Somebody will come here
Naruto's character belong to masashi kishimoto-sensei
I'm just own the plot.
Chapter dua.
Enjoy ^^^^^^^^^^^^^XD
Di dalam mobil mewah itu keringat dingin mulai mengucur di kening Hyuuga Neji, giginya bergemeletuk, dan ia terus-terusan mengetuk stir mobil dengan jemarinya. Sesekali Neji melirik handphonenya dengan gusar dan mengernyitkan dahinya. Ia benar-benar panik saat ini.
Bagaimana tidak, sejak istirahat tadi Sasuke tidak juga kembali ke kelasnya, Neji bahkan membolos dari pelajaran untuk mencari Sasuke di seluruh penjuru sekolah yang sangat luas itu. Neji sudah mencarinya dengan sabar dan teliti, namun nihil, temannya itu tak ada di manapun.
Neji tidak bisa menghubungi Sasuke karena handphone dan tas Sasuke di tinggal di kelas. Sudah hampir satu jam setelah bel sekolah berbunyi. Neji mulai frustasi, ia sudah lelah mencari Sasuke kemana-mana dan sekarang ia benar-benar takut bila terjadi sesuatu dengan Sasuke.
"Neji!" Seseorang mengetuk kaca mobil Neji, nafasnya terengah-engah. Dengan segera Neji membuka pintu bangku penumpangnya.
"Itachi-san! A-aku.." Neji bingung harus bicara apa dengan seseorang yang baru saja duduk di sampingnya itu.
Beberapa menit lalu Neji yang sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi akhirnya memutuskan untuk menghubungi Itachi dan melaporkan padanya kalau adik bungsunya tiba-tiba hilang dari kelas. Sebenarnya Neji tidak mau menelpon Itachi bila mengingat kakak Sasuke itu sangat sibuk sekarang ini, terlebih mobil Itachi juga sedang di bengkel.
"Sasuke… di mana dia?" Tanya Itachi dengan nada cemas. Neji menggeleng.
"tidak ada, aku sudah mencarinya ke seluruh sekolah, aku sudah menunggunya lama di sini tapi dia tidak muncul juga." Suara Neji makin melemah.
"kenapa dia bisa gak ada?! Kalau terjadi sesuatu dengannya gimana?!" Itachi mulai meninggikan suaranya, hampir kalap.
Itachi memang selalu berlebihan jika berhubungan dengan Sasuke, Neji memakluminya karena bagi Itachi hanya Sasuke lah keluarga satu-satunya yang ia punya kini. Seumur hidupnya, dia berjanji tidak akan memaafkan dirinya bila terjadi sesuatu dengan Sasuke atau bila dia lalai dalam mengurusi Sasuke.
"Itachi-san tenanglah.."
"aku mana mungkin bisa tenang Hyuuga Neji!"
Neji agak tersentak, dia memang sudah menduga kalau reaksi Itachi akan seperti ini, tapi tetap saja mental Neji tidak siap dengan bentakan yang mendadak itu. Seluruh tangannya mulai terasa dingin, badannya nyaris gemetar.
"Ne-Neji… maaf.." sesal Itachi sambil memandang lavender yang agak goyah itu. Neji mengangguk.
Itachi menarik nafas dalam-dalam lantas memeluk kekasihnya itu dan membelai surai tipisnya. tidak seharusnya ia melampiaskan kegelisahannya pada Neji, Neji tidak salah apa-apa di sini dan pemuda itu pasti sudah berusaha keras mencari Sasuke, terlihat dari wajah Neji yang kelalahan. Neji juga pasti panik seharian tadi. Itachi mencium bibir Neji singkat.
"kau sudah mencari Sasuke di seluruh sekolah?" kata Itachi, kali ini suaranya jauh lebih lembut.
"ya, aku sampai membolos tadi. Aku yakin dia tidak ada dimanapun" kata Neji. Matanya melirik tas Sasuke yang tergeletak di bangku belakang mobilnya. Pikiran Neji melayang, entah kemana pemilik tas berwarna hitam itu berada saat ini, apa dia baik-baik saja, tidak tahukah dia kalau kakak dan temannya ini sangat mengkhawatirkannya.
"Neji, kita pulang. Kita tunggu Sasuke di rumah." Kata Itachi sambil melepaskan pelukannya dari Neji dengan hati-hati.
Neji mengagguk sekali lagi, Sasuke tidak ada di seantero sekolah, kalau pun nanti Sasuke kembali mungkin ia akan pulang ke rumahnya. Neji memasang seatbeltnya dan menghidupkan mesin mobil mewah itu. Di sebelahnya Itachi masih terlihat tegang, meskipun tidak setegang tadi.
XXX
"Teme, aku capek. Kamu ngajak main roller coaster berapa kali, huh?" kata Naruto sambil megap-megap mencari udara karena kelelahan, ia merasakan kepalanya pusing dan entah untuk yang keberapa kalinya ia merasakan perutnya mual.
"baru juga 5 kali. Dasar cemen." Kata Sasuke datar. Ia memandang Naruto dengan tatapan meremehkan.
"sudah cukup, aku gak akan terpancing lagi dengan mu." Naruto mendudukan dirinya di bangku yang ada di dekatnya dengan kasar ia tidak habis pikir dengan kelakuan senpai nya itu.
Tadi siang setelah adegan perkenalan merka berdua. Tiba-tiba Sasuke meminta atau bisa dibilang memaksa adik tingkatnya itu untuk pergi menemaninya membolos dari sekolah untuk melepas stress. Naruto yang awalnya menolak pada akhirnya tak bisa untuk tidak menururti ajakan Sasuke. Karena itulah sekarang mereka di sini, di taman ria.
Sasuke duduk di samping Naruto dengan tenang, matanya menerawang jauh memandang langit, saat ini pikirannya entah kemana. Bayangan Neji kembali muncul lagi di benaknya, meskipun sudah naik roller coaster berkali-kali tapi hatinya tetap tidak bisa berpaling dari pemuda bersurai panjang itu. Sasuke memejamkan matanya, ia mencari apa yang salah dengan dirinya.
"hei, Teme!" teriakan Naruto membuat Sasuke membuka matanya lebar-lebar. Wajah manis berwarna tan itu memenuhi pandangan matanya saat ini.
"ada apa sih?" Sasuke agak kesal karena iba-tiba di kagetkan begitu.
"sesuai janjiku tadi.. ini balon untukmu, aku kasihnkarena kamu sudah berenti nangis!"
Naruto tersenyum lebar sambil tangannya yang memegang balon berwarna hijau ter ulur kepada Sasuke.
"Hah? Balon?!" Sasuke nyaris melotot dan tidak tau mau berbicara apa lagi. Yang benar saja, masa dia benar-benar di kasih balon sih dengan adik tingkatnya itu.
Duar!
Tanpa memakan waktu lebih lama Sasuke menusuk balon itu dengan kukunya. Balon hijau itu kini sudah tak terbentuk lagi. Sasuke menyeringai. Naruto menganga.
"TEME! Aku beli balon itu pakai uang loh!" Naruto menjambak rambutnya sendiri dengan geram saat memandang wajah stoic-tak-merasa-berdosa nya Sasuke.
"Dobe, kau kira aku anak kecil apa!" Sasuke menghela nafas.
"tapi jangan langsung di pecahin gitu dong! Aku sakit hati nih!" Naruto pura-pura terluka.
Sasuke mengangkat ujung bibirnya. "hahahahaha" pemuda berdarah Uchiha itu tidak bisa menahan tawanya melihat tampang Naruto saat ini. Baru kali ini dia menemukan orang seunik Naruto seumur hidupnya. Bisa-bisanya kouhai pirang itu berpikir untuk memberikan balon pada Sasuke.
"kejam! Kau kejam Teme!"
"pfftt.. maaf.. maaf.. aku reflect memecahkannya tadi. hahaha" Sasuke masih memegangi perutnya yang masih geli.
Naruto pura-pura terus merengek pada Sasuke yang sedang mentertawakannya, tapi siapa yang tahu kalau ternyata pemuda yang lebih muda setahun itu sedang tersenyum senang dalam hatinya ketika melihat Sasuke yang kembali tertawa. Diam-diam Naruto menyimpan fenomena itu di dalam hatinya.
Sasuke menyudahi tawanya dan memandang tepat di keindahan batu safir milik Naruto. Tangannya mengusap dan mengacak surai pirang tersebut dengan gemas. Dalam hatinya ia berterima kasih pada adik tingkatnya itu. Hari ini Naruto sangat berjasa pada dirinya.
"aku lapar, kau harus mentraktir ku makan, dobe!" kata Sasuke lantas bangkit dari bangku yang tadi ia duduki itu.
"tidaaak, kau yang lapar kenapa harus aku yang mentraktirmu" keluh Naruto, ia melihat dompet bermotif katak nya yang makin tirus karena seharian ini mentraktir Sasuke.
"cepatlah.. habis itu kita langsung pulang!" kalimat Sasuke seperti kalimat perintah. Naruto yang sudah tidak bisa membantah lagi hanya mendengus kencang dibelakang Sasuke.
XXX
Di kediaman Uchiha, Neji duduk di sofa sambil menundukan kepalanya ia sudah capek melihat Itachi yang sedari tadi berjalan mondar mandir di depannya. Itachi hanya duduk sesekali saat Neji menyuruhnya tenang, tapi baru saja duduk semenit kemudian Itachi berdiri lagi untuk jalan mondar-mandir.
Neji menghela nafas, matanya memandang gelas kosong bekas teh manis buatannya yang baru saja habis di minum oleh Itachi itu. Sudah tiga jam berlalu, sebentar lagi langit akan mengganti warnanya, tapi si bungsu Uchiha itu tidak juga muncul.
Neji mengatupkan kedua tangannya, ia berdoa semoga tidak terjadi hal-hal buruk pada temannya itu.
Krieek..
Suara pintu terbuka dan seberkas sinar yang kekuningan masuk dalam ruang tamu, kepala Sasuke menyembul dari pintu.
"Sasuke!" Itachi langsung menghambur dan memeluk Sasuke sangat erat. Ia bersyukur karena adik semata wayangnya kembali.
"Aniki, sesak…"
"Sasuke! Kau tidak apa-apa? Ada yang luka?" dengan segera Sasuke menyentuh tubuh Sasuke memastikan kalau tidak ada yang kurang dari diri otoutonya itu. Memastikan kalau Sasuke baik-baik saja.
"aku tidak apa-apa aniki."
"syukurlah…" Itachi kembali memeluk adiknya lagi dengan erat, tadi ia benar-benar takut kalau adiknya kenapa-kenapa. Sekarang hati nya benar-benar lega karena Sasuke sudah kembali. Rasanya ia ingin menangis.
Neji bangkit dari duduknya sambil tersenyum lega, ia menghampiri dan berdiri di hadapan kakak-beradik yang sedang berpelukan itu.
"aku kaget karena kau tiba-tiba hilang tadi. Aku dan Itachi-san hamp—"
"DIAM!"
Neji dan Itachi kaget bersamaan saat mendengar teriakan Sasuke yang barusan memotong ucapan Neji.
"ada apa Sasuke?" Tanya Itachi tidak mengerti. Apa yang terjadi pada adiknya itu?
Neji membuka mulutnya lagi, tangannya berusaha meraih tangan Sasuke.
"Sasuke, ak—"
"KAU TULI?! AKU MENYURUH MU DIAM, NEJI!" kali ini Sasuke memekik sambil menepis tangan Neji. Neji dan Itachi saling berpandangan. Neji mulai ketakutan meskipun ia tidak mengerti kenapa Sasuke membentaknya. Apa salahnya?
"Sasuke, kau capek? Sebenarnya ada apa?" Itachi mengusap kepala adiknya, rasa panik mulai menjalar lagi di sekujur tubuhnya. Takut-takut kalau adiknya kesurupan atau apa. Tidak biasanya Sasuke membentak Neji, bahkan rasanya tidak mungkin Sasuke membentak Neji. Kecuali…
"aniki, lepas. Aku mau tidur. Kalian berdua pacaran saja sana!" Sasuke menyingkirkan Itachi dari tubuhnya, sembari itu matanya kini menatap tajam pada Neji. Tatapan itu sangat dingin bagaikan pedang dari es yang akan menusuk tubuh Neji pada detik itu.
"Sasuke tunggu!" Itachi segera mengejar Sasuke saat Sasuke mulai berlari dan menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
Di sana Neji masih tercengang, ia tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Seingatnya ia tidak melakukan kesalahan apapun pada Sasuke, tapi kenapa tiba-tiba Sasuke bersikap begitu padanya. Dan lagi, apa maksud ucapan Sasuke barusan?
Neji mendengar suara geduran pintu dan suara Itachi yang terus menerus memanggil Sasuke di atas sana. Tubuh Neji kembali lemas. Ia mencoba berpikir sebenarnya apa yang sudah ia lakukan seharian ini.
Cukup lama ia berpikir tapi ia sama sekali tidak menemukan jawabannya.
"Neji…" suara yang pelan.
Pemilik nama itu menoleh ke arah tangga, dia tidak sadar kalau Itachi sudah ada di sana. Neji melangkahkan kaki nya pelan-pelan ke arah Itachi, ia ingin bertanya pada Itachi tentang apa yang terjadi sebenarnya. Ia ingin Itachi bilang padanya kalau semuanya baik-baik saja, ia ingin..
"Neji kita putus." Kalimat Itachi sukses membuat manik lavender Neji melotot.
"i-Itachi-san.. sebenarnya ada apa?"kata pemuda itu mulai gagap, matanya kini terlihat nanar.
Itachi memalingkan wajahnya dari pandangan Neji sambil mengepalkan tangannya erat-erat. Hatinya saat ini benar-benar kacau balau dan pikirannya pun kusut.
"aku sudah bilang padamu untuk merahasiakan hubungan kita, terlebih dari Sasuke. KENAPA KAU TIDAK MENDENGARKU?!"
"aku tidak bilang apa-apa pada Sasuke! Sumpah!"
"KALAU GITU BAGAIMANA SASUKE BISA TAHU, HYUUGA NEJI!?"
Neji terdiam sekuat tenaga ia menahan airmatanya agar tidak keluar saat kalimat-kalimat dari Itachi itu perlahan menyakiti telinga dan perasaannya. Tubuhnya makin lemas.
"sekarang pergilah, jangan perlihatkan wajahmu di depanku lagi." Kata Itachi lagi. Matanya menatap ingin pada Neji yang makin lemas itu. Neji menggigit bibirnya untuk menahan air mata.
"Nggak adil, aku nggak tahu apa salahku.. Kenapa hanya aku yang disalahkan?!"
Neji mememejamkan matanya, tangannya terkepal makin kuat, beberapa detik berlalu namun tidak ada jawaban apapun dari Itachi.
"baik, aku pergi dari sini." Neji membalikan badannya dan mengambil langkah cepat untuk keluar dari rumah itu.
Bebera saat kemudian Itachi mendengar deru mesin mobil yang mengamuk dari halamannya.
"hati-hati.. Neji.." suara Itachi mulai terdengar parau.
Kepala keluarga Uchiha itu terduduk lesu di lantai, kekuatan yang menopang kakinya terasa hilang entah kemana. Tadi Itachi sempat melihat saat air mata merembes dari bola lavender Neji. Dan itu membuatnya benar-benar pilu.
"SIAL!" Itachi merutuki dirinya sendiri, rasanya ia tidak akan memaafkan dirinya setelah ini.
Dia tidak ingin membuat Neji menangis, sungguh ia juga terluka saat menyaksikan orang yang benar-benar ia cintai itu terluka karena dirinya sendiri.
Dia percaya sepenuhnya dengan ucapan Neji. Dia tahu tidak seharusnya dia menyalahkan Neji. Dia tahu tadi siang Neji juga berusaha mencari Sasuke. Dia tahu kalau tadi Neji juga sama paniknya dengan dirinya. Tapi kenapa hanya Neji yang di salahkan.
"maaf… maaf Neji.. aku mencintaimu…"
Tanpa terasa mata onyx yang selalu terlihat gagah itu mulai basah. Itachi menutup matanya perlahan. Dalam hatinya ia berharap semoga Neji baik-baik saja.
TBC
Makasih buat yang udah review kemarin..
Maksih buat yang baca FF saya.
Saya sangat menghargainyaaa hohoho
Kalau mau me-review lagi bolehh.
Ah, Maaf kalo banyak typo berkeliaran.
Sankyuuuuuuuuuuuu minna-san
