STRONGER (Sequel)

Kim Jongin x Do Kyungsoo

YAOI

.

.

.

I know It is hard to let go. But please, Let him be happy.

.

.

.

Pip

Pip

Pip

"Semuanya menjadi 10 ribu won, Tuan."

Aku mengulurkan tangan menerima uang yang disodorkan pembeli itu. Menyerahkan belanjaannya sambil menundukkan kepala sebagai ucapan terima kasih, lalu berdiri tegak lagi. Menunggu pelanggan baru, seperti orang bodoh.

Cring...

Bunyi lonceng pintu toko kami mengembalikanku ke alam sadarku lagi. Dengan cepat aku membungkukkan badanku.

"Selamat datang. Selamat berbelanja."

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Aku menyesali tindakanku yang langsung menegakkan tubuh lalu menatap pelanggan itu. Harusnya aku tetap membungkuk, bahkan harusnya aku tidak bekerja hari ini.

Setelah nyaris setahun tidak bertemu, aku tidak menyangka kami akan bertemu kembali. Bahkan dengan situasi seperti ini.

Dia menatapku tajam. Aku tertegun beberapa saat – oh aku yakin wajahku sudah seperti orang idiot saat ini – sebelum akhirnya aku mengalihkan pandanganku.

Hallo. Selamat bertemu lagi, Jongin.

.

.

.

"Semuanya 2 ribu won, Tuan."

Aku hanya mampu menunduk sambil menunggunya mengeluarkan uang. Demi Tuhan, aku tidak mampu mengangkat kepalaku. Sejujurnya, aku tidak berani. Aku takut akan mencampakkan diriku kepadanya bila aku mengangkat kepalaku.

Dia menyerahkan uang 5 ribu won, aku lalu menerimanya dengan cepat dan masih dengan kepala menunduk. Dapat kudengar dia mendecih.

"Sepertinya kehidupanmu semakin baik," katanya sinis.

Astaga, kemana uang ribuan pergi ketika aku sangat membutuhkannya?

"Ambil saja kembaliannya," katanya lagi sambil melangkahkan kaki keluar.

Mungkin dia sudah muak berhadapan denganku. Baguslah, sepertinya dia hidup dengan nyaman. Dapat kulihat dari kemeja yang digunakannya dan jas yang ditentengnya.

Aku memegang dadaku. Tidak menyangka rasa sakit ini masih tetap ada, bahkan setelah nyaris setahun berlalu. Apakah kau sudah berhasil melupakanku Jongin? Ah, tentu saja. Siapa yang akan tetap memiliki perasaan kepada pria bodoh, egois, dan miskin seperti aku?

Aku menghela nafas dengan berat. Ngomong-ngomong, senang melihatmu baik-baik saja.

.

.

.

Aku merebahkan tubuhku ke kasur. Aku tak tahu apakah ini layak dikatakan kasur atau tidak. Sudahlah, untuk apa memikirkannya. Aku menatap langit-langit kamarku dalam diam. Aku tidak menikmati jamur-jamurnya yang menempel tentu saja. Aku hanya tidak menyangka harus bertemu Jongin seperti tadi.

Baik katanya?

Inilah yang kudapat setelah berpisah darinya. Apa yang kau harapkan Jongin?

Aku hanya mampu mencari pekerjaan yang mampu menghidupi diriku yang serba seadanya, ah bukan seadanya, mungkin serba kekurangan. Apa yang kau harapkan dari lulusan sekolah menengah atas sepertiku? Seorang sarjana saja sulit untuk mendapatkan pekerjaan.

Aku bahkan harus mengangkat kaki dari rumah kecil kita. Ah, aku banyak salah hari ini. Rumah itu tidak layak kupanggil milik kita. Itu hanya milikmu. Kau menyewanya menggunakan hasil tabunganmu, ingat?

Jongin, sungguh aku tidak ingin berpisah darimu. Tapi apa yang mampu kuperbuat? Kau akan terus terluka dan tersiksa. Aku tak sanggup melihatmu terus menderita dan menanggung malu akibat hubungan kita berdua. Biarlah aku yang menyerah. Toh, aku sudah biasa.

Aku menghela nafas. Ini berat. Tapi aku bisa apa?

Berkali-kali menghela nafas sampai akhirnya aku lupa kapan tepatnya aku jatuh tertidur.

.

.

.

Astaga, aku terlambat!

Aku melirik jam dinding yang tergantung mengenaskan di kamar kecilku. Aku cepat-cepat mencuci muka dan menyikat gigiku. Tidak peduli jika harus melewatkan mandi rutinku.

Setelahnya, aku segera berlari menuju halte terdekat. Menanti bus yang biasa mengantarkanku ke tempat pekerjaanku pagi ini. Yah, aku memang bekerja ganda. Pagi hingga sore hari aku melayani pembeli di sebuah kafe kopi, sementara sore hingga malam aku harus bekerja di mini market.

Terkadang, kalau aku bangun terlalu subuh, aku dapat membantu para penjual bunga mengangkat barang pesanan ke toko-toko bunga. Masa bodoh dengan badanku yang menjerit meminta istirahat. Aku harus mencari uang untuk membayar sewa kamar dan biaya hidupku sehari-hari.

Hari ini aku terpaksa menerima omelan dari menager tempatku bekerja. Aku memang sampai hampir setengah jam setelah kafe dibuka, apalagi salah satu barista yang seharusnya memiliki shift bersamaan denganku terpaksa tidak masuk kerja karena kondisi tubuhnya yang katanya sedang bermasalah. Hanya ada Chen, barista lainnya yang terlihat melayani pelanggan. Mengakui kesalahanku, aku hanya dapat membungkukkan badan dan meminta maaf. Aku tidak ingin kehilangan pekerjaan saat ini. Mendapatkan pekerjaan ini pun sudah sangat berarti untukku.

Pagi ini pelanggan kafe kami tidak begitu banyak. Baru sekitar 10 pembeli yang sudah kulayani, dan hanya satu pembeli yang menikmati kopi di kafe kami. Ditambah, masih ada Chen yang ikut berbagi tugas, sehingga pekerjaanku semakin berkurang. Aku tetap berdiri menanti pelanggan yang mungkin saja datang tiba-tiba. Aku tidak mau mencari masalah bila manager melihatku sedang istirahat.

Aku lebih memilih memperhatikan layar tv yang sengaja ditempelkan di dinding. Berita hari ini menampilkan kondisi cuaca Seoul hari ini yang katanya akan dituruni hujan. Astaga, aku lupa membawa payung hari ini. Hah, baiklah. Semoga hujan nanti akan turun ketika aku sudah sampai di mini market tempatku bekerja.

Aku menoleh ke arah pintu yang dibuka oleh seorang wanita dan diikuti oleh seorang pria. Aku segera bersiap-siap. Menyunggingkan sebuah senyum, yang dengan tiba-tiba harus kuhapus melihat pria di belakangnya adalah orang yang paling tidak ingin kutemui. Okay, aku merindukannya. Tapi aku hanya tidak, ah maksudku belum siap bertemu dengannya lagi.

Jongin juga tampaknya terkejut ketika harus bertemu denganku lagi. Tapi dia dengan sangat mudah mengalihkan pandangannya dariku lalu menatap wanita di sebelahnya. Chen sedang melakukan tugasnya yang lain, jadi tidak mungkin mengharapkan bantuannya.

"Baek, aku ingin Iced americano. Apakah kau bisa memesankannya? Aku tunggu di meja sana," katanya sambil menunjuk sebuah meja di pojok kafe yang berada tepat di sebelah jendela.

Wanita itu hanya mengangguk. Mengangguk saja dia sudah terlihat sangat manis. Wanita itu lalu mengarahkan pandangannya padaku.

"Tolong buatkan aku Iced americano 2," katanya dengan sangat lembut. Astaga, suara wanita ini sangat lembut dan manis. Siapa dia? Mungkinkah dia kekasih Jongin? Jongin memang seorang gay, tetapi tidak menutup kemungkinan jika orientasi seksual Jongin sudah berubah.

"Hey kau baik?" tanya wanita itu lagi.

Aku tersentak kecil, tidak menyadari bila sejak tadi aku hanya diam tanpa mengerjakan pesanan wanita itu.

"Saya baik-baik saja, Nona. 2 Iced americano. Apakah Ada pesanan lain?" dan wanita manis itu hanya menggelengkan kepalanya.

"semuanya 8.200 won, Nona." Sahutku sambil menanti pembayaran darinya.

Senyum tampaknya tidak akan lepas dari wajahnya. Dia mengeluarkan dompet berwarna merah muda lalu menyerahkan uang sepuluh ribu won kepadaku. "Ambil saja kembaliannya," tambahnya cepat.

Betapa mudahnya bagi orang-orang kaya seperti mereka membuang-buang uang seenaknya. Aku hanya balas tersenyum lalu menyerahkan bill kepada wanita itu.

"Harap tunggu sebentar," kataku sopan.

Setelah wanita itu beranjak dari kasir, Chen menghampiriku dan menanyakan kondisiku. Dia tampak khawatir. Dia bahkan langsung memeriksa suhu tubuhku dengan meletakkan tangannya ke kepalaku. Chen memang barista yang cukup dekat denganku. Dia kerap mengkhawatirkan diriku. Katanya badanku terlalu kecil untuk seukuran pria, sehingga aku memerlukan perhatian lebih. Dengan gelengan kecil dan senyuman yang kupaksakan padanya, dia lalu mengusak kepalaku lalu mulai menjalankan tugasnya yang lain.

Aku lalu mulai pura-pura menyibukkan diri. Tetapi entah mengapa, aku tidak dapat memalingkan wajah dari dua orang yang duduk di pojokan itu. Mereka terlibat percakapan yang sepertinya terlihat seru. Sesekali mereka juga tertawa lepas. Tadi aku sempat memergoki Jongin mengelus rambut wanita itu. Tampaknya mereka memang berhubungan. Mengapa juga pelanggan hari ini sepi sekali? Tidakkah mereka membutuhkan segelas kopi hangat?

Beberapa saat kemudian aku melihat mereka beranjak dari tempat duduk mereka. Dapat kulihat Jongin terlihat seolah-olah sangat menjaga wanita itu. Mereka melangkah tanpa sekali pun melihat ke arahku. Oh ayolah, siapa aku?

Dan apakah kau cemburu Kyungsoo? Tidak Kyungsoo, izinkan Jongin menjemput kebahagiaannya sendiri.

.

.

.

Ternyata hari ini tidak lebih baik. Kemarin aku terkena hujan sebelum sampai ke mini market dan menyebabkan tubuhku harus menahan dingin selama beberapa jam. Hal itu menyebabkan aku harus menahan pening saat ini.

Aku sampai di kafe tepat pukul setengah sembilan pagi, tidak terlambat, dan langsung bersiap-siap dengan Chen dan Singkyung untuk membuka kafe. Setelahnya, aku langsung berdiri di counter pemesanan dan berusaha sekuat tenaga untuk terlihat baik-baik saja walau rasanya aku ingin meledakkan kepalaku sendiri.

"1 Iced americano." Aku sedikit terkejut, namun tidak merasa perlu untuk mengangkat kepala untuk menatap pelanggan yang satu ini. Aku tahu dia walau dari suaranya. Jongin lagi. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selain menundukkan kepalaku dan menghindari tatapannya. Aku bahkan terlalu fokus menghindarinya sampai aku melupakan denyutan di kepalaku.

"Apakah ada lagi, Tuan?" Tanyaku sambil meletakkan fokus ke mesin kasir.

"Tidak." Sepertinya Jongin sedang tidak dalam kondisi yang baik saat ini. Jawabannya terlalu ketus.

"Semuanya menjadi 4.100 Won," jawabku pelan sambil menanti pembayarannya.

Dia menyerahkan uang sebesar 5.000 Won ke arahku. "Ambil saja kembaliannya." Benar-benar, dia sudah menjadi orang kaya sekarang.

Aku hanya mengangguk lalu membuatkan pesanannya. Tidak lama sampai aku menyerahkan segelas iced americano ke tangannya. Sambil sedikit menunduk, tentu saja.

"Kau harus membiasakan diri bertemu denganku," refleks aku mendongak, tidak menyangka Jongin akan berbicara hal lain padaku. "Aku bekerja di perusahaan yang dekat dengan kafe ini. Hanya ini kafe satu-satunya yang menyediakan kopi di daerah ini. Kalau ada yang lain, aku juga tidak akan memilih membeli disini," lanjutnya dingin dan dengan tatapan matanya yang tajam.

Sesaat setelahnya, dia buru-buru melangkahkan kakinya keluar. Sebenci itukah kau padaku?

.

.

.

Denyutan di kepalaku tidak kunjung hilang, bahkan kalau boleh kukatakan, denyutannya semakin intens dan terasa amat sakit. Padahal ini sudah menjelang makan siang. Kurasakan sebuah tepukan di pundakku. "Sana, sebaiknya kau makan siang dan beristirahat. Kasir aku yang mengambil alih," kata Chen, yang tadi menepukku.

Aku hanya menyunggingkan senyum simpul. "Terima kasih," ucapku pelan. Memang waktuku untuk beristirahat masih sekitar 15 menit lagi. Tapi aku bersumpah aku sudah tidak sanggup menahan suara denyutan di kepalaku yang semakin terasa. Aku perlu beristirahat.

Untuk menebus rasa bersalah itu aku segera menarik trashbag yang sudah terlihat penuh. Dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki, aku menarik tumpukan sampah dalam kantung plastik itu, lalu menghindari Chen yang masih terlihat ingin membantu. "Tidak masalah, Chen. Ini yang terakhir sebelum aku benar-benar istirahat," tidak dapat kupungkiri suaraku pun sudah terasa amat lemah.

Chen hanya mampu menunjukkan raut khawatirnya, tetapi tidak mampu berbuat banyak karena sudah terdapat antrian pelanggan di depannya.

Aku masih berusaha sekuat tenaga mengangkat trashbag tersebut. Mencoba memasukkannya ke dalam sebuah tong sampah yang cukup tinggi. Astaga, aku tidak tahu mengapa kantong sampah ini terasa amat berat.

Percobaan keduaku masih saja gagal. Aku meletakkan kantong itu di tanah lalu mngubah posisi tubuhku yang kira-kira mampu mengangkat kantong ini. Ketika aku mencoba mengangkat kantong tersebut untuk ketiga kalinya tak kusangka pandanganku menggelap, dapat kurasakan tubuhku menyentuh tanah. Dalam sepersekian detik sebelum aku kehilangan kesadaranku, aku mampu mendengar seseorang meneriakkan namaku.

Jongin?

END?

Biarin aku cuap-cuap sebentar yah.

Sebenarnya, apa yang kamu baca barusan bukan tujuan awal aku. Aku memang pengen buat ff ini berakhir menggantung, tetapi bukan kayak gini. Entah kenapa di otak aku cerita yang mengalir justru seperti ini. Aku gak tahu kalian suka cerita ini atau enggak, dan nggak ngarep banyak juga. Kalau kalian masih mau cerita ini aku lanjut, aku akan berusaha sebisanya. Tapi, kalau memang menurut kalian ceritanya cukup sampai disini, aku akan biarkan imajinasi kalian yang mengambil alih.

Aku butuh masukan cuy, aku harap dapat kritik dan saran yah :)

Salam, Admin Kais.