MULTIVERSE LOVE
CHAPTER 1
By arelaiphy
a/n Chapter 1 is uuup fellaas! Gilak, seneng banget tau ada yang mau fic ini dilanjut. Makasih banget buat teman-teman yang udah review, bikin aku makin semangat menulis. Semoga ide ini tidak semakin absurd ya. So, memperpendek mukodimah *elaah* silahkan dibaca.
Warning : Kegajean bercokol(?) disini , but as always reading wont kill you !
Disclaimer : JK. ROWLING , aku cuma bermain dengan karakternya.
Rate : T semi M lah, buat jaga-jaga.
Enjoy!
"Dia ingat rasanya menyakitkan ketika melihat gadis itu kesakitan"
Senja mulai menurunkan magentanya, sisa-sisa sinar matahari membayang diatas danau yang membentang dibalik tembok Malfoy Manor yang megah. Seorang pemuda dengan rambut pirang platina berdiri dibalkon ruang bacanya menikmati senja yang mulai turun. Secangkir teh berada ditangan kanannya, masih mengepulkan asap tipis. Draco Malfoy dengan setelan tuksedo yang terlihat menawan menyesap tehnya perlahan. Bersamaan dengan setiap teguk teh yang melewati tenggorokannya, sedikit demi sedikit tubuhnya mulai rileks.
Draco memijit puncak hidungnya dan mendesah pelan, ada yang mengganggu pikirannya. Perlahan ia memasuki ruangan dan menghempaskan tubuh dikursi berlengan empuk didekat jendela. Matanya kemudian berhenti pada sesuatu diatas meja, buku muggle milik Daphne. Sepertinya gadis itu lupa untuk membawanya kembali. Awalnya Draco ragu namun akhirnya diambilnya juga buku yang terletak di meja samping kirinya tersebut dan membuka sampul depannya. Matanya langsung sakit saat menemukan nama pemilik buku tersebut dihalaman pertama. Hermione Jean Granger, tertulis dengan rapi disana. Yeah, siapa lagi yang bisa ia harapkan? Seharusnya dia tahu darimana semua kegilaan Daphne berasal. Ini hanya menambah sakit kepala saja, pikirnya sambil membanting buku tersebut kembali ke tempat semula. Daphne harus segera mengambil buku sialan itu jika tidak ingin melihatnya berakhir di perapian.
"Tertarik bergabung dengan klub pecinta muggle, Drake?" Daphne berdiri didepan pintu masuk dengan tangan yang disilangkan didada, bertanya dengan nada menggoda pada Draco.
"Tutup mulut, Daph. Bagus kau datang, lebih baik cepat singkirkan benda sialan ini dari ruanganku jika tak ingin melihatnya menjadi bahan bakar perapian sebentar lagi" ancamnya pada Daphne.
"Selalu berlebihan" Daphne mamutar bola matanya lalu melanjutkan "Aku hanya bercanda. Sepertinya masa PMS mu belum berakhir ya?"
Draco mendelik pada Greengras muda itu namun tak ambil pusing untuk menanggapi, dia tidak sedang dalam mood berdebat saat ini.
"Kau terlihat mengerikan, ada pesta hallowen yang kelewat cepat atau apa?" tanyanya saat melihat penampilan Daphne yang menggunakan sebuah gaun pesta berwarna merah darah.
"Berhenti menjadi menyebalkan, Draco. Dan akan kuingatkan lagi jika kau lupa, aku disini untuk makan malam. Pertemuan untuk keakraban keluarga. Kau dan Astoria. Ingat?" Daphne merasa tidak percaya sahabatnya ini bisa lupa bahkan disaat dia sudah menggunakan tuksedonya sendiri.
Draco mendesah pelan mendengar Daphne mengingatkannya kembali dengan makan malam yang sudah lama ingin ia hindari. Makan malam untuk keakraban keluarga? Menggelikan sekali mengingat peduli dengan hal-hal seperti keakraban bukanlah suatu sifat natural dalam keluarganya. Draco merasakan beban berat yang menekan pikirannya tadi kembali menyesak. Pertunangan, pernikahan, dua kata itu berputar-putar diotaknya belakangan ini, seperti bisul yang bercokol di pusat pikirannya dan mendenyut menyakitkan setiap kali ada yang menyentuh. Seorang Malfoy dan bisul? Dua kata yang sangat tidak matching sekali kan.
Draco melemaskan punggungnya dengan bersandar pada kursi, ia masih merasa pertunangan yang sedang direncanakan saat ini tidak benar. Ada bagian dari dirinya yang tidak menyukai ide itu. Perjodohan dalam sebuah keluarga darah murni bukanlah hal yang aneh, bahkan sudah seperti tradisi. Demi menjaga perasaan Ibunya, Draco berusaha terlihat sama bersemangatnya menghadapi perjodohan sialan ini. Dia tidak bisa, bukan, tidak sanggup mengecewakan ibunya dengan menolak ketika menemukan kilat bahagia dimata wanita itu saat membicarakan perjodohan dengan Astoria untuk pertama kali. Kilat bahagia yang sudah lama tak ia temukan sejak Ayahnya, Lucius Malfoy meninggal ketika perang. Semua itu menyerangnya bertubi-tubi , ditambah ada sesuatu lain yang sangat mengganggunya dan itu benar-benar gila. Ah, bisulnya tersentuh lagi, sialan.
"Kenapa kau mendesah?" Tanya Daphne heran.
"Apa? Tidak, aku tidak mendesah" elak Draco .
"Iya, kau mendesah. Dan sudah kedua kalinya dalam dua menit sejak aku mendudukan diriku disini"
"Tidak, aku hanya lelah Daph. Merlin, kau masih membaca buku itu?" Draco berusaha mengalihkan pembicaran. Daphne adalah orang yang paling dihindarinya untuk membicarakan hal ini. Ia takkan heran jika Daphne langsung mengutuknya dengan salah satu kutukan-tak-termaafkan jika tau ia tidak dengan senang hati menerima perjodohan dengan adik kecil kesayangannya.
"Lelah? Kenapa? Yeah, ini buku yang benar-benar menarik Draco, aku tak bisa berhenti membacanya" Daphne membalik halaman buku tersebut.
"Apa yang menarik tentang dunia lain yang bahkan tak bisa kita lihat?" Draco terpaksa menanggapi perkataan Daphne seakan ia tertarik dengan buku mugglenya tersebut saat tak menemukan topik lain yang mampu mengalihkan perhatian Daphne.
"Sesuatu yang tak bisa kita lihat bukan berarti tidak ada Draco. Ada banyak teori tentang dunia parallel ini. Dunia parallel tidak bisa kita lihat karena dia berada diluar horizon kita, kau tahu jika sesuatu berada diluar jarak pandang maka ia takkan bisa kau lihat tapi bukan berarti tidak ada disana" seperti yang Draco duga, Daphne sepenuhnya teralih.
"Absurd Daph, terlalu lemah" suara Draco terdengar sangsi.
"Kau tau, alam semesta ini tak terhingga luasnya. Dan mungkin saja, disaat yang sama di alam semesta ini ada jutaan galaksi seperti milik kita dimana terdapat planet-planet dan bumi yang sama, dengan orang-orang yang sama namun dalam versi yang berbeda. Kita bukan tidak bisa melihatnya Draco, hanya saja belum. Kau tau, muggle pernah terbang kebulan. Ini mirip seperti itu, saat mereka bisa menemukan sesuatu yang mampu menemukan keberadaan dunia parallel ini, saat itulah dunia tersebut masuk dalam jarak pandang" jelas Daphne.
"Aku tak peduli dengan apa yang muggle lakukan, Daphne. Jika benar seperti yang kau katakan, dan galaksi lain yang jutaan banyaknya akan ada dunia-dunia lain dengan aku-aku yang lain dan itu tak terhingga jumlahnya"
"Tepat! Kau mulai mengerti maksudku Draco. Tapi tidak semua, mungkin hanya beberapa yang sama. Banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi" Daphne menepuk kedua tangannya saat Draco mulai paham apa yang ia coba jelaskan.
"Tapi tetap saja, semua ini absurd. Ini hanya tentang teori dan teori tanpa bukti yang jelas. Dan selama mereka masih belum bisa membuktikan dunia itu ada, itu masih omong kosong bagiku. Terlebih lagi, kita membahas teori muggle disini" Draco setengah tak percaya dia bergabung dengan suatu diskusi mengenai teori muggle dengan Daphne.
"Sudah kuduga kalimat itu akan keluar dari mulutmu, muggle punya hal yang disebut ilmu pengetahuan Draco Malfoy, dan itu hampir sama menakjubkannya dengan sihir bagiku. Tapi sudahlah, aku tak tertarik membahasnya denganmu. Mengenai dunia parallel, setelah sedikit riset , aku menemukan sesuatu. Apa kau pernah mendengar Multiverse Stone?" Daphne mengucapkan dua kata terakhir dengan sedikit berbisik, membuat Draco teringat cara orang-orang menyebutkan nama Voldemort saat Sang Penguasa Kegelapan itu masih hidup.
"The Old Wanderer and Shadow Lady? Kau membaca novel gila macam itu? Kupikir buku itu sudah dilarang kementrian" Draco menaikan sebelah alisnya.
"Tak sengaja menemukannya di Perpustakaan Keluarga" Daphne mengangkat bahunya sekilas, menghindari pandangan menyelidik Draco yang kelihatan sama sekali tidak percaya dengan kata 'tak sengaja' nya.
"Ah sudahlah, tak perlu sok jadi anak baik Draco. Kita sama-sama tau kau jauh lebih parah dariku" Daphne mencibir , lalu "Apa yang kau tahu?"
"Seorang penyihir gila yang menciptakan semacam benda sihir yang bisa membawanya kealam kematian untuk menemui pacarnya yang mati, dibuat dengan membunuh lusinan orang dan menghisap jiwa mereka sampai ke tetes terakhir inti sihir yang dimilikinya. Penyihir gila ini berusaha membawa pacarnya kembali ke dunia fana dan bukannya hidup kembali, malah berubah menjadi bayangan di kegelapan, dia lalu bunuh diri dan juga berubah menjadi bayangan. Hanya saduran dan pengembangan sedikit dari dongeng tiga bersaudara, tak lebih dari cerita plagiat yang dibuat seorang psikopat" Draco mengucapkannya dengan nada mencemooh.
"Well, bagaimana jika ini bukan seperti yang tertulis di dalam cerita, dan bagaimana jika cerita ini bukan hanya cerita?" suara Daphne terdengar begitu antusias.
"Kau mulai berkhayal lagi?" Draco menggunakan nada bosan seakan berharap diskusi absurd ini segera berakhir.
"Dengarkan aku dulu, bagaimana jika novel itu diangkat dari kisah nyata Draco? Alam kematian itu bukan benar-benar alam kematian, itu adalah dimensi lain. Ada alasannya batu itu disebut Multiverse Stone kan?" Daphne masih bersikeras.
"Ada alasannya juga kenapa novel itu dilarang oleh Kementrian , Daph. Menghindari seseorang kehilangan akal sehat dan terperangkap dalam dunia khayalan sepertimu misalnya"
"Kau dan pikiran kolotmu itu membuatku muak, kau tahu?" sungut Daphne.
Draco terdiam beberapa saat, membiarkan Daphne bersungut-sungut kesal tentang "kakek tua" dan "otak kuno" atau semacamnya.
"Kau dan imajinasi mu yang kelewat liar yang membuatku mulai khawatir, kau tahu?. Serius deh Daph, kau perlu memperbaharui referensi bacaanmu. Berhenti membaca sampah tak berguna macam itu"
Daphne baru akan menjawab perkataan Draco saat sebuh bunyi 'crack' keras terdengar disebelah kirinya. Winnie, peri rumah keluarga Malfoy muncul dan langsung membungkuk sangat dalam hingga kepalanya seperti akan mencium lantai.
"Maafkan Winnie Master Draco Malfoy Sir, Winnie tidak bermaksud mengganggu Master dengan Miss Greengrass. Winnie diperintahkan oleh Master Narcissa Malfoy untuk memberi tahu jika makan malam sudah siap"
"Baik Winnie terimakasih, beritahu Mother kami akan segera datang"
Peri rumah itupun menghilang setelah kembali membungkuk seperti saat ia baru saja datang.
Here we go. Draco memasang topeng tanpa ekspresi di wajahnya seperti biasa sebelum melangkah ke ruang makan.
…
Penyihir muda itu memainkan gelas yang ia pegang, mengambil tempat duduk di sisi paling gelap ruangan dan mengacuhkan sepenuhnya kebisingan yang ada. Tempat itu hanya sebuah pub kecil di sudut Diagon Alley, bukan tempat favorit bagi seorang penyihir kaya raya sepertinya untuk menghabiskan malam. Hanya ada beberapa orang pengunjung yang menduduki kursi-kursi kayu buruk yang diletakkan bersama meja bundar yang tak kalah buruknya. Sebagian besar pengunjung pub itu adalah laki-laki, kebanyakan berperawakan kasar khas berandalan dan pemabuk. Keadaan itu sangat kontras dengan setelan Draco yang berkelas. Bar tender berwajah masam yang menyajikannya minuman melirik nyaris setiap menit, namun ia sama sekali tidak terganggu atau lebih tepatnya tidak peduli sama sekali.
Pria tersebut kembali menenggak isi gelas yang berada di tangannya untuk kesekian kali. Beberapa botol wiski api akan membantu menenangkan otak yang kacau balau, seorang teman memberitahunya ini dan ia merasa itu bukan ide yang buruk. Efek terbakar yang menyentuh lidah dan kerongkongannya bukan merupakan sensasi yang menyenangkan tapi Draco menyukainya, setidaknya mampu mengalihkan rasa sesak yang menekan dadanya.
Makan malam itu berlangsung lancar, sangat lancar. Mr. dan Mrs. Greengrass terlihat sangat terkesan padanya, dan seperti akan menikahkan putri mereka dengan Draco saat itu juga. Astoria terlihat menawan dengan gaun pesta berwarna coklat tanah berlengan terbuka, mata nya yang bulat seperti sepasang sapphire selalu mengerling padanya terpesona. Gadis itu luar biasa, bukan pilihan yang buruk untuk dijadikan istri. Putri dari keluarga darah murni yang terpandang, cerdas dan anggun. Astoria tanpa cela. Namun meski menyadari jika gadis itu nyaris sempurna, Draco menemukan dirinya sama sekali tidak tertarik. Draco mencoba membayangkan dirinya dan Astoria menghabiskan hidup bersama, menikah, memiliki anak-anak berambut pirang dan bermata biru, hidup bahagia selamanya. Well, klise memang tapi dia tak merasakan apa-apa, semuanya hampa. Ia sama sekali tak bersemangat dengan gambaran masa depan dengan Astoria.
Draco bahkan tak mengerti dengan dirinya sendiri, apa yang salah dengannya? Pria macam apa dia sampai tak tertarik dengan gadis yang nyaris seperti malaikat itu. Draco pernah berkencan, tentu saja. Ya walaupun paling lama hanya satu , dua bulan atau sekedar one night stand. Tapi, berkencan dan menikah adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Draco mendesah pelan, sepertinya mendesah sudah menjadi semacam kebiasaan akhir-akhir ini. Dan lagi-lagi, bisul sialan yang terus saja berdenyut memperburuk segalanya.
Matanya terkunci pada sebuah kotak beludru yang berada diatas meja, sebuah cincin bermata merah keunguan berada didalamnya. Batu cantik tersebut mengkilap tertimpa cahaya redup yang berasal dari lilin penerangan. Ibunya baru saja menyerahkan 'warisan keluarga' yang berharga padanya, dan sebentar lagi akan melingkari jari manis Astoria. Draco mengeram, menangkup wajah dengan kedua belah tangannya frustasi. Tak ada yang mampu menolongnya dari situasi ini, dan itu membuatnya hampir gila.
"Hai cantik, sendirian? Boleh ku temani?"
Draco mendengar suara serak seorang pria dari arah belakangnya, tawa mengerikan pria itu membuatnya sedikit terganggu namun berusaha ia acuhkan sebisa mungkin.
"Enyah saja kau, bajingan" suara seorang wanita menjawab.
Draco langsung mengangkat kepalanya ketika mendengar suara yang tidak asing. Merlin, tak salah lagi itu memang dia. Wanita dengan rambut coklat madu itu duduk disebuah meja yang dipenuhi berbotol-botol minuman yang sebagian besar terlihat sudah kosong. Tampangnya kusut dan memerah, terlihat sudah sangat mabuk. Sialan, bisul Draco kembali berdenyut hebat.
"Jangan sok jual mahal sayang, bukankah terlalu dingin untuk minum sendirian?. Biarkan aku menghangatkan ranjangmu malam ini" pria itu kembali tertawa menyebalkan, matanya memperhatikan Hermione dari ujung kaki sampai ujung kepala lalu berhenti didadanya dan menjilat bibir.
Draco merasakan sesuatu memanas tepat didada, tangannya mencengkram ujung tongkat erat. Pria itu terus mendesak Hermione dengan kata-kata kotor dan menjijikan. Hermione mencoba membela diri, mengeluarkan setiap kata umpatan yang bisa diingat otaknya yang sudah dikuasai alkohol.
"Pergi ke neraka kau keparat, tinggalkan aku sendiri" ucap Hermione acuh tak acuh lalu kembali menenggak isi gelasnya.
Pria berandalan itu tidak berhenti, sekarang malah mulai berani mencolek-colek. Hermione menepis kasar tangan dengan kuku-kuku kotor yang menyentuh dagunya, membuat pria itu sedikit terdorong kebelakang.
"Dasar wanita jalang, kau mau bermain-main denganku?" pria itu mencengkram lengan Hermione kasar, membuat gadis itu berdiri dari kursinya. Hermione meronta, mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan diri. Namun pria itu jauh lebih kuat. Hermione mengernyit jijik saat merasakan nafas berbau selokan menerpa wajah, dan tangan-tangan kotor menyentuh permukaan kulitnya. Dalam kesadaran yang tak seberapa, Hermione menunggu kemungkinan terburuk. Namun kemungkinan terburuk itu tak pernah datang karena bajingan yang beberapa detik lalu mencengkram lengannya sudah tersungkur di lantai. Beberapa pengunjung tertarik dengan kegaduhan yang terjadi, namun tak ada yang berniat ikut campur.
"Singkirkan tangan kotormu darinya, keparat"
Draco Malfoy berdiri didepan Hermione, melindungi tubuh gadis itu dibalik punggungnya. Tongkat sihir miliknya teracung tepat kearah berandalan yang baru saja menerima manteranya. Pria itu berdiri meringis sambil memegang pinggang, sepertinya ada satu atau dua tulang yang patah disana. Tangannya sudah menggengam tongkat defensif.
"Bajingan! Kau pikir siapa kau berani-beraninya mengganggu urusanku?"
"Kau tak perlu tau siapa aku, sebaiknya kau angkat kaki sialanmu dari sini sebelum kubuat kau tidak pernah berjalan lagi seumur hidupmu"
Jika pencahayaan cukup terang saat ini, pria itu mungkin bisa menemukan raut murka diwajah Draco. Kata-katanya barusan bukan ancaman, dia benar-benar siap membunuh saat itu juga. Pria itu bergeming, sepertinya menimbang-nimbang.
"Urusan kita belum selesai" ucap pria pria itu sebelum meludah lalu meninggalkan Draco dan segera menuju pintu keluar.
"Kemana otakmu sih, Granger? Kau mau cari mati minum ditempat seperti ini sendirian?" Draco langsung menyemprot Hermione yang sudah mulai menuangkan minuman lagi.
"Ssst, kau berisik sekali Malfoy" ia menenggak minumannya, "apa yang kau lakukan disini? Kurasa tempat ini bukan tempat yang cocok untuk seorang Malfoy yang agung"
"Cih" Draco mendesis "Bagaimana dengan "terimakasih" dulu Granger? aku baru saja menyelamatkan hidupmu"
"Aku tak memintamu membantuku, sebenarnya aku bisa mengurus urusanku sendiri"
"Oh ya? Jika tidak ada aku mungkin kau sudah berakhir di halaman depan Dhaily Propet besok pagi. "Pahlawan Dunia Sihir, Penerima Orde of Merlin Tingkat Satu, Hermione Granger ditemukan tewas menggenaskan setelah diperkosa dengan brutal oleh seorang berandalan". Itu headline yang cukup keren kan?" ucap Draco sarkastik dan mengambil tempat duduk di samping Hermione
"Mulai suka nongkrong dengan Darah Lumpur , Malfoy?" Tanya Hermione, pertama kalinya memandang kearah pria yang sudah duduk disebelahnya.
"Bukan kebiasaanku memang, tapi aku tak punya pilihan yang lebih baik sekarang kan?"
"Menurutku dibanding berandalan tadi kau jauh lebih berbahaya" Hermione kembali menenggak isi gelasnya.
"Bukankah kau suka dengan yang berbahaya-berbahaya?" sebuah seringai terbentuk di wajah Draco.
"Apa yang kau inginkan hah? Membutuhkan aku untuk mengisi ranjangmu? Kekurangan pelacur belakangan ini ya Malfoy, sampai-sampai menggoda darah lumpur sepertiku"
Draco tersentak "Hati-hati dengan apa yang kau inginkan, Granger"
Hermione tidak menjawab, lebih memilih untuk menenggak fire wiskey digelasnya. Draco memperhatikan gadis itu beberapa saat, menyandarkan punggung dan menyilangkan lengan. Disana, bisulnya duduk dan terlihat sangat menyedihkan. Bisul yang sudah menyiksanya berbulan-bulan belakangan.
"Kau akan pingsan jika terus minum seperti itu"
Hermione tidak mendengarkan, seakan pria berambut pirang platina itu tidak ada disana.
"Kenapa? Menemukan Weasley meniduri wanita lain dibelakang punggungmu lagi, Granger?"
Mata hazel itu melebar, gelas yang sudah hampir menyentuh bibir terbanting kembali kemeja. Telak, Draco mengenainya tepat disasaran. Wanita itu menyisir anak rambut yang keluar dari kunciran ekor kudanya kebalik telinga dan memaku pandangan tepat kemata kelabu Draco.
"Tutup mulut sialanmu, Malfoy. Jauh-jauh dari urusanku" ucap Hermione dari sela-sela giginya.
"Aku benar , Granger? Keparat tolol itu lumayan juga ya"
Draco tidak dapat menahan dirinya, melihat kilat terluka dimata hazel itu membuat dadanya terbakar. Weasley keparat, Draco merasa seperti ingin melumat pria itu hidup-hidup sekarang.
"Jangan memanggilnya seperti itu, Malfoy"
"Kau cukup bodoh untuk masih membela keparat macam dia" Draco mengumam lirih.
Hermione kembali tidak menjawab. Matanya berhenti menantang sepasang kelabu milik Draco. Pria itu benar lagi. Hermione seperti akan menangis, tapi mati-matian menahannya. Tak kan pernah ada keadaan dimana dia menunjukan air matanya didepan seorang Draco Malfoy, tidak lagi. Sesuatu yang berat seperti akan mendesak keluar dari tenggorokan Hermione. Demi menjaga benda itu agar tidak bergerak lebih jauh ia mulai menenggak minuman didepannya tergesa-gesa langsung dari botolnya, tak repot lagi menggunakan gelas.
Draco merasakan keinginan untuk menghentikan kegilaan Hermione, tapi berusaha keras menahannya. Dadanya kembali terbakar saat merasakan betapa terlukanya gadis itu, rasa sakit yang terlihat jelas di kilat matanya menusuk Draco tepat didada. Bisul itu sudah pecah sekarang, meninggalkan luka yang bernanah.
Draco pernah melihat sepasang hazel itu luruh oleh air mata, ia bahkan masih mengingat jelas hari itu. Selasa minggu kedua bulan Juni, mendung menggantung di udara. Meninggalkan udara lembab yang membuat jengah. Draco sedang membereskan berkas-berkas tentang kasus pelanggaran hukum sihir di kantornya, bertanya-tanya dengan sumpah serapah dimana rekan kerja yang seharusnya melakukan hal ini bersamanya. Tiba-tiba saja kepala coklat itu muncul tergesa-gesa memasuki ruangan, Draco yang sudah siap memuntahkan kekesalan refleks kembali menelan makian yang sudah diujung lidah ketika melihat wajah tirus itu basah oleh air mata. Hari itu, Draco Malfoy meminjamkan bahunya kepada seorang Hermione Granger. Dan hari itu juga Draco Malfoy tanpa sadar menerima rasa sakit gadis itu menjadi rasa sakitnya. Bisul itu mulai tumbuh tanpa kendali.
.
Hermione Granger sudah benar-benar kerasukan setan, boto-botol fire wiskey didepannya sudah terhitung menjadi doble digit. Bayangkan, tiga belas botol dihabiskannya sendirian. Benar-benar keberuntungan gadis ini belum pingsan, walau kesadaran sudah tak lagi mengisi pikirannya. Hermione meracau tak jelas dan sudah mulai berbicara pada botolnya yang ke tiga belas saat Draco dengan paksa merenggutnya.
"Kembalikan, kau pirang albino sialan. Botolku , sinii" Hermione mencoba meraih botol yang berada di tangan Draco.
Pria itu berdecak kesal, menjauhkan botol alkohol itu dari jangkauan Hermione. Bukan hal sulit, mengingat untuk menemukan keberadaan botol itu dengan benar saja dia sudah tidak sanggup.
"Ini sudah cukup, Granger. Kau terlalu mabuk"
"Siapa kau berani-beraninya melarangku? Mentang-mentang aku pernah menangis di pundakmu kau jadi tidak tau diri macam ini hah? Kau bajingan jahat! Aku benci kau, aku benci Draco Malfoy!" Hermione meracau sambil terus berusaha meraih botol di tangan Draco.
Draco tidak menggubris racauan Hermione, meletakkan botol ditangannya lalu membantu gadis itu berdiri.
"Sebaiknya kau pulang sekarang"
"Aku tidak mau pulang" Hermione yang tidak mampu berdiri dengan benar di kedua kakinya membuat tubuhnya bersandar ketat ke tubuh Draco.
"Jangan bercanda. Sebutkan dimana rumahmu, atau apa kau bisa ber-apparate—ah lupakan saja. Sebutkan alamatmu, Granger" Draco mendekat ke perapian di sudut ruangan.
"Aku tidak mau pulang , sialan. Kau tidak bisa memaksaku" Hermione berusaha melepaskan diri dari Draco, namun baru beberapa langkah dia sudah nyaris ambruk. Beruntung sebelum hidungnya mencium lantai, Draco sudah menangkap gadis itu di kedua lengannya.
"Berhenti bermain-main. Apa kau ingin aku panggil temanmu? Potter? Atau errr-Weasley?" Draco mengucapkan nama terakhir dengan mengeram.
"Tidak aku mohon jangan mereka, aku tidak mau bertemu mereka" Hermione memohon, hampir seperti menangis "Aku mohon"
Draco terdiam , otaknya berpikir mencari jalan keluar. Melihat Hermione yang memohon sebegitunya membuat Draco tak tega, dan akhirnya
"Sebaiknya kita keluar dari tempat ini dulu"
a/n Kepanjangan gak sih? *-*. Karena saking semangatnya aku jadi nulis segini panjang, aku harap gak ngebosenin. Berhubung mau lebaran, aku ucapin minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir batin. Anggap aja ini parsel lebaran haha . Semoga chapter ini tidak mengecewakan ya *crossfinger*. Hope to meet you soon, babay!
P.S :
Multiverse atau Multi-Universe maksudnya adalah semesta banyak, makanya Daphne bilang "ada alasannya dinamain gitu kan?" :D
Please let me know how do you think. Mind to click that review button, please? ;)
