Kakashi memukul kepala pirang Naruto. Katanya dengan sebal, "Aku sudah katakan bukan begitu caranya."

Si pirang hanya tertawa ganjil dan kembali memperbaiki posisi gunting rumputnya yang terasa tidak nyaman ia pegang. Dengan hati-hati ia mengambil sudut pengamatan untuk memulai kerjanya lagi. Kakashi kembali mengamati laku pemudanya dengan seksama dan memberikan sedikit instruksi lagi kepada si pirang.

Dan ia kembali memukul kepala pirang pemuda itu saat gunting besarnya memotong ranting pohonnya secara berlebihan dan menyisakan bentuk abstrak di pohon kecil itu. "Naruto! Aku mengajarimu karena kau berkata ingin mempelajari topiary. Kalau kau main-main begini, lebih baik lupakan saja. Menghabiskan waktuku saja."

Naruto bersungut sebal. "Susah tahu! Sudah ah, hari ini sampai sini saja." Ia letakkan guntingnya ke tanah dan kemudian menggeliat, menghilangkan kekakuan di punggungnya. Kakashi memukul lagi kepala pirang Naruto dengan keras, "Rapikan peralatannya. Kau ini! Jangan biasakan berantakan."

Pipi kecokelatannya menggelembung dan bibirnya mengerucut, matanya memancarkan keisengan, "Aku kan hanya mencontoh apa yang biasanya dicontohkan di rumah."

Dan sebelum Kakashi memukul kepalanya lagi, Naruto sudah berlari membawa peralatan yang ia pakai tadi ke gudang. Terbirit-birit sambil tertawa mengejek dan meninggalkan Kakashi yang menggelengkan kepalanya kewalahan. "Anak nakal itu."

Pria paruh baya itu masuk ke dalam rumah kecil mereka yang berada di pinggiran sebuah desa kecil yang jauh dari perkotaan. Keduanya sama-sama ditinggalkan dalam kesendirian semenjak mereka sama-sama masih kecil. Karena itulah, Kakashi bisa mengerti kepedihan dan keiri-dengkian Naruto pada satu dan beberapa hal yang tidak dimilikinya namun dimiliki oleh orang lain. Ada perasaan bersalah jua di batinnya, pertanyaan-pertanyaan Naruto yang dijawabnya dengan tanggung dan tak menghasilkan apa-apa biasanya membuat raut wajah pemuda pirang itu tak senang dan semakin hari hal itu semakin menyakiti hati Kakashi sendiri tanpa Naruto ketahui.

"Aku akan mulai mengajar sekolah lagi besok. Kau pergilah ke rumah nenek Chiyo, dia meminta potongkan rumput di halaman rumahnya," ujar si perak saat Naruto masuk ke rumah lewat pintu belakang. Naruto mengambil segelas air putih dan menenggaknya dengan perasaan puas.

"Ah, nenek merepotkan itu. Dia pelit, tahu. Masa bulan lalu aku tidak diberi tip sama sekali."

"Jangan terlalu banyak komentar, Naruto. Sudah perjanjian kita kalau kau sudah lulus sekolah kau akan mencari uang sendiri."

Pipi Naruto menggelembung lagi, dan bibirnya menggerutu pelan, "Kenapa kau tidak beli sebidang kecil tanah, saja? Jadi aku bisa menanaminya dengan sayur atau semacam itu."

"Kau pikir aku sekaya itu untuk membeli sebidang tanah? Tanah rumah ini saja pemberian orang, tahu," Kakashi mendelik pada si pirang. Duduk ia di meja kerjanya yang berhamburan buku dan kertas-kertas entah apa. Naruto menghempaskan dirinya di atas sofa tua yang masih terlihat bagus yang mereka miliki. Kakinya bermain-main di udara, "Haah, kenapa sih aku tidak dilahirkan di keluarga yang kaya saja?"

"Yah, maaf saja kalau aku dilahirkan di keluarga tidak punya—"

Chouji mencibir ujaran Kiba. Shikamaru dan Sasuke tidak peduli dan tetap mempermainkan gawai mereka. Kata Kiba lagi melanjutkan, "—keluarga tidak punya hutang. Hahaha."

Chouji turut tertawa mendengar lelucon Kiba. Sasuke yang juga mendengarkan turut tersenyum tipis. Ia menyimpan ponselnya saat seorang pelayan meletakkan makanan di atas meja, menunggu pelayan tadi pergi dari hadapan mereka dan mencicipi sedikit anggur yang disajikan. Keempatnya makan dalam diam, meski sesekali Kiba dan Chouji melemparkan sedikit candaan yang membuat Shikamaru dan Sasuke menyeringai tipis dibuatnya.

"Ah, Sasuke. Aku lupa. Di mana pesta ulang tahunnya Sakura lagi? Aku lupa. Hotel Grand?"

Sasuke menelan irisan steaknya terlebih dulu sebelum membalas tatapan Shikamaru. "Diadakan di rumahku."

"Ah, kudengar sekaligus akan jadi pesta pertunangan kalian, bukan?"

Sasuke tidak menjawab, tapi Chouji sudah tahu jawabannya sendiri. Begitu pula dua kawan mereka yang lain. Kiba menimpali, "Ah, kenapa orang tuaku dulu juga tidak menjodohkanku saja, sih? Kalau sudah begini aku sendiri yang kesulitan mencari jodohku. Mana mereka menuntut minta dibawakan, pula."

"Seingatku dulu aku pernah melihatmu makan bersama seorang wanita, Kiba."

Si cokelat menggeleng, "Aku hanya tidur dengannya saja. Dia artis, loh. Siapa sih namanya? Lupa. Kalau tidak salah pemain utama film yang sedang populer sekarang. Dia tidak bisa pacaran. Tidak boleh."

"Uwah, kau laki-laki kurang ajar, Kiba. Melupakan nama wanita yang pernah tidur denganmu." Chouji bergidik sembari menggeleng. Kiba tertawa, "Yah, hanya one night stand. Tak ada yang patut dijadikan spesial."

"Bisa kita hentikan pembicaraan itu? Kita sedang makan." Sasuke mendelik pada Kiba dan Chouji. Keduanya menyengir dan kembali melahap santapan malam mereka. Untuk sementara hening sebelum meja mereka dihampiri seorang wanita berambut merah dan tampak anggun, "Sasuke?"

Si hitam mendongak dan menatap mata merah si wanita. Senyuman perempuan itu tipis, namun menawan. Dia juga mengangguk pada tiga kawan Sasuke yang lain dan kembali pada Sasuke, "Lama tidak bertemu, Sasuke."

"Karin." Sasuke mengangguk. Dia berdiri dan Karin mencium pipi kanan dan kirinya. Dipeluknya pinggang perempuan itu dengan tangan kanannya. "Teman-teman, perkenalkan. Ini temanku, Karin. Karin, teman-temanku."

Ketiga pemuda di meja itu mengangguk pada si gadis.

"Kau sendirian?"

Karin tersenyum tipis. Pelukan Sasuke terlepas dan ia menunjuk seseorang yang tengah berbicara dengan teleponnya di tempat tak jauh dari mereka, "Kekasihku. Dia ulang tahun hari ini. Tapi justru masih disibukkan oleh pekerjaannya."

Sasuke melirik sebentar pria berambut perak itu, "Hozuki?"

Si gadis mengangguk dan tertawa pelan, "Aku tidak sempat mengabarimu. Ah, aku harus menyusulnya. Dia sering mengeluh jika sudah dipusingkan begitu." Lalu ujarnya dengan bisikan menggoda namun masih bisa didengarkan tiga teman Sasuke, "Dia begitu membutuhkanku kalau sedang uring-uringan karena pekerjaan."

Langkahnya pelan saat beranjak dari tempat Sasuke berada, gaun manis dan anggun yang ia kenakan sedikit berkibar ujungnya saat ia berbalik. Namun Sasuke segera menahannya lagi, "Aku lupa mengundangmu. Bulan depan, sempatkanlah datang ke pesta ulang tahun Sakura."

Mata merah itu berbinar cerah dan terpana, "Oh ya? Tentu saja aku akan datang. Kirimkan saja undangannya kepadaku."

Si pemuda mengangguk dan membiarkan Karin pergi menghampiri sang kekasih. Sasuke kembali duduk dan diserbu pertanyaan oleh dua kawannya yang berisik, "Itu Karin yang model terkenal itu, kan? Kau kenal dia, Sasuke?"

"Dia mantan kekasih orang ini." Shikamaru yang menjawab. Sasuke tertawa ringan dan kembali menikmati hidangannya. "Kami tidak saling suka, sebenarnya. Aku memintanya menjadi pacarku dulu saat aku pernah memprotes perjodohanku dengan Sakura. Dia bersedia membantuku, dia gadis yang baik."

"Cih, orang tampan sialan."

Seorang wanita tua tertawa geli mendengar ucap kecemburuan Naruto. Dia duduk dengan tenang di kursi goyangnya yang sudah ia minta Naruto untuk dikeluarkan ke teras, agar ia bisa melihat kerja si pirang di halaman rumahnya. "Naruto, bagian situ. Bagian situ rumputnya tumbuh lebat," ujarnya sambil menunjuk sudut halaman.

"Oi, Nenek! Kalau kau punya cucu setampan dia—" Naruto menunjuk seorang pemuda berambut merah yang dikerumuni dua tiga gadis di tepi jalan, "—kenapa tidak suruh dia saja yang memotong rumputmu?"

"Dasar bocah tak tahu diri! Justru karena dia tampan aku tidak menyuruhnya memotong rumput," kata sang nenek dengan nada sedikit menyindir, "Lagipula, dia baru datang dari kota. Mana tega aku menyuruh cucu tampanku untuk melakukan pekerjaan kotor?"

Naruto mengerucutkan bibirnya. Dia menggerakkan mesin pemotong rumputnya dengan asal-asalan, dan harus berkali-kali diteriaki si wanita tua untuk bekerja dengan benar. "Di situ! Di situ ada tanaman herbalku! Awas kalau kau memotongnya. Aku akan menuntutmu."

"Berisik! Aku tahu."

Si pemuda berambut merah dan beberapa gadis yang menyapa dan mengajaknya berbincang teralihkan perhatiannya oleh keributan kecil di halaman asri rumah itu. Para gadis itu terkikik-kikik melihat pertengkaran dan laku Naruto atas protes keras si nenek empunya rumah. "Naruto lagi. Dasar dia itu."

"Tukang kebun itu?" tanya si pemuda. Gadis-gadisnya mengangguk, "Sebenarnya dia bukan tukang kebun. Apa ya? Dia melakukan segala pekerjaan kalau dimintai bantuan oleh warga sini. Yah, seringnya minta dibantu bekerja di lahan. Tapi karena belum masuk masa panen, dia sering melakukan pekerjaan-pekerjaan di rumah seperti itu."

Gaara nama pemuda itu. Ia mengamati si pirang yang dipekerjakan neneknya itu dalam diam. Saat para gadis yang menyapanya tadi berpamitan untuk pulang, ia menghampiri Naruto. "Yorozuya?"

"Aku bukan yorozuya," keluh Naruto bersungut-sungut. Dia menjaga kecepatan mesinnya agar tetap bisa ia kendalikan, "Aku hanya belum dapat pekerjaan tetap."

"Kau tidak punya lahan?"

"Hah?!" Naruto menghentikan mesinnya dan menatap Gaara dengan kesal, "Mana punya. Aku bukan orang kaya yang punya tanah luas di desa ini."

Gaara masih tidak memperlihatkan ekspresinya sama sekali, dan itu membuat Naruto makin sebal. 'Bahkan wajah datarnya saja tampan. Orang tampan sialan.'

"Kau bisa mengurus bunga?"

Naruto terlihat ragu. "Kalau tanaman aku tahu sedikit-sedikit. Aku sedang belajar topiary akhir-akhir ini."

Sang wanita tua meneriakinya lagi untuk tidak bermalas-malasan dan disahut Naruto bahwa dia diajak berbicara oleh cucu nenek itu dan meminta salahkan saja kelakuan si merah itu daripada mengumpati si pirang.

"Kau mau bekerja di rumahku, di kota? Rumah kami memiliki taman yang luas." Gaara berujar, "Tapi kebanyakan pelayan di rumahku tak begitu senang jika ditugasi mengurusnya. Tukang kebunku hanya beberapa dan rasanya kasihan jika mengurus taman sebesar itu dengan sedikit orang."

"Wah," Naruto terpana. Orang yang tak tahu cara menggambarkan raut mukanya ini rupanya tahu rasa kasihan. "Benarkah?"

Gaara diam sebagai jawaban. Nenek Chiyo meneriakinya lagi dan dengan segera si pirang menyiangi rumput-rumput di halaman itu tanpa menjawab tawaran si pemuda merah. "Aku akan menanyakan itu kepada waliku dulu."

"Tapi—"

Air mata itu terjatuh begitu saja di pipi kemerahan si gadis. Membentuk jalur ganjil di wajahnya, dan ia meletakkan kembali gagang teleponnya. Mulutnya ia tutupi dengan tangannya, berusaha tidak terisak-isak di kamar itu meski linangan itu makin berisik meributi wajah manisnya.

Ia terduduk di sisi tempat tidur. Beberapa helai rambut merah mudanya menempel di wajahnya terkena air mata asinnya sendiri. Digigitinya tangannya sendiri, berusaha tidak mengeluarkan suara atas kepedihan hatinya yang semakin menjadi-jadi. Tangannya yang lain memukuli kasurnya sendiri. Semakin keras, semakin kuat. Menimbulkan debam pelan di sana. Mata hijaunya menggambarkan kepedihan mendalam dari hatinya.

"Sakura?"

Pintu kamarnya diketuk seseorang. Si gadis merah muda menghentikan gigitan di tangannya dan menghapus air matanya dengan segera, menghilangkan bukti kesedihannya. Namun pipi dan matanya tak bisa membohongi siapapun yang melihat kemerahan yang hadir di sana. Berkali-kali Sakura menggosok matanya dengan tangan, berupaya menormalkan merah di sana, namun tak berhasil.

"Sakura?" Ketukan itu lagi, dan Sakura tak bisa membiarkan panggilan itu menggantung begitu saja di luar. Mau tak mau ia menghampiri pintu dan membukanya, menyapa pemuda yang memanggilnya meski tanpa menatap si lelaki.

"Ada apa? Kau menangis?"

Wajahnya didongakkan si pemuda, jelaslah dilihat Sasuke raut penuh kesedihan itu. Si gadis menggeleng pelan dan tersenyum tipis, "Aku baik-baik saja."

"Kau tidak sedang baik-baik saja." Sasuke membimbing gadisnya masuk ke dalam kamarnya. Ia dudukkan dengan lembut di sana, ia usap dengan penuh sayang helai merah muda si gadis. "Aku sudah mengenalmu dua puluh tiga tahun. Kau tidak bisa membohongiku begitu saja, tahu."

Semula gadis itu ragu. Isakan pelan itu terdengar lagi, setetes dua air mata luput dari pelupuknya, dan berkali-kali jemari Sasuke menyapunya. Diulangi lagi pertanyaan Sasuke, "Ada apa? Ceritakanlah kepadaku."

Digigiti Sakura dua bibirnya pelan-pelan, sebelum berkata, "Ibuku tidak akan datang ke pesta pertunangan kita."

Sasuke terdiam.

"Dia tidak mau datang. Ke pertunangan anak tunggalnya sendiri."

Digenggamnya dengan lembut tangan kecil Sakura, Sasuke biarkan gadis itu menangis di pundaknya, membiarkan kemejanya basah sekali lagi dari tangisan entah keberapa gadis itu. Menjadi tempat bersandar gadis yang tak ia tahu kenapa selalu dihindari oleh ibu kandungnya sendiri. Sosok yang seharusnya menjadi panutan Sakura, yang seharusnya menjadi sosok idolanya.

Namun kenestapaanlah yang didapati si merah muda. Entah karena apa, entah dosa apa yang telah diperbuatnya dulu, Sakura tak pernah tahu. Tak pernah ada penjelasan. Bahkan dari bibir sang ayah. Mulut keduanya terkunci rapat, membiarkan Sakura besar dan tumbuh tanpa pengetahuan lebih dalam mengenai keluarganya sendiri dan justru mendapatkan kehangatan dari keluarga lain. Ayahnya tak pernah ia lihat menggandeng ibunya, dan selalu ada sirat kebencian kepada sang kepala keluarga yang ia lihat di mata ibunya jika mereka bersama.

Bahkan saat makan bersama pun, ibunya selalu berada di kursi paling ujung yang sangat jauh darinya dan ayahnya. Nuansa dingin dan mencekam selalu menyesaki batin Sakura jika ia bersama dengan dua orang tuanya. Keinginan untuk keluar dari sana, tidak di tempat tak menyenangkan, tidak di tempat dimana kebencian berhambur dengan sangat melimpah baik dari tatap hingga ujar penuh sindiran yang diucapkan ibunya jika nyonya besar itu berkata kepada ayahnya.

Dan Sakura tidak mengetahui apapun mengenai penyebab hal itu.

Sedih dan nestapa di dalam hati Sakura jelas diketahui Sasuke dengan sangat baik. Bagaimana tidak, jika ia selalu bersama dengan gadis itu? Tumbuh dan besar bersama, mengalami pengalaman yang sama di rumah yang sama. Kebersamaan yang kemudian menghasilkan perasaan ingin melindungi gadis itu entah dari apa. Benci ia melihat raut kepedihan tergores di wajah manisnya. Seperti layaknya seorang kakak yang akan selalu menjaga adik perempuan kecilnya yang manis dari segala kejahatan di muka bumi, begitulah perasaannya terhadap sang gadis.

"Ibu membenciku," isak Sakura, "Dia sangat membenciku."

"Ssst." Diusap Sasuke rambut sang gadis, "Dia pasti memiliki alasannya sendiri. Dia menyayangimu. Ingat? Bahkan ayahmu juga mengatakan itu."

"Ayah?" Sakura berujar dengan nada penuh kebencian. Tanpa ia sadari kebencian yang selama ini ia rasakan dari ibunya menular dan merasuk di dalam batinnya. Untuk alasan yang tak ia tahu, ia menjadi turut membenci ayahnya jua, "Dia hanya mengatakan apa yang ingin kudengar saja. Dia bahkan tidak peduli padaku. Tidak peduli pada apa yang terjadi padaku di sini."

"Hei, bukan begitu—"

"Jika tidak, kenapa dia menyerahkanku ke rumah ini? Dia tidak ingin membesarkan darah dagingnya sendiri? Melihatku tumbuh dewasa di depan matanya?"

Sasuke menggeleng pelan, "Karena mereka ingin kita sudah bersama sejak kecil. Agar kita tahu, kita sudah saling memiliki bahkan sejak kita kecil. Jangan berpikiran yang tidak-tidak."

Pemuda hitam itu menelan air liurnya sendiri usai mengatakan hal itu. Kepahitan yang dihasilkan berkebalikan dari kenyataannya. Dipeluknya dengan pelan tubuh kecil Sakura. Dibiarkannya kehangatan dan kasih sayang itu dirasakan si gadis sedikit lebih lama dari biasanya. Selepas itu, ia dongakkan wajahnya, meminta membalas tatapan mata hitamnya, yang memancarkan perasaan sayang dan selalu ingin menjaga si gadis.

"Jangan menangis lagi, oke? Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Ibumu pasti memiliki alasannya sendiri."

Air mata itu berhenti mengalir, dan Sakura mengangguk. Saat perlahan Sasuke menunduk kepadanya, berkeinginan mengecup pelan bibir kemerahannya yang ia gigiti sedari tadi, Sakura menoleh ke arah lain. Dibiarkannya pipinyalah yang dikecup si pemuda hitam. Entah mengapa, selalu ada sensasi aneh saat ia merasa Sasuke akan mencium bibirnya, sensasi yang mengajaknya untuk menghindar dengan pelan dan menolak si pemuda.

Sasuke tertawa pelan, mengerti sekaligus merasa lega. Sakuranya kembali seperti Sakura yang biasa. Dilepaskannya pelukan di tubuh Sakura, diusapnya lembut kepala Sakura, dan ia berdiri.

"Kau ingin pergi?"

Naruto mengangguk dengan penuh semangat. Matanya berbinar dengan pancaran yang selalu dilihat Kakashi jika Naruto memiliki hasrat yang begitu besar. Jika sudah begitu, Kakashi harus menolehkan pandangannya ke arah lain, takut terhipnotis lalu kemudian mengiyakan permintaan si pemuda tanpa pikir panjang. Dia begitu mudah takluk jika Naruto sudah begitu.

"Kenapa kau begitu ingin pergi?"

Naruto memperlihatkan beberapa lembar uang dengan satuan besar yang ia dapatkan. "Cucu tampan nenek memberiku tip sebanyak ini, coba. Katanya dia orang kaya. Bayangkan, Kakashi, jika memberi tip saja sebanyak ini, apalagi jika aku bekerja di rumahnya? Kita bisa menjadi kaya mendadak loh!"

Kakashi menggelengkan kepalanya menghadapi antusias Naruto yang baru sekali itu mendapatkan uang sebanyak itu. "Jangan katakan kita. Aku ini guru di sini, loh. Aku tidak bisa meninggalkan desa ini begitu saja."

"Aku kan tidak mengajakmu untuk ikut bekerja di sana. Dia hanya menawariku."

"Memangnya dimana rumah orang itu?"

"Di kota," jawab Naruto cepat dan tanggap. Senyuman lebarnya masih bersarang di sana sejak dia sampai di rumah. Tidak berkurang satu milimeter pun. "Boleh, ya?"

"Kota yang mana? Ada banyak kota di negara ini."

"Ibukota!"

Untuk sekejap raut wajah Kakashi menegang dan kali ini ia menatap mata biru Naruto dengan tajam. Katanya dengan tegas, "Tidak."

Dan untuk kali itu jua senyuman di wajah Naruto luntur seketika, "Haaah? Kenapa?"

"Tidak. Kau tidak boleh ke ibukota, Naruto. Ibukota—" Kakashi menarik napasnya panjang-panjang dulu, "—terlalu berbahaya untuk orang bodoh sepertimu."

"Oe!" protes si pirang, "Aku tidak bodoh, tahu. Aku ini sudah lulus sekolah menengah atas."

Digembungkan Naruto pipinya dan dia cemberut setengah mati. Dua alisnya nyaris menyatu, dan matanya memancarkan ketidaksenangan atas jawaban yang didapatkannya. "Pokoknya aku mau pergi ke ibukota."

"Naruto—"

"Kita dulu sudah sepakat, Kakashi, aku akan bekerja selulusnya aku dari sekolah. Sekarang aku sudah mendapatkan pekerjaan, tawaran menggiurkan."

"Bagaimana jika itu penipuan, Naruto? Bagaimana jika kau dibohongi orang itu? Bagaimana jika kau dijual jadi budak ke negara lain? Atau kau dibunuh dan organ-organmu dijual ke pasar gelap?"

Naruto menelan air liurnya mengingat cerita-cerita Kakashi sedari dulu yang mengisahkan kengerian dunia bawah tanah ibukota. Saat kecil, ia bertekat tidak akan pernah mau ke ibukota karena cerita menyeramkan itu. Namun saat ia bertambah dewasa, ia tahu kisah-kisah itu setara seperti dongeng-dongeng lainnya. Tidak sepenuhnya benar.

"Tidak mungkin terjadi! Gaara itu orang baik, tahu. Dia juga tampan!" Naruto bersikeras, "Katamu orang tampan itu pasti orang baik."

Kakashi mendelik mendapati kebodohan dalam argumen Naruto. Tapi ia juga merasa bodoh karena sudah membodohi Naruto jua. Jadi bodoh Naruto adalah karena kesalahannya sendiri.

"Lagipula—" Naruto meneruskan, "Gaara cucunya nenek Chiyo. Aku janji akan segera menulis surat kepadamu jika sudah sampai kota dengan selamat. Kalau aku tak pernah menyuratimu lagi, itu artinya aku dalam bahaya. Kau bisa mengancam nenek Chiyo, kok."

"Oe!" Kakashi menepuk dahinya sendiri, makin lama argumen Naruto semakin melantur kemana-mana. "Bukan begitu, Naruto. Kau… kau tidak akan bisa hidup di kota, oke? Kau itu orang desa. Pemuda desa. Duduk dan diamlah di desa saja. Aku tidak akan bisa tidur kalau kau di kota. Aku akan berpikiran yang macam-macam nantinya."

"Kan sudah kukatakan, aku akan menyuratimu dan mengabarimu bahwa aku baik-baik saja," Naruto tetap berkeras.

Kakashi diam. Naruto pun begitu. Berulang kali Kakashi menggigit bibir bawahnya sendiri, dan raut keraguan dan ketakutan terpancar di wajahnya. Ia merasa tegang dan tak rela. Bahkan ia tak sanggup menatap mata biru si pirang.

"Naruto," ujarnya kemudian. Ia tarik napasnya perlahan dan menghembuskannya dengan pelan jua. Ia pandangi seluruh wajah Naruto, mata birunya, hidung kecilnya, tanda lahir di kedua pipinya, seluruhnya. Yang biasanya selalu muncul di setiap mimpi Kakashi, entah mimpi buruk maupun bukan mimpi buruknya. "Kita sudah bersama sejak dulu, oke? Kau kubesarkan seperti layaknya anakku sendiri. Aku menyayangimu seperti ayah sayang kepada anaknya. Dan kau tahu bagaimana perasaan ayah ketika anaknya ingin pergi jauh darinya?"

Naruto menggeleng. "Aku tak pernah punya ayah."

"Tapi kau memilikiku! Kau tidak pernah merasa bahwa aku bisa menjadi sosok ayah untukmu? Kau ingin membuat ayahmu ini merasa sendirian di desa? Selalu merindukanmu? Jangan pergi, kumohon."

"Tidak pernah ada ayah yang ugal-ugalan dan ceroboh dan iseng dan kurang ajar sepertimu, tahu!" Naruto menampik pegangan tangan Kakashi di bahunya. "Pokoknya aku ingin pergi."

Kakashi menggigiti bibirnya lagi.

"Kenapa sih aku tidak dibolehkan pergi?"

"Karena ibukota itu berbahaya, Naruto." Kakashi mengulangi ujarannya, "Dan kau tega meninggalkanku sendirian di desa?"

"Jika kau tidak ingin berpisah denganku, kenapa kau tidak ikut saja ke kota bersamaku? Kau bisa jadi guru di sekolah di sana. Kita bisa minta bantuan Gaara."

Kakashi mendecih. "Tidak."

Naruto menaikkan nada suaranya, "Kau keras kepala sekali, sih."

"Kau yang keras kepala." Kali ini Kakashi benar-benar membentak si pirang.

Naruto menarik dan kemudian menahan napasnya sembari membelalakkan mata sipitnya dengan penuh kesebalan. Dia berbalik dan berjalan menuju kamarnya dengan menghentak-hentakkan kakinya kuat-kuat setiap kali ia melangkah. Bibirnya cemberut luar biasa dan pipinya ia gembungkan seperti anak kecil yang merajuk kepada orang tuanya.

Kakashi menggeleng-gelengkan kepala pada laku merajuk pemuda yang sudah ia besarkan selama dua puluh tiga tahun itu. "Ingat, Naruto. Kau tidak boleh ke ibukota. Itu kataku. Dan untuk selamanya!

-bersambung

A/N: Seperti yang sudah dikatakan, cerita ini mainstream bukan? Alurnya mudah ketebak ya? Hehe, jadi percuma jika terus mengikuti fanfiksi ini. Yang sudah follow, bisa unfollow, loh. Takutnya menyesal. :)