IT'S CHENMIN FANFICTION! BXB! BOYXBOY! DON'T LIKE DON'T BASH JUST GO!! HOMOPHOBIC MENJAUH, JIKA TIDAK MAKA DIAM DAN NIKMATI SAJA HEUHEU

AUTHOR NEWBIE, TYPO SEBAGIAN DARI IMAN MWEHEHE, JANGAN LUPA ABIS BACA REVIEW YA, BIKOS INI CERITA BARU HEHEHE

HAPPY READING READERS-DEUL MWAH!

.

.

.

.

Minseok berjalan lesu ke kantin di kampusnya.

Kantin di kampusnya ada 2, mengingat kampusnya sangat besar. Dan dia sengaja memilih kantin dekat fakultas hukum, yang lumayan jauh dari kelasnya di daerah fakultas sastra.

Dia berharap tidak melihat Baekhyun disini, karena Baekhyun—sepupunya—adalah anak informatika, fakultas mereka bersebelahan, dan dia berharap Baekhyun makan siang di kantin dekat fakultas nya saja.

Minseok menunggu pesanan nya datang di meja sambil membuka ponselnya. Ternyata ada pesan masuk.

Luhannie : Minseokkie, kau dimana eoh?

Xiuminseok : kantin dekat fakultas hukum.

Luhannie : hah? Kau bercanda?

Xiuminseok : tidak. Kenapa?

"Yak hahahaha"

Sebelum menerima balasan chat dari Luhan, teman kelasnya yang sama-sama jurusan sastra, Minseok mendengar tawa khas menyebalkan yang membuatnya membulatkan matanya.

'SUPER SIAAAL! AKU LUPA KALAU JONGDAE ANAK HUKUM!'

Luhannie : Bukannya Jongdae anak hukum? Kau menghindari nya kan? Mengapa sekarang kau malah makan disana? Kau gila, Seokkie?

Minseok menatap ponselnya kesal. Luhan telat sekali memberitahunya. Yah, mau bagaimana lagi? Masa ia menghindar? Kentara sekali kalau dia tidak mau bertemu Jongdae.

"Ini, semangkuk mie basonya." Seorang penjual wanita memberikan pesanan Minseok.

"Ne, kamsahamnida." Balas Minseok. Dia mengedarkan pandangannya ke pesanan.

"Tunggu, tidak ada minum?" Tanya Minseok.

Penjual itu menggeleng. "Itu beda bayaran, Mas. Kalau mau, mas bisa pesan lagi."

Minseok merutuk dalam hati. Penjual minum disini hanya ada satu, dan di stan itu ada Jongdae dengan teman-temannya—yang dulu juga teman Minseok—sedang berdiri memesan minum!

Mau tidak mau, Minseok ikut mengantri di belakang mereka. Dalam hati dia berharap kalau Jongdae, Jongin, Sehun, dan Chanyeol tidak mengetahui keberadaannya disitu.

Dug

"Argh." Minseok mengerang ketika Jongin—yang sedang membawa nampan—tidak sengaja menyikut perutnya karena Jongin lebih tinggi dari Minseok.

"Kkamjagiya," Jongin terkejut. Dia meletakkan nampan di tangan Jongdae dan menatap pria bersurai hitam yang tadi tersikut olehnya.

"Mianhae. Aku tidak sengaja, sungguh. Itu menyakitkan ya? Pasti." Jongin merasa bersalah.

"Gwaenchana." Minseok masih menundukkan pandangannya sambil memegangi perutnya.

Seketika suasana hening.

Sehun—dengan tidak sopannya—mengangkat wajah Minseok.

"Minseok-hyung.."

Jongdae yang mendengar kata 'Minseok' keluar dari mulut Sehun segera mengalihkan pandangannya pada pemuda yang tersikut Jongin.

Minseok menatap Jongdae. Tatapan mereka bertemu, dan jantung Minseok mulai berdetak tidak normal ketika melihat wajah tampan yang ia rindukan itu.

Jongdae memutus kontak mata mereka. "Ayo ke meja. Dia bilang baik-baik saja kan?" Ujarnya sambil berjalan.

"Hey, yak! Kau tidak mau menyapanya?" Chanyeol akhirnya buka suara. Jongdae mengacuhkan si telinga caplang itu.

"Hyung, mian." Jongin kembali ke topik. "Gwaenchana, Jongin-ah.." balas Minseok sambil tersenyum, manis.

"Sudah, kalian makan saja, aku juga mau memesan." Minseok mengusir mereka. Sehun, Jongin, dan Chanyeol memajukan bibir mereka dan membuat Minseok tertawa.

I Still Love you, but... - 01

Minseok mengumpat dalam hati ketika dia melihat langit mulai gelap dan petir menyambar dimana-mana. Aish, dia tidak bisa pulang kalau begini. Bis yang menuju arah rumahnya akan diam di halte sampai hujan berhenti karena jalan menuju rumahnya bisa dibilang sangat ekstrim dan licin, akan sangat berbahaya bagi penumpang.

Sialnya lagi, dia hanya sendirian! Luhan dengan muka tak bersalahnya menggandeng Sehun di depannya sambil berkata kalau dia akan kencan dengan Sehun jadinya tidak bisa menemani.

Lalu Yixing? Mereka memang sekelas. Tapi tadi adiknya—Kim Joonmyeon—tiba-tiba mengajak Yixing pergi berdua!

"Siaaalll.." Mulut Minseok mengumpat. "Seharusnya aku menerima tawaran menumpang dari fans." Lanjutnya.

Minseok memang cukup terkenal disini, walau orang kadang tidak mengetahui wajahnya, tapi kalau di tanya 'kenal Minseok?' pasti mereka akan menjawab 'Ah, itu teman Luhan. Anak fakultas sastra'

TIINN

Bunyi klakson menyapa telinga Minseok dan membuatnya bersyukur di dalam hati. Dia menengadah.

'Shit'

Oh man, dia tidak jadi bersyukur. Mengapa?

"Kau mau membeku disana, Minseok?" Suara hangat Jongdae menyapa.

Minseok memasang muka datarnya. "Memang kenapa kalau aku membeku disini? Itu tidak ada hubungannya denganmu, jadi pergi dan jangan ganggu aku." Ucapnya sarkatis.

Jongdae tertawa meremehkan. "Perkiraan cuaca mengatakan hujannya berhenti tengah malam."

Minseok mematung. Jadi? Dia akan pulang tengah malam lalu mengerjakan skripsi, tidur jam 4 dan bangun jam 6 lalu kembali kuliah? Astaga, bisa jadi zombie dia!

Jongdae menyerah dengan sikap Minseok. Dia keluar dari mobil dan menarik namja gembil itu ke mobilnya.

"Yak! Aku tidak mengatakan kalau aku menerima tawaranmu, Kim Jongdae!"

"Aku juga tidak sudi menawarkan tumpangan padamu jika Baekhyun tidak memintanya padaku!"

Deg

Minseok berhenti memberontak ketika mendengar kalimat 'jika Baekhyun tidak memintanya padaku'

"Kalau memang tidak sudi, ya tidak usah dilakukan!" Tanpa disadari, mata Minseok berkaca-kaca. Jongdae melepas tangannya yang tadi ia gunakan untuk menarik Minseok.

"Aku akan jalan kaki saja. Terimakasih sudah menawarkan." Minseok akhirnya memutuskan basah kuyup dibanding semobil dengan Jongdae.

Jongdae menghela nafas lelah. 'Sampai kapan kau akan bersikap seperti itu padaku, Minseok-hyung?'

I Still Love you, but... - 01

"Aigoo.. kau tidak apa-apa sayang?" Eomma Minseok melihat seluruh tubuh anak sulung nya basah.

Minseok mengusak rambutnya. "Nde Eomma."

"Kemana Joonmyeon? Bukankah seharusnya kalian pulang bersama? Hari ini dia yang bawa mobil kan?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Eomma-nya.

Minseok terlihat berpikir. "Dia ada kerja kelompok mendadak Eomma, katanya tugasnya harus selesai dalam 3 hari dan jika tidak, nilainya akan dikosongkan oleh dosen nya."

Yah, dia berbohong. Mana tega dia menjerumuskan adiknya untuk diceramahi oleh sang Eomma berjam-jam hanya karena meninggalkan Minseok di kampus dan berkencan dengan sahabatnya?

"Hm, yasudah. Lain kali telepon Eomma ya, Jung Ahjussi akan menjemputmu jika hal itu terjadi lagi."

"Nde." Jawab Minseok singkat.

"Oh iya, bisa Eomma minta tolong?"

Minseok tersenyum. "Apapun. Silahkan."

"Bisa kau antarkan oleh-oleh ini ke kediaman keluarga Kim di depan rumah kita? Eomma tadi tidak sempat, kau gunakan payung saja."

"ANDWAEEEEE DISANA ADA JONGDAE!" Itu inner Minseok yang berteriak.

"Baik, Eomma. Aku antarkan sekarang saja." Minseok membawa dua tentengan dari tangan Eomma nya dan keluar dari rumah tanpa memakai payung, toh, dia sudah basah kuyup juga kan?

Ting nong

Minseok memencet bel. Pintu itu terbuka dan menampakkan wajah tan seorang Kim Jongin—saudara kembar Jongdae— yang tersenyum.

"Ah, Hyung? Perutmu tak apa?" Tanya-nya. Minseok tertawa. "Aigoo, kau masih mengkhawatirkan hal itu? Tak apa Jonginnie, ini, Eomma menitipkan oleh-oleh. Semalam dia baru pulang dari Turkey," ujarnya sambil menyerahkan tentengan pada Jongin.

Mata Jongin berbinar. "Woah! Gomawo, hyungie! Ucapkan terimakasih pada Eomma mu ya, dan.. ada aromanis! Ya ampun, Eomma mu tahu saja apa yang kubutuhkan!"

Minseok mengusak kepala Jongin gemas. "Aku pulang dulu."

"Kau tak mau menunggu Jongdae-hyung?" Tanya Jongin.

Minseok mengerjap. Untuk apa dia menunggu Jongdae?

"Tidak. Jaga dirimu ya, Jonginnie."

"Tapi Jongdae-hyung ada di—"

Brak

"—belakangmu." Jongin menutup sebelah matanya ketika Minseok berbalik dan menabrak dada Jongdae dengan telak.

Minseok sedikit terhuyung ke belakang dan Jongdae meraih tangannya. "Kembali ke kamarmu." Perintahnya pada Jongin. Adik kembarnya itu segera berlari ke kamarnya.

"Wah, ada angin apa kau kemari?" Jongdae memberikan smirk menyebalkan. Minseok melepaskan tangannya yang sempat digenggam Jongdae tadi.

"Aku tidak berurusan dengan—"

"Tentu saja kau berurusan denganku. Aku yang paling tua di rumah ini, Appa dan Eomma ku tidak ada, jadi aku bertanggungjawab untuk alasanmu kemari. Siapa yang tahu jika kau tiba-tiba mencuri saat Jongin lengah?"

"Yak! Aku tidak akan melakukan hal itu, dasar gila!" Minseok berteriak.

"Ya, Minseok-ah. Kita tidak tahu isi pikiran masing-masing kan? Siapa yang tahu kau mengelak lalu besoknya kau mencuri?"

"Aku tidak akan meladeni ucapan tak logismu itu lagi, Kim Jongdae." Minseok mendorong tubuh Jongdae dan berjalan keluar.

"Wae?"

Minseok berbalik. "Karena itu hanya membuang waktu ku." Setelahnya, dia berjalan kembali.

Jongdae masih terus menatapnya hingga punggung Minseok hilang tertelan pintu. Dia mengusap wajahnya. "Dasar si buntelan bakpau it—"

"Sampai kapan kau mau seperti itu padanya, Hyung?"

"Kkamjagiya! Sialan! Kau mengejutkan ku!" Jongdae melompat kecil.

Jongin menatapnya kesal. "Kau masih mencintainya kan?" Tanya-nya. Jongdae menatap balik. "Hah? Apa aku tidak salah dengar?"

PLAK

Jongin sukses menampar muka tampan Jongdae. "Bangun, Hyung! Aku muak melihat sikapmu yang begitu terus! Dan kau menggunakan Baekhyun sebagai pelampiasanmu! Kau tidak tahu bagaimana sakitnya menjadi Chanyeol ketika dia juga diputuskan oleh Baekhyun karena dirimu?!"

"H-Hey, tenangkan dirim—"

"Diam, Hyung, jangan memotong ucapanku! Apa ada alasan kau mencintai Baekhyun?"

Jongdae diam.

"Lalu kenapa kau seenaknya memutuskan Minseok-hyung yang sudah mencintaimu apa adanya dan memacari orang yang jelas-jelas tidak mencintaimu juga?!"

Emosi Jongdae ikut meledak.

"DIAM JONGIN!!"

Jongin seketika menciut. "Kau tidak tahu rasanya menjadi aku!! Padahal umur kita sama, hanya berbeda beberapa menit saja, tapi kenapa aku yang dikorbankan oleh Appa?!"

"M.. Maksudmu?"

Jongdae menetralkan emosinya. "Hhh.. kau belum tahu? Apa Appa memang sengaja menyembunyikan nya darimu, hah?"

"A-Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."

"Kalau kau bertanya apa aku masih mencintai Minseok, jawabannya iya!! Aku tidak pernah sedetikpun melupakannya! Tapi waktu itu, perusahaan tempat Appa bekerja bangkrut! Keluarga Byun yang sudah mengenal keluarga kita dengan baik membantu Appa mendapat pekerjaan, ditambah menjadikannya sebagai sekretaris!"

Jongin tercengang.

"Sebagai ucapan terimakasih, Appa menjodohkan ku dengan Baekhyun! Aku sendiri menolak, tentu saja! Mana bisa aku menikah dengan orang yang sudah sangat jelas tidak kucintai?! Jelaskan padaku bagaimana caranya jika seperti itu!! Dan aku semakin tersudut ketika mengetahui bahwa Baekhyun adalah sepupunya Minseok!" Jongdae meluapkan segalanya.

"Baekhyun sendiri sudah menolaknya. Tapi.. tidak satupun permintaan kita diterima. Dan pada akhirnya kami menyerah, lalu melakukan apa yang mereka inginkan. Aku juga tidak melarang Baekhyun, aku menyuruhnya untuk kembali pada Chanyeol. Tetapi ia menolak dan mengatakan bahwa dia harus tetap bersamaku, dan itu.. ah.. aku lelah."

Mata Jongin berkaca-kaca. Jadi? Dulu Appa nya sempat di PHK dan diselamatkan Keluarga Byun? Dan Appa memilih mengorbankan Hyung-nya demi kebahagiaan keluarganya?

"Hey uljima, ck, kau ini, merepotkan." Jongdae memeluk Jongin.

"Mianhae, Hyung.." Jongin terisak. Jongdae menggeleng. "Gwaenchana. Aku akan melakukan apapun agar kau bahagia, Jonginnie. Dan aku tak mungkin mengorbankanmu demi menyelamatkan diriku." Ujarnya menenangkan.

"Jongin?"

"Nde?"

"Jangan beritahu Minseok apapun ya? Biar saja dia membenciku, dan perlahan melupakanku, aku tak ingin dia terluka sepertiku."

"Arraseo."

I Still Love you, but... - 01

Minseok keluar rumah dengan memakai jeans biru dan hoodie hitam dengan tulisan 'Bitch, i'm fabulous'. Jangan lupa topi warna putih kesukaannya yang dipakai dengan gaya 'snapback' itu menambah kesan imut—anu, tampannya.

"Eomma aku jalan kaki yaa!"

"KAU TIDAK MAU MENUNGGU JOONMYEON DULU SAYANG?" Teriakan Eomma nya membuat Minseok tertawa.

"Tidak, tidak! Aku mau sekalian menurunkan berat badanku! Sampai jumpa!" Minseok membuka gerbang dan menutupnya kembali.

"MINSEOK HYUNGGG" Teriakan Joonmyeon membuat langkahnya terhenti.

"WAE JOONMYEONIE?!" Minseok ikut berteriak di luar rumah, mengingat kamar Joonmyeon dan kamarnya ada di lantai 2.

"KATAKAN PADA YIXING AKU AKAN MENGAJAKNYA MAKAN SIANG"

"ARRASEO"

"Ck, berisik."

Minseok menoleh, dia mendapati Jongdae berjalan di sampingnya. Namun Minseok memilih acuh dan memasang earphone di telinga nya.

"Minseok."

Tak ada jawaban.

"Minseok-ah."

Minseok masih acuh.

"Minseok-hyung!" Jongdae kesal. Akhirnya Minseok menoleh. Dia tersenyum paksa. "Jaga etikamu, aku 2 tahun lebih tua darimu, jangan seenaknya." Dia langsung berlari dan meninggalkan Jongdae.

I Still Love you, but... - 01

Minseok tidak fokus. Dia berkali-kali menguap dan menyeka air yang mulai keluar di sudut matanya karena menguap.

"Minseok. Kau gadang semalam?" Tanya Luhan dari belakang. "Hmm.." Minseok mengangguk.

"Skripsi mu, bagaimana?"

"Belum diterima."

"Pffft."

"Yak, jangan tertawa!"

Krik

Satu kelas memandangnya.

"Kim Minseok, jika anda tidak tertarik belajar sejarah sastra dari saya, dimohon keluar."

Akhirnya Minseok mengalah, lebih baik dia keluar daripada diam di dalam kelas. "Aish, bocah itu." Luhan menggumam.

I Still Love you, but... - 01

Minseok berjalan ke arah pohon beringin besar yang dihiasi beberapa tempat duduk untuk menenangkan pikiran.

Buak!

Minseok sedikit terkejut mendengar suara pukulan.

"Kembalikan Baekhyun padaku."

"S.. Suara Yeol.." batin Minseok.

"Hhh.. hahaha" Terdengar suara tawa dipaksakan, dan Minseok mengenalnya, ini suara Jongdae.

"Apa yang kau tertawakan sialan?! Ini bukan lelucon!!"

Buak

"Argh, sialan." Umpat Jongdae. "Kau mau Baekhyun? Ambil saja. Aku sudah muak 2 tahun bersamanya."

"Anj*ng!"

BUAK!

Minseok buru-buru bersembunyi ketika Chanyeol pergi dari pohon beringin itu.

"Kau tidak mau menampakkan dirimu, Kim Minseok?"

Suara berat Jongdae membuatnya merinding. "Aku tahu kau disitu, bersembunyi. Kenapa? Kau takut pada Chanyeol?"

Minseok akhirnya keluar dari tempat sembunyi nya. Dia sangat terkejut melihat keadaan Jongdae yang mengenaskan. Pipinya lebam, bibirnya sobek.

"Gwaenchana?" Minseok tak bisa membendung rasa khawatirnya. Jongdae mengangguk. "Ne, gwaenchana." Jawabnya.

"Tapi keadaanmu berbanding terbalik dengan ucapanmu." Minseok membantu Jongdae berdiri.

"Argh." Jongdae kembali terjatuh sambil memegangi perutnya. "Wae wae?" Minseok membulatkan matanya. Jongdae menggeleng dan terus mengatakan kalau dia baik-baik saja.

"Mau kupanggilkan Baekhyun?"

Pertanyaan itu menohok hati Jongdae. "Tidak, jangan. Kau tahu, aku begini juga karena nya." Jawab Jongdae. Minseok hanya diam menurut.

Jongdae akhirnya bisa berdiri dengan sisa tenaganya.

"Minseok?"

"Ya? Kau butuh sesuatu?"

Jongdae mengangguk. Dia mendekat pada Minseok.

"Aku butuh kau."

Chup

I Still Love you, but... - TBC

omo gajelas anjr wkwkwkwk tq yg mau baca wkeke muah