Waii.. Waii..

Ketemu lagi dengan Momo.. (Nunduk-nunduk kasih salam)

Ma'af Momo apdetnya lama.. Berhubung Momo selalu lupa bawa flashdish kalo ke warnet.. hehe.. *digampar massa*

Di chap ini nuansa Romancenya emang kurang... Ma'af benget.. Terutama buat para senpai yang minta Sasusaku & Naruhinanya dibanyakin..

Ma'aaf sangaaaat.. huhuhu.. (nangis nyembah-nyembah)

Mungkin di chap ini Momo pingin nglihatin hubungannya Neji dan Tenten..

Nah.. ini diaa..


Disclaimer: punyanya Mashashi Kishimoto-sensei.


Summary:

Saat Naruto yakin gadis itu tertidur, ia memutuskan untuk pergi. Tapi Gadis itu menarik tangan Naruto dan berkata pelan.

"Berjanjilah.."



Naruto berhasil sampai di rumahnya dengan selamat. Tanpa kejaran Polisi. Ia segera masuk, lalu pergi ke ruang bawah tanahnya yang selama ini menjadi 'markas'nya selama ini.

Naruto sampai di depan lift yang tak terlihat karena didesain sebagai lemari. Ia memencet beberapa ukiran di lemari yang ternyata adalah tombol.

DZIIING…

Bunyi lift yang turun beberapa tingkat ke bawah.

Saat pintu Lift terbuka Naruto melihat Sasuke sedang duduk di sofa yang ada di situ. Wajahnya mebelakangi Naruto. Jadi wajahnya tak terlihat (iyalah..)

"Hei, Sassu.. Kau cepat sekali sudah sampai duluan" Kata Naruto menepuk pundak Sasuke.. Tapi Sasuke tidak menjawab. Ia hanya diam. Naruto curiga. Maka ia berputar arah menghadap Sasuke..

"Hah? Kau kenapa Sasuke.. ada apa dengan wajahmu? Kenapa Topengmu retak? " Kata Naruto yang kini sedang jongkok menatap Sasuke yang sedang menutupi wajahnya dengan tangan.

"Ti-tidak apa-apa.. Sudahlah! Urus urusanmun sendiri!" Sasuke menlambaikan tangannya mengusir Naruto.

"Haha.. Malah membuatku penasaran!" Naruto tersenyum jahil. Naruto lalu menarik tangan Sasuke. Awalnya Sasuke berontak. Tapi akhirnya ia menyerah. Wajahnya terlihat seutuhnya sekarang.

"Hee..? Kenapa wajahmu merah sekali Sasuke? Kau sakit? Lalu luka di ujung bibirmu itu kenapa? Jangan-jangan kau.." mata Naruto menerawang seakan sedang mengkhayal sesuatu.

"Jangan-jangan apa?" Sasuke melihat seutas senyum jahil di wajah Naruto. Wah.. Nggak bener ini..

"Jangan-jangan kau stress karena tidak pernah punya pacar.. Lalu akhirnya kau memutuskan aspal sebagai korban ciuman pertamamu. Tapi karena merasa gila, kau menjedotkan* kepalamu ke tembok karena menyesal." Naruto tersenyum iseng..

SIIING…

Hening.. selama 10 detik tidak ada yang berkomentar.

JGLEERR!! PRANG!! BRUAK!!

Tiba-tiba Naruto berada di pose yang tidak jelas.

Ia terkapar dengan wajah babak belur. Kaki dan tangannya telentang* di tembok. Beberapa kaca pecah terkena getaran dahsyat akibat bantingan Sasuke pada Naruto. Tembok retak-retak. Suasana kacau. Sasuke benar-benar emosi pada Naruto.

"Ma-ma-afkan a-aku Sasuke-sama. A—aku ha-nnya bercanda" Naruto merintih kesakitan.

Beberapa menit kemudian.. Luka-luka Naruto sudah diobati..

"Hey, Naruto.." Kata Sasuke..

"Apa..?" Jawab Naruto malas.

"Ada 2 hal yang ingin kusampaikan padamu.." Sasuke menatap lurus mata Naruto.

"Apa? Ingatlah aku ogah pacaran denganmu ya!" (*Author digampar SasuNaru fc. *Minta ma'af nyembah-nyembah*) "Eits! Aku hanya bercanda Sasuke! Aku tidak mau dihajar lagi!" Naruto segera meralat perkataannya ketika melihat kepalan tangan Sasuke hendak melayang lagi.

"Apa yang mau kau sampaikan?" Naruto tertarik mendengarkan Sasuke.

" 1. Aku masih bingung siapa 'Bos Besar' yang menjadi atasan Neji Hyuuga dan gadis cepol itu. Sepertinya 'Bos' itu tahu semua gerak-gerik kita. Setiap kita akan mencuri, pasti ada Polisi. Padahal kita tidak pernah mengirimkan surat ancaman sama sekali. Tidak seperti Jack and Queen*."

"Hmm.. sebenarnya aku juga penasaran, Sasuke. Kenapa selalu ada Polisi dan selalu ada duo Detektif dan Ispektur itu. Tapi yasudahlah.. toh, saat kita menemukan batu bulan yang asli kita tidak perlu berhadapan dengan mereka lagi." Naruto berkata sambil merogoh sakunya. Mengambil batu yang mereka curi.

"Jadi batu ini bukan batu yang kita cari?" Sasuke mengambil batu kristal itu dari tangan Naruto.

"Yah.. Sebenarnya sangat mirip. Tapi ukiran sebelah sini sangat berbeda" Naruto menunjuk daerah yang ia maksud.

"Ooh.. Yasudah. Berarti, besok giliranmu mengembalikannya ke Museum. Kemarin sudah aku." Sasuke mengembalikan batu itu ke tangan Naruto. Naruto mengangguk dan memutuskan untuk segera pulang. Tapi niatnya terhenti

"Aku mau tidur dulu. E—eh.. aku lupa. Hal kedua yang ingin ka sampaikan padaku apa?" Naruto berbalik ke arah Sasuke. Wajah Sasuke kembali bersemu merah. Tapi kali ini Sasuke terkekeh sambil menerawang meja. Mengingat kejadian tadi.

"Hehe.. Tidak. Sebenarnya saat kau bilang kata mencium, aspal dan tembok itu tidak sepenuhnya salah." Sasuke kembali terkekeh. Sedagkan Naruto tiba-tiba kehilangan kantuknya dan berjalan cepat mendekati Sasuke.

"HAH?! Sebenarnya apa yang kau lakukan tadi?!" Naruto jongkok persis di depan wajah Sasuke. Membuat Sasuke risih. Sampai-sampai Sasuke bisa menghirup wangi tubuh Naruto, yang baunya ia kenal.

"Hei! Menyingkirlah! Ini bukan urusanmu! Tapi baumu ini.. Seperti bau rumah sakit. Tadi kau kabur ke situ?" Sasuke kembali menghirp aroma obat dari badan Naruto.

Mendadak Naruto berdiri. Membuat Sasuke harus mundur dari kursinya, jika tidak mau terlempar. Naruto berjalan cepat mendekati pintu. Sasuke bisa melihat kuping Naruto yang merah.

Ada apa ini..? Pikir Sasuke.

Naruto memencet tombol lift lalu masuk ke dalamnya. Saat Naruto masuk ia menatap Sasuke. Pintu lift masih terbuka. Dengan wajah merah dan pose garuk-garuk-kepala-padahal-nggak-gatal andalannya, ia berkata,

"Tadi aku habis jadi malaikat!" Naruto nyengir. Lalu pintu lift tertutup. Meninggalkan Sasuke di situ.

Sementara Naruto naik ke atas—Sisi Sasuke..

Heh,aku tahu kalau si Naruto itu pasti habis ketemu cewek. Pikir Sasuke.

Sasuke jadi teringat gadis rambut pink yang ditemuinya. Ia ingin menemui gadis itu sekali lagi. Ada perasaan aneh yang menghantuinya.

WHAT..?!

Nggak boleh! Nggak boleh Sasuke! Mana mungkin kamu jatuh cinta pada gadis cerewet macam itu?! Nggak boleh Sasuke! Jangan! (A/N: Sama aku aja.. *Author dibakar*) Pikir Sasuke menampik perasaan aneh itu.

Tapi Sasuke tidak bisa menampik perasaan aneh itu. Sasuke lalu terdiam sejenak. Berpikir. Kalau tidak salah, jalan saat ia bertemu gadis itu adalah Jalan Sakura. Berarti..

"Argh..! Aku tidak tahu persaan apa ini! Tapi aku akan melewati jalan itu setiap hari. Tapi bukan karena gadis itu! Aku hanya akan berbelanja di Toko Swalayan di situ!" Sasuke bergumam sendiri bagai orang gila. Mungkin kalau diandaikan computer. Sasuke sedang hank.

Sementara itu.. Naruto di dalam lift..

Kira-kira siapa gadis itu ya? ..pikir Naruto. Ia pun menflashback kejadian beberapa detik sebelum Neji masuk.

—FLASHBACK—

Apa yang Ia lakukan!?

Walaupun Naruto panik, ia tidak ingin merusak momen ini. Setelah Naruto mengecup kening gadis mata Lavender itu, ia mendekatkan bibirnya di dekat telinga gadis itu dan berbisik dengan lembut,

"Tidurlah, malaikat yang asli.." Naruto berbisik sangat halus, sehingga hanya gadis Lavender itu saja yang dapat mendengarnya.

Perlahan Naruto membaringkan gadis itu. Dan mengecup lagi keningnya. Sementara mata gadis itu masih terus menatap mata biru Naruto.

Masih tanpa ekspresi.

Kemudian Naruto menutup mata gadis Lavender itu, membuat gadis itu terpakasa menutup matanya. Naruto kembali membisikkan sesuatu di telinga gadis mata Lavender itu. Dan hal yang dibisikkan Naruto itu meyakinkan gadis itu untuk tidur lelap.

Saat Naruto yakin gadis itu tertidur, ia memutuskan untuk pergi. Tapi Gadis itu menarik tangan Naruto dan berkata pelan.

"Berjanjilah.."

Naruto tersenyum mendengar hal itu. Ia menepuk kepala gadis itu dan menuju ke jendela. Ia dengan sigap menutup jendela itu dan segera pergi dari situ. Tapi sebelum Naruto pergi, ia mendengar bunyi dobrakkan pintu yang keras dari arah kamar itu.

'Polisi..' pikirnya.

—END OF FLASH BACK—

Naruto terkekeh sendiri mengngat kejadian itu. Ia sudah berjanji pada gadis itu dan ia telah bertekad untuk menepatinya.

Sementara itu.. Di kantor pusat kepolisian Konoha.. Neji dan Tenten dipanggil ke kantor Boss Besar. Begitu juga dengan pria berambut panjang berwarna cokelat pasir yang dikucir menjadi satu, yang dari tadi memarahi mereka..

"Apa-apa'an kalian ini?! Menangkap dua orang pencuri saja tidak becus!" Kata seorang dengan rambut dikucir satu.

"Ma'afkan kami Deidara-senpai. Tapi mereka sangat cepat. Kami tidak bisa mengejarnya." Kata Tenten kepada pria yang disebut Deidara tadi

"Dan kau juga Neji! Gayamu saja yang sok menangkap maling saja tidak benar!" Deira kini menatap Neji. Tapi Neji hanya membalasnya dengan aura gelap yang muncul darinya. Disusul dengan tatapan yang menyerupai Byakugan. Sangat tajam sampai menembus tulang.

"Sudahlah Dei." Seorang dengan rambut putih jabrik masuk ke ruangan itu. Mulai dari bawah mata, hidung sampai mulutnya tertutup semacam masker. Juga mata kirinya. Tertutup dengan penutup mata seperti yang dipakai para bajak laut. Ia memakai setelan tuxedo hitam dengan dasi putih yang warnanya sangat menonjol.

Kedatangan pria ini membuat seisi ruangan hening lalu menunduk dan membei salam

"Selamat malam Bos Besar!"

"Hm.. Selamat malam semua. Neji, Tenten, aku dengar kalian gagal menangkap pencuri topeng Bulan-Matahari. Benar itu?" Mata si Bos Besar menap Neji dan Tenten.

"Ma'afkan kami, Boss Besar. Kami gagal." Tenten membungkuk 95o. Semenara Si Boss Besar tanpa ekspresi, menatap Neji.

"Kami minta ma'af. Tapi aku berjanji aku akan menangkap mereka di kesempatan lain!" Neji berkata sungguh-sungguh. Matanya menatap lurus Boss-nya.

"Hm.. Lalu kau sedang apa di sini Dei? Bagaimana perkebanganmu dengan Jack and Queen? Aku dengar kau berhasil menangkap mereka."

"Tentu saja aku berhasil Bos. Tidak seperti mereka ini yang selalu ga—"

"Dan aku baru saja mendapat laporan bahwa mereka baru saja kabur saat kau mengejek juniormu di ruanganku."

Neji tersenyum tipis. Tapi dari senyumannya itu bisa diketahui bahwa is puas. Penuh kemenangan! Sedabgkan wajah Deidara memerah. Karena malu ia segera permisi untuk mengecek tahanannya. Maka suasana ruangan itu hening kembali.

"Jadi, aku dengar kau sampai mendobrak kamar adik sepupumu. Bisakah kalian melaporkan kejadian ini secara lengkap?" Si bos lalu duduk di kursinya dan menatap kedua bawahannya.

Neji menceritakan semua kejadian dengan lengkap. Begitu juga dengan Tenten.

"Ooh.. Begitu.. Yasudah, tak apa. Mereka mamang sulit ditangkap kok. Hahahahaha.." Si Bos tiba-tiba tertawa. Tenten dan Neji hanya melongo menatap sikap Bosnya yang tiba-tiba berubah.

"Haha.. Baiklah. Kalian sudah bisa pergi." Bos Besar mempersilahkan Neji dan Tenten. Neji dan Tenten mengangguk dan berjalan menuju pintu. Namun saat Neji hendak menutup pintu raut wajah si Bos Besar mendadak menjadi sangat serius.

"Neji. Aku berharap banyak padamu. Bukan untuk menangkap si Bulan dan Matahari. Tapi semua perjuanganmu."

BLAM

Pintu tertutup. Neji masih melongo di depan pintu. Bertanya-tanya apa maksud dari perkataan Bos-nya barusan.

"Hei Neji!" Tenten menepuk pundak Neji. Menyadarkan Neji dari lamunannya.

"Heh? Apa Panda?" Neji menjawab Refleks dengan sebutan favoritnya pada Tenten. Panda.

"Hentikan memanggilku seperti itu! Eh, tadi kan aku berhasil membongkar penyamaran si bulan.." ucap Tenten yang emosi namun kembali mengumbar senym lebar lagi.

"Jadi…?" Neji berkata malas.

"Berarti aku menang satu poin darimu!" Tenten berkata sambil mengepalkan kedus tangannya

"Lalu..?" Neji

"Traktir aku dong.." Tenten sekarang tersenyum manis sambil membujuk Neji. Angannya dilipat sepeti berdoa. Memohon dengan puppy eyes andalannya.

"Seenaknya saja kau. Kemarin kau belum traktir aku. Dua kali! Berarti kau yang traktir." Neji yang ingatannya masih tajam tersenyum penuh kemenangan.

"Argh.. baiklah. Tapi makan ramen saja ya.."

Akhirnya Tenten dan Neji pergi ke Ichiraku Ramen.

" Hei Neji." Kata Tenten yang sedang menyendok kuah ramen

"Hn?"

"Aku rasa kau terlalu terobsesi dengan dua pencuri itu."

Dengan cepat Neji menelan Mie di mulutnya dan menatap Tenten dengan pandangan lurus. Tenten kini bisa elihat ada aura kebencian dari pandangan mata Neji.

" Bukankah kita sudah pernah membahas ini sebelunya Tenten? Ini BUKAN-URUSANMU. Tugasmu di sini hanya untuk membantuku, walaupun sebenarnya aku tidak butuh bantuanmu. Jika kau keberatan punya seorang partner yang begitu terobsesi dengan penjahat yang dikejarnya, kau bisa menjadi partner Dei-senpai." Neji berkata tanpa melirik Tenten sedikipun.

"Kau-! Hentikan cara bicaramu yang memuakan itu Tuan Hyuuga! Apa aku pernah sekalipun berkata tidak suka menjadi partnermum Neji? Pernahkah?! Aku hanya mengkhawatirkanmu! Itu saja!" Tenten tiba-tiba berdiri dan membayar ramennya dan Neji yang belum habis. Lalu dengan cepat ia menarik kepala Neji agar wajahnya kini saling berhadapan dengan wajah Tenten. Tenten menatap mata Neji lurus-lurus dan berkata:

" Dan aku menyesal telah mengkhawatirkanmu!" Tenten melepaskan tangannya dan membiarkan Neji dalam keadaan melongo. Tenten lalu meninggalkan Neji di situ.

Neji menatap perginya Tenten. Ia tidak mengerti. Apa ada yang salah dari caranya berbicara? Neji bingung. Tenten belakangan ini berubah. Tenten menjadi lebih berani. Membuat Neji sendiri takut tersusul olehnya. Tapi.. perubahan sikap Tenten yang satu ini tidak bisa ia terima. Padahal ia sudah mengenal Tenten sejak di akademi kepolisian!


Nah.. udah deh...

Bisa nebak nggak si Bos besar itu siapa?

Nah kalau si Jack and Queen itu siapa ya?

Hehee... .si.a *ditimpuk sepatu sama readers*

Ntar Momo jelasin di chapter depan.. hehe..

Mungkin ada kata-kata yang aku Bold+Italic+Underline. Itu adalah kata-kata kunci buat endingnya entar.. hehe ^^


Saatnya balas review!! *ditabok karena alay*

Trimakasih buat para senpai dan Reviewers yang mau mengreview fictku ini (huhhuuhuuhu.. *menangis terharu*)

Chiwe-SasuSaku:

Makasih udah mau ngreview first fictnya Momo ya.. ^^

Momo juga suka Sasusaku, Momo juga suka Sasusaku..

Ma'af ya.. harus mengecewakan Chiwe... (seenaknya manggil *ditabok*).. Sasusakunya belum romantis.. huhuhu.. :'(

Di chapter depan Momo usaha'in!!! (serius.. Momo janji!) Yosh semangat membaraaa!!! *Pose Nice Guy*

Vlo uchiha:

Makasih senpai udah mau ngreview Moon Thiefnya Momo.. ^^

Aku udah usaha'in update kilat, senpai.. cuma.. lupa bawa flashdish *digetok*

HinaNia Uzu-aurora:

Salam kenal juga Nia chan! (nunduk-nunduk kasih salam)

Ma'af harus mengecewakan Nia-chan.. di sini Naruhinanya belum terlalu kerasa.. Mungkin di chapter kedepan.. *dikepruk*

Hehe..

Raiko Azawa:

Benar sekali kata senpai! Naruto emang nyuruh Hinata Bobo.. hehe..

Adegan Sasusaku keren? Wah.. jadi malu... (Ge'eR berlebihan *digetok*)

Sebenernya dulu Momo juga nggak begitu suka pair ini.. tapi jadi terpengaruh, soalnya ssuka baca fict yang pairnya ini

Di chapter depan Momo usaha'in bikin yang keren lagi..

hehe ^^

Mauka Rui:

Siap senpai! Ini udah Momo apdet.. hehe..

Mayuura:

Trimakasih Mayu-chan (seenaknya manggil *ditampol*)

Jadi tersanjung nih masuk FFN..

Hehe..

Nggak GaJe ya? Syukurlah.. huhu.. Soalnya Momo takut fict ini ngga disukai.. hehe :]

makasih uda mau di fav ^^! Momo jadi terharu.. Makin semangat lanjutin! Hehe.. Semangat membaraa!!! *pose Nice Guy*

Izumi Ully:

ao...

salam kenal..

hehe.. bagus kah? Momo jadi malu.. *Ge'eR belebayan, disiram air sama Izumi-chan*

Aku manggilnya Izumi-chan boleh?? (seenaknya *ditabok*)

Topengnya Naruto dan Sasuke memang aku sengaja buat kaya gitu (alias udah nggak kepikiran mau ngasih model gimana *Jiaah*)

Momo setuju sangat kalau Naruto itu seperti Matahari, ceria dan punya sinar tersendiri (kyaa.. *disumpel sendal*)

Aku udah terusin.. semoga Izumi-han suka.. hehe.. ^^

Nakamura Kumiko-can:

Nasib Sakura selanjutnya? Hemm.. (hehe.. tunggu di chapter depan! *sok rahasia* *digetok*) hehe ^^

Benarkah fictku bagus? Huwaah.. (meluk-meluk Kumiko-chan)

Makasih Kumiko-chan! ^^


Jangan bosan untuk mengreview ya..

Momo tunggu loh!!!

Readers: apa hakmu maksa-maksa?!

Momo: *lari gara-gara diancem pake golok*

Hehe..

Review ya..?

Arigatou..

Sessiomomo..