Author's Note : Terimakasih atas review kalian yang sangat membantuku dan menyemangatiku.
Thanks to: Icha Clalu Bhgia, Riska Bukan Kuma Tapi Akuma, Dee chan – tik, GerhardGeMi, Akira Naru-desu, nans, Achiez, Guest, Heztynha uzumaki, tsunayoshi yuzuru.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Drama
Pairing : SasuNaru
Rate : T
Warning : Boys Love, Yaoi, Typo (maybe)
Summary : Tentu saja ia benci dengan kenyataan yang membuatnya bingung. Tapi ia juga akan lebih benci jika ia tidak mengetahui kenyataan itu. Semuanya memang serba salah sampai ia tak dapat memilih jalan selain jalan yang salah.
Selamat Menikmati... ^0^
CAPTIVATED
Chapter 2 : Transfer Student
Rumah Sasuke memang selalu seperti ini.
Hening. Tak ada suara.
Sepi. Tak ada orang selain Sasuke sendiri.
Orang tua dan kakak Sasuke selalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, meninggalkan Sasuke yang masih bersekolah. Ya wajar saja, Orang tua Sasuke memiliki perusahaan besar, dan yang akan dijadikan penerus mereka bukanlah Itachi melainkan Sasuke. Itachi sang kakak menolak untuk menjadi penerus kedua orang tuanya dan memilih mendirikan perusahaannya sendiri. Jadi, orang tua Sasuke yang sudah hampir tua masih harus banting tulang sampai Sasuke lulus SMA.
Ya, Sasuke tidak butuh kuliah sebenarnya, dia hanya butuh lulus SMA dan bisa menjadi Direktur utama perusahaan orang tuanya. Tapi tetap saja Sasuke ingin kuliah sambil bekerja. Dia masih ingin bersosialisasi dengan anak-anak seumurannya, tidak ingin terlalu terlarut dalam dunia kerja yang menurutnya sangat suram.
Oke kembali ke pokok pembicaraan, maka dari itu, untuk menghilangkan rasa sepi yang menyebalkan ini, terkadang aku dan kakakku menginap di rumah Sasuke, atau terkadang pula Sasuke yang menginap di rumah kami. Tentu saja Sasuke tidur bersamaku, tak mungkin kubiarkan Sasuke tidur dengan kakakku sebelum mereka menikah.
Kami memang seperti keluarga.
Itu karena kemungkinan besarnya Sasuke akan menikah dengan Naruko tanpa ada hambatan apapun. Ya, aku tahu itu tidak tepat.
Nyatanya mereka berdua berpisah.
Dan hubunganku dengan Sasuke hanyalah teman biasa. Teman sebaya biasa.
Kalau dipikir-pikir kembali, Sasuke tidak perlu menolongku, tak perlu lagi mempedulikanku, karena aku tidak akan pernah menjadi adik iparnya. Hubungan kami seharusnya cukup sampai disini.
Tapi mengapa Sasuke terus melihatku? Terus menyayangiku?
Apakah di lupa Naruko sudah tiada?
Dia tak perlu memperhatikanku lagi agar Naruko tambah menyukainya.
Dari dulu seperti itulah yang aku pikir. Aku selalu berpikir bahwa kebaikan hati Sasuke untukku itu sekedar untuk membuat Naruko tambah mencintainya.
Mungkinkah aku salah?
Aku kemudian menginjakkan kakiku ke lantai dingin rumah Sasuke. Aku tidak dapat lupa rasa dingin ini. Rasanya, hatiku pun ikut mendingin sampai aku tak dapat merasakan apapun.
Tiba-tiba saja sehelai handuk melayang dan jatuh ke atas kepalaku.
"Cepatlah mandi dan ganti bajumu." Seru Sasuke.
Aku terdiam sejenak. "Baiklah, dan hal itu juga berlaku untukmu, bukan?" Balasku.
Pada akhirnya, kami berdua mandi bersama. Ini pertama kalinya aku dan Sasuke mandi bersama. Aneh bukan? Aku dan kakakku juga dia sering tidur dalam satu atap, tapi ini adalah pertama kalinya aku dan Sasuke mandi bersama.
Well, sebenarnya aku sering mengajak dia untuk mandi bersama, alasannya tentu saja untuk mengefektifkan waktu, tapi dia selalu menolak, selalu saja menolak.
Namun hari ini sepertinya adalah pengecualian.
Apakah karena Naruko sudah tiada?
Tapi, apa hubungannya?
Sudahlah, berhenti berpikir dan bersihkan tubuh.
Kuputar keran air dengan pelan, lalu kubiarkan air mengguyur seluruh tubuhku, aku menutup mataku dan menikmati rasa segar yang aku dapat ini.
Sedetik kemudian, aku dapat merasakan kehadiran Sasuke di belakangku. Dia berada tak jauh di belakangku. Bahkan, dia makin mendekatiku.
Aku pun mulai membuka mulutku. "Mengapa kau terlalu baik padaku, Sasuke?" tanyaku tanpa berbalik dan memandangnya.
"Kau bilang aku baik padamu? Apa kau lupa, aku sedang menculikmu." Jawab sebuah suara dari belakang.
Aku menghebus napas pelan. Dia masih saja malu-malu untuk mengakuinya. Sasuke memang tetap sama, dia tidak berubah dari dulu.
Kemudian aku terkaget seketika ketika seseorang memelukku dari belakang. Dia melingkarkan tangannya di tubuhku.
"Tetap diam." Kata Sasuke.
"Sasuke..."
Kemudian hanya suara air jatuh yang kudengar. Dan satu senduan kecil dari Sasuke.
Apakah Sasuke menangis?
Mengapa Sasuke menangis?
"Aku gagal untuk melindungimu, Naruto. Maafkan aku."
"Apa yang kau katakan Sasuke? Kau telah menyelamatkanku."
"Tidak, aku telah gagal. Aku biarkan Sai sialan itu menyentuhmu, aku benar-benar telah gagal. Aku telah bersalah banyak pada Naruko, aku bersalah banyak pada pacarku sendiri. Aku telah berjanji untuk melindungimu, dan aku gagal. Pacar apa aku ini..."
Naruko ya...
"Kau seharusnya tidak berjanji banyak untuk melindungiku." Lirihku.
"Bagaimana bisa aku tidak berjanji banyak?"
"Bagaimana bisa? Tentu saja kau bisa, lagipula, tanpa kau pedulikanku pun, Naruko akan terus mencintaimu. Kau tak seharusnya memaksakan kehendakmu sendiri agar Naruko tambah mencintaimu."
Sasuke tidak mengeluarkan suara, pelukannya pun melonggar dan ia langsung membalikkan tubuhku untuk menghadapnya.
"Apa yang kau katakan, Naruto? Naruko tambah mencintaiku? Memaksakan kehendakku? Aku sama sekali tidak mengerti."
"Tidak mengerti? Yang benar saja, kalau begitu, aku pun tak mengerti dengan apapun yang kau katakan daritadi."
"Dengar, aku berjanji banyak karena Naruko tahu kalau aku mencintaimu, Naruto."
"Apa? Apa aku tidak salah dengar? Tapi Naruko mencintaimu!"
"Ya, aku juga mencintai Naruko."
Aku menyunggingkan sebelah bibirku dan sedikit tertawa. "Aku semakin tak mengerti."
"Naruko menuntut janji padaku untuk melindungimu itu karena dia sangat mencintaimu dan juga dia tahu kalau aku pun mencintaimu."
Aku terdiam.
Sasuke mencintaiku. Naruko mencintaiku.
"Naruko lebih mencintaimu daripada cintanya padaku, dan aku pun lebih mencintaimu daripada cintaku pada Naruko."
Aku benar-benar pusing sekarang.
"Lalu, atas alasan apa kalian berpacaran?"
"Membentuk aliansi untuk melindungimu, tentu saja."
Aku mengalihkan pandanganku ke lantai kamar mandi, kueratkan kepalan tanganku dengan penuh emosi.
Perasaanku campur aduk sekarang. Aku tak dapat berpikir jernih.
Aku ingin menangis.
"Kau tahu, ketika Naruko jatuh sakit dia terus mengulang perkataannya untuk terus mengawasimu dan menjagamu padaku. Sebelum akhirnya dia meninggalkan kita berdua."
Kakiku terasa lemas, namun sebelum aku terjatuh, Sasuke meraihku dan memelukku.
Aku yang tidak berharga ini dicintai oleh orang-orang populer seperti Naruko dan Sasuke. Dan lagi, kenyataan bahwa Sasuke mencintaiku masih tak dapat aku terima, masih di luar batas logikaku. Aku laki-laki, hei, aku laki-laki. Apa dia sungguh-sungguh mencintaiku?
Tunggu... mencintaiku sebagai teman? Atau mencintaiku sebagai kekasih?
Ah, bodohnya aku. Tak mungkin Sasuke mencintaiku sebagai kekasih, bukan?
"Aku selalu ingin menyentuhmu, Naruto. Bolehkah aku menyentuhmu lebih dari ini?" Bisiknya di telingaku.
Mataku membulat seketika.
Apa maksudnya yang sebenarnya?
Apa dia benar-benar ingin menyentuhku?
Atau hanya ingin melampiaskan kesedihan atas kematian Naruko padaku?
Mengapa rasanya hatiku sakit?
"Bodoh." Aku bilang. "Lakukan saja sesukamu, bukankah aku tahananmu?"
Itu bukan karena aku memperbolehkannya, lagipula aku menolaknya pun dia akan tetap melakukannya. Aku sudah lama mengenal Sasuke, maka dari itu aku tahu sifatnya.
Dan apa saja yang Sasuke lakukan padaku selanjutnya adalah hal yang pastinya kalian semua tahu.
Rasanya... bukan Sasuke yang terlalu baik padaku. Aku saja yang terlalu baik padanya. Membiarkan Sasuke melakukan hal-yang-bahkan-aku-tak-mau-membayangkannya padaku. Aku benar-benar baik hati.
Emosi yang Sasuke alirkan padaku benar-benar sampai pada setiap nadi darahku. Dia begitu lembut. Beremosi namun lembut. Ya, dia melihatku seperti caranya melihat Naruko. Kenapa baru kali dia melihatku seperti itu?
Kenapa baru kali ini?
Apa yang sebenarnya Sasuke sembunyikan dariku?
Bukan, bukan dariku, tapi dari Naruko.
Alasan mengapa dia tak pernah menyentuh Naruko. Alasan mengapa dia selalu memandangku marah dan dingin. Alasan mengapa baru kali ini dia berani mandi bersamaku.
"Kau telah berbohong padaku, Sasuke." Kataku. "Tidak, kau pun telah berbohong pada Naruko."
Sasuke menghentikan aktivitasnya.
"Naruko selalu mencintaimu, dia sangat mencintaimu. Aliansi untuk melindungiku? Benar-benar omong kosong. Ternyata kau sangat pandai dalam berakting, Sasuke."
Sasuke tak merespon. Aku pun memandang atap kamar Sasuke. Ya, kami tidak lagi berada di kamar mandi, aku telah digendong Sasuke menuju kamarnya dan ditidurkan di tempat tidurnya.
"Naruko memintamu untuk menjagaku, sepertinya itu memang benar, tapi, itu bukan berarti dia lebih mencintaiku. Cinta pada kekasih dan cinta pada saudara itu berbeda. Bukankah kau itu pintar, Sasuke? Seharusnya kau mengetahui ini. Well, dan memang kau tahu mengenai ini. Maka dari itu, kau menembak Naruko dan berkata bahwa kau mencintainya walau sebenarnya yang kau cintai adalah aku."
Aku berhenti sejenak.
"Alasan mengapa kau menembak Naruko adalah karena kau merasa iba kepada Naruko dan agar kau punya alasan untuk bisa tetap bersama kami berdua, agar kau tetap bisa memantauku. Naruko tidak pernah tahu bahwa kau mencintaiku, karena kau selalu menyembunyikan perasaanmu itu. Ya, itulah mengapa kau selalu memandangku dingin dan memarahiku adalah untuk sebuah kamuflase." Aku menarik napas sejenak. "Dan lihatlah, tadi pagi kau menciumku dan sekarang kau melakukan hal ini padaku, kau benar-benar mencintaiku, eh?"
"Tepat sekali, Naruto. Sejak kapan kau menjadi anak cerdas? Aku benar-benar mencintaimu, Naruto. Aku mencintaimu." Dia melanjutkan aktivitasnya lagi. Kembali memojokkanku.
Rasa sakit yang aku dapatkan ini jauh lebih kecil daripada rasa sakit yang Naruko rasakan. Jika aku menjadi Naruko dan mengetahui hal ini, aku pasti akan terkena serangan jantung.
"Kau benar-benar kejam, Sasuke."
"Aku memang sangat kejam."
Lalu dia kembali meraup bibirku. Aku berada dalam kendalinya.
Bagaimana jika Hinata tahu apa yang aku lakukan ini?
Dan apakah Naruko sedang melihat apa yang sedang kami lakukan ini?
-0-0-0-0-0-
"Kau terlihat tidak sehat hari ini, Naruto." Hinata meneliti setiap inci tubuhku dan menyentuh dahiku dengan tangannya. "Oh tidak, kau memang sedang demam."
Hinata kemudian menarik tanganku. "Aku akan mengantarmu ke ruang kesehatan."
"Tidak usah, Hinata. Aku baik-baik saja."
"Ya, Naruto benar, Hinata. Bagi seorang pria, sakit segitu hanya masalah kecil." Sahut Kiba.
"Well, ya... ini hanya akibat kehujanan." Tambahku.
"Tapi tidak boleh dibiarkan, bukan?" Hinata masih memasang wajah cemas.
"Ngomong-ngomong, kau kehujanan? Darimana saja kau bisa kehujanan?" tanya Shikamaru. Dia memang peka sekali.
"Ya, aku jalan-jalan dulu sebentar di sekitar rumah, tahu-tahu turun hujan." Kataku dusta.
Shikamaru memasang wajah yang tak dapat aku jelaskan. Sepertinya dia tahu aku sedang berbohong. Lagipula, aku memang tak bisa berbohong pada orang jenius seperti dia. Ah, memang merepotkan punya teman seperti dia.
"Baiklah, aku hanya berharap kau tidak terjebak dalam hal yang buruk." Lanjutnya.
"Tentu saja tidak." Balasku cepat.
"Oh ya, Naruto. Aku ada pesan dari Sai padamu." Hinata bilang. "Sai punya sesuatu yang ingin dia bicarakan denganmu di istirahat pertama nanti."
"Bagitu ya..."
Tapi aku tidak ingin bertemu dengannya.
"Eh, sejak kapan kau mengenal Sai?" tanya Kiba sedikit terkaget.
"Wajar saja aku mengenalnya, dia teman sekelasnya Naruko."
"Oh, seperti itu rupanya... tapi aku tak pernah melihatmu dekat dengannya, dan lagi... dia itu agak aneh."
Aneh? ya, memang aneh... aku sudah mengenal keanehannya.
"Sebaiknya jangan dekat-dekat dengannya, Naruto." Shikamaru memberi saran.
"Kau memang selalu percaya perkataan Kiba, Shikamaru." Aku menepuk pundak Shikamaru dua kali. "Aku kasihan padamu." Lalu aku tertawa.
"Oh, ayolah Naruto... ini tidak lucu, kami benar-benar mengkhawatirkanmu." Jelas Kiba.
"Dan yang aku coba katakan pada kalian adalah bahwa kekhawatiran kalian itu sia-sia. Apa kalian lupa, aku ini jago dalam memukul orang."
"Maksudmu dalam beladiri? Aku tak suka gaya kau bicara."
"Oke... oke... aku akan baik-baik saja oke, kalian terlalu mengkhawatirkanku. Sekarang bel akan segera berbunyi, sebaiknya segera kembali ke bangku kalian masing-masing."
"Oke, tak usah memerintah. Pokoknya, kau harus jaga dirimu dengan baik."
Kiba, Shikamaru, dan Hinata pun kembali ke bangkunya masing-masing. Hinata berada di sebelah kanan bangkuku, Kiba berada di belakangku dan Shikamaru berada di belakang Hinata. Ya, bangku kami memang berdekatan.
Terimakasih untuk kalian bertiga karena telah mengkhawatirkanku. Tapi kalian benar-benar terlambat, aku telah rusak, kawan. Aku telah rusak oleh Sasuke. Bukan oleh Sai tapi oleh Sasuke, namun jika Sasuke tak menyelamatkanku segera, maka aku akan rusak oleh Sai.
Well, apapun itu, aku sudah tidak terselamatkan, kawan.
Bel berbunyi dan guru kelas kami pun memasuki kelas. Ya, wali kelas kami memasuki kelas kami. Tentunya pasti ada sesuatu yang penting.
"Saya punya berita bagus untuk kalian semua."
"Apa itu sensei?"
"Kalian mendapat teman baru." Katanya, lalu Kakashi-sensei mengalihkan pandangannya ke arah pintu kelas. "Masuklah."
Seorang gadis cantik berambut merah muda memasuki kelas. Rambutnya begitu indah dan menyegarkan.
Dia tersenyum, senyuman yang dapat membuat siapa saja meleleh karenanya. Oh, aku hampir dibutakan oleh sosoknya.
Ini sangat bahaya. Sangat membahayakan. Aku punya Hinata, satu-satunya orang yang kucintai dan hanya dia selamanya orang yang kucintai. Oh, sadarlah diriku.
Aku hanya terpesona karena dia cantik, ya dia hanya cantik. Aku tidak tahu bagaimana kepribadiannya. Aku belum tahu. Tapi aku tidak ingin tahu. Aku sudah punya Hinata.
"Perkenalkan, namaku Haruno Sakura. Selama disini, mohon kerjasamanya." Dia tidak menurunkan senyumannya.
"Ya, baiklah. Kau duduk di sebelah kiri Naruto. Dan kau Naruto, di jam istirahat nanti kau ajak Sakura mengelilingi sekolah."
"Baiklah..."
Ya, aku ini ketua kelas, banyak sekali tugas yang bersangkutan denganku. Tapi hei, bukankah di jam istirahat nanti Sai akan menemuiku. Ah, sudahlah, orang gila itu biarkan saja.
Dan jam pun berlalu, bel tanda istirahat pun berbunyi. Yang sekarang ini menjadi pikiranku adalah Hinata. Apakah tidak apa-apa jika aku dan Sakura pergi mengelilingi sekolah berdua? Hinata sangat baik, dia juga bukan pencemburu. Mungkin tidak akan apa-apa.
Aku berdiri dari bangkuku dan memberi sebuah kode tertentu kepada Sakura yang berada di sebelahku untuk segera ikut denganku. Tapi sebelum pergi, aku menghampiri Hinata terlebih dahulu.
"Kau mau ikut bersama kami?" tanyaku.
"Tidak, aku ada pertemuan dengan anggota OSIS." Jawabnya.
Aku terdiam sebentar dan melirik bangku dibelakangku. "Bagaimana dengan kalian berdua?" tanyaku pada Shikamaru juga Kiba.
"Well, jangan pedulikan kami, Shikamaru juga ingin tidur, dan aku sendiri ada tugas untuk memberi makan ternak sekolah."
Oh, tak usah berbohong, kawan. Aku tahu kalian berdua sangat malas untuk mengelilingi sekolah yang luas ini. Merepotkan memang, tapi apa boleh buat.
Tapi ngomong-ngomong, kenapa mereka berdua tidak tertarik untuk berkenalan dengan Sakura ya? Waduh, aku jadi punya firasat buruk mengenai hubungan mereka berdua.
Aku pun kembali fokus kepada Sakura, tapi yang sekarang aku lihat bukanlah Sakura seorang. Betul, Sakura tengah dikelilingi oleh teman-teman sekelasku yang ingin berteman dengannya. Tapi, jika menunggu ini, kita bisa terlambat untuk masuk jam pelajaran sesudah istirahat nanti.
"Tolong teman-teman, acara berkenalannya mari kita tunda terlebih dahulu. Aku punya amanat dari Kakashi-sensei, jadi tidak baik jika aku mengingkarinya." Aku berkata dengan suara keras.
Mereka semua terlihat kecewa namun bagaimanapun mereka menuruti perkataanku. Aku pun pergi keluar kelas dan berbincang-bincang sedikit dengan Sakura.
"Tak dapat dipercaya kau sangat terkenal." Kata Sakura.
"Ya, terkenal karena nakal." Aku mengakuinya.
Sakura tertawa. "Tak heran jika teman-teman kelasmu menurutimu tanpa banyak bicara."
"Mereka takut kepalan tanganku."
Tawa Sakura kembali pecah. "Kau sangat menghibur, Naruto."
"Hati-hati kalau kau nanti menyukaiku." Aku sedikit bercanda.
"Ya, ya, aku harus berhati-hati. Lagipula, kau punya pacar kan?"
"Ya..."
"Anak manis di sebelah kanan bangkumu, bukan?"
"Yep..."
"Kalian berdua benar-benar cocok."
"Terimakasih. Tapi karena ada kau, aku hampir saja dibutakan."
"Maksudmu?" Sakura sedikit terkikik. Pertanyaannya hanya basa-basi belaka.
"Well, aku hampir saja jatuh cinta padamu." Kataku jujur.
Sakura kembali tertawa. Sepertinya dia pikir aku sedang bercanda. Tapi apapun itu aku tidak peduli, toh nyatanya aku tidak menyukainya dan masih menyukai Hinata.
"Apaan ini? Ada murid pindahan rupanya...?" Sebuah suara datang dari belakang kami berdua. Aku tentu saja mengenal suara ini. "Kau lupa dengan janji kita berdua dan pergi bersama murid pindahan ini? Kau jahat sekali Naruto..."
Aku pun berhenti melangkah dan mau tidak mau meladeni Sai terlebih dahulu. Yang masih tak dapat aku mengerti, wajah Sai masih dengan ekspresi senyumnya. Benar-benar tidak berhubungan baik dengan ucapan mulutnya.
"Ya, lihatlah, daripada menghabiskan waktu denganmu bukankah lebih baik aku bersama wanita cantik ini?" Kataku dengan muka dingin.
"Siapa dia?" tanya Sakura. Sakura terlihat jijik dengan kehadiran Sai. Ya, dia memang menjijikan, matamu memang bagus sekali, Sakura.
"Orang tidak penting, mari kita lanjutkan perjalanan kita!" ajakku pada Sakura.
"Tunggu-tunggu, cantik katamu? Dia sangat jelek."
Aku memutar bola mataku tak percaya. Dia ternyata sangat lancang pada wanita. Tapi apaan dengan muka senyumnya itu? mengapa dia bisa bertahan dengan ekspresi seperti itu?
"Dasar sinting!" Aku lalu memegang tangan Sakura dan menariknya bersamaku. Tapi Sai berjalan cepat dan berbisik di telinga kiriku.
"Ngomong-ngomong Naruto, tandanya bertambah satu, apa kau melakukannya dengan Sasuke?" pertanyaan Sai membuatku membatu dan wajahku memerah. Namun aku tersadar dengan cepat dan tak menghiraukan pertanyaan Sai.
Sai pun berhenti dan menyerah untuk mengikuti kami. Aku sangat lega dengan hal itu.
"Dia musuhmu?" tanya Sakura.
"Ya, musuhku, dan musuhmu juga bukan?" tanyaku.
"Ya, dia lancang sekali. Aku hampir tidak percaya dengan perkataannya. Benar-benar tidak sesuai dengan mukanya."
"Ya, kau tidak akan pernah tahu dia akan mengatakan hal baik atau hal buruk."
"Ya... padahal ini hari pertamaku di sini..." Sakura melengkungkan bibirnya keatas, dia terlihat sangat kecewa.
"Tenang saja, dia satu-satunya orang gila di sekolah ini. Kau hanya sedang tidak beruntung."
"Ngomong-ngomong apa yang dia bisikan padamu?"
"Hoo... itu... dia bilang dia menyukaiku." Kataku sambil tertawa.
Sakura pun ikut tertawa dan menghapuskan ekspresi kecewanya. Aku lega melihatnya demikian. Tugasku kan untuk mengenalkan bagian baik sekolah ini, akan menjadi sebuah kegagalan jika aku membuat murid pindahan ini tidak betah sekolah disini.
"Naruto, Naruto!" Panggil Sakura sambil menepuk-nepuk tanganku.
"Apa sih?"
"Lihat, lihat, siapa orang dengan mata onyx itu?" Sakura menunjuk ke arah orang yang tidak mungkin tak aku kenal.
Melihatnya, aku jadi tak bersemangat. "Dia... dia itu Sasuke. Uchiha Sasuke. kau tertarik dengannya?"
"Ya, tolong kenalkan aku dengannya!" seru Sakura bersemangat. Oh ayolah, aku sedang tak ingin bertemu dengannya. Namun, dua detik kemudian, Sasuke melihatku. Kami saling berpandangan.
Dengan kaku kuangkat tangan kiriku. "Hai, Sasuke..." kupaksakan sebuah senyuman kecil padanya. Dan aku pun dengan terpaksa menghampirinya.
"Oke, perkenalkan, Sakura. Ini Sasuke. Uchiha Sasuke." Aku berhenti sejenak dan melihat ekspresi Sakura. Mata Sakura kini berbinar-binar. "Dan Sasuke, ini Sakura. Haruno Sakura. Dia murid pindahan di kelasku. Dia bilang dia ingin berkenalan denganmu karena dia tertarik pada- AW!" Kakiku yang malang diinjak oleh Sakura.
"Hal itu tak usah dikatakan, Naruto! Aku kan jadi malu...!" Sakura memanyunkan bibirnya. Jelek sekali-Ups!
"Biasa aja..." Kataku kesal.
Daritadi Sasuke tidak merespon apapun, dia nampaknya lurus-lurus saja walau didepannya itu ada Sakura yang sangat cantik. Oke cantik, tadi aku tanpa sengaja mengatakannya jelek hanya karena jengkel saja. Atau mungkin jangan-jangan aku tertular penyakit Sai? Oh, astaga...
"Hi, Sasuke. Salam kenal." Sakura tersenyum pada Sasuke, dia tetap tersenyum walaupun senyumannya tak dibalas oleh Sasuke.
"Oke, mari kita lanjutkan perjalanan kita, Sakura!" Kataku, aku benar-benar kasihan pada Sakura yang telah dicuekan oleh Sasuke.
"Tunggu, Naruto." Panggil Sasuke. Aku pun langsung berbalik menghadapnya.
Kemudian Sasuke memegang bagian belakang kepalaku dan menarik kepalaku. Dia menyentuhkan dahinya pada dahiku. Muka kami sekarang berdekatan, dan hidung kami pun bersentuhan. Hal itu sukses membuat jantungku berdetak cepat. Sebenarnya apa sih yang Sasuke pikirkan?
"Ternyata kau sedang demam." Katanya. Dia pun melepaskan tanganya dari kepalaku.
"Oke, hanya sedikit demam. Aku baik-baik saja." Kataku.
"Pulang nanti aku akan menjemput ke kelasmu."
Aku mengangkat sebelah alisku. "Oke, terimakasih."
Aku pun kembali melanjutkan perjalananku bersama Sakura.
"Kau ternyata sangat akrab dengan Sasuke."
"Ya, dia menganggapku sebagai adiknya."
"Apa? Adiknya?"
"Ya, asal kau tahu saja. Aku punya seorang kakak perempuan, dia kembaranku. Dan kakak perempuanku itu adalah mantan pacarnya Sasuke."
"Mantan pacar? Memangnya kenapa mereka putus?"
"Oh itu... dua hari yang lalu kakakku meninggal..."
Sakura tak dapat menyembunyikan wajah kagetnya. "Ma-maaf..."
"Tak apa. Kau menyukai Sasuke?"
"Iya... dia sangat keren. Apa boleh aku menyukainya?"
"Tidak ada yang melarangmu."
"Apa kau mau membantuku untuk mendekati Sasuke?" tanyanya.
Kalau dipikir-pikir, itu adalah hal bagus. Maksudku, membuat Sasuke mencintai Sakura bukanlah hal buruk, itu adalah hal yang luar biasa bagus. Ya, itu untuk kebaikan Sasuke juga, dia tidak boleh menyukaiku, cintanya untukku itu terlarang. Aku akan membuat Sasuke jatuh cinta pada Sakura dan melupakanku.
"Tentu saja."
To be Continued
Need Reviews XD
