PL THERITO
Present :
LUCID DREAM
-REKAYASA MIMPI-
V
V
All characters in here always belongs to
-Masashi Kishimoto-
This is Story About Uchiha Sasuke and Haruno Sakura
CHAPTER II : STUCK and RISE
Konoha Spring Resident No.13, April 17, 2013 ; 09.00 AM
"Apa semua sudah selesai?" Tanya laki-laki berkulit tan dengan rambut pirang cerah itu.
"Su sudah, Sakura adalah yang terakhir." Jawab gadis bermarga Hyuga itu sambil mengunci pintu kediaman Haruno yang entah kapan akan dibuka kembali. " Baiklah, ayo kita susul yang lainnya." Naruto dan Hinata melangkah menuju mobil sport hitam dengan gradasi oranye yang terparkir di depan kediaman Haruno.
Gaara dan Sai telah sampai pertama di Elite Konoha Apartement no.64 milik Sakura. Nuansa hijau tosca pastel dan biru lembut mendominasi di semua ruangannya. Apartement ini memiliki 2 kamar dengan balkon yang langsung menghadap ke lautan. "Sebaiknya kita letakkan saja barang-barang Sakura dikamar itu." Tunjuk Garaa dengan dagunya kearah kamar dengan tagname "cherry" dipintunya. Sai membuka pintu kamar diikuti dengan langkah Gaara di belakangnya. Nuansa pink lembut dipadukan dengan putih gading dan biru langit. "Sangat Sakura sekali, kurasa Hatake itu benar mengenai ucapannya." Gumam Sai pada dirinya sendiri. Segera setelah meletakkan barang-barang Sakrua yang tidak begitu banyak. Mereka menunggu kedatangan Shikamaru, Ino dan Sakura. Naruto dan Hinata diberi tugas oleh Shikamaru untuk 'mengistirahatkan' kediaman Haruno.
10.00 AM
Tiiitt
Bunyi pintu terbuka (maklum, punya orang kaya jadi pake sidik jari mbukaknya, khusus buat apartement Sakura, bisa dibuka oleh keenam remaja lainnya).
Raganya yang pucat itu dipapah oleh Ino dan Shikamaru. Kondisi gadis bersurai pink itu kini lemah, baik secara fisik maupun psikis. Segera keduanya mendudukkan Sakura di sofa dan Sai mengambilkan coklat hangat di dapur.
"Sakura..minumlah, setidaknya sedikit saja." Ucap Sai tulus sambil menyodorkan gelas ke hadapan Sakura. Namun yang disodori masih terdiam tanpa kata. Ino segera meraihnya dan meminumkannya ke Sakura. Sakura tidak berontak. Ia meminum coklat hangat itu, meski sedikit. Suasanya menjadi sepi setelahnya, mereka berempat tidak tau harus bagaimana menghangatkan suasana seperti coklat hangat yang dibawa Sai tadi.
Tiiitt
Pintu terbuka, semua pandangan menuju satu titik. Dan muncullah kelapa dengan rambut kuning diikuti dengan seorang gadis berambut panjang dibelakangnya.
"Haaaii ." Nada keceriaan muncul dari tenggorokan pemuda pirang itu, "Waah Sakura-chan minum coklat yaa, aku mau, Hinata, bisakah kau.." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya Hinata mengetahui maksud Naruto, " Baiklah, aku buatkan untuk kalian semua, milkshake chocolate. Gaara, bisa bantu?" Yang dimintai tolong tidak menjawab melainkan ke dapur untuk membantu Hinata.
"Wah wah Sakura-chan punya balkon yang indah, langsung menghadap lautan. Heheheh jadi berasa laut pribadi, bukankah begitu Ino?" Naruto sengaja mengeraskan suaranya agar mendapat perhatian Sakura. "yang ditanya malah tergagap," Eh eh.. Iya benar yang dikatakan Naruto, Kakashi rupanya pintar memilih, bukankah begitu Sakura ?" Yang ditanya hanya diam, meski menolehkan kepala kearah balkon memandangi lautan yang ada di hadapan Naruto.
"Ini dia chocolate milkshake untuk kita semua, khusus untuk Sakura strawberry milkshake." Ucap Sai dengan senyuman yang tulus. Semuanya segera menikmati hasil karya Hinata dan Sai. Namun tetap saja, Sakura hanya terdiam tak mengindahkan apapun kecuali lautan di seberang balkon. Dia tenang bagai lautan itu, namun bukankah laut tenang adalah pertanda akan munculnya badai besar?
Dan benar saja, saat Sakura tidak kunjung bergerak, Garaa mengambil gelas Sakura dan membantu Sakura meminumkannya. Saat mata jade Gaara bertatap dengan emerald, yang ada adalah kekosongan. Tangan kiri Gaara menyentuh pipi Sakura, dan tangan kananya mencoba untuk memasukkan mulut gelas ke bibir Sakura. Ketika gelas yang berembun akibat dinginnya milkshake menyentuh bibir sakura han mengenai lidahnya, tiba-tiba emerald itu dipenuhi oleh kemarahan yang luar biasa. Seketika Sakura mendorong Gaara yang ada di hadapannya hingga milkshake strawberry membasahi kemeja Gaara sedang Gaara sendiri terjungkal kebelakang.
Semua mata terbelalak, tak terkecuali dengan Shikamaru. Mereka lebih terkejut lagi ketika Sakura memilih untuk mencari sudut ruangan dan meringkuk terisak pilu. Naruto segera menghampiri Sakura disaat yang lain masih dalam keterkejutannya membantu Gaara berdiri dna membereskan tumpahan tadi. Tangan Naruto yang baru saja memegang gelas tadi langsung mencengkeram lembut lengan Sakura. Namun bukannya melunak tapi Sakura justru berteriak histeris dan mengagetkan semuanya (lagi).
"PERGI! KALIAN SAMA SAJA.. HIKS.. DINGINN MENGAPA KALIAN MEMBERI KU DINGIN. PADA AKHIRNYA KALIAN AKAN PERGI JUGA SEPERTI MEREKA BUKAN!" Bentak Sakura sontak mencengangkan keenam sahabatnya.
"PERGI PERGI PERGII!" Sakura semakin histeris tak terkira. Disaat Gaara dan Sai ingin menghampiri Sakura, lengan keduanya dicegah oleh Shikamaru karena Ino berjalan kearah Sakura.
PLAAAAKKK
PLAAKKKK
PLAAAKKKK
Semua kecuali Shikamaru terkejut dengan tindakan Ino yang menampar Sakura tiga kali. Sakura meringis kesakitan, namun seketika Ino memeluk Sakura dan dengan menahan air mata, ia menangkupkan wajah Sakura sejajar dengan wajahnya. Biru lautan dan emerald bertemu, keduanya sudah membendung air mata yang sewaktu-waktu bisa pecah.
"Lihat aku!" Bentaknya sambil menatap tajam emerald Sakura. Tatapan Sakura masih kosong, namun tak butuh waktu lama," HARUNO SAKURA, TATAP MATAKU SEKARANG APA KAU DENGAR!" suara Ino frustasi bercampur marah, dan khawatir. Berhasil, Ino berhasil membuat Sakura menatap Ino, namun tatapan itu tatapan penuh amarah dan prasangka.
"Untuk apa kau masih disini? Pergi." Ucap Sakura menahan marah yang besar.
PLAAAKK , Ino menampar sekali lagi. Hinata tak tega meihat Sakura, ia membekap mulutnya menahan tangis yang luar biasa, Naruto melihat kondisi Hinata tidak tega dan memeluknya, meminjamkan dada bidangnya untuk sandaran. Sedangkan Sai dan Gaara menggeram dan ingin menghampiri Ino dan Sakura. Namun langkah mereka terhenti oleh Shikamaru "Jangan ikut campur!" ucapnya mendelik "hanya Ino yang bisa mengembalikannya." Imbuhnya dengan nada yang jauh lebih tenang. Keyakinan Shikamaru membuat Gaara dan Sai akhirnya mundur dan membiarkan kedua gadis itu sendiri.
"Haruno Sakura ! aku..kami tidak seperti mereka." Suara Ino tertahan, kami tidak akan pernah menjadi dingin dan meninggalkanmu tanpa kata! Kami bukan mereka. Kau lah yang dingin kepada kami, justru kami yang takut kau kan meninggalkan kami semua Saku..Lihat mereka Hinata, Gaara, Naruto, Sai, Shikamaru dan Aku akan selalu ada untukmu Saku, kumohon.. hiks sadarlah Saku." Ucap Ino dengan lembut dan putus asa, ia sudah tidak lagi dapat menahan bendungan air matanya. Semua mengalir kebawah.
Hangat..
.
.
.
Sakura merasa ada sesuatu yang jatuh di tangannya, sesuatu yang hangat dan basah. Ia menatap Ino dan tangannya bergantian, dan dengan suara bergetar Sakura pun akhirnya berbicara,
" Ino..aku takut.. aku takut kalian pergi seperti mereka hiks hiks hik, aku amrah kepada meraka, aku marah kepada keadaan, dan tanpa kusadari aku marah dengan ketakutanku akan ditinggalkan lagi , maaf kan aku maafkan aku."
Kini air mata sakura juga turut membasahi tangan Ino. Tangis Ino semakin pecah, bukan karena putus asa Sakura tidak akan berubah, namun karena bahagia Sakura sudah mau terbuka dengannya. Dan Semua orang yang berdiri pun ikut menyejajarkan diri dan berpelukan untuk membuat hari Sakura hangat. Meski diawali dengan tangisan, namun ini adalah tangisan bahagia. Ini awal yang baik.
Bukankan begitu?
1 bulan kemudian , Konoha International High School 07.00 AM
Tap tap tap tap.
Gadis yang identic dengan pink itu kini berlari tergesa-gesa menuju kelasnya. Bukan karena apa melainkan agar tidak terlambat masuk ke kelas. Dia tidak berharap terlambat masuk kekelas Tsunade Sensei, kepala sekolah sekaligus guru biologi yang super duper galak dan tidak suka akan ketidakdispinan.
Sreekkk brugg!
Pintu geser itu terbanting, dan muncullah manusia dengan jidat lebar namun terpahat pas dengan wajah ayunya.
"Ma..Maaf Tsunde Sensei saya terlambat!" Ucap Sakura sambil melihat jam tangannya. 07.05 AM.
'Sial!' Rutuknya dalam hati.
Kini Sakura berjalan menghampiri Tsunade dengan tatapan iba dari teman sekelasnya, mereka semua tahu apa arti keterlambatan Sakura. Sebuah tugas ekslusif akan divoniskan kapada gadis yang kini sudah mulai menatap hari-hari kedepannya, meski tidak sama lagi toh masih ada sahabatnya yang akan menemaninya.
Dan benar saja, Tsunade membuka mulutnya memberi penghakiman pada murid kesayangannya itu. Haruno Sakura, gadis pink itu merupakan refleksi dari dirinya sewaktu remaja baik sikap, otak encernya serta bakat alami seorang dokter.
"Haruno Sakura.. kau tahu bukan ini adalah jam ku?" Tanya Tsunade tanpa memberi kesempatan Sakura waktu untuk menjawab.
"Hm.. Baiklah, karena kita akan membahas mengenai alam bawah sadar, buat 50 halaman mengenai alam bawah sadar dengan peristiwa-peristiwanya. Dan sekarang duduklah."
Perasaan Sakura lega, 50 halaman bukanlah hal yang sulit dicapai. Kelegaan ini juga turut dirasa para sahabat dan teman sekelasnya. 'Tsunade Sensei dalam kondisi baik, pelajaran ini akan berjalan lancer.' Ucap setiap hati siswa di kelas XA itu. Namun semua sirna seakan dunia runtuh ketika Sakura akan duduk di kursinya dan mendengar suara Tsunade, " Tulis tangan dan kerjakan secara bolak-balik Haruno." Imbuh Tsunade singkat tanpa rasa bersalah membuat seisi kelas terkejut, terlebih Sakura. Ia hanya bisa menghela berat dan mengiyakan permintaan, bukan, mengiyakan perintah gurunya itu.
Teeeeett
Bel berbunyi tanda istirahat telah terdengar. Tsunade bergegas keluar kelas dan suasana kelas menjadi sangat riuh. Bagaimana tidak dua setengah jam berhadapan dengan guru killer yang jenius di bidang biologi, karena bagaimanapun juga Tsunade adalah seorang professor, doctor, serta dokter.
Terlihat siswa dikelas itu kini sudah pergi keluar kelas menuju kantin untuk mnegisi perut yang sudah berkonser itu. Namun tidak dengan keenam remaja yang membentuk ikatan persahabatan yang terlihat menuju atap sekolah dengan bungkusan masing-masing.
Terlihat dibagian belakang ada Garaa, laki-laki pucat dan dingin dengan rambut merah dan mata seperti panda itu sudah menjadi incaran banyak gadis KIHS sejak pertama menapakkan kakinya. Kemudian Sai , laki-laki pucat (sekali) yang memiliki rambut kelam senada dengan warna matanya selalu meluluhkan dan membuat histeris pada gadis KIHS dengan senyuman palsunya. Dan laki-laki terakhir dalam kelompok itu adalah laki-laki yang bersifat kontras dengan keduanya, tan, rambut pirang cerah dan sangat ceria. Uzumaki Naruto, meski tidak semisterius kedua temannya namun pribadinya yang supel dan hangat ini juga tak kalah menarik dengan Gaara dan Sai.
Dibarisan depan para lelaki, ada 3 orang gadis yang memiliki keunggulan tak kalah hebat, Yamanaka Ino, ratu fashion di KIHS, meski baru kelas X namun citarasa fashionnya yang anggun dan tidak berlebihan itu mendapat pengakuan diseluruh KIHS. Bagaimana tidak jika ia adalah putri dari seorang florist dan desainer ternama di Konoha. Pembawaanya yang dewasa, dengan kulit putihnya tak tercela dan rambut pirang panjang berponi miring, meski tak secerah milik Naruto membuat Ino jadi incaran teman sebaya maupun kakak kelasnya. Namun gadis ini sudah menjatuhkan pilihan kepada sang pemalas yang jenius Nara Shikamaru yang duduk di bangku kelas XI A KIHS.
Jangan Tanya kenapa, Shikamaru jenius, ia lompat kelas. Beralih ke gadis berikutnya adalah Haruno Sakura. Sejak kematian kedua orangtuanya, dan sempat mengalami tekanan psikis yang hebat, Sakura berubah menjadi gadis yang lebih pendiam, tidak sehangat dahulu. Jika biasanya Sakura yang memulai pertengkaran hangat dengan Naruto. Kini kawan-kawannyalah yang berusaha untuk membuat Sakura bicara, jika tidak ia hanya akan diam dalam lamunannya dan itu mnegkhawatirkan sahabat-sahabatnya. Gadis terakhir adalah Hyuga Hinata, gadis lugu ini awalnya sering menjadi bulan-bulanan murid baru dan seniornya hanya karena ia anggun dan berkelas, para kakak tingkat merasa tidak rela dengan banyaknya ketertarikan laki-laki kepada Hinata yang pendiam itu.
"Waah hari ini cerah sekali ya." Ucap Naruto sambil menaikki tangga menuju atap. Balasan terdengar dari mulut Hinata yang diam-diam memiliki perasaan kepada Naruto, "Iya.. ya hari ini cerah sekali Naruto-kun."
"Kun? Hinata.. sejak kapan kau memanggila si bodoh itu dengan suffiks –kun? Jangan jangan kau… heii mengapa wajahmu memerah?" teriak Ino kontan membuat keempat mata memandang Hinata keheranan " Kau suka pada Naruto ya!" imbuh Ino yang sontak membuat Hinata seperti kepiting rebus, ia segera berlari menuju atap sekolah meninggalkan kawannya dibawah dengan berbagai ekspresi.
Sakura tersenyum menahan geli, Said an Gaara menyunggingkan senyum tipis, dan yang heboh adalah Naruto yang memiliki semburat merah di pipinya menahan malu. Ino mengejar Hinata dan ketika sampai diatas, ia melihat Hinata terpaku pada sosok yang menempati tempat mereka.
"Kau..Kau.. sedang.. sedang apa kau disini?!" Ino menaikkan suaranya satu oktaf ketika melihat sosok itu.
To Be Continued ..
Jika berkenan pembaca sekalian bisa bantu penulis dengan memberikan masukan untuk perbaikan.
Menerima Flame dengan tangan terbuka tapi tolong kata-kata dijaga kesopanannya.
Terimakasih mau meluangkan waktu.
-This Story F&F my self-
17/4/2013 . Jogja/ PL Therito
