang cukup keras hingga membuat beberapa orang yang kebetulan lewat menjadi ketakukan. Dan tak sedikit dari mereka yang berlari kencang untuk meninggalkan ruangan yang beraura hitam itu.

"JANGAN LARI KAU! AKU AKAN MEMBUNUHMU UCHIHA MESUM!"

"KEMBALI KEMARI BRENGSEK!"

.

.

TBC

.

.