Every Good Thing Must Come to an End
.
.
Title:
Every Good Thing Must Come to an End
Author:
Elixir Edlar
Disclaimer:
All cast belong to God, their parents and Bighit. Ent. I do not own the characters.
I have full authority for the story
Special for:
The End of HHYH Era
.
.
Warning:
Implicit Sex Scene
Read on your own consent, thank you!
.
.
.
.
BGM: Taeyang – Eyes, Nose, Lips
.
Jungkook benci dikuasai—(ia ingin menguasai).
Jungkook benci didominasi—(ia ingin mendominasi).
Jungkook benci dimonopoli—(ia ingin memonopoli).
Jungkook benci didianggap lemah—(ia tidak lemah).
Jungkook benci disebut pihak bawah—(ia pihak atas).
Jungkook benci menjadi pendesah—(ia penggeram).
Jungkook benci menjadi submisif—(ia dominatif).
.
.
Jungkook benci ketika Taehyung mengecup punggung tangannya, membelainya lembut bak memperlakukan seorang puteri.
Jungkook itu Pangeran, bukan sang Puteri.
Jungkook benci ketika Taehyung mengecup dahinya dengan lembut.
Kecupan di dahi baginya adalah tanda submisivitas, ia tak suka.
Ia ingin jadi pihak yang mengecup bukan yang dikecup.
Jungkook benci ketika Taehyung mencium pipinya dengan sayang.
Kecupan di pipi menunjukkan versatilitas. Jungkook merasa ambigu.
Sebenarnya apa posisinya?
Jungkook benci ketika Taehyung melumat bibirnya penuh gairah.
Menurut Jungkook, lumatan di bibir sekadar ritual wajib yang dilakukan oleh sepasang kekasih pada umumnya.
Jungkook benci ketika lidah Taehyung mulai menjelajahi setiap inchi rongga mulutnya.
Berperang lidah dengan lidah, bertukar saliva, saling menggigit dan berpagutan mesra.
Hingga akhirnya kehabisan persediaan oksigen di kantung paru keduanya.
Jungkook benci berperang lidah—karena ia selalu sengaja mengalah.
Sengaja mengalah untuk mengingatkan statusnya sebagai bagian bawah dalam hubungan keduanya.
Jungkook benci ketika Taehyung membelai pipinya, menelusuri leher dan memberikan hisapan-hisapan—meninggalkan cupang kemerahan yang lama-lama berganti menjadi keunguan.
Begitu juga cintanya pada Taehyung yang telah berubah menjadi ungu tanpa meninggalkan jejak merah sedikit pun.
Jungkook benci ketika Taehyung menarik tangannya, menguncinya, dan membatasi pergerakannya di atas ranjang.
Jungkook benci ketika Taehyung menindihnya, memonopolinya, dan menggerayangi tubuhnya.
Jungkook benci ketika Taehyung menyobek kaosnya, mengekspos torsonya yang begitu sempurna.
Jungkok benci ketika Taehyung mendaratkan kecupan-kecupan kecil di seluruh leher, dada dan perutnya.
Jungkook benci ketika Taehyung menjilat, mengigit, mengulum, dan menghisap putingnya kuat-kuat.
Jungkook benci menggelinjang keenakan oleh semua yang Taehyung lakukan.
Jungkook benci ketika Taehyung melucuti celana panjangnya.
Menyisakan sebuah boxer yang menampilkan paha mulus dan kaki jenjangnya.
Jungkook benci ketika jemari panjang Taehyung menelusuri bagian bawah tubuhnya.
Jungkook benci ketika Taehyung menyusuri telapak kakinya, betisnya, pahanya, hingga sesuatu yang menonjol di bawah pinggangnya.
Jungkook benci ketika Taehyung bermain-main dengan paha dalamnya, menjilat dan mengecupi kulitnya berulang-ulang.
Menimbulkan sensasi menggelitik di dalam perutnya.
Jungkook lebih benci ketika Taehyung mendaratkan kedua belahan bibirnya untuk memanjakan setiap inchi kulit tubuhnya yang polos.
Ketika Taehyung mulai menjilat, menghisap, menggigit dahinya, pipinya, hidungnya, telinganya, dan bibirnya, kemudian turun ke lehernya, pundaknya, dadanya, putingnya, perutnya, pinggangnya, pinggulnya, dan sesuatu di antara selangkangannya—
Berhenti!
Cukup sampai di sini.
Jungkook sudah tidak tahan lagi.
"Hyung, aku tidak bisa..."
Jungkook memunguti pakaiannya yang berserakan, mengabaikan tonjolan keras di balik celananya.
Mengabaikan pula rasa sakit akibat hasrat yang tak tersampaikan pada miliknya.
Jungkook memakai kembali celana panjang beserta jaketnya. Bajunya yang robek dipungut lalu diselipkan ke dalam dada—di balik jaketnya.
"Maafkan aku Hyung..."
Jungkook meninggalkan Taehyung yang masih berusaha memahami apa yang terjadi pada mereka.
Ia tahu bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Jungkook yang kedelapan belas.
Sesuai janjinya dahulu, ia akan menyentuh Jungkook di usianya yang kedelapan belas.
Taehyung hanya ingin menepati janjinya. Itu saja.
Namun ternyata keadaan tidak semudah yang dibayangkan olehnya.
Semua kemungkinan bisa terjadi.
Bahkan yang paling tidak dinginkan sekali pun.
Seakan-akan mimpi buruknya menjadi kenyataan.
.
.
Tiga tahun jalinan cinta yang mereka bangun akhirnya kandas.
Semua kenangan manis dan cerita indah, kini hilang sudah.
Hilang tanpa bekas pula tak ingin meninggalkan bekas.
Semua bahagia dan ceria terampas, begitu saja lepas.
Hanya dengan sebuah kalimat singkat,
"Hyung, ayo kita putus..."
Dan berakhirlah semuanya.
Taehyung merasa bodoh.
Taehyung merasa sangat bodoh.
Semua pertanda yang ada ia abaikan.
Berpura-pura bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Berharap masalahnya akan berlalu dan berjalan seperti biasanya.
Meyakinkan dirinya bahwa ia bahagia bersama cinta sejatinya.
Memantapkan hati bahwa mereka akan bersama selamanya.
Kejenuhannya dianggap luapan rindu yang tak tersampaikan semata.
Hasrat ia sebut cinta, gairah ia sebut kasih, dan birahi ia sebut asmara.
Obsesi ia sebut perhatian, dan dominasi ia sebut perlindungan
Salah!
Kau salah Kim Taehyung!
.
.
Cinta itu bagai layang-layang.
Tarik ulurlah sesuai kebutuhan.
Ditarik berlebihan ia putus.
Diulur berlebihan ia menghilang.
.
Cinta bagai sebutir telur.
Genggam sewajarnya.
Lemah membuatnya jatuh—dan pecah.
Keras membuatnya remuk—dan hancur.
.
Cinta itu bagai tanaman.
Sinari dan sirami secukupnya.
Kebanyakan sinar ia layu kepanasan.
Kebanyakan air ia pun layu membusuk.
.
Semua hal baik akan menemui akhirnya...
Adalah hal yang disadari Taehyung belakangan.
Taehyung menyesal, terlalu menyesal.
Bibir manis yang biasa memberinya kecupan manis,
Bibir sama pula yang menyatakan kata putus.
Taehyung patah hati.
Taehyung serasa ingin mati.
Tanpa Jungkook hidupnya tiada berarti.
Taehyung ingin Jungkook datang sekali lagi.
Datang sekali lagi untuk menyaksikan akhir hidupnya di dunia ini.
Taehyung ingin Jungkook melihatnya untuk terakhir kali.
Taehyung ingin melihat senyum mantan kekasihnya kali ini.
Hanya kali ini, sebelum ia akhirnya mati.
Dan tak akan pernah kembali lagi.
(Ciyeeeeee...sumpah gua enek nulisnya, menye-menye memble seriusan deh #Hueeek!)
.
Taehyung kini menyadari,
Ego, obsesi, monopoli, dan dominasi,
Benar-benar mengekang Jungkook hingga ke ulu hati.
Sampai-sampai membuat rasa cintanya pun akhirnya mati.
Taehyung sadar Jungkook lelah dengan semua ini.
Taehyung sadar kepergian kekasihnya itu akibat ulahnya sendiri.
Ia rasakan detak Jantungnya semakin melemah di dada sebelah kiri.
Rasanya seperti terbakar api abadi.
Sungguh menyakitkan menyebutnya sebagai,
Sebuah memori.
"Untuk mantan kekasih hati..."
"Jungkookie..."
.
e.N.d
.
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook menyentuh tubuhnya sendiri
Bermain solo di kamar mandi
Memandangi foto seorang lelaki
Miliknya digenggam di tangan kiri
Meneriakkan puncak birahi
"Jiminnieeehhhh!"
.
.
Every Good Thing Must Come to an End©2016
~Remvong eh Ramvung~
.
.
Senin, 15 Agustus 2016
12:47 PM
.
Note:
Gua tahu kok ini absurd, ngetroll pula di belakang. Kan kampret.
Menurut gua pribadi, ini ficlet terbangsat yang pernah gua buat beb.
Background music : Taeyang – Eyes, Nose, Lips, di saat hujan di siang hari.
Pikiran tiba-tiba berimaji, korbannya Taehyung dan Jungkookie #Bhaks!
Taehyung mati? Jungkook ena-ena sendiri? Jimin buat gua aja sini~
Maafkeun saya yang lagi absurd hari ini.
Lagi dalam proses melanjutkan fic AS, TH, puyeng karena lagi nyari esensi.
Kalo yang DL mah udah selesai. Tinggal pos doank si~
#Gak ada yang baca juga keleus
Eh kalo ada, baca juga ff lamaku yang RUN itu humor! Humor coy bukan horror! tapi udah dihapus
Hahahaa...Why so Serious, mmuuaah!
.
.
P.S: HYYH ERA ended already, I'll never forget my most beautiful moment in life with BTS. Okay...I LOVE YOU BANGTAN BOYS!
