Chapter 2 : Unlucky X or X Lucky – Is This Fate?

Kabut tebal yang awalnya menutupi pandangan para peserta ujian hunter mulai memudar. Para peserta ujian hunter memandangi sekelilingnya dan menyadari kalau saat ini mereka berada di alam liar. Satotz menatap wajah para peserta satu persatu kemudian menatap jam tangannya. "30 menit lagi gerbang akan ditutup." ucapnya pada diri sendiri.

"Satotz-san, sampai kapan kita akan menunggu di sini?" tanya Gon polos. "Sekitar 30 menit lagi." jawab Satotz. "Arigatou Gonzaimasu, Satotz-san." ucap Gon sambil kembali ke tempat duduknya yaitu di sebelah Lica.

"Masih 30 menit lagi." ucap Gon sambil menempelkan tubuhnya ke tembok. "Oh begitu. Aku mengantuk." kata Lica sambil menguap. "Bisakah kau membangunkanku kalau ujian sudah dilanjutkan, Gon?" lanjut Lica. "Tidur dulu saja, Lica. Nanti aku akan bangunkan." kata Gon ramah. "Arigatou, Gon!" respon Lica sambil menggosok-gosokkan rambut Gon dengan tangannya.

"Oyasuminasai minna!" kata Lica kemudian menyenderkan kepalanya dan memejamkan matanya. "Dasar pemalas." celetuk Killua. Seketika, kedua mata Lica langsung terbuka kembali dan menatap Killua dengan tatapan menusuk. "Apa yang kau katakan?! Coba ulangi!" ucap Lica sambil mengeluarkan aura gelap di sekeliling tubuhnya. "Oh, ternyata kau tidak hanya pemalas, tetapi juga tuli sekarang. Dasar pemalas, kasar, idiot. Kau pasti perempuan jadi-jadian karena dadamu rata." kata Killua dengan senyum menyeringai sambil menunjuk dada lica. Sontak saja, wajah Lica merah padam mendengar kata-kata terakhir Killua. "Apa katamu?! Dasar laki-laki tidak sopan, tidak punya etika, bodoh, idiot! Dan siapa bilang dadaku rata!" teriak Lica galak sambil berusaha meninju wajah Killua.

"Sudah berhenti bertengkar." ucap Gon berusaha menenangkan, namun berakhir dengan tidak dihiraukan kedua belah pihak.

"Seranganmu terlalu lambat." ucap Killua meremehkan. Lica pun mempercepat serangannya, namun tetap saja Killua mampu menghindari semua tinjunya, hingga akhirnya Killua menangkap salah satu tangan Lica. "Selain lambat, tinjumu juga lemah sekali." bisik Killua di telinga Lica yang membuat Lica bergidik. Tanpa berpikir jernih, Lica pun menggerakan kaki kanannya dengan maksud menendang kepala Killua, namun dengan mudah Killua memegang kaki Lica. "H-Hey! Lepaskan kakiku!" teriak Lica. "Oke." respon Killua dengan wajah sinis. Killua mendorong kaki Lica dengan keras hingga membuat Lica kehilangan keseimbangan. Namun, Lica berhasil mengembalikan keseimbangannya sebelum ia benar-benar jatuh.

"Kau itu manusia paling menyebalkan yang pernah kutemui, Killua!" teriak Lica sambil mempercepat dan memperkuat serangannya. Killua pun tetap dapat menghindari Lica dan kali ini Killua juga membalas serangan Lica tetapi Lica juga mampu menghindarinya. Hingga tak lama kemudian, Killua mulai mempercepat serangannya dan hampir tepat mengenai wajah Lica. Refleks, Lica memejamkan kedua matanya. Lica bingung karena serangan Killua tak datang juga mengenai wajahnya. Ia pun membuka kedua matanya perlahan dan melihat Killua tertawa puas.

"Lihat, Gon! Wajahnya lucu sekali!" kata Killua kepada Gon sambil menunjuk Lica. Gon hanya tersenyum tipis. "Ternyata kalian berdua sudah akrab ya?" ucap Gon senang dengan senyum ramah menghiasi wajahnya.

"Apa?! Tentu saja tidak!" teriak Killua dan Lica bersamaan sambil membuang muka ke arah berlawanan. "Lihat saja, kalian berdua sudah kompak. Rasa-rasanya akan ada pasangan baru setelah ujian hunter ini." ujar Leorio sambil tertawa terkekeh-kekeh dan mengusap keringat di dahinya. Kurapika yang ada di sebelah Leorio hanya tersenyum tipis melihat tingkah laku kedua bocah berambut putih dan cokelat di hadapannya.

"Itu tidak akan terjadi." ucap Lica sambil menatap Leorio tajam dan mengeluarkan aura gelap di sekelilingnya yang sama sekali tidak membuat Leorio takut. Sementara itu, Killua hanya tersenyum penuh arti di depan Leorio yang justru membuat Leorio sedikit ketakutan dan menelan ludahnya. "Anak ini menyeramkan." pikir Leorio dalam hati.

"Zreeek!" Sebuah gerbang besi menutup lorong yang sempat dilewati para peserta ujian. Sontak saja perhatian semua peserta ujian mengarah ke gerbang itu. "Sekarang, saya akan menjelaskan mengenai tempat yang akan kita lewati menuju ujian hunter berikutnya." ucap Satotz. Ia pun menjelaskan kondisi lingkungan tempat mereka berlari dan berkata kalau para peserta harus berlari di belakangnya agar selamat dari berbagai bahaya yang ada. Para peserta pun mengangguk dan memasang wajah serius.

"Jangan dengarkan dia!" teriak seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik tembok. "Akulah examiner yang sebenarnya! Dia hanya akan membawa kalian ke dalam hutan ini dan memberi makan kawanannya. Lihat saja wajah makhluk ini." jelas orang tersebut yang mengaku sebagai examiner sambil memegang tubuh kera yang memiliki wajah seperti Satotz. Orang-orang pun terkejut dan mulai mempertanyakan mana examiner yang sesungguhnya.

"Ini tidak baik." pikir Killua, Lica, dan Kurapika dalam hati. "Seet!" Hisoka melempar beberapa pisau kartu miliknya kepada Satotz dan orang yang mengaku sebagai examiner. Hal mengejutkan terjadi. Orang yang mengaku examiner tersebut jatuh mati karena pisau kartu Hisoka dan kera yang sempat dibawanya berlari ketakutan. Sementara itu, Satotz mampu menangkap pisau kartu yang diarahkan Hisoka.

"Sekarang sudah jelas bukan, mana examiner yang sesungguhnya." ucap Hisoka sambil memasang senyum yang justru membuatnya semakin terlihat menakutkan. "Kali ini tindakanmu dapat ditolerir. Apabila kau menyerangku kembali dengan alasan apapun, aku akan laporkan kau ke chairman dan kau didiskualifikasi." kata Satotz. Tak lama kemudian setelah Satotz selesai menjelaskan, Satotz kembali berlari dan memimpin arah para peserta ujian. Gon, Killua, Lica, Leorio, dan Kurapika pun ikut berlari mengikuti Satotz.

"Gara-gara kau, aku tidak sempat tidur!" teriak Lica keras di telinga Killua. "Anak perempuan idiot sepertimu itu berisik sekali ya." ucap Killua sambil memasang wajah terganggu. "Gon, ayo kita berlari lebih cepat." ajak Killua. "Baiklah!" respon Gon. Gon dan Killua mempercepat kecepatannya diikuti dengan Lica di belakang mereka berdua. "Mereka bertiga benar-benar cepat." ucap Leorio sambil menatap Gon, Killua, dan Lica dengan tatapan iri. "Ya." ucap Kurapika datar.

Makin dalam para peserta ujian berlari ke hutan, makin tebal kabutnya sehingga pada akhirnya, banyak sekali para peserta ujian yang tersesat dan kehilangan arah. Salah satu contohnya adalah Lica. "Sial! Mengapa aku bisa kehilangan jejak mereka?" umpat Lica pelan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. "Ini semua karena kecerobohanku. Aku kurang konsentrasi dan terpengaruh dengan suara-suara tiruan hewan di hutan ini." ucap Lica menyesal sambil berjalan tanpa arah. Tiba-tiba Lica sekilas melihat beberapa peserta ujian berlari mengikuti bayangan Satotz.

"Kalian harus berlari di belakangku agar terhindar dari bahaya." Terdengar suara Satotz menggema di telinga Lica. Lica pun memutuskan untuk berlari mengikuti beberapa peserta ujian yang sempat dilihatnya. Lica dan para peserta lain berlari hingga akhirnya mereka berhenti di ujung tebing. Lica melihat ke bawah dan ia melihat banyak mayat para peserta ujian hunter. Lica dan peserta yang tersisa terkejut melihat banyak peserta lain jatuh ke lembah berduri tersebut. Tepat pada saat itu, Lica sadar kalau ia dan para peserta lain sudah tertipu dan masuk perangkap yang dibuat makhluk-makhluk di hutan ini.

"Kita harus berbalik arah. Kita sudah masuk perangkap." ucap Lica mengajak peserta lain sambil mulai melangkah. "Lihat ada banyak kupu-kupu biru yang indah!" celetuk salah satu peserta. Para peserta menoleh ke atas dan bubuk halus di kaki milik kupu-kupu terhirup oleh mereka sehingga membuat mereka jatuh pingsan. Lica pun segera meniup serbuk itu kemudian menahan napas dan menutup hidungnya dengan kedua tangannya.

"Mengapa kupu-kupu berbahaya itu bisa ada di sini?" pikir Lica bingung sambil berlari meninggalkan tempat itu. "Maafkan aku karena terpaksa harus meninggalkan kalian." ucap Lica sedih sambil berlari sangat kencang. "Tempat ini benar-benar amat sangat berbahaya. Apa aku bisa selamat dan kembali ke rute menuju ujian hunter selanjutnya?" pikir Lica hampir pasrah.

"Seet!" Sebuah pisau kartu melesat hampir mengenai wajah Lica. Lica menengadahkan kepalanya dan melihat Hisoka sedang berselisih dengan peserta ujian lain. "Dia yang tadi melempar examiner dengan pisau kartu." pikir Lica sambil menatap pisau kartu Hisoka yang menancap di pohon. "Ini tidak baik. Aku harus melakukan sesuatu." pikir Lica lagi. Sekilas Lica menatap Hisoka yang memasang senyum di mukanya. Sempat terjadi kontak mata di antara Lica dan Hisoka, namun Lica buru-buru menyudahinya.

"Set! Ctak! Ctak! Ctak!" 3 pisau kartu melesat dengan cepat ke arah Lica dan beruntungnya Lica mampu menghindari semuanya. "Dia bermaksud untuk menghabisiku. Aura membunuhnya pekat sekali. Aku harus kabur dari tempat ini sekarang juga." gumam Lica sambil berlari dengan cepat menjauhi Hisoka.

"Pilihan yang bijaksana." gumam Hisoka sambil memandang Lica yang sudah berlari menjauhinya. "Kau lulus ujian hunter dariku." lanjutnya lagi sambil melempar pisau kartu ke segala arah dan menancap tepat di dada kiri para peserta hunter yang sempat berselisih dengannya sebelum Lica muncul. "Sayang sekali kalian semua gagal." ucap Hisoka sambil tersenyum puas menatap para peserta yang telah jatuh tersungkur.

Kembali pada Lica, Lica berlari sekencang-kencangnya demi menyelamatkan diri dari Hisoka dan Lica pun berhenti saat merasa posisinya telah aman dan menarik napas panjang untuk memenuhi paru-parunya dengan oksigen.

"A..aku selamat." ucap Lica lega sambil menyeka keringat di dahinya. "Setidaknya aku tidak terbunuh sia-sia... Tunggu! Mengapa kabut jadi setebal ini?!" pikir Lica sambil menatap sekelilingnya.

Benar seperti yang dikatakan Lica, kabut di sekelilingnya menebal dan terlihatnya buah stroberi besar di hadapannya. "Ada sebuah stroberi besar... Tidak sekarang dua, bahkan tiga dan sekarang ada lima!" teriak Lica sangat terkejut. "Ini aneh dan sekarang buah stroberi itu bertambah banyak!" teriak Lica makin keras dan seusai teriakannya berakhir, dari kabut tersebut muncul monster seperti dinosaurus. Monster itu mengaum dan berusaha memakan Lica.

"Ternyata stroberi yang kulihat hanya kamuflase dari kulit monster ini agar menarik perhatian mangsanya." pikir Lica sambil berusaha menghindari mulut monster yang ingin menelannya. "Baru saja aku selamat dari pembunuh, sekarang aku bertemu pembunuh lainnya!" teriak Lica kesal sambil berlari cepat diikuti monster di belakangnya.

Tampaknya kesialan sedang datang kepada Lica, ia tersandung batang pohon akibat kurang teliti melihat jalan tempatnya berlari. "Aww..." rintih Lica sambil berusaha bangun namun monster itu lebih dulu menerkamnya dan menggigit bajunya. Tanpa pikir panjang, Lica mengambil batang pohon yang membuatnya tersandung.

Monster itu melontarkan Lica ke udara dan membuka mulutnya tepat di posisi Lica akan jatuh. Lica pun memeluk batang pohon dan memposisikan batang pohon untuk menahan kedua rahang monster tersebut.

"WRAAAAWWW!" aum monster tersebut yang membuat telinga Lica tuli sejenak. Lica terdiam menatap batang pohon yang dipeluknya. Batang pohon yang menahan rahang monster cukup rapuh dan retakan sudah muncul yang menyatakan bahwa sebentar lagi batang itu akan patah karena tekanan rahang monster.

"Aku belum ingin mati. Aku masih ingin bertemu teman-temanku. Aku juga ingin menjadi hunter bersama mereka. Kumohon kali ini saja!" pinta Lica dalam hati dan tak lama kemudian batang pohon itu patah. Lica pun hampir terperosok ke dalam tenggorokan monster namun ia masih sempat memegang taring monster tersebut. Lica menatap ke bawah dan melihat gelapnya mulut monster tersebut. Tangannya sudah tidak kuat lagi menahan tubuhnya. "Aku sudah tidak kuat lagi!" teriak Lica dan spontan saja kedua tangannya lepas dari taring monster tersebut. Matanya terpejam dan rasa ketakutan menyelimuti sekujur tubuhnya.

Lica POV

Inikah rasa ketakutan akan kematian?

Mungkin seperti ini ya...

Apakah ini saatnya aku bertemu kembali dengan mereka?

Pasti menyenangkan bertemu dengan mereka, tetapi...

Aku belum menemukan apa yang mereka bilang...

Ikatan persahatan yang lebih kuat dari apapun juga...

Normal POV

"Aku belum ingin MATI!" teriak Lica sambil membuka matanya yang sempat ia pejamkan.

Tiba-tiba saja monster itu mengaum sangat kencang dan keras. "RWAAAAAARRRRR!" aum monster itu yang berhasil mendorong Lica keluar dari mulutnya akibat tekanan angin yang sangat besar. Lica terkejut dan seulas senyum terajut di bibirnya.

"Terima kasih." ucapnya pelan sambil tersenyum bahagia. Belum lama ia tersenyum, wajahnya langsung berubah menjadi shok. "Bagaimana bisa aku sesantai ini?! Ke mana aku akan jatuh? Kumohon jatuhkan aku di dekat Gon, atau Kurapika atau Leorio atau Tonpa pun tak apa! Bahkan jatuh di dekat Killua pun tidak masalah walaupun aku kesal dengannya." teriak Lica. Lica pun melihat ranting pohon dan memegangnya dengan erat.

"Duakk!" Ranting pohon itu patah dan untungnya Lica jatuh ke semak-semak yang cukup lebat. "Aduh!" rinthh Lica pelan sambil menatap sekelilingnya. Lica pun berusaha keluar dari semak-semak itu.

Di sisi lain, terdapat seorang peserta ujian hunter yang sedang berlari melewati semak itu. Karena suara gaduh dari gesekan dedaunan di semak yang Lica timbulkan, ia pun menghentikan langkahnya.

"Jangan-jangan ada yang mengikutiku dari tadi, tetapi mengapa aku baru mengetahuinya sekarang?" pikir peserta ujian hunter berambut putih itu. Killua pun menatap semak-semak itu dengan tatapan tajam sambil mengeluarkan kuku tajam di jari-jarinya. Ia pun berjalan tanpa suara ke semak itu dan seketika munculah kepala Lica.

"WAAA!" teriak Lica dan Killua bersamaan.

"Jadi sekarang kau menjadi penguntit?" tanya Killua sarkastik.

"Apa-apaan maksudmu? Siapa yang menguntitmu?!" teriak Lica galak.

"Tentu saja kau. Dasar bodoh." ucap Killua dengan wajah meremehkan.

"Aku tidak bodoh. Kau yang bodoh!" balas Lica kesal.

"Aku tidak ada waktu untuk mengurusi anak perempuan merepotkan sepertimu." ucap Killua sambil mulai berlari. "Tu..tunggu!" kata Lica gugup. Killua menoleh sedikit ke arah Lica karena perkataan Lica. "Apa?" tanya Killua datar. "Aku ikut." ucap Lica sambil menunduk malu menutupi rona merah di wajahnya karena merasa malu dan kalah. "Terserah padamu." ucap Killua santai sambil berlari kembali.

Lica pun bangkit berdiri dan berlari di sebelah Killua. Ia sesungguhnya kesal karena ia kalah dengan Killua, namun di sisi lain ia bersyukur karena ia jatuh di dekat Killua. Setidaknya ia masih bisa lulus ujian hunter babak ini.

"Hey, Killua! Aku berhutang padamu satu dan aku pasti alan membayarnya. Kau boleh pegang ucapanku." ucap Lica. "Ah, aku tidak peduli. Aku juga tidak yakin kau yang idiot bisa membantuku suatu hari. Membebani mungkin." respon Killua santai. "Apa?!" teriak Lica sambil berusaha menjitak kepala Killua. "Kau terlalu lambat, jadi jangan harap untuk menjitakku." ucap Killua sambil tertawa puas menghindari pukulan Lica. "Lihat saja nanti! Aku bisa lebih cepat dari kau. Kalau aku sudah secepat angin, aku akan menjitakmu sampai puas." kata Lica sambil tersenyum membayangkan dirinya memukuli kepala Killua.

"Oke. Kutunggu sampai kau secepat itu." jawab Killua sambil mempercepat larinya. Mendengar jawaban Killua, Lica pun merasa sedikit senang dan ia pun tersenyum tipis. Lica pun ikut mempercepat ritme larinya.

"Tapi aku tidak yakin kau bisa. Hahaha..." ujar Killua lagi yang jelas membuat mood Lica berubah 180 derajat. "Idiot!" teriak Lica kesal. "Ngomong-ngomong, mana Gon dan yang lainnya?" tanya Lica. "Entah." jawab Killua datar.

Killua dan Lica pun berlari bersama dan berhasil sampai di tempat tujuan. Ketegangan di antara mereka berdua juga sedikit menyusut karena mereka berdua mulai saling mengenal satu sama lain. "Mana Gon? Padahal aku masih ingin ngobrol bersamanya." gumam Killua yang mengira Gon gagal di babak ini. "Hey, Gon itu teman kita! Kita harus yakin kalau dia bisa lulus ujian ini dan menjadi hunter bersama-sama." tegur Lica. "Berisik." balas Killua. "Huh! Dasar menyebalkan!" Lica pun berjalan meninggalkan Killua dan melihat Leorio duduk di bawah pohon dengan pipi bengkak dan memar.

"Leorio! Ada apa dengan pipimu?" tanya Lica sedikit khawatir. "Aku tidak tahu." jawab Leorio sambil memegang pipinya. Lica pun duduk diam di samping Leorio. "Semoga Gon dan Kurapika cepat sampai." pinta Lica dalam hati.

"15 menit lagi." Satotz mengumumkan waktu ujian dan jelas membuat Lica terkejut. "Ayolah, Gon, Kurapika!" teriak Lica cemas. Lica menatap ujung jalan dan berharap Gon dan Kurapika segera muncul dan harapannya terkabul. Kedua orang itu muncul dan berlari dengan ritme yang cukup cepat.

"Gon, Kurapika!" teriak Lica senang sambil melambai-lambaikan tangannya. Gon dan Kurapika yang melihat tingkah Lica hanya tersenyum.

"Anak itu sampai. Seperti dugaanku." pikir Satotz.

Tepat pada saat Gon dan Kurapika sampai, Lica pun memeluk tubuh mereka berdua. "Sudah kuduga kalau kalian berdua pasti sampai!" kata Lica senang. Gon dan Kurapika membalas pelukan Lica sambil tersenyum senang.

Killua menatap mereka bertiga dari kejauhan dan rasa iri sedikit menyelimutinya. Ia merasa aneh karena Gon, Kurapika, dan Lica yang baru bertemu bisa akrab seperti itu.

"...ikatan persahabatan yang lebih kuat dari apapun juga."

Ucapan Lica beberapa jam lalu bergema pelan di telinga Killua. Killua terkejut dan tersenyum tipis. "Ikatan persahabatan? Huh..." gumam Killua sambil menatap Gon.

Killua berjalan ke arah Gon dan menepuk pundaknya. "Kau berhasil, Gon!" kata Killua senang sambil ber-highfive dengan Gon. Gon hanya tersenyum ramah.

"Ujian hunter babak pertama berakhir dan para peserta yang berhasil, ayo berkumpul!" teriak Satotz. Para peserta ujian pun mengikuti perintah Satotz dan berkumpul. "Ini adalah tempat ujian babak kedua. Selanjutnya akan ada examiner yang akan menuntun kalian. Saya undur diri." lanjut Satotz sambil berjalan meninggalkan para peserta ujian yang lulus babak pertama.

"Arigatou gonzaimasu, Satotz-san!" teriak Gon ramah sambil melambaikan tangannya. "Arigatou gonzaimasu!" teriak Lica mengikuti Gon. Satotz hanya tersenyum mendengar teriakan kedua peserta itu.

Tak lama setelah Satotz pergi, pintu gerbang di hadapan para peserta ujian terbuka. Para peserta senang sekaligus terkejut karena mereka melihat banyak dapur-dapur beserta peralatan masak berjejer di hadapan mereka. "Apa-apaan ini?" teriak salah satu peserta ujian berbadan besar dan berambut kuning. Para peserta lain pun ikut melontarkan ucapan seperti yang diucapkan peserta berambut kuning.

Tiba-tiba saja seorang gadis berambut biru muncul diikuti dengan seorang laki-laki berbadan besar. "Ujian hunter babak kedua adalah ujian memasak." ucap gadis berambut biru. Sontak saja seluruh peserta terkejut begitu juga Lica, Gon, Killua, Leorio, dan Kurapika. "Apa?! Ujian memasak?" teriak mereka berlima dalam hati.


A/N : Inilah Electric x Wind chapter 2! Maaf memakan waktu lama ._. Berkat review, follow, dan favorite kalian, saya jadi semangat untuk menulis chapter 2 yang baru saya buat setengah. Kemarin saya langsung mengetik 5 halaman untuk menyelesaikan chapter 2 ini. Terima kasih ya atas supportnya. Oh iya ada beberapa hal di chapter ini yang harus saya jelaskan di author note dan bukan di ceritanya langsung.

Pertama, Lica bisa selamat dari monster bukan karena ada kekuatan ajaib atau apapun. Dia selamat karena keberuntungan. Hehe… Ingat kan kalau Lica mengambil batang pohon untuk menahan rahang monster dan patah? Nah, patahannya jatuh ke dalam tenggorokan monster dan menancap di tenggorokannya. Itulah yang penyebab monster mengaum sangat kencang dan saking kencangnya, tekanan udara dari auman monsternya bisa mementalkan Lica. Cukup masuk akal kan?

Kedua, kalian pasti bingung mengapa waktu Lica bertemu dengan Killua, Killua sendirian dan tidak bersama Gon. Ini bukan kemauan saya (sebenernya ada sedikit kemauan saya sih untuk buat bagian cerita dimana Lica dan Killua lol xD) tetapi di animenya, Killua sempat ditinggalkan Gon karena Gon lebih memilih menolong Kurapika dan Leorio. Yah jadi maka itu Killua sendirian pas bertemu dengan Lica.

Sekian author note dan chapter 2 Electric x Wind! Mohon bantuan dan support kawan-kawan sekalian. Hehe… Semoga Lica di chapter ini tetap tampil seperti yang saya inginkan yaitu tidak marysue ^^