"Kita bertemu lagi, Uchiha Sasuke" Sakura tersenyum manis setelah duduk disamping Sasuke. Sangat manis sehingga membuat matanya menyipit dan benda berharga Sasuke berdiri hanya melihat senyumannya.

Sepertinya setelah ini, kesabaran Sasuke harus diuji. Sial!

.

.

Evidently?

Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing : Sasuke Uchiha x Sakura Haruno

Rate : M

Warning : TYPO, gak sempat baca 2 kali -.-, AU, ooc, absurd, ide sangat-sangat pasaran. EYD dll.

.

.

.

.

.

.

Atap sekolah menjadi pelarian terbaik yang ada di fikiran Sasuke saat ini. Setelah jam pelajaran usai, digantikan dengan bel istirahat, tanpa fikir panjang, Sasuke langsung melesat menuju atap sekolah. Mengabaikan Naruto―sahabatnya―yang berteriak memanggil namanya. Sasuke tak peduli dengan panggilan Naruto, ia harus segera pergi dari kelas yang menyiksa dirinya karena makhluk berambut merah muda.

Sasuke bernafas lega. Ia mengusap pelipisnya yang sedikit mengeluskan keringat. Akhirnya Sasuke sampai juga ditempat ini. Semoga saja tidak ada yang mengganggu ketenangan Sasuke, setidaknya untuk saat ini saja.

Onyx Sasuke menatap horror tepat pada selangkangnya. Ia kembali teringat kejadian beberapa saat yang lalu, tepat saat mata pelajaran berlangsung.

.

FLASHBACK

.

Saat ini mata pelajaran Kurenai-sensei. Semua murid fokus pada puluhan atau bahkan ratusan angka di papan tulis, mencatat dan mengangguk paham atas apa yang dijelaskan sensei cantik bermata ruby tersebut.

Lain halnya dengan Sasuke. Mati-matian tangannya selalu berada diselangkangnya. Menekan sang benda berharga yang dari tadi hanya berdiri entah karena apa. Sasuke sendiri tidak tahu kenapa kejantanannya selalu berdiri. Yang jelas, semenjak gadis merah muda bernama Haruno Sakura ini duduk disampingnya, kejantanannya selalu berdiri tegap. Sasuke bahkan sudah berkeringat dingin dengan kondisi seperti ini.

Haruno Sakura yang sedang serius mencatat pun menyadari akan perubahan sikap Sasuke saat dirinya duduk disamping pemuda raven itu. Apa pemuda itu baik-baik saja?

"Kau kenapa, Uchiha-san? Apa kau sakit?" Tanya Sakura. Keningnya sedikit mengkerut saat mata emeraldnya menangkap tangan Sasuke yang menekan sesuatu dibawah sana.

Sasuke tidak menjawab pertanyaan Sakura. Ia malah diam sambil menggigit bibir bawahnya sendiri. Ia tahu sekarang gadis itu sedang memperhatikannya. Sasuke seakan tidak peduli, ia mengabaikan Sakura dengan sedikit memiringkan tubuhnya sehingga setengah tubuhnya membelakangi Sakura.

"Aargh!" Sasuke menggeram kecil saat tangan mungil itu berada diselangkangnya. Menekan kejantanan Sasuke dengan jari telunjuknya.

"A-apa grrr..yang kau lakukan?!" Tanya Sasuke pelan, tidak mau ada yang melihat kearahnya.

"Aku penasaran kenapa tanganmu selalu berada di selangkangmu. Karena itu aku ingin tahu. Oh iya, apa disini kau menyembunyikan benda imut tadi pagi?" Sakura berkata dengan pelan, mungkin hanya Sasuke saja yang bisa mendengarnya karena jarak mereka yang dekat. Tangan mungilnya menarik kejantanan Sasuke. 'kekuarlah..keluarlah' gumam Sakura tak henti-henti. Karena duduk di bagian belakang, tidak ada yang menyadiri apa yang dilakukan Sakura pada kejantanan Sasuke.

Mata Sasuke melebar. Gawat! Sepertinya gadis ini akan melakukan sesuatu. Tangan Sasuke bergerak menyingkirkan tangan mungil Sakura. Namun, tangan Sakura kembali menarik kejantanan Sasuke dengan kuatnya.

"Aakhh! He-hey! Lepaskan tanganmu dari sana!" Teriak Sasuke menyentak tangan Sakura. Semua mata memandang kearah Sasuke yang tadi berteriak. Sasuke memasang wajah datarnya. Ia duduk diam seperti tidak terjadi apa-apa. Begitupun dengan Sakura. Gadis itu kembali mencatat tugasnya yang tadi belum selesai.

"Kau yang duduk dibagian belakang. Apa ada yang salah, Uchiha? Jangan mengganggu konsentrasi belajar temanmu dikelas ini!"
Kurenai-sensei yang merasa terganggu memperingatkan. Lalu kembali berkutat dengan beberapa buku yang ada didepan mejanya.

"Sial!"

.

Flashback end.
.

.

.

.

Sakura adalah murid baru, namun ia sudah mendapatkan banyak teman disini. Siswa/siswi di Tokatsu Gakuen―nama sekolah ini―semuanya baik dan juga ramah. Maka dari itu tidak sulit bagi Sakura untuk beradaptasi. Lagipula Sakura adalah gadis yang ramah dan mudah senyum.

Ino, Hinata dan Tenten adalah teman baru Sakura di Tokatsu Gakuen. Mereka mengajak Sakura untuk pergi ke kantin, mengisi perut, tentu saja.

Dengan senang hati, Sakura mengangguk menyetujui. Akhirnya mereka berempat pun pergi ke kantin bersama. Saat berjalan menuju kantin, dari kejauhan, seorang gadis berkacamata berambut merah pucat berlari tergesa-gesa. Ia tampak dikerjar oleh beberapa orang dibelakangnya. Terbukti dengan teriakan dan beberapa langkah kaki disana.

Sakura yang melihat itu, mengernyit heran. Ada apa dengan gadis itu? Kenapa ia dikejar oleh sekelompok para murid siswa? Dengan penasaran yang tinggi, Sakura memilih mengikuti kemana gadis itu pergi.

"Ino, Hinata, Tenten.. Kalian bertiga pergilah ke kantin. Aku ada urusan sebentar, nanti aku menyusul" kata Sakura dan dengan kecepatan kilat sudah menghilang dari hadapan teman-temannya.

Ino yang akan mencegat Sakura pun hanya terbengong melihat kecepatan Sakura dalam menghilang. Ia tidak menyangka gadis manis seperti Sakura sangat lincah dan mempunyai kecepatan dalam berlari.

"S-Sakura-san mau kemana dia?" Tanya Hinata menatap penuh tanya pada kedua temannya. Ino dan Tenten menggelengkan kepala mereka.

"Seperti yang dikatakannya. Dia ada urusan. Ayo kita ke kantin. Sakura pasti akan menyusul!" Ajak Tenten, diangguki Ino dan Hinata. Mereka bertiga pun pergi ke kantin tanpa Sakura yang malah pergi entah kemana.

.

.

"Temee..ternyata kau disini! Kau tahu aku, Sai, Neji dan Shikamaru mencarimu dari tadi! Kau malah menghilang saat bel istirahat berbunyi" gerutu Naruto pada sahabat ravennya yang malah duduk santai sambil mendengarkan musik melalui earphone miliknya. Sasuke mendengarkan apa yang dikatakan sahabatnya ini meskipun sedang mendengarkan musik karena volume yang dipasangkan Sasuke tidak terlalu keras. Meskipun mendengarkan gerutuan Naruto, Sasuke lebih memilih mengabaikan Naruto.

"Teme...kau mendengarkanku tidak?" Naruto mulai kesal melihat sikap acuh Sasuke yang mengabaikan kehadirannya.

"Oy Tem―"

"Berisik!" Belum selesai melanjutkan ucapannya, Sasuke lebih dulu menyela ucapan Naruto. Ia membuka kedua matanya yang tadi sempat tertutup, menikmati alunan musik yang terdengar di telinganya.

Sasuke menatap Naruto sekilas, ia bengkit dari duduknya dan beranjak pergi dari atas atap sekolah ini.

"Oy Teme..! Matte! Kau mau kemana?" Teriak Naruto dibelakang. Sasuke hanya acuh dan membiarkan Naruto yang semakin berteriak kesal padanya.

.

Sakura tidak menemukan gadis berambut merah pucat berkacamata yang dikejar beberapa murid siswa tadi. Ia sudah mengikuti jejak gadis tersebut, tapi tetap saja ia tidak menemukannya. Karena lelah mencari, Sakura menyenderkan punggungnya di dinding disamping sebuah ruangan seperti gudang.

"Kemana gadis tadi? Aku yakin dia pasti disekitar sini" gumam Sakura. Manik emerald nya melihat sekeliling, mencari sosok gadis berambut merah pucat itu. Karena tidak menemukan tanda akan keberadaan gadis tersebut, Sakura memilih untuk menyusul teman-temannya ke kantin. Waktu istirahat sepertinya akan segera berakhir dan dapat Sakura yakini kalau ia tidak dapat makan siang hari ini. Ah sudahlah, lagipula Sakura merasa tidak terlalu lapar.

Baru beberapa langkah hendak pergi dari sana, Sakura mendengar suara aneh di dalam ruangan seperti gudang tersebut. Sakura bebalik, menghampiri pintu gudang yang warnanya sudah tampak kusam.

Sakura menajamkan pendengarannya, Sakura yakin di dalam gudang ini pasti ada orang didalamnya. Terdengar suara tangisan didalam sana yang Sakura yakini adalah suara seorang gadis.

"Ahhh..hiks..kumohon..jangan lakukan lagi..jangan siksa aku..hiks..aku akan memberikan semua uangku untuk kalian asal kalian melepaskanku. Hikss..kumohon..aaaarghhh"

Jeritan pilu itu membuat Sakura makin penasaran, apa yang terjadi di dalam gudang ini?

"Diam kau atau kau akan mendapatkan lebih parah dari ini!"

Suara bentakan dari seorang siswa terdengar.

"Kita habisi saja dia disini, Ryuu!" Seru suara yang lain.

"Jangan terburu-buru, bung. Kita akan menyiksa gadis cupu ini lebih dulu"

Penasaran Sakura makin membuncak saat mendengarkan desahan dan jeritan didalam gudang ini. Firasat Sakura mengatakan hal yang tidak-tidak. Fikiran negatif memenuhi kepala merah mudanya. Gadis berambut merah pucat berkacamata, tiba-tiba saja Sakura mengingat gadis tersebut.

Apa jangan-jangan gadis yang ada didalam adalah gadis berambut merah pucat itu? Ada apa sebenarnya didalam? Apa gadis itu disiksa? Mengingat sebelumya waktu melihat gadis itu berlari dengan wajah pucat bercampur ketakutan, Sakura bisa menebak kalau telah terjadi sesuatu dengan gadis tersebut.

Tidak ada pilihan lain, Sakura harus masuk dan menolong gadis itu. Sakura mengangkat satu kakinya untuk mendendang pintu yang ada didepannya.

BRUK!

Dengan sekali tendangan, pintu itu pun terbuka. Sakura langsung masuk kedalam gudang tersebut, mencari dimana asal suara teriakan tadi.

"Hey! Apa yang kalian lakukan disini?!" Seru Sakura saat melihat seorang gadis dengan seragam sekolah yang sudah koyak, dan beberapa luka goresan ditangan, kaki, dada dan leher gadis itu. Yaa sesuai dugaan Sakura, itu adalah gadis berambut merah pucat berkacamata itu.

"Hey hey..lihat, siapa yang datang?" Pemuda berambut cokelat mendekati Sakura. Sakura hanya diam, menatap tajam pemuda didepannya.

"Apa kau mau ikut bergabung bersama kami?" Sekarang pemuda berambut hitam tersenyum―menyeringai.
Sakura hanya diam saja. Tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya.

"Hey manis...kenapa kau diam sa―"

KRAK

"Jangan menyentuhku dengan tangan kotormu, brengsek! Atau aku akan mematahkan tanganmu!" Ancam Sakura saat tangan salah pemuda berambut pirang ingin menyentuh tubuhnya. Tangan kanan Sakura yang mencengkram tangan pemuda itu mulai menguatkan cengkramannya dan dengan cepat memelintir tangan pemuda itu, membuat pemuda itu meringis kesakitan.

"Hoo..gadis ini mau bermain dengan kita rupanya. Ryuu, bagaimana menurutmu?" Tanya pemuda lain kepada pemuda berambut hitam yang sepertinya pemimpin dari mereka. Ryuu, pemuda itu hanya diam sambil menggerakkan bola matanya, itu seperti sebuah isyarat 'iya' bagi temannya yang lain.

Tiga pemuda itu mendekati Sakura, termasuk pemuda pirang yang tangannya tadi sempat dipelintir Sakura. Mereka tersenyum merehkan pada gadis merah muda ini.

Dengan sigap, Sakura mundur beberapa langkah, dan dengan kecepatan kilat, ia menyerang ketiga pemuda didepannya tanpa ampun.

BRAK! BUAGH! DUAGHH! DUAGHH!

Hanya lima menit, ketiga pemuda itu sudah tumbang akibat perbuatan Sakura. Ryuu―yang dari tadi hanya diam, membulatkan matanya terkejut akan perkelahian didepannya. Gadis merah muda ini dengan mudah mengalahkan teman-temannya? Sungguh luar biasa.

"Jangan meremehkanku! Kalian bukan lawanku untuk ini. Meskpun aku perempuan dan kalian laki-laki, jangan menganggapku lemah! Kalian bahkan lebih lemah dan lembek seperti banci" ledek Sakura membuat mereka berempat menatapnya kesal.

Sakura yang menyadari tatapan itu menatap mereka meremehkan. "Apa?! Mau lagi? Dengan senang hati aku akan menghabisi kalian disini!"

Mendengar itu, Ryuu mengisyaratkan kepada ketiga temannya untuk pergi. Dengan cepat, mereka pergi dari gudang itu.

Sakura berjongkok, menepuk pelan bahu gadis berambut merah yang dari tadi hanya diam menunduk sambil terisak.

"Sekarang sudah tidak apa, tenanglah.." Kata Sakura memberikan blezer sekolahnya kepada gadis itu untuk menutupi tubuh yang penuh luka itu.

Gadis itu mendongak, menatap Sakura yang tersenyum lembut padanya. "A-a-arigatou" gumam gadis tersebut.

Sakura hanya mengangguk sebagai jawaban. "Oh iya, siapa namamu?" Tanya Sakura yang tidak tahu siapa nama gadis didepannya ini.

"Tayuya.." Jawabnya pendek. Masih terisak karena tangisannya yang belum reda.

Sakura menenangkan Tayuya dan membawa gadis itu untuk pergi keruangan kesehatan. Dan setelah mengobati Tayuya, Sakura langsung melaporkan kejadian ini ke kepala sekolah. Awalnya Tayuya melarang Sakura untuk melaporkan kejadian itu, namun dengan kekeras kepalaannya, Sakura tetap kekeuh untuk melaporkan kejadian ini. Terjadi perdebatan kecil dengan gadis berkacamata itu, di akhiri dengan Tayuya yang mengalah dengan sikap kekeras kepalaan Sakura.

Setelah melaporkan kejadian itu, Ryuu dan ketiga temannya langsung di keluarkan dari sekolah dengan kasus penganiayaan dan pelecehan. Di dalam hati Sakura mengucap syukur dengan keluarnya Ryuu beserta teman-temannya dari sekolah ini. Setidaknya tidak ada lagi kejadian seperti ini lagi setelah Sakura mengetahui kebenarannya bahwa selama ini Tayuya disiksa oleh Ryuu dan teman-temannya. Tayuya berucap syukur, Sakura adalah dewi penolongnya. Kalau tidak ada Sakura, mungkin Tayuya sudah hancur sekarang.

Dan tanpa Sakura sadari, saat mendobrak pintu gudang, seorang pemuda berambut raven menyaksikan semuanya. Waktu Sakura melawan Ryuu dan tiga temannya, berakhir dengan Sakura menolong Tayuya dan melaporkan ini ke kepala sekolah.

Ternyata gadis itu adalah gadis yang baik. Pemuda bermata onyx itu pun tersenyum tipis dan pergi menuju kelasnya.

.

.

.
"Baiklah anak-anak! Sebelum pulang, sensei akan memberikan tugas kelompok untuk kalian semua. Satu kelompok terdiri dari 2 orang. kelompok kalian adalah orang yang ada duduk disamping kalian. Kalian semua sudah tahu tugas kalian masing-masing kan? Nah sekarang cukup sampai disini dulu. Sampai jumpa besok"

Dan tepat saat itu juga, bel pulang pun berbunyi. Seluruh siswa pun berhamburan keluar kelas. Tidak sabar untuk pulang, tentunya.

"Nee, Uchiha-san. Kita satu kelompok dalam tugas dari Asuma-sensei, jadi dimana kita akan melakukannya?"

Suara itu membuat Sasuke menoleh sedikit kepada gadis merah muda disampingnya. Gadis itu memiringkan sedikit kepalanya. Ahh lucu sekali pose dan ekspresi gadis itu sampai membuat benda berharga Sasuke kembali berdiri.

Apa? Lagi?

Yah, dan lagi berdiri. Itu semua karena ulah Sakura. Entah mengapa kalau sudah ada Sakura, kejantanan Sasuke selalu berdiri. Gadis ini memang benar-benar menguji Sasuke rupanya.

"Hn, dirumahku" jawab Sasuke singkat. Lalu dengan tergesa-gesa, beranjak keluar dari kelas tersebut. Meninggalkan Sakura yang penuh akan tanda tanya di kepala merah mudanya.

"Dirumahnya ya? Hmm.. baiklah. Tapi sayangnya rumah Uchiha itu dimana ya?" Tanya Sakura pada dirinya sendiri. Sedangkan Sasuke, setelah keluar dari kelasnya, ia mengingat sesuatu. Ia pun menepuk keningnya dengan keras.

"Aku lupa mengatakan padanya dimana rumahku!" Gumam Sasuke. Kenapa dia melupakan itu? Ah sudahlah. Nanti dia akan memberitahunya lewat pesan atau apapun. Tapi sayangnya Sasuke tidak memiliki nomer ponsel, e-mail atau alat komunikasi lain dari gadis itu.

Sasuke berniat untuk kembali namun ia mengurungkan niatnya karena tidak mau lagi kalau kepemilikannya menegang saat didepan Sakura. Ini bisa gawat! Sudahlah, nanti Sasuke akan memikirkannya lagi. Setidaknya sekarang Sasuke harus cepat-cepat pulang lebih dulu.

Lalu, apakah yang akan terjadi nanti antara Sasuke dan Sakura saat belajar kelompok? Apakah Sasuke akan terus menegang atau sesuatu lain akan tejadi?

.

.

.

-To Be Continued-

.

.

A/N : Pertama-tama terimakasih buat readers yg udah mau baca ff gaje aku ini :3 dan terimakasih buat review readers semua yg membangkitkan semangat author! (ciellah levayy) aahhsudahlah. Lupakan :3 oh iya, saya mau buat ff ini dengan cerita yg lebih berat. Maksudnya menambahkan beberapa konflik didalamnya. Chapter ini gk perlu panjang-panjang. Gk tau juga sih mau buat sampai berapa.