"Ini semua adalah gara-garamu! Kau gila, kau sinting, kau tidak berperasaan, dan kau egois! Kau mengumpankan diriku pada bossmu yang gila itu, dia mantan temanku ya Tuhan! Dan kau membuat kami bertemu lagi, Karin kau – benar-benar sangat menyebalkan." Sakura menatap sebal kearah Karin yang berwajah tanpa dosa.
Melihat saudaranya yang mengumpat tidak jelas hanya membuat Karin menautkan kedua alisnya. "Maksudmu, kau bertemu lagi dengan Sasuke-sama? Jadi lelaki yang kau bicarakan padaku sewaktu kau masih SMP adalah Sasuke-sama, begitu?" tanya Karin memastikan.
"Y-ya tentu saja, yang mana lagi. Bukankah dia satu-satunya lelaki didunia ini yang arrogant?" Sakura tidak mau kalah, ia membalas ucapan Karin dengan menggebu-gebu, hampir saja dirinya ditelanjangi lelaki itu jika saja tidak ada salah satu managernya yang memaksa masuk dengan alasan berkas yang harus segera ditanda tangani.
Tapi jika tidak, Sakura bisa memastikan apa yang menjadi ancaman terpenting dalam hidupnya. Ia bisa dipastikan pulang dengan kehilanga harga diri yang teramat sangat dijaganya. "Tapi kau masih belum lupa dengan sosoknya 'kan? Mengapa tidak kau kencani saja dia? Ayolah Sakura, itu adalah masa sebelum kau puber, saat anak-anak berubah menjadi gadis karena masa puber maka daya tariknya akan tinggi, dan sekarang daya tarikmu sudah sangat tinggi, karena kau sudah bukan gadis lagi!" sahut Karin asal, ia memandang Sakura dengan sebuah senyuman misterius.
"Kau gila? Mengencani orang sepertinya adalah sebuah masalah besar, jika saja Suigetsu tahu dengan kelakuanmu padaku seperti ini, hubungan kalian akan merenggang! Sudah bisa dipastikan jika, ia tidak menyangka seorang Karin yang selalu menjaga image didepannya akan berbalik dengan Karin yang dikenal saudaranya jika ia tidak ada." Ancaman yang mematikan bagi wanita seperti Karin yang saat ini hanya dapat menelan salivanya susah payah.
"Sakura, kalau kau bicara pada Suigetsu dan tidak memenuhi permintaanku, akan kukirim kau pada Sasuke-sama, dari ceritamu tadi bukankah bossku itu tertarik padamu? Jadi, sebuah kejutan bagi teman lamamu itu saat saudaramu yang cantik ini memberikanmu secara tiba-tiba dan tanpa alasan!"
Sakura terperanjat kaget, Karin akan melakukan apa yang diucapkannya jika ia sedang terdesak atau ini adalah caranya membalas sebuah ancaman. "Kau tidak akan sebegitu tega padaku bodoh! Aku tahu siapa dirimu, meskipun kita sering bertengar tapi aku tahu kau tidak memiliki pemikiran seburuk itu bukan?" tanya Sakura serius, keringatnya membanjiri hampir searea pelipis.
"Memang, hipotesamu benar Sakura, aku tidak pernah mengumpankan dirimu pada siapapun tapi pengecualian untuk Sasuke, aku tidak akan seformal itu memanggilnya didepanmu. Jadi, karena dia pengecualian kau tahu apa maksudku?" Karin mengedipkan sebelah matanya, menatap Sakura penuh arti sampai wanita itu benar-benar hanya bisa membuang muka.
"Jangan bercanda!"
"Mengapa harus? Sejauh ini kau tidak pernah berpacaran 'kan?"
"Pernah! Tapi –
"Ayolah cara berpacaranmu itu kekanak-kanakan, sekarang mari kuajarkan bagaimana berpacaran dengan serius. Karena jika tidak dengan Sasuke maka aku tidak yakin kau memiliki waktu untuk berpacaran!"
"Tapi bagaimana bisa kau seyakin itu dengan ucapanmu Karin bodoh?"
"Tentu saja bisa, karena aku punya waktu cukup lama 5 bulan membuatmu menyatu bersama bossku, oh Tuhan aku tidak bisa membayangkan seorang wanita gila kerja seperti Sakura akan berjalan dipelaminan bersama dengan pria setampan Sasuke yang siap menikahinya. Bukankah itu menarik?"
"Sialan."
~Me Without You~
Naruto © Masashi Kishimoto
...
CHAPTER 2
"Cukup"
.
.
.
.
.
Sasuke & Sakura
Romance Drama
T+ (Dimasukan untuk rated M)
.
.
.
.
.
Happy reading!
Sakura mengendikan bahunya saat Karin bertanya ia akan pergi kemana di hari yang masih sangat pagi ini. Rasa kesalnya sedang membuncah ssekarang, dan itu semua membuatnya tidak bisa menjawab pertanyaan Karin. Ia hanya memakan serangkap roti untuk menemaninya pergi bekerja ke perusahaan Uchiha.
Menyebalkan memang, tapi malam tadi berakhir dirinya yang mengalah atas keinginan Karin dan ancaman wanita itu yang menyangkut Ibunya. Karena hal itu, Sakura tetap melaksanakan keinginan Karin dengan terpaksa dan kini ia sedang menunggu bus dihalte depan apartemen saudaranya.
Kepalanya terus menengok kearah kanan dan kiri tanpa henti, hanya pengisi waktu karena ia tahu kapan waktunya bus akan lewat didepan halte. 2 menit lagi, dan Sakura hanya menghela nafasnya pendek.
Satu bus lewat setelah 2 menit pas, ia menunggunya. Tidak banyak orang dihalte sehingga Sakura masih ada kesempatan untuk duduk di salah satu kursi. Ia duduk bersampingan dengan seorang anak SMA berhedphone dan menutup kedua matanya.
"Hei bocah, kalau kau akan berangkat kesekolah kau tidak boleh tidur seperti ini!" cerocos Sakura dengan membenarkan letak kepala siswa itu dari lehernya, ia mencebik sebal karena headphone yang melingkari leher dan menutupi telinganya membuat siswa itu tidak bisa mendengar apa yang ia katakan.
"Aku mencintaimu." Ia mengigau dan Sakura tertegun mendengar ungkapan tidak sengaja yang ia dengar dari sampingnya. "Kau tidak mengerti perasaanku." Lanjutnya tapi kali ini membuat Sakura menegakan tubuhnya dengan alis yang terangkat satu.
"Bangun!" Sakura menggerakan bahu lelaki yang ia taksir beda 6 tahun dari usianya sekarang. "Bocah cepat bangun atau kalau tidak bus ini bisa melewati sekolahmu!" Sakura akhirnya melepas headphone yang dikenakan lelaki itu, membuatnya membuka mata dengan kesadaran yang belum terkumpul.
Ia memandang keheranan kearah Sakura dan seolah wanita itu mengusik tidurnya, ia memakai lagi headphone nya dan mencoba tertidur kembali.
"Dia mengabaikanku rupanya." Gumam Sakura berusaha menyabarkan dirinya sendiri.
Astaga! Perusahaan Uchiha baru saja terlewati! "Berhenti!" menyebalkan, ini semua pasti karena bocah sialan yang sibuk tidur disampingnya. "Dasar kau! Kau membuatku sial selain bossku yang sialan, kau orang kedua yang membawa petaka! Baik, kalian berdua adalah sumber sial ku, hari ini." Umpat Sakura meskipun ia sudah turun dari bus sesaat setelah ia membayar.
Ia berlari kecil menuju parkiran perusahaan, beberapa pasang mata karyawan menatapnya dengan aneh dan ada juga yang menatapnya tergoda. Padahal Sakura sama sekali tidak ada niatan untuk menjadi wanita yang nakal. Itu hanya pandangan berbagai karyawan saja karena mereka berpikir ia adalah orang yang baru mengajukan lamaran kerja.
"Kau terlambat masuk, gadisku." Suara Sasuke dibelakangnya, Sakura segera mempercepat langkahnya tapi sayang lengan kekar itu melingkari area tubuhnya sampai Sakura berhenti berjalan sejenak.
Beberapa pasang mata yang sejak tadi mencuri pandang kearah Sakura sekarang secara terang-terangan menatap gadis itu. Bagaimana bisa, saat presiden direktur yang baru menjabat lagi memeluknya dengan sensual dari belakang.
"Apalagi? Aku sudah cukup sial terlambat sampai diperusahaanmu karena bocah sialan, sekarang kau yang menghalangi jalanku, apa maumu Sasuke? Keinginanmu yang tergagalkan seharusnya membuatmu sadar, karena kau tidak akan bisa lagi angkuh didepanku!" sahut Sakura ketus, ia menekuk wajahnya dan menatap tidak suka pada siapapun karyawan yang sengaja dan kebetulan melihatnya.
"Mengapa harus terburu-buru? Santai saja Sakura, ini perusahaanku, perusahaan Uchiha, satpam disini sudah mendapat ijinku jika kau terlambat sampai lima bulan kedepan. Oh ya, apa tadi? Bocah sialan? Jadi sekarang kau memutuskan beralih profesi menjadi brondong karena tidak mendapatkanku? Menyedihkan." Sasuke terdengar menyindir hal ini membuat Sakura sangat ingin memberikan sebuah pukulan dikepalanya sampai ia sadar sedang berinteraksi dengan siapa.
"Sasuke, lepaskan! Ini semua tidak bak. Derajatmu akan turun dengan menunjukan kau sedang memelukku seperti ini pada mereka." Sakura mencoba menyunggingkan senyuman tipis. Tentu saja ia berusaha membohongi perasaannya jika pelukan Sasuke memang sesuatu yang ia mau.
Lelaki itu melepaskan pelukannya, menuruti keinginan Sakura dan berjalan mendahului wanita itu tanpa menolehkan kepalanya kearah belakang –lagi. Apa yang di inginkan lelaki itu?
Sasuke pergi dari jangkauannya, dan kekehan-kekehan menyebalkan mulai terdengar dari sana-sini. Tidak hanya itu, secara terang-terangan mereka menuding dan menilai Sakura jika ia sebatas pemuas nafsu atasan mereka. "Anggap ini alunan musik yang merdu. Ya, tentu saja!" Sakura mengedikan bahunya pelan dan kembali melangkahkan kakinya menjauh dari hal-hal yang tidak mau lagi ia lihat.
Apakah ia berdosa jika membunuh atasannya sendiri?
.
.
.
"Panggilkan Sakura." Sasuke menyeringai, ia meminta tolong pada cleaning service yang baru saja mengantarkan kopi langganannya. Apapun pekerjaan mereka, Sasuke senang memberikan sebuah perintah baru yang melenceng dari tugasnya.
Ia mengangguk dan mengulum senyum sebelum menutup pintu yang sengaja tidak Sasuke masukan kodenya. Ia mengetuk-ngetuk jarinya kemeja kerja. Tidak ada satupun notifikasi di ponsel dan laporan dokumen yang harus di tanda, Sakura pun jadi, untuk mengisi waktu luangnya.
Sasuke menebak, jika wanita yang seusianya itu sedang berpikir keras dengan apa yang Sasuke inginkan sampai dirinya terpanggil. Lamunannya buyar saat beberapa kali ketukan dipintu ruangan menyadarkannya. "Masuk."
Sosok merah muda yang berwajah datar memasuki ruangannya dengan menarik nafas dalam-dalam. "Mau apa kau?" Sakura hanya berdiam diri di pintu yang baru saja ia tutup rapat. Pandangannya menatap Sasuke tidak suka, bagaimanapun ia masih teringat dengan permainan lelaki itu padanya pagi hari ini.
"Hn, kau tidak baik berbicara seperti itu pada atasanmu." Sahut Sasuke membalas dengan sebuah sindiran dan dengusan sebal. "Duduk." Lanjutnya, kali ini ekspresi Sasuke terlihat serius, namun sebelum Sakura benar-benar duduk didepannya, ia sudah mengunci pintu ruangan dengan beberapa digit kode secara cepat.
Sakura duduk berhadapan dengannya, ia menyilangkan kakinya keatas begitupun dengan kedua tangannya. "Katakan, apa keinginanmu memanggilku kemari tuan." Ujar Sakura menatap sinis.
Sesaat Sasuke tidak memberikan jawaban apapun, ia hanya memandang wanita itu lekat-lekat kemudian tertawa pelan. "Keinginanku? Benarkah kau akan memenuhinya?" tanya Sasuke menautkan kedua alisnya, sebetulnya ekspresi seperti ini hanya beberapa orang saja yang pernah melihatnya, karena Sasuke seperti halnya wanita merah muda ini. Sama-sama berusaha menjaga image.
Sakura menggeleng cepat, ia mendeham saat kembali ingatan menyebalkan itu berputar di memori kepalanya. "Tentu saja bukan begitu, aku juga akan memilah keinginan apa yang patut kupenuhi." Ralat Sakura.
"Aku ambil ucapan awalmu."
Mata emerald hijaunya membulat. "Maksudmu?"
"Aku tertarik untuk melanjutkan sesuatu yang belum selesai." Ucapannya begitu ambigu sehingga Sakura menelan ludahnya susah payah.
"Jangan berpikir hal yang aneh-aneh!" Sakura membalas cepat.
"Memangnya kau bisa tahu apa yang ada dalam otakku Sakura?" lagi, pertanyaan yang diajukan Sasuke begitu teka-teki. "Aku sudah punya tunangan."
"A-Apa?" Sakura menganga kemudian ia membuang mukanya, apa Sasuke berniat menjebaknya sekarang? Tenang saja, karena wanita ini sudah siap untuk melupakan sosok Sasuke jika kenyataan yang ia dapat mengharuskannya begitu.
Dapat! Ia bisa melihat gerakan wajah Sakura yang berubah emosi dengan begitu cepat. Sasuke menyeringai, meskipun ia mengatakan hal yang sebenarnya tapi menggoda wanita itu bukan ide yang buruk. "Ya, kau pikir lelaki turunan Uchiha akan sulit mendapatkan wanita?" nada suaranya membuat dada Sakura memanas. "Aku hanya terikat perjodohan untuk kerja sama perusahaan, tapi jika kau bersedia menikah denganku, tentu saja hal itu tidak berarti sama sekali." Sasuke menyeruput kopinya dengan tenang, berbalik dengan dada Sakura yang berpacu dua kali kecepatannya.
"Sasuke kau pikir aku masih menyukaimu? –
"Tentu. Aku bisa dapatkan buktinya, mari kita putar kamera CCTV ruangan ini." Sela Sasuke memandang Sakura sehingga wanita itu kikuk sendiri.
"Tapi dugaanmu itu salah! Meskipun kau memang tidak berbeda dengan dirimu dulu mau itu secara fisik atau kepribadian, tetap saja kali ini aku sudah berhasil melupakan sosok Sasuke yang menyebalkan!"
"Benarkah?"
Sakura menganggukan kepalanya tanpa keraguan sedikitpun. "Tanda tangani ini." Tangan Sasuke mengeluarkan sebuah map yang berisikan selembaran dokumen. Ia terlihat datar lagi saat mengatakan perintah itu pada Sakura yang mengernyit bingung.
"Apa ini?"
"Tanda saja, sudah lambat, gila, kau juga terlalu banyak bertanya." Sanggah Sasuke dari jawaban yang sebetulnya bisa ia jelaskan dengan kalimat yang sangat singkat. Sakura tidak membaca isinya, dan Sasuke semakin menyeringai saat wanita itu menanda pada akhirnya.
Sakura sodorkan lagi map berisi berkas yang salah satunya sudah ia tandatangani. "Jadi, jelaskan apa itu? Kau mengira aku gila, lambat, terlalu banyak bertanya karena aku belum menanda tanganinya. Sekarang, aku akan menilai dirimu rendahan saat kau mengatakan tidak tahu apa arti berkas yang kau serahkan padaku."
Sasuke memasukan map itu kedalam lacinya, ia mengirim pesan pada seseorang dan belum kunjung memberikan jawaban atas pertanyaan teman semasa SMP nya tersebut. "Apa tadi?" selesai, Sasuke kembali menengadahkan wajahnya menatap Sakura.
"Isi berkas yang kutanda tadi." Sahut Sakuta to the point.
"Pernikahan secara hukum."
Kedua bola mata emerald nya membulat, Sakura dengan mulutnya yang menganga berdiri dengan tubuh yang menegang. "Kau gila! Berikan berkas tadi!" sahutnya nyaris mengamuk.
Dalam hati, Sasuke bersyukur memilih ruangannya kedap suara. Padahal, ia tidak menduga akan bertemu dengan wanita yang merupakan teman SMP nya dan hampir setiap valentine ia mengirim bunga maupun coklat kedalam laci dan tentu saja Sasuke buang.
"Kau tidak mendengarku Sasuke? Sebenarnya apa maumu?"
"Bantu aku gagalkan perjodohan." Sasuke menatap datar, ia tidak bergerak dan tidak menampilkan rasa takut sedikitpun saat Sakura mengoceh bahkan sekarang menampilkan raut marahnya.
"Kau ingin menggagalkannya? Mengapa dulu kau terima kalau begitu!?" ini adalah pertanyaan yang klise digunakan untuk menjebak seseorang yang ada dalam posisi sama dengan Sasuke.
"Duduk, saat kau berdiri aku merasa berbicara dengan kolot." Sindir Sasuke, pintu ruangannya diketuk dari luar dan wajah Kakashi terlihat disana saat Sasuke membuka kodenya.
"Ini. Simpan ini dirumahku, urus semua yang diperlukan dan kabari aku jika selesai." Ucap Sasuke tidak menganggap keberadaan Sakura yang berapi-api didepannya. Sejenak Kakashi terlihat khawatir dengan nasib tuannya karena melihat ekspresi yang Sakura tunjukan, tapi lelaki muda itu meyakinkan Kakashi dari tatapannya.
Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan Kakashi membungkukan badannya, meminta ijin untuk pergi yang segera Sasuke setujui, lagi pula ia akan kembali berurusan dengan wanita ini. "Sasuke –
"Sebentar." Ia harus memasukan kode pintunya agar Sakura tidak bisa lari.
"Aku tidak mau menikah denganmu, kumohon ..." ia tidak peduli harus berwajah memelas atau memohon sekalipun asalkan –
"Tentu saja, aku juga tidak mau menikah denganmu." Jawab Sasuke cuek.
"Lalu? Berkas tadi apa artinya? Syukurlah –
"Perjodohan. Ini April mop 'kan?"
Tangannya mengepal Sakura menggertakan gigi-giginya marah, ia memandang Sasuke gemas dan lelaki itu yang sibuk tertawa saat melihat ekspresi wajahnya yang terus berubah-ubah.
"Sasuke ini bukan lelucon!"
"Aku tahu."
"Kenapa kau tertawa?"
"Terserah padaku."
"Kau – bagaimana rumah tanggaku bersama orang gila sepertimu?" teriak Sakura histeris, ia menjambak rambutnya sendiri. "Aku bisa sinting jika seharian bersamamu Sasuke, apalagi jika kita benar-benar menjadi pasangan suami istri? Bisa cepat gila!" lanjut Sakura semakin histeris.
Sasuke berdiri mendekat kearah Sakura yang memundurkan langkahnya dan menahan tubuh Sasuke untuk tidak menempel dengan tubuhnya. "Kau bicara apa? Kau tidak yakin aku bisa membahagiakanmu, Hn?" tanya Sasuke menempelkan tubuhnya dengan tubuh Sakura.
"Jauhkan tubuhmu, mengapa kau senang sekali menempel denganku seperti kemarin terakhir kali kita bertemu? Sasuke, kau membuatmu muak!" sahut Sakura, ia mendorong Sasuke sekuat tenaga meskipun lelaki itu tidak bergeming sama sekali.
"Kau membenciku Sakura?" ucapan Sasuke seketika membuatnya berhenti berontak. Mata wanita itu berair, dan Sakura tidak menatap tepat pada iris hitam Sasuke lagi. Sialan, ini membuat harga diri wanitanya hancur.
"Kau masih bertanya hal yang seharusnya kau tahu." Sahut Sakura menyeka air matanya, tubuh nya yang menempel dengan tubuh Sasuke membuat ia kesulitan bernafas.
"Kalau begitu buktian. Benci artianmu itu setelah pernikahan kita, kuberi kau waktu selama dua bulan setelah pernikahan. Jika kau memang tidak bisa bahagia, aku setuju untuk berpisah."
Sakura terperanjat kaget, ia mengerutkan keningnya. "Kapan rencanamu kita menikah?" tanyanya penasaran sekaligus serius, ada satu gejolak dalam hatinya yang meluap-luap karena ucapan Sasuke yang sebenarnya membuat darah dalam diri Sakura panas.
"Tiga bulan dari sekarang, mulai minggu depan ada banyak jadwal meating. Bulan depan, aku akan pergi dari Konoha. Satu bulan setelahnya untuk mempersiapkan semua yang dibutuhkan dalam pernikahan. Dan kau, bisa memberikan keputusan dari sekarang." Terang Sasuke menjelaskan secara gamblang, sebenarnya ia tidak harus berbicara panjang-panjang, tapi tak apa. Anggap saja sebagai tebusan dosanya yang sempat melukai wanita itu sampai ia membencinya bukan main.
"Sasuke menjauhlah, aku sesak!"
"Tidak. Kau harus membiasakan diri dari sekarang Sakura."
"Apa maksudmu?" keringat sudah membanjiri pelipisnya kali ini. Tidak, sepertinya setiap Sasuke berbicara hal yang ambigu keringat selalu senantiasa mengaliri hampir searea tubuhnya.
Sasuke menyatukan keningnya dengan kening Sakura, ia tersenyum saat wanita itu menahan nafas dengan matanya yang mulai sayu. "Sebelum pertandingan seseorang harus berlatih dengan keras untuk menang, sebelum pernikahan kau harus berusaha untuk tidak pingsan sebelum kita selesai melakukannya."
Sakura bungkam, ia menggertakan giginya. Baru saja dadanya berdesir hangat, tapi sialan ucapan Sasuke yang ini membuat rasa amarahnya kembali lagi. "Pervert!"
.
.
.
"Sasuke-sama, anda akan pulang sekarang?"
Kepalanya mengangguk, tapi anggukannya tidak membuat karyawan cantik dan bertubuh seksi disampingnya puas. Pasalnya, ia tidak terbiasa diam lebih lama dan terlihat menunggu seseorang.
"Sasuke-sama, anda sedang menunggu seseorang?" tanyanya lagi.
Lagi-lagi hanya sebuah anggukan kepala yang diberikan Sasuke.
"Hei kau –maksudku, Sasuke-sama mengapa anda masih disini?" akhirnya, setelah sekian lama mendengar beberapa pertanyaan yang kebetulan tidak dilayangkan satu orang saja, Sakura buru-buru memasukan barang-barangnya dan bersiap segera pulang.
"Menunggumu." Sahut Sasuke datar.
Sakura menganga terkejut, begitu juga dengan wanita yang memicingkan matanya menatap ia tidak suka. Ia tidak menyadari jika Sasuke sudah menyeret sebelah lengannya dan pulang mendahului para karyawan seperti biasa.
"Hentikan. Lagi-lagi, kau bersandiwara!"
Sasuke melepaskan genggaman pada tangannya, ia membuka pintu mobilnya dan menyuruh Sakura cepat masuk meskipun wanita itu bersikeras tidak mau menuruti keinginannya.
"Kau masih ingin disini setelah aku menyuruhmu lekas pulang?" tanya Sasuke kesal.
"Tidak, bukan seperti itu! Jam pulang perusahaan belum pada waktunya, seharusnya kita kembali lagi saja kedalam Sasuke." Bisiknya dan sesekali Sakura menolehkan kepalanya kearah kanan dan kiri.
Sasuke turun dari dalam mobil, ia mendekat kearah Sakura yang masih terdiam disamping parkiran. Ditatapnya lekat wanita itu sebelum tangannya ia selndupkan diantara badan dan belakang lehernya dan menarik Sakura kedalam bibirnya.
Di hadapan umum Sasuke mencium teman semasa SMP nya itu sedang cukup ganas, tidak berperasaan, dan terkesan marah. Sakura tahu ini karena dirinya yang Sasuke pikir bertele-tele dan lelaki itu sudah diambang batas kesadarannya. Tapi justru, Sakura memang menghindari agar ia tidak bisa pulang bersama Sasuke saat ini.
"Tunanganku ada disini, kalau kau nekat untuk tetap diam maka tindakan yang kulakukan akan lebih lagi, Sakura." Ancam Sasuke. "Aku tidak pernah berkata tanpa berpikir." Sahutnya melanjutkan.
Sakura termenung menatap kesekeliling memastikan dan ucapannya memang berbuah fakta. Sasuke mengatakan hal yang sebenarnya karena ada mobil sedan putih dibelakang mereka yang terus diam tapi berisikan seorang wanita didalamnya.
"Bagus." Desisan pelan Sasuke saat Sakura tanpa pikir panjang masuk kedalam mobilnya.
Mereka berdua tidak mengetahui masing-masing orang yang bersangkutan tengah memandang di arah yang berbeda.
TBC
Author Note
Baik, ini banyak kekurangan. Sebenernya mau di update hari Rabu or Jum'at pas bilang kaya gitu, tapi astagaaa aku ga punya banyak waktu abis belajar terus ngantuk banget. Semoga aja suka ya chapter 2 nya, yang kaya acak-acakan ini, tapi spesial nanti chapter 3 nya :')
Makasih banyak untuk :
Srisavers28, echaNM, Narulita as Lita-san, cherry, rimbursa, Tia TakoyakiUchiha, hanazono yuri, donat bunder, ave . maurie, Jamurlumutan462, Kakikuda :), HitsugayaWaifu, dinauchiharuno, Dolphin1099, Greentea Kim, dan HoliHilo. Author sudah lihat semua daftar review, fav, fol ^^ makasihhh banyak untuk yang mendukung fict ini :)
Semoga saja bisa setiap 1 minggu sekali update, kadang aku ga tentu juga update nya atau kadang lagi di undur minggu depannya. Mohon maklum, sampai jumpa di chap berikutnya! ;)
