Wah wah wah, saya benar-benar paraaah menelantarkan fict saya ini sebegini lama. Gomeeen gomeeen banget ini mah. Saya tuh orangnya gitu suka pikuuunan hahaha jangan ragu-ragu untuk mengingatkan saya akan ff lainnya milik saya, :))
Oh yaaaa masalah pairing saya udah nangkep nih mau dibawa kemana fict ini hihihihihihi,setelah bersimedi agak lama datanglah sang ilham menghampiri saya hahhaha. Saya ga akan nyantumin other chara'nya biar kejutaaan gitu haha. #maksa
Oke deeeh, selamat membaca cemaaan cemaaan :*
Disclaimer : naruto belongs to Masashi Kishimoto-sensei. All or nothing belongs to Azure d'bee
Warning : OOC, freak, weird etc. Just read it and don't make it sense if u don't like it :)
Aku tahu, tidak ada yang bisa bertahan dengan seorang gadis yang merepotkan sepertiku, gadis yang hanya bisa menjadi beban karena harus menghabiskan sisa hidupnya di atas kursi roda.
.
.
.
.
Perlahan semburat sinar menyeruak masuk melalui celah jendela dari kamar yang bernuansa putih itu, terlihat seorang gadis dengan rambut merah jambunya yang khas masih terlelap tenang terbalut mimpi. Dari tangan kanannya tertanam jarum plastic kecil yang membantu cairan sari-sari makanan yang tergantung disamping kasur untuk memasok tambahan energy melalui nadi gadis itu. Tak lupa sepasang selang yang berfungsi sebagai alat bantu pernafasan tersemat dipangkal hidung gadis dengan kulit pucat itu.
Tuut tuut tuut
Alat pemantau denyut nadi gadis itu masih membentuk rentetan garis stabil yang mencerminkan naik turun tubuh gadis mungil itu yang konstan, wangi khas dari rumah sakit turut menemani pria berambut perak yang setia menggenggam jemari lentik gadis itu sambil menanti bangunnya putrinya, gadis yang dicintainya.
Genap satu bulan Sakura tidak sadarkan diri setelah kecelakaan yang tak terduga itu, entah takdir apa yang tengah mempermainkan mereka hingga tak habis pikir bagaimana bisa di dorm sebuah hotel bintang lima dengan standarisasi internasional terjadi kejadian dimana lampu central berhiaskan kristalnya terjatuh, dan seperti tidak puas dari sekian banyak orang lampu itu dengan naas menindih tubuh mungil Sakura yang berada dibawahnya.
Xoxoxoxoxoxoxo
Flashback
"Bagaimana keadaannya Gaara-san?" suara panik Kakashi seolah-olah mewakilkan tatapan sendu yang ia pancarkan. Bagaimana bisa ia bersikap biasa dengan kekasihnya yang tadi berlumuran darah dipeluknya? Membayangkannya kembali membuat seluruh tubuh kekar miliknya bergetar kencang. seketika ketakutan langsung merajai tubuhnya.
Harapannya hanya satu, kekasihnya akan baik-baik saja.
"Kita beruntung karena kita punya cadangan darah O- yang langka,jika tidak Sakura-san pasti sudah tidak tertolong karena telah kehabisan banyak darah." Laki-laki berambut merah itu menjelaskan dengan tenang, profesinya sebagai dokter menuntutnya terbiasa menyampaikan hal sulit pada keluarga pasien dengan tanpa melibatkan emosi kedalamnya, tapi entah kenapa saat ini dari sepasang mata emerald redupnya itu terlihat sedikit sorot penuh khawatir.
Meski sedikit, tapi sirat itu ada.
"Tidak akan ada hal buruk yang terjadi padanya kan?" laki-laki bermata onyx itu meremas kedua bahu milik pria merah yang terlihat lebih pendek darinya, berusaha menerobos ketenangan sepasang mata yang mengingatkannya akan candunya yang masih terkulai tak sadarkan diri itu.
"Diagnosaku yang terburuk adalah kelumpuhan seumur hidup, walau bagaimanapun terlalu banyak syaraf motorik Sakura-san yang terputus, meski dengan tekhnologi tercanggih sekalipun sangat sulit menyambung kembali syaraf-syaraf minoritasnya." Pria itu mendesah pelan setelah mengatakan perkiraannya terhadap gadis yang masih tertidur lelap dikamarnya. Pria yang meremas bahunya dengan perlahan jatuh terduduk didepannya. Kedua bahunya bergetar, pria itu tengah terisak.
Terlibat kebingungan harus bagaimana menghadapi keadaan saat ini dengan perlahan pria mungil itu menjulurkan tangannya dan menepuk pelan bahu pria perak yang masih tertunduk.
"Masih ada harapan semua akan baik-baik saja, sekarang yang bisa kita lakukan hanya berdoa agar Sakura-san cepat siuman." Setelah merasa cukup memberikan kata penghiburan pria dengan lingkaran hitam dibawah kelopak matanya itu segera melangkah meninggalkan Kakashi yang masih terselimut kesedihannya.
Ia menghindar bukan karena tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi kesedihan pria onyx itu, tapi alasan mengapa ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke taman belakang rumah sakit ini adalah bukan untuk menikmati keindahan bunga Sakura yang mulai bermekaran melainkan untuk menekan keras-keras isakan yang tidak mau ia keluarkan.
Begitu ironi, ketika didepannya tersuguhkan geliat malu-malu dari bunga Sakura yang mulai menampilkan keindahannya sedangkan Sakura hatinya tengah tertidur tak sadarkan diri.
Entah sejak kapan senyum gadis itu mampu menggetarkan sudut-sudut hati dari pria bermarga sabaku itu, meski tanpa diekspresikan degupan jantung itu selalu ada ketika jari-jarinya menyentuh kulit putih mulus itu dengan dalih pemeriksaan kesehatan rutin tiap bulannya.
Dari sekian banyak hari disetiap bulannya minggu pertama disetiap bulanlah yang paling ia nantikan, karena pada hari itu kesempatan melihat sepasang emerald itu ada. Cinta lugunya ini membuatnya terenyuh ketika mendapatkan undangan formal yang diberikan oleh Otousan dari gadis merah jambu itu, undangan tertulis yang memberitahukan tanggal dimana gadis itu akan meresmikan hubungannya bersama dengan pria Hatake –kekasihnya sedari dulu.
Gaara tahu, teramat mengerti akan tiba hari itu,tapi saat malam itu datang tanpa bisa dipungkiri terdapat denyutan ngilu dihatinya ketika melihat sebuah platina melingkar indah dijari lentik yang biasa ia genggam ketika menusukkan jarum kecil untuk menyuplai suplemen baginya. Dan tubuhnya langsung membatu ketika melihat tatapan emerald itu berpendar nyeri, sedikit terbelalak akibat sakit yang teramat. Yang bisa ia lakukan hanya menggenggam jemari gadis itu dan memeriksa bahwa gadis itu masih bersamanya dengan memastikan denyut nadinya.
Seorang dokter seharusnya tidak panik dalam keadaan seperti itu kan? Tapi apa yang Gaara lakukan? Ia malah berteriak geram meminta pada siapa saja untuk memanggilkan ambulans, dan segera menarik tubuh mungil yang telah terlepas dari tindihan lampu itu kedalam pelukannya dan segera berlari keluar dorm.
Apa dia lupa akan posisinya? Seharusnya yang melakukannya itu adalah Kakashi kan? Kekasih gadis itu –calon suaminya. Tapi dengan tanpa memperdulikan hal formal itu Gaara terus berlari dan segera melompat kedalam ambulans yang langsung berlalu membawanya dengan Sakura menuju rumah sakit terdekat.
Gaara kembali mendesah, teringat akan kejadian paling menakutkan yang pernah ia alami dari hidupnya, tak sedikit kematian yang ia saksikan sendiri ketika pasiennya menutup mata mereka untuk selamanya –menyerah akan takdir tuhan. Tapi entah darimana pikiran itu datang dan merasuki dirinya.
Apapun yang terjadi ia tak menginginkan gadis ini pergi, meninggalkannya walaupun tak pernah sekalipun tinggal bersamanya.
Kembali Gaara meremas pelan dadanya yang bergemuruh, tak pernah dalam hidupnya keadaannya terlihat kacau seperti saat ini,kemana perginya ketenangan yang selalu tercetak diwajah yang kelam ini? Apa begitu menyedihkan menerima kenyataan bahwa diagnose terburukmu itu adalah apa yang benar-benar akan terjadi pada gadismu?
"Sakura… " panggilannya menggantung diudara, suaranya tercekat ditenggorokannya ketika menyebutkan nama gadis yang tanpa ia sadari bermekaran indah dihatinya.
xoxoxoxoxoxoxoxo
Bulan pun bergantian dengan sang mentari menghangatkan bumi dengan sinarnya yang lembut, seolah tak letih menemani sang malam merengkuh seluruh makhluk hidup yang ada dibumi. Sama persis dengan apa yang pria merah itu lakukan.
Selalu terduduk nyaman disamping kasur yang diatasnya terdapat seorang putri tidur yang masih saja belum puas mengarungi dunia mimpinya. Tak berlebihan jika keinginan terbesar pria pucat itu adalah melihat kembali warna iris yang serupa dengan miliknya kembali berpendar, memancarkan sinar bersahabat yang terus masuk kedalam relungnya.
Seperti tak bosan-bosannya juga pria itu selalu menggenggam lembut jemari-jemari lentik yang akan terjatuh jika ia tak mengaitkan jari-jari kurusnya dengan milik gadis itu, seolah-olah memang tak ada keinginan dari sang gadis untuk menggamit balas kehangatannya.
Bukan seolah-olah –tapi memang tidak ada.
Karena hingga detik ini Sakura masih menjadi putri tidur,masih terbuai akan manisnya dunia imajiner miliknya sendiri tanpa memperdulikan betapa tatapan rindu itu membuncah dari sosok emerald redup. Tanpa tahu betapa beratnya helaan nafas yang dihembuskan oleh tubuh yang sepertinya terlalu lelah menanti, berharap putrinya segera terbangun.
Tak apa jika kelak suara riang itu kembali memanggil mesra nama pria lain ditelinganya, tak apa jika malah sosok itu bergerak hanya untuk merengkuh hangat tubuh pria lain. semua tak apa –itu akan lebih baik. karena dengan begitu pria ini masih bisa melihat sosok itu hidup.
Menggeliat manja walau bukan dengannya, tapi setidaknya ia masih bisa menikmati. Meresapi keindahan bunga dari milik orang lain yang teramat ia cintai.
"Sakura, kumohon segeralah bangun." Sebuah kecupan ungkapan rindu mendarat lembut dikening gadis yang masih terdiam,tanpa ada getar hidup selain dari tubuhnya yang masih menghangat.
Xoxoxoxoxoxoxo
Sorot mentari pagi yang membagi kecerian sepertinya tidak bisa menembus masuk membagi kehangatan kedalam ruangan bernuansa putih yang hanya terdiri dari sebuah meja dengan berbagai macam tumpukan dokumen resume kesehatan yang tersusun rapih disamping bingkai foto yang tergeletak terbalik –sepertinya tak sengaja suster membuatnya terjatuh ketika menaruh dokumen-dokumen kesehatan itu.
Dibalik meja itu terduduk rapih pria yang lingkaran hitam dimatanya semakin jelas membulat, tanpa bertanya dipastikan sang kantuk sudah lama tak datang berkunjung padanya. namun mata emerald sayup itu memandang lurus kedepan, dengan tatapan yang entah maksudnya apa kepada sosok pria perak didepannya.
"Ini sudah bulan ketiga Gaara-san." Sepasang onyx terpejam lelah, merasa amat pilu dari sosoknya yang semakin tirus ditandakan dengan kelopak matanya yang kian mencekung. Tercetak jelas rahang-rahang yang menyangga wajahnya agar tetap menengadah.
"Apa tetap tidak ada perkembangan?" kali ini suaranya tercekat ditenggorokannya, sebenarnya tanpa bertanyapun pria itu tahu jawabannya. Sebuah pertanyaan retoris. Gadisnya masih tetap sama seperti bulan-bulan sebelumnya. Terpejam tanpa ada niatan untuk terbangun.
Pria dengan rambut merah yang kontras dengan kulit putihnya yang pucat hanya menggeleng pelan, tak sampai hati untuk berkata. Bukan tak kuasa menambah beban pada pria yang nyaris setiap pekannya berkunjung keruangannya itu, melainkan tak ingin menerima kenyataan bahwa semuanya memang tetap sama. Tak ada perubahan sedikitpun yang diberikan oleh gadis merah jambu itu.
"Sampai kapan semua akan begini Gaara-san?" lagi –Gaara melihat refleksi kaca-kaca disepasang onyx heterogen itu. selalu, semua akan seperti ini setiap kali pria itu datang untuk mencari tahu perkembangan tentang gadisnya. Seperti kaset tua yang memutar reka adegan yang sama Gaara hanya terdiam melihat pria perak didepannya tertunduk lesu sambil terisak.
Bukan hatinya telah beku, karena jujur semenjak bertemu Sakura hati Gaara telah menghangat seperti hamparan ilalang yang menguning. Melainkan ia pun mati-matian menahan tangisnya sendiri untuk tak keluar. Egonya teramat melarang dirinya terlihat begitu lemah seperti pria didepannya itu. walau jujur dihatinya terdalam Gaarapun menjerit pilu dengan hatinya yang remuk.
"Aku tak bisa menjanjikan apa-apa selain yang terbaik padamu Kakashi-san, sisanya hanyalah kami-sama yang tahu." dengan tatapan menjanjikan Gaara menatap Kakashi yang mulai bisa mengendalikan dirinya kembali, lebih tepatnya Gaara membuat janji itu untuk dirinya sendiri.
"Kumohon Gaara-san, selamatkan Sakura. Bagaimanapun caranya buat Sakura kembali." Gaara hanya mengangguk ringan, tak perlu diminta Kakashipun Gaara pasti akan melakukan itu, itulah yang selama tiga bulan belakangan ini Gaara lakukan. Berbagai macam cara telah ditempuhnya untuk kesadaran Sakura,tapi hingga detik ini semua seakan-akan sia-sia.
Beraneka ragam obat-obatan telah dimasukan kedalam tubuh mungil itu melalui jarum-jarum kecil yang nyaris menghiasi seluruh permukaan tangan Sakura, tidak ada bagian tubuh Sakura yang terlewati scanner yang menjelaskan semua baik-baik saja. Tidak ada yang salah dari organ dalam tubuh gadis itu. tapi kenapa gadis itu masih saja terlelap? Apa yang salah.
Perlahan jari-jari kurus Gaara terulur meraih bingkai yang terkelungkup itu, dengan gemetar jari-jarinya mendirikan kembali bingkai itu untuk memunculkan sedikit tarikan lembut dikedua sudut bibirnya ketika melihat sosok candunya balas menatapnya.
Sebuah pigura berisikan foto seorang gadis yang tengah duduk dihamparan hijau rerumputan yang melihat penuh jenaka kearahnya. Gadis berambut merah jambu dengan sepasang mata emerald hijau berpendar lembut yang tersenyum memukau.
xoxoxoxoxoxoxoxo
Sebuah Bugatti Veyron hitam metallic memasuki halaman sebuah rumah megah yang berada dipusat kota Konoha. Tanpa memperdulikan letak mobilnya berhenti seorang pria dengan rambut peraknya yang berkilauan yang disirami sinar mentari dengan berstelan formal yang mengenakan kacamata hitam untuk melindungi matanya dari terpaan sinar yang begitu mencolok keluar dan melemparkan asal kunci mobil mewahnya kearah pria berambut coklat yang berdiri menyambutnya.
"Dimana otousan?" pria itu membuka kacamatanya dan menampilkan sepasang mata berbeda warna itu pada pria dengan garis memanjang dihidungnya yang tadi menangkap gesit kunci mobilnya.
"Ada didalam tuan, beliau sudah menunggumu dari tadi pagi." Pria itu membungkuk penuh hormat dan segera berjalan berniat membukakan pintu bagi pria tinggi yang berdiri tegap disampingnya itu.
"Terimakasih Iruka-san." Pria itu segera berjalan menyusuri sebuah dorm luas yang terhiasi begitu banyak Kristal yang menggantung indah diatasnya memberikan warna menghangat bagi penikmatnya. Berbagai macam lukisan ternama tergantung cantik didinding ruangan itu, satu set sofa mewah berwarna merah marun seolah-olah mengundang untuk membagi kenyamanan ditolak mentah-mentah oleh pria perak yang terus melanjutkan langkahnya kesebuah pintu yang tersemat didinding yang sedikit menjorok.
Dengan sebelumnya menarik nafasnya pelan sembari merapihkan jasnya yang sedikit mengerut pria itu mengetuk perlahan pintu jati ukir didepannya itu.
"Masuk." Terdengar sebuah suara berwibawa dari dalam ruangan menyahuti ketukan lembut Kakashi, tanpa disuruh dua kali kakasi memutar engsel pintu dan mendorongnya kedepan. Segera tersajikan seorang pria paruh baya yang masih sibuk berkutat dengan berbagai dokumen didepannya. Sebuah kacamata menggantung dipangkal hidungnya membantu kinerja tangannya yang dengan cepat membubuhi tanda tangan miliknya diatas kertas.
"Ada apa otousan memanggilku?" tanpa basa-basi Kakashi bertanya pada pria yang segera menghentikan kinerjanya untuk menatap makhluk reinkarnasinya dari sela-sela kacamatanya. Pria itu menyunggingkan sebuah senyuman yang tidak menggerakkan sama sekali hati lawan bicaranya.
"Duduklah anakku, jangan terlalu kaku begitu." Pria Hatake itu berdiri dari duduknya, meletakkan kacamata bacanya diatas meja dan mulai berjalan menghampiri pria serupa disaat era mudanya dulu. Mengalungkan tangannya yang mulai menunjukan penuaan pada bahu bidang milik Kakashi.
"Terus terang saja apa maksudmu sebenarnya memanggilku?" dengan pelan Kakashi melepaskan rangkulan hangat palsu dari bahunya,dan menatap lurus sepasang onyx yang menyipit karena sedari tadi senyuman paksa itu tercetak kaku diwajah tua itu.
"Kau benar-benar seorang Hatake, bahkan akupun tak bisa menipumu." Pria itu sedikit terkekeh dan mendudukan dirinya disebuah sofa putih yang terletak didepan sebuah ventilasi kaca besar yang memperlihatkan pemandangan Konoha yang selalu sibuk.
"Kau tahu aku bukan pria yang punya banyak waktu untuk mengurusi masalah-masalah yang tidak penting." Sepasang duo perak tengah menatap satu sama lain, yang satu dengan tatapan berwibawanya yang lainnya dengan tatapan datar tak tertarik.
"Tapi karena ini berurusan dengan putraku satu-satunya aku tak bisa hanya berdiam diri melihatnya seperti orang linglung yang menghabiskan hari-harinya ke rumah sakit hanya untuk melihat mayat hidup." Suaranya terdengar sinis kali ini sangat mampu membuat Kakashi menggertakan gerahamnya serta mengepalkan buku-buku jarinya untuk menahan luapan emosi itu membuncah.
"Dia bukan mayat hidup! dia masih hidup tuan Hatake Sakumo!" walau berusaha meredam seluruh kemarahannya tak terpungkiri terdengar nada geram dari kalimatnya tersebut, tatapan tajam ditusukkan Kakashi pada sosok yang masih terduduk tenang disofanya.
"Anakku, ia bukanlah gadis satu-satunya di Konoha. Aku bisa mencarikanmu yang lebih baik darinya. Sudahlah untuk apa menghabiskan waktumu hanya dengan menunggu ia kembali hidup." lagi, pria itu kembali memancing amarah anaknya. Namun Kakashi masih bisa menahan perasaannya yang ingin sekali segera membanting pintu dan keluar dari ruangan ini.
"Tapi dia satu-satunya gadis yang aku cintai otousan." Suara baritonenya terdengar bergetar, mata-matanya mulai mereaksikan diri untuk mengeluarkan bulir sedihnya itu. tatapannya memohon pada pria yang membesarkan dan memberikan kehidupan nyaman untuknya selama ini.
"Jangan cengeng seperti itu, pada awal aku menjodohkanmu dengan Sakurapun kau belum memiliki rasa itu. cinta akan tumbuh seiring waktu Kakashi. Percayalah padaku cintamu pada Sakura bukanlah sebuah harga yang pantas untuk kau sia-siakan masa mudamu." Pria berambut perak dengan anak-anak rambut terkuncir asal dibelakang tengkuknya mulai berjalan mendekati perak lainnya yang hanya berdiri canggung. Beradu tatap. Menunggu bulir detik yang melambat.
"Demi aku,ayahmu –hentikan semua kekonyolan ini. kau bukanlah pria biasa. Kau penerus Hatake corp. begitu banyak kepala yang bersandar hidup pada pundakmu. Janganlah egois Kakashi." Dengan sebuah tepukan lembut Hatake Sakumopun berlalu, meninggalkan Kakashi yang langsung terduduk dilantai lemah ketika terdengar bunyi berdebum pintu tertutup pelan dibelakangnya.
Diantara pilihan tersulit dihidupmu datang, apa yang akan kau lakukan Kakashi? Tetap menanti bungamu yang masih kuncup atau bunga-bunga lain yang bermekaran indah menanti untuk kau petik?
Xoxoxoxoxoxoxo
Aaaaaah betapaaa melooow~~
Lalalalallalala
Saya buat sambil dengerin lagu-lagunya kakak saya "NINA" sih,jadi aja ginii. Haduuuh haduuuh. Ampun deh daripada ngeributin kembaran saya yang ga bangun-bangun kenapa ga noel-noel aku aja yang nganggur ini #kedip genit
Hahaha #bletak.
Udaaah ah makin gaje~ #as always
Ditunggu kritik dan sarannya yaa minnnaaaa :))
