Tittle : Lose You Chapter 1

Cast : Park Chanyeol (EXO), Byun Baekhyun (EXO), and others.

Summary :

Mimpi itu indah jika menjadi kenyataan. Untuk itu, Baekhyun selalu bermimpi meski tak menjadi nyata, Baekhyun akan tetap bermimpi sampai semua itu nyata.

...

Lose You

Chapter 1

By : Anomalee

...

...

Happy reading

.

.

.

Selepas Sooyoung pergi, Baekhyun hanya menangis. Luka yang ia obati, ia lupakan selama 11 tahun ini kembali terkuak parah. Otaknya tak mampu berpikir jernih, Baekhyun bahkan tak peduli pada perut laparnya dan tubuh lelahnya.

Bulan mulai tersenyum menyapa makhluk malam yang keluar dari persembunyiannya, tampaknya malam ini cerah, hanya awan tipis yang berserakan digelapnya malam. Cahaya bulan kini terang berderang bagai pelita untuk Baekhyun. Baekhyun hanya memiliki satu lilin, persediaannya habis dan Baekhyun belum menjejakkan kakinya ke pasar lagi.

Baekhyun bersyukur cahaya bulan menimpa jendela rumahnya, dia tak memerlukan lilin lagi untuk penerangannya. Karena Baekhyun suka gelap, ia suka ketika siapapun tak mengetahui ia bermimpi, ia suka ketika siapapun tak tahu jika Baekhyun sedang menangis, ia tak perlu berpura-pura tegar menjalani hidupnya yang sebatang kara. Asa Baekhyun mulai hilang, harapannya hanya ingin menyusul orang tuanya. Persetan dengan kehadiran wanita misterius tadi sore, ia hanya ingin mati.

Puas menangis hingga tengah malam, Baekhyun akhirnya bangun. Ia sungguh tak menyangka betapa lamanya ia menangis. Baekhyun tidak suka kaca, ia tak suka bagaimana benda yang dapat memantulkan bayangan itu berada di depannya, Baekhyun tak ingin siapapun tahu. Bahkan dirinya sendiri tidak boleh melihat pantulannya yang menyedihkan.

Sesak kembali menjalari dadanya, ia memang laki-laki. Tetapi apa salahnya untuk menangis? Baekhyun tak bisa berpura-pura tegar.

"Baekkie-ya suatu saat nanti kau harus menggapai mimpimu," Wanita dengan wajah bidadari itu mengelus kepala anaknya lembut, bibirnya terus terucap meski perih dihatinya terus menyerang.

"Mimpi Baekkie bersama ibu" Anak laki-laki itu memeluk Jaejoong dengan tangan kecilnya, ah anak lelaki miliknya satu-satunya, permatanya yang sangat ia jaga.

"Tidak sayang, kau sempurna. Berjanjilah pada ibu untuk bahagia di akhir hidupmu nanti"

"Baekkie bahagia jika bersama ibu dan ayah." Baekhyun mendongak melihat sang ibu, menunjukkan betapa ia sangat bersungguh-sungguh dengan ucapannya. "Ibu menangis?," bibirnya melengkung ke bawah.

"hiks apa Baekkie nakal bu? Maafkan Baekkie bu jangan menangis hiks maaf bu maaf"

Oh sungguh Baekhyunnya yang mungil itu sangat tak berdosa. Jaejoong berlutut untuk memeluk putra kesayangannya itu, memeluknya dengan sangat erat hingga menangis tersedu. Tak ada yang tahu jika Baekhyun kecilnya kelak akan menderita tanpa orang tuanya.

"Tidak Baekkie-ya jangan menangis. Ibu akan selalu bersamamu dan juga ayah, berjanjilah untuk tidak menangis dan bahagia di akhir hidupmu nanti ya?" Matanya sembab, merah dengan air mata yang deras melewati pipinya.

"Apa jika Baekkie berjanji, Ibu tidak akan menangis lagi?"

"Ya tentu sayang, ibu tidak akan menangis jika Baekkie bahagia"

"Ya, iya bu Baekkie berjanji tidak akan menangis dan hidup bahagia"

Baekhyun yang malang, ia hanya anak kecil yang menurut pada orang tuanya. Jaejoong tak kan melupakan anggukan semangat itu. Demi membuatnya tidak bersedih, Baekhyun kecilnya rela berjanji seperti itu, dan keluarga Byun pantang mengingkari janjinya meski anak-anak seperti Baekhyun.

Baekhyun menyerah, janji tetaplah janji. Sekalipun masih kecil, ia sangat ingat janjinya membahagiakan ibunya. Ia melirik ke buntalan di atas meja, milik Sooyoung yang diberikan padanya. Perlahan ia membuka buntalannya, isinya sederhana. Hanya beberapa potong pakaian layak pakai, kepingan uang logam, dan makanan. Ah makanan ya? Baekhyun tersenyum karena ia tak harus menahan lapar di akhir musim gugur ini.

Baekhyun membuka kotak makan itu dan memakannya dengan lahap. Hanya nasi putih, Dak Galbi, dan kimchi yang terbuat dari sawi dan lobak putih. Perutnya terus berbunyi seolah menandakan sangat puas dengan makanan malam ini, Baekhyun sangat bersyukur tidurnya akan nyenyak tanpa kelaparan seperti malam sebelumnya. Siapapun Sooyoung, Baekhyun akan mendoakannya disetiap malam selama ia bernafas. Tanpa perempuan dengan bibir merah itu, mungkin Baekhyun akan mati kelaparan.

Pandangannya beralih pada beberapa Jeogori yang dibawakan Sooyoung. Biru cerah dengan Sokgui putih gading, bibirnya lagi-lagi mengulas senyum. Baekhyun membentangkan pakaian barunya dan tersenyum seperti orang gila, dalam hatinya tak henti bersyukur atas utusan Tuhan yang memberikannya pakaian sebagus ini. Sepasang Jipsin juga mengisi buntalan Sooyoung, jipsin itu baru. Terlihat dari bentuknya yang masih rapih, Baekhyun bermaksud mencobanya tetapi urung ia lakukan. Ia baru sadar jika belum mandi seharian ini.

"Bodoh sekali, bagaimana jika bau? Tidak, baju ini baru dan aku harus mandi sebelum mencobanya" Tuhan, bagaimana Baekhyun berkata. Ia terlampau senang akan pemberian Sooyoug.

Tanpa sadar dirinya meringkuk memeluk barang-barang yang diberikan Sooyoung, tersenyum sekali lagi kali ini sangat lama. Hingga matanya memejam, melalui pulau mimpi yang indah. Ah Baekhyun berhasil meraih salah satu mimpinya, memiliki pakaian baru dan bisa makan daging. Setelah sekian lama bermimpi, akhirnya salah satu mimpinya terkabul. Baekhyun berjanji akan lebih giat bermimpi indah agar menjadi nyata pula.

...

"Jaejoong... Kau terlalu berharga sayang, siapapun bisa merebutmu

Tapi kau jatuh ke lubang yang benar, dan itu akan mengubah segalanya

Byun dan Kim tidak seharusnya bersatu manis, tetapi kau melakukannya

Dan kini semua ramalan itu benar, kalian tak bisa bersama

Tetapi aku yakin Jaejoong, kau bahagia bersama Yunho disurga

Aku akan berusaha Jaejoong, informasi yang kupunya akan mengubah takdir

Benang merah akan terhubung, tidak akan ada yang bisa memutusnya

Terima kasih atas jasamu padaku Jaejoong-ah..

Sahabatku"

...

Baekhyun memandang rumahnya, 11 tahun hidup dalam rumah rahasia orang tuanya membuat hatinya menghangat. Orang tuanya masih sangat peduli dengan membangunkan rumah sederhana untuknya berlindung, Baekhyun kecil yang menangis tersedu saat tetangga-tetangganya mulai melupakannya memulai langkah-langkah pendeknya. Tetangganya yang sudah tua renta itu memberikan petunjuk jalan, jalan yang mengantarkannya di rumah sederhana ketika Jaejoong melahirkannya. Ia tak bertanya mengapa sangat jauh jaraknya, mengapa ibunya harus melahirkan ditengah hutan, dan mengapa ia tidak bertumbuh menjadi anak-anak di rumah itu?

Baekhyun tidak percaya ini, ia benar-benar akan pergi meninggalkan satu-satunya aset peninggalan kedua orang tuanya. Setelah ia selesai berbenah diri menggunakan pakaian baru pemberian Sooyoung, Baekhyun juga membersihkan rumahnya seperti keadaan saat ia datang pertama kali.

"Bu, aku tidak tau harus berkata apa. Tetapi aku yakin aku akan kembali kemari, ke rumah kita. Terima kasih karena melahirkanku disini, terima kasih rumah yang kalian buat masih kokoh berdiri. Tapi ini saatnya bu, aku harus bahagia seperti janjiku pada ibu." Setetes air mata lolos dari pelupuk mata kanannya, Baekhyun tidak akan melupakan jasa rumah yang telah ia tinggali 11 tahun lamanya. Hatinya berkata ini sudah tepat, dia akan meninggalkan kehidupan monotonnya dan akan menghadapi hidup keras.

Baekhyun laki-laki, dia akan bertahan hidup dengan pengalamannya selama ia hidup. Ia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan pernah menangis lagi, ia akan menjadi pria yang tangguh seperti yang diimpikan kedua orang tuanya. Marga Byun yang tersemat dinamanya menunjukkan Baekhyun tidak akan pernah ingkar pada janjinya sendiri.

"Baekkie-ya berhenti berlari! Ibu lelah sayang, Yak !"

"Hihihi tidak mau, Baekkie suka berlari"

"Hahahaha sudahlah Jae biarkan dia"

"Tapi Yun, aaiishh berhenti disana anak nakal!"

Jaejoong masih belum menyerah mengejar anaknya yang ia sebut nakal itu. Sedang Baekhyun masih tetap berlari mengelilingi rumah juga tubuh ayahnya, Yunho. Ah pemuda itu hanya tertawa melihat betapa repotnya Jaejoong mengejar dengan hanbok besarnya.

"Hhaa kena kau!"

Itu suara Yunho, tak tega melihat istrinya kelelahan akhirnya ia mengalah dengan menangkap Baekhyun yang berlari, anak kecil itu memajukan bibir bawahnya. Ah Baekhyun kecil sedang merajuk rupanya.

"Tidak mau, Baekkie tidak mau berhenti ayah."

"Hei lihat ibumu, ia lelah. Baekkie tidak kasihan hm?" Benar saja, Baekhyun melihat ibunya menyeka keringatnya dengan nafas tersengal. Sejenak bocah dengan mata sipit itu tergeming, meringsut turun dari gendongan ayahnya dan menghampiri Jaejoong.

"Apakah ibu lelah? Apa Baekkie nakal?" mata polos itu menerjab dengan kepalanya yang Baekhyun miringkan ke kiri.

Jaejoong tersenyum, anaknya benar-benar manis. "Tidak sayang, ibu tidak lelah tetapi..."

"Tapi apa bu tolong beritahu Baekkie" Jaejoong menahan kedutan di ujung bibirnya ketika melihat Baekhyun masuk perangkapnya. Ia segera memeluk Baekhyun dengan erat dan memutar-mutarnya dalam gendongannya.

"Huwaaaaaa iibuuu ahahahahaha terus bu teruuss" Baekhyun terkikik geli saat merasa tubuhnya melayang dan berputar. Ia memeluk erat leher ibunya yang tersenyum.

"Sudahlah Jae, biarkan dia beristirahat" Yunho mendekati istri dan anak semata wayangnya dengan rasa haru yang membuncah dalam dadanya. Ah Yunho mengapa kau terlalu memasang dinding kokoh dalam dirimu? Yunho tak pernah mengekspresikan perasannya bahkan pada Jaejoong dan Baekhyun.

"Ah lihatlah. Ayahmu sangat datar sekali, setidaknya tersenyumlah untuk kami dengan tulus Yunho-ya"

"Ya benar itu yah, ayo senyum sedikit seperti kami."

Jaejoong dan Baekhyun yang merajuk adalah kelemahan Yunho, perpaduan ibu dan anak yang sempurna itu membuat Yunho geleng-geleng kepala. Kemudia Yunho tersenyum sambil memeluk keduanya.

'Tuhan, aku berjanji akan melindungi mereka selama nafasku masih terhembus. Jika aku pergi nanti kuharap kau kabulkan permintaanku untuk membuat Baekhyun ada dimana seharusnya dia berada nanti'

Yunho, hanyalah ayah yang sama seperti ayah lainnya. Ingin yang terbaik untuk putra satu-satunya, kebahagiannya bukan emas, bukan tahta, maupun berbagai wanita yang tunduk padanya. Cukup keluarga kecilnya bahagia. Jika ia dan Jaejoong tidak bisa bahagia maka mereka rela untuk menukar kebahagiaan mereka yang tertunda dengan kesedihan, dan memberikan kebahagiaanya untuk Baekhyunnya yang malang.

Pohon-pohon dengan diameter lebih dari 0,5 meter menemani tiap langkah yang dilaluinya. Baekhyun dengan sangat lihai melewati jalan licin, sungai dan tumpukan batu pegunungan. Baekhyun telah melalui 11 tahunnya dengan hidup yang keras, dia tak merasa sakit meskipun kakinya akan tertusuk duri atau batuan tajam. Bekas luka ditubuhnya mencakup 2/3 bagian disekujur kulitnya, tetapi Baekhyun tidak mempermasalahkannya, ia berpikir luka adalah suatu hal yang penting, karena bertahan dengan luka tanpa obat adalah penjelajah sejati.

Alamat yang diterimanya sangatlah jauh, terlapau jauh dari yang Baekhyun duga. Pohang, kawasan yang terletak di wilayah Kerajaan Silla adalah salah satu wilayah dengan hasil laut terbaik di kerajaan Silla. Mau tidak mau, Baekhyun harus bisa keluar dari kerajaan Goguryeo. Barisan pegunungan Taebaek ia lalui berhari-hari dengan bekal seadanya.

Di sepanjang perjalanan Baekhyun terus berpikir mengapa dirinya mengikuti Sooyoung untuk pergi ke alamat yang letaknya sangat jauh itu. Baekhyun menegaskan bahwa saatnya ia keluar dari lingkupnya yang tak seberapa dan menghadapi dunia luar. Benarkah? Bagaimana jika itu membawamu dalam takdirmu Baek?

Berhari-hari lamanya Baekhyun habiskan hanya untuk berjalan. Kakinya terlihat memar, namun Baekhyun justru tak merasakan sakit. Ia sudah sangat terbiasa akan itu, terkadang Baekhyun bersyukur menjadi sebatang kara tidak akan membuatnya rapuh. Betapa ia sangat mensyukuri nikmat Tuhan yang telah diberikan padanya.

Netranya menyapu dengan tatapan memuja, dibalik pegunungan Taebaek terlihat sebuah kawasan yang berbatasan dengan laut, ah inikah laut itu? Baekhyun selalu ingin melihat laut, berada di kawasan pegunungan terkadang membuatnya bosan. Mimpinya tercapai, satu dari sekian banyak mimpinya telah terwujud kembali.

Baekhyun membentangkan tangannya lebar-lebar, menghirup udara dengan rakus seakan tak ada waktu lagi untuk bernafas. Kini ia bebas, ia akan meninggalkan tanah kelahirannya menuju tempat yang tak tahu apa namanya. Apakah ia akan menyesal? Baekhyun rasa tidak, dia telah menapakkan kakinya di tempat yang seharusnya membuat ia bahagia.

Saat menuruni bukit, ia melihat beberapa tomat masak sedang dipanen. Pertama kalinya dalam dekade terakhir Baekhyun melihat petani lain yang memanen hasil kebunnya sendiri. Baekhyun menelan liurnya susah payah, sangat merah dan menggoda untuk dimakan. Tanpa sadar Baekhyun hanya berdiri memperhatikan buah-buah tomat yang dimasukkan dalam keranjang.

"Hei kau!" Baekhyun tergagap, ia menoleh ke segala arah. "A-aku?" Telunjuknya menunjuk pada dirinya sendiri.

"Iya kau, kau mau buah? Ambil saja! Kami sedang panen banyak"

Samar Baekhyun melihat pria paruh baya itu tersenyum. Ia tau maksud pria itu berteriak agar Baekhyun mendengarnya, dengan semangat Baekhyun berlari ke arah pria itu.

"Terima kasih Tuan" Tubuhnya ia bungkukkan untuk mengucap banyak terima kasih. Diam-diam Baekhyun mulai berfikir jika orang yang tinggal di Pohang lebih ramah padanya.

"Tidak apa-apa ini kantungnya. Ambil saja sesukamu kami telah panen banyak hari ini, langit mendengar doa-doa kami" Baekhyun tak bisa menahan senyumnya,ia segera memetik tomat segar dan memasukkannya dalam kantung yang diberikan oleh pria tadi.

Tangannya tak henti menggenggam koin-koin emas ditangannya. Baekhyun lega, kini ia bisa mengisi perutnya dengan hasil penjualan tomat dari petani yang baik hati memberikan tomat-tomatnya. Matanya melihat ke sekeliling pasar, Beginikah keadaan pasar di kota? Sangat berbeda jauh dengan pasar sepi di desanya.

Baekhyun lupa jika ini Pohang, wilayah dimana hasil laut menjadi pasokan utama bahan pangannya. Berada di selatan pegunungan Taebaek membuat hasil kebunnya pun melimpah, senyum tak pernah lepas dari bibirnya menyadari betapa indahnya hidup Baekhyun kali ini.

"Bibi, pesan Doenjang jjigae" Baekhyun bergegas duduk setelah memesan, wanita paruh baya yang ia panggil bibi itu menoleh. "Baiklah tunggu sebentar"

Baekhyun lagi-lagi tersenyum, sudah berapa kali kata syukur terucap dalam hati kecilnya. Ia bisa memakan masakan enak itu sekarang. Tak perlu khawatir uangnya akan habis, persediaan koin emas masih sangat cukup di kantongnya. Baekhyun mengambil sesuatu di kantongnya, ah kertas usang itu. Tertulis dengan jelas alamat yang berada di Pohang itu, ia akan menemui pemilik alamat itu. Dan mendapat informasi orang tuanya, mengapa harus mereka lagi.

"Ayah, Baekkie ingin itu yah belikan yah"

"Jajangmyeon? Baekkie ingin jajangmyeon?" Tanya Yunho pada Baekhyun yang dibalas anggukan semangat dari putranya.

"Ya, belikan Baekkie satu saja ayah. Baekkie berjanji akan berlatih pedang dengan ayah nanti sore jika ayah membelikan Baekkie jajangmyeon" Bujuk yang lebih muda.

"Baekkie-ya jangan pernah lupakan janjimu ya? Ingat se-"

"Sebagai seorang Byun, pantang untuk melanggar janji" Baekhyun kecil memutar bola matanya mendengar kata-kata Yunho. Ayolah perutnya lapar dan ia ditahan dengan kata-kata ayahnya yang sewaktu-waktu bisa membatalkan niatnya membeli jajangmyeon.

"Tuan? Tuan? Ini makanan anda"

"Ah ya, maafkan aku Bi, terima kasih banyak" Cepat-cepat Baekhyun menundukkan kepalanya karena tak memperhatikan sekitarnya. Ingatan masa kecilnya sangat berpengaruh terhadap pribadinya yang sekarang. Ia tak peduli lagi bagaimana orang lain memandangnya, Baekhyun hanya ingi tetap hidup mencapai janji terakhirnya bersama sang ibu. Tidak akan menangis dan akan hidup bahagia di akhir hidupnya.

Baekhyun makan dengan terus memperhatikan sekitarnya, entahlah kali ini ia merasa diawasi. Baekhyun terlalu peka dan sensitif, telinganya sangatlah awas untuk mendengar bunyi dan matanya tajam untuk mengawasi. Terkadang Baekhyun ingin menjadi polisi saja dengan kemampuannya, dia bahkan tak tahu mengapa seperti itu.

'Apa perasaanku saja ya? Tapi tidak ada orang disini.' Pikirnya.

"Bibi, aku sudah selesai ini uangnya" Baekhyun cepat-cepat meninggalkan kedai setelah meletakkan beberapa keping uangnya di meja tempatnya makan. Ia takut, sekelebatan pikiran tentang orang tuanya terus berputar-putar di kepalanya. Baekhyun merasa pening, bagian kepalanya kini terasa sakit, telinganya mulai berdengung.

Seorang wanita dengan balutan hanbok gelap yang tertutupi Jangot itu tersenyum misterius melihat Baekhyun, perlahan ia mendekat ke arah Baekhyun yang berlutut merasakan sakit yang mendera. Orang-orang seakan buta dan tuli untuk melihat keadaan Baekhyun, berulang kali ia telah berteriak meminta pertolongan, dan berulang kali ia hanya bisa terdiam. Apa hanya Baekhyun yang hidup disini?

SSSRRAAKKK

Baekhyun langsung menengadah begitu sepasang sepatu terlihat didepannya, matanya terbelalak melihat siapa yang berada di depannya.

"Halo Baekhyun, ikutlah denganku" Suaranya mengalun merdu, mengajak Baekhyun meninggalkan sakit di tengah hiruk pikuk pasar.

...

Baekhyun terdiam, ia masih mengikuti langkah wanita di depannya. Baekhyun tak berani bertanya tentang apapun sekarang, kepalanya masih sedikit sakit lagi pula Baekhyun sudah tak peduli pada hidupnya kini. Semuanya terlalu semu untuk ia raih, baru saja ia memanjatkan syukur pada Tuhan tetapi dunia telah merengggutnya lagi. Kebahagiaan, apa arti dari satu kata itu?

'Bahagia? Mungkin jika aku mati aku akan bahagia' Pikiran-pikiran Baekhyun terus menyalahkan dirinya sendiri yang gagal bunuh diri, meratapi hidupnya dalam hati tentu saja.

"Jangan berpikir yang tidak-tidak Baekhyun, belum saatnya kau mati"

Baekhyun terkejut, wanita di depannya ini apa? Mengapa dia tahu yang Baekhyun pikirkan?

'Apa? Bagaimana bisa? Bagaimana dia bisa tahu? Jangan-jangan dia bukan manusia, atau-'

"Berhentilah berpikir Baekhyun," Wanita itu berhenti untuk menoleh padanya, "Kau akan tahu sebentar lagi jika kau bisa diam." Kemudian ia melanjutkan berjalan di depan Baekhyun yang masih tergeming.

"Baiklah, maafkan aku nona" Baekhyun berucap sembari kembali berjalan. Ini sungguh jauh, terlalu berada di dalam hutan. Ah Baekhyun jadi merindukan rumahnya yang dulu ia tinggalkan.

"Silahkan masuk" Senyumnya lagi-lagi membuat Baekhyun menuruti apapun perkataannya, setelah melepaskan alas kaki ia segera memasuki rumah milik wanita itu.

...

...

TBC

...

...

NB :

Chima : rok yang dikenakan oleh wanita Korea dalam busana hanbok

Dak Galbi : makanan khas daerah Korea dengan ayam potong dadu gochujan, dan kubis iris, ubi jalar, daun bawang, bawang dan kue beras

Jeogori : baju atasan hanbok yang dikenakan oleh pria atau wanita

Sokgui : pakaian bagian dalam jeogori yang digunakan oleh pria

Jipsin : jenis sepatu tradisional Korea yang terbuat dari jerami

Doenjang Jjigae : jenis sup yang bahan utamanya adalah saus dari kedelai

Jangot : jenis pakaian luar yang dikenakan oleh wanita Korea sebagai kerudug untuk menutupi wajah mereka

...

A/N :

Oke, gue tau gue numpang di akun ffn sahabat gue buat publish cerita ini. Gue gk tau kudu ngomong apa tapi makasih buat readers-nim yang udah mau baca ff gaje ini. Pertama kali publish ff jadi grogi deh. Ide ini terlintas gitu aja dan jauh dari konsep yang tadinya udah dibikin bareng sama pemilik akun ini. Gue Cuma berharap kalian nikmatin ff ini, buat chap ini bacanya kudu pelan-pelan yak. Chan belom muncul karena emang awal-awal mau gue bikin flashback dulu dan fokus ama baek. Udah gitu aja sih gue binggung mau ngomong apa, makasih intinya buat readers-nim. Kalo kalian sempet ya review kalo nggak juga nggak papa kok hehehe, thank ^^

E/N :

Maaf , karena kesalahan publish pada chap ini. Ini emang sepenuhnya salah aku ^^ . maaf yaaa. Jadi intinya saya disini Cuma perantara aja kok. Terima kasih buat readers-nim yang udah mau mampir ke ff ini. Makasih juga buat yang udah nge fav, foll, and review . tq so much ^^. Kalo ada waktu sempetin review yaaaa. Pappai dari cecans ^^