ANKH
(Vague Hints)
.
.
.
NAMJIN
With lil bit of JUNGHOPE and MINYOON
Warn: BL, Ey(T)D, Typo(s)
Inspired by: CRIMINAL MINDS (Korean Drama)
.
.
.
Kembali ke kehidupan normal Kim Seokjin.
Ah, rasanya normal adalah kata-kata yang terlalu berlebihan tapi memang jika Seokjin diminta untuk menggambarkan situasi kehidupannya saat ini maka normal adalah jawaban yang paling cepat terlintas di benaknya. Kehidupan normal tanpa drama, tanpa rasa cemas dan ketakutan. Kini ia hidup dengan profesi tetapnya, memiliki waktu untuk dirinya dan teman-temannya dan itu sudah sangat sempurna untuk Seokjin.
Kehidupan sempurnanya dimulai ketika ia bangun jam 3 dini hari untuk mulai memproduksi pastry dan toastbread serta bread lainnya yang memerlukan waktu untuk proofing, sebelum ia beralih untuk membuat cake-cake cantik yang nantinya akan ikut berjajar di display cafenya.
Semenjak hidup sendiri Seokjin memang mendedikasikan dirinya untuk bisnisnya dengan sahabat-sahabatnya. Dulu memang bisnis ini mereka mulai sebagai hal coba-coba dari empat mahasiswa yang bosan dengan keseharian mereka.
Maka dengan Seokjin yang mengurus produksi pastry & bakery, Min Yoongi yang memang memiliki lisensi sebagai barista, Park Jimin yang merupakan mahasiswa jurusan bisnis sekaligus kekasih Yoongi yang mengurus penyewaan tempat dan pengelola keuangan, serta Kim Taehyung sahabat mereka yang membantu menjadi barista bersama Yoongi, jadilah mereka memulai cafe mungil mereka.
Pagi hari akan menjadi waktu yang sibuk, dimana cafe mereka yang memang menyediakan menu breakfast akan diserbu oleh mereka para karyawan atau mahasiswa yang bergesa-gesa untuk mendapatkan morning coffee dan beberapa sandwich atau pastry untuk mengawali hari yang sibuk. Setelah morning rush barulah Seokjin bisa sedikit beristirahat sebelum persiapan untuk jam makan siang dan jam pulang kantor.
Cafe mereka memang terletak di daerah yang sibuk sehingga sangat cocok untuk bisnis mereka, tak salah dulu Jimin sangat ngotot untuk menyewa tempat ini untuk bisnis awal mereka. Dan setelah dua tahun, kini cafe mereka sudah sangat berkembang. Seokjin tak pernah dapat menahan rasa bahagianya setiap kali mengingat-ingat masa awal mereka.
"Oh, Seokjin hyung! Tidak istirahat?"
"Yoongi?" Seokjin yang masih berada di dapur berjalan keluar dan medapati sahabatnya yang baru saja keluar dari ruang istirahat. "Kau datang lebih awal, dimana Jimin?"
"Taehyung baru saja megabari kalau dia ada pemotretan pagi ini, jadi Jimin sekarang sedang mencoba mencari pengganti shift Taehyung hari ini." Selesai melipat jaketnya, Yoongi mengenakan apron seragamnya dan segera berlari keluar dengan kain crumbing di tangannya.
"AKu sudah selesai memanggang rotinya, akan ku bantu menyapu dan menurunkan kursinya."
Dua jam kemudian dengan Jimin, Soonyoung dan Jihoon, cafe telah buka dan perlahan-lahan mulai dipadati dengan customer. Seokjin dengan cekatan menyiapkan sandwich dan menyetok muffin dan pastry lain di display mereka, Yoongi dan Jihoon sibuk membuat pesanan kopi, Soonyoung yang terus berlari kesana-kemari sebagai waiter dan Jimin yang menunggu di meja kasir.
Selalu seperti ini setiap paginya, begitu sibuk namun begitu menenangkan untuk Seokjin. Dengan kesibukan seperti ini, ia tak ada waktu untuk memikirkan hal-hal yang tak perlu dan sekali lagi ini adalah pelariannya yang sempurna.
Jam sepuluh pagi dan akhirnya mereka bisa sedikit beristirahat. Soonyoung dan Jihoon sibuk mencuci peralatan yang kotor, Yoongi yang telah selesai membersihkan coffee machinenya memijat-mijat pundaknya yang terasa pegal dan Seokjin kini bergabung ke area depan sembari mengipasi badannya yang terasa tak karuan.
"Mandilah dan segera istirahat hyung." Jimin menyodorkan sebotol air mineral dingin padanya dan dengan terburu ia meneguknya.
"Ah, setelah mandi aku akan keluar sebentar. Ku tinggal tak apa kan?" Jimin dan Yoongi saling memandang. Ah, salah satu kebiasaan baru Seokjin setelah tak lagi menulis. Mereka pun mengangguk mengiyakan.
-남진-
Matahari semakin meninggi ketika Namjoon menyelesaikan kunjungannya siang itu dan memutuskan untuk kembali ke kantornya. Hanya lima belas menit perjalanan dari rumah sakit tempat adiknya dirawat ke kantornya, tapi cukup dengan lima belas menit itu juga pikirannya melayang ke percakapannya dengan Hoseok beberapa hari yang lalu.
Dengan satu simbol yang kebetulan mereka temukan, Namjoon merasa ia telah dituntun menuju jalan keluar yang mungkin akan segera ditemukannya. Namjoon menggeram rendah ketika ia mengingat bukti-bukti yang telah ia lewatkan kini menuntunnya untuk mendapatkan petunjuk yang sangat penting.
Ia masih ingat betul ketika ia mendapat kabar jika adiknya ditemukan dalam keadaan sekarat dua bulan yang lalu di jalan menuju apartemen mereka. Tak ada tanda-tanda pencurian atau pelecehan, murni sebuah penyerangan. Leher adiknya hingga kini masih berbekas dengan luka hasil dari penyerangan dimana sepertinya dengan itulah adiknya diseret menuju tempat yang sepi tanpa menimbulkan keributan yang dapat mengundang saksi mata.
Polisi hingga kini tak bisa menemukan orang yang bertanggung jawab atas penyerangan adiknya. Namun Namjoon menyadari sesuatu, adiknya merupakan satu korban selamat dari kasus pembunuhan berantai yang masih menjadi buron kepolisian. Teror sepatu merah. Dimana ketujuh korban lainnya ditemukan dalam keadaan tangan terikat ke belakang, leher yang memiliki bekas memar, sepatu merah yang dikenakan korban dan sebuah simbol yang diukir di tubuh korban. Ankh.
Kepolisian tidak menyadari jika Namsoon merupakan korban selamat dari teror tersebut karena adiknya ditemukan oleh seseorang sebelum eksekusinya selesai. Tangannya tak terikat, sepatu merah adiknya terlepas dan masih tak ditemukan, serta simbol Ankh yang tidak ditemukan polisi. Namun Namjoon menemukannya. Ketika Namjoon memegang tangan kiri adiknya, ketika ia menyatukan jari manis dan kelingking adiknya ia menemukan simbol itu jelas terukir disana, tersamar dengan beberapa luka lain yang didapat adiknya.
Namjoon sendiri sudah sepakat dengan Hoseok untuk menyembunyikan jika Namsoon sebenarnya adalah salah satu korban dari Teror Sepatu Merah, ia tak ingin adiknya menjadi sorotan publik, sudah cukup dengan keadaannya yang seperti ini. Maka dengan kedua tangannya sendirilah ia harus menangkap orang yang telah berani melukai satu-satunya anggota keluarganya.
Namjoon menghela napas panjang sebelum keluar dari mobilnya dan menuju ruangannya. Baru saja ia akan memasuki lift ketika ponselnya berdering, Hoseok menghubunginya.
"Ya, Hoseok?"
'Namjoon, malam ini tak usah ke rumah sakit ya. Aku yang akan menemani Namsoon malam ini.'
"Seok, sudah tiga malam ini kau menjaga Namsoon. BIar malam ini aku saja, lagipula memang kau tak takut malam-malam di rumah sakit?"
'TIDAK USAH DIINGATKAN!' Hoseok terdengar berdehem di seberang line, 'aku bersama Jungkook jadi tak masalah. Lagipula Joon, kami pikir kau seharusnya banyak-banyak istirahat jadi biar kami saja yang menunggui Namsoon saat malam.'
Namjoon terpekur lama. Ah, apakah ia membuat sahabatnya ini kerepotan lagi? Sebenarnya Namjoon merasa tak enak hati selalu merepotkan Hoseok dan Jungkook semenjak ia dan Namsoon memilih untuk tinggal sendiri ketika kedua orangtuanya memutuskan untuk bercerai dan memiiki keluarga masing-masing.
"Maaf Seok, aku selalu merepotkanmu."
'Hei, apa yang kau bicarakan? Namsoon kan sudah seperti adikku sendiri, Jungkook juga berpikir seperti itu. Jadi malam ini lebih baik kau beristirahat, aku sungguh tidak kuat melihat mata pandamu itu. Okay, itu saja. Bye Joon!'
Belum sempat Namjoon menjawab, Hoseok sudah menutup telfonnya. Yah, mungkin memang seharusnya ia menuruti sahabatnya itu, Hoseok sudah berbaik hati mau menggantikan tugasnya jadi sebaiknya Namjoon memanfaatkan waktunya. Mungkin tidak dengan beristirahat karena ada hal penting lain yang harus dilakukannya. Mencari Jean.
-남진-
Seokjin sudah menghapal diluar kepala kapan waktu yang tepat untuk pergi berkunjung ke rumah sakit. Mulai jam dua belas siang hingga jam satu, jam empat hingga jam lima sore dan jam tujuh malam hingga jam tujuh pagi adalah waktu yang harus dihindarinya. Tepat jam satu siang Seokjin selalu berkunjung ke rumah sakit sembari mengamati satu kamar kelas I hingga seorang pria keluar dari ruangan itu dan meninggalkan area rumah sakit.
Seokjin keluar dari persembunyiannya dengan sebuah buku yang berada dalam dekapannya, sambil menyapa beberapa perawat yang sudah berkali-kali ditemuinya di area kelas I itu Seokjin akhirnya memasuki satu kamar rawat yang telah dua bulan ini sering ia kunjungi. Masih seperti beberapa hari yang lalu, dengan penuh harap ia membuka pintu itu walau harus menelan kekecewaan ketika lagi-lagi gadis yang dikunjunginya masih terbaring di ranjang itu.
"Hello Namsoon, oppa datang lagi. Kau masih terlihat cantik seperti biasanya ya." Seokjin membuka lebar jendela di kamar itu sebeum kemudian duduk di sebelah ranjang si gadis.
"Hari ini oppa akan membacakan lanjutan novel yang kemarin." Beginilah kegiatan Seokjin yang baru. Berkunjung untuk menjenguk Namsoon, terkadang ia akan mengganti bunga di vas sebelah tempat tidur gadis itu, terkadang dia akan mengelap tangan dan kaki gadis itu dengan handuk basah, terkadang ia akan memotong kuku Namsoon dan yang selalu Seokjin lakukan adalah membacakan gadis itu sebuah cerita.
Bagaimana Seokjin bisa bersama Namsoon? Seokjin melihat berita penyerangan itu tepat setelah sebulan lebih ia mengalami peneroran. Saat itu juga Seokjin menyadari jika Namsoon sebenarnya adalah korban dari Teror Sepatu Merah, teror yang telah ia ciptakan dalam novelnya. Dengan teror yang terus diterimanya, menantangnya, ia tahu jika orang yang menyerang Namsoon adalah orang yang telah memulai Teror Sepatu Merah di dunia nyata.
Susah payah Seokjin mencari tahu identitas korban penyerangan itu dengan semua koneksi yang dimiliki hingga akhirnya ia menemukan dimana Namsoon dirawat, saat itulah ia mulai merawat Namsoon tanpa sepengetahuan keluarga Namsoon. Ia cukup terkejut ketika ia mendapati salah satu novel karyanya terletak di meja sebelah ranjang Namsoon, dan ia mendapati jika itu adalah novel yang dijual secara pre-order dengan tanda tangannya.
Karena Namsoon sepertinya sangat menyukai novel misteri maka Seokjin selalu membacakan novel misteri untuk Namsoon, dua jam dia akan berada di sana sembari membacakan novel untuk Namsoon. Ketika tepat jam tiga siang, alarm yang dipasangnya akan berbunyi, saat itulah ia harus pulang.
"Namsoon-ah, menurutmu siapa yang membunuh korban ketiganya?" Seokjin menutup novel yang dibawanya dan merapihkan barang bawaannya. "Kau pasti sangat penasaran kan, jadi bangunlah Namsoon."
Seokjin tak dapat lagi membendung airmatanya, dua bulan Namsoon seperti ini. Semua ini karena orang gila yang dengan teganya bermain-main dengan nyawa orang lain, dan orang gila itu menggunakan novelnya . Ah, apa Seokjin juga termasuk orang gila itu yang dengan mudah membunuh karakternya dan memikirkan pembunuhan keji itu?
Buru-buru Seokjin menyeka airmatanya. Mungkin Seokjin berpikir ia termasuk sebagai orang gila itu, tapi Seokjin ingin memperbaikinya, Seokjin ingin Namsoon sadar dan kembali sehat. Seokjin tak ingin ada korban lainnya, andai saja Seokjin dapat melakukan sesuatu.
"Namsoon, oppa akan datang lagi besok. Selamat tidur Namsoon."
Seokjin harus melakukan sesuatu, ia yang menciptakan karakter gila itu jadi memang sudah seharusnya ia yang mengakhirinya kan? Jadi Seokjin kini hanya butuh seorang protagonis yang akan menghentikan aksi gila si penebar Teror Sepatu Merah, dan orang yang akan menarik Seokjin untuk bangun dari rasa takutnya.
.
.
.
TBC
a/n: Buat siapapun yang baca work ini MAAF BERIBU MAAF
Aku lama banget update work ini karena profider tidak memperbolehkan laptopku buka ffn, dan ffn ini udah ketinggalan beberapa chapter dari wattpad.
Aku harus nunggu ke warnet dulu baru bisa update work di ffn, jadi MOHON MAAF SEKALI kalau lama.
Kalau ada yang mau cek ANKH di wp, silahkan cari id decaf_cama ya
Last, give me ur review please
