Chapter II : Anggota Baru

Aku menghela napas entah untuk yang keberapa. Aku memperhatikan penjelasan guru baru itu dengan kesal. Caranya menjelaskan berbagai rumus matematika memang tidak buruk, bahkan yang terbaik dari semua guru yang pernah mengajarku sebelumnya. Aku kesal padanya karena alasan lain. Entah kenapa semua murid, terutama para gadis begitu menyukainya. Hanya dalam waktu seminggu semenjak kedatangannya di sekolah ini, dia sudah memiliki banyak penggemar. Tidak hanya dari kalangan siswa tetapi juga guru. Bahkan ada fans-club-nya. Kuakui, dia memang tampan, sangat tampan malahan. Aku belum pernah melihatnya tersenyum. Dia juga pendiam. Entah apa yang dipikirkannya dibalik ekspresinya yang selalu datar itu. Bel tanda pelajaran telah usai berbunyi. Aku menutup bukuku dengan cepat dan memasukkannya ke dalam laci meja. Aku ingin segera keluar dari kelas yang menyesakkan ini. aku berjalan keluar namun sebuah suara menghentikanku.
"Han Saena, datanglah ke ruangan bapak sekarang" Jung Sunsengnim berlalu pergi keluar dari kelas.
Setelah Jung Sunsengnim keluar, kelas berubah menjadi gaduh. Mereka berasumsi sesuka hati mereka dan mengolok-olokku di depanku secara terang-terangan. Hal ini sudah sering terjadi, jadi kubiarkan saja mereka berfikiran apa tentangku. Aku benci terlibat dengan hal-hal rumit.
"Hoo… kalian dengar itu?"
"Dia dipanggil lagi ke ruang guru"
"Pasti Dia melanggar peraturan lagi"
"Memang apalagi yang bisa diperbuat gadis itu selain membuat masalah"
"Dasar gadis preman"
"HAN SAENA!" panggil hongbin ketika melihatku berjalan ke arah yang berlawanan dengan ruang guru. Dia berlari menyusulku.
"Tunggu, kau mau kemana?" tanyanya.
"Tidur"
"Tapi Jung Sunsengnim memintamu ke ruangannya, kan?"
Aku diam tidak menanggapi ucapannya. Dia melihatku penuh arti seperti mencoba menebak apa yang sedang kupikirkan sekarang.
"Tenang saja. Hari ini kau tidak melanggar peraturan sekolah. Jung Sunsengnim tidak akan menghukummu. Pasti Dia punya alasan lain memanggilmu" katanya membujukku.
"Aku tidak khawatir kalaupun aku dihukum"
"Jadi, apa yang membuatmu tidak mau menemuinya"
"Hari ini aku tidak ingin berurusan dengannya"
"Tapi, Saena…"
"Berhentilah bersikap sok akrap. Kita bukan teman"
Dia terkejut mendengar perkataanku. Ada sedikit kesedihan terpancar di balik sorot matanya. Aku pergi ke halaman belakang sekolah. Kulihat adikku sedang menikmati makan siangnya di bawah pohon rindang. Itu adalah salah satu tempat dimana aku biasa tidur ketika sedang membolos. Aku suka tempat ini karena disini sejuk. Taman-taman dan pepohonan mengingatkanku akan hutan kampung halaman tempat aku dibesarkan. Tempat lainnya adalah atap sekolah. Disana sangat tenang, para siswa tidak biasa kesana. Selain itu, aku bisa melihat lapangan olahraga. Aku biasanya melihat dengan jelas pertandingan yang sedang berlangsung dari atas sana.
"Kau disini lagi?" sapaku kemudian duduk di sebelahnya.
"Yo, Nunna. Mau mencicipi sedikit makan siangku?"
"Tidak. Aku tidak lapar"
Hyuk menaikkan sebelah alisnya sambil menatapku. "Sepertinya nunna sedang kesal, ada apa?"
Aku mengeluarkan sebuah buku dari dalam sakuku kemudian membacanya. Sebuah novel karangan Arthur Conan Doyle, Sherlock Holmes Study in Pink. "Jangan tanyakan itu. Bukankah setelah ini kau ada pelajaran olahraga? Kau tidak bersiap-siap?"
"Dengan tubuh seperti ini, tidak mungkin bagiku mengikuti pelajaran olahraga"
Kualihkan pandanganku dari buku ke arahnya. Tatapannya menunjukkan kesedihan. Insiden 8 tahun yang lalu telah merubah seluruh hidupnya, termasuk tubuh lemahnya. Menjadi lemah dan selalu dipandang dengan tatapan kasihan, lebih menyakitkan daripada terkurung dipenjara. Beban itu terlalu berat untuk dipikul oleh anak berusia 8 tahun.
"Suatu saat, kita akan menemukan cara untuk menyembuhkanmu. Jangan khawatir" Aku mengacak rambutnya. Inilah yang selalu kulakukan untuk menghiburnya. Dia mengerang kesal karena ulahku. Aku hanya tertawa melihatnya.
"Nunna, aku bukan anak kecil lagi!"
"Bagiku, kau tetaplah anak kecil. Lagipula, kekuatanmu bukanlah di otot tapi disini" aku menunjuk kepalaku.
"Bukankah, kau sudah berkali-kali menyelamatkanku dengan kecerdasanmu dalam hacking? Ne… setiap orang memiliki kekuatannya sendiri. Jangan biarkan tubuh lemahmu menurunkan semangatmu" Aku tersenyum dan dia balas tersenyum padaku.
"Ne… Nunna, aku sungguh bersyukur bisa bertemu dengan nunna 8 tahun lalu. Nunna adalah satu-satunya orang yang paling berharga bagiku di dunia ini" katanya mantap.
"Hoo… aku merasa tersanjung. Tapi jika suatu saat kau menemukan seseorang yang kau cintai, apakah adikku ini masih akan menganggap nunna-nya no. 1" aku mengerling menggodanya. Kulihat pipinya sedikit memerah. Manis sekali. Dia masih polos.
"Me…meskipun aku punya pacar nantinya, nunna akan tetap menjadi no. 1 bagiku!"
"Hai…hai… wakatta (iya..iya… aku mengerti)" aku tersenyum tanpa mengalihkan pandanganku dari novel di tanganku.
"Oh ya, aku dengar seminggu ini nunna dibuat susah oleh guru baru dan juga wali kelas nunna, ya? Siapa nama? Jung Taekwoon Sunsengnim?"
Aku tidak menjawab. Aku terus membaca novelku. Mengabaikannya.
"Hoo… ada juga, ya, orang yang bisa membuat kakak kesal. aku jadi ingin bertemu dengannya" sindir Hyuk. Sepertinya Ia ingin membalasku karena menggodanya beberapa saat yang lalu. Aku menutup bukuku kemudian memejamkan mataku beranjak untuk tidur.
"Sejak kedatangan guru itu, sepertinya kakak berubah menjadi siswa teladan, ya? Kakak jarang membolos belakangan ini?" lanjutnya.
"Itu karena dia selalu menyeretku kembali ke kelas. Taman dan atap sudah tidak aman lagi. Dia selalu mengganggu waktu tidurku untuk hal-hal tidak berguna"
Aku mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahku. Langkah kakinya terdengar normal. Tidak lambat ataupun cepat. Artinya dia tidak sedang berlari atau mengendap-endap. Dia berjalan dengan tenang dan mantap. Tidak ada hawa permusuhan darinya. Pastinya, Dia datang dengan tujuan untuk berbicara dengan salah satu dari kami "Apa maksudmu dengan 'hal-hal tidak berguna' Han seana?"
Suaranya terdengar tidak asing. Hanya satu orang yang memiliki jenis suara lembut seperti ini. Aku membuka mataku dan menoleh ke sumber suara. Ternyata benar dia, si guru baru. Apa tujuannya datang kemari? Aku menaikkan sebelah alisku dan menatapnya penuh arti.
"Saya rasa anda sudah mengetahuinya tanpa harus saya jelaskan"
Dia mengangkat bahu cuek. "Aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu"
"Jika saya mengatakannya, apakah sunsengnim akan berhenti meminta saya melakukannya?"
"Tentu saja tidak" Aku mendengus kesal. Jadi percuma saja aku mengatakannya jika dia tidak mau menyerah. Dia menatapku dengan wajah datarnya. Cih, mengebalkan. Pandangannya beralih ke arah Hyuk. Dia menatapnya sebentar kemudian kembali menatapku.
"Ikut ke ruanganku sekarang"
"Tidak. Hari ini saya tidak ingin berurusan dengan Sunsengnim. Besok saja"
"Tidak ada penolakan"
Dia berbalik dan berjalan menuju ruang guru. Dia melirik ke belakang, melihatku menghela napas lagi dan berjalan mengikutinya. Dia menyeringai. Guru sialan. Berani sekali Dia menyeringai padaku. Hanya karena aku menuruti perkataannya, bukan berarti aku bertekuk lutut padannya. Tenang… tenang Han Saena. Ingatlah, dia hanyalah laki-laki yang kebetulan menjadi guru sekaligus wali kelasmu. Jangan sampai kau membunuhnya hanya karena kau kesal padanya. Benar-benar sial. Dari sekian banyak sekolah di seoul, mengapa orang itu datang ke SMA Munrong. Padahal sejak kedatangannya, aku selalu bersikap antipati dan arogan padanya. Biasanya guru lain akan menyerah dan mengabaikanku. Tapi dia? Dia bersikap layaknya seorang guru yang baik, peduli pada muridnya. Dia tidak pernah membeda-bedakanku dengan murid lain seperti guru lainnya. Mungkin bagi murid lainnya, sikapnya itu menyenangkan, seperti seorang ayah yang peduli pada anaknya tapi bagiku, itu menjengkelkan. Aku tidak suka jika orang lain mencampuri urusanku. Terutama orang asing yang baru kukenal.
"Apa yang sebenarnya anda rencanakan?" tanyaku setelah kami tiba di ruang guru.
"Apa yang kurencanakan? Aku tidak mengerti maksudmu"
Huh… Dia berlagak bodoh dan mempermainkanku. Mengapa dia suka sekali membuatku marah? Aku mendengus kesal.
"Jadi, apa yang anda inginkan?"
"Hei, Han Saena! Bersikaplah lebih sopan. Bagaimanapun dia adalah gurumu" kata seorang guru wanita yang duduk di sebelah Jung Sungsenim, Min Sungsenim, guru bahasa inggris.
"Aku sudah bosan mendengarmu berbicara kurang sopan pada guru dan selalu membuat masalah" tambah seorang laki-laki setangah baya, Jang Sungsenim, guru musik.
"Jika Sungsenim tidak ingin mendengar saya berbicara kurang sopan, anda hanya harus menutup telinga anda"
"Apa kau bilang….!" Jang Sungsenim menggeram kesal.
"Cukup, Han Saena" kata Jung Sungsenim dengan nada tegas memperingatkanku.
"Saya minta maaf. Dia hanya sedikit arogan, tapi sebenarnya dia adalah gadis yang baik" Lanjutnya meminta maaf pada Min Sunsengnim dan Jang Sungsenim.
Gadis Baik? Dia menganggap aku gadis yang baik? Sepertinya ada yang salah dengan otaknya. Bagaimana bisa dia menganggap pembunuh sepertiku sebagai gadis yang baik. Yah… mungkin setelah dia mengetahui siapa diriku yang sebenarnya, dia akan menyesal telah menganggapku seperti itu. Tapi tentu saja aku tidak akan membiarkan orang lain mengetahuinya.
"Anda seharusnya lebih keras padanya, pak"
"Beruntung sekali gadis nakal ini memiliki wali kelas sebaik anda"
Tidak mungkin. Aku melihat sedikit rona merah di pipinya. Apakah dia malu? Hanya karena pujian seperti itu? Wah… tidak kusangka orang pendiam dan dingin sepertinya, ternyata pemalu juga. Jadi, image es-nya selama ini hanya untuk menutupi sifat pemalunya. Ini diluar dugaan. Dia berdehem untuk mencairkan suasana.
"Kupikir selama ini kau hanya membolos di saat jam pelajaran untuk tidur tapi setelah aku melihat absensi kelas, kau juga sering tidak masuk. Kenapa?"
"Kenapa? Tidak ada alasan khusus. Karena saya menginginkannya"
"Kau ingin membolos?"
"Ya"
"Katakan alasan yang lebih masuk akal. Jika kau tidak memenuhi batas minimal kehadiran, kau akan tinggal kelas"
Aku bungkam. Mana mungkin aku mengatakan padanya kalau aku tidak masuk karena menjalankan misi sebagai Vier.
"Nilai akademikmu tidak terlalu bagus tapi juga tidak jelek tapi…"
"Langsung saja pada intinya, Sungsenim. Tidak perlu berbelit-belit"
Dia memandangku tajam. Tampaknya dia sedikit kesal karena aku memotong perkataannya tapi dia menahan amarahnya.
"Kau akan menghadiri kelas tambahan"
"Mengapa?"
"Karena kau sering tidak masuk jadi kau pasti ketinggalan banyak pelajaran. Kelas akan diadakan mulai besok setiap hati setelah pulang sekolah"
"Tidak perlu. Saya bisa belajar sendiri"
"Tentu aku tahu kau bisa. Nilaimu sudah mencapai ketentuan minimal. Tidak lebih juga tidak kurang"
"Lalu kenapa?"
"Setiap murid yang sering bolos akan menghadiri kelas itu, termasuk kau. Tidak ada penolakan"
Aku menghela napas lagi. Seenaknya saja menyuruhku melakukan ini dan itu. Huh, sudahlah, aku menyerah. Jika dia sudah mengatakan itu, dia pasti akan melakukannya meskipun harus menyeretku ke kelas. Menuruti perkataannya akan lebih baik sebelum semuanya menjadi lebih rumit.
"Itu saja, kan? Jika sudah tidak ada yang anda bicarakan lagi, saya akan kembali ke kelas"
"Sebaiknya kau datang secara sukarela atau aku sendiri yang akan menyeretmu"
"Saya permisi"

Cahaya bulan mengintip dari balik awan, menampilkan setengah lengkungan sabit. Bintang-bintang bertaburan secara acak, bersinar dengan indahnya menghiasi langit yang masih tampak kelam seperti biasa. Terdengar suara auman serigala saling bersahut-sahutan. Pohon-pohon yang menjulang tinggi berbaris rapi bagaikan barisan pasukan di medan pertempuran. Dahan-dahan menghalangi cahaya melewatinya, membuat hutan menjadi lebih gelap. Aku melompat dari satu pohon ke pohon laninnya. Sesekali aku berhenti untuk memeriksa keadaan. Tidak ada siapapun yang bersembunyi di hutan. Musuhku kali ini sepertinya kurang berpengalaman. Pekerjaanku akan jadi lebih mudah.
Aku berhenti dan bersembunyi di antara ranting-ranting. Puluhan orang berjaga di depan sebuah bangunan yang berdasarkan informasi dari atasanku adalah sebuah laboratorium kimia, tempat dilaksanakannya penelitian rahasia. Sang ilmuwan sering membuat obat-obatan terlarang dan beberapa senjata kimia berbahaya. Dia selalu mengasingkan diri dan menyembunyikan keberadaannya karena itulah polisi tidak mengetahui apapun tentangnya.
Aku berlari menuju laboratorium tanpa menimbulkan suara. Aku menghampiri dua penjaga terdekat dan memukul tengkuknya. Mereka jatuh tidak sadarkan diri. Aku menekan tombol di balik sarung tanganku dan melepaskan tali. Aku mengaitkannya di dinding lantai dua. Aku menekan tombol tali lagi, membuat tali tergulung kembali dan aku naik. Aku memecahkan kaca jendela dan melompat masuk. Petugas yang berjaga segera mengarahkan senjatanya padaku.
"Siapa kau?" tanya salah satu dari mereka.
"I am Vier, The Pandora number Four, diperintahkan untuk membawa prof. Kim. Bagi siapapun yang memiliki tujuan yang berlawanan denganku, menyerahlah"
"Vi…vier…? Di…Dia adalah agen pandora dengan nomor empat" Mereka gemetar ketakutan. Berita tentangku yang menjalankan misi atas nama Pandora sudah meluas di dunia hitam.
"Drai, kau sudah menemukan lokasi prof. Kim?" aku bertanya pada adikku lewat earphone.
"Sebentar, sedang kucari" jawabnya.
Para petugas bersiap menyerangku meskipun dengan tubuh gemetar karena ketakutan. Mereka memilih untuk melawanku meskipun tahu perlawanan itu membawa mereka pada kematian. Usaha yang sia-sia. Hahh…Mereka membuat pekerjaanku semakin banyak saja, akan lebih mudah jika mereka menyerah tanpa bertarung, sehingga aku tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk melawan orang yang bukan targetku. Yah… aku tidak bisa mengeluh. Hal ini sering terjadi. Mereka bergerak maju namun sebuah suara menghentikannya.
"Tunggu, kalian tidak akan bisa mengalahkannya" seorang laki-laki yang membawa sebilah pedang muncul. Dia memakai topeng berbentuk anjing.
"Kalian hanya akan mati jika melawannya" orang bertopeng kucing muncul di belakang laki-laki tadi. Dari postur tubuhnya, dia adalah wanita. Dia membawa sebuah pistol.
"Siapa kalian?"
"Panggil aku Dog" jawab laki-laki bertopeng Anjing.
"Panggil aku Cat. Kami adalah agen Xifos. Kamilah yang akan membawa Prof. Kim bukan Pandora" lanjut wanita bertopeng kucing.
"Jadi, kalian ada dipihak kami, kan?" tanya salah seorang penjaga.
Door… Wanita itu menembak petugas yang tadi berbicara tepat di jantungnya. Petugas itu jatuh bersimbah darah dan mati.
"Jangan salah paham, misi kami memang membawa Prof. Kim tapi kalian tidak ada hubungannya" kata wanita yang membawa pistol.
Xifos adalah sebuah organisasi kriminal paling berbahaya di korea. Sama seperti kami, Pandora, anggotanya pun sebagian besar adalah penjahat. Entah apa tujuan mereka, sampai sekarang belum jelas. Sudah berkali-kali Pandora dan Xifos bertemu sebagai musuh. Satu hal yang kutahu adalah mereka organisasi bayaran yang melaksanakan misi berdasarkan permintaan klien. Mereka bertindak sesuka hati dan sering membahayakan warga biasa. Sedangkan kami bertindak berdasarkan kepentingan negara. Kami dibentuk untuk mengatasi orang-orang seperti mereka.
"Sudah kuduga kau pasti sampai lebih dulu, Vier"
"Agen inti memang hebat"
Tiga agen pandora lain tiba. Mereka menerobos masuk melalui jendela yang kugunakan tadi. Mereka berbaris di depanku bersiap untuk bertarung.
"Wah… wah… bala bantuan datang. Ini akan semakin menarik" kata laki-laki yang membawa pedang.
"Siapa mereka?"
"Dua orang di depan itu agen Xifos, Dog dan Cat. Sisanya adalah penjaga lab"
"Kau selalu berada dalam situasi yang buruk, ya atau kau memang menginginkannya?"
"Vier, aku sudah menemukan profesor itu. Petanya sudah kukirim ke handphone-mu"
Setiap kali menjalankan misi, aku dan adikku selalu memanggil dengan code name kami. Kami tidak ingin mengambil resiko orang lain mengetahui identitas kami jika kami memanggil dengan nama asli.
"Seperti biasa kerjamu cepat" kataku.
"Tentu saja, aku adalah hacker terhebat di korea selatan"
"Kau juga sombong"
"Sepertinya hari ini kita sial. Jika aku tahu musuh kita adalah pandora, aku akan meminta harga yang tinggi" kata Dog menginterupsi pembicaraanku dengan Drai.
"Apalagi jika musuhnya adalah Ghost Reaper. Bayarannya benar-benar tidak sesuai"
Mereka bersiap menyerang, begitu juga dengan tiga bawahanku.
"Biar aku yang mengurus mereka. Kalian pergilah mencari prof. Kim" kataku memperingatkan mereka.
"Ta..tapi?"
"Ingat tujuan kalian kesini. Jangan buang-buang tenaga untuk sesuatu di luar misi. Apapun yang terjadi misi adalah hal yang mutlak" aku merogoh sakuku dan mengambil handphone kemudian kuserahkan pada mereka.
"Ikuti saja petunjuk di handphone itu dan kalian akan menemukan prof Kim" perintahku.
"Baik" mereka berlari meninggalkan ruangan.
Penjaga bersiap mengejar mereka. Kulemparkan pedang pendekku dan melesat di depan wajah mereka kemudian beakhir menancap di dinding. Mereka terkejut dengan serangan mendadak dariku dan terdiam.
"Satu langkah lagi kalian bergerak, kuanggap itu sebagai perlawanan" kataku dengan tegas dan dingin. Ketika aku memutuskan untuk bertarung, tatapanku berubah menjadi dingin dan kelam. Hal itu akan membuat musuh-musuhku ketakutan.
"Woah…. Tatapan mata yang menakutkan bahkan diantara anggota Xifos, hanya dua orang yang memiliki tatapan sepertimu" kata Dog sambil tersenyum.
"Sepertinya kau sudah membunuh banyak orang, ya Vier?" lanjut Cat.
"Kalian penasaran sekali denganku, ya. Jika kalian tidak bisa mengalahkanku, kalian tidak akan bisa melaksanakan misi kalian" kataku mengejek.
"Cih, jangan sombong"
Dog menghunus pedangnya dan menyerangku. aku berkelit dan berkelit lagi menghindari serangannya. Dia mengayunkan pedangnya secara horizontal sejajar dengan lututku. Aku melompat. Cat sudah menantikan itu dan melesatkan 3 tembakan saat aku masih di udara. Aku tidak bisa mengubah posisi tubuhku untuk menghindarinya. Kuambil pistol dari sarungnya di pahaku. Aku menangkis tiga peluru itu dengan menembakkan tiga peluru dan memblokirnya. Aku mendarat di belakang Cat kemudian menendangnya. Ia terlempar dan menimpa Dog kemudian membentur tembok.
"Hebat. Dia membuat dua agen Xifos tidak berkutik" kata salah seorang penjaga memujiku.
"Inikah kekuatan agen inti Pandora?"
Door…door…. Dua tembakan terdengar. Petugas yang berbicara tadi, kini sudah tergeletak tak bernyawa. Cat membunuh mereka.
"Berisik. Kalian terlalu banyak bicara" kata Cat marah.
"Siapa yang kau bilang tidak berkutik, hah?" lanjut Dog tidak kalah marahnya.
Para petugas langsung bungkam. Mereka takut jika berbicara lagi, Xifos akan membunuh mereka. Dog kembali menyerangku. Dia mengayunkan pedangnya kesana kemari. Aku terus menghindarinya dan semakin terdorong mundur. Cat meraih selusur tangga dan melompat ke atas. Dia memperoleh keuntungan dengan menembakku dari lantai tiga karena dia bisa melihat pergerakanku di lantai dua. Satu tembakan pertama dilepaskan. Aku berhasil menghindarinya. Peluru meluncur di sampingku dan membentur lantai. Jika aku tidak menghindarinya tadi, peluru itu pasti sudah menembus jantungku. Dog mengayunkan pedangnya ke arahku namun aku menghindarinya. Aku melompat mundur menjahuinya. Melawan dua orang selevel agen Xifos bukanlah hal yang mudah. Lengah sedikit saja, aku pasti sudah mati.
Cat mulai menembak ke arahku lagi secara beruntun. Aku berlari menghindar tapi arah tembakannya terus mengikutiku. Banyak penjaga yang tertembak karenanya. Cat hanya ingin membunuhku dengan cepat, tidak peduli jika pelurunya mengenai para penjaga. Mereka bersembunyi karena tidak ingin menjadi sasaran Cat lagi.
Aku melompat ke belakang sofa. Berlindung di baliknya dari tembakan peluru. Aku mengatur napasku yang tersenggal-senggal. Dog menemukanku. Dia menyerangku lagi. Sial, aku terpaksa keluar. saat itu juga tembakan Cat langsung menghujaniku. Aku terus terdorong mundur hingga kurasakan punggungku membentur tembok. Dog mengayunkan pedangnya hendak menebasku. Kuambil pedangku yang berada di sampingku dan kutangkis serangan Dog. Kutendang perutnya dan dia terlempar mundur.
"Vier, ketua memerintahkanmu untuk membunuh kedua agen xifos itu" kata Drai tiba-tiba.
"Apa? Eins?"
Mendengarku menyebut kata "Eins" membuat Dog dan Cat terdiam. Semua orang di dunia hitam terutama penjahat level A dan S mengetahui siapa itu Eins. Dia adalah ketua organisasi Pandora. Misi dan perintah ketua adalah mutlak.
"Ya, Eins baru saja menghubungiku. 'Lagipula mereka juga adalah penjahat. Menghabisi penjahat lebih awal dapat mencegah masalah dikemudian hari' begitu katanya"
"Dasar, seharusnya dia langsung memberikan perintah itu ketika mereka mulai ikut campur. Ketua itu selalu lamban"
"Ha…ha… jangan bicara begitu, Vier. Bagaimanapun juga dia adalah ketua. Kau bisa diceramahi olehnya nanti. Dia hanya mencoba menghindari hal-hal tidak perlu. Dia hanya ketua yang terlalu banyak pikiran. Ha…ha…"
"Huh, memangnya sejak kapan Eins tidak menceramahi semua orang? Dia sangat berisik"
"Ha…ha… Benar. Baiklah. Bereskan saja mereka. Aku akan memantau agen lainnya. Sepertinya mereka sudah tiba di ruang bawah tanah" Suara Drai tidak terdengar lagi. Dia akan fokus pada Prof. Kim untuk sementara waktu. Aku menatap mereka berdua dengan tajam membuat mereka sedikit terkejut. oke… membunuh dua agen xifos tidak akan mudah tapi aku harus melakukannya. Aku hanya harus menekan emosiku sampai pada dasar hatiku dan membiarkan naluri membunuhku membimbing setiap gerakanku. Dalam keadaan seperti ini, semua inderaku akan lebih tajam. Kurasakan hawa membunuh keluar dariku dan mereka berdua. Baiklah kita lihat siapa yang lebih kuat.
"Mulai sekarang, setiap seranganku bertujuan untuk membunuh kalian. Bersiaplah!"
Aku berlari ke arah Dog dengan cepat. Dia mengayunkan pedangnya ke arahku. Aku menghindarinya kemudian menyelinap di belakangnya. Aku mengayunkan pedangku.
"Di belakangmu Dog!" teriak Cat memperingatkan.
Jrash… seranganku meleset. Aku berencana menusuk jantungnya dari belakang. Pedangku mengenai punggungnya yang berjarak beberapa cm dari jantungnya. aku tidak membiarkan dia kesempatan untuk mencaput pedangku di punggunggnya ataupun beristirahat walaupun sejenak. Sambil berlari menghindari tembakan Cat, aku mendekati Dog lagi. Saat aku sudah berada di belakangnya lagi, dia terkejut dengan gerakanku yang cepat. Aku mencabut pedangku lagi. Dia berteriak kesakitan. Dia berbalik dan Aku menendangnya. Dia terlempar ke dinding, membuat dia muntah darah. Tanpa membuang kesempatan, aku melemparkan pedangku ke arahnya. Dia mati seketika karena jantungnya tertusuk pedang.
"TIDAK! DOG!" teriak Cat.
"Giliranmu" kataku penuh ancaman.
Aku berlari menaiki tangga sambil menghindari tembakan Cat. Setiap kali kehabisan peluru, dia mengisinya lagi dengan cepat. Akhirnya, aku sampai di hadapan Cat tapi dia terus menembakiku meninggalkan jejak peluru di lantai. Aku berlari zig zag kemudian melompat dan menggapai lampu besar di tengah langit-langit atap. Aku berayun menggerakkan lampu. Aku mengambil pistolku kemudian memutuskan pengait lampu dengan peluru. Lampu berayun ke arah Cat. Ia panik dan menembakku tapi tembakannya terhalang oleh kerangka lampu. Saat pelurunya habis, aku melompat ke arahnya. Kuarahkan kedua kakiku di tangannya. Dia jatuh terlentang. Aku berdiri dengan posisi menginjak kedua tangan Cat. Dia mengerang kesakitan. Berat badanku membuat tangannya sakit, membuatnya melepas pistol di tangannya. Cat mengayunkan kaki kanannya hendak menendangku dari belakang tapi aku langsung menembak kakinya. Kali ini dia berteriak dengan kencang.
"Siapa yang menyewamu?" tanyaku dengan tatapan dingin.
"A…aku tidak ta…tahu" katanya dengan napas tersenggal-senggal. Namun setelah melihat tidak ada yang berubah dari ekspresiku, dia mulai panik.
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Kami hanya melaksanakan tugas yang diberikan melalui website organisasi dan klien akan memberikan upahnya ke rekening organisasi. Kami tidak pernah bertemu dengan klien kami"
"Baiklah, aku mengubah pertanyaanku. Siapa ketua Xifos?"
Dia terkejut. Dia sadar telah kupermainkan. Dia sadar jika aku tidak benar-benar penasaran siapa yang menyewanya, yang ingin kuketahui adalah siapa bosnya. Jika dia tidak menjawab pertanyaan pertamaku, itu tidak masalah. Aku akan tetap menanyakan pertanyaan keduaku tapi karena dia terlalu takut padaku, dia tidak bisa berfikir jernih dan memberikanku informasi baru. "Sialan. Kau mempermainkanku!" teriaknya dengan kesal. Aku menembak bahu kirinya. Dia mengerang lagi. Aku duduk di atas perutnya kemudian mengarahkan pistolku ke kepalanya.
"Katakan"
"Sepertinya kau penasaran sekali pada ketua kami. Apa kau punya dendam padanya?"
"Bagaimana, ya? Bisa ya bisa juga tidak"
Dia menaikkan sebelah alisnya tanda tidak mengerti tapi dia tidak menanyakannya padaku. Dia menutup matanya sebentar kemudian menatapku dengan tatapan pasrah.
"Membocorkan rahasia ketua berarti hukuman mati. Lagipula kau akan tetap membunuhku, kan, meskipun aku mengatakannya atau tidak? Pada akhirnya, hasilnya akan sama saja. Aku akan mati"
"Hn… perintah ketua adalah mutlak"
"Vier… Kau dan aku adalah sama. Seorang pembunuh akan tetap menjadi pembunuh sampai dia meninggal. Setiap langkah kita, mengantarkan pada kegelapan. Tidak peduli seberapa banyak musim telah berlalu, tidak peduli sebanyak apapun orang disekitar kita, kita akan selalu sendirian. Tidak ada yang namanya kebahagiaan di jalan kita. Itu adalah hukuman bagi kita yang dengan lancang mengambil nyawa orang lain"
"Hn… aku tahu. Sayounara (Selamat tinggal)"

*****
Aku dan ketiga agen Pandora lainnya, tiba di markas saat fajar. Ketika berada di markas, seluruh agen melepas penyamaran mereka, termasuk aku. aku melepas maskerku. Aku membawa Prof. Kim ke ruangan ketua. Sejujurnya aku terkejut ketika melihatnya. Aku pikir dia adalah Prof yang sudah tua dengan rambut putih sepenuhnya yang hanya menghiasi kepala belakangnya saja. Kupikir dia adalah ilmuwan yang aneh dan tergila-gila pada bahan-bahan kimia. Ternyata dia masih sangat muda. Usianya sekitar 21 tahun. Proporsi tubuhnya bagus. Dia tinggi dan atletis. Kulitnya putih tapi sedikit pucat. Mungkin karena Ia terus berada di dalam laboratorium itu dan jarang terkena sinar matahari. Biasanya ketika bertemu dengan orang baru, aku tidak merasakan apa-apa. Aku biasanya mengabaikan mereka tapi dia, entah mengapa aku bersikap waspada meskipun tidak ada aura permusuhan darinya. Tapi kenapa?
Aku berhenti di depan pintu besar di ujung karidor. Aku mengetuk pintu dua kali. Terdengar suara dari dalam mempersilahkan masuk. Aku melangkah masuk kemudian diikuti oleh Prof. Kim.
"Perkenalkan, ketua Pandora, Cha Hakyeon. Ketika bekerja, kami memanggilnya Eins"
Eins sedang berkutat dengan kamputernya dan beberapa lembar kertas yang kuyakin adalah laporan misi dari agen-agen lainnya. Aku tidak bisa membayangkan, jika aku yang berada di kursi itu dan harus memeriksa bertumpuk-tumpuk laporan setiap hari. Pasti membosankan. Dia mengalihkan pandangannya dari komputer ke arah kami kemudian berjalan mendekati Prof. Kim dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Prof. Kim, apa kabar?"
Berbeda dengan agen laki-laki Pandora, Eins memiliki tubuh yang ramping dan kecil. Dia sedikit lebih pendek dari Prof. Kim. Sejak mengambil alih posisi ketua 3 tahun lalu, kinerja Pandora lebih baik. Dia adalah ketua termuda sepanjang sejarah Pandora. Kini usianya 23 tahun dan kemampuan memimpinnya lebih baik. Dia tidak pernah melakukan pekerjaan yang sia-sia. Hanya satu kekurangannya, dia terlalu berisik seperti ibu-ibu.
"Tak kusangka aku akan dibawa ke markas Pandora. Jadi, apa tujuanmu?" Prof. Kim mengabaikan uluran tangan Eins. Dia menarik tangannya kembali.
"Aku ingin merekrutmu menjadi agen Pandora"
"Huh, kau pasti tahu aku bekerja untuk siapa sebelumnya, kan?"
"Tentu saja aku tahu"
"Lalu? Organisasi kita bermusuhan. Apa yang membuatmu yakin aku akan bergabung denganmu?"
"Untuk membuat Korea Selatan menjadi negara yang damai tanpa kejahatan"
"Ha…ha…ha… kumpulan kriminal ingin mejadikan Korea Selatan menjadi negara yang damai tanpa kejahatan? Lucu sekali. Berarti kalian akan menjadi kriminal yang tersisa nantinya atau apakah kalian akan melakukan bunuh diri setelah tujuan tercapai?"
"Dan aku akan dengan senang hati mengurangi satu kriminal lagi jika kau tidak bisa menjaga mulutmu" kataku mengancam yang membuat Prof. Kim langsung bungkam. Entah mengapa aku tidak "Tidak biasanya kau menunjukkan sikap permusuhan seperti ini. Biasanya kau akan mengacuhkan mereka. Tenanglah Saena-ah." kata Eins menenangkan.
"Aku tidak menyukainya, hyung"
"Ha..ha..ha.. berhentilah menilai orang hanya dengan menggunakan naluri saja. dan juga… sudah berapa kali kubilang jangan memanggilku hyung, aneh sekali rasanya dipanggil hyung oleh seorang gadis"
"Memangnya kenapa? Toh aku menyukainya"
Eins menghela napas. Dia menyerah berdebat denganku. "Dasar"
"Aku tahu kau sudah keluar dari Xifos" kata Eins kepada Prof. Kim melanjutkan pembicaraan yang sempat terputus.
"Tunggu… hyung bilang, dia adalah agen xifos?" potongku lagi.
"Mantan" kata Eins membenarkan.
"Jika kau bergabung dengan kami, kami akan melindungimu dari incaran Xifos"
"Mereka bukanlah organisasi yang bisa kau anggap remeh"
"Tentu aku tahu. Kau tahu agen Xifos dengan code name Cat dan Dog?"
"Seingatku mereka adalah agen yang cukup handal di organisasi, bahkan mereka termasuk agen inti"
"Dia berhasil membunuh mereka seorang diri. Kami juga bukan organisasi kacangan"
Prof Kim terdiam. Dia menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aku menatapnya tajam. Sepertinya dia tidak percaya.
"Kami membutuhkan kemampuanmu untuk membuat obat-obat untuk penyakit-penyakit langkah atau penyakit yang belum ditemukan obatnya. Kau juga yang akan menangani masalah yang berhubungan dengan zat-zat kimia. Tenang saja, kau tidak bekerja sendiri. ilmuwan kami akan membantumu. Semua biaya akan ditanggung oleh organisasi. Jadi, bagaimana profesor Kim Wonsik?"
Siapa katanya? Dia bilang, siapa namanya? Kim Wonsik? Entah ini karena keberuntunganku yang buruk atau dunia memang sempit. Dari sekian banyak orang, mengapa aku harus bertemu dengannya. Tidak… lebih tepatnya mengapa adikku harus bertemu dengannya lagi. Hyuk pasti sudah mengetahui siapa sebenarnya dia ketika menerima misi tapi mengapa dia tidak mengatakan apapun. Mengapa dia tidak mengatakannya padaku. Dia bersikap seolah-olah itu adalah misi yang sama seperti sebelumnya.
Aku menjatuhkan Prof. Kim ke lantai. Aku duduk di punggungnya. Aku menginjak kedua tangannya utnuk mengunci pergerakannya. Dia mengerang kesakitan. Aku mengambil pistol. Tubuhnya gemetar setelah merasakan moncong pistol di belakang kepalanya.
"Tung…tunggu Saena, apa yang kau lakukan? Lepaskan dia?" tanya Eins panik.
"APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?" teriak Prof. Kim.
"Bergerak sedikit saja, aku akan meledakkan kepalamu" ancamku pada Prof. Kim.
"Nah, Eins, katakan padaku apa alasanmu merekrut orang ini?"
"Ini adalah perintah pimpinan"
"Aku tidak peduli. Bukankah sudah kukatakan padamu dan pimpinan tentang persyaratan yang harus kalian penuhi untuk menjadikanku agen Pandora? Jika kalian mengingkarinya…"
"Tenang… tenanglah. Bukan seperti itu"
"Lalu apa?"
"Sudah kubilang, kan, kita membutuhkan kemampuannya untuk membuat obat-obat…"
"Hanya itu…?"
Eins bungkam. Dia tahu, dalam keadaan seperti ini, dia tidak bisa main-main denganku. Ketika aku memanggilnya dengan sebutan 'eins' artinya aku berbicara sebagai agen Pandora, Vier bukan sebagai Han Saena. Aku bersiap menarik pelatuk pistolku. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Eins. Aku menatapnya dengan semakin tajam dan dingin.
"Kuperingatkan, berhati-hatilah dengan jawabanmu selanjutnya atau aku akan… membunuhnya… disini… sekarang juga" lanjutku dengan penekanan pada 3 kata terakhir.

To be continued….
yosh... minna-san ketemu lagi. sbenarnya males sih bwt ngelanjutin ni fanfic. habis g da yg review sih. huwaa... author pengen nangis (T_T) pa fanfic-nya g menarik, ya? *Pundung di pojokan oh ya. eins, drai, vier... bner g ya gini tulisannya? *moga ja bner hehehe...
oke.. itu ja.. bye