Kini, jatah cuti pernikahan Eri dan Takumi telah habis. Keduanya pun kembali ke rutinitas pekerjaan masing-masing. Pekerjaan sebagai guru bela diri membuat Takumi cukup lelah hari ini baik lelah secara fisik juga lelah karena ingin segera bertemu istri tercinta begitu pulang kerja. Singkatnya, he'll be damn so spoiled tonight, lololol.
After words, enjoy and don't forget to gimme reviews!
Can You Feel The Love Tonight?
"Tadaima," ucap Takumi seraya masuk ke dalam rumah dan melepaskan sepatu olahraganya.
"Okaeri," jawab Eri sambil menghampiri suaminya dengan celemek berwarna kuning bergambar kitsune yang masih dikenakannya, tanda dirinya sedang tengah menyiapkan makan malam.
Takumi tersenyum akan kehadiran sang istri yang menyambutnya itu. "Bagaimana aksesorismu? Banyak yang laris, enggak, hari ini?"
"Iya, lumayan banyak, kok, hehehe," ujar Eri. "Oh ya, otsukaresama, anata,"
"Ah, iya," jawab Takumi sambil membuka risleting jersey-nya. "Maa, cukup melelahkan juga sih hari ini,"
"Kalau begitu, kamu mau makan malam dulu atau mandi dulu?" tanya Eri sambil membawakan tas dan jersey milik Takumi.
Namun tiba-tiba Takumi memeluk Eri dengan erat hingga wanita itu terpojok ke dinding.
"Ta, Takumi?" Eri terang saja kaget. "Kamu kenapa? Jangan bilang kamu pusing karena kelaparan?"
"Iya, aku sangat lapar, Eri…" jawab Takumi lemas.
"Genki dashite!" ucap Eri menyemangati. "Hari ini aku masak kare yang enak, lhooo~"
"Bodoh, bukan begitu…"
"Hmm?"
Takumi pun mencium bibir Eri tanpa sempat dicegah oleh wanita bersurai pirang itu.
"Ummph…!" sambaran yang tiba-tiba itu pun membuat nafas Eri sedikit tercekat.
"Aku ingin me'makan'mu, sayang," Takumi memperjelas sambil membisikkannya langsung ke salah satu telinga Eri, membuat si pemilik telinga terlonjak karena hembusan nafas Takumi yang menggelitik salah satu titik sensitifnya.
Posisinya yang tengah di-kabedon membuat Eri tak berdaya dan secara tak langsung pasrah dengan kelakuan manja suaminya itu.
"Tu, tung— unggghn…!" Takumi sukses mencium bibir merah muda itu kembali, namun kali ini sambil memasukkan lidahnya.
Sapaan yang dilakukan lidah suaminya membuat Eri lemas hingga jersey dan tas Takumi yang digenggamnya pun ia jatuhkan. Tangan kanan Eri berpegangan pada bagian dada pakaian Takumi, membiarkan sang suami menuntaskan rasa rindunya.
"Hah… hah… anghhn… ummph…" desahan yang menggoda iman tak henti-hentinya keluar dari mulut Eri setiap kali lidah Takumi berpindah-pindah tempat dalam rongga mulutnya.
Seolah termabukkan oleh French kiss yang dilancarkan Takumi, Eri sampai telat menyadari kalau tangan kiri Takumi menyingkap kaus belang-belang yang dikenakannya seperti hendak menelanjanginya di situ juga. Eri baru sadar akan 'grepe'-an suaminya begitu tangan itu menyentuh payudaranya.
"Ba, bakka!" jerit Eri dengan wajah merah padam sambil mendorong Takumi menjauh. "Apa sih yang ingin kamu lakukan? Kalau tetangga sampai dengar, gimana?!"
Eri berjalan meninggalkan Takumi ke dapur. Sebelum wanita itu berlalu agak jauh, beruntungnya Takumi sempat menangkap lengannya kemudian mendekap tubuh yang ramping itu dari belakang dengan begitu romantis.
"A, apa, sih?" tanya Eri yang masih menahan malu.
"Gomen," ucap Takumi sambil membenamkan wajahnya di tengkuk istrinya.
Eri menyentuh lengan yang tengah mendekapnya itu dan diam mendengarkan penjelasannya.
"Aku… enggak tahu kenapa," ujar Takumi. "Namun setiap jam istirahat aku selalu kepikiran… soal kamu,"
"Bo, bodoh, untuk apa juga kamu segitu kangennya, sih?" kata Eri. "Setiap jam 6 sore 'kan kamu sudah bisa bertemu lagi denganku di sini,"
"'Kan sudah kubilang kalau aku enggak tahu kenapa terus kepikiran kamu!" dengus Takumi.
Eri tersenyum menghadapi suaminya yang tak disangka-sangka bisa manja juga. "Hai, hai, terima kasih sudah mau repot-repot memikirkan istrimu yang cantik ini,"
Eri pun mengecup pipi kanan Takumi. "Cepatlah mandi dan jangan lupa taruh baju kotormu di keranjang cucian, ya,"
"Naa, Eri?" panggil Takumi tanpa sedikit pun mengendurkan dekapannya seolah tidak mendengarkan perintah istrinya itu.
"Hmm? Ada apa?"
"Kamu… belum mandi, 'kan?"
Eri tersenyum meledek. "Sok tahu, ah, kamu,"
"Itu 'kan kaus yang kamu pakai untuk dalaman sweater-mu saat berangkat ke toko tadi pagi, bodoh," jawab Takumi. "Salah besar jika kamu pikir aku enggak memperhatikannya,"
Eri pun mengaku kalah. "Ah, baik, baik, jadi kenapa kalau aku belum mandi?"
"Bagaimana kalau kita… mandi bersama?" pinta Takumi dengan wajah merona.
Eri pun langsung melompat menjauh dari Takumi. "Enggak, enggak, enggak! Ini terlalu cepat, Takumi!"
"Terlalu cepat apanya, bakka Erichika? Kau lupa apa kalau kita sudah jadi suami-istri?" balas Takumi dengan ekspresi datarnya yang menyebalkan seperti biasa.
"Ta, tapi… telanjang di depanmu…"
"Kau lupa kalau kita sudah pernah berhubungan badan malam sebelum acara pernikahan kita di ryokan waktu itu?"
"U, ugh…"
Setelah menimbang-nimbang sejenak dengan wajah semerah tomat, Eri melepas celemeknya dan beranjak ke dapur.
"Masuklah duluan, aku mau mematikan kompor dulu," ucap Eri.
Takumi pun menurut dan langsung membuka pakaiannya di depan kamar mandi. Eri meliriknya sejenak dari kejauhan kemudian wanita itu langsung memalingkan wajahnya kembali karena tak tahan dengan pesona tubuh atletis milik Takumi.
"Yosh!" setelah berhasil mengumpulkan keberaniannya, Eri masuk ke kamar mandi dengan berbalut handuk.
Didapatinya Takumi yang telah selesai membersihkan tubuhnya dan sekarang telah berendam di bath tub. Eri pun melepaskan handuk yang menutupi tubuhnya dan duduk di bangku dingklik untuk membersihkan tubuhnya sebelum ikut berendam.
"Pe, permisi…" ucap Eri canggung sambil ikut masuk ke dalam bath tub setelah tubuhnya bersih.
Karena ukuran bath tub yang memang tak terlalu besar, Eri duduk dengan membelakangi Takumi.
"Haaaah…" Eri menghela nafas sambil merilekskan tubuhnya yang penat.
"Maaf, ya, Eri," ucap Takumi tiba-tiba.
"Untuk apa lagi kali ini?"
"Aku… terlalu banyak maunya malam ini," ujar Takumi. "Aku tahu kamu sepertinya memang belum terbiasa dengan status kita yang baru ini,"
"Huh, aku ini memang payah, ya, Takumi?" kata Eri sambil membenamkan setengah wajahnya ke dalam air.
"Payah?"
"Padahal kita 'kan sudah resmi berstatus sebagai suami-istri, tapi aku masih malu-malu begini setiap kamu bermanja-manja atau minta jatah," ujar Eri. "Pasti kamu kerepotan, ya, punya istri yang jual mahal begini?"
"Bodoh," ucap Takumi sambil kembali memeluk wanita itu dari belakang. "Aku menginginkanmu untuk menjadi istriku karena aku sudah siap dengan segala kerepotan yang akan kamu buat,"
"Karena aku sangat mencintaimu, Eri," lanjut Takumi sambil mengecup leher Eri.
"Nggghn…" Eri mendesah pelan karena kecupan singkat itu.
Memang pada dasarnya Eri memiliki cukup banyak titik sensitif sehingga bila Takumi menyentuhnya seperti tadi dia pasti akan merasa tergelitik.
Mendengar desahan pelan Eri membuat Takumi ingin menyentuh wanita itu lebih banyak lagi.
"Maaf, hanya sebentar, kok," bisik Takumi. "Kumohon, bertahanlah sebentar,"
"Tunggu, Ta, Takumi…"
Takumi mulai menciumi leher putih pucat itu disertai sedikit isapan kecil juga jilatan, sedangkan tangannya meremas pelan payudara Eri.
"Ta, Takumi… mou ii desho?" kata Eri yang tak tahan dengan sensasi pada kulitnya yang membuatnya ingin terlonjak.
"Tunggu, sebentar lagi…" jawab Takumi sambil memasukkan jarinya pada bagian intim Eri dan mengocok bagian dalamnya perlahan-lahan.
"Nggghn… sudah, ah, Takumi… jangan di sini… nggghn…" Eri memohon-mohon.
Begitu dirasakan jarinya yang terkena muncratan cairan dengan tekstur kental dari bagian intim Eri, Takumi menyudahi fingering-nya dan bangkit dari bath tub sambil memapah Eri.
Walau kare yang dibuat Eri malam ini begitu lezat, kelakuan Takumi di bath tub tadi membuat makan malam pasutri itu terasa canggung. Tak satu pun dari mereka yang mencoba memulai pembicaraan.
"E, Eri?" panggil Takumi dengan gugup.
"Ya?"
"Maaf karena tadi aku enggak sabaran," lagi-lagi Takumi meminta maaf.
"Sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan," jawab Eri. "Aku juga ngerti, kok. Setiap pria yang sehat pasti juga akan melakukan hal yang sama seperti kamu,"
"Dan lagi, aku 'kan istrimu," lanjut Eri. "Untuk apa aku menolaknya?"
Mereka pun terdiam lagi.
"Jadi… kamu ingin melakukannya setelah makan malam dan menggosok gigi?" tanya Eri dengan wajah merona.
"Kamunya keberatan, enggak?" Takumi balik bertanya dengan khawatir.
"Aku sih enggak masalah, kok," jawab Eri. "Maa, mungkin ini terdengar memalukan, namun sebenarnya aku merindukan sentuhanmu seperti yang kamu lakukan padaku untuk pertama kalinya di ryokan waktu itu, Takumi,"
Takumi nampak lega mendengarnya. "Apa sebaiknya aku pakai kondom?"
Eri menggeleng. "Tak apa, Takumi. Keluarkan saja di dalam,"
"Bukannya kamu ingin cepat-cepat jadi ayah?" lanjut Eri.
Takumi terkekeh pelan mendengarnya. "Karena acara makan malam sudah selesai, ayo kita cuci piring dan menggosok gigi,"
Sekeluarnya dari kamar mandi yang ada di kamar mereka, Takumi dan Eri berciuman sambil berjalan menuju ranjang. Eri yang malam itu hanya mengenakan lingerie sukses membuat Takumi semakin bersemangat untuk memakannya. Setelah mendarat dengan mulus di ranjang, Takumi mulai memelorotkan lingerie Eri sambil tetap menciumnya.
Setelah Eri telanjang di depannya, Takumi pun menanggalkan pakaiannya membuat keadaannya sama dengan istrinya.
"Apa kamu gugup?" tanya Takumi.
"E, enggak, kok," jawab Eri sambil melebarkan kedua lengannya. "Kemari lah, anata,"
"Jangan ragu untuk bilang padaku kalau aku enggak membuatmu nyaman, oke?"
Seperti sebelumnya, Takumi mulai menggarap tubuh istrinya dari atas hingga bawah. Area sekitar leher dan telinga adalah titik terlemah Eri sehingga Takumi memfokuskan permainannya terlebih dahulu di area itu untuk membuat Eri benar-benar terangsang.
"Apa puting wanita selalu begini keras kalau terangsang?" tanya Takumi sambil memainkan ujung payudara Eri.
"Me, memangnya, kenapa? Ngghn…!" kata Eri. "Punyamu juga mengeras jika di situasi yang sama, 'kan?"
"Kalau begitu… apa yang akan kamu lakukan hari ini untuk membuat Takumi junior bangun, sayang?" tanya Takumi dengan nada meledek.
"Hmm… mungkin blow job dan memberikannya sedikit massage?"
"Dasar, kamu benar-benar menyukai blow job, ya?"
"Kamu 'kan cepat keluarnya karena itu, bodoh," jawab Eri.
"Nee, Eri,"
"Hmm?"
"Bagaimana kalau kita coba posisi 69?"
"Eeeeeh?! Tunggu, jangan bilang kamu juga akan…"
"Ya, aku akan melakukannya juga padamu," ujar Takumi sambil tersenyum.
"Ba, baiklah…" ucap Eri setuju sambil berbaring dan membiarkan Takumi berada di atasnya dengan posisi terbalik, yaitu penis Takumi tepat di atas wajah Eri sedangkan kepala Takumi berada di bagian intim Eri.
Eri yang untuk pertama kalinya di-oral sex bagian intimnya tentu saja mendesah bahkan menjerit sejadi-jadinya.
"Ayo, Eri! Lakukanlah blow job andalanmu itu!" seru Takumi.
Eri memeluk pinggang Takumi dan mensejajarkan posisi mulutnya dengan benda panjang di atasnya itu. Setelah posisinya pas, Eri pun mengulumnya dan menjilatinya hingga membuat benda itu menegang dan mulai mengeras.
"Nee, Takumi? Apakah kamu sudah akan keluar?" tanya Eri setelah melakukan pekerjaannya selama beberapa menit.
"Se, sepertinya… nggghn…" jawab Takumi sambil menahan agar spermanya tidak muncrat di wajah Eri.
Mereka mengubah posisi sehingga kini Eri yang berada di atas Takumi, atau biasa disebut sebagai posisi cowgirl. Setelah penisnya masuk ke dalam vagina Eri, Takumi memegangi kedua lengan istrinya agar wanita itu tidak kehilangan keseimbangannya.
"E, Eri… sebentar lagi…" ucap Takumi.
"I, iya, Takumi… lakukan saja…" jawab Eri.
Benih-benih calon buah hati mereka berdua pun masuk dalam jumlah besar ke dalam vagina Eri. Keduanya menjerit dan mendesah karena sensasi 'kimochi' dari klimaks permainan ranjang malam ini. Begitu dirasakan tidak ada lagi cairan milik suaminya yang memuncrat ke dalam bagian intimnya, Eri pun menjatuhkan tubuhnya di dada Takumi karena kelelahan.
"Kurasa hari ini cukup satu ronde saja, ya?" tukas Takumi sambil membelai lembut surai pirang wanita di dekapannya itu. "Ayo, kita tidur,"
Saat Takumi hendak bangkit untuk mengenakan kembali pakaiannya, Eri menarik lengannya sehingga langkah pria itu terhenti.
"Ada apa, Eri?"
"A, ano… maukah kamu tidur dengan keadaan tetap seperti ini?" tanya Eri dengan gugup.
"E, enggak masalah, sih…" jawab Takumi sambil menggaruk tengkuknya. "Oh ya, Eri,"
"Hmm?"
"Bagaimana kalau kita mandi lagi sebelum tidur?" usul Takumi. "Sepertinya kita berkeringat cukup banyak tadi,"
Eri meraih kimono mandinya. "Tentu, ayo,"
"Mandi dan berendam setelah berhubungan badan memang paling nikmat, ya?" kata Takumi sambil merilekskan tubuhnya di bath tub. "Walau enggak sehat sih sebetulnya mandi dan berendam malam-malam begini, hahaha…"
"Ya, tapi kalau kita enggak mandi, bukankah saat tidur nanti rasanya kurang nyaman?" jawab Eri sambil masuk ke dalam bath tub.
Kini keduanya berendam dengan posisi berhadapan.
"Tapi memang benar, sih… berendam di air hangat itu memang nyaman, ya?" ucap Eri sambil bersandar. "Sampai rasanya aku ingin tidur di sini, deh,"
"Hahaha, jangan, dong," gelak Takumi.
"Sepertinya tubuhmu makin kekar saja, ya, Takumi?" komentar Eri. "Aku baru sadar saat kita bermain di ranjang tadi,"
"Ah, begitukah?" tanya Takumi. "Dasar, kamu ini jeli sekali,"
"Bodoh, siapa juga wanita yang akan memalingkan wajahnya ketika ada pria tampan plus punya roti sobek telanjang di depannya?" dengus Eri.
"Ahahaha, iya, iya…"
Karena dirasa cukup, mereka pun keluar dari bath tub, mengeringkan tubuh, kemudian kembali ke kamar untuk tidur.
"Oyasumi," ucap keduanya hampir berbarengan.
Sambil menunggu kantuk, Takumi mendekap Eri sambil mengelus-elus rambut panjang wanita itu dengan penuh kasih sayang. Eri yang merasa nyaman tidur di dekapan Takumi pun tak butuh waktu lama untuk terlelap.
Dasar, bahkan saat tidur pun kamu terlihat cantik, ya, Eri? gumam Takumi sambil memperhatikan wajah tidur istrinya.
"Mimpi indah, ya, Eri," ucap Takumi sambil mengecup kening Eri.
Chapter lanjutan kisah pasutri receh ini akan dilanjutkan di 'Korekara no Love Story' di fandom dengan rating T. See you there, Dear my fellow Storm in Lover shippers!
