Jepang
Desember, 1939
"Apa tidak apa membiarkannya melakukan pelatihan ini?" tanya Kaminaga sembari mengerling ke arah laut.
Yuuki tak menjawabnya. Matanya yang dingin geming, menatap lurus didikan barunya yang berenang menuju pantai. Sakuma di sebelahnya tak berkomentar, tetapi diam-diam mengiba tanpa suara. Didikan baru D-Kikan; Taring, memang bukan sembarang orang. Namun, Sakuma tak bisa mengenyahkan fakta yang membedakan seluruh didikan sang Letnan Kolonel dengan Taring, yang membuatnya mampu bersimpati.
"Bukannya dia bisa mati?" tanya Kaminaga lagi, entah memeroleh jawab atau berusaha mengonfirmasi bahwa dugaannya bisa menjadi nyata.
Yuuki lagi-lagi tak segera menjawabnya. Pria tua itu lebih dulu mengembuskan napas tipis ke udara sebelum memvonis mutlak, "tidak ada pengistimewaan apapun baginya."
Ketiganya kembali berkawan dengan senyap. Taring telah berhasil mencapai bibir pantai, (beruntung) dengan selamat. Ia membenarkan rambutnya, kemudian memeras kemejanya yang basah. Sakuma mengalihkan fokus bola matanya, Yuuki memandanginya dingin, sedang Kaminaga bersiul jahil kala matanya sempat menangkap sekilas potongan perut si Taring. Sadar dengan apa yang tengah dilakukannya, Taring menengadah, menatap ketiga pria tersebut dan menyeringai terang-terangan.
"Kenapa? Seperti tak pernah mengintip tubuh perempuan saja. Pfft."
.
.
.
Dalam Bayang-Bayang: Sebuah Operasi Klandestin
Joker Game milik Yanagi Kouji
Saya tidak mendapat keuntungan materiil apapun dalam pembuatan fanfik ini (kecuali kepuasan batin)
Warning: OOC, typo(s), original characters, alur maju-mundur, serta kekurangan lain yang tak terjabarkan.
Hope you like it~
.
.
.
Hindia Belanda
Pertengahan Januari, 1941
Di antara kumpulan lalu lalang orang, seorang pemuda berkaus lengan pendek berjalan kikuk dengan kepala sedikit tertunduk. Matanya enggan berbagi tatap dengan orang-orang di sekitarnya, seolah tengah menyembunyikan eksistensi diri. Semakin mendekati salah satu rumah pelesir yang ia tuju, kepalanya tertoleh ke sana-sini gelisah. Begitu ia tiba, tempat itu masih segaduh biasanya. Namun, ketegangannya justru kian meningkat.
"Permisi," satu sapa singkat beserta tepukan yang mendarat di bahu mengejutkan pemuda itu hingga ke ubun-ubun. Ia sontak menolehkan, sisa guratan ketegangan masih tersisa di wajahnya kala bertatap muka dengan seorang pria berpakaian formal serba putih. Sebagai pelengkap, pria itu juga mengenakan topi berwarna senada pakaiannya dan dasi kupu-kupu berwarna kelabu. Dilihat sekilas pun, siapapun tahu ia bukan sembarang orang.
Pemuda itu kembali menemukan suaranya usai membasahi kerongkongannya. "... y- ya?"
"Ah, maaf," pria tadi menurunkan tangannya dari bahu sang pemuda, senyum ramahnya terulas terbit setelahnya. "Orang Jepang? Kurasa kau baru pertama kali berkunjung. Apa aku salah?"
Sekalipun atmosfer canggung itu sudah dipecah sang pria, pemuda itu tetap terlihat gugup. Matanya berusaha terus memandangi sepatunya, meminimalkan berbagi tatapan mata. "... ya ... begitulah. Darimana Anda—"
"Semua orang yang baru pertama kali pelesir menunjukkan gelagat yang sama," sahutnya cukup ramah. Tangannya terulur setelahnya, diikuti perkenalan singkat, "Osamu Utsumi, baru-baru ini dipercaya mengelola tempat ini."
"... Nakamura Takashi," pemuda itu menjawab agak ragu sembari menjabat tangan sang pria. "... maaf lancang, tapi, baru-baru ini?"
"Aah," pria itu menarik kembali tangannya dan mengantonginya ke dalam saku celana. "Pemilik tempat ini salah satu kenalanku. Bulan kemarin dia kembali ke Manchuria karena alasan keluarga. Aku diminta mengurusi tempat ini selama ia pulang," ceritanya.
Pemuda itu membeku sejenak, kemudian mengangguk beberapa kali. Pantas saja pemilik sebelumnya tak ada di tempat. Ia terlihat kebingungan mencari topik baru dan mengurungkan niat kala Osamu (Amari) tanpa diduga menawarkan, "bagaimana kalau minum dulu? Anggap saja sebagai perkenalan."
Nakamura tak sempat menolaknya karena sang pengelola rumah pelesir lebih gesit memintanya duduk dan memanggil salah satu pekerjanya. Pemuda itu menurut saja, duduk dan menunggu sembari tetap meminimalisir bertatapan langsung dengan Osamu. Ternyata tak begitu lama hingga salah satu pekerja sang pengelola datang.
Namun, entah bagaimana pemuda itu sedikit tergelitik. Ketika pekerja itu menuangkannya minum, kepalanya ditolehkan dan ia tertegun. Yang menuangkannya minum seorang perempuan Asia (ia yakin gadis itu juga dari Jepang, sama sepertinya). Tubuhnya yang termasuk kurus berbalut kimono (1) merah marun. Rambutnya berwarna cokelat gelap, disanggul sederhana tanpa dihiasi apapun selain tusuk sanggul. Wajahnya dibiarkan tanpa riasan, begitu pula bibirnya dibiarkan polos tanpa gincu. Namun, kedua hal tersebut tak langsung menjadi kekurangan bagi sang dara.
Sadar dipandangi, gadis itu menoleh usai menuangkan minuman yang diminta Osamu. Kepalanya miring beberapa derajat, matanya yang senada dirgantara malam berpendar lugu.
"Ada yang salah, Tuan?" tanya gadis itu dalam bahasa ibunya.
Pemuda itu terkesiap, kemudian menoleh ke arah lain. "Tidak ... tidak. Maafkan saya," katanya kikuk.
Gadis itu, Suzuki Miyu, masih mempertahankan posisinya. Matanya memancarkan tanya, pertanda kebingungannya belum terjawab. Bibirnya yang polos bergerak, hendak melontarkan tanya, tetapi lebih dulu disela Osamu.
"Lebih baik kau ke belakang, Miyu," ujar pria berpakaian formal serba putih itu tenang selurus ia meraih gelasnya. "Dan jangan mengindahkan tamu yang menggodamu," tambahnya lagi.
Gadis itu sesaat terlihat merona, kemudian mengangguk patuh. Ia sempat membungkukkan tubuhnya sesaat sebelum benar-benar pergi. Pemuda tadi membiarkan, tetapi ekor matanya terus mengikuti punggung sang perempuan.
"Cantik?"
Nakamura hampir terjungkal dari tempatnya duduk, kemudian buru-buru menunduk. "Saya tidak bermaksud—"
"Jangan sungkan begitu. Jawab saja," sela sang pria sembari menyisipkan tawa bersahabat di akhir kalimatnya.
Pemuda itu perlu waktu lebih lama sebelum menjawabnya dengan anggukan. "Ya."
"Beruntung bukan?" tanya pria berjas formal itu retorik. Terdapat secuil kesombongan dalam suaranya. "Kutemukan tak sengaja. Takdir memang lucu."
Gurat ketegangan kembali muncul di raut Nakamura, tatapannya memicing entah mengapa. "Oh ... sayang sekali," responsnya dingin, menambah daftar keanehan yang timbul.
Osamu tergelak, tampak tak begitu mengacuhkan perubahan nada pemuda di depannya. "Tertarik?"
Garis-garis urat kian terlihat jelas di wajah sang pemuda. "Saya ... lebih baik saya pulang dulu," katanya. Ia langsung bangkit, melupakan gelasnya yang belum tersentuh. Pemuda itu menundukkan kepalanya sejenak pada pria di depannya dan melenggang pergi begitu saja.
Osamu (Amari) mengikuti punggung pemuda itu sesaat sebelum bangkit membawa dua gelas itu ke belakang. Ia sempat berpapasan dengan salah satu perempuan penghibur di tempat tersebut, tetapi dibiarkan begitu saja. Lagi pula, gadis itu juga terlihat sedang terburu. Begitu sampai di dapur belakang yang sepi, ia meletakkan dua gelas itu di atas kabinet dapur dan bersamaan dengan itu, sebuah celetuk ringan dengan nada feminin mengudara.
.
"Hebat sekali. Berkata seolah aku adalah 'barangmu' di depan orang-orang. Untung saja tinjuku tak langsung melayang."
.
Amari geming di tempatnya berdiri selama beberapa detik, kemudian menoleh ke asal suara. Seorang gadis dengan kimono merah marun dengan rambut disanggul sederhana tertangkap matanya. Dia gadis yang sama dengan yang sebelumnya menuangkannya minum. Bedanya, kini bibir polosnya membentuk seringai miring, sementara matanya berpendar sengit.
"Berhati-hatilah selama masih dalam penyamaranmu," celetuk Amari tenang.
"Terima kasih untuk nasihatnya, Osamu Utsumi-san," kekeh gadis itu, berkebalikan dengan sikapnya yang biasanya pemalu dan kikuk. "Tapi, aku yakin yang ada di dapur ini cuma kau dan aku. Jadi, jangan khawatir."
"Bukan tentang itu, tapi soal tinjunya."
Dara itu termangu sejenak, lalu mengalikan pandangnya ke arah lain sembari meloloskan kekeh geli yang terlampau lirih. "Harusnya aku bisa menebaknya," cetusnya.
"Terima kasih," Amari mengedipkan sebelah matanya sembari mengangkat topi. "Jadi, bagaimana kalau kau mengubah sikapmu menjadi Suzuki Miyu dan kembali bekerja, eh—"
"—Taring, oh, atau ... Miyō, kah?"
Suzuki Miyu (Miyō—nama palsu yang ia dapat dari pendiri agensi tempatnya bernaung) kian melebarkan seringai usai julukannya dilafalkan, tetapi hanya bertahan selama beberapa detik ke depan dan luntur menjadi senyum tipis. "Aku paham, aku paham, Osamu Utsumi-san—oh, maaf. Harusnya, 'Danna-sama', eh?"
Ganti Amari yang menahan tawa gelinya. "Sana pergi," suruhnya.
Miyō memejamkan matanya sejenak, lalu terkesiap seolah ia baru pertama kali menemukan Amari di sana. "M- maafkan saya, Danna-sama. Saya permisi," katanya dengan raut yang selalu ditampilkan selama ia menjadi Suzuki Miyu. Dara itu melewati Amari dengan kepala tertunduk, kemudian pergi tanpa menoleh lagi.
.
.
"Pergi dari Batavia!?" pekik seorang pria berkacamata bundar tepat di depan seorang juniornya. "Kaumau liburan sendirian!?" tudingnya langsung.
"Kerja kok! Aku disuruh meliput ke Medan dan Palembang!" bela Izawa Kazuo (Kaminaga) meski ia tak bisa menyingkirkan cengiran kegembiraan. Tiket yang dipesankan kantornya buru-buru dijejalkan ke dalam saku celana. Ditelitinya lagi barang bawaannya, kemudian menutup kopernya usai yakin tak ada yang tertinggal. "Sip! Mohon bantuannya ya, Senpai! Jangan lupa beritahu kalau ada berita panas di sini dan di kantor!" kekehnya.
"Bah! Kalau itu sih tak akan pernah habis sekalipun di sudut kota Batavia sekalipun," cetus pria berkacamata itu.
Izawa masih memamerkan cengirannya, kemudian membawa kopernya dengan sebelah tangan dan menyeletuk tanpa melirik sang rekan. "Bagaimana kabar perundingan delegasi kedua Jepang?"
Seniornya hanya mengendikkan bahu (tertangkap melalui sudut mata Kaminaga), tetapi jawaban yang setelahnya keluar dari mulutnya disuarakan dengan mantap, menambah keyakinan yang dipegang sang mata-mata.
"Alot."
.
.
Seto Reiji (Tazaki) menghela napas panjang begitu ia berhasil duduk dalam kereta menuju bagian barat Jawa. Pertunjukannya di Semarang tergolong lumayan, meski tak semua kursi penuh diduduki orang. Pria itu bisa memakluminya.
Harga tiket pertunjukannya masih tergolong mahal di kalangan rakyat biasa. Selain itu, tempat duduk mereka juga dikelompokkan sendiri-sendiri; Eropa, Tionghoa, hingga pribumi. Belum ditambah catatan bahwa penduduk lokal mendapat barisan tempat duduk yang tak strategis—ia sempat dengar letaknya di paling belakang. Beruntung, misinya tak terganggu karena itu.
Tazaki berusaha mengabaikan pemikiran itu lebih jauh karena ular besi yang ditumpanginya mendadak meniupkan peluit yang bunyinya melengking. Kursi yang didudukinya bergetar, diikuti bunyi roda besi yang menggilas rel. Bangunan stasiun berganti menjadi pemandangan alam, kebanyakan berupa sawah-sawah yang hijau disertai langit yang cerah.
Senyum tipis terkembang di bibir sang pria, menyadari bahwa perjalanannya masih panjang.
.
.
"Bagaimana di stasiun radio?" Shimano Ryousuke (Hatano) menyeletuk tanya, kemudian melempar kerling pada Morishima Kunio (Jitsui) yang tengah menyesap teh. Sudah setengah bulan mereka berada di Bandung, tetapi belum muncul kejadian menarik. Pekerjaannya di department store juga sama membosankannya, membuatnya kemalasannya meningkat.
Jitsui lebih dulu menurunkan gelasnya, kemudian menjawab. "Biasa saja. Aku sudah tahu jadwal program siaran mereka per hari. Tetapi, untuk isi dan karakteristik suara, kurasa masih perlu pengamatan lebih."
"Haaah." Hatano melipat kedua tangannya di belakang kepala. Kursinya dimainkan, digoyangkan maju-mundur. "Kenapa kita harus jadi dua bersaudara beda ibu?"
"Hatano-san keberatan dengan itu?" tanya Jitsui.
"Cuma merasa kalau seharusnya identitas 'Shimano Ryousuke' tak perlu dipakai lagi."
"Khas Hatano-san sekali."
"Kau menyindir?"
"Bukannya itu lebih mirip pujian?"
Hatano tak menanggapi lebih jauh karena malas menghinggapinya. Pemuda itu kembali duduk dan menghabiskan makan malamnya, membiarkan suara kunyahan menggantikan perdebatan mereka. Jitsui pun sama, memilih menyingkirkan konversasi mereka sebelumnya seolah mereka sejak tadi hanya diam dan menikmati makan.
"Oh, Hatano-san," Jitsui memanggil tiba-tiba, teringat sesuatu.
"Apa?"
"Sudah punya rencana untuk pabrik?"
"Masih kupikirkan. Paling sisanya bakal diselesaikan sama orang itu."
.
.
.
Jepang
Pertengahan Oktober, 1939
"Mana yang lebih baik; menjadi singa atau rubah?"
Miyō mengerjap sejenak kala pertanyaan itu terlontar dari bibir Jitsui di tengah pelajarannya. "Kukira kita sedang belajar bahasa Italia. Kenapa jadi membahas The Prince?"
"Anggap saja intermeso," ujar Jitsui dengan senyum tipis terkembang di bibir. "Jawabanmu?"
Miyō terdiam, berpikir barangkali Jitsui kebetulan teringat Niccolo Machiavelli yang besar di Florence sebelum memikirkan jawabannya. "Seorang raja—seorang pemimpin—harus menjadi rubah dan singa; sebab singa tak dapat membela diri terhadap perangkap dan rubah tak bisa membela diri terhadap serigala." (2)
Jeda tarikan napas dan pria muda itu menyambung kembali kalimatnya. "Karena itu orang harus bersikap seperti rubah untuk mengetahui adanya perangkap dan seperti singa untuk menakuti serigala." (3)
"Heee ..." Miyō memangku pipinya dengan sebelah tangannya yang kosong, lalu menatap Jitsui setengah tak minat. "Tumben. Kenapa Jitsui-san mendadak mengungkit hal begini?" tanya gadis itu setengah curiga.
Tak segera dijawab oleh yang bersangkutan. Diam-diam, Jitsui meneliti dara di depannya, bertaruh pasti dahi sang gadis yang tertutup poni tengah mengerut—sayang gadis itu tak sedang menata poninya hingga mirip orang itu. Namun, hal yang tak bisa lepas dari pandangan Jitsui adalah mata gadis itu. Sepasang netra jelaga itu tengah menudingnya, seolah menuduh sang pria bahwa perkataan itu adalah bagian dari teka-teki.
"Cuma memberimu motivasi kecil," sahut pria itu tenang, setelah cukup lama membiarkan senyap mengawang. "Tapi, kurasa kau tak akan peduli. Toh, tujuanmu ada di sini adalah motivasi terbesarmu, kan?"
"Hmm ..." Miyō mengelus dagunya, kemudian memejamkan matanya sehingga ia tampak berpikir keras—meski entah itu sungguhan atau hanya akting belaka. "Jadi, maksudnya, kalau tidak bisa jadi singa, aku masih bisa jadi rubah, eh? Karena meski mata-mata harus mampu menaklukkan lawan, yang terpenting adalah mengelabuinya dulu, kah?" pancing gadis itu agar pengajarnya menerangkan lebih jauh.
Alih-alih mengambil umpan yang dilemparkan sang gadis, Jitsui justru berdeham, kemudian menyeletuk. "Simpulkan sendiri. Kurasa kau juga paham. Sekarang lanjutkan pelatihan bahasamu, Miyō." Itu berarti, mereka diharuskan untuk melupakan percakapan sebelumnya.
Sayang, raut wajah Miyō malah berubah datar. Ketertarikannya menurun dan matanya ganti memicing, tak puas karena pria itu tak mengambil umpannya. Jitsui perlu mengetuk meja dengan ujung pensil, lalu mengembangkan senyum iblisnya untuk melayangkan peringatan.
"Mana suaranya, hm?"
"Hiii! Ha- hai'!" Gadis itu sontak membuat gestur menghormat ala tentara, menyadari bahaya akan menghampiri jika ia tak menurut. Tangannya kembali menggerakkan pena di atas bukunya hingga teringat sesuatu. "Oh! Bukannya Jitsui-san harusnya ada di tempatnya Morishima?"
"Aah," pria berambut jelaga itu kembali mengulas senyum miring. "Aku sempat bilang akan pulang terlambat tadi."
"Heee ... naruhodo ..."
"Keberatan?"
Sang gadis sontak menggeleng. "Lebih asyik belajar dengan Jitsui-san, sih. Aku juga belum bertemu anggota yang lain—selain Amari-san dan Tazaki-san."
"Hmm, manis juga mulutmu." Ada senyum miring yang terulas di bibir Jitsui, tipis tetapi mampu menguarkan aura yang pekat. "Aku bukan pengajar yang baik hati yang bisa kausanjung seperti itu."
"Eehh? Tapi, yang lain juga bukan pengajar yang baik hati. Bagaimana dong?"
Jitsui tanpa sadar mempertahankan seringainya, puas dengan jawaban yang diberikan sang dara. "Boleh juga responsmu."
"Kan Jitsui-san yang mengajari, pfft!"
.
.
"Untuk apa Yuuki-san merekrut seorang perempuan?"
Amari menggulirkan bola matanya, melirik Sakuma yang berdiri di balik pintu kelas yang digunakan Jitsui dan Taring untuk pelatihan. Wajah tentara itu mengeras, sedang matanya memicing tajam. Entah apa yang dipikirkannya.
"Apa Sakuma-san merasa kalau Miyō tak pantas untuk pekerjaan ini?" celetuk Amari mencoba netral.
"Bukan begitu," pria berambut arang di sebelahnya mengelak, dan sebuah helaan napas keluar begitu saja. "Hanya saja ... seorang perempuan dikirim untuk pekerjaan ini ..."
Amari tertawa seadanya, entah murni karena geli atau tengah menertawakan si tentara. "Itu sih sama saja kau tak yakin dia bisa melakukan pekerjaan ini."
"Bagaimana denganmu? Kauyakin dia akan berhasil?" tanya Sakuma sembari melirik kawan bicaranya.
"Saa?" Amari mengangkat bahunya sesaat, mengulas senyum netral yang terasa misterius. Seolah ia menyimpan seribu jawaban mengapa hal ini secara ajaib dapat terjadi di D-Kikan hanya untuk dirinya seorang. "Yuuki-san sudah memikirkan ini dengan matang. Aku yakin dia tak sembarangan merekrut orang."
"Apa hubungan darahnya dengan Miyoshi bisa menjadi salah satu pertimbangannya diterima?"
"Bagaimana menurut Sakuma-san sendiri? Kalaupun kabar hubungan darahnya dengan Miyoshi benar, apa Yuuki-san akan langsung menerima Miyō dan meminta kita merahasiakan pelatihannya?" Amari melirik pria di sebelahnya sesaat sebelum kembali mengarahkan pandangannya ke dalam kelas. Senyum netral terkembang di bibir pria muda itu dan ia menyeletuk, "Sakuma-san, kaudapat salam dari dalam."
Pria berambut arang itu menoleh ke arah mata Amari tengah memandang, menemukan Miyō tengah melambaikan tangan pada mereka—padanya, seandainya Sakuma memahami itu—sembari tersenyum lebar. Jitsui sontak mengetuk meja sang dara tak sabar. Bibirnya bergerak-gerak, sepertinya (Sakuma tak terlalu bisa membaca gerakan mulutnya yang sedikit cepat, jadi ini asumsinya saja) melontarkan ancaman. Gadis itu meringis, lalu membalas ucapan pengajarnya. Sakuma bisa mengerti ucapannya karena gerakan bibirnya lebih mudah dari Jitsui; maaf, maaf, Jitsui-san.
"Dia terlihat seperti perempuan biasa," ujar Sakuma begitu Miyō kembali menekuni bukunya.
"Hanya terlihat," sahut Amari. "Dan lagi, bukannya itu bagus?"
"Maksudmu?"
"Kalau ia terlihat sebagaimana gadis pada umumnya dan bukan mata-mata dari agensi ini, berarti ia akan semakin mudah untuk menipu musuh, kan?"
(Badai akan berembus. Sebentar lagi. Dan taring eksis untuk tujuan itu.)
.
.
.
(to be continued)
.
.
.
(1) : Sebenarnya saya kurang tahu apakah pakaian yang digunakan para wanita penghibur Jepang di Hindia Belanda (lebih dikenal dengan nama Karayuki-san) benar-benar kimono atau bukan. Apalagi mengingat pakaian yang bentuknya sejenis itu punya nama lain. Tapi, karena riset saya nggak dapat hasil (bisa juga terlewat) dan cuma dapet foto-fotonya dari KITLV, jadi di sini saya sebutnya kimono ya. Monggo kalau ada yang tahu jangan sungkan beritahu saya (demi kelangsungan fanfiksi ini yang lebih baik) :"D
(2) : Buku Sang Penguasa: Surat Seorang Negarawan Kepada Pemimpin Republik yang dialihbahasakan oleh C. Woekirsasi. Versi pdf pada halaman 122. Dengan beberapa perubahan yang diperlukan untuk cerita.
(3) : Buku Sang Penguasa: Surat Seorang Negarawan Kepada Pemimpin Republik yang dialihbahasakan oleh C. Woekirsasi. Versi pdf pada halaman 123.
.
a/n: Wew, saya sendiri nggak nyangka ternyata diri ini masih mampu nulis chapter 1-nya /ngeeeng. Dan, halo lagi! Terima kasih untuk dukungan dan jejak kalian! Padahal saya yakin ini bakal ambureghul dan tidak layak baca, tapi, masih ada yang datang saya senang sekali :")) dan, yeah! Akhirnya identitas OC saya pun terkuak jadi saya akan membeberkan siapa dia :"D nama—palsu—nya Miyō; mi dari kanji utsukushii yang berarti cantik dan yō dari kanji yō (persis dengan kanji yō dari Manyōshu) yang berarti daun (ada perdebatan soal arti kanji yō tersebut, tapi saya lebih oke sama yang artinya daun). Di beberapa fic saya yang ada dia, saya suka nulisnya pake Miyo biasa (karena ō-nya estetik begitu /BUKAN) saking malesnya. Untungnya di sini tidak /dor. Sedikit spoiler, relasinya sama Miyoshi bakal jadi tujuannya masuk agensi—kalau sampai akhir nggak ada perubahan ehehe /YHA.
Terus, special thanks buat Ratio dan Ceban yang udah bantuin ngasih nama laki-laki Jepang yang eksis di chapter ini! /kirim lope-lope/ untunglah gausah lama-lama mikir nama anak cowok (apalagi saya suka begok ngasih nama /ngeeeng). Dan buat latarnya Amari, tbh aja, saya ngarang HAHAHAHAHAHHAAHAHAHAHAHAHAHAHA /usirin. Dan, ya, pelatihan Miyō ini sama kayak anak D-Kikan yang lain, cuma buat ketahanan fisik, doi agak lebih kurang (abis pelatihan renang itu juga besoknya auto sakit). Setelah pelatihan, dia mulai lumayan di tarung-tarung, thanks to Hatano dan Amari (kalo belom mah nanti dipukul sama tongkat eyang /bukangitu).
Soal bacaan, seperti janji saya, akan saya kasih tau sekarang. Tapi buku aja ya. Males euy nulis nama jurnalnya kepanjangan :(( /KAMU/ Oke! Jadi, saya pake buku-buku berikut: Japan at War: An Oral History – Haruka Taya Cook Theodore F. Cook; : Operasi Intelijen Tentara Jepang di Asia Tenggara Selama Perang Dunia ke II – Fujiwara Iwaichi; Ten Years of Japanese Burrowing in The Nederlands East Indies – Nederlands Information Bureau; Di Bawah Matahari Terbit: Sejarah Pendudukan Jepang 1942-45 – Nino Oktorino; Runtuhnya Hindia Belanda – Onghokham; Jejak Intel Jepang: Kisah Pembelotan Tomegoro Yoshizumi – Wenri Wanhar (((tbh ada buku yg saia incar tapi belum dibaca sampai detik ini hiks saia memang begok orzz /taboq)))
Kayaknya kalo diliat-liat, chapter ini masih plain banget heuheu. Dari segi misi, paling yang baru keliatan cuma Hatano sama Jitsui kayaknya ya, itu juga ngambang wwww. Maafkan kebegoan saya dalam menulis makanya jadi begini hiks orzz btw, kalau ada yang mau ditanyakan atau diulik atau apapun, jangan sungkan ditanyakan ya /o/ sekali lagi, terima kasih banyak untuk semuanya! Sampai jumpa di chapter depan!
-Salam-
Profe Fest
