Light of The Draco
Chapter 2 : Meet Him
.
.
.
.
.
.
Cast:
-Wong Yukhei as Lucas cel Rău (Lucas the evil one)
-Kim Jungwoo as Pangeran Jungwoo Dimitrije Iakšić
-Park Chanyeol as The Lord Richard Dracul
-Choi Minho as King Minho Dimitrije Iakšić
-Nakamoto Yuta as Jenderal Grigore Yuta
-Jung Soojung/Krystal as Dayang Soojung Holszanska.
-Zhang Yixing/Lay as Yixing Terrence Malachy
-Tokoh bertambah seiring berjalannya cerita.
Summary:
The Draco (kaum drakula terkuat) di Negeri întuneric dinyatakan telah musnah. Namun penemuan sebuah naskah kuno bertintakan darah naga tentang kelahiran fiul lui Dracula (Putra Drakula) bernama Lucas kembali meresahkan para penduduk negeri. LuWoo/CasWoo/Yaoi!
.
.
.
.
Hayns mempersembahkan~
.
.
.
.
.
"Dunia ini aneh, menyedihkan dan penuh kecemasan. Sebuah telunjuk saja dapat membuat kericuhan. Kau tahu siapa pemilik telunjuk itu? Jawabannya adalah ayahku."
Seorang pemuda menghela nafas berat seraya membaringkan tubuh lelahnya di atas rerumputan tepat di tepian danau. Kakinya yang telanjang bergerak perlahan menyentuh permukaan danau dan membiarkan air dingin itu membasahi setengah betisnya. Hembusan angin malam dibiarkannya menusuk tulang.
Ia berdecak saat tak mendapati respon apapun dari lawan bicaranya. Tentu saja tak ada respon, toh lawan bicaranya hanyalah seekor angsa yang bahkan tak sudi tuk berenang di sekitarnya.
"Kau tahu, angsa? Aku benci hidup dalam rasa sepi, kau mungkin tahu bahwa kesepian itu mengerikan" ujarnya lagi.
Pemuda itu -Jungwoo Dimitrije Iakšić menggerakan kakinya tak beraturan di dalam air. "Angsa bodoh! kau mengabaikanku?"
"Berisik!" Sebuah suara berintonasi tegas menghentikan pergerakannya sesaat.
"Siapa disana?" Tanya jungwoo dengan fokus tak tentu.
Ia berdiri dan tak mendapati siapapun disana, kecuali seekor angsa yang berenang di tepian seberang danau.
Apa mungkin angsa itu bisa berbicara?
Angin kembali berhembus dan Jungwoo hanya berdiri kaku di tengah kesunyian. Suara tadi mungkin hanya halusinasi, pikirnya mencoba berbaik sangka.
Matanya menerawang jauh melintasi permukaan danau. "Orang-orang itu pasti sedang panik mencari keberadaanku."
Grrrrrhhhh
Jungwoo menajamkan pendengarannya dan mengamati suasana sekitar dengan tubuh merinding. Pohon-pohon cemara tinggi serta hamparan semak-semak tebal yang bergoyang di seberang danau kian menambah ketakutannya.
Jungwoo bergumam seraya memeluk lengannya sendiri. "Haruskah aku kembali berbaik sangka?"
"Tidak perlu," jawab sebuah suara di belakang. "Kau tidak perlu berbaik sangka, Jungwoo Dimitrije Iakšić. Percaya pada apapun yang hatimu katakan, meskipun itu buruk."
Sesosok pemuda tinggi berjalan mendekat, membawa tungkai jenjangnya di atas hamparan rerumputan basah. Jubah hitam legamnya sedikit berkibar diterpa angin, sedang kedua tangan pucatnya terlipat di dada.
"Bentakan yang kau dengar tadi bukanlah halusinasi. Itu suaraku. Dan geraman barusan adalah..." Pemuda itu berdiri di hadapan jungwoo dan mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka terpaut jarak yang tipis. "...geraman harimau di balik semak-semak."
Jungwoo menahan nafas dan menatap pemuda itu waspada. "K-kau-"
"Hi pretty, aku Lucas cel Rău. Senang bertemu denganmu."
Chu~
"PANGERAN JUNGWOO! ANDA DIMANA?"
Lucas mundur selangkah dan menyeringai pada jungwoo yang masih berdiri kaku. "Sayang sekali, iblis pengganggu telah datang."
Jungwoo bersumpah bahwa ia baru saja melihat kilatan semerah darah di mata Lucas meskipun saat ini mereka hanya diterangi sinar bulan purnama. Bibir Lucas begitu dingin. Tak ada deru nafas yang menerpa wajahnya tadi. Sosok di hadapannya ini memang benar seperti apa yang dijelaskan dalam naskah kuno.
Memikat, tampan, dan berbahaya.
"PANGERAN JUNGWOO!"
Lucas berdecak. "Ini sedikit membuatku kesal. Pikiranmu sulit kubaca dan teriakan jenderalmu sangat sangat sangat mengganggu. Pulanglah! Harimau disini sedang tak menyukai kehadiranmu."
"T-tapi-"
"Aneh. Kau tidak takut padaku? Bahkan pada harimau itu?" Tanya Lucas seraya menunjuk harimau yang-
"Kyaaaaaaa!" -entah sejak kapan berada di belakang tubuh Jungwoo.
Lucas tertawa saat Jungwoo refleks berteriak dan melompat ke tubuhnya. Ia melingkarkan kedua tangannya di tubuh Jungwoo lalu berjalan mendekat pada harimau bermata hijau yang ia tunjuk tadi.
"Hiks... J-jangan tumbalkan akuuuu~"
Lucas kembali tertawa. "Dia takkan memakanmu karena dialah yang akan menjadi santapanku malam ini," ucapnya seraya menendang harimau besar itu dengan kaki kanan.
"Bohong!"
"Tidak, aku mengatakan kebenaran." bantah Lucas
Jungwoo yang sedari tadi menyembunyikan wajahnya di leher Lucas menoleh ke belakang, menatap tajam pada sang harimau seraya menyeka air mata di wajahnya dengan sebelah tangan. "Rasakan ajalmu, binatang jahat!"
Jungwoo kemudian menatap Lucas dengan kening berkerut dan bibir yang mencebik lucu. "Tubuhmu dingin. Jadi benar kau ini drakula jahat yang diburu ayahku?"
"Tubuhmu sexy. Jadi benar kau ini pangeran Kerajaan Jaskrawość yang dibanggakan para penduduk? Tapi kenapa kau ini begitu polos sampai berani menyerahkan diri dalam dekapan drakula jahat sepertiku?"
"PANGERAN JUNGWOO!"
Lucas mendengus. "Kenapa hari ini manusia sangat berisik?"
"Aku tidak mau pulang." Ucapan Jungwoo barusan sukses membuat alis sang drakula berkedut kesal.
"Tapi aku harus bersembunyi. Pulanglah." Lucas menurunkan Jungwoo lalu meraih sepasang sepatu kulit yang berada tak jauh dari sana.
"Kau akan memasangkannya di kakiku?" Tanya Jungwoo dengan mata berbinar.
Lucas melempar sepatu itu ke danau. "Jangan harap!" Ujarnya sebelum berjalan menjauh diikuti harimau besar.
Jungwoo berteriak dengan suara lembutnya, "heeeeeey!"
Lucas berbalik.
"Sampai jumpa besok~" Anehnya, Lucas tak bisa menahan senyum lebarnya saat melihat jungwoo meloncat-loncat sambil melambaikan tangan.
"PANGERAN JUNGWOO!"
Lucas merotasikan bola matanya kesal. "Lain kali akan kubengkokkan pedang jenderal iblis itu. Ck! Benar-benar mengganggu!"
Grrrrrrrrhhhh
"Berisik!"
Lucas menendang harimau itu secara asal ke arah danau dan tak sengaja mengenai angsa yang tengah berenang dalam kedamaian.
Grrrrrhhhhh
Harimau itu kembali menggeram sebelum berenang dan mengikuti langkah Lucas. Tanpa mereka sadari, angsa tadi terkulai lemas di dekat daun teratai dengan mata berkilau.
Kilauan sewarna darah.
.
.
.
.
.
.
"Apa kau sadar bahwa tingkahmu selama ini sangat kekanakan, Pangeran Jungwoo?" Suara tegas itu terdengar menggema di sebuah ruangan besar yang sebenarnya adalah kamar Pangeran Jungwoo.
Beberapa orang dayang berbaris di hadapan Sang Raja dengan kepala tertunduk. Jenderal Grigore Yuta berdiri di samping Sang Raja dan tak menampilkan ekspresi berarti di wajah datarnya.
Jungwoo menunduk dalam. Tak berani menatap wajah kesal sang ayah. Mulutnya yang bergetar tak mengeluarkan suara dan Raja yang mendapati keheningan pun geram bukan main.
Sang Raja menatap Jenderal Grigore Yuta dan mengarahkan telunjuknya pada seorang wanita cantik bertubuh tinggi semampai yang merupakan pemimpin dayang kerajaan.
PLAK!
Jenderal Grigore Yuta menampar pipi dayang itu tanpa belas kasih.
PLAK!
Jungwoo memejamkan mata, tak tega melihat dayangnya disiksa karena ulah nakalnya tadi.
PLAK!
"Hentikan!" Teriaknya lantang.
King Minho kembali menggerakan telunjuknya pada Jenderal Yuta, mengisyaratkan agar lelaki yang terkenal dengan pedang hitamnya itu untuk berhenti.
"Maaf, tadi aku tersesat. Berada di istana membuatku bosan karena..."
King Minho menaikan sebelah alisnya. Berjalan pelan di hadapan Jungwoo dengan tangan bertaut di belakang tubuh.
"Ka.re.na?" Tanyanya dengan nada mengintimidasi.
"K-karena tidak ada teman yang bisa kuajak bersenang-senang." Lanjut Jungwoo pelan.
"Mulai besok Jenderal Grigore Yuta akan menjadi pengawalmu"
"Tapi-"
"Dan kau boleh berteman dengannya."
Jungwoo mendongak tak percaya. "Sungguh?"
"Apa seorang King Minho pernah berbohong?"
Senyum manis merekah di wajah pangeran Jungwoo. Para dayang yang menyaksikan itu pun ikut tersenyum kecil seolah bisa merasakan kebahagiaan yang pangeran mereka rasakan.
"Terima kasih!" Jungwoo tanpa sadar memekik kegirangan.
"Perhatikan tingkahmu!" King Minho memberi peringatan, "Kuharap kau bisa berpikir dewasa setelah menjadi teman Jenderal Yuta. Esok hari belajarlah cara memainkan pedang. Untuk ukuran seorang pangeran, kau ini belum banyak mengalami kemajuan dan terlampau lemah."
Tak banyak yang tahu bahwa sosok pangeran tampan yang selalu dielu-elukan penduduk negeri întuneric itu hanyalah pemuda polos nan sederhana. Pangeran Jungwoo memang tak selemah yang King Minho katakan, namun juga tak cukup kuat untuk memimpin peperangan.
"Beristirahatlah dan pastikan jendela kamarmu terkunci rapat"
Sang Raja berjalan keluar dengan langkah tegasnya diikuti oleh yang lainnya hingga di ruangan itu hanya menyisakan Pangeran Jungwoo dan Jenderal Yuta.
"Apa kondisi anda baik-baik saja? Cuaca malam ini sangat dingin dan demam bisa saja-"
"Hey teman, tolong temui tabib dan ambilkan obat penurun panas. Tolong berikan juga obat pereda nyeri untuk dayang Soojung," Perintah Jungwoo dengan suara lembutnya.
Siapa pun pasti takkan menolak permintaan sang pangeran, begitu pula Jenderal Yuta yang hanyalah pria biasa --yang akan luluh pada nada lembut tersebut.
"Baik, Pangeran."
Setelah memastikan Jenderal Yuta pergi dari kamarnya, Jungwoo dengan tergesa membuka jendela kamar. Ia hanya penasaran, mengapa sang ayah menyuruhnya untuk mengunci jendela rapat-rapat? Apa sesuatu akan terjadi jika seandainya ia melanggar?
"Hi, pretty"
Jungwoo hampir saja melemparkan vas bunga besi berukuran besar begitu Lucas muncul setelah jendela kayunya terbuka.
"Entah kenapa aku menyesal telah melanggar perintah ayah yang satu ini," rutuk Jungwoo.
"Kau bilang apa?" Tanya Lucas kebingungan seraya duduk di jendela dan memainkan jubahnya.
Jungwoo bergidik ngeri melihat bercak darah di sudut bibir Lucas. "Apa harimau tadi sudah berhasil kau santap, teman?"
Lucas menggelengkan kepalanya. "Belum"
"Lalu kau menghisap darah siapa?"
Drakula itu dengan wajah tanpa dosanya menunjuk ke arah gerbang istana. "Mereka"
Dan betapa terkejutnya Jungwoo ketika melihat kelima prajurit yang bertugas menjaga pintu gerbang istana telah terkapar tak bernyawa dalam kondisi mata terbelalak dan leher yang berlubang.
"Apa mereka akan hidup sebagai drakula juga?"
"Tidak. Aku harus pergi. Mimpi indah, pretty! Sampai jumpa besok!" Lucas melayang dan menyibakkan jubahnya dengan gerakan elegan sebelum merubah bentuk menjadi seekor kelelawar.
Mendengar derap langkah yang mendekat, tanpa basa-basi Jungwoo menutup jendelanya kemudian berbaring di ranjang seolah tak pernah terjadi apa-apa. Mengapa Jenderal Yuta cepat sekali kembalinya?, rutuknya dalam hati.
"Ini obatnya, pangeran."
"Taruh saja di meja. Aku harus ke kamar mandi. Kau kembalilah dan beristirahat" ucap Jungwoo seraya melakukan sedikit peregangan.
Pangeran kekanakan itu berjalan lunglai ke kamar mandi, meninggalkan Jenderal Yuta yang terdiam.
Jenderal Yuta mencengkram pedang hitamnya kuat dengan pandangan yang terarah pada setitik noda darah yang tertinggal di bawah jendela kamar Sang Pangeran.
"Dia datang"
.
.
.
.
.
Keberhasilan King Minho serta Jenderal Grigore Yuta dalam aksi pembunuhan Pemimpin The Draco menjadikan Kerajaan Jaskrawość sebagai Kerajaan terkuat sepanjang sejarah manusia. Berita mengenai kemunduran kaum Draco telah sampai ke telinga Para Raja lain di berbagai belahan bumi sejak setahun silam. Beberapa dari mereka bahkan rela berlayar mengarungi lautan selama berminggu-minggu menuju negeri întuneric guna membuktikan kebenaran informasi tersebut.
House of Drăculești masih berdiri kokoh meskipun barang-barang dan ratusan peti mati di dalamnya sudah porak poranda. Karena House of Drăculești merupakan bangunan termegah dan terindah di negeri întuneric, pihak Kerajaan Jaskrawość melarang para penduduk untuk merobohkannya. Mereka sengaja menjadikan bangunan megah tersebut untuk menarik minat pelancong dari berbagai daerah. Dengan banyaknya pelancong, mereka berharap semua jenis perniagaan di daerah kekuasaan Kerajaan Jaskrawość dapat mendulang banyak keuntungan.
"Orang-orang itu terlalu lancang"
Lucas berjalan menyusuri lorong gelap nan panjang dalam House of Drăculești. Tatapannya begitu sendu. Kekonyolan yang ia perlihatkan pada Jungwoo tak lain merupakan kepura-puraan. Matanya tampak berkilau dalam pantulan sinar bulan purnama yang merangsak masuk melalui jendela tinggi di sampingnya.
Sekelebat memori tentang perkataan ayahnya terngiang begitu saja dalam benaknya.
"Aku adalah kegelapan dan akan datang dalam bentuk belaian angin yang menusuk tulang belulangmu. Kesendirian yang akan mengantarkanmu padaku. Saat matamu terbuka dan aku sudah tiada, hanya percayakan satu hal dalam hatimu. Tiada bukan berarti binasa, Lucas cel Rău."
"Aku merindukanmu," bisiknya lirih disertai air mata yang luruh.
Pepohonan menari diluar sana hingga beberapa helainya jatuh ke tanah. Lucas terduduk merintih saat hembusan angin menerpa tubuh tegapnya. Seluruh uratnya menonjol. Taringnya yang runcing terbentuk dan kepalanya terdongak. Matanya yang berkilat merah pun semakin pekat terlihat. Tenggorokannya seakan tercekik, sekedar berbicara pun sangat sulit ia lakukan.
"A-akh..."
Kuku jarinya yang memanjang menancap di permukaan dinding saat angin berhembus semakin kencang. Angin itu tak main-main. Lucas merasa sangat tersiksa karena angin itu memang menusuk tulangnya hingga ke dasar.
"A-ayahh... hiks"
Lucas bukanlah anak cengeng. Ia hanya belum bisa menerima kenyataan bahwa ayahnya sang pemimpin Drakula terkuat telah dibunuh oleh King Minho disaat ia sendiri tengah tertidur panjang dalam peti. Kematian Sang Dracul secara tidak langsung mengharuskan ia bertanggung jawab atas nasib The Draco ke depannya. Kaum drakula memang dinyatakan musnah akibat penyerangan besar-besaran yang dilakukan King Minho. Namun sekali lagi, itu hanyalah pernyataan pihak kerajaan, bukan fakta yang sebenarnya terjadi karena sampai saat ini sebagian kaumnya yang selamat masih bertahan di suatu tempat.
"Sekarang kau tahu betapa menyakitkannya sebuah kerinduan." Ucap sebuah suara.
Lucas menoleh dan mendapati seorang wanita tinggi berjubah berdiri di belakangnya dengan raut datar. Wanita itu menyeret seekor harimau besar melewati Lucas dan terus berjalan hingga ditelan kegelapan.
"Soojung Holszanska..."
"Jangan ganggu malam indahku"
.
.
.
.
.
.
.
[Kota Duşmănie, Dini Hari]
"Para prajurit itu tidak akan menjadi bagian dari The Draco karena mereka telah dibunuh sebelum darahnya dihisap. Untuk mencegah kemungkinan terburuk, sebaiknya mereka ditikam salib-"
"Salib terkuat kita telah hilang, Yixing"
Yixing Terrence Malachy -tabib nomor satu di Kerajaan Jaskrawość itu tersenyum simpul dan memandang Sang Raja yang tampak kesal. "Maaf, Paduka. Saya menyarankan itu untuk mencegah kemungkinan terburuk. Karena salib terkuat kita telah hilang, maka saya akan mencari alternatif lain"
Jungwoo berdiri gugup di belakang Jenderal Yuta seraya memilin ujung pakaian tidur sutranya. Bagaimana pun, ia tahu kematian lima prajurit kerajaan itu sejak tadi malam bahkan langsung dari pembunuhnya.
King Minho menggerakan jemarinya di permukaan leher salah satu jenazah prajurit kemudian mengalihkan pandangannya pada pintu gerbang Casa Principală. "Menurutmu siapa pelakunya, Yixing?"
Tabib Yixing menatap Jungwoo dengan senyum yang menampilkan kedua lesung pipi indahnya. "Menurutmu siapa, Pangeran?"
.
.
.
.
.
TBC
