Naruto : My Way My Choice
Genre : Advanture,romance,humor
Pair : Naruto x ?
Warning : Oc,Ooc,Gak jelas,Typo
Chapter 1
Setelah apa yang didengar oleh Naruto saat kedatangan Tsunade ke rumah kedua orang tuanya, ia lebih sering membaca buku di perpustakaan. Ia membaca segala jenis buku yang ada di perpustakaan yang dapat di gunakan oleh umum. Sudah 3 minggu semenjak kejadian itu, Naruto setiap hari datang ke perpustakaan. Naruto bahkan bisa menghabiskan waktu hingga sore hari. Selain bertujuan sebagai penghilang kesedihan,Naruto melalukan kegiatan membaca karena dengan membaca ia dapat menjadi kuat itulah yang dipikirkan Naruto.
" Hah,akhirnya selesai juga." Naruto menghela napas dan meregangkan otot tubuhnya yang mulai kaku karena hobi nya ini. Entah buku apa yang ia baca yang jelas itu membuat.
Kruyuk kruyuk. Perutnya telah membunyikan genderang perang untuk menuju pertempuran. Dan ia segera meletakkan buku-buku yang ia baca kembali ke tempat semula. Naruto pun berjalan menuju penjaga perpustakaan dengan membawa sebuah buku.
" Siang, Oba-san. " ucap Naruto menyapa penjaga perpustakaan.
" Eh, Naruto. Sudah selesai membacanya?. " tanya seorang wanita separuh baya yang menjaga perpustakaan melihat Naruto telah berdiri di depannya yang di batasi oleh meja.
" Iya, baa-san. Aku lapar jadi aku mau makan dulu." Naruto menjawab dengan cengiran hasnya yang memperlihatkan rentetan gigi nya.
" Pasti mau makan ramen lagi. " tebak wanita yang bernama Mirai ( Oc ) .
" Hehehe, baa-san tau aja kalo aku mau makan ramen." jawab Naruto sambil menyodorkan sebuah buku.
" Tentu, baa-san tau. Setiap kali di tanya pasti mau ke Ramen Ichiraku. " ucap Mirai sambil menulis data buku yang di pinjam Naruto.
" Ramen adalah makanan paling enak sedunia. " ucap Naruto yang membanggakan ramen kesukaan nya.
Mirai memberikan buku yang hendak Naruto pinjam. Dan diterima oleh Naruto.
" Hah. memang tak ada makanan yang lain selain ramen. " Mirai menghela napas dengan apa yang didengarnya dari mulut bocah berambut hitam itu.
" Tak ada. Ramen yang paling enak. Ya sudah,baa-san aku pergi dulu,dan terima kasih . " ucap Naruto dengan senyum yang menawan diperlihatkan pada Mirai lalu meninggalkan perpustakaan.
" anak itu. Kamu anak baik dan sabar, Naruto." batin Mirai yang melihat punggung Naruto yang telah pergi.
Naruto berjalan dengan santainya sambil membawa buku disebelah kanan. Jalan begitu ramai orang-orang berlalu lalang. Namun, saat Naruto melewati semua terdiam dan menatap Naruto yang sedang berjalan. Seperti biasa tatap itu menunjukan kemarahan,kebencian terhadap Naruto. Sekali lagi Naruto tetap diam dan mengumbar senyuman kepada mereka.
Dan bukannya senang orang yang melihatnya semakin menampakkan kebencian yang lebih besar.
"Cih,lihatlah. Bahkan gak tau malu."bisik warga melihat Naruto tersenyum.
Naruto hanya mengabaikan apa yang ia dengar dan terus berjalan.
Setelah beberapa menit akhirnya tiba di Ramen Ichiraku. Terlihat ada pelanggan yang sedang makan ramen disana sehingga Naruto menunggu sampai semua meninggalkan tempat. Naruto tak ingin membuat pelanggan kedai ramen itu pergi. Dengan sabar Naruto menunggu hingga benar benar kosong. Terlihat sudah tidak ada pelanggan Naruto melangkah ke kedai Ichiraku dan segera duduk .
" Eh, Naruto. " Ucap seorang gadis yang menunggu kedai yang kaget saat ia sedang membersihkan meja.
" Ayame-nee ramen porsi jumbo 1. "
" Oke,tunggu sebentar yaa." Ucap Ayame segera ke belakang untuk membuat ramen dan ayahnya menggantikan Ayame di depan.
" Naruto, makan siang?" tanya seorang paman yang di kenalnya .
" Iya,Teuchi-jiisan." jawab singkat Naruto.
Teuchi-jiisan berbincang bincang dengan Naruto mengenai berbagai hal. Bahkan ia menceritakan Ayame-nee saat masih kecil. Dan membuat Naruto tertawa. Setelah beberapa saat Ayame membawa 1 porsi jumbo Ramen tentu dengan naruto nya.
" Ini, ramen nya." Ucap Ayame menyodorkan ramen di depan Naruto.
" Itadakimasu." Ucap Naruto yang segera menyantap ramen yang ada di hadapannya.
" Tadi Ayame denger kalian ketawa, lagi ngobrol apaan?. tanya Ayame-nee kepada ayahnya dan Naruto. Namun tal di jawab oleh keduanya. Ayame melihat ayahnya mengerlingkan mata ke arah Naruto. Dan Naruto mengangguk, Ayame melihatnya dan Ayame ingin tahu apa yang di bicarakan oleh ayahnya dengan Naruto.
" Ne, Naru-to-kun apa yang ayah ceritakan kepadamu Naru-to-kun." ancam Ayame dengan nada penuh penekanan nan lembut namun menakutkan hingga membuat Naruto dengan susah payah menelan Ramen yang ada di mulutnya.
GULP
Naruto menelan ramennya dengan susahnya dan melihat Ayame-nee seperti singa yang hendak menerkam mangsanya. Teuchi melihat Naruto yang kesusahan menelan ramen pun mengambil inisiatif.
" Ayame,sudahlah sudahlah jangan seperti itu. Lihat Naruto ketakutan." pinta Teuchi supaya Ayame untuk tidak mengganggu Naruto yang sedang makan.
Sebenarnya Naruto bukan takut melainkan ia ingat dengan ibunya yang kalo sedang marah seperti Ayame saat ini. Tanpa Naruto sadari ia meneteskan airmata. Teuchi yang melihat Naruto menangis segera melihat kearah Ayame seolah olah mengatakan " gara gara kamu ayame ". Ayame yang tahu maksud ayahnya segera tidak membuat wajah marahnya itu.
" Kamu gak papa,Naruto. " tanya Ayame
" Emm." jawab Naruto sambil mengelap air yang keluar dari matanya.
Ayame segera memeluk Naruto walau terhalang oleh meja sehingga hanya bagian kepala saja yang dipeluk Ayame. Setelah melihat Naruto sudah agak membaik Ayame melepaskan pelukannya.
" Makasih nee-san. " ucap Naruto kepada Ayame dengan wajah yang jauh lebih baik.
" Tentu,Naruto. Tapi kenapa kamu nangis Naruto?." tanya Ayame perihal Naruto menangis saat ia marah.
" Ah, tidak ada apa-apa." jawab Naruto dengan ragu - ragu yang membuat Ayame dan Teuchi jiisan bingung. Dengan cepat Teuchi jiisan menatap ke arah anaknya yang berada di samping kirinya seolah " sepertinya tentang keluarganya " . Ayame yang mengerti maksud ayahnya dengan segera.
" Apa enak Ramen buatan Nee-san, Naruto?" tanya Ayame yang mengalihkan pembicaraan yang menguras emosi Naruto itu.
" Enak, Nee-san." jawab Naruto dengan wajah yang kembali seperti semula.
" Habiskan Naruto supaya kau tumbuh besar. " Ayame menyemangati Naruto supaya menghabiskan ramen nya itu.
Selang beberapa menit Naruto telah menghabiskan ramen dengan cepat sampai sampai ia meminum kuah ramen dengan meneguknya dari mangkok yang ukurannya besar sekali.
"Ahh, Kenyangnya." ucap Naruto sambil meletakkan mangkok nya pelan pelan.
Ayame-nee dan Teuchi jiisan hanya menggelengkan kepala melihat Naruto makan dengan lahap dan terukir senyuman di wajah mereka.
KEDIAMAN YONDAIME HOKAGE
Terlihat seorang wanita sedang berada di dapur. Ia nampaknya sedang menyiapkan makanan untuk keluarganya. Dengan cepat wanita itu menyelesaikan masakannya dan menghidangkan di atas meja. Semua telah tertata rapi si ruang makan keluarga. Dan ia melepas apron yang di kenakan di badannya dan memanggil anak dan suaminya.
" Menma,Minato, istirahat dulu dan makan siang. " teriak wanita a.k.a Kushina.Di halaman belakang terdapat dua orang yaitu sang Ayah Minato dan anaknya Menma yang sedang latihan terpaksa menghentikan latihan mereka.
" Sepertinya kita harus istirahat dulu. Kamu tau kan bila ibumu marah." bujuk Minato kepada Menma yang ingin latihan terus bersama Minato. Mendengar hal itu Menma pun takut jika Ibu nya marah sangat menakutkan.
"Hai,tou-san." jawab Menma yang di tuntun oleh ayahnya masuk ke dalam rumah.
Minato dan Menma segera mencuci tangan mereka di westafel yang berada di dapur. Minato dan Menma segera menuju meja makan. Terlihat berbagai makanan di atas sana. Apalagi Menma melihat makanan kesukaannya.
" Kaa-chan memang terbaik. Kaa-chan tau aja kalo Menma pengen makan dango." tutur Menma dengan cepat memposisikan duduk yang di bantu oleh ayahnya. Kushina dan Minato duduk bersebelahan sedangkan Menma duduk dihadapan mereka. Kushina mengambilkan Minato dan Menma nasi.
Dan Minato memimpin doa dan segera mereka makan.
" Itadakimasu." ucap Menma agak keras saat mengucapkannya.
Minato dan Kushina mengukir senyuman di wajah mereka saat melihat Menma makan dengan lahapnya.
" Pelan-pelan Menma nanti tersedak." suruh Kushina kepada Menma.Namun tak diindahkan oleh Menma dan akhirnya tersedak.
" Uhuk-uhuk." Menma terbatuk- batuk karena tersedak nasi. Kushina segera menuangkan air minum kegelas Menma.
" Di minum Menma." ucap Kushina.
Menma segera minum.
" Ne,tou-chan. Nanti latihan lagi ya." pinta Menma kepada ayahnya.
" Sepertinya gak bisa. Mungkin kamu latihan sama Tsunade baa-san gimana?" ucap Minato kepada anaknya yang meminta untuk latihan lagi.
" Aku gak mau sama Tsunade baa-chan." tolak Menma.
" Kenapa?" tanya Minato
" Tsunade baa-chan galak." jawab Menma agak ketus.
" Haha, benarkah.? tapi katanya kamu mau jadi hokage seperti ayah? " tanya Minato .
" Iya,aku akan melampaui tou-chan lihat saja." jawab Menma lalu memasukan makanan kedalam mulutnya.
Kushina sedari tadi melihat keakraban antara anak dan suaminya hanya dapat mengukir senyuman di wajahnya.
Setelah beberapa menit acara makan bersama mereka selesai. Senju Tsunade pun sudah berada di rumah mereka.
" Baiklah,tou-chan berangkat dulu." ucap Minato berpamitan kepada Menma.
"Tsunade-hime,saya berangkat dulu. Titip anak saya Tsunade-sensei."Pinta Minato kepada Tsunade-hime untuk melatih Menma mengontrol cakra miliknya yang besar.
Tsunade menyeringai menatap Menma yang membuat Menma ketakutan hingga berlindung di balik badan ibunya.
"Astaga,apa benar Tsunade-hime masih marah gara-gara masalah itu?" pikir Minato yang melihat seringaian guru dari anaknya.
FLASHBACK
Di sebuah tempat perjudian yang ramai karena adanya seorang pecandu judi yang dikenal Legenda kalah judi. Sudah jelas bahwa mereka mengambil keuntungan dengan adanya Tsunade di tempat itu. Walaupun kalah terus tetap aja melanjutkannya karena sudah hobi dan kecanduannya kepada judi.
Tiba-tiba muncul sekelompok anbu konoha yang muncul di hadapan Tsunade yang sedang mabuk dan di samping nya ada seseorang yang merupakan muridnya yaitu Shizune. Tsunade yang melihat sekelompok anbu tersebut .
" Ada apa kalian kemari? " tanya Tsunade langsung.
"Maaf,Tsunade-hime anda diharap untuk kembali ke konoha." ucap seorang anbu.
"Ada apa aku di suruh kembali ke konoha?" tanya Tsunade lagi.
" Anda di harapkan di konoha untuk menjadi guru dari Menma-sama."jawab anbu itu lagi.
"Menma, aku tidak mau. Dia bukan anakku. Kan Minato sama Kushina orang tuanya kenapa bukan mereka saja,atau Jiraya?. jawab Tsunade-hime yang menaikkan suaranya.
" Karena anda yang berkompeten dalam hal kontrol cakra." ucap anbu itu lagi.
"Tetap saja aku tidak mau titik. Cepat pergi." suruh Tsunade-hime penuh penekanan.
" Astaga, sepertinya harus dengan cara kasar. Maafkan saya Tsunade-hime ini perintah Yondaime hokage." ucap captain anbu itu.
Kemudian anbu itu memukul tengkuk Tsunade-hime yang membuat ia pingsan.Tiba-tiba saat bangun Tsunade sudah ada di rumah sakit konoha.
END FLASHBACK
"Hah, Ya sudah aku berangkat dulu Kushina." Minato hanya dapat menghela nafas.
"Semangat,Minato." ucap Kushina yang mengerti apa yang terjadi.
Minato segera pergi dalam kilatan kuning.
KANTOR HOKAGE
Kini terlihat seorang kakek-kakek sedang duduk di kursi hokage yang berkutat dengan lembaran-lembaran laknat yang tertumpuk secara indahnya hingga menutupi seluruh permukaan meja.
" Astaga, ini benar-benar merepotkan. " kakek itu yang di ketahui Sandaime hokage.
"Ini tidak bisa dibiarkan bila Minato tidak segera datang aku akan kehilangan waktu bersama Mari-chan." pikir Sandaime Hokage. "Mari-chan tunggu aku."lanjut Sang hokage ketiga segera menandatangani tumpukan itu yang ternyata arsip yang harus di tandatangani Minato.
Puft
Muncul kepulan asap didepannya yang ternyata anbu bertopeng Neko.
"Oh,Neko. Ada apa?" tanya Sang hokage.
"Saya melaporkan misi saya." jawab Sang Neko.
" Ada perkembangan apa dengan Naruto.?" tanya Sang hokage.
"Saya melihat Naruto masih di benci oleh warga. Dan saya melihat Naruto makan ramen,entah kenapa Naruto menangis." belum selesai bercerita sang Hokage memotong
" Menangis? " potong sang Hokage.
"Hai , saya kurang tahu apa yang menyebabkan dia menangis, tapi setelah itu ia gembira lagi." lanjut sang Anbu.
" Naruto, syukurlah masih ada yang sayang padamu, mudah-mudahan itu bisa menyembuhkan rasa sakitmu."batin sang Hokage yang sangat miris dengan keadaan Naruto sekarang ini.
" Terima kasih,kau boleh pergi." ucap sang hokage ketiga.
Sang anbu Neko segera pergi via shunshin meninggalkan Hiruzen Sarutobi sang hokage ketiga sendirian.
Setelah kepergian Anbu Neko muncul kilatan kuning di hadapannya a.k.a Minato.
" Minato,kau bikin aku kaget." ujar Hiruzen kepada Minato yang sudah berdiri di hadapannya.
" Maaf,Sandaime sama." ucap Minato sambil melangkah menuju meja Hokage
" Akhirnya, terbebas dari kutukan kebosanan.Aku pergi dulu." ucap Sandaime hokage.
Minato yang melihat hal itu hanya bisa berswetdrop ria.Dan ia duduk di kursi hokage. Minato melihat tumpukan kertas yang tersusun rapi hanya bisa menghela napas dan berkata " Selamat datang kebosanan".
BACK TO RAMEN ICHIRAKU
Setelah selesai makan Naruto ingin membantu menyuci gerabah(astaga author bingung dengan yg satu ini) namun tidak di perbolehkan oleh Ayame dan Teuchi-jiisan. Naruto tetap memaksa karena ia tidak boleh.
" Ayolah,paman. Aku ingin membantu." pinta Naruto yang membawa mangkok miliknya.
"Baiklah. Tapi hanya sekali ini saja."ucap Teuchi-jiisan yang di akhiri helaan nafas.
" Emm." Naruto menjawab dengan singkat dan anggukan kepala pelan.
Naruto segera menuju kebelakang untuk mencuci mangkuk-mangkuk kosong yang terlihat menumpuk. Dengan ligat ia mencuci mangkuk-mangkuk tersebut lalu menyusunnya. Dengan susah payah ia mengangkat mangkuk-mangkuk yang ukurannya lebih besar dari telapak tangannya. Dengan hati hati ia menyusunnya dengan rapi. Ayame melihat Naruto dengan susah payah mengangkat mangkuk-mangkuk itu dengan perlahan membuat Ayame hanya dapat tersenyum miris melihat Naruto menghadapi hidup yang tak sebahagia saat ia tersenyum tulus kepadanya. Ayame meneteskan air mata tatkala merasa beruntung masih ada orang tuanya yang menyayanginya.
Ayame masih mengingatnya saat Naruto pertama kali di temukan sedang menangis di depan kedai mereka.Mengingatnya saja membuat Ayame kembali meneteskan air mata. "Apa salahku?","Kenapa semua orang membenciku","Kenapa mereka menyebutku Monster?, saat itu ia hanya dapat memeluknya.
Kini Naruto sudah menyelesaikan mencuci piringnya. Dan menghampiri ayahnya yang berada di depan melayani pelanggan melewati Ayame. Yang membuat lamunannya pecah.
" Jii-san,aku sudah selesai mencuci piringnya." ucap Naruto yang tampak kelelahan.
" Terima kasih,Naruto." sahut Teuchi yang sedang mengambil sesuatu.
" Sama-sama,Jiisan." Naruto melangkah keluar kedai ia hendak pulang. " Aku mau pulang dulu,Jiisan." ucap Naruto yang sudah berada di depan kedai mengmbil buku yang ia pinjam dari perpustakaan. Saat hendak akan pergi Ayame-nee keluar kedai dan menghentikan langkah Naruto.
" Tunggu,Naruto." panggil Ayame yang hendak memberikan sesuatu kepada Naruto.
" Ada apa,Neesan?" tanya Naruto melihat Ayame sudah ada di sampingnya.
" Ini untukmu,Naruto." Ayame menyodorkan sebuah buku.
" Buku?" tanya Naruto bingung.
"Karena kamu suka baca buku aku kasih buku aja." ucap Ayame menjawab kebingungan Naruto.
"Terima kasih,Nee-san." ucap Naruto yang sendu serasa ingin menangis namun ia tahan sekuat tenaga.
"Sama-sama,Naruto" balas Ayame dengan senyuman
" Aku pulang dulu Jiisan,Ayame-neesan."
Naruto perpamitan pulang.
"Hati-hati,dijalan Naruto" ucap Teuchi-Jiisan.
"Iya,Jii-san."balas Naruto yang sudah agak jauh dari kedai dan melambaikan tangan dan dibalas lambaian tangan Ayame.
Naruto berjalan melalui beberapa toko yang sudah tutup. Hanya lampu-lampu yang menghiasi jalanan yang masih rame dengan kegiatan warga yang berlalu lalang. Naruto melihat pemandangan yang menyenangkan dihati hingga akhirnya telah sampai di kediaman hokage ke empat.
" Tadaima." ucap Naruto membuka pintu.
Tak ada jawaban dari kedua orang tuanya.Lalu ia berjalan menuju kamarnya. Ia melihat kedua orang tuanya bersama Menma sedang makan.
" Darimana kamu,Naruto?"tanya Ayahnya a.k.a Minato.
" Makan,tousan" jawab Naruto.
" Makan diluar. Apa kamu gak suka makanan dirumah? tanya Minato.
" Ie. aku hanya ingin makan diluar" jawab Naruto yang menutupi apa yang terjadi.
" Apa kamu gak suka masakan Kaa-san!" bentak seseorang a.k.a Kushina
" alasan kamu. mulai sekarang kamu makan di luar, ingat itu." Tutur Kushina yang membuat Naruto menundukkan kepala.
"Hai." kata itu yang bisa dilontarkan oleh Naruto.
Menma yang melihat Naruto tertawa dengan keras. Naruto langsung menuju kamar yang berada di lantai dua.
Naruto segera masuk kekamar dan mengunci kamarnya.Naruto segera terduduk lemas dibalik pintu kamarnya.
Naruto hanya dapat menangis tersendu-sendu.
. " Kamu harus kuat Naruto tunggulah sebentar lagi,kamu akan mengetahui kebenaran yang sebenarnya." ucap seseorang. " Tunggulah Kami" lanjutnya
TBCTHANK'S FOR REVIEWMaaf mungkin buat ide yang pasaran. Hah,bahkan ff ku ini masih kalah jauh dari yang lain. Sekali lagi maaf.Yah memang mimpi petapa katak buatan author.hehehe belum kenalan ya.Salam kenal.