BABY

kookV / Kook!seme V!uke

Rated M (buat jaga-jaga)

KookV bukan milikku. Mereka punya BIGHIT, eomma appanya dan Tuhan tentunya. Aku mah calon istrinya/tabok

Oke deh,

HAPPY READING~

.

.

.

Jungkook mengerang kecil karena suara debugan keras serta benda yang terpelanting jatuh mengusik tidur nyenyakya. Lelaki berambut arang itu kemudian menarik selimut yang melorot agar menutupi tubuhnya yang kedinginan. Ia semakin mengusakkan wajahnya pada bantal empuknya sebelum terdengar ringisan kecil menyapa gendang telinganya. Bagai alarm waspada menggema di otaknya, Jungkook langsung membalikkan badan begitu sadar setelah mengombinasi suara debugan disertai ringisan itu. Matanya mendapati sang istri yang berusaha bangkit dengan mengusapi perutnya yang terasa nyeri.

"Astaga, Tae—"

"Ah, Jungkook," Alih-alih hendak mengomeli istrinya, Taehyung sudah memotong ucapannya. Sedikit terheran, sebab istrinya itu memanggilnya dengan wajah sarat kecemasan, membuat alis Jungkook bertautan. "Jungkook...,"

Jungkook menatap Taehyung yang kini meraih smartphonenya yang tergeletak di ujung kakinya, lalu merangkak ke ranjang dan mendekatinya. Jungkook terheran sebentar karena istrinya terlihat panik dan cemas. Jungkook menggenggam kedua lengan kurusnya, "Ada apa, Sayang? Kau terlihat panik."

"Cepat bangun, antarkan aku, ya?" Pintanya sambil menarik ujung lengan piyama sang suami. "Kumohon...,"

Jungkook dengan segala jiwanya yang belum genap dari bangun tidurnya langsung mendengus kecil. Ia mengusap matanya yang masih terasa berat, lalu melirik jam nakas, "Ini masih jam tiga pagi, Tae. Memangnya kau mau kemana?"

"Rumah sakit, Kook," Taehyung kemudian bangkit tanpa memedulikan sang suami yang menatap khawatir padanya. Ia segera menyambar sweater juga mantel tebal beserta coat musim dinginnya, lalu mengenakannya dengan cepat.

Jungkook lalu bangkit dan segera menghampiri Taehyung yang kini sibuk mencari sweater, mantel¸ dan coat untuk Jungkook di lemari. Ia berdiri di belakang sang istri, "Kau sakit?" tanyanya sembari membalikkan tubuh Taehyung agar menghadapnya.

"Tidak," Taehyung buru-buru memutus kontak mata diantara keduanya, ia kembali sibuk mencari pakaian hangat untuk Jungkook.

Alis Jungkook bertaut, "Lalu?"

Taehyung mendegus kasar, ia gemas sekali dengan suaminya yang banyak tanya, "Uh—Yoongi-noona melahirkan, Jungkook!"

Ya Tuhan, Jungkook kira Taehyung yang sakit. Ternyata istri sahabatnya yang kenapa-napa. Jungkook mendesah lega, "Siapa yang memberi tahu?"

"Duh, cepat cuci wajahmu," Taehyung mendorong punggung Jungkook menuju kamar mandi, "Jimin barusan meneleponmu, tapi aku yang angkat."

"Oh, baiklah."

Jungkook langsung menuju kamar mandi, menyiram wajahnya dengan air dingin—menghilangkan kantuk yang sebenarnya masih bergelayut manja.

.

.

.

Begitu sampai di rumah sakit, keduanya langsung turun dari mobil. Jungkook menghampiri Taehyung yang tengah bersandar di sisi mobil sambil mengusapi perutnya.

"Perutmu kenapa, Tae?"

Taehyung meringis kecil, "Aku baik,"

"Kau yakin?" pandangan Jungkook menelisik gelagat istrinya yang menandakan sedang tidak baik-baik saja, "Apa karena jatuh tadi?"

"Mungkin," Taehyung menegakkan tubuhnya, lalu menggamit lengan Jungkook, "Sudah. Sakitnya hilang." Taehyung menarik Jungkook memasuki rumah sakit.

Jungkook tidak yakin sebenarnya, namun suara ceria Taehyung membuatnya sedikit lega, "Kalau sakit bilang saja. Jangan ditahan,"

"Iya, Sayang." Taehyung terkikik. Ia merasa senang mendapat perhatian dari sang suami.

.

Begitu sampai di belokan ketiga, keduanya mendapati ruang tujuannya—ruang bersalin—yang dikerubungi beberapa orang yang terlihat familiar.

"Jungkook-ah," Panggil salah seorang wanita dari beberapa orang itu hingga menjadikan Jungkook sebagai pusat perhatian mereka.

"Seokjin-noona," Jungkook membungkuk hormat diikuti Taehyung. "Bersama Namjoon-hyung?"

"Ya," Seokjin tersenyum cantik pada Taehyung yang tersenyum menyapa padanya, "Sedang mencari makanan atau minuman hangat untuk Jimin. Dia belum makan." Seokjin berujar karena Jungkook mencari-cari keberadaan suaminya itu.

Jungkook bergumam paham. Ia menatap lekat pada sosok lain yang tengah tertidur di kursi tunggu depan ruang bersalin. Jungkook membuat gerakan mulut siapa pada Seokjin. Seokjin mengikuti gerakan mata Jungkook, lalu tersenyum.

"Hoseok."

"Oh."

"Bagaimana keadaan Yoongi-noona?" kali ini Taehyung bersuara.

Seokjin mengangguk, "Yoongi baru saja dipindahkan ke ruang bersalin satu jam yang lalu. Ia memilih melahirkan secara normal."

"Jimin di dalam, kan?"

"Ya."

"Orang tua mereka sudah dihubungi?"

"Sudah. Sedang dalam perjalanan kemari."

Taehyung menggigit bibirnya lalu mengangguk, "Semoga Yoongi-noona dan bayinya selamat," Taehyung menatap pintu ruang bersalin dengan tatapan cemas.

"Ya, semoga mereka baik-baik saja."

.

Sudah dua jam mereka menunggu, namun ruang bersalin belum menandakan kegiatan antara hidup dan mati di dalam sana selesai. Namjoon sudah kembali sembari membawa beberapa camilan dan minuman kaleng hangat. Hoseok juga sudah bangun sedari tiga puluh menit yang lalu. Kini mereka berbincang-bincang mengenai banyak hal untuk sekedar melepas rindu. Sebab, sedari SMA hingga sekarang, kelima orang tadi ditambah dengan pasangan Jimin dan Yoongi adalah sahabat.

Celotehan mereka terdengar ringan dan begitu menghangatkan suasana yang tegang karena menunggu kabar dari ruang bersalin. Terlihat Hoseok tengah menceritakan kisah perusahaannya yang sukses besar. Sahabat-sahabatnya itu penasaran akan wajah Hoseok yang terpasang di Headline Cover koran dan majalah pagi ini, sehingga berakhir memaksa Hoseok untuk bercerita. Kikikan geli dan tawa lucu juga menyeruak disela-sela percakapan mereka. Kadang suasana jadi mengharukan juga menyedihkan ketika Hoseok menceritakan dukanya selama perjuangannya. Semua memerhatikan Hoseok, terkecuali Taehyung.

Istri Jeon Jungkook itu bersandar pada sisi kiri tubuh suaminya. Matanya terpejam erat dengan deru nafas teratur. Tangan kanannya bertumpu pada paha Jungkook, dan mendapat usapan menenangkan darinya.

Jungkook tahu istrinya itu tidak bisa bangun terlalu pagi. Ia mengusap puncak kepala Taehyung, lalu mengecupnya. Dan sialnya, adegan yang dilakukannya diawasi oleh tiga orang di depannya.

"Heee," Ini suara Hoseok. "Kau menghinaku yang masih jomblo ini ya?" Pertanyaan Hoseok yang sebenarnya lebih mengarah untuk dirinya sendiri mengundang kikikan geli dari Namjoon dan Seokjin. Jungkook hanya menanggapi dengan senyuman.

"Makanya," Namjoon mengerling pada Hoseok, "Cepat cari wanita atau pria untuk kau nikahi. Astaga, sudah umur berapa kau, Jung Hoseok?"

Hoseok mencebik. Ia sedikit sebal karena topik ini begitu menohok hatinya.

"Itu karena kau terlalu terpaku pada dunia kerjamu, Hyung," kini Jungkook menimpali. "Seharusnya, selagi kau bekerja, kau juga harus mencari jodoh untukmu."

"Ya! Lihatlah, bocah ini sudah pandai berbicara pada Hyung-nya ternyata." Hoseok kesal tapi malah tertawa.

"Itu karena Jungkook sudah memraktikkannya, Hoseok-ie." Seokjin berujar sembari menepuk bahu Namjoon yang tidak berhenti terkikik geli karena Hoseok yang masih mendelik pada Jungkook. Menyuruhnya dengan perintah diam karena ini adalah rumah sakit.

Hoseok kini terdiam. Lalu matanya bergulir pada sosok Taehyung yang tertidur di sisi Jungkook, "Taehyung baik-baik saja?"

Jungkook bergumam mengiyakan. Lalu Hoseok mengernyit seperti menelisik wajah Taehyung. Jungkook penasaran, "Ada apa, Hyung?"

"Apa kau yakin? Wajahnya pucat, loh."

Sontak Jungkook langsung mengalihkan pandangannya pada Taehyung yang memang terlihat pucat. Rasa khawatirnya semakin menjadi manakala keringat muncul di sekitar pelipisnya.

"Apa dia sakit?"

Jungkook tertegun, "Aku tidak tahu. Tapi, tadi dia jatuh dari ranjang. Dan mengeluh perutnya sakit."

"Apa dia hamil?"

"Hah?" Jungkook menatap Seokjin penuh tanda tanya.

"Apakah Taehyung sedang mengandung?" Seokjin mengulang pertanyaannya.

"Tidak...," Jungkook jadi bimbang, "Aku tidak—"

"Ah dokter!" Namjoon mengiterupsi, lalu ketiga orang yang tersisa langsung menatap dokter yang baru saja keluar dari ruang bersalin. "Bagaimana dengan persalinannya?"

"Syukurlah. Ibu dan bayi selamat." Dokter yang bernama Do Kyungsoo itu tersenyum lebar.

Lalu ucapan syukur terdengar dari para sahabat. Mereka bahagia. Sahabatnya juga bayinya baik-baik saja.

"Apa kami boleh masuk?"

"Boleh. Namun, sebentar saja. Karena Nyonya Park masih kelelahan."

Lalu, Seokjin terlebih dahulu masuk ke sana, dan diikuti yang lain.

.

Taehyung terbangun karena suara berisik dari temannya. Ia lalu menegakkan tubuh, dan menatap sekeliling dengan tatapan sayunya.

"Are you okay, Princess?" Jungkook bertanya sembari mengusap peluh di dahi Taehyung, "Mukamu pucat. Apa perutmu sakit?"

Taehyung terdiam, lalu menyandarkan wajahnya pada dada sang suami, "I'm okay. Dimana yang lain?"

"Sudah di dalam," Jungkook membelai punggung sang istri yang bersandar padanya, "Kau mau masuk?"

"Hmm...," Taehyung mengangguk, lalu bangkit. "Ayo temui mereka."

.

Satu hal pertama yang Taehyung temukan adalah Yoongi yang tengah menyusui anak keduanya itu. Anak pertama Jimin sedang dititipkan di rumah Ibu Yoongi.

Taehyung tersenyum bahagia mendapati pemandangan haru di depannya. Ia menyaksikan Jimin yang tidak berhenti menangis bahagia. Taehyung jadi menitikkan air mata melihatnya.

"Wah, selamat Yoongi-ah, Jimin-ah." Hoesok memberi selamat sembari memeluk Jimin yang tadi menghampirinya.

Jimin terisak, "Ya Tuhan, aku sudah punya dua anak." Gumamnya dengan suara bergetar.

Seokjin mendekati Yoongi yang tengah mengusap tubuh rapuh bayinya, "Yoongi-ah, selamat! Kau memang ibu yang hebat!" Seokjin tersenyum tulus, dan Yoongi menanggapinya dengan senyuman merekah.

"Terimakasih, terimakasih, Seokjin-ie."

Taehyung yang hendak menghampiri Jimin, tiba-tiba merasakan pusing mendera kepalanya. Ia hampir saja jatuh, namun Jungkook menahannya.

"Astaga, Taehyung. Kau pucat sekali." Jimin menyaksikan sahabatnya yang terkulai lemas dalam pelukan Jungkook.

"Jungkook, cepat bawa periksakan dia selagi ini masih di rumah sakit."

Jungkook gelagapan mendapati Taehyung yang meringis sambil memegangi perutnya. Terlebih saat istrinya itu menitikkan air mata. Taehyungnya terlihat begitu kesakitan.

"Tae—Taehyung!" Jungkook semakin panik saat Taehyungnya menutup mulut dan terdengar suara hendak memuntahkan isi perutnya.

"Aduh, Jungkook! Kau lambat sekali!" Hoseok menggerutu, lalu melangkah cepat menuju pintu, "Akan kupanggilkan dokter." Kemudian Hoseok berlari dengan kecepatan kuda untuk menemukan dokter.

Namjoon memberitahu Seokjin untuk menemani Yoongi. Kemudian, pria berlesung pipi itu bersama Jimin menghampiri Jungkook yang hendak menggendong Taehyung.

"Lebih baik kita menyusul Hoseok," usul Namjoon. Kemudian, Jungkook langsung meninggalkannya terlebih dulu untuk segera menyusul Hoseok.

Jimin kemudian pamit pada Yoongi, dan mendapat dukungan dari sang istri. Ia segera menarik Namjoon untuk menyusul Jungkook yang terhempas kepanikan yang luar biasa mendera.

.

"Tae... Tetap sadar, Sayang." Jungkook merapal sembari menggenggam tangan Taehyung yang mengenggamnya lemah. Mereka—Jungkok, Hoseok, Jimin, dan Namjoon—sedang dalam perjalanan menuju ruang unit gawat darurat dengan Taehyung yang terbaring di brankar bersama para suster dan dokter.

Astaga, bahkan Jungkook sendiri lupa bahwa dirinya adalah dokter.

"Jungkook..." Taehyung memanggilnya, begitu lemah dan tak berdaya. Jungkook mati-matian menahan tangisnya agar tidak pecah. Sumpah, ia panik sekali. Taehyungnya sedang tidak baik-baik saja, dan Jungkook tidak tahu mengapa bisa terjadi seperti ini.

Jungkook menggenggam tangan Taehyung semakin erat lalu tersenyum begitu terpaksa, "Ya, Sayang. Aku di sini. Bertahanlah...,"

Kemudian genggaman mereka terlepas ketika Taehyung dibawa masuk ke ruang unit gawat darurat.

Jungkook memanjatkan doa. Apapun yang terjadi, ia tidak ingin kehilangan Taehyungnya, ia berharap Taehyungnya baik-baik saja.

Jungkook sangat takut. Demi Tuhan, ia benar-benar ketakutan. Hal seperti ini terjadi lagi. Dan Jungkook tidak suka menyaksikan Taehyungnya yang kesakitan seperti itu.

"Tuhan..., selamatkan istriku."

Dan setitik air mata membasahi pipi Jungkook.

TBC

Hai... aku sedang berduka. Temanku meninggal dunia. :'(

Dia cowo yang baik sekali. Dulu pas SD, dia yang nemenin aku naik sepeda. Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah. Aamiin. :'(

Kembali lagi dengan BABY. Semoga suka ya. jangan lupa review dan fav (wkwkwk)

See you next chapt!

Saranghae~ :*

RnR