Warning: Canon—mungkin dichap ini agak berubah menjadi AR karena aku ngerasa mereka agak OOC (khususnya Narusaku) Minim diskrip. Gaje. Membosankan, kayaknya kepanjangan. Heheh #dihajar
Aku dedikasikan juga fik ini untuk my Imouto Sabaku Tema-chan dan Tisa's Flower Re-bloom yang nanti akan menghadapi ujian. Semoga enggak tambah stres apalagi selesai baca fik ini yah. Hahaha #plak. Dan tentunya buat reders lain juga yang lagi ngadepin ujian NYAHAHAHA xD
Disclaimer: MASASHI KISHIMOTO
Spesial thanks to:
Cha-Nichi Kudo Oktora, Hatake Satoshi, Saraphiena, Sukie 'Suu' Foxie, imechan, Mugiwara 'Yukii' UzumakiSakura, ww, ladyavril Haruki, karinuzumaki, Tisa's Flower Re-bloom, Sabaku Tema-chan, uchan disuruh bikin akun, AmarilisBlossom, Masahiro 'Night' Seiran, Shu '7' S-F, Miya-hime Nakashinki, Rinzu15 The 4th Espada, Deidei Rinnepero13, Lhyn hatake, sabaku no ligaara, Ria kishimoto, Haruno Namikaze.
Yak! Just for fun! :D
.
.
.
Gemetar.
Sesak.
Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya.
Yah, itulah yang dirasakan oleh gadis berambut pink itu sekarang. Kaki yang tidak menyentuh tanah karena terangkat oleh salah satu tangan kekar seorang Uchiha tampak terayun penuh perlawanan.
Dengan sangat susah payah, Sakura mencoba meraih satu tangan Sasuke yang kini masih mencekik lehernya. Namun sedetik kemudian, Sakura sudah tidak sanggup lagi menggerakkan organ tangannya tersebut. Kesadarannya pun semakin menipis. Seketika tangannya menjuntai lemas ke bawah. Kakinya yang sempat terayun pun, kini sudah terdiam total.
Boof.
Suara mencurigakan, yang biasa menyertai kepulan asap, terdengar dari arah belakang Sasuke. Hal ini membuat pemuda tersebut sedikit tertarik untuk menoleh. Perlahan ia pun melonggarkan cekikkannya pada leher Sakura dan membuat tubuh yang terbalut kaos merah itu terhempas ke tanah dengan keras.
Meskipun demikian, tetap saja, tidak ada rasa sakit yang dirasakan oleh Sakura. Tidak seujung kuku pun. Bahkan kesadaran pun sudah tidak ia miliki. Hanya ada harapan akan suatu mimpi indah yang dapat menemani gadis yang telah tersakiti baik secara fisik maupun mental tersebut.
Sasuke kini berbalik sepenuhnya untuk melihat siapa yang tengah mendekat. Sementara itu, sang katak kuning mendadak menunjukkan dirinya di belakang Sasuke—dengan disertai kepulan asap. Katak kuning itu pun langsung menjulurkan lidah panjangnya—mengambil kesempatan ini untuk mengambil alih tubuh Sakura yang sedang tidak sadarkan diri—untuk memasukkan tubuh ninja medis itu ke dalam kerongkongannya dengan cepat.
Glek—Dan menelannya.
Pemuda emo dingin itu bahkan tidak sempat menghentikan aksi sang katak. Saat Sasuke tersadar akan hal itu, ia sudah terlambat. Yang sempat ia lihat setelah sang katak kuning menelan Sakura hanyalah sosok samar-samar yang lalu menghilang dalam kepulan asap. Oh, sang katak ternyata sudah sangat pandai bermain-main dengannya.
Sasuke hanya mendecak kecil melihat dirinya yang ternyata dipermainkan oleh seekor katak. Atau sebenarnya... ia-lah yang tengah mempermainkan katak itu? Benarkah ia sama sekali tidak sempat untuk menghentikan aksi katak tersebut? Atau ia dengan sengaja membiarkan katak tersebut membawa pergi Sakura dari hadapannya?
"Konnichiwa, Sasuke!"
Kali ini Sasuke menyeringai ketika mendengar sapaan itu. Suara lantang seorang pemuda yang dikenalinya—walau akhir-akhir ini ia sudah sangat jarang mendapatkan kesempatan untuk mendengarnya. Suara dari pemuda yang sangat ingin ditemui oleh Sasuke. Pemuda yang sangat ingin dibunuhnya!
Sasuke menajamkan penglihatannya dan akhirnya ia berhasil mendapati sosok Naruto yang berdiri tegap bersama dengan dua ekor katak yang berada di belakangnya. Ternyata memang benar dugaan Sasuke, katak nakal tadi adalah kuchiyose milik Naruto.
"Cih! Kenapa kau tidak muncul dari tadi saja?" adalah lemparan kata pertama yang tertuju pada Naruto—yang tentunya diwarnai oleh nada tajam yang disertai dengan dendam.
Naruto menahan napasnya sejenak, "kau tahu? Kau hampir membunuh Sakura-chan!"
"Memang kalian pantas mati. Semua penduduk Konoha itu pantas mati. Terutama dirimu!"
"Oh, begitu ya? Aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Naruto terdiam sebentar. "Kau tidak pernah bilang langsung alasan mengapa kau sangat ingin membunuhku. Bisa kau beri tahu alasannya?"
Sebenarnya Naruto sudah mengetahui alasan yang pasti dari seorang Uchiha yang ada di hadapannya ini. Alasannya sangat klasik; Sasuke hanya membenci Naruto, karena pemuda itu ternyata jauh lebih kuat darinya—malah semenjak mereka masih bersama-sama di akademi dahulu.
Seolah belum cukup, keberadaan seekor Kyuubi yang bersemayam dalam tubuh Naruto menambah kebencian Uchiha muda yang satu itu. Untuk hal ini, mungkin letak kemarahan Sasuke ada pada keputusan Naruto yang memilih untuk tidak memberitahunya ketika semua penduduk Konoha sudah mengetahuinya terlebih dahulu—bahwa Naruto adalah bocah yang menyimpan monster dalam dirinya.
Sepele?
Tapi bagi Sasuke itu membuatnya merasakan suatu… kecemburuan.
Yang terakhir, kematian Itachi pun turut andil untuk membuatnya semakin membenci Konoha dan juga semua orang yang masih membela desa ninja tersembunyi itu—termasuk Naruto .
Intinya, Sasuke cemburu dengan kekuatan Naruto. Atau lebih tepatnya, ia iri!
"Karena aku membencimu dari dulu!" Hanya itu yang keluar dari dalam mulut Sasuke. Bosan rasanya jika harus mendengar kata itu terus. Alasan yang singkat dan sangat sulit dimengerti maknanya.
"Hanya itu?" tanya Naruto berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri. Tapi sia-sia. Toh akhirnya ia tetap tidak percaya bahwa hanya dengan alasan sepele itu Sasuke sampai mempunyai keinginan kuat untuk membunuhnya. "Aku juga dulu sempat membencimu, Sasuke. Maaf..." ujar Naruto lirih. "Awalnya kurasakan itu sebagai suatu bentuk rasa iri padamu. Tapi lama-lama, rasa iri itu berubah menjadi suatu kebencian. Kau pasti tahu apa saja alasanku membencimu. Ya, ada banyak alasan untuk itu." Sesaat Naruto terdiam. "Tapi kupikir lagi, untuk apa aku terus-terusan membencimu? Rasanya capek kalau kebencian itu terus kupendam. Apalagi kau itu kan… temanku! Hahaha!" Di sela-sela pembicaraannya, Naruto menyempatkan diri untuk melepas tawa. Ia tidak mau, pembicaraannya pada Sasuke selalu terasa tegang.
"Sudah kukatakan padamu dari dulu, kau memang tidak mengerti diriku!"
"Maaf, kalau memang aku tidak pernah mengerti. Yang kumengerti hanyalah bahwa aku merasa berterima kasih padamu, Sasuke. Kau sudah mengajarkan arti pertemanan padaku. Dulu," akhirnya Naruto mengucapkan kata-kata yang sangat ingin dikatakannya sedari dulu, "sewaktu kecil, aku tidak pernah tahu arti kata itu. Kupikir kata itu hanya memiliki arti kedekatan saja. Tapi ternyata, dalam pertemanan itu pun terdapat suatu kewajiban yang harus dipenuhi!"
"Sasuke tidak mengharapkanmu, dia sendirilah yang mencari kegelapan."
Kata-kata Gaara di tengah hujan salju tempo hari, membuat Naruto mengingatnya kembali.
"Kalau kau siap mengemban nama Hokage, lakukanlah kewajibanmu."
Sebenarnya perkataan Gaara ini sangat berat untuknya. Sulit bagi Naruto untuk membuat Sasuke kembali sadar. Harus memakai cara apakah agar pemuda Uchiha itu mau mengerti? Walau Sasuke lebih memilih jalan gelap, Naruto yakin bahwa masih ada sisi putih dalam dirinya hingga saat ini. Ada sisi baik dan manis, yang masih enggan untuk menghilang sepenuhnya.
"Aku tahu, kau memang tidak membutuhkan siapa pun, apalagi aku..." Naruto menunduk, menatap nanar tanah yang dipijaknya, seolah tanah itulah yang kini sedang berbicara padanya dan membuatnya merasakan suatu tanggungan beban yang sangat berat.
Sedikit pun hati Sasuke tidak tersentuh pada pembicaraan Naruto. "Aku tidak ingin banyak berbasa-basi!" Sasuke mulai menarik pedangnya dari sarung yang membungkusnya. Ia paling benci kalau harus berbasa-basi, apalagi kalau harus mengungkap masa lalu.
Naruto mulai mengangkat kepalanya dan kembali menatap pemuda emo itu. "Kalau pun aku harus melawanmu, kita tetap berteman, kan?"
Tidak ada sedikit pun perkataan Naruto yang diresap dan dipahaminya. Hati kecilnya benar-benar sudah tertutup dengan kabut hitam yang sulit untuk diusir.
Lagi, Sasuke hanya menyeringai. Entah dari mana asalnya, sebuah hembusan angin menerpa tubuh mereka berdua, seolah semakin mendukung keadaan mereka untuk saling bertarung.
"Naruto, aku siap membantumu."
Suara bisikan dalam tubuh Naruto—Kyuubi- mulai terdengar di telinganya.
"Tidak, aku akan mengalahkannya dengan tanganku sendiri! Bagaimanapun, dia adalah tanggung jawabku!" jawab Naruto tegas. Tentu saja kalau ia mau, kapan pun dan di mana pun ia bisa mengubah dirinya menjadi jelmaan Kyuubi. Bahkan sekarang ia bisa menggunakan kekuatan itu dengan kesadarannya sendiri.
Mata yang semula berwarna hitam, kini perlahan berubah warna. Merah pun menyerbak menguasai kepolosan mata tajam itu—mata merah dengan bintang hitam di tengah pupilnya.
"Aku tidak akan terkecoh dengan jurus sharingan-mu!" Tersadar akan hal yang mungkin diperbuat oleh Sasuke, Naruto berbicara lantang. Kemudian tangannya mulai membentuk segel seperti biasa, "kagebunshin no jutsu!"
Bof! Bof! Bof!
Beberapa clone dari tubuh Naruto menyebar. Bunshin-bunshin itu berdiri bersama di sekitarnya. Hanya beberapa puluh saja yang dikeluarkan Naruto saat itu. Mungkin ia berpikir bahwa jumlah itu cukup untuk membantunya mengalahkan Sasuke.
"Hiyaaa!" beberapa dari bunshin itu maju dan mulai menyerang sosok tubuh Sasuke yang masih berdiri sambil memegang pedang mengkilatnya. Ketika para bunshin itu benar-benar sudah dekat, Sasuke pun langsung menebaskan pedangnya.
Seketika itu pula, para bunshin itu lenyap karena luka yang didapat di sekujur tubuh mereka.
Tapi, kala itu pula Naruto asli menyerang dari atas dan membuat Sasuke harus menghindar ke belakang. Jika ia tetap berdiri di sana. Ia akan merasakan bagaimana rasanya terkena rasengan.
Sementara Naruto kehilangan keseimbangan karena Sasuke menghindar, ia malah menghantamkan rasengan itu pada tanah yang berada di bawahnya.
DUARRR!
Kepulan asap yang diakibatkan rasengan itu mengepul sesaat, ketika asapnya perlahan menghilang Naruto tidak ada. Yang tinggal hanya lobang besar yang diakibatkan olehnya.
Luar biasa.
Bukan hal yang baru bagi Sasuke memang. Mungkin juga baginya itu bukan sesuatu yang menakjubkan karena nyatanya ia tetap memandang datar seperti biasa. Meskipun demikian, suatu kejadian malah yang teringat olehnya sekilas.
Ya. Saat itu.
Ketika mereka berdua—Naruto dan Sasuke—berada di atap rumah sakit dan saling mengadu kekuatan.
Saat itu Sasuke mengeluarkan chidori dan Naruto mengeluarkan rasengan. Jelas-jelas saat itu ia terkejut ketika mengetahui efek dari serangan rasengan. Jujur saja, sekali lagi, ia iri.
Belum selesai Sasuke mengenang masa lalu yang terasa pahit baginya, clone Naruto menyerang kembali dari segala arah.
Ah, sudah cukup! Sasuke sudah lelah terus-terusan menyerang clone Naruto. Sepertinya ia harus mengeluarkan jurus andalannya meskipun akan membuatnya kehilangan banyak chakra.
Sesaat ia memejamkan matanya dan mulai melacak di mana letak Naruto yang asli.
"Amaterasu!" Sasuke yakin, sangat yakin sekali pada penglihatannya bahwa salah satu sosok yang tengah berada di antara para bunshin itu, bukanlah clone Naruto—ia yakin bahwa itu adalah Naruto yang asli!
Dengan seketika, api hitam keluar membakar tubuh Naruto di bagian sekitar dadanya. Awalnya api itu hanya sebuah api kecil yang berputar-putar seperti pusaran gelombang. Lama kelamaan api itu mulai membesar dua kali lipatnya, sebelum api itu membesar lagi untuk yang ketiga kalinya. Meskipun demikian, sesaat setelah api itu membakar targetnya, Sasuke melihat tubuh yang diduganya sebagai tubuh asli Naruto itu berubah menjadi sebuah bayang-bayang.
Dan ternyata api hitam itu hanya membakar bayangan tubuh Naruto. Sedangkan tubuh Naruto asli masih berdiri di tempatnya.
Bayang itu melangkah mundur menjauh dari tubuh Naruto, sampai bayang itu sepenuhnya terselubung api dan lenyap di belakang tubuh pemuda blonde itu.
Tampak cairan merah darah kental merembes dari mata Sasuke. Ia hanya terdiam terpaku di tempatnya, masih dengan tatapan datar. Rasa sakit pada matanya pun sudah biasa ia rasakan, rasa sakit yang seperti ditusuk oleh sebilah pedang tepat pada pupil matanya. Meskipun demikian, Sasuke tetap harus menahan rasa sakit yang dirasakannya. Itulah resiko dari jurus api hitam tersebut.
Trik seperti ini bukan pertama kalinya dilihat oleh Sasuke. Trik ini memang sebuah trik yang ampuh untuk menghindari jurus pupilnya tersebut. Ia ingat sewaktu melawan Ekor Delapan dulu—Bee pernah melakukan jurus seperti itu untuk menghindari amaterasu-nya. Dan satu yang disadarinya, mungkin Naruto sudah berguru pada pria 'tua ceria' itu.
Mendadak, Sasuke merasa ada sesuatu yang menarik tubuhnya dari belakang—mengangkatnya tinggi—membuat matanya terbelalak dan sekujur tubuhnya kaku. Belum sempat ia melakukan apapun, ia merasakan tubuhnya terhempas ke tanah dengan kuat, sampai-sampai tanah yang dipijaknya tadi hancur membentuk lubang yang besar.
DUAR!
Rasa sakit itu sama sekali tidak berarti apa-apa bagi Sasuke. Bagaimanapun, ia sudah pernah merasakan hal yang jauh lebih menyakitkan dari sekedar terbanting ke tanah dengan kuat.
Lagipula…
Bof!
Tubuh Sasuke yang terhempas tadi berubah menjadi sebatang pohon kayu kecil.
"Woi, berubah jadi sebongkah kayu ternyata!"
Naruto hanya bisa menelan ludah ketika ia mengetahui siapa yang telah mengganggu pertarungannya tadi. Pria hebat yang tengah berdiri di tempat Sasuke berdiri tadi ternyata adalah… Bee!
Bee menarik tangannya dan menelengkan kepalanya—seperti seseorang yang tengah melakukan pemanasan sebelum bertarung.
"Ayo, keluar kau Sasuke!"
Lagi, Naruto hanya bisa menelan ludah. Ia malah membayangkan sesuatu yang tidak mengenakkan akan terjadi pada dirinya nanti. Tentu saja, ia merasa bersalah karena ia telah kabur dari latihan.
Pemuda blonde itu menoleh ke kanan dan ke kiri, ternyata kedua katak yang bersamanya tadi menghilang.
Dan... tunggu! Bunshin-nya juga menghilang!
"Ayo keluar kau, Sasuke!" Bee berteriak lagi kepada Sasuke yang entah berada di mana sekarang.
Tahu-tahu di detik berikutnya Sasuke sudah berada di samping Bee. Ia mencoba menusuk Bee dari samping dengan pedangnya. Tapi, Sasuke malah mendapatkan tendangan di perutnya sehingga ia pun terpental jauh, menabrak pohon-pohon yang menghalanginya—ah, tidak, tidak! Pohon yang ditabraknya patah!
Naruto langsung berlari menghampiri Sasuke, ia menjadi tidak tahu harus berbuat apa ketika pemuda emo itu masih terguling lemah di ujung sana.
Wow! Tendangan Bee mungkin sudah menyamai kekuatan Sakura—atau Tsunade?
Naruto berlutut, memastikan apa yang terjadi pada Sasuke, tapi Sasuke tetap saja bergeming di tempat.
"Sasuke? Hei, Sasuke?" jujur saja Naruto tidak tega kalau Sasuke dibantai oleh Bee. Ah, sepertinya tidak apa-apa. Asal jangan dibunuh saja.
Naruto segera menempelkan telinganya pada dada Sasuke, memastikan detak jantung pemuda itu sehabis ditendang Ekor Delapan. Yang Naruto tahu, Bee suka menendang orang dengan kekuatan Hachibi-nya dan hal itu bisa menghancurkan nyaris seluruh organ vital orang yang diserangnya—walaupun hanya dengan sekali tendangan.
"Tenang saja, temanmu tidak apa-apa."
Entah sejak kapan, Bee sudah berada di belakang Naruto.
Naruto langsung menarik tubuhnya dan menoleh ke asal suara. "Apa yang kau lakukan padanya?"
"Dia hanya kubuat pingsan. Mungkin dalam tiga hari lagi dia baru sadar. Dengan begitu dia tidak bisa kabur lagi kan? Huahaha!" Bee malah tertawa nyaring di tempat, tanpa merasa berdosa sedikit pun.
Naruto meletakkan tubuh Sasuke dengan perlahan ke tanah, "padahal aku yang ingin bertarung dengannya, tapi kau malah datang tiba-tiba dan mengganggu pertarungan kami!" protes Naruto.
"Woi! Kau yang salah! Kau sendiri kabur dari latihan!" Bee langsung menyembur anak didiknya itu karena Naruto tidak menyadari apa yang sudah ia perbuat.
Naruto menjadi terkesiap takut. Bisa-bisanya Bee menyusulnya sampai kemari hanya karena ia kabur dari latihan!
Tiba-tiba Gamakichi dan Gamatatsu keluar dari semak-semak dan mendekat pada mereka.
"Hehehe, maaf." Naruto malah melebarkan cengirannya di depan Bee—membuat Bee sweatdrop di tempat. Lalu ia melirik pada kedua katak yang sempat kabur sewaktu ia melawan Sasuke. "Ke mana saja sih kalian tadi?"
"Ehehe." Gamakichi dan Gamatatsu hanya nyengir lebar, mengikuti kebiasaan sang tuan itu sendiri.
Kalau sudah begini Naruto pun sudah tidak bisa bicara apa-apa lagi. Sementara, Bee hanya bisa menghela napas melihat kenakalan muridnya. Padahal ia berencana tidak akan melatih Naruto lagi apabila pemuda blonde itu benar-benar kabur dari latihannya.
Tidak akan pernah lagi. Tapi melihat sifat polos anak didiknya itu, mau tidak mau, Bee pun jadi mengurungkan niatnya tersebut. "Hah, yang penting kau tidak lengah sewaktu melawannya! Tapi kenapa kau tidak menggunakan pedang seperti yang ia lakukan?"
"A-aku kan belum menguasainya, bagaimana sih!" elak Naruto sambil menyipitkan matanya kesal. Lalu, ia teringat akan sesuatu. "Oh iya, Gamakichi keluarkan Sakura-chan," pinta Naruto pada sang katak kuning.
Gamakichi mengangguk lalu sesaat kemudian, dengan perlahan, ia menjulurkan lidahnya yang panjang—menunjukkan sosok Sakura yang berada dalam lilitan lidahnya.
"Perlahan-lahan saja menjatuhkannya ke tanah!" perintah Naruto.
"Oh, ternyata kau mau menolong teman perempuanmu yang ini," ungkap Bee seolah baru mengerti dengan keadaan yang ada.
"Ehehehe! Iya!" Kemudian pandangan Naruto beralih pada Sakura. Untung saja ia menggunakan jurus pembaca alamnya—mode sennin, sehingga ia dapat menemukan keberadaan Sakura tepat pada waktunya. Ah, sedikit terlambat memang. Tapi setidaknya, Sasuke tidak sempat melakukan apapun pada gadis itu.
"Pelan-pelan, Gamakichi!"
Gamakichi mengangguk, kemudian ia menurunkan Sakura dengan perlahan. Seolah hendak menguji sang katak, seekor lalat tiba-tiba terbang di sekitarnya. Entah dari mana lalat tersebut, yang jelas, sang lalat sepertinya cukup menarik untuk dapat membuat sang katak kuning ini berpaling.
Gamatatsu hanya bisa menghela napas melihat tingkah childish adiknya. Dan ternyata dugaan Gamatatsu benar, Gamakichi lebih memilih menghempaskan tubuh Sakura karena ingin menangkap lalat yang berseliweran di saat yang tidak tepat itu.
"Woi! Woi! Apa yang kau lakukan!" Pemuda blonde itu mencak-mencak di tempat karena teman satu tim-nya diperlakukan kasar oleh seekor katak.
Sedangkan yang melakukan perbuatan tadi, lebih memilih untuk berkonsentrasi mengunyah lalat yang dirasanya enak itu—dan mengabaikan Naruto yang sedang protes.
"Uhuk! Uhuk!" Masih dalam keadaan berbaring, Sakura terbatuk. Sedikit cairan darah keluar dari dalam rongga mulutnya. Tapi setidaknya, ia tampak baik-baik saja.
Melihat itu Naruto langsung mendekat dan duduk di sampingnya. "Sakura-chan?" Naruto meraih tangan Sakura dan menggenggamnya. Terasa dingin.
"Sepertinya dia tidak apa-apa," ungkap Bee memberi pendapat.
Tidak sampai hitungan menit, akhirnya mata Sakura terbuka. Hanya mengerjab sesaat namun kemudian mata itu tertutup lagi, seolah mata itu menginginkan istirahat yang tenang untuk sekarang.
"Biarkan dia istirahat dulu," ujar Bee kembali setelah ia sedikit memperhatikan gerak-gerik pemuda itu di depan Sakura, "biar kita saja yang membantu mereka berperang. Kita ke tempat Kabuto sekarang!"
"Ke tempat Kabuto? Memangnya kau tahu?"
"Tentu saja! Aku sudah tahu semuanya, aku tadi sempat bertemu dengan salah satu dari klan Aburame."
Bee mengingat kembali sesaat sebelum ia kemari—ia sempat bertemu dengan salah seorang klan Aburame—entah siapa namanya. Ia bertemu dengan orang itu di perbatasan antara desa Konoha dengan rute ini. Dan ia pun sempat bertanya akan suatu hal.
"Ngomong-ngomong…Yamato, gurumu, menghilang."
"Apa?" ujar Naruto tidak percaya. Hatinya terkejut karena baru saja mendapatkan kabar buruk.
"Makanya, kita harus bergegas untuk menyelamatkannya!"
"Aku tidak percaya! Tidak akan kumaafkan mereka!" Naruto menjadi berapi-api mendengar hal itu.
Sebenarnya salah satu klan Aburame itu sempat menahan Bee untuk membantu dalam perang ini. Tapi dengan niat yang kuat, akhirnya ia memperbolehkan Bee melakukan apa yang ia mau—dalam hal ini, Bee hendak menyusul Naruto meskipun ia tidak memberitahukannya pada klan Aburame tersebut. Ia menyembunyikan fakta bahwa Naruto sedang berada di luar arena latihan sekarang.
Kalau saja penduduk Konoha tahu bahwa Naruto sedang keluar dari arena latihan, mereka pasti akan marah besar. Karena jelas, tujuan dari perang ini adalah mengambil alih tubuh Hachibi yang bersemayam di tubuh Bee dan Kyuubi yang bersemayam di tubuh Naruto.
Kalau mereka berdua yang turun tangan, itu sama saja artinya dengan menyerahkan diri mereka pada musuh, bukan?
Mungkin, mereka merendahkan kekuatan Bee dan Naruto untuk menghadapi perang ini—atau mungkin mereka tidak ingin mendengar kalau Bee dan Naruto akan terluka. Ah, pokoknya alasan dari mereka belum diketahui. Yang pasti mereka tidak memperbolehkan Bee dan Naruto turun tangan! Mereka tidak memberikan alasan yang pasti!
"Anggap saja misi kita menyelamatkan Yamato adalah sebuah latihan. Kau tidak lupa bahwa sekarang masih waktu latihanmu, kan?"
Naruto tersentak kaget, ia tidak menyangka kalau tawaran menggiurkan itu meluncur dari mulut Bee. Padahal sempat melintas dalam pikirannya tadi bahwa ia bakal dihukum besar-besaran karena kabur dari latihan. Lalu, ia pasti akan diseret paksa untuk pulang sampai ke tempat latihan tadi.
"Baiklah kalau begitu!" Pemuda blonde itu berdiri dari duduknya, "Gamakichi, tolong jaga Sakura dan Sasuke. Gamatatsu, kau..." Naruto terdiam sebentar memikirkan tugas apa yang cocok untuk sang katak tua. "Kau jaga Gamakichi saja! Ehehehe."
"Hah!" Gamatatsu hanya bisa sweatdrop mendengar itu. Sedangkan Gamakichi tadi ternyata sudah menghilang dari tempatnya berdiri. Mungkin ia sedang mencari lalat-lalat di tempat lain.
"Eh, ke mana Gamakichi?"
Dan payahnya Naruto dan Gamatatsu baru menyadari hal itu.
.
.
.
"Kalian bawa saja Sakura ke gunung tempat Naruto latihan tadi." Entah karena apa Bee malah berbicara seperti itu kepada kedua katak yang telah berada di depannya. "Tenang saja, di sana aman. Dan aku rasa, kalau dia dibawa ke Konoha, keselamatannya belum tentu terjamin. Kalau soal Sasuke, kalian juga bisa membawanya ke sana. Tidak perlu khawatir, dia tidak akan sadar sampai tiga hari."
Kedua sang katak itu dengan polosnya mengangguk bersamaan.
"Dan jangan ke mana-mana sebelum aku memanggil kalian," timpal Naruto dengan disertai anggukan Bee. "Kami tidak akan lama dan membuang waktu."
"Ngomong-ngomong, aku rasa di ransel Sakura ada obat untuknya," sela Gamakichi asal. "Dia kan ninja medis?"
"Hm, benar juga, kadang-kadang kau pintar juga ya adikku?" timpal Gamatatsu.
"Yah, kalian berikan saja obat itu padanya. Tapi jangan asal memberikan obat, nanti dia malah tambah parah," ujar Bee tenang.
"Awas ya, kalau terjadi apa-apa dengan Sakura-chan, kau tidak akan mendapatkan snack dariku!" tambah Naruto dengan nada horornya sembari melipat lengan di depan dadanya.
Saat ini, Sakura dan Sasuke sudah berada dalam tubuh Gamakichi. Untuk sekarang gadis berambut merah muda itu terbilang aman. Kalau pun Sasuke bangun pada saat ia berada di dalam tubuh katak itu, tentu saja ia tidak bisa meronta. Yang ada ia malah dicerna oleh lambung Gamakichi.
"Baiklah."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, kedua katak tersebut undur diri dari hadapan mereka berdua dengan disertai kepulan asap.
'Bof.'
"Baiklah, sekarang silahkan kau melacak keberadaan mereka." Bee menyuruh Naruto untuk mengaktifkan mode sennin-nya. Tidak ada cara lain selain cara ini untuk melacak keberadaan musuh.
Sesaat Naruto hanya mengangguk. Kemudian ia duduk bersila dan memejamkan mata. Naruto harus dalam keadaan tenang dan diam ketika menggunakan jurus ini, karena jurus ini memanfaatkan energi alam yang berada di sekitarnya.
Bisa dilihat di sekitar matanya ada lingkaran kemerahan yang mulai menyerupai mata katak. Perubahan fisiknya itu memang kerap kali terjadi sebagai akibat dari jurus alam ini.
Bee juga tidak tinggal diam. Ia membantu Naruto untuk melacak jejak Yamato serta tempat persembunyian Kabuto berada.
"Ketemu!"
.
.
.
DUAR!
DUAR!
DUAR!
Secara tiba-tiba bagian salah satu gua yang kini dipijak oleh Tobi dan Kabuto hancur karena suatu serangan. Sepertinya ada chakra angin yang mengakibatkan gua ini terasa bergetar.
Tidak mengejutkan bagi mereka berdua memang. Mereka masih berdiri diam terpaku dengan tubuh Yamato yang berada di depannya.
Kalau saja topeng baru Tobi tidak ada, mungkin bisa dilihat sekarang ia sedang menyeringai tajam.
Sampai detik ini gua itu masih bergetar hebat seperti akan hancur, membiarkan salah satu bagian gua itu mempersilahkan cahaya masuk akibat lubang serangan—yang berada di ujung gua sana.
Sesuatu yang dirasakan oleh Tobi, ada chakra yang kuat.
Tidak, mungkin lebih tepatnya ada dua jenis chakra Bijuu yang berada di luar sana.
Tidak mau menunggu lama, akhirnya dua sosok yang menjadi penyebab jebolnya gua itu kini secepat kilat sudah ada di hadapan mereka berdua.
Dan ternyata benar, kedua shinobi yang merusak gua itu memang sang Jinchuuriki Hachibi dan Naruto.
Mata Naruto terbelalak ketika ia melihat sosok tubuh Yamato tergeletak di depan mereka. Belum lagi melihat sosok Kabuto sekarang.
Kabuto lebih mirip seperti monster yang memiliki sebuah ekor—seperti halnya sosok tubuh boneka Sasori—Hiruko terdahulu.
Mungkin perubahan itu adalah suatu efek samping yang muncul karena pria ninja medis itu menggunakan jurus terlarangnya.
"Ternyata kalian sudah mengetahui tempat ini juga, ya?" Kabuto sedikit mengangkat kaca matanya, kemudian pandangannya beralih kepada kedua tamu yang tidak diundang itu.
"Hm, jadi... kau yang bernama Kabuto itu?" Bee melipat tangan di depan dadanya sembari mengawasi sosok tubuh Kabuto.
Kabuto hanya menyeringai tipis karena mendengar Bee berkata seperti itu. Ia tidak pernah mengharapkan bahwa ia akan cukup dikenal oleh orang luar.
"Oleh-olehmu sudah datang, Kabuto. Bunuh mereka dan hidupkan kembali seperti yang lain!"
Setelah berkata demikian Tobi menyingkir dari sana—seketika ia menghilang dari pandangan mereka seperti tertelan dimensi. Entah kemana perginya pria bertopeng itu yang pasti ia sedang tidak dalam mood baik untuk bertarung. Jelas saja, karena Tobi sudah memberikan sebagian chakra-nya kepada Kabuto untuk menghidupkan para ShinobiAkatsuki yang sudah mati.
Tobi bukannya takut pada kekuatan Kyuubi. Sebenarnya, kalau ia mau, ia bisa saja mengendalikan Kyuubi yang berada di dalam tubuh Naruto itu untuk tunduk kepadanya. Mungkin ia memang tidak ingin mengeluarkan chakra sekarang, makanya ia memutuskan untuk kabur dari sana. Tobi memang tipe petarung yang sabar.
"Hei! Kau mau ke mana?" Naruto terlambat untuk menghentikan langkah Tobi. Padahal ia ingin sekali untuk berbicara dengan pria topeng itu. "Kembalikan Yamato-sensei!" Seperti biasa sikap tak sabaran Naruto pun keluar. Untungnya Bee menahannya dengan kesabaran—sehingga langkah Naruto pun sempat terhenti.
Sepertinya untuk urusan kali ini akan ditangani oleh Kabuto tanpa bantuan Tobi. Ah, sial! Kenapa di saat chakra-nya melemah, mereka malah datang? Padahal penghisapan kekuatan pada tubuh Yamato saja belum selesai.
Apa jangan-jangan Tobi sudah tidak menginginkannya dan berharap ia akan mati di tangan Naruto?
"Ayo, Naruto! Jangan buang waktu lagi!" Bee mulai berlari mendekat ke arah Kabuto dengan ketiga pedangnya. Bee baru memutuskan untuk mengambil tindakan setelah Tobi benar-benar menghilang dari sana.
Tadinya Naruto akan maju, namun melihat Bee yang sibuk menyerang Kabuto dengan pedang-pedangnya ia malah terpesona.
"Waw, sepertinya permainan pedang itu memang asyik," gumam Naruto terpaku di tempat.
Kabuto berkali-kali menghindar dari serangan Bee. Walau gua ini agak gelap, tetap saja tiap serangan Bee terbaca olehnya.
Kalau saja Naruto bukan shinobi—atau hanya manusia biasa, ia pasti tidak bisa melihat pergerakan mereka sama sekali. Karena jelas, serangan beruntun dari Bee benar-benar secepat kilat.
Naruto tersentak tersadar. Ia kemudian mengeluarkan beberapa clone dirinya untuk mengambil alih tubuh Yamato yang masih tergeletak lemah.
"Ayo, kalian bawa Yamato-sensei keluar dari sini!" perintah Naruto pada clone-nya yang sedang menggendong Yamato di punggungnya.
"Baiklah kalau begitu!" Sementara clone-nya sedang menyelesaikan tugasnya, Naruto pun mulai berlari mendekat ke arah Kabuto dan Bee yang masih saling serang dan menghindar.
Sambil berlari, salah satu dari clone Naruto membantunya untuk mengumpulkan chakra angin yang berada di sekitarnya untuk membentuk rasengan.
SAT! Bagian pipi kabuto akhirnya kena!
SAT! Bagian perutnya sedikit tergores!
SAT! Lengan bajunya tersobek!
Sepertinya Kabuto memang sudah kelelahan, dari tadi ia tidak membalas serangan dari Bee, ia hanya bisa menghindar dan menghindar saja.
Bee sadar, Naruto sudah berada di belakangnya dengan membawa rasengan-nya. Kemudian Bee menghentikan serangan—lalu ia melompat tinggi dan mendarat di belakang tubuh Naruto yang siap meluncurkan rasengan-nya.
Kabuto terbelalak kaget mendapati serangan yang berganti dengan rasengan ini. Dengan susah payah Kabuto berusaha untuk menghindar, kalau tidak ia akan...
Greb!
Dirasakan oleh Kabuto, ada yang memegang kedua tangan dan kakinya. Saat ia memastikan apa yang terjadi, ternyata clone Naruto-lah yang melakukannya. Badannya kaku tidak bisa bergerak!
Tamatlah riwayatnya! Ia diserang ramai-ramai!
Kabuto masih sempat memejamkan matanya menunggu rasa sakit yang teramat pada serangan rasengan itu. Tapi rasa sakit itu tidak kunjung datang.
Kabuto mencoba membuka kedua matanya untuk melihat apa yang terjadi. Tentu saja keempat clone Naruto masih tetap memeganginya dengan sangat kuat.
DUAGH!
Satu pukulan mendarat di pipi Kabuto yang diluncurkan oleh Naruto. Bisa dilihat sudut bibir Kabuto sedikit berdarah.
"Kenapa kau melakukan semua ini?"
DUAGH!
Satu lagi, pukulan itu mendarat di pipi sebelahnya.
"Yang kau inginkan hanya aku, kan? Kenapa Konoha juga kalian hancurkan? Kenapa?"
Bertubi-tubi Naruto melayangkan pukulannya di sekitar wajah Kabuto. Membuat Kabuto tertunduk lesu dengan wajah babak belur.
Kaca mata Kabuto terlepas dan jatuh ke bawah menyentuh tanah, membuat kaca itu pecah berkeping-keping.
Walau begitu, dalam keadaan seperti ini, Kabuto masih sempat menyeringai.
Sedangkan Bee masih setia berdiri tegap di belakang Naruto.
Keempat clone Naruto akhirnya melepaskan pegangannya pada Kabuto—membuat tubuh pria itu sepenuhnya jatuh tersungkur ke tanah. Sepertinya chakra pada tubuh Kabuto memang sudah melemah, buktinya ia sudah tidak sanggup lagi untuk membalas serangan Naruto.
Naruto hanya menatap nanar pada tubuh itu, ingin sekali ia menghancurkannya sekarang. Tapi, baginya untuk melenyapkan nyawa orang itu bukanlah hal yang mudah.
Tangan Naruto hanya terkepal menahan emosi yang sedari tadi meledak-ledak. Gemetar tangannya juga dapat dibaca oleh Bee dan Kabuto. Ia sedang menahan amarah. Biasanya kalau amarah Naruto sudah membuncah. Kyuubi pasti merajainya. Untuk kali ini ia tidak muncul.
"Bunuh aku!" Walau suara itu kecil dan terdengar lirih, namun di dalam gua ini masih sangat terdengar jelas, "bunuh aku!" Kabuto berusaha untuk berdiri—tapi melihat itu Naruto kembali melayangkan pukulannya—dan membuat Kabuto kembali tersungkur ke tanah.
Ia mau saja memberikan hadiah rasengan pada pria berambut perak itu. Tapi, ia rasa itu tidak perlu.
"Sepertinya... latihanmu sudah selesai."
"Eh? Sudah selesai?" Naruto menoleh ke belakang, pada Bee yang barusan berbicara. Pemuda blonde itu hanya bisa terdiam di tempat sambil menatap lurus pada Bee.
"Sekarang kau bisa mengendalikan emosimu juga, kan?"
"Maksudmu apa?"
"Dalam latihanku, bukan hanya kekuatan saja yang dilatih. Akal dan kesabaran pun dibutuhkan. Kata Kakashi, kau orangnya tidak sabaran." Bee membaca catatan yang selalu berada dalam sakunya itu. Entah sejak kapan, catatan itu sudah terletak dalam genggamannya.
Naruto hanya nyengir lebar seperti biasa, bisa-bisanya ia dibilang seperti itu. Padahal tadi ia merasakan amarah yang kuat. Tapi sekarang amarah itu sungguh sudah mereda.
Tanpa sepengetahuan Naruto dan Bee, Kabuto membentuk segel sendiri. Ia berniat untuk menghancurkan tempat ini. "Kalau begitu, kita tenggelam bersama-sama saja." Dengan sedikit darah pada jempolnya, Kabuto menekan telapak tangannya pada permukaan lantai gua itu.
Dalam seketika gua menjadi bergetar. Dan Kabuto pun tersungkur kembali ke tanah. Ia benar-benar sudah kehabisan chakra. Penglihatannya pun sudah mengabur.
"Wei, wei! Apa yang terjadi!" Mereka baru merasakan getaran dalam gua tersebut.
Awalnya hanya debu yang turun dari langit-langit gua. Kemudian batu-batu kecil pun berjatuhan.
Naruto menoleh ke belakang melihat keadaan Kabuto.
Kini Bee dan Naruto sadar, yang melakukan hal semacam ini adalah pria berambut perak itu.
"Ayo kita pergi dari sini!" Bee berbalik mendahului Naruto.
Baru saja Naruto akan mengejar langkah Bee, tiba-tiba lengannya merasa sakit. Bukan. Bukan hanya lengannya yang sakit. Tapi seluruh badannya. Apa mungkin ini disebabkan karena ia terus-terusan latihan tanpa henti dengan Bee?
Sungguh! Langkah kakinya benar-benar terasa berat. Sedangkan gua ini, semakin detik semakin menunjukkan keruntuhannya. Pandangan mata Naruto pun mulai mengabur sementara tubuhnya bergetar hebat. Entah karena kondisi tubuhnya yang memang kurang baik atau karena guncangan dari gua ini.
Runtuhan-runtuhan batu gua semakin deras berjatuhan. Gemuruh suaranya pun semakin keras terdengar.
Mendadak, dirasakan oleh Naruto ada sesuatu yang memegang pergelangan kakinya. Dan ternyata itu adalah Kabuto.
Sial!
.
GLEGAAR!
Tidak sampai hitungan jam, gua itu sudah rata dengan tanah. Tidak ada yang dapat membedakan gua itu dengan daratan. Keduanya kini sudah hampir sama.
Saat ini di atas salah satu bahu Bee, Naruto tengah terpejam dan terkulai lemas. Pemuda blonde itu ternyata masih sangat lemah. Ia memang masih terlalu muda untuk mengendalikan chakra Kyuubi dalam tubuhnya, sepertinya Naruto pingsan memang akibat latihan kerasnya.
Kemudian Bee melempar pandangan kembali ke arah gua yang tadi sempat menjadi tempat pertarungannya. Mungkin Kabuto masih berada di dalam sana dan tidak berniat untuk melarikan diri. Pria itu memilih bunuh diri dengan cara hina seperti itu. Untung saja tadi Bee cepat membantu tubuh Naruto yang sempat jatuh tersungkur ke tanah gua. Kalau tidak, Naruto pun akan ikut tertimbun di dalam sana.
Dan untuk urusan Yamato... sepertinya Bee membutuhkan bantuan kuchiyose-nya—untuk membantunya membawa kedua shinobi ini kembali ke Konoha.
Yang penting Yamato sudah berada di tangannya.
Hah! Bee tidak pernah membantu besar-besaran seperti ini pada siapa pun. Baru kali ini ia melakukannya. Tapi, tidak apalah kalau untuk bocah seperti Naruto dan desanya.
.
.
.
Neji akan maju untuk menghadapi Kisame tanpa kepala yang berada di depannya. Tapi, Gai menghalangi langkahnya dengan sebelah tangan. Neji menoleh menatap Gai yang masih menatap lurus ke depan.
Kemudian pandangan Neji beralih kembali ke depan—menatap Kisame tanpa kepala dan tanpa pedangnya serta Itachi yang berdiri di sebelahnya tanpa kedua bola matanya.
Setahu Gai, Kisame kehilangan kepala karena ulah Hachibi. Soal urusan pedang, sepertinya pedang itu sudah kembali ke tangan yang meciptakannya. Sedangkan Itachi, setahu Gai matanya kosong karena ulah Sasuke—ah, tidak, mungkin karena ia sudah menyumbangkan mata itu ke adik kandungnya. Benar-benar mayat hidup yang tidak sempurna untuk dihidupkan kembali.
Baiklah, kalau begitu ini bukan perkara yang susah.
"Hiyaaa!" akhirnya Gai maju mulai menyerang ke arah Kisame, tapi justru Itachi yang maju menangkis tendangannya.
Tim Gai kembali merasakan de javu ketika Kisame mengeluarkan jurus ilusi pada mereka berempat. Tanah yang mereka pijak menjadi air seperti lautan lepas, tanpa ada daratan berwarna coklat sama sekali. Sekarang mereka pun harus berpijak pada air buatan Kisame.
Lee yang sedari tadi diam saja memutuskan untuk maju dan menyerang Itachi dari arah lain, tapi mendadak clone dari air yang menyerupai Kisame datang menghajarnya.
Sepertinya untuk sesaat Tenten dan Neji pun harus memusnahkan clone Kisame sebelum mereka terjebak pada pusaran air yang dapat menghentikan pergerakannya.
Baru saja Tenten mengambil gulungan ninjanya. Ilusi air dari jurus Kisame menghilang seketika beserta clone tubuhnya juga. Kedua Anggota Akatsuki itu tiba-tiba tersungkur di tanah seolah nyawa mereka baru saja tercabut. Padahal sedikitpun Gai belum menyentuhnya.
"Hah? Ada apa ini?"
.
.
.
Dengan cepat Temari menarik kipasnya yang disimpannya di belakang punggungnya. Ia ingin membasmi jarus-jarum yang sedari tadi dilemparkan oleh Sasori.
Baru saja Temari bersiap mengambil posisi untuk mengibaskan kipasnya. Tapi, tiba-tiba jarum itu terjatuh dengan sendirinya sebelum mengenai sasaran.
Sasori yang berdiri tegak di depan mereka, seketika tersungkur di tanah. Dan begitupula dengan semua pasukkan bonekanya. Pasukkan boneka Sasori yang mengudara berjatuhan seperti lalat-lalat yang terkena obat pembasmi serangga.
"Eh?"
Ketiga Sabaku bersaudara itu terpaku di tempat melihat apa yang barusan terjadi. Pasti ada sesuatu yang tengah terjadi di luar sana.
.
.
.
Sama seperti yang lain, shinobi yang sempat bertarung—yang dihidupkan oleh Kabuto kemarin, sekarang mati untuk kedua kalinya. Hanya jasad lusuh yang tinggal tulang-belulang saja yang kembali melemas dan kemudian tersungkur ke tanah.
Ini semua terjadi karena kematian Kabuto. Memang inilah dampak dari jurus tersebut. Setiap jasad yang dihidupkan, hanya akan mati ketika yang melakukan jurus terlarang itu mati. Ternyata kunci untuk membasminya memang terletak pada Kabuto, dalang dari semua ini.
Untung saja semua berjalan dengan lancar.
Dan sepertinya, semua jasad, yang sempat dihidupkan kembali, harus dikuburkan ulang—untuk yang kedua kalinya.
.
.
.
Sore mendung setelah hujan deras pertama di desa Konoha. Untuk pertama kalinya pasca perang, mereka bisa merasakan udara sejuk tersebut tanpa beban.
Ternyata setelah perang itu selesai. Masih ada burung yang kembali ke sarangnya dan melangsungkan kehidupannya. Masih ada langkah kecil dan tawa yang membuncah dari anak-anak mewarnai di sekitar Konoha. Masih ada senyum yang tersungging di setiap penduduk yang masih dapat terselamatkan.
Pepohonan itu pun masih ada walau tidak sebanyak dulu. Walau bangunan rumah tidak ada—semua itu masih bisa digantikan oleh tenda-tenda putih yang dapat dengan mudah didirikan.
Rakyat Konoha tidak perlu bersembunyi di bawah tanah lagi. Mereka sekarang sudah berani menginjakkan kakinya di atas tanah desa kelahirannya. Desa milik mereka.
Saat ini mereka semua sedang berdiri di tengah-tengah sebuah lapangan tempat pemakaman. Ah, tidak. Lebih tepatnya berdiri di sebuah tempat pemakaman massal.
Biasanya saat pemakaman terjadi. Raut sedih dan kecewa menjadi gambaran untuk semua yang hadir di sini. Biasanya, payung-payung hitam yang terbentang di setiap barisan manusia. Tapi, sekarang yang ada hanyalah raut bangga dan senang yang tepatri di wajah semuanya.
Mereka tidak perlu seragam hitam dan sarung tangan untuk mengelap air mata. Karena jelas mereka tidak akan berbagi nestapa dan duka di sini.
Mungkin memang tidak demikian halnya bagi Shikamaru dan Sai. Mereka masih merasakan rasa sakit yang belum bisa mereka terima.
Chouji menepuk pundak Shikamaru yang berada di depannya, sementara pemakaman masih tetap berlanjut di depan sana. "Kau tidak apa-apa, kan?"
Shikamaru menoleh sembari tersenyum tipis, "aku sudah pernah merasakan ini sebelumnya. Tenang saja. Kurenai-sensei saja juga sudah tidak apa-apa."
Shikamaru mengalihkan pandangannya kepada Kurenai yang berdiri tidak jauh darinya. Begitupula Choji, ia mengikuti arah pandang Shikamaru sembari mulai menarik tersenyum. Hati mereka pun melega.
Meskipun demikian, tidak semuanya merasakan kelegaan yang sama. Bagi mereka yang menyadari, masih ada seseorang yang belum dimusnahkan walau semua mayat sudah kembali seperti semula.
Tobi.
Entah ke mana dia, entah apa rencananya selanjutnya. Tidak ada yang tahu. Yang pasti sekarang semua komplotan Tobi sudah lenyap. Tinggal menunggu dirinya saja untuk menunjukkan wujud aslinya.
.
.
.
"Sakura, kau melamun lagi?"
Sapaan Ino ini mampu membuat Sakura terkejut. Entah sudah berapa kali—ia selalu tertangkap basah oleh Ino sedang melamun. Entah apa yang ada di pikirannya, yang pasti gadis cherry itu selalu melamun menatap keluar jendela tenda ini.
"Dari mana, Pig?" suara Sakura masih terdengar lemah, kemudian ia menoleh sepenuhnya menghadap Ino. Bisa dilihatnya Ino tengah memakai baju seragam rumah sakit dengan kertas-kertas yang berada di tangannya.
"Habis memeriksa Naruto." Ino mendekat kemudian duduk di samping Sakura. "Dan sekarang aku akan memeriksamu."
"Aku tidak apa-apa," ujar Sakura sembari tersenyum, "apa Naruto masih belum sadarkan diri?"
Ino mengangguk mantap, "iya, aku tidak tahu kapan ia akan bangun. Tapi, kalau Sasuke... sepertinya dia akan segera sembuh. Aku takut jika ia pulih nanti, ia akan menyerang desa ini."
"Hahaha, tenang saja, dia kan dijaga ketat oleh Anbu."
"Eh, tapi katanya Sasuke akan diadili kalau dia sudah sepenuhnya sadar ya?"
"Entahlah, tapi, apa itu perlu? Apa Konoha masih mau menghukumnya?"
"Yah, setidaknya, dia akan diberikan sesuatu yang setimpal, karena pernah mengkhianati Konoha," ujar Ino cepat.
"Sepertinya hal itu masih lama, Nona Tsunade saja masih dalam perawatan untuk mengadilinya, hahaha." Sakura malah terkikik geli. Ia selalu memaksakan membentuk mimik wajah tertawa. Padahal sebenarnya, hatinya terus-terusan menjerit, ia masih ingin menangis.
Tapi masalahnya, penyebab untuk menangis itu malah tidak ada, atau tepatnya, Sakura tidak mengetahui apa penyebabnya. Ada suatu beban yang berdiam dalam hatinya. Tapi, beban apa itu, ia pun tak tahu. Yang ia ketahui hanya perasaan itu memang ada. Mau dirasakan tidak nyata, tapi semua terasa nyata.
Apa perasaan semacam ini akan menghilang dengan seiring berjalannya waktu?
"Katanya juga, Kakashi-sensei yang akan jadi Hokage selanjutnya."
"Oh, ya? Wah sepertinya aku ketinggalan banyak gosip darimu. Lalu, Yamato-sensei, apa dia sudah pulih?"
"Dia masih dalam perawatan, masih belum tersadar juga."
"Sepertinya banyak yang koma, ya?"
"Hm, ayo sini kuperiksa." Ino mulai mengeluarkan peralatan medisnya dari sebuah kotak yang selalu dibawanya jika sedang kebagian tugas.
"Aku tidak apa-apa, sungguh." Sakura berdiri dari duduknya, gadis cherry itu mulai melangkah menuju keluar. Ia sengaja menghindari temannya yang keturunan klan Yamanaka itu. Kalau tidak, pikiran dalam benaknya akan terbaca. Ujung-ujungnya semua itu akan menjadi gosip tentang dirinya.
"Mau kemana? Ke tempat Sasuke, ya?" goda Ino nakal.
"Aku ingin mencari udara di sore hari begini!" Dengan kata terakhir itu, Sakura menghilang dari balik pintu tenda putih ini.
"Huh, dasar!"
.
.
.
Sudah lama rasanya Sakura tidak berkeliling di sekitar Konoha. Ah, tidak, mungkin maksudnya sudah lama tidak berkeliling dengan latar ramai oleh penduduk Konoha.
Beberapa saat yang lalu tempat ini seolah merata dengan tanah. Pasir pun berterbangan di mana-mana. Kini tempat ini sudah dipenuhi tenda-tenda. Tenda yang didirikan oleh rakyat Konoha sebagai pengganti tempat tinggal untuk sementara.
Sepertinya di Konoha akan diadakan pembangunan lagi, buktinya sekarang penduduk Konoha sedang sibuk hilir mudik. Yang pasti, pembangunan Konoha ini telah terjadi untuk yang kesekian kalinya.
Konoha benar-benar sudah tidak murni lagi. Hancur dan dibangun kembali. Terus seperti itu.
Sakura—dan semua penduduk Konoha tentunya- hanya dapat berharap dalam hati, semoga desa mereka ini tidak akan pernah hancur lagi.
"Sakura!"
Sakura menangkap suara yang baru saja memanggilnya. Kemudian ia menolehkan kepalanya menatap yang empunya suara.
"Karin?" Sakura melempar senyuman kepada gadis yang hampir sebaya dengannya itu. Rasanya ia sudah lama sekali tidak bertemu dengan gadis berambut merah itu. Padahal nyatanya ia hanya tidak sadarkan diri selama seminggu. Oh, banyak sekali waktu bagi dirinya untuk bermimpi.
"Kau sudah baikkan?" tanya Karin ketika ia sudah berada di hadapan gadis cherry itu.
Sakura mengangguk, "sudah agak mendingan, ehm... bagaimana kabarmu sendiri?"
"Aku baik-baik saja!" Karin melempar senyuman kepada Sakura. Kalau dipikir-pikir, Karin sangat jarang untuk akrab dengan sesama gadis yang sebaya dengannya. Baru kali ini Karin merasa nyaman untuk dekat dengan sesama perempuan.
"Terima kasih, ya. Yang waktu itu..." Sakura mengambil langkah—mendekat pada sebuah batu besar yang berada tidak jauh dari belakangnya—kemudian ia pun duduk di atas sana.
"Eh?" Karin mendekat dan ikut duduk di samping Sakura, "maksudmu yang pertarungan itu?"
Lagi, Sakura hanya mengangguk. "Yang pasti kau tidak apa-apa, kan?"
"Tentu saja tidak! Belum sempat aku mengalahkannya, Chiyo sudah jatuh tersungkur duluan. Hahaha."
Sakura menarik senyum tipis yang tulus. "Begitu ya? Tapi, kau akan tinggal di sini terus, kan?"
"Eh? Itu—"
Perkataan Karin terpotong oleh sebuah suara keras yang menyerukan nama lawan bicaranya. "Sakura-san!"
Sakura menoleh dan mendapati Moegi yang tengah tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Ada apa?" tanya Sakura ketika Moegi sudah berada tepat di hadapannya dengan napas tersengal.
"Sakura-san. Naruto sudah siuman!" beritahu Moegi dengan ekspresi senang. Ia tahu, ini pasti kabar baik untuk Sakura!
"Hah?" Sakura terlonjak kaget sembari berdiri secara refleks. Tiba-tiba jantungnya bergemuruh dan ia pun menjadi—tunggu. Kenapa ia malah terlonjak kaget? Seharunya ia senang, kan? Apa mungkin karena ia belum bisa bertatapan langsung dengan pemuda itu?
Eits—kenapa malah memikirkan soal bertatapan langsung? Pokoknya ia harus bisa merasakan senang dulu. Ya, tentu saja! Ia harus senang karena 'teman' setimnya itu sudah siuman—dan tidak terlalu lama berada dalam keadaan pingsan.
"Se-sejak kapan dia siuman?" Sambil menahan napas, Sakura merasakan gemetar pada lengannya, kakinya, dadanya, dan segalanya.
"Sebenarnya sudah dari sejam yang lalu!"
"Kenapa aku baru diberitahu?"
"Ayo kita ke sana saja, Sakura-san!" Entah mengapa Moegi sangat ingin mempertemukan Naruto dengan Sakura. Ia sangat menginginkan kedua pasangan ini bersama.
"Iya, iya." Kemudian Sakura berlari mengikuti langkah Moegi yang mendahuluinya. Tapi, sebelum itu Sakura kembali berbalik menatap Karin yang dirasakannya tidak mengikuti langkahnya. "Ayo Karin!"
"Aku di sini saja."
Sakura terdiam sebentar, "Ehm, baiklah."
.
.
.
Entah sudah berapa menit waktu yang terbuang, Sakura masih tetap berada di luar tenda. Sakura ragu untuk memasuki tenda tempat Naruto berada sekarang.
Bukan apa-apa, ia hanya berpikir; apa tujuannya menemui Naruto? Untuk memeriksanya? Bukankah itu tugas Ino? Lalu, hanya sekedar menyapa kah? Ah, ia tidak pandai dalam hal itu.
Moegi kembali keluar dari tenda itu karena ia sudah kesal menunggu Sakura di dalam—padahal dia sudah mengundang Sakura untuk kemari.
"Ayolah, kenapa masih di luar?" Moegi memasang tampang bosan. Sedetik kemudian, gadis kecil itu masuk kembali ke dalam tenda.
Suara tertawa dan obrolan sangat terdengar jelas dari tempat Sakura berdiri. Dan itu malah menambah kemantapan hatinya untuk membatalkan masuk ke dalam.
Ah, ia harus melawan perasaan takut pada hatinya. Perasaan takut itu juga pasti tidak akan bertahan lama. Paling rasa canggung itu hanya sementara—sebelum dicoba. Biasanya.
Akhirnya Sakura menyibakkan pintu tenda itu. Ia masuk sendiri—tentu saja dengan perasaan canggung. Seolah ia adalah orang asing yang memasuki kediaman pribadi milik orang yang tak dikenal.
Ramai.
Memang di dalam sini ternyata ramai. Pantas saja suara ricuh terdengar sampai ke luar. Mendadak perasaan itu datang lagi. Perasaan bahwa dirinya tidak dibutuhkan di sini.
Walau Sakura berpikir seperti itu, Sakura tetap melempar pandangan ke arah Naruto yang duduk di atas tempat tidurnya. Rasanya, sekarang ia dan Naruto jauh sekali, sulit untuk menggapainya. Apa itu hanya pemikirannya saja?
"Naruto, kau hebat. Kau memang hebat!" Ino terus-terusan memuji pemuda blonde yang berada di hadapannya itu. Jarang-jarang Ino memuji Naruto. Biasanya, ia juga suka menghajar Naruto kalau pemuda itu menjengkelkan hatinya.
"Hehehehe, kau berlebihan, Ino." Naruto terlihat menggaruk pipinya canggung karena dikelilingi oleh teman-temannya.
Kemudian pandangan Sakura terpaku pada gadis itu, Hinata. Melihat keberadaan Hinata yang tengah berdiri di depan Naruto, membuat hati Sakura merasa semakin terdepak.
Naruto celingak-celinguk merasa ada yang kurang di dalam sini. Kemudian matanya tidak sengaja terkunci pada mata emerald Sakura yang sedang memandangnya sekarang—gadis itu masih berdiri di ambang pintu tenda.
Tersadar akan hal itu, Sakura mengalihkan tatapannya. Entah mengapa, tubuhnya malah ingin berbalik dan segera meninggalkan tempat ini. Ditambah, ada sesuatu yang menyerbak ingin keluar dari matanya.
Kenapa ia malah ingin menangis?
Naruto ingin menarik senyum dan meneriakkan namanya. Tapi semua itu diurungkannya, ketika Sakura benar-benar berbalik—menghilang dari penglihatannya.
"Sakura-chan?" lirihnya kebingungan.
.
.
.
"Huaaah, kenapa aku begini? Kenapa?" Sakura mencak-mencak di depan pinggiran jembatan sebuah sungai. Ia mengacak rambutnya frustrasi, seolah ia baru saja patah hati untuk yang kedua kalinya.
Ditaruhnya kedua tangannya pada besi pegangan jembatan itu. Sambil memandang lepas ia malah mengoceh sendiri, "seharusnya aku sekarang masih koma saja!" Sakura tidak tahu makna dari perkataannya sendiri. Ia hanya asal bicara.
Kemudian pandangan gadis itu tertuju pada genangan cahaya yang dipantulan dari sang rembulan.
Sesaat pikiran kosong merajainya, "Naruto benar, aku memang suka membohongi diri sendiri." Gadis cherry itu menghela napas cepat.
Dibalikkannya badannya sepenuhnya—ia hanya ingin menyenderkan badannya pada pegangan jembatan itu.
Yang ada, sekarang mata emerald-nya malah menangkap sosok yang sudah dikenalinya. Membuat ia mengurungkan niatnya untuk menyender—ia malah berdiri kaku di tempat, "Na-Naruto... sejak kapan?" padahal Sakura belum sampai sepuluh menit berdiri di sini. Tahu-tahu pemuda blonde itu sudah berada di sana. Apa itu hanya ilusi?
Glek.
Menelan ludah saja rasanya susah. Sepertinya untuk kali ini Sakura tidak bisa lagi bersandiwara di depan pemuda blonde itu.
Ok, bersikap santai saja. "Sejak kapan kau ada di sini?" Sakura melempar pertanyaan yang sama kepada pemuda tersebut.
Naruto langsung merubah mimik wajahnya—dari datar menjadi seperti biasa—dengan sebuah cengiran, tentunya. "Baru saja, Sakura-chan." Pemuda blonde itu mengambil langkah untuk mendekat ke arahnya.
"Bukannya tadi kau masih ada di tenda?"
"Di sana terlalu ramai. Aku malah merasa pusing. Lagipula kakiku sudah seperti kesemutan karena sudah lama tidak dipakai untuk berjalan." Naruto merenggangkan tangannya seolah ia baru saja bangun tidur.
"Kupikir tempat ini sudah hancur. Ternyata masih berdiri kokoh." Pemuda blonde itu menyentuh salah satu sisi dari jembatan itu.
"Hanya jembatan ini dan patung para Hokage yang masih terlihat," ujar Sakura pelan.
"Kau ingat, Sakura-chan? Dulu sewaktu kita akan latihan, kita selalu menunggu Kakashi-sensei di sini."
"Iya, aku ingat. Dan kau selalu membuatku naik pitam di saat sedang menunggu Sensei." Nada suara Sakura sudah terbilang seperti biasa. Ia masih sanggup meninggikan suaranya di depan pemuda itu.
"Maaf, Sakura-chan. Dulu kan aku memang suka menggodamu. Hehehehe..."
Sakura tersentak kaget. Ia baru sadar sekarang. Memang dulu Naruto suka menggodanya. Tapi, semua itu sudah berkurang akhir-akhir ini. Malah bisa dibilang, pemuda blonde itu nyaris tidak pernah melakukannya lagi. Ia tidak bisa memungkiri bahwa ia memang merasakan ada sesuatu yang menghilang.
"Hei, Naruto?"
"Hm?" Naruto menolehkan kepalanya menatap Sakura yang kini sedang memandang lurus ke depan.
"Aku percaya wajahmu akan dibuat di samping Hokage keempat nanti. Ehm, mungkin di samping wajah Kakashi-sensei." Kemudian Sakura mengarahkan kepalanya menghadap Naruto, "dan pasti mukamu yang paling baka. Hihihihi..."
"Sakura-chaaan." Naruto menyipitkan matanya kesal. Rasanya sudah lama ia tak bercanda ria bersama gadis berambut pink ini.
"Tapi, terima kasih ya?" ujar Sakura tiba-tiba.
"Eh?"
"Padahal aku sudah menyuruhmu untuk melupakan janji itu padaku, tapi kau tetap membawa Sasuke pulang."
Naruto terdiam sebentar, ia mengerti maksud dari perkataan Sakura, "Bukan aku. Bee yang melakukannya."
Sakura menggeleng. "Tidak masalah."
Diam-diam Naruto menghela napas. "Apa kau senang?"
"Biasa saja."
"Hah?" Naruto menaikkan sebelah alisnya.
"Aku selalu senang kok. Jadi biasa saja. Hahaha." Kini Sakura yang melempar cengiran pada pemuda itu. Apa seperti ini raut wajah Sakura ketika ia melempar cengiran seutuhnya? Atau malah cengiran itu hanya palsu—seperti kata Sai.
Ah, sayangnya Naruto tidak bisa membedakan itu. Di matanya, senyuman Sakura itu selalu yang terbaik.
Naruto hanya ikut tertawa canggung.
"Terima kasih juga kau sudah menyelamatkanku, kau bahkan sampai kabur dari latihanmu, kan?"
"Hahahaha, itu bukan masalah kok." Naruto mengibas-ngibaskan tangan kanannya.
"Ngomong-ngomong… aku rasa tim tujuh kita akan tetap bersama Sai. Sasuke tidak bisa seenaknya menendang Sai dari tim kita."
"Kenapa kau malah berkata seperti itu?"
"Memangnya kenapa? Aku benar kan? Lagipula tidak lama lagi kita akan ujian jounin. Otomatis tim kita pasti pecah. Apalagi ketika kau sudah mengemban nama Hokage nanti... Hoaaahh..." Sakura merasakan kantuk –yang terlihat dari cara ia menguap lebar. Sedikit air mata akibat menguap terlihat di ujung matanya.
"Kau mengantuk?"
Sakura mengangguk lesu. "Aku pulang ke tendaku ya? Kau pulanglah sana kalau tidak ingin diceramahi Nona Tsunade."
Naruto hanya mengangguk dengan perasaan yang sungguh bercampur aduk. Entah apa yang sedang ia rasakan sekarang. Yang pasti, perasaan tulus pada Sakura itu masih ada sampai sekarang—hingga detik ini!
Baru saja Sakura akan berbalik memunggunginya, kembali Naruto memanggil namanya, "Sakura-chan."
Sakura menghentikan langkahnya. "Ada apa?" jawab Sakura lesu dengan nada mengantuknya.
Naruto tidak menjawab sahutan Sakura yang kini masih memunggunginya. Ia tidak tahu—sungguh tidak tahu harus mengatakan apa pada gadis itu.
Apa sebaiknya ia mengatakan hal ini; 'Have a nice dream!'—ah, tidak! 'Aku mencintaimu?' sepertinya bukan waktu yang tepat. Apalagi mengingat sudah ada Sasuke di sini.
Sudah beberapa detik Naruto membuang waktu gadis cherry itu. Mereka masih tetap saja terdiam terpaku membisu di tempat. Situasi yang tidak menyenangkan bagi Sakura. Kalau terus-menerus seperti ini, berdiam dalam keadaan hening, bisa-bisa detak jantung gadis itu akan ketahuan.
Oh, Tuhan. Ada bagian dalam dadanya yang bergetar. Sangat terasa. Sangat jelas sekali.
Akhirnya Sakura mencoba untuk berbalik memastikan kalau Naruto masih berada di belakangnya.
Sementara itu Naruto malah melangkah untuk maju lebih mendekat kepada Sakura—tujuannya sih untuk membalikkan tubuh gadis itu—tahu-tahu Naruto malah tersandung sesuatu entah karena apa—dan mengakibatkan tubuhnya malah jatuh menimpa tubuh gadis yang baru saja akan berbalik itu.
"Awww!" Demi Kyuubi ekor berapa saja Sakura sungguh tidak habis pikir dengan keadaan sekarang. Kepalanya pusing karena habis membentur semen yang tadi dipijaknya. Sepertinya ia akan koma lagi setelah kejadian ini.
"Maa-aaf, Sakura-chan!" Naruto berusaha mengangkat kepalanya yang terjerembab di samping kepala Sakura—untung saja kepala Naruto tidak menimpa kepala Sakura—bisa-bisa mereka akan berciuman tanpa sengaja kalau itu terjadi—apabila dibayangkan.
Tangan Sakura berusaha menepuk-nepuk lengan Naruto—menyuruh pemuda itu bangun secepatnya. "Cepat bangun, Baka!" Kalau saja ada sinar lampu yang lumayan terang di sini, maka rona merah yang bersemu di kedua pipi gadis cherry itu akan terlihat jelas.
Kedua tangan Naruto menekan semen putih yang berada di antara kepala Sakura untuk membantunya berdiri. Kala itu pula tidak sengaja matanya tertatap dan terkunci pada mata hijau milik Sakura—kegiatannya terhenti.
Hembusan napas Naruto dapat terasa—sangat terasa dengan jelas di kulit wajah Sakura, napas hangat seorang Uzumaki yang sukses membuat jantungnya bertalu-talu hingga masih terus bergetar.
Mereka masih terpaku, membisu, tanpa berkedip, tanpa emosi. Susah payah Sakura menelan ludah yang kini terasa menyangkut di tenggorokannya. Ia berusaha untuk menekan dada bidang itu agar tidak bersentuhan dengan tubuhnya.
Tapi, tangannya kini seolah tidak berfungsi sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya.
Rambut Naruto sudah semakin panjang ternyata. Rambutnya menjuntai hampir mengenai sisi wajah Sakura, menggelitik pipinya—atau itu karena Naruto-lah yang semakin mendekatkan mukanya?
Oh, itu tidak penting. Yang pasti sekarang Sakura seakan terhipnotis untuk menutup matanya. Menanti sesuatu yang dirasakannya ingin sekali didapatnya. Entah itu hanya sebuah sapuan atau keinginan—ia malah ingin merasakannya, merasakan langsung dari seseorang yang diinginkannya.
"Naruto kau di mana?"
Sakura langsung tersentak kaget—demikian pula dengan Naruto—karena mendengar ada yang berteriak.
Buru-buru Naruto bangkit dari posisinya. Hampir saja ia mencium Sakura tadi. Oh, Kami-sama. Apa yang ada dipikirannya tadi?
Sakura pun bergegas berdiri—gadis itu langsung membersihkan pakaiannya yang baru saja menempel pada semen jembatan itu.
Sakura ingin mengeluarkan suaranya untuk berpamitan atau untuk sekedar memarahinya. Tapi kelihatannya itu tidak penting.
Maka ia pun memutuskan untuk berbalik dan mengambil langkah menjauh dari sana, tanpa pamit atau melempar suatu kata apapun pada pemuda itu.
Sambil berjalan cepat dari sana Sakura sambil menepuk-nepuk kedua pipinya. Harus berkata apa ia dengan Ino nanti ketika si tukang gosip itu menyadari kemerahan mukanya?
Sebenarnya Naruto ingin menghentikan langkah Sakura untuk meminta maaf sebentar. Tapi, Sakura sudah pergi begitu saja. Apa gadis itu marah padanya ya?
Arrrggghh! Naruto hanya berdiri lesu tidak berdaya. Sepertinya sehabis ini ia akan koma lagi. Mungkin lebih baik memang koma lagi saja.
Yah, sudahlah. Sekarang ia harus tidur dulu. Dan membiarkan waktu yang akan membuat mereka sadar akan perasaan mereka masing-masing.
.
-Owari-
.
Yeahaaaai! Akhirnya kelar juga ceritanya dengan sangat abal =.= Sungguh people, bikin Canon sungguh memutar otak #bernapas lega.
Sebenarnya banyak sih shinobi yang sudah mati lalu dihidupkan kembali. Tapi enggak mungkin donk, aku tulis satu persatu. Apalagi mengingat fik ini hanya terdiri dari twoshot, jadi semua pertarungannya enggak ku gambarin. Lagipula ini juga udah sangat kepanjangan, mana rush lagi, mana ngawur lagiii ARGGGH! =^="
Buat Beta rederku pasti bosen banget ngedit fik gila ini. Jangan Tanya aku pun begitu. Hihihi..
Kalau mau, liat chap terbarunya udah muncul tuh dianime manganya. Sekarang tentang Chouji yang lagi berusaha membunuh kembali Asuma. Sedangkan Naruto dia lagi ditahan oleh penduduk Konoha untuk kembali pulang—dia enggak boleh turun tangan membantu perang.
Padahal aku berharap banget Naruto bakal cepet pulang. Dan aku juga ngarep Sakura cepet-cepet ikutan perang juga. Udah kangen sama pertarungan kedua NaruSaku yang awecome ituuu DX #labilkumat
Hahahaha, malah ngegosip diriku.
Oh, ya. Maaf misal kalau masih ada kesalahan penulisan. Apalagi dichapi satu kemarin. Hedeeeh. Itu gegara tangan gatelku yang kembali ngedit lagi setelah dibeta. Jadinya gitu dech #plak.
Dan sekali lagi, Makasih juga buat Beta rederku yang unyuuu itu xD muachmuach #digampol xD
Ada sih untuk sekuelnya, tapi mungkin genrenya akan berubah jadi humor walau garing. Terus pasti enggak Canon lagi. Hahah
(jadi ngerasa kepanjangan A/N-nya)
-Thanks for reading-
Salam Coklat.
