Night 2, Hearts in blood.
Rembulan mulai menyembunyikan sosoknya di balik hamparan awan hitam. Suara desau angin terdengar seperti rintihan bernada pilu yang membuat ngilu tulang-tulang rusuk. Seringai kegelapan menandakan secara absolut pengukuhan kekuasaannya, menyelimuti setiap sudut kota dengan nafasnya yang dingin berkabut. Dalam sekejap, dunia terengkuh oleh sayap keabadian sang malam manakala waktu bergulir pada detik dimana tidak seorang pun terbiasa tanpa cahaya. Momen yang selalu ditunggu-tunggu para makhluk yang tinggal dalam jeratan kubangan nista darah, makhluk dengan magnetisme paling menawan yang memperdaya setiap mata untuk takluk pada pesonanya itu akhirnya tiba.
Vampire yoru da . . (Night of the Vampires)
"Dewan Vampire telah menemukan obat dengan kandungan nutrisi sel darah merah di dalamnya sebagai subtitusi untuk darah yang biasa kita konsumsi. Obat itu berbentuk pil berlabelkan DX-66710. Pil tersebut larut dalam air, dan menciptakan warna merah selayaknya anggur darah." Tutur Kaname, melarutkan satu butir pil ke dalam segelas air putih yang telah tersedia. Setelah air tersebut berubah warna menjadi kemerahan, ia pun mencoba satu kali tegukan. Meski sebenarnya tidak bisa memuaskan rasa dahaga di kerongkongannya akan siraman darah manusia yang hangat.
"Aku tetap memilih darah manusia. Sampai kapan kita bisa bertahan dengan hanya mengkonsumsi pil semacam ini!" Keluh pemuda dengan rambut yang mengingatkanmu pada benang-benang emas yang terhimpun indah.
"Hanabusa! sudahlah, jgn banyak mengeluh." Suara pemuda lain menangkis keluhan yang kerap terlontar dari bibir pemuda yang dipanggilnya dengan nama Hanabusa itu. Beberapa vampire lainnya hanya tersenyum khidmat menikmati minuman pengganti ion tubuh abnormal mereka.
"Cih, kau selalu saja menyebalkan Akatsuki!" Gerutu Hanabusa, memalingkan wajahnya dari kawan sebangsa di sampingnya.
"Kaname-sama, apakah semua yang kau lakukan ini demi gadis itu? Kita adalah vampire,- pemangsa di urutan pertama pada rantai makanan. Secara alamiah, naluri seorang vampire terbentuk untuk memburu manusia." Ujar gadis berambut panjang bergelombang yang duduk di jejeran kursi kedua di sisi kanan Kaname. Pemuda berparas tampan di sebelahnya mendelik kearah gadis tersebut. Sorot matanya mencegah gadis itu melanjutkan arah pembicaraan, yang sudah barang tentu memancing sisi sensitif Kaname untuk menetaskan amarahnya.
"Ruka,," Sergahnya, melipat kedua tangan di depan dada.
"Nandatte (why), Ichijou?" Balas Ruka dengan lonjakan tekanan suara yang tidak terduga.
Kaname menghela nafas panjang, memperhatikan ketegangan yang tergelar di depan mata. Munculnya reaksi berlawanan atas keputusan merubah menu makanan mereka adalah wajar. Namun, demi mewujudkan hubungan kondusif antara manusia dan vampire, semua ini harus bisa diterima oleh vampire yang lain.
"Hentikan . . aku tidak ingin ada keributan disini. Ruka, bisakah kau tidak membahas semua itu? Aku tidak suka mendengarnya." Refleks Ruka langsung terdiam mendengar perkataan yang tercetus dari bibir Kaname. Sebagai pemimpin, ia sangat ditakuti sekaligus disegani. Tak ada seorang pun yang berani menentang otoritas seorang vampire berdarah murni.
Kaname bangkit berdiri, memandang keluar jendela berteralis tinggi. Fokus pandangnya hanya tertuju pada sebuah rumah di dekat bangunan megah,- kediamannya. Rumah dimana Yuki, gadis yang teramat berarti baginya tinggal. Kedua bola matanya menyala merah terang dalam penetrasi sinar rembulan diikuti pijar cahaya merah anggota vampire lainnya.
"Kita nikmati saja malam untuk para vampire ini . ." Gumamnya.
Tsuki~Haku
"Gadis kecil, biarkan aku menghisap darahmu." Ucap seorang pria paruh baya seraya berjalan menghampiri Yuki. Kedua bola matanya tampak memancarkan nyala merah yang mengerikan, taring-taring tajam perlahan muncul di sudut celah bibirnya bersama sisa lelehan darah yang merayap turun. Dengan buas lidahnya menyapu darah yang keluar. Tidak ingin setetes pun jatuh sia-sia.
Takut . .
Aku takut . .
Merah . .
Darah . .
"Mou daijobou Yuki . ."
"Ka, kaname-senpai."
Yuki, perlahan membuka kelopak matanya yang menutup. Ia mendapati sosok Kaname tengah mendekapnya erat. Vampire menakutkan tadi telah lenyap. Tak ada yang perlu ditakutkannya lagi. Tangan mungil Yuki bergerak mengelus wajah Kaname; menelusuri setiap lekukan yang terpahat indah disana. Namun, cengkaraman yang kuat menghentikan alur penelusurannya.
"Gomena Yuki . ." Lirih Kaname, menunjukkan kedua taring tajamnya kemudian menancapkannya ke leher kecil Yuki.
"YAMETE!" Teriak Yuki, menggemparkan seisi kelas. Teman-teman, serta gurunya yang tengah asyik menerangkan pun dibuatnya sampai terlonjak kaget. Serbuan tatapan mencurigakan dilayangkan padanya, dan dengan terpaksa harus diterimanya.
"Kau baik-baik saja Yuki?" Bisik Arisa, teman dekatnya selama di sekolah.
"Aku baik-baik saja." Yuki balas berbisik. Kedua sahabat baik itu kemudian dikejutkan oleh langkah berat berdebum. Suasana seketika berubah hening. Tawa disertai candaan kecil seolah terhisap ke dalam pusaran keheningan.
Glek! Yuki menelan ludah ketika ditatapnya Pak Kobayashi berdiri di hadapannya dengan wajah merah padam penuh kemurkaan. Alis hitam tebal sebelah kirinya tampak bergerak-gerak. Gumpalan awan kelabu yang entah darimana asalnya berarak menutupi kepalanya. Kemudian dalam hitungan mundur 3 . . . 2 . . 1 .
DUAARRR!
"YUKIIII . . . PELAJARAN TAMBAHAN!"
"Matta hasyuuu . . ." Ucap Yuki pasrah menerima nasib.
"Gambatte ne." Arisa menyemangati Yuki dengan ekspresi datar khasnya. Terhitung sudah 6 kali Yuki mendapat bonus pelajaran tambahan gara-gara bermacam alasan yang tidak semua bisa dijelaskan. Kebanyakan dari alasan itu adalah karena ia ketahuan tertidur saat jam pelajaran berlangsung.
Waktu telah menunjukkan tepat pukul 4 sore. Oleh karena pelajaran ekstra, Yuki jadi terlambat pulang. Koridor sekolah juga tampak lengang tanpa kesesakan yang biasanya ditimbulkan para siswa-siswi yang berhamburan keluar dari tiap penjuru kelas. Situasi ini sedikit membuat Yuki merasa sepi.
Yuki melangkah pelan. Pikirannya dipenuhi mimpi yang siang tadi menghampiri. Dalam mimpi itu, Kaname menancapkan taringnya menembus kulit rentan Yuki. Begitu nyata hingga ia bisa merasakan panas yang menjalar ke sekujur tubuh tatkala darahnya tersedot dari lubang kecil yang diciptakan taring-taring tajam itu.
"Apa seperti itu rasanya dihisap vampire . ." Gumam Yuki, menyentuh lehernya. Tanpa terasa ia telah berada di luar gerbang sekolah. Lamunannya sejenak membuat ia melupakan waktu. Segera setelah menyingkirkan semua beban pikirannya, Yuki kembali menjadi gadis energik seperti biasa.
"Yosh! Saatnya pulang ke rumah!" Ujarnya bersemangat. Sebuah panggilan dari pemilik suara merdu nan tenang yang dikenalnya membuat Yuki menolehkan kepala.
"Yuki . . . Kau baru pulang."
"Ka, kaname-senpai. Doshite, kaname-senpai ada disini?" Tanya Yuki, kaget bercampur penasaran. Di dalam sebuah mobil hitam mewah, Kaname duduk dengan sebelah kaki menyilang, binar di bola matanya tak kehilangan pijar cahaya setelah berlembar-lembar buku di tangannya ia baca, dan senyum tipis selalu merekah di sudut-sudut bibirnya kala beradu pandang. Vampire memang berbeda, pesona keanggunannya bagaikan sekuntum bunga yang semerbak keharumannya melumpuhkan panca indera.
"Yuki . . . Masuklah, biar kuantar kau pulang. Lagipula hari sudah menjelang sore." Suara Kaname mengembalikan kesadarannya dari eksplorasi visual tentang seorang pemuda yang bermanifestasi dalam wujud makhluk sekelas vampire.
"Iie, biar aku pulang sendiri saja. Aku tidak mau merepotkanmu Kaname-senpai." Kaname tersenyum melihat Yuki yang salah tingkah. Gadis itu tidak pandai membaca keinginannya, terkadang ia merasa sedih karena sikap Yuki yang terkesan membatasi diri dengannya.
Tiba-tiba saja, tanpa bisa dicegah, Kaname beringsut dari kursi mobilnya; melangkah turun mendekati Yuki. Lalu dipeluknya tubuh gadis malang itu. Membelai rambutnya pelan dengan jutaan kasih tersemat di sela jemarinya.
"Apa kau takut padaku Yuki? Mengenai masa lalu mu, tidak ada yang bisa kulakukan untuk menghapusnya. Daijobou Yuki . . . Aku akan selalu melindungimu."
"Arigatou, Kaname-senpai . ." Ucap Yuki dalam hati. Segala kerisauan dan kegundahan yang bergelayut kini mulai luruh,- luntur oleh kehangatan pelukan Kaname. Tidak seharusnya ia meragukan penyelamat hidupnya, dari dulu hingga sekarang, satu-satunya orang yang tidak pernah berubah padanya hanyalah Kaname seorang . .
Tsuki~Haku
Senja melukis raut langit dengan warna sempurna. Matahari yang lelah bersinar pun mengistirahatkan diri dalam lautan keemasan di atas sana. Sesuai aturan pembagian masa dalam satu hari, setelah berakhirnya siang maka malam mengambil alih posisi.
"Sampai jumpa Yuki . ." Kata Kaname, menutup pintu mobil. Melalui kaca mobilnya yang transparan, Yuki bisa melihat sinar wajah Kaname yang berpendar meski dalam temaram cahaya senja sekalipun, hingga sosok indah itu menghilang di balik pintu gerbang besar menyeramkan yang menjulang.
"Haaa . . . Oji-san pasti khawatir sekarang. Aku harus segera masuk."
Ruka menatap pemandangan menyakitkan itu dari balik jendela besar di bagian tertinggi bangunan megah,-moon castle. Kedua tangannya terkepal. Giginya bergemeletuk menahan amarah yang membuncah di dada. Sudah sejak lama gadis cantik tersebut memendam perasaan cinta terhadap Kaname. Sayangnya perasaan itu tidak pernah terbalas. Sebagai seorang hamba setia, Ruka senantiasa menuruti semua perintah pemimpin yang dicintainya. Namun, ia juga tak kuasa menahan gejolak di jiwa untuk dapat memilikinya.
"Jangan berpikir yang macam-macam Ruka. Kaname tidak akan memaafkanmu kalau sampai terjadi sesuatu pada gadis itu." Ujar seorang pemuda berpenampilan kasual. Ia bersandar pada tembok dengan kedua tangannya dimasukan ke dalam saku celana. Wajahnya membias di permainkan sudut datang cahaya dari jendela.
"Wakatta Akatsuki. Kenapa Kaname-sama begitu peduli padanya padahal gadis itu hanyalah seorang manusia? Aku masih jauh lebih baik darinya, perasaanku pada Kaname-sama tidak pernah pudar. Tapi kenapa Kaname-sama lebih memilih dia daripada diriku?" Akatsuki berdesah panjang, menatap gadis didekatnya dengan tatapan malang. Gema suara Ruka yang bergetar seolah menyimpan begitu banyak kesedihan yang tertahan di celah hatinya. Meski begitu tidak ada yang bisa ia perbuat untuk membuatnya merasa lebih baik, karena hanya Kaname yang saat ini Ruka butuhkan.
Tsuki~Haku
Esok harinya, Kaien mengajak Yuki untuk pergi berbelanja kebutuhan rumah. Kebetulan persediaan makanan sudah menipis. Selain itu musim dingin juga sebentar lagi menyapa, artinya mereka memerlukan persediaan yang lebih banyak dari sebelumnya. Hari itu keadaan pasar cukup ramai dikunjungi banyak orang, situasi tersebut diimbangi pula oleh banyaknya pedagang yang menjual berbagai macam dagangan.
"Oji-chan, sebenarnya berapa banyak lagi yang kita butuhkan?" Tanya Yuki, Kedua tangannya menjinjing dua kantung plastic besar berisi barang-barang yang telah dibeli.
"Yuki-chan, jangan panggil Oji-chan, tapi panggil aku Otou-san. Kau mengerti." Kaien hampir putus asa memberitahu Yuki untuk memanggilnya ayah, namun panggilan tersebut tak kunjung jua diucapkan Yuki untuknya. Entah sudah berapa banyak malam yang dilewati Kaien dengan linangan air mata hanya karena ingin dipanggil ayah oleh Yuki. Meskipun terasa sungguh sangat berlebihan.
"Oji-chan, tanganku sudah pegal. Bagaimana kalau kita makan sesuatu yang dingin seperti es krim?" Tanpa memperhatikan sedikitpun pada permintaan sang ayah angkat, Yuki berlari menuju kedai es krim di seberang jalan.
"Sudah kuduga dia tidak mendengarkan apa yang kukatakan. Yuki-chan matte (Tunggu)!" Teriaknya miris. Sepertinya kali ini Kaien harus menyerah akan keinginannya yang mustahil.
Deg! Perasaan ini . . Yuki merasa ada sesorang yang mengintainya dari kejauhan. Tatapan menusuk yang berasal dari sepasang mata tidak bersahabat yang dulu pernah menyerangnya.
Vampire
Ada vampire yang tengah mengawasinya.
Yuki berbalik, dua kantung plastic yang bergantung di tangannya terlepas dari genggaman kuatnya. Gadis itu kemudian berlari mencari sosok beraroma darah yang ia pikir tidak jauh darinya.
"Yuki! Kau mau kemana, gawat." Kaien turut berlari tanpa mempedulikan barang-barang yang dibawanya jatuh, dan berhamburan keluar.
"Vampire, dimana kau? Kali ini aku tidak akan takut untuk menghadapimu!" Batin Yuki, gadis itu berlari mengikuti nalurinya yang dibimbing oleh aroma darah sang Vampire. Aroma itu sama seperti aroma vampire yang dulu membunuh orang tuanya, serta hampir mencabut nyawanya.
"Apa?" Ayunan cepat kedua kaki Yuki terhenti. Ia terdiam, mengamati keadaan sekitar. Posisinya tengah berada di satu tempat yang dilingkupi oleh tembok-tembok tinggi. Tempat ini kelihatan kosong, tak berpenghuni. Sangat cocok dijadikan sarang makhluk terkutuk seperti vampire. Samar-samar Yuki mendengar suara langkah kaki yang bergerak cepat disertai dengan suara seorang wanita yang terkikik menakutkan. Yuki bersiap, tangannya perlahan mengambil senjata yang terlindung di balik bajunya.
Tidak lama kemudian vampire wanita tersebut menunjukkan sosoknya. Yuki menggenggam erat senjatanya, ia sama sekali tak gentar menghadapi vampire di depan matanya. Dengan seluruh keberanian yang dimilikinya saat ini, Yuki tidak akan membiarkan dirinya takut seperti dulu.
"Ayo, kemari kau?" Teriak Yuki.
Vampire itu pun berlari, hendak menyerang Yuki. Kedua taring tajamnya tak lantas menghantam Yuki, namun berhasil tertahan oleh tongkat yang dipergunakannya sebagai senjata. Seringai tawa mengerikan si vampire wanita menggema mengerikan, menggetarkan setiap dinding karena tekanan suaranya. Taring-taring tajamnya mengeras. Yuki tidak bisa menahan kekuatan vampire tersebut lebih lama lagi.
Deg
Deg
Deg
Jantungku . .
Tidak . .
Tiba-tiba jantungnya terasa sakit kembali, lilitan ular berbisa itu lagi-lagi membebat kuat alat paling vital penopang hidupnya.
Jangan . .
Jangan sekarang . .
Dsiiiinggg!
Suara desingan peluru membelah jalur udara; melesat menuju target sasaran yang bergerak cepat, melompat ke tembok. Pergerakannya hampir setaraf dengan kecepatan tembak peluru sehingga target berhasil meloloskan diri.
"Menyebalkan! Kupastikan kau tidak akan bisa lolos kali ini, vampire!" Geram seorang pemuda, memasukkan beberapa butir peluru ke dalam gunslinger berwarna perak yang di setiap sisinya terdapat pahatan khas serta tulisan Bloody Rose terukir disana.
Vampire itu bergerak melintas dari satu tembok ke tembok lainnya. Dengan satu kali bidikan jitu sang pemuda, desingan peluru kedua yang bergema kali ini, tepat mengenai sasaran.
"Hei kau, apa yang kau lakukan disini?" Yuki mendengar seseorang bertanya padanya, semakin lama semakin pelan tetangkap indera pendengarannya.
"Onna, kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?" Wajah pemuda itu mengabur dalam pandangannya. Ia memiliki rambut berwarna Silver dengan postur tubuh tinggi, dan gemerincing rantai mengiringi langkahnya yang mendekat pada Yuki.
"Zero, apa yang terjadi? Jangan buang-buang peluru." Zero, nama pemuda itu adalah Zero.
"Yukiiiii . . .!" Suara yang amat dikenalnya, memekik memanggil namanya. Suara sang ayah angkat, Kaien. Yuki sudah tidak mampu lagi mempertahankan kesadarannya, jantungnya seakan berhenti berdetak bersamaan dengan jarum detik waktu yang berhenti berputar. Zero . . . Hanya nama itu yang terakhir terngiang di kepalanya sebelum akhirnya kehilangan kesadaran sepenuhnya.
