(Netherlands/Male Indonesia)
Suara jam weker berbunyi nyaring. Nesia perlahan-lahan membuka matanya, tangannya menggapai-gapai mencari jam wekernya dan mematikannya. Saat dia kembali ingin meringkuk tidur, tiba-tiba hidungnya samar-samar mencium bau harum. Dia berbalik dan melihat setangkai bunga tulip merah tergeletak di bantal di sampingnya.
Pemuda Indonesia itu segera bangkit dari ranjangnya dan mengambil bunga tulip itu. Dia membawa bunga itu ke wajahnya dan mencium aroma segar tulip itu. Tulip itu segar, seperti bau bunga yang baru saja dipetik di bawah segarnya embun pagi.
Mencium aroma itu membawa kenangan manis ke dalam ingatan Nesia. Saat-saat manis yang dilaluinya bersama seseorang.
FLASHBACK
"Nesia!"
Pemuda Indonesia itu berbalik. Saat itu dia berdiri di sebuah bukit hijau yang dikelilingi bunga-bunga yang bergoyang tertiup angin. (anggaplah ada tempat begini di Indonesia dulu). Rambut hitamnya berantakan ditiup angin. Dia segera menyibakkan rambut hitamnya yang tertiup angin untuk melihat siapa yang memanggilnya.
Dia melihat seorang pemuda berambut jabrik pirang. Pemuda belanda itu tersenyum manis sambil mendatangi pemuda Indonesia itu.
"Nethere?" tanya Nesia. "Kenapa ada di sini? Bukannya…seharusnya kamu sudah pulang ke kampung halamanmu di Belanda sana?"
Hari itu memang seharusnya pemuda Belanda itu pulang. Penjajahan Belanda atas Indonesia telah berakhir. Kuasa Netherland atas Nesia sudah berakhir. Tidak ada lagi...kekejaman Nethere pada Nesia seperti yang terjadi selama tiga setengah abad itu.
Tapi dalam hati tidak ada siapa pun dari keduanya yang menginginkan kepergian itu.
Dalam waktu tiga setengah abad, waktu yang tidak sedikit. Kebencian pemuda Indonesia itu pada pemuda Belanda yang sekarang berdiri di hadapannya itu mulai tergerus luruh. Dia semakin dan semakin mempedulikan dan menyayangi pemuda Belanda itu. Begitu menyayanginya hingga dia bisa mengatakan kalau dia mencintainya, mencintai pemuda Belanda itu.
Hal yang sama berlaku pada Nethere.
Nethere mencintai Nesia. Alasan dia begitu lama menjajah Indonesia adalah karena dia tidak ingin membagi pemuda Indonesia itu dengan negara lain. Dia ingin Nesia hanya menjadi miliknya. Miliknya, bukan milik orang lain. Dia menginginkan senyum manis pemuda Indonesia itu. Pandangan hangatnya, tekadnya yang tidak mudah menyerah, sifatnya yang selalu mau berjuang keras…
Nethere menginginkan itu.
Dia…tanpa sepengetahuan Nesia, selalu menjaga pemuda Indonesia itu. Dia memastikan tidak ada negara lain yang mengambil Nesia. Dia kalah dari England dan Jepang, dan itu membuatnya kehilangan Nesia.
Dia takut kehilangan Nesia. Itulah sebabnya dia rela merendahkan diri bergabung dengan England saat Jepang menyerah kalah pada America. Dia tahu, yang bisa mengembalikannya ke sisi Nesia hanyalah kekasih America itu.
Demi Nesia, dia rela merendahkan dirinya. Demi Nesia, dia akan melakukan apa pun.
Tapi semuanya harus berakhir…hari ini…
Nethere berbalik pada Nesia.
"Aku akan pulang, kok" kata Nethere sambil tersenyum. "Aku hanya ingin memberikan ini padamu". Dia pun menyodorkan sekuntum bunga tulip kuning pada Nesia.
Nesia menerima bunga tulip itu dan memandang Netherlands. "Nethere…" gumamnya.
"Itu bunga tulip" kata Nethere. "Bunga itu bunga nasional negaraku. Bunga itu memiliki arti yang berbeda sesuai warnanya. Dan kupikir…itu warna yang cocok untuk mewakili perasaanku"
"Apa arti bunga ini?" tanya Nesia.
Nethere tersenyum sedih. "…Tulip kuning…cinta yang tidak ada harapan…" katanya.
FLASHBACK END.
Saat mendengarnya, Nesia merasa sedih. Dia menyadari kalau Nethere mencintainya. Nethere membalas perasaannya. Cinta mereka terkubur dalam kebencian perang hingga mereka tak pernah menyadarinya.
Hingga hari itu…
"Nesia!" seru Nethere riang saat dia memasuki kamar Nesia.
Nesia memandang Nethere dengan pandangan sedih. "Kau…masih memberiku bunga tulip padaku? Kau tahu…aku tidak suka tulip, kan? Aku tidak suka arti bunga ini, terlalu sedih…" kata Nesia.
Nethere tersenyum sambil duduk dari ranjang. "Aku pernah katakan kalau tulip berbeda arti tergantung warnanya. Bunga itu...tulip merah, memiliki arti berbeda"
Netherland mengangkat wajah Nesia hingga pemuda Indonesia itu menatapnya. "Tulip merah…artinya percayalah padaku"
"Pe…percaya?" tanya Nesia.
"Aku ingin kau percaya…kalau aku bisa membahagiakanmu" kata Nethere sambil tersenyum. "…karena aku menyayangimu, Nesia"
Nesia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Aku percaya. Aku percaya…"
Nethere tersenyum. "Sekarang tidurlah lagi. Sekarang baru jam tujuh pagi, kau pasti masih mengantuk" kata Nethere.
Nesia segera berbaring dan segera tertidur.
"Hei Nesia…" bisik Nethere pada Nesia yang tertidur lelap itu. "Apa kau tahu arti bunga tulip secara umum?"
Cinta yang sempurna…
"Dan itulah arti keberadaan dirimu untukku, Nesia. Kaulah penyempurna rasa cintaku…"
